Sabtu, 17 Januari 2009

Raport Shasa

Akhirnya datang juga...., hari yang ditunggu-tunggu oleh Shasa. Pembagian Raport !! Tidak seperti biasanya, kali ini raport harus diambil langsung oleh orang tua/wali murid masing-masing. Akhirnya jam 8 pagi kurang dikit aku berangkat ke sekolah Shasa untuk ambil raport.

Awalnya kukira semua orang tua/wali murid dikumpulkan untuk mendengarkan penjelasan atau apalah dari Guru Wali Kelas. Ternyata, setiap orang tua/wali murid yang datang langsung dilayani pembagian raportnya. Sehingga aku gak butuh waktu banyak untuk ambil raport Shasa. Kebetulan waktu aku datang, baru ada 2 orang tua/wali murid di dalam kelas.

Kata Bu Mur (Guru Wali Kelas Shasa), prestasi Shasa sudah bagus, tapi akan lebih baik lagi kalau bisa ditingkatkan. Selanjutnya Bu Mur memberitahukan bahwa pada semester ini Shasa berhasil menduduki ranking 2. Alhamdulillah.... Aku jelas bahagia dan bangga sekali.

Mengingat bahwa pada saat Shasa sibuk mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir Semester kemarin aku sama sekali gak bisa bantu Shasa belajar, prestasi Shasa ini sudah sangat luar biasa bagiku. Apalagi selama ini aku gak pernah mentargetkan Shasa untuk menjadi juara 1. Aku hanya bilang, bisa masuk 5 besar saja sudah hebat. Ternyata..., Shasa malah bisa menduduki rangking 2. Untungnya, Shasa sudah mulai rasa tanggung jawab dalam hal belajar. Sehingga aku gak harus selalu menyuruhnya belajar. *tersenyum bahagia*

Prestasi Shasa di kelas naik turun. Begitu juga dengan teman-temannya. Hal itu bagus menurutku, karena membuktikan bahwa persaingan di kelas Shasa cukup ketat. Shasa sendiri jadi selalu termotivasi untuk meraih yang lebih baik. Waktu kelas 1, Shasa ranking 5. Naik ke kelas 2, pada semester ganjil Shasa ranking 3 dan pada semester genap dapat ranking 4. Sebenarnya pada semester ini Shasa mengira akan dapat ranking 4 lagi, tapi ternyata malah dapat ranking 2.

Kalaupun pada semester depan, misalnya, ranking Shasa turun aku gak akan mempermasalahkannya. Yang penting bagiku adalah Shasa sudah berusaha melakukan yang terbaik. Soal hasilnya, aku serahkan saja padaNya.

Raport Shasa

Akhirnya datang juga...., hari yang ditunggu-tunggu oleh Shasa. Pembagian Raport !! Tidak seperti biasanya, kali ini raport harus diambil langsung oleh orang tua/wali murid masing-masing. Akhirnya jam 8 pagi kurang dikit aku berangkat ke sekolah Shasa untuk ambil raport.

Awalnya kukira semua orang tua/wali murid dikumpulkan untuk mendengarkan penjelasan atau apalah dari Guru Wali Kelas. Ternyata, setiap orang tua/wali murid yang datang langsung dilayani pembagian raportnya. Sehingga aku gak butuh waktu banyak untuk ambil raport Shasa. Kebetulan waktu aku datang, baru ada 2 orang tua/wali murid di dalam kelas.

Kata Bu Mur (Guru Wali Kelas Shasa), prestasi Shasa sudah bagus, tapi akan lebih baik lagi kalau bisa ditingkatkan. Selanjutnya Bu Mur memberitahukan bahwa pada semester ini Shasa berhasil menduduki ranking 2. Alhamdulillah.... Aku jelas bahagia dan bangga sekali.

Mengingat bahwa pada saat Shasa sibuk mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir Semester kemarin aku sama sekali gak bisa bantu Shasa belajar, prestasi Shasa ini sudah sangat luar biasa bagiku. Apalagi selama ini aku gak pernah mentargetkan Shasa untuk menjadi juara 1. Aku hanya bilang, bisa masuk 5 besar saja sudah hebat. Ternyata..., Shasa malah bisa menduduki rangking 2. Untungnya, Shasa sudah mulai rasa tanggung jawab dalam hal belajar. Sehingga aku gak harus selalu menyuruhnya belajar. *tersenyum bahagia*

Prestasi Shasa di kelas naik turun. Begitu juga dengan teman-temannya. Hal itu bagus menurutku, karena membuktikan bahwa persaingan di kelas Shasa cukup ketat. Shasa sendiri jadi selalu termotivasi untuk meraih yang lebih baik. Waktu kelas 1, Shasa ranking 5. Naik ke kelas 2, pada semester ganjil Shasa ranking 3 dan pada semester genap dapat ranking 4. Sebenarnya pada semester ini Shasa mengira akan dapat ranking 4 lagi, tapi ternyata malah dapat ranking 2.

Kalaupun pada semester depan, misalnya, ranking Shasa turun aku gak akan mempermasalahkannya. Yang penting bagiku adalah Shasa sudah berusaha melakukan yang terbaik. Soal hasilnya, aku serahkan saja padaNya.



Jumat, 16 Januari 2009

Penjual Mie Keliling

Di perumahan yang kutinggali, banyak sekali penjual makanan yang lewat. Mulai pagi sampai malam hari. Mulai dari bahan makanan sampai makanan jadi. Pokok'e bisa dibilang lengkap deh. Selama ini Shasa tidak pernah berkomentar apapun tentang penjual-penjual keliling itu. Tapi lain ceritanya dengan malam kemarin.

Kemarin, saat aku menemani Shasa yang akan tidur malam, terdengar suara khas penjual mie lewat depan rumah. Penjual mie keliling itu biasanya juga menjual nasi goreng. Mereka berjualan dengan mendorong gerobag. "Tanda" dari penjual mie adalah suara "thog thog" yang berasal dari batang bambu yang dipukul dengan kayu. Makanya, kami biasanya menyebutnya sebagai "Mie Thog".

Shasa yang sudah terbaring di atas kasurnya, tiba-tiba nyeletuk waktu mendengar suara "thog thog" dari penjual mie keliling.

"Ma, aku sudah mau tidur, orang itu masih jualan" kata Shasa pelan.

"Yah begitulah susahnya nyari uang, dik," jawabku.

"Padahal kan sekarang gerimis, ma"

"Kalau tidak gerimis, mungkin jualan bapak itu sudah hampir habis. Karena gerimis, jadinya bapak itu pulangnya lebih malam karena jualannya masih banyak. Lagipula penjual mie thog kan memang jualannya malam, dik" kataku mencoba menjelaskan.

"Apa dia harus menghabiskan jualannya?" tanya Shasa ingin tahu.

"Ya tidak lah. Mungkin kalau sampai jam 12 malam jualannya masih ada, bapak itu pasti pulang karena besok masih harus jualan lagi."

"Penjual itu berangkat jualan jam berapa kalau jam segini belum pulang ?" lanjut Shasa.

"Biasanya mereka berangkat jam 5 sore. Waktu kita lewat alun-alun jam segitu, kita sering melihat rombongan penjual mie thog berangkat. Ingat kan ?" jawabku.

"Rumahnya jauh ya, ma?"

"Yang mama tahu sih memang jauh-jauh. Rumah kita aja dari alun-alun sudah jauh. Berarti rumah mereka lebih jauh lagi,"

"Kasihan ya ma kalau dagangan mereka tidak laku," kata Shasa pelan.

"Ya doakan saja agar dagangan mereka laku, ya? Itu makanya Shasa harus pandai-pandai mensyukuri apa yang sudah Shasa peroleh selama ini," nasehatku padanya.

Shasa tersenyum dan mengangguk. Tak lama kemudian Shasaku tertidur. Pulas banget.

Entah apa yang ada dalam mimpinya, tapi malam itu aku merasa "bangga" karena Shasa-ku sudah bisa berempati kepada orang lain. Berarti, walau baru sedikit, cerita-ceritaku padanya tentang kehidupan orang-orang yang kurang beruntung terekam juga dalam pikirannya.

Semoga selanjutnya Shasa memiliki rasa kepedulian dan solidaritas sosial yang tinggi pada sesama. Amien.

Penjual Mie Keliling

Di perumahan yang kutinggali, banyak sekali penjual makanan yang lewat. Mulai pagi sampai malam hari. Mulai dari bahan makanan sampai makanan jadi. Pokok'e bisa dibilang lengkap deh. Selama ini Shasa tidak pernah berkomentar apapun tentang penjual-penjual keliling itu. Tapi lain ceritanya dengan malam kemarin.

Kemarin, saat aku menemani Shasa yang akan tidur malam, terdengar suara khas penjual mie lewat depan rumah. Penjual mie keliling itu biasanya juga menjual nasi goreng. Mereka berjualan dengan mendorong gerobag. "Tanda" dari penjual mie adalah suara "thog thog" yang berasal dari batang bambu yang dipukul dengan kayu. Makanya, kami biasanya menyebutnya sebagai "Mie Thog".

Shasa yang sudah terbaring di atas kasurnya, tiba-tiba nyeletuk waktu mendengar suara "thog thog" dari penjual mie keliling.

"Ma, aku sudah mau tidur, orang itu masih jualan" kata Shasa pelan.

"Yah begitulah susahnya nyari uang, dik," jawabku.

"Padahal kan sekarang gerimis, ma"

"Kalau tidak gerimis, mungkin jualan bapak itu sudah hampir habis. Karena gerimis, jadinya bapak itu pulangnya lebih malam karena jualannya masih banyak. Lagipula penjual mie thog kan memang jualannya malam, dik" kataku mencoba menjelaskan.

"Apa dia harus menghabiskan jualannya?" tanya Shasa ingin tahu.

"Ya tidak lah. Mungkin kalau sampai jam 12 malam jualannya masih ada, bapak itu pasti pulang karena besok masih harus jualan lagi."

"Penjual itu berangkat jualan jam berapa kalau jam segini belum pulang ?" lanjut Shasa.

"Biasanya mereka berangkat jam 5 sore. Waktu kita lewat alun-alun jam segitu, kita sering melihat rombongan penjual mie thog berangkat. Ingat kan ?" jawabku.

"Rumahnya jauh ya, ma?"

"Yang mama tahu sih memang jauh-jauh. Rumah kita aja dari alun-alun sudah jauh. Berarti rumah mereka lebih jauh lagi,"

"Kasihan ya ma kalau dagangan mereka tidak laku," kata Shasa pelan.

"Ya doakan saja agar dagangan mereka laku, ya? Itu makanya Shasa harus pandai-pandai mensyukuri apa yang sudah Shasa peroleh selama ini," nasehatku padanya.

Shasa tersenyum dan mengangguk. Tak lama kemudian Shasaku tertidur. Pulas banget.

Entah apa yang ada dalam mimpinya, tapi malam itu aku merasa "bangga" karena Shasa-ku sudah bisa berempati kepada orang lain. Berarti, walau baru sedikit, cerita-ceritaku padanya tentang kehidupan orang-orang yang kurang beruntung terekam juga dalam pikirannya.

Semoga selanjutnya Shasa memiliki rasa kepedulian dan solidaritas sosial yang tinggi pada sesama. Amien.

Kamis, 15 Januari 2009

Televisi dan Anak

Pagi tadi aku menghadiri undangan ke sekolah Shasa. Acaranya : penyampaian hasil tes IQ anak dan konsultasi dengan psikolog. Dari kemarin Shasa udah wanti-wanti padaku agar aku jangan sampai gak datang. So, setelah ijin pada boss, aku berangkat ke sekolah Shasa jam 08.15 WIB.

Sampai di sekolah Shasa ternyata belum banyak wali murid yang datang. Tak lama menunggu, aku beserta wali murid yang lain dipersilahkan menandatangani daftar hadir. Setelah menerima hasil tes IQ anak kami, akhirnya kami memasuki ruang yang disediakan.

Hasil tes IQ Shasa gak mengecewakan. Tes IQ memang membantuku untuk lebih memahami kelebihan dan kekurangan Shasa, tapi aku gak akan menjadikan hasil tes IQ itu sebagai satu-satunya peganganku dalam menentukan masa depan Shasa. Karena IQ anak masih bisa berkembang dan IQ bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan seseorang di masa depannya nanti. (menurutku siy...)

Ternyata acara "konsultasi" yang ditulis di undangan bukanlah konsultasi dalam arti yang sebenarnya. Yang benar adalah sang psikolog menyampaikan materi yang menyangkut tumbuh kembang anak beserta tips menjadi orang tua yang "benar" untuk anak-anak.

Mengingat tema yang dibahas tidak jauh dari prestasi anak di sekolah, maka topik yang hangat dibicarakan oleh sang psikolog adalah mengenai cara-cara belajar anak. Disampaikan oleh sang Psikolog, bahwa agar anak bisa tumbuh kesadaran belajar adalah dengan menetapkan jadwal belajar bagi anak. Dan jadwal itu harus disepakati oleh seluruh anggota keluarga. Sehingga jangan sampai ada anggota keluarga yang nyetel televisi di saat si anak sedang belajar. Dicontohkan juga bahwa ada 2 kelurahan di Yogyakarta yang telah berhasil menetapkan jam belajar bagi seluruh warganya. Pada saat jam belajar, semua warga dilarang menyalakan televisi dan apabila ada yang melanggar akan dikenakan sangsi. Hebat ya...?

Kemudian di ujung acara diadakan dialog. Sayangnya, sisa waktu untuk dialog sangat singkat. Yang menarik ada seorang bapak yang curhat bahwa dia sulit sekali melepaskan televisi dari anak-anaknya. Menanggapi curhat bapak tadi, ada seorang ibu yang menceritakan pengalaman pribadinya tentang "keberhasilannya" melepaskan anak dari televisi. Diceritakannya bahwa sudah selama 1 tahun ini televisi di rumahnya hanya dinyalakan pada hari Sabtu siang sampai Minggu siang. Selebihnya televisi dimatikan. Dan untuk memenuhi kebutuhan sang suami akan berita, maka diputuskan berlangganan surat kabar.
Gambar diambil dari sini.

Wow..., sudah sangat bahayakah televisi di mata ibu itu sehingga dia mengambil sikap yang (menurutku) sangat ekstrim itu. Memang banyak "bahaya" yang datang dari tayangan televisi bagi anak-anak. Apalagi sinetron, infotainmen dan berita kriminalitas yang makin gak terkendali di televisi kita. Tapi menurutku (lagi), masih ada acara televisi yang layak untuk ditonton. Masih ada acara televisi yang bisa diambil nilai positifnya.

Ada acara televisi yang mampu menumbuhkan jiwa sosial dan solidaritas pada anak. Anak mungkin tidak akan tahu bagaimana sedihnya orang-orang yang tertimba bencana. Anak-anak mungkin tidak akan tahu bagaimana bahagianya seseorang yang menerima pertolongan di saat yang sangat sulit. Anak-anak juga mungkin tidak akan tahu bagaimana sulitnya seseorang berjuang mencari nafkah dan sebagainya.
Tapi ada acara televisi yang merekam semua kejadian itu. Anak-anak bisa melihat sendiri melalui televisi. Walau mereka tidak mengalami sendiri, tapi saya yakin dengan melihat melalui tayangan televisi anak-anak bisa ikut merasakan. Anak-anak bisa ikut berempati.

Ada juga acara televisi yang menyuguhkan acara yang bersifat pengetahuan. Contohnya : cerdas cermat dan sejenisnya. Atau acara yang menampilkan flora dan fauna.
Ada juga acara televisi yang mampu menumbuhkan inspirasi karena menyajikan informasi-informasi yang disampaikannya mampu menggugah semangat hidup orang lain / penontonnya.

Walau tidak banyak, ada juga film kartun yang layak untuk ditonton anak-anak.
Sayangnya, tayangan-tayangan yang masih bersifat mendidik itu tidak semuanya ditayangkan pada hari Sabtu siang sampai Minggu siang !! Trus, bagaimana dengan anak yang dibebaskan nonton televisi hanya pada hari Sabtu siang sampai Minggu siang itu ? Berarti semua acara yang "disediakan" pada saat hari "bebas nonton televisi" itu bisa dinikmati tanpa pengecualian ? Lantas, apakah efek negatif televisi dapat dibendung dengan sikap seperti itu ?

Jadi semuanya tergantung pada kita selaku orang tua. Bagaimana kita mampu memilihkan acara yang tepat bagi anak-anak. Menjadi tugas orang tua untuk menentukan layak dan tidaknya suatu acara televisi ditonton oleh anak-anak. Dan yang penting adalah pendampingan dari orang tuanya agar anak bisa menangkap dengan benar apa yang sedang mereka lihat di televisi.

Mungkin ada orang tua yang mencoba memberikan buku sebagai pengganti televisi. Memang melalui buku seorang anak akan mendapat banyak "ilmu". Tapi bagaimana dengan anak yang gak suka membaca ? Darimana anak-anak yang gak hobby baca ini akan mendapatkan 'ilmu" ?

Tapi satu hal yang harus diakui, bahwa efek membaca dan melihat jauh berbeda. Seorang anak yang membaca berita tsunami hanya bisa membayangkan betapa dahsyatnya tsunami. Tapi bila seorang anak melihat sendiri (melalui televisi) tentang tsunami akan betul-betul mengetahui betapa dahsyatnya penderitaan masyarakatnya.

Bagaimanapun juga, jangan sampai anak-anak tidak memiliki wawasan yang luas tentang kehidupan ini. "Over protective" yang diberikan orang tua pada anak di usia dini, sangat mungkin akan membuat anak "tersesat" saat mereka mulai terjun langsung dalam masyarakat.

Itu semua menurut aku. Bagaimana menurut anda semua ?