Jumat, 27 Februari 2009

Penampilan

Kemarin malam, waktu chatting via Facebook, seorang teman memberikan penilaiannya tentang blogku. Dia adalah teman baikku waktu SMA dulu, jadi dia sangat tahu apa dan bagaimananya diriku. Dia bilang bahwa isi blogku sudah bagus , tapi akan lebih bagus lagi jika aku menata layoutnya agar lebih rapi lagi.

Hmmm... suatu saran yang positif dan membangun. Tapi..., aku lantas kebingungan. Yang mana ya yang dianggapnya kurang rapi ?? Bagaimana ya menatanya agar lebih rapi ?? Aku lantas meminta pendapatnya bagaimana agar layout blog aku lebih rapi, karena terus terang aku selama ini memang tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti itu. Tapi aku bilang juga pada temanku itu bahwa aku mau dibantu untuk mengatur layoutnya tapi aku gak mau kalau disuruh ganti template. Aku sudah suka banget sama templateku itu soalnya.


Melihatku yang kebingungan karena tidak paham dengan maksudnya tentang "kerapian" itu temanku tertawa geli. Katanya, hal-hal yang tampak jelas dimatanya ternyata mampu membuatku sangat kebingungan seperti itu. Terus lanjutnya lagi, memang tidak semua orang perduli dengan layout/tampilan seperti itu. *gubraaak*

Mengetahui komentarnya itu aku hanya bisa meringis. Jawabku sih singkat saja : kelihatan aku banget ya ?!? Dan temanku dengan segera menyetujuinya !! (Halah.....) Oke, selama ini aku memang tidak fokus dengan layout blogku. Selama ini fokusku adalah ... aku bisa menulis dan mempunyai tempat yang nyaman untuk nulis. Aku lebih fokus pada apa yang aku tulis. Aku sudah merasa senang sekali bisa menyalurkan apa yang ada di pikirku dan di hatiku.

Memang..., bagi orang-orang yang telah mengenal banget siapa diriku maka tahu banget kalau blogku itu adalah pencerminan diriku. Blogku adalah diriku, singkatnya begitu. Ya ya..., aku akui kalau aku selama ini tidak terlalu ribut soal penampilan. Itulah aku. Aku tampil apa adanya aku. Walau tetap ditambah sedikit polesan ala kadarnya. Aku tak pandai mematut diri. Aku lebih sibuk untuk membekali diriku dengan hal-hal yang aku anggap lebih penting dan perlu. (memang penting dan perlu beda ya ?) *garuk-garuk kepala kebingungan sendiri*

Eh tapi jangan salah kawan. Bukan berarti aku suka tampil asal aja ya ? Tidak separah itu. Aku tetap suka tampil rapi. Aku tetap berusaha tampil senyaman mungkin agar orang lain pun nyaman berhubungan denganku dan tidak terganggu dengan penampilanku. Tapi ya itu..., aku tidak berusaha untuk tampil yang lebih menarik lagi. Lebih jelasnya, aku tidak pinter dandan dan aku gak paham mode. Nah... jelas kan ??

Aku tahu kawan, bahwa penampilan adalah cerminan sosok dan citra diri yang seringkali berpengaruh terhadap penilaian orang lain terhadap seseorang. Tapi toh penampilan tidak bisa dipaksakan. Kalau dipaksakan akan aneh kelihatannya. Yang penting, aku sudah PD dengan penampilanku selama ini. Aku justru akan tidak PD bila aku tampil tidak sebagaimana diriku apa adanya.

Kembali ke blogku, kawan. Bagaimanakah menurutmu ? Aku tidak keberatan dibantu untuk merapikan rumah mayaku ini. Just merapikan ya...., asal tidak merubahnya. Tapi jujur saja, aku tidak tahu apa (yang diatur ulang) dan bagaimana (mengatur)nya. *curhat mode on* Nah..., seandainya ada yang mau membantuku dan memberikan "pencerahan" padaku aku akan seneng sekali. Siapa tahu blogku bisa makin tampil cantik tanpa harus merubah "karakternya". Ada yang punya ide ??



Penampilan

Kemarin malam, waktu chatting via Facebook, seorang teman memberikan penilaiannya tentang blogku. Dia adalah teman baikku waktu SMA dulu, jadi dia sangat tahu apa dan bagaimananya diriku. Dia bilang bahwa isi blogku sudah bagus , tapi akan lebih bagus lagi jika aku menata layoutnya agar lebih rapi lagi.

Hmmm... suatu saran yang positif dan membangun. Tapi..., aku lantas kebingungan. Yang mana ya yang dianggapnya kurang rapi ?? Bagaimana ya menatanya agar lebih rapi ?? Aku lantas meminta pendapatnya bagaimana agar layout blog aku lebih rapi, karena terus terang aku selama ini memang tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti itu. Tapi aku bilang juga pada temanku itu bahwa aku mau dibantu untuk mengatur layoutnya tapi aku gak mau kalau disuruh ganti template. Aku sudah suka banget sama templateku itu soalnya.


Melihatku yang kebingungan karena tidak paham dengan maksudnya tentang "kerapian" itu temanku tertawa geli. Katanya, hal-hal yang tampak jelas dimatanya ternyata mampu membuatku sangat kebingungan seperti itu. Terus lanjutnya lagi, memang tidak semua orang perduli dengan layout/tampilan seperti itu. *gubraaak*

Mengetahui komentarnya itu aku hanya bisa meringis. Jawabku sih singkat saja : kelihatan aku banget ya ?!? Dan temanku dengan segera menyetujuinya !! (Halah.....) Oke, selama ini aku memang tidak fokus dengan layout blogku. Selama ini fokusku adalah ... aku bisa menulis dan mempunyai tempat yang nyaman untuk nulis. Aku lebih fokus pada apa yang aku tulis. Aku sudah merasa senang sekali bisa menyalurkan apa yang ada di pikirku dan di hatiku.

Memang..., bagi orang-orang yang telah mengenal banget siapa diriku maka tahu banget kalau blogku itu adalah pencerminan diriku. Blogku adalah diriku, singkatnya begitu. Ya ya..., aku akui kalau aku selama ini tidak terlalu ribut soal penampilan. Itulah aku. Aku tampil apa adanya aku. Walau tetap ditambah sedikit polesan ala kadarnya. Aku tak pandai mematut diri. Aku lebih sibuk untuk membekali diriku dengan hal-hal yang aku anggap lebih penting dan perlu. (memang penting dan perlu beda ya ?) *garuk-garuk kepala kebingungan sendiri*

Eh tapi jangan salah kawan. Bukan berarti aku suka tampil asal aja ya ? Tidak separah itu. Aku tetap suka tampil rapi. Aku tetap berusaha tampil senyaman mungkin agar orang lain pun nyaman berhubungan denganku dan tidak terganggu dengan penampilanku. Tapi ya itu..., aku tidak berusaha untuk tampil yang lebih menarik lagi. Lebih jelasnya, aku tidak pinter dandan dan aku gak paham mode. Nah... jelas kan ??

Aku tahu kawan, bahwa penampilan adalah cerminan sosok dan citra diri yang seringkali berpengaruh terhadap penilaian orang lain terhadap seseorang. Tapi toh penampilan tidak bisa dipaksakan. Kalau dipaksakan akan aneh kelihatannya. Yang penting, aku sudah PD dengan penampilanku selama ini. Aku justru akan tidak PD bila aku tampil tidak sebagaimana diriku apa adanya.

Kembali ke blogku, kawan. Bagaimanakah menurutmu ? Aku tidak keberatan dibantu untuk merapikan rumah mayaku ini. Just merapikan ya...., asal tidak merubahnya. Tapi jujur saja, aku tidak tahu apa (yang diatur ulang) dan bagaimana (mengatur)nya. *curhat mode on* Nah..., seandainya ada yang mau membantuku dan memberikan "pencerahan" padaku aku akan seneng sekali. Siapa tahu blogku bisa makin tampil cantik tanpa harus merubah "karakternya". Ada yang punya ide ??



Selasa, 24 Februari 2009

Bahasa Jawa

Bagi kami orang-orang Jawa, Majalah Jayabaya sudah tidak asing lagi. Majalah itu mengkhususkan diri sebagai Majalah Berbahasa Jawa. Aku mengenal majalah itu sejak kecil, karena eyangku memang suka membeli majalah itu. Dan sampai sekarangpun, Majalah itu masih hadir di keluargaku, karena kini orangtuaku dan mertuaku yang berlangganan.

Walaupun aku asli "Wong Jawa" bukan berarti aku mahir dalam berbahasa Jawa. Apalagi berbahasa Jawa yang halus. Meskipun begitu aku suka juga membuka Majalah Jayabaya dan ikut-ikutan membacanya. Tapi, kalau aku membaca Majalah Jawabaya, masih banyak kata yang aku tanyakan dulu artinya pada orangtuaku ataupun pada mertuaku *sembunyi karena malu*


Gambar diambil dari sini

Ternyata... Shasa suka juga membaca Majalah Jayabaya itu. Kedekatan Shasa dengan Majalah Jayabaya bermula saat Shasa masih kecil. Dulu, orangtuaku suka sekali mengirimkan foto-foto Shasa ke majalah itu. Karena memang di Majalah Jayabaya mempunyai rubrik yang memuat foto anak-anak usia balita.


Setelah agak besar, Shasa suka sekali dibacakan cerita untuk anak yang ada di Majalah itu. Dan kini, Shasa memilih untuk membaca sendiri rubrik yang berisi cerita untuk anak. Sama sepertiku, dalam membaca Majalah Jayabaya itu, Shasa berulangkali menanyakan arti sejumlah kata yang tidak dipahaminya.

Dengan hadirnya Majalah Jayabaya di rumah, kami belajar untuk tetap mempertahankan Bahasa Jawa. Khususnya pada Shasa. Kebetulan di sekolah Shasa memang ada jam pelajaran Bahasa Jawa. Sedikit banyak kehadiran Majalah Jayabaya di rumah, bisa membantu Shasa untuk mengenal lebih banyak lagi kosa kata dalam Bahasa Jawa.

Suatu kali guru Bahasa Jawa di sekolah Shasa memberi tugas agar setiap murid belajar mengarang dengan menggunakan Bahasa Jawa. Shasa yang kebingungan memilih untuk membuat karangan dalam Bahasa Indonesia terlebih dahulu. Kemudian, dengan bantuan eyangnya, Shasa "menterjemahkan" karangannya itu ke dalam Bahasa Jawa. Dan... akhirnya jadi juga. Shasa bangga sekali.

Orangtuaku yang membaca hasil karangan Shasa diam-diam ingin membuat kejutan buat Shasa. Tanpa sepengetahuan Shasa, konsep karangan Bahasa Jawa yang ditulis Shasa diketik oleh orangtuaku dan kemudian dikirimkan ke Majalah Jayabaya. Kebetulan, Jayabaya juga punya rubrik "Calon Pengarang" yang memang ditujukan bagi anak-anak Sekolah Dasar yang ingin belajar mengarang dalam Bahasa Jawa.


Shasa dan majalah Jaya Baya yang memuat hasil karyanya



Rubrik Calon Pengarang yang memuat karangan Shasa


Karangan Shasa dalam rubrik Calon Pengarang

Setelah sekian lama menunggu, ternyata karangan Shasa dimuat. Duh... Shasa kaget dan seneng bukan main. Dia bangga, karena karangan pertamanya yang berhasil dimuat pada suatu majalah ternyata karangan berbahasa Jawa. Semoga saja, Shasa semakin mencintai Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan tidak melupakannya begitu saja meskipun kini Shasa semakin pandai dalam Bahasa Inggris.

Semoga Bahasa Jawa tetap dapat lestari. Amien...

Bahasa Jawa

Bagi kami orang-orang Jawa, Majalah Jayabaya sudah tidak asing lagi. Majalah itu mengkhususkan diri sebagai Majalah Berbahasa Jawa. Aku mengenal majalah itu sejak kecil, karena eyangku memang suka membeli majalah itu. Dan sampai sekarangpun, Majalah itu masih hadir di keluargaku, karena kini orangtuaku dan mertuaku yang berlangganan.

Walaupun aku asli "Wong Jawa" bukan berarti aku mahir dalam berbahasa Jawa. Apalagi berbahasa Jawa yang halus. Meskipun begitu aku suka juga membuka Majalah Jayabaya dan ikut-ikutan membacanya. Tapi, kalau aku membaca Majalah Jawabaya, masih banyak kata yang aku tanyakan dulu artinya pada orangtuaku ataupun pada mertuaku *sembunyi karena malu*


Gambar diambil dari sini

Ternyata... Shasa suka juga membaca Majalah Jayabaya itu. Kedekatan Shasa dengan Majalah Jayabaya bermula saat Shasa masih kecil. Dulu, orangtuaku suka sekali mengirimkan foto-foto Shasa ke majalah itu. Karena memang di Majalah Jayabaya mempunyai rubrik yang memuat foto anak-anak usia balita.


Setelah agak besar, Shasa suka sekali dibacakan cerita untuk anak yang ada di Majalah itu. Dan kini, Shasa memilih untuk membaca sendiri rubrik yang berisi cerita untuk anak. Sama sepertiku, dalam membaca Majalah Jayabaya itu, Shasa berulangkali menanyakan arti sejumlah kata yang tidak dipahaminya.

Dengan hadirnya Majalah Jayabaya di rumah, kami belajar untuk tetap mempertahankan Bahasa Jawa. Khususnya pada Shasa. Kebetulan di sekolah Shasa memang ada jam pelajaran Bahasa Jawa. Sedikit banyak kehadiran Majalah Jayabaya di rumah, bisa membantu Shasa untuk mengenal lebih banyak lagi kosa kata dalam Bahasa Jawa.

Suatu kali guru Bahasa Jawa di sekolah Shasa memberi tugas agar setiap murid belajar mengarang dengan menggunakan Bahasa Jawa. Shasa yang kebingungan memilih untuk membuat karangan dalam Bahasa Indonesia terlebih dahulu. Kemudian, dengan bantuan eyangnya, Shasa "menterjemahkan" karangannya itu ke dalam Bahasa Jawa. Dan... akhirnya jadi juga. Shasa bangga sekali.

Orangtuaku yang membaca hasil karangan Shasa diam-diam ingin membuat kejutan buat Shasa. Tanpa sepengetahuan Shasa, konsep karangan Bahasa Jawa yang ditulis Shasa diketik oleh orangtuaku dan kemudian dikirimkan ke Majalah Jayabaya. Kebetulan, Jayabaya juga punya rubrik "Calon Pengarang" yang memang ditujukan bagi anak-anak Sekolah Dasar yang ingin belajar mengarang dalam Bahasa Jawa.


Shasa dan majalah Jaya Baya yang memuat hasil karyanya



Rubrik Calon Pengarang yang memuat karangan Shasa


Karangan Shasa dalam rubrik Calon Pengarang

Setelah sekian lama menunggu, ternyata karangan Shasa dimuat. Duh... Shasa kaget dan seneng bukan main. Dia bangga, karena karangan pertamanya yang berhasil dimuat pada suatu majalah ternyata karangan berbahasa Jawa. Semoga saja, Shasa semakin mencintai Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan tidak melupakannya begitu saja meskipun kini Shasa semakin pandai dalam Bahasa Inggris.

Semoga Bahasa Jawa tetap dapat lestari. Amien...

Belajar Berbagi

Siang itu seorang teman kantor terpaksa mengajak anaknya yang baru pulang sekolah untuk ikut ke kantor. Kebetulan, pembantu yang biasa menemani anaknya di rumah sedang pulang kampung. Alhasil, daripada si anak sendirian di rumah, maka temanku itu membawa anaknya ke kantor.

Tak lama setelah mereka duduk dalam ruangan, aku mendengar mereka bercakap-cakap. Sang anak menceritakan kejadian yang dialaminya hari itu di sekolahnya. Sementara sang mama (temanku itu) asyik mendengarkan cerita anaknya.

Dalam salah satu dialog mereka, aku mendengar sang anak berkata : "Ma, tadi di sekolah teman-temanku ada yang meminta bekalku."
"Terus sama adik dikasih ?" tanya sana mama.
"Iya ma....,"
Spontan kudengar temanku berkata pada anaknya, "Lho... ya nggak boleh. Mama membawakan bekal itu untuk adik. Bukan buat teman-teman adik."
"Tapi tadi bu guru bilang kalau kita bawa bekal terus ada teman yang minta, ya harus diberi," jawab sang anak membela diri.


Gambar diambil di sini

Kemudian temanku itu melihat padaku dan langsung "curhat" padaku. Intinya, dia merasa kecewa dengan kebijakan sang guru yang menyuruh murid-muridnya berbagi bekal sekolah. Menurutnya kebijakan sang guru tersebut tidak adil.


Alasan temanku atas keberatannya itu adalah bahwa selama ini dia sudah terbiasa membekali anaknya dengan makanan yang "bermutu", tidak asal-asalan. Sementara banyak sekali teman-teman sekelas anaknya yang sama orang tuanya tidak dibawakan bekal dari rumah. Sebagai gantinya mereka hanya dibekali sejumlah uang untuk dibelanjakan oleh anak-anak sendiri di sekolah. Alhasil, anak-anak membelanjakan uang saku itu semau mereka sendiri tanpa perduli dengan "mutu" jajanan yang mereka beli.


Keadaan itu yang membuat temanku merasa dalam kondisi tidak adil. Sementara anaknya membagikan makanan yang bermutu pada teman-temannya tapi di sisi lain sang anak tidak bisa mendapatkan "ganti" makanan yang bermutu juga dari teman-temannya. Temanku juga merasa bahwa seharusnya setiap orang tua perduli dengan bekal yang dibawa naka-anaknya ke sekolah. Harapan temanku, kalau tiap anak membawa bekal ke sekolah yang bagus, pasti mereka tidak akan menginginkan bekal milik temannya.


Mendengar cerita temanku itu, aku hanya bisa tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Aku memahami dan bisa memaklumi apa yang dia inginkan. Aku dapat melihat masalah itu dari kacamatanya, tapi aku toh tidak berkata apa-apa. Karena aku selama ini punya kacamata sendiri yang berbeda dengan kacamatanya.


Aku jadi teringat bahwa selama ini, hampir setiap pagi Shasa-ku selalu sibuk menyiapkan bekal ke sekolah yang akan dibaginya dengan teman-teman sekolahnya. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak dia duduk di bangku TK B sampai sekarang. Malah terkadang Shasa menghitung jumlah makanan yang dibawanya sejumlah teman yang rencananya akan diberinya nanti di sekolah.


Pernah suatu hari Shasa membawa 6 buah roti kukus kecil ke sekolah. Ternyata, menurut cerita Shasa, sewaktu di sekolah Shasa akhirnya hanya kebagian 1 buah roti. Karena kelima roti yang lainnya diperebutkan oleh teman-temannya yang lain karena menurut mereka roti itu enak. Shasa bercerita dengan tertawa bahagia mengingat betapa asyiknya mereka makan ramai-ramai di sekolah tadi.


Kejadian seperti itu bukan sekali dua kali terjadi, tapi sudah berkali-kali. Aku tidak melarang Shasa membawa banyak makanan ke sekolah. Aku tak akan melarang Shasa membagikan makanan itu ke sekolah. Aku tidak mempermasalahkan bahwa ternyata dari sekian banyak bekal yang dibawa Shasa ke sekolah ternyata Shasa hanya mendapat bagian sedikit saja. Toh, tak jarang Shasa mendapatkan bekal sekolah temannya yang lain pula.


Memang aku berusaha sekuat tenaga mengajari Shasa untuk berbagi dengan orang lain. Kenapa ? Karena sampai saat ini Shasa masih saja merupakan anak semata wayang bagi kami. Kami hanya tak ingin dalam "kesendiriannya" Shasa terbiasa hanya memikirkan dirinya sendiri. Kami tak ingin Shasa menjadi anak yang egois. Seandainya Shasa punya adik, pasti dengan sendirinya Shasa akan belajar untuk berbagi dengan adiknya. Tapi berhubung sampai saat ini Shasa belum juga mempunyai adik, maka bukan berarti Shasa tak bisa belajar untuk berbagi bukan ?

Memang tidak mudah mengajari Shasa untuk berbagi pada awalnya. Shasa yang biasa mendapatkan segala sesuatu hanya untuk dirinya awalnya sulit untuk berbagi dengan orang lain. Bahkan dengan saudara sepupunya sekalipun !! Tapi setelah melalui proses yang lama dan panjang, akhirnya Shasa menemukan keindahan dalam berbagi. Shasa mulai bisa merasakan kebahagiaan setelah berbagi, apalagi setelah melihat orang lain merasa senang mendapatkan sesuatu darinya. Shasa mulai bisa merasakan bahwa makan bersama-sama dengan teman ternyata lebih menyenangkan daripada makan sendirian.


Gambar diambil dari sini

Jadi kami tidak menilai dari besar kecilnya apa yang telah dibagikan Shasa kepada orang lain. Kami juga tidak menilai besar kecilnya apa yang diterima Shasa dari teman-temannya. Kami hanya ingin Shasa belajar untuk berbagi. Hanya itu saja...