Selasa, 11 November 2008

Blog untuk Shasa

Kemarin malam sewaktu aku ngedit blog-ku, Shasa memintaku untuk dibuatkan blog juga untuknya. Katanya, sama sepertiku dia ingin punya tempat untuk menuangkan apa saja yang ada di pikirannya. Ingin punya tempat untuk belajar nulis.


Gambar diambil dari sini

Akhirnya kubuatkan juga blog untuknya. Betapa senangnya Shasa karena blog yang kubuatkan ada gambar Hello Kity kesukaannya. Shasa bersemangat sekali dan langsung memposting cerita tentang sahabat-sahabatnya. Semoga saja semangat dan niat Shasa untuk belajar nulis dan menuangkan semua ide dan pikirannya tidak luntur termakan waktu. Semoga saja kemampuan Shasa untuk nulis dapat lebih berkembang. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuknya dan masa depannya. Untuk itu aku ingin bisa melakukan apa saja untuk meningkatkan rasa percaya dirinya dan mampu membantunya menggali potensi dirinya.

Blog untuk Shasa

Kemarin malam sewaktu aku ngedit blog-ku, Shasa memintaku untuk dibuatkan blog juga untuknya. Katanya, sama sepertiku dia ingin punya tempat untuk menuangkan apa saja yang ada di pikirannya. Ingin punya tempat untuk belajar nulis.


Gambar diambil dari sini

Akhirnya kubuatkan juga blog untuknya. Betapa senangnya Shasa karena blog yang kubuatkan ada gambar Hello Kity kesukaannya. Shasa bersemangat sekali dan langsung memposting cerita tentang sahabat-sahabatnya. Semoga saja semangat dan niat Shasa untuk belajar nulis dan menuangkan semua ide dan pikirannya tidak luntur termakan waktu. Semoga saja kemampuan Shasa untuk nulis dapat lebih berkembang. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuknya dan masa depannya. Untuk itu aku ingin bisa melakukan apa saja untuk meningkatkan rasa percaya dirinya dan mampu membantunya menggali potensi dirinya.

Senin, 10 November 2008

Laskar Pelangi


Gambar diambil dari sini

Kemarin pagi seorang sahabatku di Jakarta (Dyah Palupi) kirim pesan singkat bahwa dia berencana untuk melihat Film Laskar Pelangi di Cibubur. Sengaja dia menunda waktu untuk bisa menonton film itu karena dia malas kalau harus ngantri panjang. Nah, kemarin itu dia merasa akan bisa menonton tanpa harus antri lagi.
Tadi pagi seorang teman sekantorku cerita bahwa Minggu kemarin dia ke Solo bersama pacarnya untuk nonton Film yang diproduksi oleh Miles Production ini.
Dia datang jam 9 pagi dan dapat tiket untuk nonton yang jam 15.00 WIB. Dia cerita bahwa antrian panjang untuk Film Laskar Pelangi masih ada.
Tak lama kemudian Dyah Palupi yang kemarin cerita mau nonton film Laskar Pelangi kirim pesan singkat lagi ke HP-ku. Kali ini bunyi pesan singkatnya adalah dia batal nonton karena ternyata sampai kemarin antrian tiket untuk film yang dibuat di Pulau Belitong itu masih panjang....
Aku jadi ingat bagaimana susah payahnya aku waktu pengen nonton Film Laskar Pelangi bulan Oktober yang lalu. Aku maksa nonton pada bulan Oktober, karena sesuai jadwal kegiatanku di kantor, mulai bulan Nopember s/d Desember 2008 kesibukanku sudah sangat padat.
Awalnya aku, suamiku dan Shasa berangkat ke Solo untuk nonton film yang disutradarai oleh Riri Riza itu pada hari Minggu, tanggal 12 Oktober 2008. Aku mengajak serta sahabatku, dik Nuke, bersama suami dan anaknya. Biar perjalanan lebih seru. Kami berangkat dari Madiun kurang lebih jam 7.30 WIB. Sampai di Solo Grand Mall, kami langsung menuju ke lantai IV, tempat 21 berada. Ternyata..., antrinya panjang sekali. Baru antri sebentar, ada pengumuman ditempel bahwa tiket habis sampai pemutaran yang jam 3 sore. Tiket untuk yang jam 6 malam masih ada, tapi kami putuskan untuk tidak membelinya. Kalau kami jadi nonton yang jam 6 sore, maka kami akan sampai kembali di Madiun (setelah mampir makan malam juga) kurang lebih jam 11 malam. Selain itu kami membawa Diva (anaknya dik Nuke) yang baru berumur 4 tahun, kami tidak tega kalau membuatnya harus nunggu lama hanya untuk nonton film. Apalagi bagi anak seumur Diva, belum tahu betul asyiknya nonton film. Belum lagi besuknya (Senin) Shasa juga harus masuk sekolah, jadi kami tidak tega kalau dia besuk ngantuk di sekolah. Akhirnya setelah berusaha menepis rasa kecewa dengan jalan-jalan di SGM, kami pulang kembali di Madiun dengan sebelumnya mampir di Sragen untuk makan dan istirahat. Jam 5 sore kami sudah berada di Madiun kembali dengan rasa kecewa yang tersimpan di dada.
Sabtu, tanggal 18 Oktober 2008, aku berangkat lagi ke Solo untuk nonton film yang diambil dari memoar Andrea Hirata itu. Kali ini suamiku tidak bisa ikut pergi bersamaku, jadi aku hanya pergi dengan Shasa. Kali ini aku dan Shasa pergi dengan salah seorang sahabatku di kantor bersama calon suaminya. Kami berangkat siang (kurang lebih jam 11.30 WIB) setelah Shasa pulang sekolah. Sampai di SGM ternyata sudah sudah ada pengumuman bahwa tiket Film Laskar Pelangi sudah habis sampai jam 8 malam. Ya ampun.... Masak aku harus kecewa untuk kedua kalinya ?? Setelah tanya pada petugas tiketnya, kami dapat info bahwa untuk studio 4 masih ada kursi kosong untuk pemutaran Film Laskar Pelangi yang jam 9 malam. Itupun tinggal 2 baris depan yang masih kosong. Akhirnya kami nekad ambil tiket yang jam 9 malam itu, dan memilih 4 kursi yang di tengah, baris kedua dari depan. Suamiku juga mengijinkan aku untuk ambil tiket itu, daripada Shasa harus kecewa lagi untuk yang kedua kali.
Setelah mengantongi tiket film itu, kami kemudian pergi untuk membeli makan dan sholat. Setelah selesai makan kami harus memutar otak bagaimana caranya kami mengisi waktu selama kurang lebih 6 jam itu agar Shasa tidak merasa bosan. Semuanya kami lakukan, mulai dari masuk toko buku (salah satu tempat favorit Shasa), time zone, membeli camilan dan minuman, photo box, berkreasi dengan coklat, mencoba kursi untuk pijat sampai menonton acara peragaan busana yang kebetulan malam itu diselenggarakan di SGM. Untunglah akhirnya waktu 6 jam dapat kami lalui di SGM tanpa ada keluhan yang berarti dari Shasa.
Akhirnya..., pintu studio 4 sudah dibuka ! Tanpa membuang waktu kami segera masuk ke dalam studio 4 karena Shasa sudah tidak sabar untuk pertama kalinya nonton film langsung di bioskop. Shasa seneng sekali waktu film mulai diputar. Dia bisa menikmati film itu dan tidak mengantuk sama sekali. Cuma sayangnya aku lupa membawakan jaket untuk Shasa (karena aku tidak mengira dia akan nonton film selarut ini), dan AC yang cukup dingin membuat Shasa kedinginan. Selain itu kursi kami yang ada di baris ke-2 dari depan membuat kami agak mendongak saat menonton. Dalam hati aku menyesal sekali karena Shasa jadi tidak nyaman nonton film. Aku sendiri jadi tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada layar yang ada di depanku karena sedikit-sedikit aku menggosok-gosok tangan Shasa agar dia bisa sedikit merasa lebih hangat. Setidaknya aku merasa agak terhibur karena ternyata Shasa sangat menyukai film yang ditontonnya.
Setelah selesai nonton, aku merasa lega sekali karena janjiku untuk mengajak Shasa nonton Film Laskar Pelangi telah terpenuhi. Karena sejak mengetahui Novel Laskar Pelangi akan difilmkan Shasa memang memintaku untuk bisa nonton film itu. Apalagi setelah sekarang kesibukanku di kantor benar-benar tidak bisa ditolerir, aku bersyukur sekali bahwa Shasa sudah sempat nonton film yang memang ditunggu-tunggunya itu. Cuma, sekarang ini Shasa sering sekali bertanya padaku kapan Film Sang Pemimpi akan diputar ?? Wah, untuk menjawab pertanyaan ini aku serahkan saja pada mbak Mira Lesmana saja ya ?!

Laskar Pelangi


Gambar diambil dari sini

Kemarin pagi seorang sahabatku di Jakarta (Dyah Palupi) kirim pesan singkat bahwa dia berencana untuk melihat Film Laskar Pelangi di Cibubur. Sengaja dia menunda waktu untuk bisa menonton film itu karena dia malas kalau harus ngantri panjang. Nah, kemarin itu dia merasa akan bisa menonton tanpa harus antri lagi.
Tadi pagi seorang teman sekantorku cerita bahwa Minggu kemarin dia ke Solo bersama pacarnya untuk nonton Film yang diproduksi oleh Miles Production ini.
Dia datang jam 9 pagi dan dapat tiket untuk nonton yang jam 15.00 WIB. Dia cerita bahwa antrian panjang untuk Film Laskar Pelangi masih ada.
Tak lama kemudian Dyah Palupi yang kemarin cerita mau nonton film Laskar Pelangi kirim pesan singkat lagi ke HP-ku. Kali ini bunyi pesan singkatnya adalah dia batal nonton karena ternyata sampai kemarin antrian tiket untuk film yang dibuat di Pulau Belitong itu masih panjang....
Aku jadi ingat bagaimana susah payahnya aku waktu pengen nonton Film Laskar Pelangi bulan Oktober yang lalu. Aku maksa nonton pada bulan Oktober, karena sesuai jadwal kegiatanku di kantor, mulai bulan Nopember s/d Desember 2008 kesibukanku sudah sangat padat.
Awalnya aku, suamiku dan Shasa berangkat ke Solo untuk nonton film yang disutradarai oleh Riri Riza itu pada hari Minggu, tanggal 12 Oktober 2008. Aku mengajak serta sahabatku, dik Nuke, bersama suami dan anaknya. Biar perjalanan lebih seru. Kami berangkat dari Madiun kurang lebih jam 7.30 WIB. Sampai di Solo Grand Mall, kami langsung menuju ke lantai IV, tempat 21 berada. Ternyata..., antrinya panjang sekali. Baru antri sebentar, ada pengumuman ditempel bahwa tiket habis sampai pemutaran yang jam 3 sore. Tiket untuk yang jam 6 malam masih ada, tapi kami putuskan untuk tidak membelinya. Kalau kami jadi nonton yang jam 6 sore, maka kami akan sampai kembali di Madiun (setelah mampir makan malam juga) kurang lebih jam 11 malam. Selain itu kami membawa Diva (anaknya dik Nuke) yang baru berumur 4 tahun, kami tidak tega kalau membuatnya harus nunggu lama hanya untuk nonton film. Apalagi bagi anak seumur Diva, belum tahu betul asyiknya nonton film. Belum lagi besuknya (Senin) Shasa juga harus masuk sekolah, jadi kami tidak tega kalau dia besuk ngantuk di sekolah. Akhirnya setelah berusaha menepis rasa kecewa dengan jalan-jalan di SGM, kami pulang kembali di Madiun dengan sebelumnya mampir di Sragen untuk makan dan istirahat. Jam 5 sore kami sudah berada di Madiun kembali dengan rasa kecewa yang tersimpan di dada.
Sabtu, tanggal 18 Oktober 2008, aku berangkat lagi ke Solo untuk nonton film yang diambil dari memoar Andrea Hirata itu. Kali ini suamiku tidak bisa ikut pergi bersamaku, jadi aku hanya pergi dengan Shasa. Kali ini aku dan Shasa pergi dengan salah seorang sahabatku di kantor bersama calon suaminya. Kami berangkat siang (kurang lebih jam 11.30 WIB) setelah Shasa pulang sekolah. Sampai di SGM ternyata sudah sudah ada pengumuman bahwa tiket Film Laskar Pelangi sudah habis sampai jam 8 malam. Ya ampun.... Masak aku harus kecewa untuk kedua kalinya ?? Setelah tanya pada petugas tiketnya, kami dapat info bahwa untuk studio 4 masih ada kursi kosong untuk pemutaran Film Laskar Pelangi yang jam 9 malam. Itupun tinggal 2 baris depan yang masih kosong. Akhirnya kami nekad ambil tiket yang jam 9 malam itu, dan memilih 4 kursi yang di tengah, baris kedua dari depan. Suamiku juga mengijinkan aku untuk ambil tiket itu, daripada Shasa harus kecewa lagi untuk yang kedua kali.
Setelah mengantongi tiket film itu, kami kemudian pergi untuk membeli makan dan sholat. Setelah selesai makan kami harus memutar otak bagaimana caranya kami mengisi waktu selama kurang lebih 6 jam itu agar Shasa tidak merasa bosan. Semuanya kami lakukan, mulai dari masuk toko buku (salah satu tempat favorit Shasa), time zone, membeli camilan dan minuman, photo box, berkreasi dengan coklat, mencoba kursi untuk pijat sampai menonton acara peragaan busana yang kebetulan malam itu diselenggarakan di SGM. Untunglah akhirnya waktu 6 jam dapat kami lalui di SGM tanpa ada keluhan yang berarti dari Shasa.
Akhirnya..., pintu studio 4 sudah dibuka ! Tanpa membuang waktu kami segera masuk ke dalam studio 4 karena Shasa sudah tidak sabar untuk pertama kalinya nonton film langsung di bioskop. Shasa seneng sekali waktu film mulai diputar. Dia bisa menikmati film itu dan tidak mengantuk sama sekali. Cuma sayangnya aku lupa membawakan jaket untuk Shasa (karena aku tidak mengira dia akan nonton film selarut ini), dan AC yang cukup dingin membuat Shasa kedinginan. Selain itu kursi kami yang ada di baris ke-2 dari depan membuat kami agak mendongak saat menonton. Dalam hati aku menyesal sekali karena Shasa jadi tidak nyaman nonton film. Aku sendiri jadi tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada layar yang ada di depanku karena sedikit-sedikit aku menggosok-gosok tangan Shasa agar dia bisa sedikit merasa lebih hangat. Setidaknya aku merasa agak terhibur karena ternyata Shasa sangat menyukai film yang ditontonnya.
Setelah selesai nonton, aku merasa lega sekali karena janjiku untuk mengajak Shasa nonton Film Laskar Pelangi telah terpenuhi. Karena sejak mengetahui Novel Laskar Pelangi akan difilmkan Shasa memang memintaku untuk bisa nonton film itu. Apalagi setelah sekarang kesibukanku di kantor benar-benar tidak bisa ditolerir, aku bersyukur sekali bahwa Shasa sudah sempat nonton film yang memang ditunggu-tunggunya itu. Cuma, sekarang ini Shasa sering sekali bertanya padaku kapan Film Sang Pemimpi akan diputar ?? Wah, untuk menjawab pertanyaan ini aku serahkan saja pada mbak Mira Lesmana saja ya ?!

Kamis, 06 November 2008

Waktu untuk Shasa


Gambar diambil dari sini

Akhir-akhir ini waktuku untuk Shasa sedikit berkurang. Ada 2 penyebabnya, yang pertama adalah karena setelah Idul Fitri kemarin aku tidak lagi punya pembantu, sehingga kalau biasanya aku pulang kantor punya banyak waktu untuk Shasa, sekarang pulang kantor waktuku banyak yang terpakai untuk kugunakan membereskan pekerjaan rumah tangga.
Mungkin ada hikmahnya juga, karena Shasa lebih bisa mandiri dalam mengurusi dirinya sendiri.

Penyebab kedua adalah kesibukan di kantorku yang akhir-akhir ini semakin meningkat. Kondisi ini akan terus berlanjut dan akan semakin meningkat sampai akhir tahun ini. Mungkin malah semakin mendekati akhir tahun, waktuku akan lebih banyak kugunakan kerja lembur di kantor.

Untung sekali, kedua orangtuaku dan kedua mertuaku semuanya ada di Madiun. Keberadaan orang tuaku dan mertuaku dalam saat seperti ini terasa sangat meringankan bebanku, karena jadi ada yang jagain Shasa dan ada yang bantuin Shasa ngerjain PR sewaktu aku dan suamiku repot dengan pekerjaan kantor.

Waktu untuk Shasa terasa semakin sempit karena kemarin siang sewaktu aku di kantor suamiku memberi kabar bahwa dia dan 4 orang teman sekantornya harus mengikuti pendidikan di Surabaya. Walaupun diklatnya cuma 4 hari tapi tetap saja waktu yang diterima Shasa dari kedua orang tuanya jadi menurun drastis. Sebetulnya suamiku sudah mencoba meminta pengertian dari pimpinan di kantornya untuk dapat mengikuti pendidikan itu lain kali sewaktu aku tidak sedang repot dengan pekerjaan kantor, sehingga tetap ada yang jagain Shasa. Tetapi ternyata permintaan suamiku tidak dapat dipenuhi. Akhirnya..., mulai besok suamiku akan berada di Surabaya untuk mengikuti pendidikan itu.

Waktu untuk Shasa semakin mahal terasa akhir-akhir ini. Semoga saja Shasa mengerti bahwa walaupun waktu kami berkurang untuknya tetapi kasih sayang kami terhadapnya tidak berkurang sama sekali. Semoga lain kali kami punya waktu untuk "membayar" waktu yang tidak dapat kami lalui bersamanya.