Senin, 04 Januari 2010

Uang Saku


Selama ini aku jarang memberikan uang saku kepada Shasa. Aku memang tak ingin Shasa beli jajan sembarangan di sekolah. Maklum saja, Shasa sangat rentan terkena amandel. Seringkali hanya karena makan sedikit makanan saja, amandel Shasa langsung kambuh.

Namun semenjak Shasa kelas 4 ini, aku terpaksa harus memberinya uang saku. Jadwal Shasa yang membuatku harus melakukan itu. Sekarang Shasa pulang sekolah sudah siang bahkan terkadang sore. Sebenarnya setiap pagi, Shasa selalu sarapan sebelum berangkat sekolah. Selain itu, Shasa juga sudah membawa bekal ke sekolah. Namun tetap saja, bekal itu tak cukup jika jadwalnya pulang sampai sore.

Shasa sering mengeluh kelaparan setiap kali pulang sekolah. Aku jadi tak tega mendengar keluhannya. Aku berpikir, bagaimana dia bisa konsentrasi di sekolah kalau yang dipikirkannya adalah perutnya yang keroncongan. Akhirnya, aku memberinya uang saku dengan wanti-wanti agar uang tersebut jangan untuk jajan sembarangan. Aku mengijinkan jika uang itu untuk membeli makan siang, seperti nasi soto, nasi bali, nasi goreng atau susu.

Shasa memang tak betah lapar, makanya itu badannya subur. Sejak kecil, Alhamdulillah, aku tak pernah punya masalah tentang anak yang tak doyan makan. Shasa sangat mudah makan, doyan sekali malah. Dan ternyata sampai sekarang Shasa masih sulit untuk mengerem hasratnya untuk makan.

Sebenarnya ada yang usul agar Shasa mulai aku ajarin untuk diet. Tapi terus terang aku tak tega, apalagi dia saat ini sedang dalam masa pertumbuhan. Jadi sementara biarlah Shasa seperti ini dulu, untuk urusan diet biarlah 3 atau 4 tahun lagi.

Kembali pada uang saku Shasa, sejak aku memberinya uang saku dia tak pernah lagi mengeluh kelaparan saat pulang sekolah. Yang jelas, jadwal waktu makan siang Shasa jadi tak pernah terlambat lagi. Dan...., kegiatan Shasa di sekolah dapat tetap diikuti dengan baik.

Sebelumnya, aku memberinya uang saku harian. Namun semenjak seminggu ini aku mencoba memberi Shasa uang saku mingguan. Aku berpesan padanya, bahwa uang itu harus cukup untuk seminggu, dan harus ada sisa yang ditabung. Dan tetap dengan satu pesan... jangan beli jajan sembarangan.

Niatku adalah mengajarkan pada Shasa untuk mengelola uang. Selain itu agar Shasa belajar bertanggung jawab dalam membelanjakan uangnya tersebut. Aku ingin melihat apakah uang itu habis untuk beli makanan, atau benar-benar ada yang disisakan untuk ditabung. Alhamdulillah..., sejauh ini sepertinya semua berjalan dengan baik.

Semoga saja untuk seterusnya Shasa tetap dapat mengelola uang sakunya dengan baik dan niat baikku tidak berakibat buruk padanya. Amin.

Gambar diambil dari sini

Uang Saku


Selama ini aku jarang memberikan uang saku kepada Shasa. Aku memang tak ingin Shasa beli jajan sembarangan di sekolah. Maklum saja, Shasa sangat rentan terkena amandel. Seringkali hanya karena makan sedikit makanan saja, amandel Shasa langsung kambuh.

Namun semenjak Shasa kelas 4 ini, aku terpaksa harus memberinya uang saku. Jadwal Shasa yang membuatku harus melakukan itu. Sekarang Shasa pulang sekolah sudah siang bahkan terkadang sore. Sebenarnya setiap pagi, Shasa selalu sarapan sebelum berangkat sekolah. Selain itu, Shasa juga sudah membawa bekal ke sekolah. Namun tetap saja, bekal itu tak cukup jika jadwalnya pulang sampai sore.

Shasa sering mengeluh kelaparan setiap kali pulang sekolah. Aku jadi tak tega mendengar keluhannya. Aku berpikir, bagaimana dia bisa konsentrasi di sekolah kalau yang dipikirkannya adalah perutnya yang keroncongan. Akhirnya, aku memberinya uang saku dengan wanti-wanti agar uang tersebut jangan untuk jajan sembarangan. Aku mengijinkan jika uang itu untuk membeli makan siang, seperti nasi soto, nasi bali, nasi goreng atau susu.

Shasa memang tak betah lapar, makanya itu badannya subur. Sejak kecil, Alhamdulillah, aku tak pernah punya masalah tentang anak yang tak doyan makan. Shasa sangat mudah makan, doyan sekali malah. Dan ternyata sampai sekarang Shasa masih sulit untuk mengerem hasratnya untuk makan.

Sebenarnya ada yang usul agar Shasa mulai aku ajarin untuk diet. Tapi terus terang aku tak tega, apalagi dia saat ini sedang dalam masa pertumbuhan. Jadi sementara biarlah Shasa seperti ini dulu, untuk urusan diet biarlah 3 atau 4 tahun lagi.

Kembali pada uang saku Shasa, sejak aku memberinya uang saku dia tak pernah lagi mengeluh kelaparan saat pulang sekolah. Yang jelas, jadwal waktu makan siang Shasa jadi tak pernah terlambat lagi. Dan...., kegiatan Shasa di sekolah dapat tetap diikuti dengan baik.

Sebelumnya, aku memberinya uang saku harian. Namun semenjak seminggu ini aku mencoba memberi Shasa uang saku mingguan. Aku berpesan padanya, bahwa uang itu harus cukup untuk seminggu, dan harus ada sisa yang ditabung. Dan tetap dengan satu pesan... jangan beli jajan sembarangan.

Niatku adalah mengajarkan pada Shasa untuk mengelola uang. Selain itu agar Shasa belajar bertanggung jawab dalam membelanjakan uangnya tersebut. Aku ingin melihat apakah uang itu habis untuk beli makanan, atau benar-benar ada yang disisakan untuk ditabung. Alhamdulillah..., sejauh ini sepertinya semua berjalan dengan baik.

Semoga saja untuk seterusnya Shasa tetap dapat mengelola uang sakunya dengan baik dan niat baikku tidak berakibat buruk padanya. Amin.

Gambar diambil dari sini

Sabtu, 02 Januari 2010

Kepemimpinan sang pemimpin


Seorang pemimpin dapat diibaratkan sebagai nahkoda bagi sebuah kapal. Pemimpin yang membawa anak buahnya akan bergerak ke arah mana. Baik tidaknya anak buahnya adalah hasil dari bimbingan dan pengarahan sang pemimpin.

Akan tetapi. seorang pemimpin adalah tetap manusia biasa. Oleh karenanya mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Begitulah yang telah aku alami setelah menghadapi beberapa orang pemimpin. Jika dihitung-hitung, selama menjadi abdi negara, aku telah mengalami perpindahan tempat tugas sebanyak 2 kali dan mengalami perubahan pimpinan sebanyak 7 kali.




Jika mau jujur, dari ketujuh orang yang pernah menjadi pemimpinku, aku sangat terkesan dengan 1 orang. Beliau adalah seorang bapak yang mendekati usia pensiun ketika aku berada dalam kepemimpinannya. Bagiku, cara kepemimpinannya berbeda dengan lainnya... dan aku menyukainya serta menghormatinya.

Beliau senantiasa menekankan anak buahnya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa minta dimanja dengan fasilitas yang berlimpah. Pernah kami mengusulkan penambahan komputer kantor agar pelaksanaan kerja dapat berjalan dengan lebih optimal. Aku ingat sekali, saat itu juga beliau langsung menolak usulan kami. Penolakan itu disertai dengan nasehat yang tak akan pernah aku lupakan : "Jangan meminta terlalu banyak, lakukan dulu tugas yang ada dengan baik. Jika kita bekerja dengan baik dan mampu menunjukkan prestasi, saya yakin apa yang kita butuhkan akan dipenuhi oleh atasan tanpa kita harus meminta"

Bagi setiap kepala satuan kerja, pasti disediakan kendaraan dinas roda empat. Bagi banyak kepala satuan kerja, kendaraan dinas roda empat seolah menjadi "hak milik"-nya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi beliau. Suatu kali beliau harus mengikuti Diklat Spamen selama kurang lebih 3 bulan, dan selama itu kendaraan dinas tetap disediakan beliau untuk keperluan pelaksanaan tugas di kantor sehari-hari.

Aku masih ingat suatu kejadian yang "tak biasa". Saat itu, kebetulan beliau mendapat undangan untuk menghadiri hearing di DPRD. Namun pada saat yang bersamaan, orang tua salah satu dari teman sekantor kami meninggal. Seperti biasa, untuk acara-acara seperti itu beliau mengijinkan kami menggunakan kendaraan dinas untuk bisa pergi melayat bersama-sama. Agar kami tetap bisa pergi bersama melayat dengan kendaraan dinas, beliau minta diantarkan dulu ke gedung DPRD baru setelah itu kami pakai kendaraan dinasnya. Pada saat selesai hearing dan beliau menelepon ke kantor minta dijemput, ternyata kendaraan dinas masih belum sampai kembali di kantor. Yang saat itu berjaga di kantor bingung, mau jemput beliau menggunakan apa. Dengan entengnya, beliau minta dijemput dengan menggunakan sepeda motor saja. Di lain kesempatan, karena tak ada kendaraan yang bisa menjemputnya, beliau menumpang kendaraan dinas kepala satuan kerja yang lain untuk bisa kembali ke kantor.

Di mataku, beliau adalah seorang konseptor ulung. Banyak konsep yang telah disusunnya yang benar-benar inovatif dan mendukung kelancaran tugas. Selain itu, beliau adalah seseorang yang sangat peduli dengan data. Baginya, dasar semua pelaksanaan tugas adalah data yang valid. Oleh karenanya, kami harus siap untuk sewaktu-waktu diajak rapat dan ditanya bermacam-macam data. Oleh karenanya, data yang valid harus selalu siap di tangan kami.

Meskipun aku suka dengan gaya kepemimpinan beliau, namun beberapa teman-ku tidak menyukainya. Bagi teman-temanku, beliau adalah pemimpin yang disiplin dan kaku. Bagiku, beliau telah mengajarkan banyak hal yang tak aku dapatkan dari pemimpin yang lain. Dan.., kini aku bekerja dengan menerapkan banyak hal penting yang telah aku pelajari darinya.

Gambar diambil dari sini

Kepemimpinan sang pemimpin


Seorang pemimpin dapat diibaratkan sebagai nahkoda bagi sebuah kapal. Pemimpin yang membawa anak buahnya akan bergerak ke arah mana. Baik tidaknya anak buahnya adalah hasil dari bimbingan dan pengarahan sang pemimpin.

Akan tetapi. seorang pemimpin adalah tetap manusia biasa. Oleh karenanya mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Begitulah yang telah aku alami setelah menghadapi beberapa orang pemimpin. Jika dihitung-hitung, selama menjadi abdi negara, aku telah mengalami perpindahan tempat tugas sebanyak 2 kali dan mengalami perubahan pimpinan sebanyak 7 kali.




Jika mau jujur, dari ketujuh orang yang pernah menjadi pemimpinku, aku sangat terkesan dengan 1 orang. Beliau adalah seorang bapak yang mendekati usia pensiun ketika aku berada dalam kepemimpinannya. Bagiku, cara kepemimpinannya berbeda dengan lainnya... dan aku menyukainya serta menghormatinya.

Beliau senantiasa menekankan anak buahnya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa minta dimanja dengan fasilitas yang berlimpah. Pernah kami mengusulkan penambahan komputer kantor agar pelaksanaan kerja dapat berjalan dengan lebih optimal. Aku ingat sekali, saat itu juga beliau langsung menolak usulan kami. Penolakan itu disertai dengan nasehat yang tak akan pernah aku lupakan : "Jangan meminta terlalu banyak, lakukan dulu tugas yang ada dengan baik. Jika kita bekerja dengan baik dan mampu menunjukkan prestasi, saya yakin apa yang kita butuhkan akan dipenuhi oleh atasan tanpa kita harus meminta"

Bagi setiap kepala satuan kerja, pasti disediakan kendaraan dinas roda empat. Bagi banyak kepala satuan kerja, kendaraan dinas roda empat seolah menjadi "hak milik"-nya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi beliau. Suatu kali beliau harus mengikuti Diklat Spamen selama kurang lebih 3 bulan, dan selama itu kendaraan dinas tetap disediakan beliau untuk keperluan pelaksanaan tugas di kantor sehari-hari.

Aku masih ingat suatu kejadian yang "tak biasa". Saat itu, kebetulan beliau mendapat undangan untuk menghadiri hearing di DPRD. Namun pada saat yang bersamaan, orang tua salah satu dari teman sekantor kami meninggal. Seperti biasa, untuk acara-acara seperti itu beliau mengijinkan kami menggunakan kendaraan dinas untuk bisa pergi melayat bersama-sama. Agar kami tetap bisa pergi bersama melayat dengan kendaraan dinas, beliau minta diantarkan dulu ke gedung DPRD baru setelah itu kami pakai kendaraan dinasnya. Pada saat selesai hearing dan beliau menelepon ke kantor minta dijemput, ternyata kendaraan dinas masih belum sampai kembali di kantor. Yang saat itu berjaga di kantor bingung, mau jemput beliau menggunakan apa. Dengan entengnya, beliau minta dijemput dengan menggunakan sepeda motor saja. Di lain kesempatan, karena tak ada kendaraan yang bisa menjemputnya, beliau menumpang kendaraan dinas kepala satuan kerja yang lain untuk bisa kembali ke kantor.

Di mataku, beliau adalah seorang konseptor ulung. Banyak konsep yang telah disusunnya yang benar-benar inovatif dan mendukung kelancaran tugas. Selain itu, beliau adalah seseorang yang sangat peduli dengan data. Baginya, dasar semua pelaksanaan tugas adalah data yang valid. Oleh karenanya, kami harus siap untuk sewaktu-waktu diajak rapat dan ditanya bermacam-macam data. Oleh karenanya, data yang valid harus selalu siap di tangan kami.

Meskipun aku suka dengan gaya kepemimpinan beliau, namun beberapa teman-ku tidak menyukainya. Bagi teman-temanku, beliau adalah pemimpin yang disiplin dan kaku. Bagiku, beliau telah mengajarkan banyak hal yang tak aku dapatkan dari pemimpin yang lain. Dan.., kini aku bekerja dengan menerapkan banyak hal penting yang telah aku pelajari darinya.

Gambar diambil dari sini

Rabu, 30 Desember 2009

Target 2010


Gambar diambil dari sini

Tahun 2010 sudah di hadapan.... tak lama lagi kita akan bersamanya. Untuk menyambut kedatangan Tahun 2010, mbak Fanda mengajakku untuk membuat Resolusi Tahun 2010. Kebetulan.., akhir tahun ini aku sedang berkejaran dengan waktu menyelesaikan pekerjaanku. Karena fokus perhatianku pada pekerjaan, terus terang saja, hal-hal lain tak masuk dalam pikiran. Termasuk menyusun target Tahun 2010. Untung saja mbak Fanda mengingatkanku.
 
Jika mbak Fanda menyebutnya dengan istilah "Resolusi" namun aku lebih suka dengan menyebutnya dengan istilah "target". Aku akan segera menyusun daftar keinginan atau harapan, yang ingin kuraih dan dapatkan di masa depan, sebagai perbaikan atas keadaan kita di masa sekarang.


Dalam kondisi lelah seperti ini.., kok berpikir tak semudah biasanya ya ? Biasanya cari ide untuk menulis di blog tidak terlalu susah, tapi akhir-akhir ini aku sering kehilangan ide. Lantas... untuk berpikir serius, memikirkan Target Tahun 2010.. apa masih bisa ya ? Tak ada salahnya untuk dicoba..!

Mencoba berpikir mencari target yang akan aku ambil, ternyata tak mudah juga. Setelah berpikir sesaat..., rasanya tak banyak yang muncul dalam pikiranku. Setidaknya aku sudah menyusunnya, dan jika nanti di tengah jalan ada penambahan, tak masalah bagiku. Namun sebaiknya resolusi yang aku susun sekarang ini bisa terpenuhi. Amin.

Dan, inilah hasil pemikiran singkatku tentang Target Tahun 2010 :
  • Meningkatkan kualitas hubunganku dengan Allah
  • Menjadi istri dan ibu yang lebih sabar dan mampu meluangkan lebih banyak waktu untuk keluarga
  • Membahagiakan orang tua dan meluangkan lebih banyak waktu untuk menemani mereka
  • Lebih bersemangat dalam bekerja, sesulit apapun kondisinya
  • Menjadi pribadi yang lebih matang dan bijaksana
  • Bisa secara rutin menulis di blog... (Ini penting lho bagiku hehehe)
Sudah itu saja.... semoga semuanya dapat tercapai di tahun depan. Amin.... Sengaja tidak banyak-banyak yang ingin dicapai, takut tidak mampu melaksanakan semuanya. Sudahkah sabahat semua menyusun Target (Resolusi) Tahun 2010 ?