Kamis, 01 Januari 2009

Shodaqoh

Aku punya cerita yang gak akan aku lupakan tentang shodaqoh. Beberapa tahun yang lalu menjelang Idhul Fitri aku dan suami telah menyiapkan zakat dan shodaqoh. Untuk zakat telah kami bayarkan di masjid. Tapi untuk shodaqoh aku dan suamiku punya ide untuk memberikan shodaqoh secara langsung kepada orang yang menurut kami berhak. Kami berencana untuk memilih sendiri orangnya dan tidak menyerahkannya kepada masjid.

Awalnya kami mulai dengan membagikan uang yang kami masukkan dalam amplop. Kami menyerahkannya kepada orang-orang yang kami temui di jalan dan yang kami anggap layak untuk menerimanya. Alhamdulillah..., acara tersebut berhasil setelah beberapa hari kami keluar rumah.

Tahun berikutnya hal tersebut kami ulangi lagi. Kali ini kami bershodaqoh dalam bentuk paket. Mulailah malam itu kami berdua putar-putar Kota Madiun untuk mencari "mangsa". Ternyata tak mudah menyalurkan sendiri shodaqoh kami pada yang berhak. Ada beberapa orang yang kami temui sebenarnya pantas untuk mendapatkan shodaqoh, tapi karena mereka bergerombol maka kami mengurungkan niat memberinya shodaqoh. Alasannya : shodaqoh yang kami siapkan hanya untuk 5 orang *tersipu malu*

Setelah lama berputar-putar, kami menyerahkan shodaqoh kepada beberapa orang yang kami temui dan kami anggap layak mendapat shodaqoh. Setelah shodaqoh kami tinggal 2 bungkus kami menjumpai seorang bapak tua pengayuh becak yang sedang istirahat sendirian di atas becaknya. Di sekitarnya sepi gak ada orang lain. Akhirnya kami turun dari mobil dan menyerahkan shodaqoh kami kepadanya. Bapak tua itu berkali-kali berterima kasih kepada kami. Yang tak terduga, kemudian bapak tua itu memanggil teman-temannya (pengemudi becak juga) yang sedang bergerombol agak jauh darinya. Bapak tua itu mengacung-acungkan shodaqoh dari kami itu pada teman-temannya.

Yang terjadi kemudian adalah teman-teman si bapak tua itu berlarian menyeberang jalan menuju tempat kami !! Melihat hal itu..., aku dan suami jadi bingung karena shodaqoh kami tinggal 1 bungkus. Akhirnya setelah menyerahkan bungkusan terakhir kami pada si bapak tua itu dan meminta maaf kami langsung pergi meninggalkan si bapak tua dan teman-temannya yang tak lama kemudian datang menghampiri si bapak.

Dari kejadian tersebut aku dapat memetik pelajaran sebagai berikut :
  1. Ternyata tak mudah menyalurkan langsung shodaqoh kepada yang berhak, diperlukan data yang lengkap.
  2. Aku salut dengan rasa solidaritas dan kesetiakawanan si bapak tua pengemudi becak itu karena di saat dia mendapatkan rejeki (yang tidak banyak jumlahnya) dia masih ingat untuk berbagi dengan teman-temannya yang juga membutuhkan.
  3. Kalau dana yang tersedia untuk shodaqoh terbatas, lakukan shodaqoh lewat masjid atau langsung diberikan kepada orang-orang yang ada di sekitar tempat tinggal dan dilakukan secara "tertutup" agar tidak diketahui orang lain.
Dan sejak kejadian itu aku dan suami gak pernah lagi membagikan shodaqoh secara langsung. Kami memilih menyalurkannya lewat masjid atau lembaga Islam lainnya. Kuapok deh.... :x
Oya..., gambar di atas aku ambil dari sini.

Shodaqoh

Aku punya cerita yang gak akan aku lupakan tentang shodaqoh. Beberapa tahun yang lalu menjelang Idhul Fitri aku dan suami telah menyiapkan zakat dan shodaqoh. Untuk zakat telah kami bayarkan di masjid. Tapi untuk shodaqoh aku dan suamiku punya ide untuk memberikan shodaqoh secara langsung kepada orang yang menurut kami berhak. Kami berencana untuk memilih sendiri orangnya dan tidak menyerahkannya kepada masjid.

Awalnya kami mulai dengan membagikan uang yang kami masukkan dalam amplop. Kami menyerahkannya kepada orang-orang yang kami temui di jalan dan yang kami anggap layak untuk menerimanya. Alhamdulillah..., acara tersebut berhasil setelah beberapa hari kami keluar rumah.

Tahun berikutnya hal tersebut kami ulangi lagi. Kali ini kami bershodaqoh dalam bentuk paket. Mulailah malam itu kami berdua putar-putar Kota Madiun untuk mencari "mangsa". Ternyata tak mudah menyalurkan sendiri shodaqoh kami pada yang berhak. Ada beberapa orang yang kami temui sebenarnya pantas untuk mendapatkan shodaqoh, tapi karena mereka bergerombol maka kami mengurungkan niat memberinya shodaqoh. Alasannya : shodaqoh yang kami siapkan hanya untuk 5 orang *tersipu malu*

Setelah lama berputar-putar, kami menyerahkan shodaqoh kepada beberapa orang yang kami temui dan kami anggap layak mendapat shodaqoh. Setelah shodaqoh kami tinggal 2 bungkus kami menjumpai seorang bapak tua pengayuh becak yang sedang istirahat sendirian di atas becaknya. Di sekitarnya sepi gak ada orang lain. Akhirnya kami turun dari mobil dan menyerahkan shodaqoh kami kepadanya. Bapak tua itu berkali-kali berterima kasih kepada kami. Yang tak terduga, kemudian bapak tua itu memanggil teman-temannya (pengemudi becak juga) yang sedang bergerombol agak jauh darinya. Bapak tua itu mengacung-acungkan shodaqoh dari kami itu pada teman-temannya.

Yang terjadi kemudian adalah teman-teman si bapak tua itu berlarian menyeberang jalan menuju tempat kami !! Melihat hal itu..., aku dan suami jadi bingung karena shodaqoh kami tinggal 1 bungkus. Akhirnya setelah menyerahkan bungkusan terakhir kami pada si bapak tua itu dan meminta maaf kami langsung pergi meninggalkan si bapak tua dan teman-temannya yang tak lama kemudian datang menghampiri si bapak.

Dari kejadian tersebut aku dapat memetik pelajaran sebagai berikut :
  1. Ternyata tak mudah menyalurkan langsung shodaqoh kepada yang berhak, diperlukan data yang lengkap.
  2. Aku salut dengan rasa solidaritas dan kesetiakawanan si bapak tua pengemudi becak itu karena di saat dia mendapatkan rejeki (yang tidak banyak jumlahnya) dia masih ingat untuk berbagi dengan teman-temannya yang juga membutuhkan.
  3. Kalau dana yang tersedia untuk shodaqoh terbatas, lakukan shodaqoh lewat masjid atau langsung diberikan kepada orang-orang yang ada di sekitar tempat tinggal dan dilakukan secara "tertutup" agar tidak diketahui orang lain.
Dan sejak kejadian itu aku dan suami gak pernah lagi membagikan shodaqoh secara langsung. Kami memilih menyalurkannya lewat masjid atau lembaga Islam lainnya. Kuapok deh.... :x
Oya..., gambar di atas aku ambil dari sini.

Indahnya persahabatan

Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa.

Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih.

Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian

Ketika ia menyampaikan pendapat, kalbu tak kuasa menghadang dengan bisikan kata “tidak”, dan tak pernah khawatir untuk menyembunyikan kata “ya”

Bilamana dia terdiam tanpa kata hati senantiasa mencari rahasianya

Dalam persahabatan yang tanpa kata, segala fikiran, hasrat, dan keinginan terangkum bersama, menyimpan keutuhan dengan kegembiraan tiada terkirakan.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah ada duka, sebab yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan.

Seperti gunung yang nampak lebih agung dari padang dan ngarai.

Lenyapkan maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.

Karena cinta berpamrih yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,

bukanlah cinta, tetapi sebuah jaring yang ditebarkan ke udara

hanya menangkap kekosongan semata

Persembahkan yang terindah bagi persahabatan. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah diamengenali pula musim pasangmu.

Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktu.

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu

Sahabat kan mengisi kekuranganmu bukan mengisi kekosonganmu.

Dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa kegirangan

Berbagi duka dan kesenangan Karena dalam rintik lembut embun, hati manusia menghirup fajar yang terbangun dan kesegaran gairah kehidupan.

- Kahlil Gibran -

Aku salah seorang penggemar berat tulisan-tulisan Kahlil Gibran. Dan apa yang dituangkan Kahlil Gibran di atas tentang persahabatan sangat aku sukai. Seperti itulah persahabatan yang aku pahami.

Memang indah memiliki sahabat. Bersama sahabat kita dapat berbagi cerita, suka dan duka. Yang lebih mengasyikan lagi..., bersama sahabat kita bisa berbuat apa saja karena sahabat mampu menerima kita apa adanya.

Aku memiliki beberapa sahabat yang aku jumpai sepanjang perjalanan hidupku. Ada yang kukenal waktu aku sekolah, kuliah dan bekerja. Salah seorang sahabat yang kini dekat denganku adalah Mbak Harum. Aku mengenalnya di tempat kerjaku kurang lebih 6 tahun yang lalu.


Awal mengenalnya..., terus terang agak ngeri juga karena keliatannya dia galak banget (ups... sorry mbak Harum. Peace... hehe). Tapi setelah mengenalnya, ternyata dia baik hati dan yang penting orangnya asyik diajak ngobrol apalagi bercanda. Kalau udah bercanda kami sering kelewatan sebenarnya, tapi untungnya karena kami sama-sama tahu kalau itu dalam konteks bercanda maka gak pernah ada yang ngerasa tersinggung atau sakit hati.


Setelah kami akrab, aku sering meledeknya karena kesan dia yang galak itu, padahal orangnya manis lho (ih... padahal ga nyambung yach?!). Dengan bercanda dia akan menanggapi ledekanku itu dengan : "Walau muka Rambo..., tapi hati Rinto lho..." Walah...!!


Yang seru, kalau kami sedang ketemu dan ngobrol..., seringkali kata-kata narsis berhamburan keluar dari mulut kami. Tapi, narsisku tidak separah narsisnya mbak Harum yang menurutku udah mencapai stadium IV !! Gimana gak dibilang parah kalau dalam mimpi pun dia masih bisa narsis. *gubraak...!* Sampai-sampai kalau aku mau cerita tentang mbak Harum, suamiku nyela duluan : "Mbak Harum yang narsis ..?" Hahaha....


Suami kami memang udah sama-sama paham dengan kedekatan kami. Kalau kami sms-an sampai jauh malam atau telpon berjam-jam ya mereka maklum saja. Herannya, kok kayaknya gak ada habis-habisnya bahan yang kami bicarakan ataupun yang kami jadikan bahan becandaan yach?


Aku ingat, kalau lagi musim mangga dan di kantor ada yang bawa mangga, pasti kami makan bareng-bareng dengan teman-teman kantor. Curangnya, aku malas ngupas mangga. Aku selalu minta mbak Harum yang mengupaskan untuk kami makan berdua. Udah begitu aku masih suka protes dengan cara mbak Harum mengupas mangga yang menurutku gak benar. Tapi aku gak mau kalau disuruh menggantikannya ngupas mangga. Kalau udah begitu mbak Harum akan ganti protes padaku : "Udah minta dikupasin, masih protes juga!" Hehehe...


Kalau mengingat satu persatu kebersamaan yang kami lalui dalam persahabatan ini memang gak ada habisnya. Memang persahabatan itu indah. Indah untuk dikenang. Indah untuk dijalani.


Berbahagialah bagi siapa saja yang memiliki banyak sahabat dalam hidupnya karena hidupnya akan semakin kaya warna.

Indahnya persahabatan

Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa.

Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih.

Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian

Ketika ia menyampaikan pendapat, kalbu tak kuasa menghadang dengan bisikan kata “tidak”, dan tak pernah khawatir untuk menyembunyikan kata “ya”

Bilamana dia terdiam tanpa kata hati senantiasa mencari rahasianya

Dalam persahabatan yang tanpa kata, segala fikiran, hasrat, dan keinginan terangkum bersama, menyimpan keutuhan dengan kegembiraan tiada terkirakan.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah ada duka, sebab yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan.

Seperti gunung yang nampak lebih agung dari padang dan ngarai.

Lenyapkan maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.

Karena cinta berpamrih yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,

bukanlah cinta, tetapi sebuah jaring yang ditebarkan ke udara

hanya menangkap kekosongan semata

Persembahkan yang terindah bagi persahabatan. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah diamengenali pula musim pasangmu.

Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktu.

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu

Sahabat kan mengisi kekuranganmu bukan mengisi kekosonganmu.

Dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa kegirangan

Berbagi duka dan kesenangan Karena dalam rintik lembut embun, hati manusia menghirup fajar yang terbangun dan kesegaran gairah kehidupan.

- Kahlil Gibran -

Aku salah seorang penggemar berat tulisan-tulisan Kahlil Gibran. Dan apa yang dituangkan Kahlil Gibran di atas tentang persahabatan sangat aku sukai. Seperti itulah persahabatan yang aku pahami.

Memang indah memiliki sahabat. Bersama sahabat kita dapat berbagi cerita, suka dan duka. Yang lebih mengasyikan lagi..., bersama sahabat kita bisa berbuat apa saja karena sahabat mampu menerima kita apa adanya.

Aku memiliki beberapa sahabat yang aku jumpai sepanjang perjalanan hidupku. Ada yang kukenal waktu aku sekolah, kuliah dan bekerja. Salah seorang sahabat yang kini dekat denganku adalah Mbak Harum. Aku mengenalnya di tempat kerjaku kurang lebih 6 tahun yang lalu.


Awal mengenalnya..., terus terang agak ngeri juga karena keliatannya dia galak banget (ups... sorry mbak Harum. Peace... hehe). Tapi setelah mengenalnya, ternyata dia baik hati dan yang penting orangnya asyik diajak ngobrol apalagi bercanda. Kalau udah bercanda kami sering kelewatan sebenarnya, tapi untungnya karena kami sama-sama tahu kalau itu dalam konteks bercanda maka gak pernah ada yang ngerasa tersinggung atau sakit hati.


Setelah kami akrab, aku sering meledeknya karena kesan dia yang galak itu, padahal orangnya manis lho (ih... padahal ga nyambung yach?!). Dengan bercanda dia akan menanggapi ledekanku itu dengan : "Walau muka Rambo..., tapi hati Rinto lho..." Walah...!!


Yang seru, kalau kami sedang ketemu dan ngobrol..., seringkali kata-kata narsis berhamburan keluar dari mulut kami. Tapi, narsisku tidak separah narsisnya mbak Harum yang menurutku udah mencapai stadium IV !! Gimana gak dibilang parah kalau dalam mimpi pun dia masih bisa narsis. *gubraak...!* Sampai-sampai kalau aku mau cerita tentang mbak Harum, suamiku nyela duluan : "Mbak Harum yang narsis ..?" Hahaha....


Suami kami memang udah sama-sama paham dengan kedekatan kami. Kalau kami sms-an sampai jauh malam atau telpon berjam-jam ya mereka maklum saja. Herannya, kok kayaknya gak ada habis-habisnya bahan yang kami bicarakan ataupun yang kami jadikan bahan becandaan yach?


Aku ingat, kalau lagi musim mangga dan di kantor ada yang bawa mangga, pasti kami makan bareng-bareng dengan teman-teman kantor. Curangnya, aku malas ngupas mangga. Aku selalu minta mbak Harum yang mengupaskan untuk kami makan berdua. Udah begitu aku masih suka protes dengan cara mbak Harum mengupas mangga yang menurutku gak benar. Tapi aku gak mau kalau disuruh menggantikannya ngupas mangga. Kalau udah begitu mbak Harum akan ganti protes padaku : "Udah minta dikupasin, masih protes juga!" Hehehe...


Kalau mengingat satu persatu kebersamaan yang kami lalui dalam persahabatan ini memang gak ada habisnya. Memang persahabatan itu indah. Indah untuk dikenang. Indah untuk dijalani.


Berbahagialah bagi siapa saja yang memiliki banyak sahabat dalam hidupnya karena hidupnya akan semakin kaya warna.

Senin, 29 Desember 2008

My Father In Law's Birthday....

Hari ini giliran bapak mertuaku yang berulang tahun yang ke-69 tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu dan masih dapat menemani anak cucu meraih mimpi dan harapan. Amien.

Di hari tuanya, bapak hanya tinggal berdua dengan ibu di rumah. Sedangkan ketiga putra-putrinya tidak ada yang tinggal satu rumah dengannya.
Mbak Ririn, kakak tertua suamiku kini tinggal di Bandung bersama suami dan putri semata wayangnya. Adik suamiku, Dik Yudhi, kini tinggal di Sragen bersama istri dan (juga) putri semata wayangnya. Sementara suamiku (anak nomer 2), walau tinggal satu kota dengan bapak-ibu, tapi kini juga sudah tinggal di rumah sendiri.

Jadi, sehari-hari bapak dan ibu hanya berdua saja di rumah. Praktis rumah bapak-ibu terlihat sepi. Hanya kalau Shasa-ku pulang sekolah langsung ke rumah bapak-ibu (mertuaku), maka rumah bapak-ibu jadi ramai oleh teriakan-teriakan Shasa. Tapi Shasa pulang sekolah ke rumah mertuaku tidak bisa setiap hari, hanya 3 hari dalam 1 minggu : Senin, Rabu dan Jumat. Malah kalau hari Jumat kalau bapak ada waktu, bapak mertuaku yang jemput Shasa pulang dari sekolah. Hari-hari yang lain, pulang sekolah Shasa ke rumah bapak-ibuku yang kebetulan juga tinggal satu kota dengan kami.

Walau di hari tuanya bapak lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu, bukan berarti bapak tidak beraktifitas di luar rumah. Bapak adalah salah satu praktisi Reiki dan Lin Chi. Keterlibatan Bapak dengan Reiki dan Lin Chi sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Sepertinya bapak sangat menyukai kegiatan terbarunya itu. Malah bapak kini merasakan kondisi badannya jauh lebih fit dan bugar.
Semoga di hari tuanya bapak akan terus merasa bahagia dan sehat dalam menjalani hari-hari.