Tampilkan postingan dengan label seputar-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seputar-ku. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Mei 2010

Ide dan kemalasan

Menulis memang membutuhkan ide, dan itulah yang aku perlukan saat ini. Sebenarnya, aku sudah mempunyai beberapa ide yang bisa aku tuliskan disini. Hanya saja masalahnya adalah.., pada saat ini otakku sedang mogok dan tak mau diajak berpikir yang sedikit serius. Sementara ide yang saat ini aku punya semuanya berkaitan dengan hal-hal yang harus dibicarakan secara serius.

Yang aku butuhkan sekarang adalah ide-ide yang ringan sehingga untuk menuliskannya aku tak memerlukan banyak pemikiran. Aku sedang ingin menuliskan sesuatu yang biasa saja, yang tak perlu cari data dari berbagai sumber. Yaaaa.., gampangnya sih seperti curhat, yang aku cuma butuh nulis semua semauku sendiri tanpa perlu referensi lain-lain. 

Salah satu ide yang terpaksa tersimpan di kepalaku adalah menulis tentang profil Anas Urbaningrum. Sebenarnya kemarin aku ingin banget menulis tentangnya, tapi aku sedang malas cari referensinya. Rasanya malas banget untuk mengolah data yang sudah di depan mata. Malah akhirnya aku mengulas tentang Putra (bocah penderita atresia billier). Kalau kemarin aku bisa menuliskan beritanya itu semata karena rasa simpatiku pada Putra dan keluarganya. Walau menurutku aku menulisnya juga seadanya saja. *sigh*

Karena otakku yang sedang mogok inilah, maka sampai sekarang aku belum juga menemukan ide untuk mengikuti Kontes Berbagi Hati dari Mbak Anazkia dan Pre-review Novelnya Mbak Clara. Niatku untuk mengikuti kedua even itu sih sudah ada, tapi sekarang baru sebatas niat dan belum berwujud tindakan nyata. BTW, kapan sih kedua even itu akan berakhir ? *lupa beneran nih*

Jika mau jujur sih, hal seperti ini sudah sering aku alami. Okelah aku ngaku..., semua itu hanya karena aku sedang dijangkit rasa malas saja. Malas untuk berpikir tepatnya... hehehehe. Pengalaman yang sudah-sudah sih, aku harus memaksa diriku untuk keluar dari zona malas ini. Kelamaan dalam zona malas ini mengakibatkan aku juga jadi malas melakukan hal-hal penting lainnya... :p

So.., mari berantas kemalasan.. *semangat*

Sabtu, 22 Mei 2010

Tragedi High Hells

Malam ini, kami sekeluarga dan juga kedua orang tuaku berencana untuk menghadiri resepsi pernikahan. Yang punya hajat adalah kenalan dari orang tuaku dan juga suamiku, makanya kami berencana berangkat bersama-sama. Jam 7 malam, meluncurlah kami ke lokasi resepsi pernikahan itu.

Kebetulan, resepsi pernikahan itu tidak diselenggarakan di gedung, namun cukup di rumah saja. Dengan memasang terop sepanjang separo jalan dan memanfaatkan rumah tetangga sebelah, pesta pernikahan itu dapat berlangsung dengan cukup meriah.

Saat kami datang, undangan yang hadir sudah cukup banyak. Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan diajak berfoto bersama mempelai, kami pun dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Memasuki rumah yang dipakai untuk tempat makanan, hawa panas terasa. Maklum saja, banyak orang berjubel disana.

Meskipun panas dan berjubel, tapi ibuku sangat enjoy karena bertemu dengan teman-teman kerjanya dulu. Serasa reuni saja suasananya bagi ibuku, sehingga ibu pun asyik ngobrol dengan teman-temannya itu. Tapi semua itu dilakukan ibu tentu saja sambil menikmati hidangan yang ada.. :D

Saat aku dan Shasa menikmati hidangan itu, tiba-tiba tragedi terjadi. Hak sendalku yang sebelah kiri tiba-tiba saja lepas. OMG... what must I do..? Aku sempat melirik ke kanan ke kiri apakah ada yang memperhatikan tragedi itu. Sepertinya aman... karena semua tampaknya sedang menikmati hidangan yang ada. Segera aku beringsut menuju ruangan yang dipergunakan sebagai dapur di belakang ruang makan itu (untung saja tempatnya tak jauh).

Kehadiranku di dapur tentu saja mengundang perhatian orang-orang yang sedang sibuk menyiapkan hidangan. Segera saja aku minta ijin untuk melepas hak sandalku yang satu lagi. Mereka tersenyum maklum. Tapi ternyata... melepas hak sandal yang masih 'sehat' sulit juga.. karena masih melekat erat di sandal yang kupakai. Akhirnya, setelah mengerahkan segenap tenaga, hak sandalku yang kanan terlepas juga.

Lega sekali rasanya karena kedua kakiku sudah sama 'tinggi'nya. Tapi... dimana aku harus menyimpan kedua hak sandalku yang lepas itu  ? Tas yang aku bawa adalah tas kecil, jadi tak akan muat untuk dimasuki hal sandal itu. Untung saja, baju Shasa ada 2 buah saku, di kanan dan di kiri. Segera saja hak sandal itu aku masukkan di saku baju Shasa. Beres sudah.


Aku pun segera keluar dari dapur.. dan menunggu orang tuaku menyelesaikan acara makannya. Tapi ya ampun... ternyata Ibu sangat menikmati bertemu dengan teman-temannya sehingga tak jua beranjak dari ruangan itu. Sementara aku tak berani duduk, karena kalau aku duduk maka sandalku yang tanpa hak itu akan langsung terlihat. Padahal berdiri dengan sandal tanpa hak ternyata capek juga... karena posisi sandal yang di depan lebih tinggi dari sandal bagian belakang... *sigh*

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ibu mau juga keluar dari ruangan itu. Lega banget... Setelah kami keluar dari tempat resepsi itu dan aku bercerita apa yang terjadi... meledaklah tawa suamiku dan kedua orang tuaku..... :(


Kamis, 20 Mei 2010

Kangen gudeg

Aku kangen gudeg. Aku pengen banget makan gudeg. Sebenarnya di kotaku ada juga penjual gudeg, tapi sayang rasanya tak seenak gudeg Yogya. Sebenarnya, saat suamiku pulang dari diklat ke Cisarua beberapa waktu yang lalu, dia sempat mampir ke Yogya. Rencananya akan membelikan aku gudeg. Sayang sekali, karena ada miskomunikasi antara suamiku dan penjual gudeg, jadinya suamiku tak kebagian gudeg. *nyesel banget*

Bicara tentang gudeng, aku selalu teringat dengan gudeg yang menjadi langgananku saat kuliah dulu. Selama aku kuliah dan kos di Yogya dulu, aku suka banget sarapan gudeg. Kebetulan di belakang rumah kostku ada penjual gudeg yang menurutku enak dan harganya terhitung murah untuk ukuran anak kost sepertiku. Jadinya, sarapan gudeg selalu saja jadi pilihan banyak mahasiswa.

Hanya sayangnya, aku dan beberapa mahasiswa lainnya suka tak sabaran beli gudeg di sana. Penyebabnya adalah penjualnya suka mementingkan dan mendahulukan kerabat dan tetangga. Sering sekali terjadi orang yang baru datang langsung minta dilayani dengan alasan untuk sarapan anaknya yang akan berangkat sekolah. Dan jika orang itu adalah kerabat atau tetangga, pasti langsung dilayani oleh Simbah penjual gudeg itu.

Hemmm.., sungguh melihat nasi gudeg itu aku jadi pengen banget
(gambar diculik dari sini)

Heran plus jengkel banget aku kalau sudah begitu. Ya kalau memang anaknya butuh sarapan gudeg sebelum berangkat sekolah, kenapa juga tak beli gudeg sejak pagi ? Memangnya sekian banyak mahasiswa yang sejak lama antri juga tak butuh kuliah di pagi hari ? Kalau para mahasiswa itu tak kuliah pagi, mereka kan bisa memilih beli gudeg agak siang, supaya tidak antri. Mentang-mentang mahasiswa ini 'orang luar' yang tidak dikenal secara pribadi oleh Simbah penjual gudeg, selalu saja dikalahkan kepentingannya. Namun aku tak pernah melihat ada mahasiswa yang berani protes atas diskriminasi itu... ^_^

Bahkan...., sampai aku lulus aku tetap saja membeli gudeg di situ, maklum saja tak ada penjual gudeg lain (yang murah meriah dan enak) di dekat tempat kostku. Apalagi jika pas sedang 'krisis keuangan' karena uang saku menipis, pasti deh banyak mahasiswa yang kesana. Bukan untuk beli gudeg, tapi untuk beli ketela pohon rebus yang diberi bumbu gudeg. Rasanya enak dan tak dapat ditemukan dimanapun juga. Yang lebih penting lagi adalah harganya jauh lebih murah... hehehe.

Duuh..., aku jadi makin kangen gudeg. Siapa mau mengirimi aku gudeg ya..? *ngarep banget*

Selasa, 18 Mei 2010

Pekan Swadesi

Mulai hari ini, Selasa tanggal 18 Mei 2010 sampai tanggal 24 Mei 2010 kantorku melaksanakan Pekan Swadesi. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun itu dilaksanakan dalam rangka ikut memperingati hari kebangkitan nasional. Selama Pekan Swadesi itu seluruh karyawan dianjurkan untuk memakai pakaian batik hari kerja.

Jadilah, mulai pagi ini kantorku menjadi sangat semarak karena baju yang dikenakan hari ini full colour. Aneka warna, aneka model dan aneka corak batik membuat hari ini berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kesemarakan hari ini tentu saja tak lepas dari 'kehebohan' sebagian besar karyawati dalam menghadapi Pekan Swadesi ini. Biasalah, untuk urusan baju, mana mungkin kaum wanita pasrah begitu saja. Banyak yang sudah heboh jauh-jauh hari dengan mempersiapkan baju batik untuk menyambut Pekan Swadesi.

Beberapa teman wanita sudah jauh-jauh hari hunting baju batik, karena tak mau batik yang dipakai dalam Pekan Swadesi kali ini adalah batik yang 'itu-itu saja' seperti tahun kemarin. Lucunya, pagi tadi ada 2 orang karyawati yang ternyata mengenakan baju baru yang sama persis. Tahu sendiri kan, kalau wanita tuh tidak suka kalau bajunya ternyata ada yang menyamai. Nah, seperti itulah yang terjadi pagi tadi sewaktu kedua karyawati itu bertemu dan menyadari baju yang mereka pakai sama persis...! Hahaha, ramai sekali suasana kantor karena kedua karyawati itu digodain oleh teman-teman yang lain.

Aku sendiri sebenarnya sempat pusing menghadapi Pekan Swadesi kali ini. Jauh-jauh hari aku bongkar almari untuk mencari baju-baju batik yang aku punya. Ternyata oh teryata... banyak juga baju batikku yang sudah tak muat aku pakai. Itu berarti....? Waduuuuuh..... *alarm bahaya berbunyi*  Untung saja aku sudah mendapatkan baju batik yang bisa aku pake selama Pekan Swadesi berlangsung. Leganya...

Nah, hari pertama telah terlewati dengan penuh cerita seru. Bagaimana ya cerita esok hari..? Apakah ada lagi yang pakai baju batik 'kembaran' lagi seperti hari ini ? BTW, apakah kaum cowok juga akan tiba-tiba tidak Percaya Diri jika ternyata ada cowok lain yang juga mengenakan baju yang sama persis dengannya..?

Senin, 17 Mei 2010

Oleh-oleh dari Jember

Suamiku sejak Kamis sampai Minggu kemarin ada acara dinas di Jember, bersama dengan teman-teman kantornya. Sebenarnya sih aku maunya suamiku tak ikut berangkat ke Jember, kan long weekend tuh jadi aku sebenarnya pengen menikmati libur bersama suami dan Shasa. Tapi tak mungkin juga suamiku tidak berangkat ke Jember, wong itu acara kedinasan. Aku juga tak mungkin ikut ke Jember..., apa kata teman-teman suamiku nanti..? Jangan-jangan nanti aku dikira bodyguard suamiku. Hehehe...

Ya sudahlah, akhirnya suamiku pergi juga. Dari awal aku sudah minta agar suamiku tak lupa membawakan Proltape sebagai oleh-oleh untukku. Bahkan demi untuk 'kelancaran'nya membelikan oleh-oleh itu, aku sudah menghubungkan suamiku dengan keponakan sahabatku yang kebetulan di Jember. Maklum saja, suamiku baru kali ini berangkat ke Jember, pastinya tak tahu dimana bisa beli oleh-oleh protapel pesananku.

Semua upaya untuk mendapatkan proltape sudah dikerahkan, tinggal menunggu hasilnya. Akhirnya, Sabtu malam suamiku memberi kabar bahwa proltape pesananku sudah diperoleh. Senangnya.... Jadi makin tak sabar menunggu suamiku pulang ke rumah lagi...

Minggu malam yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga... (Eh, yang ditunggu kedatangan suami atau proltape-nya sih..? Hahaha...). Ternyata oleh-oleh yang dibawa suamiku banyak sekali. Rupanya setelah suamiku membelikan oleh-oleh proltape untukku, keponakan sahabatku menitipkan proltape juga untukku dan sahabatku. Bahkan saat mau pulang, kenalan suamiku yang tinggal di Jember tak ketinggalan menitipkan oleh-oleh proltape, brownies, tape, kripik singkong dan suwar-suwir untukku. Waah.. oleh-oleh dari Jember yang melimpah ruah.
keripik singkong dan suwar-suwir

2 jenis proltape yang tersisa

Tape Jember yang mak nyuss...

Ups.. maaf, tinggal piringnya. Browniesnya udah dihabisin Shasa  :p

Akhirnya, malam itu aku bagi-bagi proltape untuk para tetanggaku. Orang tuaku, mertuaku dan teman-teman kantorku kebagian juga proltape yang aku bawa hari ini. Dan di rumah.... masih ada 'sisa' proltape yang banyak. Nah.., siapa yang mau segera saja meluncur ke rumahku ya.. sebelum kehabisan. Hehehe....


Sabtu, 15 Mei 2010

Aku dan masak-memasak

Sobat, ingat tidak dulu aku pernah cerita kalau Ibuku sangat jago dalam memasak ? Ibuku memang sangat mencintai urusan masak-memasak, bahkan kata Ibuku dulu Nenekku (Ibu dari Ibuku) terkenal sebagai juru masak. Nenekku dulu selalu dimintai bantuan sebagai juru masak jika ada tetangga dan saudara yang punya hajat. Dan.., rupanya bakat itu menurun pada Ibuku.

Beruntungnya aku dan adikku, karena sejak kecil sudah dimanja dengan masakan Ibuku. Hampir tiap hari Ibu membuat camilan untuk kami sekeluarga. Kadang aku berpikir, kok Ibu tak kenal kata capek ya ? Padahal Ibuku juga bekerja di kantor, tapi masih sempat membuat masakan dan jajan tiap hari. Ibu memang tidak suka jika kami jajan di luar.


Kebetulan juga, Bapakku sangat memuja masakan Ibuku. Sudah sering sekali aku mendengar Bapakku akan dengan bangga berkata " ini masakan sendiri lho.." pada setiap tamu yang disuguhi jajanan atau makanan hasil karya Ibuku. Suamiku sendiri sangat menggemari Nasi Kuning dan Kue Sus hasil karya ibuku. Aku sendiri penggemar Nasi Kuning dan Tumis Kacang made in Ibuku. Kalau Shasa paling suka Lapis Daging dan Rendang yang dimasak Ibuku. Sementara keponakanku lebih suka Kering Tempe dan Rendang yang dimasak Ibuku.

Herannya.., aku dan adikku kok tidak hobby masak ya..? Hahaha... Mungkin karena kami terbiasa dimanja menerima makanan enak hasil karya Ibuku, jadi kami malah tak termotivasi untuk membuatnya sendiri... *ngeles.com* Padahal sejak kecil aku sudah terbiasa membantu Ibu memasak di dapur, tapi hanya sebatas sebagai asistennya saja. Meskipun sering menjadi asisten Ibu dalam memasak, tapi kok tidak ada niat untuk belajar memasak sendiri ya..? Sementara adikku malah tak suka memasak, kecuali kalau kepepet... hehehe.

Namun semenjak kami (aku dan adikku) berumah tangga, mau tak mau kami harus terjun ke dapur. Ibu sudah terbiasa menerima telpon dari kami yang minta instruksi tentang bahan yang dibutuhkan dan cara memasak sesuatu makanan. Namun terkadang, aku mengandalkan ingatan tentang pengalamanku sebagai asisten Ibu dulu. Hasilnya...? Bagi amatiran sepertiku, rasanya hasilnya tak mengecewakan walau tentu saja tak dapat dibandingkan dengan hasil karya Ibuku.

Jadi.., setelah hampir 12 tahun berumah tangga, dalam urusan masak memasak aku terbiasa untuk mengandalkan imajinasiku. Jika hasil masakanku dipuji suami dan Shasa.., wah senang sekali. Rasa lelah dalam menyiapkan masakan itu telah terbayar lunas jika melihat masakanku laku keras... hehehe. Namun karena aku memasak mengandalkan imajinasi semata, maka aku tak sanggup jika diminta untuk menuliskan resep masakanku. Soalnya, bumbunya ya cuma kira-kira kok... hehehe

Kalau kata Shasa sih, Semur dan Kering Tahu-Tempe buatanku enak... Hemmm.., jadi ingin memasak lagi nih. Siapa mau ikut membantuku..?

Rabu, 12 Mei 2010

Pelajaran berharga untukku

Sobat, aku merasa beruntung sekali telah nekad mengikuti acara review blog yang digelar mbak Fanny. Bukan hanya karena aku berhasil menang dalam acara itu (dan mendapatkan novel yang aku idamkan), namun karena aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari acara itu.

Yang pertama tentu saja, pelajaran untuk membuat review blog. Karena terus terang saja, itulah pertama kalinya aku membuat sebuah review blog. Awalnya memang sempat bingung membuat review blog, tapi setelah berulang kali membaca persyaratan yang dituliskan mbak Fanny untuk review blog dan setelah membaca review dari peserta lainnya, maka jadilah review blog pertama-ku.

Pelajaran kedua yang aku dapatkan adalah, aku akhirnya tahu tentang gaya atau 'teknik' penulisanku selama ini. Terus terang, selama ini aku sama sekali tak menyadari bagaimana gaya atau teknikku dalam menulis. Untung saja Mbak Fanny telah berbaik hati untuk mengulas tulisan peserta review blognya yang menang, yang nyaris menang dan yang belum beruntung. Dan lewat postingannya yang berjudul "Mengapa Mbak Reni Menang?" itulah aku mendapatkan 'pencerahan'.

Dalam postingannya itu mbak Fanny menjelaskan bahwa di mata salah satu juri tulisanku terlalu sistematis dan kurang 'hidup'. Sungguh, sebelumnya aku tak menyadari bahwa tulisanku terlihat 'sistematis'. Bahkan aku juga kurang menyadari bahwa tulisanku (selama ini) kurang 'hidup'. Bahkan terus terang saja, aku tak tahu bagaimana untuk membuat sebuah tulisan itu menjadi 'hidup'.

Kalau tentang gaya menulis yang 'sistematis' mungkin aku bisa sedikit menjelaskan. Menurutku sih, sepertinya gayaku menulis tak lepas dari kepribadianku. Aku memang cenderung serius, tertib dan teratur. Biasa hidup dalam keteraturan rupanya mempengaruhi gaya menulisku rupanya. Dan, aku memang sulit keluar dari keteraturan itu....

Masalahku atau "Pekerjaan Rumah" untukku sekarang adalah... bagaimana aku bisa 'keluar' dari keteraturan itu ketika sedang menulis, sehingga aku dapat menghasilkan sebuah tulisan yang lebih 'hidup'. Menjawab pertanyaanku itu, mbak Fanny memberikan masukan seperti ini :

@mbak reni : perlu latihan yg banyak, mbak. lagipula, ada beberapa orang yg memang berbakat nulis yg serius2. ada yg bakat nulis yg lucu2.

Selain itu terus terang aku merasa sangat bangga sewaktu mbak Fanny mengatakan bahwa menentukan siapa yang menang untuk novel The girls of Riyadh adalah yang paling sulit, karena ada 2 peserta yang bersaing ketat, yaitu antara mbak Reni dengan Kang Sugeng. Terus terang, aku awalnya tak yakin menang karena Kang Sugeng telah berhasil memenangkan beberapa lomba menulis. Dan jika akhirnya aku menang, terus terang aku bangga sekali walau harus kuakui bahwa sebenarnya tulisanku tidak lebih baik dari Kang Sugeng.

Terima kasih untuk mbak Fanny, keikutsertaanku dalam review blognya mbak Fanny benar-benar menjadi pelajaran berharga bagiku.

Selasa, 11 Mei 2010

Rapat batuk

Kemarin siang, ponselku berdering. Ternyata, boss-ku yang telpon. Wah, ada apa nih ? Buru-buru aku angkat dan menjawab telpon boss-ku. 

"Assalamu'alaikum, pak" 
"Wa'alaikum salam. Mbak Reni, tolong wakili saya untuk rapat di ruang Asisten I ya? Agendanya untuk membahas MoU," kata Boss-ku.
"Baik, pak" jawabku lemah.



Ya, aku memang sebenarnya tak bersemangat untuk mewakili beliau rapat siang kemarin. Bukan karena aku tak mau mewakili atau aku tak suka mengikuti rapat, hanya masalahnya aku sedang terserang batuk beberapa hari ini. Aku tahu bahwa ruangan Asisten I full AC dan pastinya dingin sekali. Aku tak ingin mengikuti rapat dengan terbatuk-batuk. Tapi... perintah itu mau tak mau harus aku jalankan, walaupun dengan berat hati.

Aku segera meminta informasi ke Tata Usaha tentang waktu pelaksanaan rapat sekaligus agenda acaranya. Ternyata di undangan yang ditujukan kepada Boss-ku tertera bahwa pelaksanaan rapat jam 13.00 padahal Boss-ku menelponku jam 13.15. Wah, telat nih... Aku pun buru-buru menuju ruang Asisten I.

Ternyata, sudah banyak yang hadir di ruangan Asisten I tapi untungnya aku bukan yang terakhir datang. Tak lama kemudian, rapat pun dimulai... dan dimulai jugalah batuk-ku. *sigh* Aku berusaha keras untuk menahan batuk, tapi ya Allah.., rasa gatal yang menggelitik di leherku benar-benar tak dapat aku tahan. Sudah begitu, rasa dinginnya ruangan Asisten I membuatku kedinginan. Aku sampai mengulum permen batuk untuk sedikit meredakan batukku tapi ternyata tak terlalu berfungsi dengan baik.

Hingga di saat peserta rapat diminta memberi masukan dan aku pun minta waktu untuk memberikan masukan juga. Waktu Asisten I mengijinkan aku memberi masukan, beliau mengatakan : "Ya, silahkan wanita dulu yang memberi masukan, yang batuk dulu".Ya ampun.., maluuuu...

Akhirnya, setelah berjalan sekian lama, akhirnya rapat yang menyiksaku itu berakhir juga. Setelah rapat ditutup, Asisten I masih sempat-sempatnya berbasa-basi denganku, "Mbak Reni batuk ya...?" Sudah tahu, mengapa harus ditanyakan to pak...? Aku kan jadi makin malu... 

Memang, selama ini aku paling 'takut' kalau sakit batuk, selain karena batukku pasti 'berat' tapi juga lama banget sembuhnya. Biasanya perutku sampai 'kaku' dan sakit karena terlalu sering aku batuk-batuk. Sudah jadi hal biasa bagiku jika melihat orang-orang yang memasang muka 'kasihan' setiap kali aku terbatuk-batuk tanpa henti.... 

Ya Allah..., bagaimana caranya agar jika aku sakit batuk, batuknya tidak parah dan berat seperti itu..?


gambar diculik dari sini

Minggu, 09 Mei 2010

Catatan Ibuku

Beberapa hari yang lalu Ibuku memberiku sebuah stofmap merah. Kata Ibuku isinya adalah catatan yang berisi tentang kenangan Ibuku akan masa lalu. Memang, dalam menjalani masa pensiunnya ini Ibuku jadi suka menulis (dengan tangan) tentang kisah masa lalunya. Ibu sedang senang mengenang semua kejadian masa lalunya untuk diceritakan pada anak cucunya lewat tulisan tangannya.

Jika dulu Ibu sudah pernah membuat catatan tentang kisah masa kecil sampai masa remajanya, maka kali ini adalah kisah tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi saat Ibu masih bekerja dulu. Sedangkan stofmap merah yang diserahkan padaku beberapa hari yang lalu khusus bercerita tentang 'konflik-konflik' yang terjadi di kantor akibat Ibu memiliki pimpinan yang temperamental dan emosional.



Dari catatan Ibu itu, aku jadi tahu bahwa ternyata apa yang dihadapi Ibuku dulu sewaktu bekerja sangat tidak mudah, apalagi setelah mendapatkan pimpinan baru yang temperamental dan emosional. Seringkali Ibu harus beradu argumentasi dan berperang kata melawan pimpinannya itu, karena dimata Ibu sang pimpinan sudah kelewatan dalam memperlakukan stafnya. Melihat rekan-rekan kerjanya tertekan dan menderita di bawah pimpinan beliau, maka Ibu seringkali memberanikan diri untuk 'mengingatkan' sang pimpinan agar merubah sikapnya.

Setelah membaca catatan Ibu, aku makin kagum padanya. Dedikasinya pada pekerjaan, solidaritasnya kepada rekan kerja dan kepatuhannya akan peraturan telah membuatnya berani mengambil sikap tegas, meskipun itu berarti melawan perintah pimpinan yang menurutnya 'salah'. Itu sebabnya Ibu sangat dihormati sekaligus dicintai oleh rekan-rekan kerjanya. Maka tak mengherankan, meskipun Ibu sudah lama pensiun tapi masih saja ada staf-staf Ibu dulu yang datang ke rumah untuk bertemu Ibu. Terkadang saat Ibu menghadiri undangan (sebagai anggota pensiunan) dari kantornya dulu, tak sedikit yang menawarkan diri untuk mengantar dan menjemput Ibuku.

Membandingkan Ibuku dulu saat masih bekerja dengan diriku sendiri, tiba-tiba aku merasa malu. Aku merasa, aku 'kalah' bersaing dengan Ibuku. Aku merasa Ibu lebih tegas daripadaku, terutama menghadapi pimpinan yang 'aneh'. Selama ini aku memang memberikan pendapatku jika aku merasa pimpinan mengambil kebijakan yang kurang pas, tapi akhirnya aku hanya bisa pasrah jika ternyata pimpinanku ngotot untuk tetap menjalankan kebijakannya itu (walau di hati dongkolnya bukan main).

Jika itu terjadi pada Ibuku, maka aku yakin Ibuku tak akan semudah itu pasrah, setidaknya setelah mengadakan adu argumentasi dan debat yang berkepanjangan. Walau pada akhirnya keputusan tetap ada di tangan pimpinan, tapi Ibuku telah berjuang dengan maksimal untuk memberikan masukannya. Nah, ini yang aku belum bisa, karena sampai sekarang aku merasa 'sungkan' jika harus debat berkepanjangan dengan pimpinan.

Membaca catatan Ibu, aku merasa banyak hal yang harus aku perbaiki dalam diriku untuk meningkatkan kinerjaku di kantor. Untuk Ibuku tercinta, terima kasih banyak telah berbagi pengalaman hidup yang luar biasa bagiku. Itu semua sungguh berarti bagiku... dan aku ingin bisa menjadi wanita setegar Ibuku. Amin...

Jumat, 07 Mei 2010

Hubungan Pagerank dan Alexa

Tahukah kawan, apakah ada hubungan antara Pagerank dan Alexa ? Apakah mereka berteman baik ? Atau sebaliknya, mereka saling bersaing ? Atau... jangan-jangan mereka selama ini malah tak saling mengenal. Meskipun aku sudah 1 tahun lebih asyik dengan dunia blog, dan sudah berkali-kali membaca tentang Pagerank dan Alexa di beberapa blog, tapi tetap saja sampai sekarang aku tak tahu apa hubungan Pagerank dan Alexa.

Mungkin bagi beberapa sobat blogger sudah tahu tentang hubungan Pagerank dan Alexa ini, namun sayang aku belum paham juga sampai sekarang *malu mode on*. Soalnya, kulihat di beberapa blog sahabat ada yang Alexa-nya masih di atas 1 juta-an tapi sudah dapat Pagerank 2 atau malah 3. Bagi yang sama-sama memiliki Pagerank 3, ternyata ada yang alexanya sudah 100.00-an tapi ada juga yang masih 800.00-an. So, kesimpulanku tak ada hubungan antara Pagerank dan Alexa. Betul...?

Mengapa aku tiba-tiba ada perhatian terhadap hubungan Pagerank dan Alexa ? Karena eh karena... aku heran sekali dengan pagerank kedua blogku. Mengingat bahwa Alexanya hampir sama, namun ternyata Pagerank-nya jauh berbeda. Untuk lebih lengkapnya kita lihat data di bawah ini. Cekidot....

Untuk Blog Catatan Kecilku Pagerank dan Alexa-nya seperti ini :


Sementara untuk Blog The Others... Pagerank dan Alexa-nya seperti ini :


Blog Catatan Kecilku, Pagerank-nya selama ini tetap stabil (gak naik-naik maksudnya hehehe) meskipun sempat pindah alamat dari dotcom ke blogspot. Hanya Alexa-nya saja yang sempat membengkak menjadi berjuta-juta hehehe. Untungnya sekarang sudah normal lagi.

Yang unik adalah Blog The Others... Selama ini Alexanya gak sempat membengkak, namun Pagerank-nya naik turun terus. Sudah 2 kali blog ini mendapat PR-3, namun 2 kali pula PR-nya tiba-tiba diturunkan ke 0. OMG... apa salahku ya..?

Nah, bagi sobat-sobat semua, jika ada yang bisa memberikan penjelasan yang singkat dan jelas padaku (tentang hubungan Pagerank dan Alexa serta mengapa tiba-tiba Pagerank Blog The Others.. tiba-tiba melorot ke 0) aku tunggu penjelasannya. Tapi apapun yang terjadi pada Pagerank dan Alexa di blogku... aku akan tetap ngeblog kok. The show must go on... (iya kan mbak Fanny...?) hehehe

Sabtu, 01 Mei 2010

Kondisi darurat

Setahun terakhir ini aku sering dihadapkan pada kondisi darurat. Yang aku maksud dengan kondisi darurat adalah kondisi yang tak terduga dan harus segera diambil tindakan secepatnya. Semula aku tentu saja sedikit kaget dan kalang kabut saat menghadapi kondisi darurat ini, namun setelah terjadi 2-3 kali aku mulai mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu menghadapinya.

Kondisi itu bermula ketika aku mendapatkan pimpinan yang baru. Jika pemimpinku yang lama sangat detil dan terlibat penuh dalam menjalankan pekerjaannya, maka pemimpin yang baru justru memberikan kepercayaan penuh pada masing-masing tim kerja yang ada. Beliau juga tak pernah menanyakan perkembangan pekerjaan kami, sehingga kami harus berinisiatif untuk sering-sering melaporkan perkembangan pekerjaan kepada beliau.

Masalahnya, mencari beliau itu sungguh sulit, karena beliau jarang ada di tempat. Sehingga tak semua hal dapat kami konsultasikan dan kami laporkan kepada beliau. Jika kondisi sangat mendesak, mau tak mau telepon menjadi perantara yang sangat berharga bagi kami. Namun untuk menghubungi beliau melalui handphone memang kami harus memilah-milah masalah dulu, tak enak jika semua masalah kami sampaikan lewat telepon.

Dari berbagai kondisi darurat yang paling aku ingat adalah kondisi darurat yang pertama kali aku hadapi. Saat itu tim kerjaku mempersiapkan acara pembinaan administrasi kepegawaian yang rencananya akan dibuka oleh Bapak Sekretaris Daerah. Sambutan untuk bapak Sekretaris Daerah dan Laporan Ketua Panitia yang akan disampaikan oleh pimpinanku pun sudah kami siapkan dan kami serahkan kepada beliau-beliau itu untuk dipelajari.

Beberapa saat sebelum acara itu akan dibuka, ternyata Bapak Sekretaris Daerah berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Asisten Administrasi Umum. Saat bapak Asisten Administrasi Umum memasuki ruangan dan duduk di depan dengan didampingi pimpinanku aku terbengong. Lho, kalau beliau duduk di sebelah bapak Asisten Administrasi Umum siapa dong yang akan menyampaikan Laporan Ketua Panitia nantinya ? Sesaat sebelum protokol membuka acara, pimpinanku melambaikan tangannya padaku dan mengatakan bahwa aku nanti yang ditugasi untuk membacakan Laporan Ketua Panitia.

What ?! Terus terang aku terkejut bukan main. Mengapa beliau menyampaikan hal ini secara mendadak ? Mengapa naskah Laporan Ketua Panitia yang mesti aku bacakan tak diserahkan kepadaku ? Bukankah naskah itu sudah kuserahkan pada beliau ?

tempat duduk utk Asisten Administrasi Umum dan pimpinanku

aku yang sedang membacakan laporan ketua panitia
Kemudian aku bergegas  kembali ke tempatku. Untung saja aku tak lupa membawa semua arsip kegiatan ini. Aku segera mencari-cari naskah Laporan Ketua Panitia. Huff..., untung ketemu. Belum sempat aku membuka map itu, protokol sudah menyilahkan aku maju untuk menyampaikan Laporan Ketua Panitia.

Setelah menenangkan diri sebentar aku berjalan menuju podium untuk membacakan Laporan Ketua Panitia yang terdiri dari 2 lembar. Alhamdulillah, halaman pertama dapat aku sampaikan dengan baik dan aku beralih ke halaman kedua. Seketika wajahku pucat pasi ketika menyadari bahwa kedua lembar naskah laporan yang aku bawa itu kedua-duanya adalah halaman pertama. Aduh..., halaman keduanya pergi kemana sih..?

Keringat sudah mulai membanjir di dahiku. Menyadari banyak mata memandangku dan menunggu kelanjutan laporanku, maka aku tahu bahwa aku tak dapat minta bantuan dari siapapun. Aku coba menenangkan diri dan mencoba mengingat-ingat bunyi naskah Laporan Ketua Panitia itu. Alhamdulillah, meskipun dengan sedikit terbata-bata, aku mampu menyelesaikannya. Untung saja aku telah membaca sebelumnya, sehingga meskipun aku tak hafal namun aku tahu poin-poinnya.

Saat turun dari podium, rasanya beban berat sudah terangkat dari pundakku. Begitu aku sampai kembali ke tempatku, aku tunjukkan pada anggota tim-ku apa yang membuatku sempat tersendat tadi. Mereka pun sama terkejutnya denganku. Walaupun di awal acara ada insiden kecil, untungnya pelaksanaan  pembinaan administrasi kepegawaian dapat berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali. Alhamdulillah...

Setelah kejadian itu, ada beberapa kondisi darurat lainnya yang serupa tapi tak sama, yang disebabkan oleh pemimpinku. Mengalami kondisi darurat berulang kali membuatku kini lebih prepare lagi dalam mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut beliau. Aku kini telah mempersiapkan diri untuk siap sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat seperti itu.

Hikmah yang dapat kuambil adalah masing-masing pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Dengan pemimpin yang baru ini, aku mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri seluas-luasnya.

Minggu, 25 April 2010

Kabar gembira

Kemarin malam aku dapat kabar gembira dari mbak Anaz yang ditulisnya di kotak komenku seperti ini :
Mbak, saya dah berhasil link mbak Reni, alhamdulilah.. :)
Bagi yang baru berkunjung ke blogku ini mungkin heran dengan kabar gembira yang disampaikan mbak Anaz padaku karena aku yakin bagi setiap blogger memasang link sahabat sangat mudah. Tinggal buka dasbor, klik tata letak, klik tambah gadget, klik daftar link/daftar blog, masukkan URL blog, simpan dan... beres sudah. Jadi apa istimewanya kabar gembira dari mbak Anaz ?

Bagi yang heran aku cerita deh, biar tak makin bingung. Jadi gini..., bulan Pebruari 2010 yang lalu aku boyongan dari dari www.renijudhanto.com kembali ke renijudhanto.blogspot.com. Awal mula aku ngeblog aku memang pakai blogspot (yang gratis hehehe) tapi dalam perjalanannya ada seorang sahabat yang memberiku hadiah domain dotcom selama setahun. Jadilah selama 1 tahun itu blogku ini dapat diakses melalui 2 alamat yaitu dotcom dan blogspot. Namun akhir Pebruari kemarin (sebelum masa pemakaian dotcom berakhir) aku memutuskan kembali ke blogspot dan tidak memperpanjang dotcom.

Ternyata keputusanku itu mendatangkan masalah. Bagi sahabat-sahabat blogger yang sejak awal memasang URL renijudhanto.blogspot.com tak mengalami masalah sama sekali. Tapi bagi yang memasang URL www.renijudhanto.com ternyata mendapat masalah yaitu tak bisa menggantinya ke renijudhanto.blogspot.com. Termasuk blogku sendiri yang The Others... tak berhasil mengganti link Catatan Kecilku dari dotcom ke blogspot. Berapa kali diganti dengan blogspot, tetap saja yang muncul URL yang dotcom. *pusing*

Akibatnya tentu saja yang muncul dalam blogroll itu adalah postinganku yang terakhir aku tulis sewaktu aku menggunakan dotcom yaitu : Peristiwa dan Mood-ku yang aku publish tanggal 22 Pebruari 2010 (2 bulan yang lalu...). Jadi banyak sahabat mengira setelah hari itu aku sama sekali tak update blog, padahal setelah hari itu aku rajin update... dan sayangnya tak terdeteksi lewat blogroll sahabat-sahabatku. *sigh*

Akhirnya..., masalah itu berakhir juga setelah mbak Anaz berhasil memasang link-ku di blogroll-nya. Senangnya hatiku atas kabar gembira ini. Hal pertama yang aku lakukan adalah segera mengganti link blog Catatan Kecilku yang aku pajang di The Others...  Ternyata memang sudah bisa lagi... Alhamdulillah...

Jadi, bagi sahabat-sahabat semua... mulai sekarang sudah bisa lagi memasang kembali link blog ini. Bagi yang sudah memasang yang link yang lama (www.renijudhanto.com), tolong dihapus ya... dan segera diganti dengan renijudhanto.blogspot.com. Terima kasih.....

Sabtu, 24 April 2010

Perhatian versus Provokasi

Perhatian dan provokasi adalah dua hal yang jelas-jelas berbeda, namun terkadang aku bingung membedakannya. Mungkin pernyataan itu mengherankan, tapi sejujurnya kukatakan bahwa itulah yang beberapa kali aku alami. Mungkin terasa lucu dan janggal ya..? Tapi yakinlah... bahwa aku tak mengada-ada.

Semua berawal dan berasal dari seorang temanku yang sudah cukup lama kukenal. Meski begitu aku tak terlalu dekat dengannya, dalam arti aku tak suka bercerita tentang kehidupan pribadiku padanya. Namun sebaliknya, dia pernah beberapa kali menceritakan tentang kondisi rumah tangganya. Meskipun tidak detil, namun aku aku tahu bahwa karena rumah tangganya sedang bermasalah maka dia punya 'teman dekat' yang lain. Untungnya dari awal dia sudah berkomitmen tak akan meninggalkan suami dan anak-anaknya meskipun saat ini sedang ada masalah dalam rumah tangga mereka.

Nah..., perhatian dan provokasi yang aku ceritakan kali ini bersumber darinya. Terus terang aku sering berpikir tentang perkataan-perkataan yang disampaikan kepadaku itu adalah wujud perhatiannya atau provokasi darinya. Contohnya seperti ini :

"Harusnya kamu ikuti semua kegiatan yang dilakukan suamimu, Ren. Kalau perlu ikut juga badminton bareng suamimu. Jangan sampai nanti suamimu direbut cewek lain. Ingat lho.., cewek sekarang gesit dan berani."  ~~ katanya padaku waktu kujawab pertanyaannya bahwa suamiku sedang senang olahraga badminton dengan teman-teman kantornya (pria dan wanita).

"Hati-hati Ren..., jangan-jangan suamimu punya pacar di luar sana." ~~  katanya padaku waktu kujawab pertanyaannya bahwa suamiku punya banyak kesibukan di luar rumah.

"Kau sebenarnya cantik hanya sayang kau tak mau dandan. Coba mulai sekarang kau berdandan biar suamimu tak melirik cewek lain."  ~~ katanya padaku karena melihat penampilanku yang bersahaja.

Masih banyak lagi kata-katanya yang membuatku berpikir apakah kata-katanya itu bentuk perhatian darinya atau justru provokasi-nya ? Di satu sisi aku tahu bahwa sebagai istri memang harus selalu waspada sehingga dapat membaca tanda-tanda jika suami sedang tergoda/digoda wanita lain. Aku juga tahu bahwa wanita harus pintar berdandan, agar suami betah di rumah. Namun.., aku mengenal suamiku dan  aku tak mau menaruh curiga yang tak beralasan padanya. Aku tak mau rumah tanggaku jadi 'panas' karena kecurigaan yang tak beralasan. Aku juga tahu bahwa suamiku tak terlalu suka dengan wanita yang berdandan berlebihan. Dan... semua itu tak diketahui temanku.

Di sisi lain aku berpikir, mengapa temanku yang satu ini seringkali berkata seperti itu padaku. Padahal teman-temanku yang lain tak ada yang begitu. Apa karena rumah tangganya sedang bermasalah ? Apa karena dia sendiri mempunyai 'teman dekat' yang tak diketahui suaminya ? Apa dia menganggap bahwa orang lain mungkin juga melakukan hal yang sama dengannya ? Apa dia sedang kecewa dengan suaminya dan rumah tangganya ? Apa dia tak ingin aku mengalami hal yang sama dengannya ?

Entahlah..., tapi bagaimanapun sarannya ada benarnya walau tak semuanya aku setujui. Dari dulu aku sadar bahwa aku dan suamiku masih sama-sama muda dan masih memiliki 'daya tarik' bagi orang lain. Aku tak mau takabur dengan mengatakan bahwa suamiku tak mungkin tergoda wanita lain. So, kami harus menguatkan komitmen yang ada dan meningkatkan komunikasi di antara kami. Kami harus pandai-pandai merawat cinta yang kami miliki agar tak layu termakan waktu.

Tapi..., aku tetap mempercayai suamiku sejauh ini. Meski begitu aku tetap tak boleh terlena sepenuhnya. Aku percaya, instingku sebagai wanita masih bisa diandalkan, sehingga jika sesuatu yang tak beres terjadi aku pasti akan menciumnya. Aku tetap berusaha untuk menjadi istri yang baik baginya dan ibu yang baik bagi anak kami. Dan.., aku tak mau mencurigainya secara membabi buta dan mengekor kemanapun dia pergi untuk bisa selalu mengawasinya. Aku tak mau seperti dia mencurigai suami terus menerus begitu karena bisa-bisa malah suamiku tersinggung karena merasa tak aku percayai. Nah.., gawat kan kalau begitu ?

Terlepas dari temanku itu..., aku mendapatkan perhatian yang tulus (dan tanpa provokasi) dari seorang sahabat blogger, mas Hendriawanz. Mengetahui aku berulang tahun, mas Hendriawanz mengirimkan hadiah ulang tahun buatku. Terima kasih untuk mas Hendriawanz atas ucapan ulang tahunnya. Bahkan mengetahui bahwa aku dan suami sedang memperjuangkan sesuatu.. maka mas Hendriawanz mengirimkan doa agar apa yang sedang kami perjuangkan dapat tercapai.



Harus kuakui, mas Hendriawanz memiliki kepedulian kepada sahabat-sahabatnya di dunia maya. Hampir semua sahabat maya yang 'merayakan' sesuatu akan mendapatkan hadiah istimewa darinya. Terus terang  aku heran juga, kok bisa dia tak melewatkan saat-saat istimewa dari sahabat-sahabatnya itu...? hehehe.... Sekali lagi... terima kasih banyak mas.... meski persahabatan ini hanya lewat dunia maya namun terasa indah sekali.


Jumat, 23 April 2010

Bicara buku di Hari Buku Sedunia

Sungguh..., aku baru tahu bahwa hari ini (23 April 2010) diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Padahal, konon beritanya sejak tahun 2006 di Indonesia sudah ikut merayakan Hari Buku Sedunia ini. Padahal aku termasuk salah satu dari pecinta buku (walau mungkin aku belum masuk dalam kategori kutu buku) namun gema Hari Buku Sedunia baru sampai padaku hari ini...

Mungkin gema peringatan Hari Buku Sedunia belum didengar oleh seluruh lapisan masyarakat, sama seperti Hari Bumi yang bagi sebagian orang masih terasa 'asing' ditelinga. Dan pada Hari Buku Sedunia ini aku ingin bicara tentang buku, salah satunya adalah tentang hadiah buku yang aku terima. Kebetulan di hari ulang tahunku kemarin aku mendapatkan hadiah buku dari Shasa dan suamiku yaitu : 24 Wajah Billy dan Menembus Impian.

Shasa dan suamiku tahu bahwa selama ini aku sudah mencari buku 24 Wajah Billy namun belum pernah ketemu. Hasrat memiliki buku itu semakin kuat setelah aku mendapatkan buku sekuelnya yang berjudul Pertarungan Jiwa Billy. Kebetulan beberapa hari yang lalu aku menemukan 24 Wajah Billy di Togamas, namun aku tak bisa membelinya karena aku sudah tak punya anggaran untuk beli buku...*sigh*

Rupanya Shasa dan suamiku tahu bahwa aku sangat ingin memilikinya, sehingga diam-diam mereka membelikannya dan memberikannya sebagai hadiah ulang tahunku. *bahagia banget* Terima kasih banyak (plus cium sayang) untuk Shasa dan suamiku atas hadiah yang diberikan kepadaku ini.

Selain itu beberapa saat yang lalu aku dapat kiriman buku lagi dari mbak Kuyus yaitu : Toto-Chan (Gadis Cilik Di Jendela), Toto-Chans's Children dan The Street Lawyer. Terima kasih banyak untuk mbak Kuyus atas kiriman buku-bukunya yang menarik.. Pokoknya terima kasih banyak ya...


Sayangnya, justru di Hari Buku Sedunia ini aku terpaksa membuat 'janji' untuk tidak lagi lapar mata kalau melihat buku. Aku harus lebih bisa mengerem hasratku membeli buku. Aku bukan bermaksud untuk 'melawan' peringatan Hari Buku Sedunia dan mengkhianati misi mewujudkan masyarakat yang cinta membaca. Bukan itu.... Melainkan aku dan suami mempunyai sebuah keinginan yang ingin kami wujudkan. Dan untuk memenuhinya, maka mulai sekarang kami harus melakukan gerakan TMP (Tight Monetary Policy).

So... sekarang aku harus tutup mata setiap melihat spanduk pameran buku atau iklan buku-buku diskon. Semoga aku tabah menjalaninya (meski terasa berat.....) hehehe

Kamis, 22 April 2010

Hari ini dan 13 tahun yang lalu

Ya Allah, terima kasihku yang tak terhingga
atas segala yang telah Kau berikan padaku hingga hari ini
Betapa ku tak mampu menghitung dan menimbang
tiap-tiap berkah dan rahmad untukku
yang Kau berikan tak putus-putus

Betapa melimpah kebahagiaanku selama ini
    bisa didampingi kedua orang tua dan mertua
    yang tiada henti melimpahkan kasihnya hingga hari ini
    suami yang mendampingi setiap langkahku
    dengan segenap perhatian dan cintanya
    anak yang membuatku bangga memilikinya
    dan bahagia setiap memeluknya


Ya Allah betapa Maha Pemurah-nya Engkau
    untukku Kau hadirkan sahabat-sahabat yang menyayangiku
    teman-teman yang penuh pengertian
    pekerjaan yang menyenangkan (walau terkadang melelahkan)
    kesehatan dan rizky yang tiada hentinya....

Ya Allah, sungguh Engkau Maha Kaya
    meski telah banyak yang Kau berikan padaku
    namun selalu saja ada dan masih ada
    kejutan-kejutan indah dari-Mu

Terima kasih Ya Allah...
harapanku selalu, semoga aku tak kufur nikmat...
semoga aku mampu selalu berbagi kebahagiaan dan kenikmatan
yang telah aku dapatkan dari-Mu
semoga aku selalu dan selalu Kau beri kesabaran dan ketabahan
dalam menjalani hidup ini
agar aku tak pernah lagi mengeluh dan berputus asa
atas sedikit saja kerikil yang menghalangi jalanku

Amin....

Madiun, 22 April 2010

*******

Sobat, hari ini adalah hari ulang tahunku dan aku punya kenangan manis tentang hari ini tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, aku mendapatkan sebuah kejutan membahagiakan dari sahabatku, Afifah Inayati (Iin). Sebuah ungkapan persahabatan yang indah sebagai hadiah ulang tahunku. Hari ini... tiga belas tahun yang lalu... adalah salah satu momen yang tak akan terlupakan dari hidupku. Dan inilah hadiah terindah darinya yang masih aku simpan hingga hari ini...

Karena tulisannya terlalu kecil dan susah dibaca, maka di bawah ini aku salin lagi kalimat yang tertulis dalam kertas itu. Dan.... inilah salinannya...........


Jakarta, 22 April 1997

I imagine our friendship is like the Sun....
      It is warm against our body and soul
      It is lively that makes us smile
      It is beautiful, a comfort to restless heart
      It is meaningful we couldn't live without
      It is important, we wouldn't trade it for anything
      It is lasting like the time
      It is there everytime even at night when we can't see it
And like the Sun I wish our friendship will be.

Be happy my friend. With your cheerfulness and warm hearted nature, you will be the Sun for the people around you.
Me, for example.

Love always, IIN

Sobat... sebuah kebahagiaan bisa hadir meski hanya dari selembar kertas. Sobat..., hari ini adalah hari ulang tahunku dan... aku bahagia untuk hari ini dan bahagia mengenang sebuah kenangan tak terlupakan tiga belas tahun yang lalu.

Rabu, 21 April 2010

Kartini tanpa konde

Perayaan Hari Kartini tahun ini di kantorku berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini seluruh karyawati dianjurkan untuk mengenakan Busana Nasional dan karyawan mengenakan baju batik. Enak yang jadi bapak-bapak..., cuma dianjurkan pakai baju batik, seharusnya bapak-bapak pakai beskap, atau minimal pakai Pakaian Khas Jawa Timur (PKJ). *iri mode on*

Baru tahun ini ada anjuran yang seperti ini dan terus terang sempat membuat 'heboh' segenap karyawati. Ada yang mengeluh tak punya kebaya, ada juga yang mengeluh tak bisa berdandan. Yang lain mengeluhkan betapa repotnya kerja dengan mengenakan Busana Nasional. Belum lagi bagi kantor-kantor yang tidak memiliki Air Conditioner, sudah kebayang betapa menyiksa dan gerah-nya bekerja seharian dengan mengenakan Busana Nasional. Namun mayoritas mengeluh karena tak tahan jika harus mengenakan konde.

Coba dibayangkan, jika kami harus bekerja seharian di kantor dengan mengenakan konde di kepala. Pasti kepala terasa berat dan pusing, sementara pekerjaan kantor tetap harus dijalankan. Aku malah membayangkan betapa repotnya guru-guru dan pegawai rumah sakit/puskesmas bekerja pada hari ini dengan mengenakan Busana Nasional. Karena untuk mereka semua juga dianjurkan mengenakan Busana Nasional.

Dan... hari ini ternyata karyawati yang hadir ke kantor tak banyak yang mengenakan konde. Alasannya tentu saja agar tak ribet saat upacara dan bekerja. Sebenarnya seru juga melihat penampilan karyawati yang berbeda dan terlihat cantik-cantik hari ini. Ada yang memilih tampil (dengan make upa) ala kadarnya, namun banyak juga yang memilih dandan habis-habisan. Meskipun sedikit, ada juga yang berdandan kebaya lengkap dengan konde dan selendangnya. Aku sudah membayangkan betapa repotnya dia nanti saat bekerja hehehe.



wanita2 di kantorku (full team...)

Kalau ini tim kerjaku...
Acara hari ini dimulai dengan upacara yang semua petugas upacaranya adalah wanita. Sayangnya upacara dilaksanakan agak siang, jadi sudah terasa panas. Benar-benar perjuangan deh pokoknya. Setelah upacara selesai..., kami masih sempat foto-foto sebentar... (hehehe, tetap aja narsis didahulukan). Takutnya kalau makin siang, make up keburu luntur hehehe...

Meskipun hari ini adalah Hari Kartini tanpa konde, tapi tetap aja tak nyaman bekerja. Belum apa-apa sudah terasa gerah. Yang jelas bagiku hari ini terasa lama banget.... dan tak nyaman sama sekali dalam bekerja. Bagiku... hari ini cukup melelahkan sekaligus tak terlupakan (dengan segala kehebohannya). ^_^

Selasa, 13 April 2010

Belajar dan terus belajar

Sampai saat ini, aku rasakan bahwa aku masih saja belajar dan terus belajar. Aku masih harus belajar tentang banyak hal, bukan saja hal baru namun juga hal-hal lama yang telah terlupakan olehku. Banyak hal yang belum aku pahami, banyak hal yang belum aku mengerti dan... banyak hal yang terlupakan olehku. Itulah mengapa sampai detik ini aku masih saja belajar dan terus belajar.

Untuk urusan rumah tangga, aku juga masih banyak belajar. Belajar dari mana saja dan belajar dari siapa saja, karena ku ingin bisa menjalankan rumah tanggaku dengan sebaik-baiknya. Aku ingin bisa membagi waktuku sebaik mungkin untuk suami dan buah hatiku. Untuk itu, aku harus belajar dan terus belajar.

Begitu juga untuk urusan pekerjaan kantor. Sampai sekarang, aku masih harus belajar dan terus belajar agar aku dapat menjalankan pekerjaanku dengan sebaik-baiknya. Aku mencintai pekerjaanku karena pekerjaanku lebih banyak memberikan pelayanan. Aku menikmati setiap proses dalam menjalankan pekerjaan itu, dan aku merasa aku berkembang karenanya.

Di luar itu semua, aku mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga dari aktivitasku blogging. Melalui kunjunganku ke beberapa blog, aku mendapatkan banyak sekali ilmu yang bermanfaat. Entah itu ilmu keagamaan, ilmu kesehatan, ilmu masak-memasak dan lainnya. Yang menyenangkan, banyak pelajaran hidup yang dapat kuperoleh dari sebuah blog. Bahkan terkadang sebuah artikel di blog bisa begitu menginspirasi dan mencerahkan bagiku.

Banyak berita-berita besar yang aku ketahui juga dari blog. Berbagai macam informasi seputar film, musik dan buku juga aku dapatkan. Semuanya ada... dan lengkap. Singkatnya, wawasanku makin bertambah karena aku rajin membaca berbagai macam artikel yang ada di blog. Sehingga, prosesku belajar dapat terus berjalan selama aku masih aktif blogging.

Terlepas dari semua itu, aku merasa masih harus lebih banyak belajar dan harus terus belajar tentang teknik ngeblog. Aku gaptek dan banyak hal seputar teknik ngeblog yang belum aku kuasai. Jika beberapa waktu yang lalu aku sudah berhasil membuat spoiler dalam postingan dan sidebar, maka hari ini aku belajar tentang hal lain. Aku belajar untuk menghilangkan border image dalam postingan serta membuat scroll pada kotak komentar.

Walaupun sedikit ada permasalahan, pada akhirnya aku berhasil juga membuat scroll pada kotak komentar sekaligus memindahkan kotak komentar di bawah postingan. Khusus untuk pembuatan scroll, aku harus bolak balik bertanya, karena ternyata hasilnya tak sesuai dengan yang aku inginkan. Alhamdulillah, akhirnya kedua blogku saat ini sudah menggunakan scroll pada kotak komentar. Bagaimana menurutmu sobat, apakah lebih bagus begini ?

Apakah aku sudah puas sekarang ? Tentu saja belum....! Masih banyak hal yang ingin aku ketahui dan aku praktekkan seputar teknik ngeblog ini (belum termasuk SEO lho ya.., karena aku angkat tangan untuk yang satu ini hehehe). Namun aku tak terburu-buru..., aku belajar dengan pelan-pelan saja karena aku tak diburu waktu. Yang penting aku masih memiliki semangat untuk belajar dan terus belajar dan aku yakin... sobat-sobat Blogger pasti juga memiliki semangat yang sama denganku bukan..?

Ayo... semangat untuk belajar dan terus belajar agar diri kita dapat terus berkembang.

*gambar diculik dari sini*

 

Dia salah satu dari sahabat mayaku

Dia salah satu dari sahabat mayaku....
Aku mengenalnya sewaktu aku baru beberapa saat mulai ngeblog dan belum punya terlalu banyak sahabat dari blog. Saat itu kami setiap hari saling mengunjungi blog masing-masing, maklum saja... karena memang blog-blog yang aku kunjungi masih bisa dihitung dengan jari. Kalaupun tak ada postingan baru yang bisa dikomentari, kami saling meninggalkan jejak di kotak pesan.

Dia salah satu dari sahabat mayaku....
Seiring dengan makin bertambahnya sahabat mayaku dan makin dikenalnya blogku... maka makin sibuklah aku membagi perhatianku kepada seluruh sahabat mayaku. Secara kebetulan, aktivitasnya dalam ngeblog sedikit demi sedikit menurun... walaupun tidak berhenti total. Mau tak mau hal itu membuatku menjadi agak berjarak dengannya.

Dia salah satu dari sahabat mayaku....
Betapa gembiranya saat aku menemukan dia kembali, meski kali ini lewat Facebook. Persahabatan yang bermula dari blog itu kembali kami rajut lewat facebook. Walau kami saling menyapa lewat komentar-komentar di status masing-masing, namun tetap saja belum banyak yang aku ketahui darinya, karena dia begitu tertutup.

Dia salah satu dari sahabat mayaku....
Karena ketidaktahuanku tentang dirinya, pernah suatu kali aku menyakiti hatinya secara tak sengaja. Waktu itu aku menulis status di Facebook, dan ternyata status yang aku tuliskan itu seolah 'menyindir'nya. Aku benar-benar salah kata... dan aku telah meminta maaf karena tanpa sengaja statusku telah melukai hatinya. Untungnya dia mengerti, sehingga persahabatan di antara kami masih dapat berjalan dengan baik.

Dia salah satu dari sahabat mayaku....
Hingga suatu hari aku berada di titik jenuh dengan Facebook. Selain itu.., aku tak memiliki banyak waktu untuk Facebook, karena aku sedang sangat kecanduan dengan blog. Maka kuputuskan untuk pamitan kepadanya, bahwa untuk sementara waktu aku akan 'mundur' dari Facebook. Kurang lebih 2 minggu setelah itu, kami melakukan kontak (nyata) via telepon sesaat setelah dia keluar dari Rumah Sakit. Percakapan kami pun hanya singkat saja, dan masih lebih banyak basa-basi dan dia juga mengabarkan kondisinya setelah keluar dari Rumah Sakit.

Dialah salah satu dari sahabat mayaku....
Yang kemarin tiba-tiba saja menelponku hampir selama setengah jam. Dan berbeda dari teleponnya pertama kali dulu, kemarin dia tiba-tiba sangat terbuka padaku. Ternyata, kini dia sudah mundur dari blog dan Facebook karena dilarang oleh orang tuanya. Penyebabnya adalah... sakitnya sudah semakin serius dan dia tidak boleh kelelahan. Selain itu, blog dan facebook saat ini membawa kesedihan kepadanya karena keduanya mengingatkannya pada lelaki yang pernah sangat berarti baginya yang kini tiba-tiba menghilang.

Dialah salah satu dari sahabat mayaku....
Ternyata, awal keterlibatannya dengan blog dan Facebook adalah berkat seorang laki-laki yang dulunya sangat peduli dam perhatian kepadanya. Bahkan blog dan Facebooknya pun tercipta karena dibuatkan oleh laki-laki itu. Lelaki yang karena kebaikan hatinya dan kepeduliannya telah membuat sahabat mayaku ini menaruh hati kepadanya... namun tiba-tiba sang lelaki menghilang begitu saja tanpa pesan, setelah kondisi kesehatan sahabat mayaku menurun drastis.

Dialah salah satu dari sahabat mayaku....
Yang berusaha menelan kegetirannya saat menceritakan semua kisah hidupnya yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Dialah yang menceritakan semuanya hanya untuk meringankan bebannya, bukan untuk dikasihani. Dialah yang telah membuatku tak mampu berkata-kata di ujung telepon, sementara dia di ujung telepon nun jauh disana mengeluarkan begitu banyak duka yang selama ini disimpannya sendiri.

Dialah salah satu dari sahabat mayaku....
Yang semoga telah merasa lega setelah mengeluarkan sebagian besar kesedihannya dan kepahitan hidupnya pada 30 menit percakapan jarak jauh kami.... Meskipun kami belum saling mengenal secara langsung, dan belum pernah sekalipun bertemu muka... semoga saja kehadiranku sebagai sahabat mayanya dapat memberikan sedikit kebahagiaan dalam hidupnya. Semoga saja, meskipun sedikit... aku dapat memberikan semangat dalam hidupnya.