Tampilkan postingan dengan label opini-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini-ku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Agustus 2010

Reformasi

Yuk kali ini kita bicara tentang reformasi. Kalau kali ini topiknya sedikit beda dan agak 'berat'itu karena aku memenuhi ajakan Mas Trimatra yang kembali menggelar acara Posting kolaborasi dengan tema: "di bawah bendera reformasi" (ih, judulnya 'serem' juga ya..? hehehe)

Yang aku tahu, pengertian reformasi adalah : merobah, atau merombak, atau membangun kembali, atau menyusun kembali. Kata reformasi sendiri aku (atau kita?) kenal pada masa-masa tumbangnya orde baru. Tujuannya tentu saja untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang sudah diwariskan oleh Orde Baru atau merombak segala tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya yang berbau Orde Baru.

Reformasi di negara kita memang harus dilakukan dalam berbagai bidang. Yang harus diingat adalah bahwa reformasi bukan hanya urusan pemerintah saja atau rakyat saja, namun urusan seluruh bangsa. Memang, rakyatlah yang paling membutuhkannya, khususnya demi kehidupan yang lebih baik bagi generasi yang sekarang dan generasi yang akan datang.

Namun kali ini aku tak akan membahas reformasi secara umum, karena (bagiku) terlalu kompleks. Aku hanya akan bicara tentang reformasi di dunia pendidikan. Sebagaimana kita semua tahu, bahwa makin hari biaya pendidikan semakin tinggi. Bahkan di sekolah-sekolah negeri serta perguruan tinggi negeri pun biaya pendidikan juga sudah mulai mahal.

gambar diculik dari sini

Untuk ukuran SD saja, meski biaya pendidikan katanya sudah gratis, tapi masih saja ada sekolah-sekolah yang mensyaratkan murid-muridnya untuk memiliki buku sendiri. Memang sekarang pengadaan buku tidak lagi menjadi urusan sekolah, tapi tiap murid harus mencari sendiri. Meski begitu tiap wali murid pasti keluar uang banyak, karena harga buku pelajaran sekolah SD saja sudah mahal. Sementara untuk sekolah-sekolah yang ada di pinggiran (dan sepi peminat) biasanya untuk pengadaan buku dan seragam sekolah diambilkan dari dana BOS.

Untuk jenjang SMP dan SMA di kotaku, sudah mulai ada Rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Tentu saja dengan mensyaratkan biaya yang sangat tinggi bagi siapa saja yang berhasil masuk sekolah itu. Maklum saja, untuk sekolah2 berstatus RSBI ini tiap murid harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana seperti laptop. Hal-hal seperti ini menyebabkan anak-anak pandai tapi miskin tak mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah yang 'bagus' dan harus rela menuntut ilmu di sekolah-sekolah biasa saja.

Belum lagi biaya kuliah yang... makin gila-gilaan. Seperti tahun ini, beberapa rekan kerjaku banyak yang mencari perguruan tinggi untuk anak-anak mereka. Ada yang bilang bahwa untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri pun dituntut biaya yang sangat besar, bahkan ada yang sampai mencapai 200 juta rupiah...! Wow.., baru masuk saja sebesar itu, terus biaya kuliah per semesternya berapa ya..?

Mengapa di negara kita tercinta biaya pendidikan begitu mahal ? Kita harus jujur mengakui bahwa masih banyak anak-anak yang tak mampu menikmati pendidikan sampai jenjang pendidikan menengah. Bahkan untuk mengikuti pendidikan dasar saja masih ada yang tak sanggup karena terbentur biaya. Jika anak-anak, selaku generasi penerus bangsa ini, tak mampu mengenyam pendidikan, lantas bagaimana nasib bangsa ini di masa yang akan datang ?

Rasanya kita semua perlu memikirkan lagi cara yang tepat agar setiap anak di negara ini bisa mengenyam pendidikan dengan biaya murah. Agar tak ada lagi anak-anak yang tak memiliki modal untuk menghadapi masa depan yang kian sarat dengan kompetisi ini. Kapan semuanya itu akan dapat kita wujudkan..?

Jumat, 23 Juli 2010

Sayangi anak-anak kita

Ingatkah kita
pada sesosok kecil yang tak berdaya saat baru saja dilahirkan
pada sorot mata bening yang memandang kita dengan penuh tanya
pada senyum manisnya yang membuat kita bahagia luar biasa
pada celoteh riangnya yang membuat kita tersenyum bangga
pada jari-jari mungilnya yang mengharapkan bimbingan kita
pada setapak demi setapak langkahnya tertatih-tatih menuju masa depan

Apakah ingatan kita akan semua itu mampu menumbuhkan kembali rasa sayang kita pada anak-anak kita ? Apakah kenangan akan anak-anak kita mampu menggetarkan sanubari kita ? Jika jawabannya adalah YA, mengapa masih saja ada anak-anak yang terlantar dan teraniaya ?

Anak-anak itu adalah makhluk yang 'lemah'. Mereka belum memiliki kekuatan sebesar kita. Mereka belum memiliki keberanian sekuat kita. Mereka belum memiliki pengetahuan sebanyak kita. Mereka belum memiliki pengalaman sekaya kita. Dan, tanpa memiliki semua itu... anak-anak tak memiliki senjata apapun untuk melawan kita, orang-orang dewasa. Satu-satunya yang mereka miliki (dan sudah tak kita miliki lagi) adalah kepolosan mereka. Sayangnya, tak banyak lagi orang dewasa yang tergetar oleh kepolosan anak-anak itu hingga akhirnya banyak anak-anak yang menjadi korban kekejaman dan kesewenang-wenangan.

Apakah kita sebagai orang tua sering (tanpa sengaja) menggunakan otoritas kita sebagai orang tua dalam 'menekan' anak ? Dan apakah yang kita dapatkan dari hal tersebut ? Tak lain dari anak-anak yang keras kepala dan suka memberontak di masa remajanya. Mengapa tak kita gunakan saja senjata kasih sayang, perhatian dan kepedulian pada anak-anak itu ? Dengan demikian kita akan mendapatkan anak-anak yang penuh kasih dan peduli pada sesama.

Sayangnya..., pada saat ini banyak sekali orang tua yang menderita stress akibat beratnya beban kehidupan di pundak mereka. Dan, yang lebih disayangkan lagi adalah... anak-anak yang seringkali menjadi korban dan pelampiasan rasa stress itu. Anak-anak yang masih lemah itu memang merupakan sasaran empuk untuk menerima semua kekesalan dan kekecewaan kita, karena mereka tak mampu mengelak. Bisakah kita membayangkan, akan jadi apa anak-anak yang bertahun-tahun dalam hidupnya hanya menjadi tumpuan kekesalan dan kekecewaan semata ?

Anak-anak adalah masa depan kita. Mereka adalah harapan kita di masa yang akan datang. Itu sebabnya sangat penting bagi kita untuk mempersiapkan masa depan yang indah bagi kita dan anak-anak kita. Kita perlu mempersiapkan anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang pandai, peduli, penuh kasih, beriman dan tangguh dalam menghadapi segala halangan yang menghadang di depan mata. Untuk mewujudkan itu semua, cukup kita melimpahi anak-anak kita dengan kasih sayang dan kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan sebanyak-banyaknya.

Ingatkah kita pada syair Khahlil Gibran yang bicara tentang anak ? Syair itu menurutku indah sekali dan sangat bagus jika kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah syair itu.....

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Tepat pada Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2010 ini..., marilah kita memperbaiki sikap dan perlakuan kita terhadap anak-anak. Sayangi anak-anak kita, agar hidup ini pun mencintai anak-anak kita. Sehingga anak-anak kita akan mampu memberikan lebih banyak cinta pada sesama.

Pada Hari Anak Nasional (HAN) 2010 ini, Indonesia mengambil tema “Anak Indonesia Belajar untuk Masa Depan.” Dan, dalam rangka memperingati HAN 2010 ini, para narablog kembali ingin berpartisipasi dengan membuat postingan kolaborasi yang kali ini diprakarsai oleh Bang Iwan. Postingan ini pun dibuat untuk berpartisipasi dalam postingan kolaborasi itu. Semoga bermanfaat.



gambar diculik dari sini

Jumat, 09 Juli 2010

Bohong

Pagi ini, saat kulihat infotainment... ada seorang publik figur yang memberikan pengakuan (secara implisit) tentang kesalahannya dan dia meminta maaf atas kesalahannya itu. Setelah sekian lama berbohong dan menutupi kebohongannya itu, rupanya dia (mungkin) merasa lelah dan telah kehabisan daya untuk terus menerus berbohong dan menutupi kebohongannya itu. Akhirnya... dia pun menyerah dan mengakuinya.

Kejadian serupa seringkali kuhadapi dan kutemui dalam dunia nyata. Kita... (aku termasuk di dalamnya), mungkin pernah melakukan suatu kebohongan, sekecil apapun. Setelah berbohong, kita pasti tak ingin kebohongan itu ketahuan bukan ? So, kita akan selalu berupaya untuk menutupi kebohongan itu. Jadilah, satu kebohongan akan menyeret kita untuk melakukan kebohongan demi kebohongan lainnya. Melelahkan...

Dan 'sayangnya'... cepat atau lambat kebohongan itu suatu saat akan terbongkar juga. Seperti kata pepatah : Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Ada juga pepatah : Sepandai-pandai menyimpan bangkai akhirnya tercium juga baunya. Nah, Kalau sudah begitu, rasanya sia-sia saja kita berbohong dan berusaha menutup-nutupinya selama itu. Kita hanya dapat capek, dosa dan malu...., selain itu... tak ada..!

Kalau sudah begitu, rasanya tak ada gunanya kita berbohong. Buat apa capek-capek berbohong jika akhirnya akan ketahuan juga. Bukankah Allah tak pernah tidur...?

*gambar diculik dari sini*

Jumat, 11 Juni 2010

Belajar kejujuran

Mulai Senin, tanggal 7 sampai dengan 11 Juni 2010 Shasa menjalani Ujian Akhir Semester untuk kenaikan kelas. Dua hari yang lalu, Shasa bercerita padaku tentang seorang temannya yang berbuat curang saat UAS. Kata Shasa, temannya itu sudah mempunyai soal UAS persis seperti yang akan diujikan pada hari itu. Aku tentu saja heran, kok bisa temannya itu mempunyai soal UAS ? Padahal untuk soal-soal untuk UAS itu sama untuk sekolah-sekolah SD dalam satu cabang Dinas Pendidikan. Kata Shasa sih, temannya itu mendapatkan soal itu dari guru lesnya.

Yang menjadi pertanyaan bagiku adalah darimana guru les itu bisa mendapatkan bocoran soal UAS ? Lantas apa motivasi guru les itu memberikan 'bocoran' soal UAS pada murid-murid lesnya. Apakah dia ingin murid-murid lesnya mendapatkan nilai yang memuaskan dalam UAS itu ? Apakah dia ingin mendapatkan 'nama baik' karena berhasil membantu murid-murid lesnya mendapatkan nilai yang baik ?

Apapun alasan guru les itu, aku sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukannya. Bagaimanapun juga, dia telah mengajarkan kecurangan pada murid-muridnya. Dia telah membuat muridnya tak percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Dia bukannya menolong muridnya tapi justru makin menghancurkan muridnya sendiri dengan mengajarkan kecurangan itu. Aku yakin, orang tua dari murid lesnya pasti tak tahu dengan kecurangan itu, karena jika para orang tua tahu tentang tindakan guru les itu, pastilah mereka tak akan mengirimkan anak-anaknya untuk les disana.

Aku hanya bisa berpesan pada Shasa bahwa aku tak suka dengan tindakan yang curang seperti itu. Berbuat curang seperti itu sama saja membohongi diri sendiri dan juga orang lain. Aku tegaskan bahwa berapapun hasil yang diperolehnya saat ulangan akan aku terima karena aku sudah melihat usaha kerasnya dalam belajar. Aku akan sedih sekali jika ternyata Shasa mendapatkan nilai yang baik tapi dengan cara yang curang seperti itu.

Aku berusaha membuat Shasa mengerti bahwa kejujuran itu jauh lebih menyenangkan. Kukatakan juga padanya bahwa jika Shasa selalu jujur, aku akan bisa menolongnya jika dia berada dalam kesulitan. Seperti jika saat dia mendapatkan nilai ulangan yang buruk, maka aku akan tahu bahwa dia belum menguasai pelajaran itu sehingga aku bisa membantunya entah itu dengan cara mengajarinya atau mendaftarkannya ke tempat les. Mendengar semua penjelasanku itu, Alhamdulillah Shasa mengerti.

Dan kemarin Shasa menceritakan perkembangan kasus temannya itu. Rupanya, kemarin ada seorang teman Shasa yang melaporkan kecurangan itu kepada guru wali kelas. Selanjutnya, teman Shasa yang berbuat curang itu dipanggil ke ruang guru dan dia 'diadili' di sana. Keluar dari ruang guru teman Shasa itu hanya bisa menangis, apalagi saat guru wali kelasnya memintanya menyerahkan bocoran soal UAS yang dibawanya hari itu. Teman Shasa itu takut menyerahkannya karena dia sudah diwanti-wanti guru lesnya agar soal itu dikembalikan lagi setelah UAS selesai. Namun karena takut pada guru wali kelasnya, akhirnya bocoran soal itu diserahkan juga.

Semoga kejadian yang menimpa temannya itu dapat menjadi pelajaran bagi Shasa bahwa berbuat curang hanya akan merugikan diri sendiri. Dan semoga saja penjelasanku yang panjang lebar kemarin dapat diingat terus oleh Shasa sehingga dia akan dapat tetap berbuat jujur apapun yang terjadi. Amin.

Terus terang saja, kejadian di atas membuatku berpikir. Aku yakin semua anak ingin dilahirkan pandai. Memang mudah bagi anak-anak yang pandai untuk tetap berlaku jujur dalam ujian. Sementara bagi anak-anak yang kurang pandai, ujian menjadi sangat menakutkan, apalagi jika dibayang-bayangi kekhawatiran tidak naik kelas, ancaman dan tuntutan dari orang tua. Terkadang, bagi anak-anak yang kurang pandai, serajin apapun dia belajar hasil yang diperolehnya tak juga maksimal dan hal itu tentu saja menakutkan.

Dalam kondisi seperti itu keinginan mendapatkan nilai baik menimbulkan godaan untuk berbuat apa saja asal bisa mendapatkan nilai baik. Godaan itu tentu saja sangat berat, namun jika ternyata mereka berani memilih untuk tetap berlaku jujur (dan mendapatkan nilai yang buruk karena mereka tak mampu mengerjakan soal ujian) maka mereka adalah anak-anak yang hebat. Semoga saja keberanian untuk tetap bersikap jujur itu akan terus dibawanya hingga dia dewasa kelak.

Yang patut diperhatikan sekarang adalah meyakini bahwa semua anak itu pandai dan kepandaian itu tidak hanya berkutat pada akademis semata. Inilah waktunya bagi orang tua (dan juga sekolah) untuk mengembangkan kepandaian di bidang lain seperti kepandaian di bidang musik, olah raga, seni dan sebagainya. Sudah banyak bukti bahwa tak hanya anak yang berprestasi di bidang akademis saja yang akan meraih keberhasilan dalam hidup. Justru orang-orang yang kreatif dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kepandaiannya akan menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidupnya.

Jumat, 21 Mei 2010

Kok tak mau antri ya..?

Antri dong..! Rasanya kalimat itu ingin aku ucapkan di berbagai kesempatan. selama ini aku memang telah punya banyak pengalaman yang menjengkelkan yang menyangkut antri ini. Mengapa ya masyarakat kita masih sulit untuk mengantri dengan benar ? Mengapa semua inginnya 'dilayani' terlebih dahulu padahal datangnya belakangan ?

Coba saja, setiap peristiwa pembagian zakat, pembagian sembako, pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) bahkan pembagian sumbangan bagi korban bencana alam... selalu saja disertai berita 'kerusuhan' akibat orang-orang yang tidak mau mengantri dengan tertib. Semua takut tidak 'kebagian' sehingga berebut meminta duluan.... Kalau sudah begitu suasana menjadi rusuh kan..?


Aku sendiri punya banyak pengalaman tentang antri itu. Salah salah satunya adalah waktu aku sedang antri dokter. Saat itu aku sedang antar Shasa yang sakit batuk ke dokter. Kebetulan pasien yang datang banyak banget. Setelah sekian lama menunggu, giliran berikutnya adalah aku.

Sesaat sebelum masuk ruang periksa, ada seorang ibu yang sudah tua datang diantar anaknya. Begitu masuk ruang tunggu, sang anak bertanya giliran berikut yang masuk ruang dokter siapa, dan ada seorang bapak yang menunjuk kepadaku. Sang anak langsung menghampiriku dan meminta ijin padaku untuk masuk terlebih dahulu karena ibunya sakit parah dan kasihan kalau menunggu terlalu lama.

Mendengar permintaan itu terus terang aku bingung. Aku tak keberatan jika Ibu itu masuk lebih dulu daripada aku, toh Shasa hanya sakit batuk. Tapi, jika aku mengijinkannya, bagaimana dengan orang-orang lain yang sudah antri lama setelah aku ? Apakah mereka juga mau mengorbankan lebih banyak waktu lagi untuk menunggu dokter ?

Setelah sekian lama berpikir akhirnya aku tanyakan apakah kira-kira Si Ibu akan diperiksa lama di dalam, karena yang antri masih banyak. Sang anak memastikan bahwa dia dan ibunya tak akan lama di ruang periksa dokter. Mendengar jawaban itu akupun mengangguk mengijinkan dia masuk lebih dulu daripada aku. Dalam hati aku berdoa semoga orang lain yang antri di belakangku tak menyesali keputusanku.

gambar diculik dari sini

Lain lagi dengan pengalaman waktu Shasa masih duduk di TK Kelas A. Entah apa sebabnya, Shasa terkena infeksi saluran kencing. Penyakit itu membuat Shasa rewel dan berulang kali ngompol. Saat itu, aku dan suami baru pulang dari dokter untuk memeriksakan Shasa. Aku berinisiatif untuk mampir sebentar membeli jajanan buat Shasa, karena Shasa tiba-tiba kehilangan selera makan.

Setelah memilih jajanan dengan terburu-buru (karena Shasa sudah wanti-wanti agar tak kelamaan membeli jajanan), aku segera antri untuk membayar. Untung saja tak terlalu banyak yang belanja jajan saat itu. Saat tiba giliranku, tiba-tiba ibu yang datang setelahku mengambil posisi di sampingku. Dia tiba-tiba menyodorkan jajannya untuk dihitung.

Melihat hal itu tentu saja aku tak terima, dan langsung aku bilang pada penjualnya bahwa yang antri aku dulu. Tapi ibu yang sebelahku tadi menjawab, "Aku dulu saja mbak, kan belanjaanku juga tak terlalu banyak" sambil kembali menyorongkan jajannya ke depan kasir. Dan.., kasirpun mengambil jajanan itu dan mulai menghitungnya.

Melihat hal itu, aku terus terang saja marah sekali. Aku teringat Shasa yang sakit dan terpaksa menunggu di mobil lebih lama gara-gara seorang Ibu yang tak mau kalah tadi. Akhirnya aku putuskan, meninggalkan jajananku di depan kasir dan berkata, "Maaf mbak.. tak jadi beli" dan aku langsung keluar dari toko itu.

Benar saja, begitu masuk mobil Shasa berkata, "kok lama sih Ma? Pengen cepet pulang nih". Akhirnya memang kami langsung pulang. Sesampai di rumah suamiku pergi lagi untuk membeli jajanan di tempat lain. Dan... setelah kejadian itu aku tak pernah lagi belanja di toko itu (yang kini malah akhirnya bangkrut dan tutup).

Kok tak mau antri ya..?

Antri dong..! Rasanya kalimat itu ingin aku ucapkan di berbagai kesempatan. selama ini aku memang telah punya banyak pengalaman yang menjengkelkan yang menyangkut antri ini. Mengapa ya masyarakat kita masih sulit untuk mengantri dengan benar ? Mengapa semua inginnya 'dilayani' terlebih dahulu padahal datangnya belakangan ?

Coba saja, setiap peristiwa pembagian zakat, pembagian sembako, pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) bahkan pembagian sumbangan bagi korban bencana alam... selalu saja disertai berita 'kerusuhan' akibat orang-orang yang tidak mau mengantri dengan tertib. Semua takut tidak 'kebagian' sehingga berebut meminta duluan.... Kalau sudah begitu suasana menjadi rusuh kan..?


Aku sendiri punya banyak pengalaman tentang antri itu. Salah salah satunya adalah waktu aku sedang antri dokter. Saat itu aku sedang antar Shasa yang sakit batuk ke dokter. Kebetulan pasien yang datang banyak banget. Setelah sekian lama menunggu, giliran berikutnya adalah aku.

Sesaat sebelum masuk ruang periksa, ada seorang ibu yang sudah tua datang diantar anaknya. Begitu masuk ruang tunggu, sang anak bertanya giliran berikut yang masuk ruang dokter siapa, dan ada seorang bapak yang menunjuk kepadaku. Sang anak langsung menghampiriku dan meminta ijin padaku untuk masuk terlebih dahulu karena ibunya sakit parah dan kasihan kalau menunggu terlalu lama.

Mendengar permintaan itu terus terang aku bingung. Aku tak keberatan jika Ibu itu masuk lebih dulu daripada aku, toh Shasa hanya sakit batuk. Tapi, jika aku mengijinkannya, bagaimana dengan orang-orang lain yang sudah antri lama setelah aku ? Apakah mereka juga mau mengorbankan lebih banyak waktu lagi untuk menunggu dokter ?

Setelah sekian lama berpikir akhirnya aku tanyakan apakah kira-kira Si Ibu akan diperiksa lama di dalam, karena yang antri masih banyak. Sang anak memastikan bahwa dia dan ibunya tak akan lama di ruang periksa dokter. Mendengar jawaban itu akupun mengangguk mengijinkan dia masuk lebih dulu daripada aku. Dalam hati aku berdoa semoga orang lain yang antri di belakangku tak menyesali keputusanku.

gambar diculik dari sini

Lain lagi dengan pengalaman waktu Shasa masih duduk di TK Kelas A. Entah apa sebabnya, Shasa terkena infeksi saluran kencing. Penyakit itu membuat Shasa rewel dan berulang kali ngompol. Saat itu, aku dan suami baru pulang dari dokter untuk memeriksakan Shasa. Aku berinisiatif untuk mampir sebentar membeli jajanan buat Shasa, karena Shasa tiba-tiba kehilangan selera makan.

Setelah memilih jajanan dengan terburu-buru (karena Shasa sudah wanti-wanti agar tak kelamaan membeli jajanan), aku segera antri untuk membayar. Untung saja tak terlalu banyak yang belanja jajan saat itu. Saat tiba giliranku, tiba-tiba ibu yang datang setelahku mengambil posisi di sampingku. Dia tiba-tiba menyodorkan jajannya untuk dihitung.

Melihat hal itu tentu saja aku tak terima, dan langsung aku bilang pada penjualnya bahwa yang antri aku dulu. Tapi ibu yang sebelahku tadi menjawab, "Aku dulu saja mbak, kan belanjaanku juga tak terlalu banyak" sambil kembali menyorongkan jajannya ke depan kasir. Dan.., kasirpun mengambil jajanan itu dan mulai menghitungnya.

Melihat hal itu, aku terus terang saja marah sekali. Aku teringat Shasa yang sakit dan terpaksa menunggu di mobil lebih lama gara-gara seorang Ibu yang tak mau kalah tadi. Akhirnya aku putuskan, meninggalkan jajananku di depan kasir dan berkata, "Maaf mbak.. tak jadi beli" dan aku langsung keluar dari toko itu.

Benar saja, begitu masuk mobil Shasa berkata, "kok lama sih Ma? Pengen cepet pulang nih". Akhirnya memang kami langsung pulang. Sesampai di rumah suamiku pergi lagi untuk membeli jajanan di tempat lain. Dan... setelah kejadian itu aku tak pernah lagi belanja di toko itu (yang kini malah akhirnya bangkrut dan tutup).

Kamis, 13 Mei 2010

Harapan menjadi pejabat

Selama aku menjadi PNS ada satu peristiwa yang selalu jadi bahan pembicaraan hangat, yaitu : Pelantikan Pejabat Struktural. Sebelum pelantikan, setiap orang (baca : PNS) akan sibuk membicarakan berbagai macam kemungkingan-kemungkinannya. Setelah pelantikan, kembali semua sibuk melakukan penilaian apakah si A memang pantas menduduki tempat barunya atau apakah si B sudah saatnya menduduki jabatan, dan sebagainya. Herannya, pembicaraan itu tak dapat selesai dalam waktu 1 atau 2 hari saja.

Sementara itu, orang-orang yang merasa sudah waktunya untuk dipromosikan pasti akan resah dan gelisah menunggu pelaksanaan pelantikan. Nah, repotnya jika ternyata mereka tak mendapatkan promosi yang mereka harapkan, pasti rasa kecewa tak dapat dihindari. Bagi mereka yang mampu mengelola rasa kecewa dengan baik, biasanya kinerja mereka tak mengalami penurunan. Namun..., ada juga yang ternyata tak mampu mengelola rasa kecewa dengan baik sehingga kinerja mereka jadi menurun dan malah tak bersemangat dalam bekerja.

Melihat mereka-mereka yang sangat ngotot mendapatkan kedudukan dan jabatan itu, mau tak mau aku berpikir tentang motivasi mereka. Apakah mereka hanya semata-mata mengejar kedudukan dan jabatan yang lebih tinggi supaya bisa menaikkan gengsi mereka ? Ataukah mereka mengincar tunjangan jabatan, yang walau tak terlalu besar tapi tetap saja menambah penghasilan ? Atau apakah mereka telah memiliki pemikiran-pemikiran yang berguna untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat atau jalannya pemerintahan dan pemikiran itu baru dapat dilaksanakannya jika mereka sudah berpredikat 'pejabat' ? Atau mungkin ada alasan lain yang tak aku mengerti ?

Oke..., aku maklum bahwa setiap orang pasti ingin mendapatkan 'kemajuan' dalam hidupnya. Tapi maksudku, tak perlulah seseorang harus 'ngotot' untuk mendapatkan promosi apalagi jika sebenarnya belum waktunya bagi dia untuk dipromosikan. Terlebih lagi jika dia sebenarnya kurang memiliki kompetensi yang memadai untuk dipromosikan.

Jadi...., harusnya tak perlu sampai mendekati 'yang berwenang' untuk dapat dipromosikan. Apalagi sampai harus melakukan berbagai hal yang menyenangkan bagi 'yang berwenang' agar nasibnya diperhatikan. Namun yang terpenting sih, menilai dulu kemampuan diri sebelum minta untuk dipromosikan. Meskipun ada juga yang sebenarnya kemampuan  yang dimilikinya belum sesuai dengan posisi yang diharapkan tapi tetap saja ngotot mendapatkannya.

Yang jadi pertanyaanku adalah : Mengapa mereka tidak menunggu saja saat itu (dilantik menjadi pejabat) datang sendiri ? Jika sudah rejekinya.., pasti jabatan itu toh akan datang dengan sendirinya dan tak perlu diuber-uber segala. Nah.., agar saat itu lebih cepat datangnya, bukankah lebih pas jika kita memperbaiki kinerja kita dan memperbaiki kualitas diri ?


Harapan menjadi pejabat

Selama aku menjadi PNS ada satu peristiwa yang selalu jadi bahan pembicaraan hangat, yaitu : Pelantikan Pejabat Struktural. Sebelum pelantikan, setiap orang (baca : PNS) akan sibuk membicarakan berbagai macam kemungkingan-kemungkinannya. Setelah pelantikan, kembali semua sibuk melakukan penilaian apakah si A memang pantas menduduki tempat barunya atau apakah si B sudah saatnya menduduki jabatan, dan sebagainya. Herannya, pembicaraan itu tak dapat selesai dalam waktu 1 atau 2 hari saja.

Sementara itu, orang-orang yang merasa sudah waktunya untuk dipromosikan pasti akan resah dan gelisah menunggu pelaksanaan pelantikan. Nah, repotnya jika ternyata mereka tak mendapatkan promosi yang mereka harapkan, pasti rasa kecewa tak dapat dihindari. Bagi mereka yang mampu mengelola rasa kecewa dengan baik, biasanya kinerja mereka tak mengalami penurunan. Namun..., ada juga yang ternyata tak mampu mengelola rasa kecewa dengan baik sehingga kinerja mereka jadi menurun dan malah tak bersemangat dalam bekerja.

Melihat mereka-mereka yang sangat ngotot mendapatkan kedudukan dan jabatan itu, mau tak mau aku berpikir tentang motivasi mereka. Apakah mereka hanya semata-mata mengejar kedudukan dan jabatan yang lebih tinggi supaya bisa menaikkan gengsi mereka ? Ataukah mereka mengincar tunjangan jabatan, yang walau tak terlalu besar tapi tetap saja menambah penghasilan ? Atau apakah mereka telah memiliki pemikiran-pemikiran yang berguna untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat atau jalannya pemerintahan dan pemikiran itu baru dapat dilaksanakannya jika mereka sudah berpredikat 'pejabat' ? Atau mungkin ada alasan lain yang tak aku mengerti ?

Oke..., aku maklum bahwa setiap orang pasti ingin mendapatkan 'kemajuan' dalam hidupnya. Tapi maksudku, tak perlulah seseorang harus 'ngotot' untuk mendapatkan promosi apalagi jika sebenarnya belum waktunya bagi dia untuk dipromosikan. Terlebih lagi jika dia sebenarnya kurang memiliki kompetensi yang memadai untuk dipromosikan.

Jadi...., harusnya tak perlu sampai mendekati 'yang berwenang' untuk dapat dipromosikan. Apalagi sampai harus melakukan berbagai hal yang menyenangkan bagi 'yang berwenang' agar nasibnya diperhatikan. Namun yang terpenting sih, menilai dulu kemampuan diri sebelum minta untuk dipromosikan. Meskipun ada juga yang sebenarnya kemampuan  yang dimilikinya belum sesuai dengan posisi yang diharapkan tapi tetap saja ngotot mendapatkannya.

Yang jadi pertanyaanku adalah : Mengapa mereka tidak menunggu saja saat itu (dilantik menjadi pejabat) datang sendiri ? Jika sudah rejekinya.., pasti jabatan itu toh akan datang dengan sendirinya dan tak perlu diuber-uber segala. Nah.., agar saat itu lebih cepat datangnya, bukankah lebih pas jika kita memperbaiki kinerja kita dan memperbaiki kualitas diri ?


Minggu, 02 Mei 2010

Sportivitas

Apa yang akan kita rasakan jika kita terus menerus menerima kekalahan dan kegagalan ? Apakah kita akan mampu untuk tetap bersemangat meraih kemenangan dan keberhasilan dalam kondisi seperti itu ? Apakah kita masih mampu menerimanya sebagai kekalahan dan kesalahan sendiri tanpa menyalahkan orang lain ? Hanya orang-orang yang menjunjung tinggi sportivitaslah yang akan mampu melakukannya.

Apakah sportivitas itu ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sportivitas diartikan sebagai sikap adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Orang-orang yang mampu bersikap seperti itu disebut sebagai orang-orang yang sportif dan tak banyak orang-orang seperti itu.

Seorang tokoh dunia yang di mataku memiliki jiwa yang sportif adalah mantan Presiden Amerika Serikat : Abraham Lincoln. Walau kegagalan dan kekalahan beruntun terjadi dalam hidupnya, dia tak menyerah dan menyalahkan orang lain. Meskipun sempat depresi namun dia memiliki semangat untuk bangkit lagi. Sebelum akhirnya berhasil dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat, kekalahan demi kekalahan telah dialaminya seperti : kalah dalam pemilihan Dewan Legislatif, kalah dalam pemilihan Kongres, kalah dalam pemilihan Senat, kalah dalam pemilihan calon Wakil Presiden. Setelah  melewati 8 kali kekalahan dalam pemilihan, sekian banyak kegagalan dalam hidup, semangatnya tak meredup dan pada pada tahun 1860 dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bicara tentang sportivitas, aku mau tak mau mengakui bahwa ternyata sportivitas (secara tak langsung) dijunjung tinggi oleh para blogger. Awalnya aku tak menyadarinya, hingga suatu kali aku memberikan diri untuk mengikuti lomba/kompetisi yang diperuntukkan para blogger dan bersaing dengan blogger-blogger lainnya. Siapa pun yang mengikuti lomba/kompetisi pasti berharap menang, namun uniknya aku menemukan bahwa di antara para blogger yang mengikuti lomba/kompetisi itu saling mendukung satu sama lain. Mereka saling memberikan semangat bahkan saling mendoakan agar menang, meskipun mereka jelas-jelas memperebutkan hal yang sama.

Ketika pemenang lomba/kompetisi diumumkan, semangat sportivitas kembali terlihat. Peserta yang kalah mengucapkan selamat kepada para pemenang dan menerima kekalahannya dengan lapang dada. Tak ada hujatan atas kemenangan itu. Tak ada ejekan untuk kekalahan itu. Persahabatan di antara para blogger pun tetap berjalan tanpa ada aroma persaingan yang tidak sehat. Mengungkapkan pujian dan kekaguman atas blog seorang blogger berikut prestasinya, bukan hal aneh lagi. Sungguh sangat menyenangkan.

Itulah yang aku alami dan aku rasakan selama ini. Jika ada kejadian-kejadian kecil yang tidak sesuai dengan apa yang aku ceritakan di atas, aku yakin bahwa prosentasenya sangat kecil. Di mataku, persahabatan dan persaingan antara sesama blogger berjalan dengan baik dan sarat dengan semangat sportivitas.

So, jika dalam dunia maya kita mampu menjaga sportivitas, mengapa tidak kita lakukan juga dalam dunia nyata ?

Sportivitas

Apa yang akan kita rasakan jika kita terus menerus menerima kekalahan dan kegagalan ? Apakah kita akan mampu untuk tetap bersemangat meraih kemenangan dan keberhasilan dalam kondisi seperti itu ? Apakah kita masih mampu menerimanya sebagai kekalahan dan kesalahan sendiri tanpa menyalahkan orang lain ? Hanya orang-orang yang menjunjung tinggi sportivitaslah yang akan mampu melakukannya.

Apakah sportivitas itu ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sportivitas diartikan sebagai sikap adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Orang-orang yang mampu bersikap seperti itu disebut sebagai orang-orang yang sportif dan tak banyak orang-orang seperti itu.

Seorang tokoh dunia yang di mataku memiliki jiwa yang sportif adalah mantan Presiden Amerika Serikat : Abraham Lincoln. Walau kegagalan dan kekalahan beruntun terjadi dalam hidupnya, dia tak menyerah dan menyalahkan orang lain. Meskipun sempat depresi namun dia memiliki semangat untuk bangkit lagi. Sebelum akhirnya berhasil dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat, kekalahan demi kekalahan telah dialaminya seperti : kalah dalam pemilihan Dewan Legislatif, kalah dalam pemilihan Kongres, kalah dalam pemilihan Senat, kalah dalam pemilihan calon Wakil Presiden. Setelah  melewati 8 kali kekalahan dalam pemilihan, sekian banyak kegagalan dalam hidup, semangatnya tak meredup dan pada pada tahun 1860 dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bicara tentang sportivitas, aku mau tak mau mengakui bahwa ternyata sportivitas (secara tak langsung) dijunjung tinggi oleh para blogger. Awalnya aku tak menyadarinya, hingga suatu kali aku memberikan diri untuk mengikuti lomba/kompetisi yang diperuntukkan para blogger dan bersaing dengan blogger-blogger lainnya. Siapa pun yang mengikuti lomba/kompetisi pasti berharap menang, namun uniknya aku menemukan bahwa di antara para blogger yang mengikuti lomba/kompetisi itu saling mendukung satu sama lain. Mereka saling memberikan semangat bahkan saling mendoakan agar menang, meskipun mereka jelas-jelas memperebutkan hal yang sama.

Ketika pemenang lomba/kompetisi diumumkan, semangat sportivitas kembali terlihat. Peserta yang kalah mengucapkan selamat kepada para pemenang dan menerima kekalahannya dengan lapang dada. Tak ada hujatan atas kemenangan itu. Tak ada ejekan untuk kekalahan itu. Persahabatan di antara para blogger pun tetap berjalan tanpa ada aroma persaingan yang tidak sehat. Mengungkapkan pujian dan kekaguman atas blog seorang blogger berikut prestasinya, bukan hal aneh lagi. Sungguh sangat menyenangkan.

Itulah yang aku alami dan aku rasakan selama ini. Jika ada kejadian-kejadian kecil yang tidak sesuai dengan apa yang aku ceritakan di atas, aku yakin bahwa prosentasenya sangat kecil. Di mataku, persahabatan dan persaingan antara sesama blogger berjalan dengan baik dan sarat dengan semangat sportivitas.

So, jika dalam dunia maya kita mampu menjaga sportivitas, mengapa tidak kita lakukan juga dalam dunia nyata ?

Rabu, 28 April 2010

Luapan emosi peserta ujian nasional

Dalam postinganku kemarin yang berjudul : "Kelulusan sudah adilkah?", aku mendapatkan komentar menarik dari Sibaho Way. Dalam kotak komentar ditinggalkan komentar seperti ini :


cuma ada yang mengganjal di hati saya bu. jaman saya sekolah pun ada kok yang gak lulus pas ebtanas. tapi menyikapinya tidak sedramatis sekarang, pake nangis histeris bahkan pingsan. gejala apa ini? moga2 bukan karena budaya pop yang tidak menghargai proses dan selalu result oriented.

Ya..., mengapa Ujian nasional meninggalkan dampak sedemikian dramatis bagi peserta ujian nasional ? Aku ingat memang pada waktu aku sekolah dulu juga ada siswa yang tidak lulus, namun mungkin jumlahnya tak sebanyak sekarang. Dan yang tak lulus tentu saja sedih (siapa yang tidak coba ?), namun tak sampai histeris bahkan sampai nekad mau bunuh diri segala.

Di lain pihak, histeria peserta ujian nasional yang berhasil lulus dalam meluapkan kegembiraan juga membuatku membelalakkan mata karena tak percaya. Kalau 'sekedar' konvoi dan aksi corat-coret sudah biasa kita dengar, bahkan sejak jaman aku sekolah dulu hal itu sudah ada, namun aku tak tertarik untuk melakukannya. Yang luar biasa adalah berita tentang siswi-siswi SMA di Madura ada yang melepas jilbabnya dan menggunakan jilbab itu sebagai 'bendera' saat konvoi. Mereka (siswi-siswi itu) berkonvoi dengan membonceng teman laki-laki mereka. Itu semua belum cukup.. karena ada juga aksi siswi-siswi yang memotong pendek roknya. Di daerah lain, siswa-siswi yang lulus ujian melakukan pesta miras bersama dan mabuk-mabukan. Bahkan kabarnya setelah mabuk siswa-siswi itu melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan. Astagfirullah....



konvoi pelajar SMA di Madiun yg dimuat dalam Radar Madiun 28 April 2010
Semua peristiwa itu membuatku mengelus dada. Apalagi setelah aku membaca alasan-alasan yang disampaikan siswa-siswi SMA itu mengapa mereka begitu suka cita karena lulus ujian nasional. Jawabannya adalah : "karena kalau kuliah tak perlu lagi pakai seragam", "karena kalau kuliah bisa merokok dengan bebas", "karena kalau kuliah tidak seketat waktu SMA" dll.... Mengapa mereka tak menjawab "karena jalan menuju masa depan sudah makin terbuka," atau "karena kerja kerasku selama 3 tahun menuntut ilmu di sekolah tidak sia-sia", atau "karena jerih payahku telah membuahkan hasil yang sepadan" dll...

Jadi, benarkah apa yang dikhawatirkan oleh Sibaho Way bahwa mereka tidak menikmati proses melainkan hanya berorientasi pada hasil semata ? Memang..., tak semua remaja kita seperti itu dan masih banyak yang memiliki motivasi dan semangat untuk maju dan berkembang. Masih banyak juga remaja kita yang memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depannya.

Namun, jika kita hanya mengelus-elus remaja yang 'tidak bermasalah' seperti itu... maka kita akan lupa untuk menangani remaja-remaja lainnya yang 'bermasalah'. Memang tidak ada yang suka jika harus mengurusi remaja-remaja 'bermasalah' seperti itu, tapi jika mereka dibiarkan bukankah kita akan sulit untuk mengajak mereka kembali pada jalan menuju masa depan yang lebih baik ? Jika semua pihak lepas tangan dan menganggap wajar 'penyimpangan-penyimpangan' kecil itu... berarti kita harus siap-siap jika suatu saat penyimpangan itu kian tak terkendali.

Betapa banyaknya pekerjaan rumah kita untuk membimbing generasi muda kita. Meskipun berat dan melelahkan, hanya itulah yang dapat kita lakukan karena di pundak merekalah masa depan negara ini kita titipkan. So, kalau tidak dimulai dari sekarang... kapan lagi ?

*Sebuah catatan dari renungan pagi hari ini*

Luapan emosi peserta ujian nasional

Dalam postinganku kemarin yang berjudul : "Kelulusan sudah adilkah?", aku mendapatkan komentar menarik dari Sibaho Way. Dalam kotak komentar ditinggalkan komentar seperti ini :


cuma ada yang mengganjal di hati saya bu. jaman saya sekolah pun ada kok yang gak lulus pas ebtanas. tapi menyikapinya tidak sedramatis sekarang, pake nangis histeris bahkan pingsan. gejala apa ini? moga2 bukan karena budaya pop yang tidak menghargai proses dan selalu result oriented.

Ya..., mengapa Ujian nasional meninggalkan dampak sedemikian dramatis bagi peserta ujian nasional ? Aku ingat memang pada waktu aku sekolah dulu juga ada siswa yang tidak lulus, namun mungkin jumlahnya tak sebanyak sekarang. Dan yang tak lulus tentu saja sedih (siapa yang tidak coba ?), namun tak sampai histeris bahkan sampai nekad mau bunuh diri segala.

Di lain pihak, histeria peserta ujian nasional yang berhasil lulus dalam meluapkan kegembiraan juga membuatku membelalakkan mata karena tak percaya. Kalau 'sekedar' konvoi dan aksi corat-coret sudah biasa kita dengar, bahkan sejak jaman aku sekolah dulu hal itu sudah ada, namun aku tak tertarik untuk melakukannya. Yang luar biasa adalah berita tentang siswi-siswi SMA di Madura ada yang melepas jilbabnya dan menggunakan jilbab itu sebagai 'bendera' saat konvoi. Mereka (siswi-siswi itu) berkonvoi dengan membonceng teman laki-laki mereka. Itu semua belum cukup.. karena ada juga aksi siswi-siswi yang memotong pendek roknya. Di daerah lain, siswa-siswi yang lulus ujian melakukan pesta miras bersama dan mabuk-mabukan. Bahkan kabarnya setelah mabuk siswa-siswi itu melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan. Astagfirullah....



konvoi pelajar SMA di Madiun yg dimuat dalam Radar Madiun 28 April 2010
Semua peristiwa itu membuatku mengelus dada. Apalagi setelah aku membaca alasan-alasan yang disampaikan siswa-siswi SMA itu mengapa mereka begitu suka cita karena lulus ujian nasional. Jawabannya adalah : "karena kalau kuliah tak perlu lagi pakai seragam", "karena kalau kuliah bisa merokok dengan bebas", "karena kalau kuliah tidak seketat waktu SMA" dll.... Mengapa mereka tak menjawab "karena jalan menuju masa depan sudah makin terbuka," atau "karena kerja kerasku selama 3 tahun menuntut ilmu di sekolah tidak sia-sia", atau "karena jerih payahku telah membuahkan hasil yang sepadan" dll...

Jadi, benarkah apa yang dikhawatirkan oleh Sibaho Way bahwa mereka tidak menikmati proses melainkan hanya berorientasi pada hasil semata ? Memang..., tak semua remaja kita seperti itu dan masih banyak yang memiliki motivasi dan semangat untuk maju dan berkembang. Masih banyak juga remaja kita yang memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depannya.

Namun, jika kita hanya mengelus-elus remaja yang 'tidak bermasalah' seperti itu... maka kita akan lupa untuk menangani remaja-remaja lainnya yang 'bermasalah'. Memang tidak ada yang suka jika harus mengurusi remaja-remaja 'bermasalah' seperti itu, tapi jika mereka dibiarkan bukankah kita akan sulit untuk mengajak mereka kembali pada jalan menuju masa depan yang lebih baik ? Jika semua pihak lepas tangan dan menganggap wajar 'penyimpangan-penyimpangan' kecil itu... berarti kita harus siap-siap jika suatu saat penyimpangan itu kian tak terkendali.

Betapa banyaknya pekerjaan rumah kita untuk membimbing generasi muda kita. Meskipun berat dan melelahkan, hanya itulah yang dapat kita lakukan karena di pundak merekalah masa depan negara ini kita titipkan. So, kalau tidak dimulai dari sekarang... kapan lagi ?

*Sebuah catatan dari renungan pagi hari ini*

Selasa, 27 April 2010

Kululusan sudah adilkah ?

Kemarin adalah hari yang ditunggu-tunggu dengan harap-harap cemas oleh banyak orang, karena kelulusan SMA yang sederajat diumumkan. Hasil di beberapa daerah dinyatakan bahwa ternyata tingkat kelulusan peserta Ujian Nasional (UN) tahun 2010 mengalami penurunan. Bahkan di beberapa sekolah ada yang tingkat kelulusannya 0%.

Kondisi tersebut tentu saja mau tak mau membuat banyak pihak merasa prihatin. Melihat anak-anak yang tidak lulus menangis histeris, stres bahkan ada yang mencoba bunuh diri membuat trenyuh siapa saja. Membayangkan generasi muda yang seolah kehilangan kepercayaan diri dan putus asa karena terganjal oleh Ujian Nasional membuat kita mengelus dada.

Kondisi di atas menjadi penyebab munculnya banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Apa yang salah dalam pendidikan kita ? Apa yang harus dibenahi ? Walau sejak beberapa tahun terakhir masalah Ujian Nasional menjadi polemik dan menjadi pembicaraan yang hangat di antara para praktisi pendidikan, namun Ujian Nasional tetap menjadi momok bagi pelaku pendidikan. Segalanya seolah dipertaruhkan lewat Ujian Nasional ini.

Bagi sekolah yang beruntung memiliki murid-murid yang 'bermutu' (dalam arti pandai dan memiliki motivasi tinggi untuk menuntut ilmu) maka guru-gurunya pun akan mengajar dengan senang hati. Apalagi ditambah dengan sarana dan prasarana yang memadai, maka proses belajar mengajar jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan. Semua itu membuat jalan menuju kelulusan terasa jauh lebih terbuka.

Namun bagaimana dengan berbagai hal yang menyangkut faktor ekstern dari peserta didik ? Seperti : sekolah-sekolah yang ada di 'pinggiran' yang mendapatkan murid-murid 'sisa' dari sekolah-sekolah favorit, atau sekolah yang sarana dan prasarananya serta guru-guru yang sangat terbatas. Bagaimana mereka harus 'berlari' dengan keterbatasan yang demikian menghimpit ?

Dengan dasar itulah maka aku menganggap bahwa patokan kelulusan belum dapat dikatakan adil, khususnya bagi sekolah-sekolah yang serba terbatas. Jika untuk kelulusan hanya menganut satu standar ukuran untuk beragam kondisi seperti itu.., menurutku memang kurang adil. Seharusnya, jika memang ingin menetapkan satu standar ukuran maka seharusnya semua kondisi dalam keadaan yang sama, dalam hal ini tentu saja kondisi yang menyangkut faktor eksternal dari anak didik. Kita tentu saja tak dapat menuntut semua anak didik memiliki kemampuan yang merata, tapi kita dapat membuat sarana dan prasarana pendidikan yang sama, termasuk penyediaan guru-guru yang memadai. Hanya sayangnya untuk saat ini hal tersebut belum dapat direalisasikan.

Jika sekarang banyak yang tidak lulus, kita rasanya harus bisa menerima dan tidak menyalahkan anak didik semata. Terlalu banyak faktor yang menjadi penyebab seseorang tidak lulus dalam Ujian Nasional, baik itu faktor intern dan faktor ekstern. Dan tahun ini 'untung'nya ada kesempatan untuk ujian ulang bagi yang tidak lulus Ujian Nasional. Semoga saja bagi anak-anak yang belum lulus Ujian Nasional dapat memanfaatkan Ujian Nasional Ulang dengan sebaik-baiknya dan mereka masih dapat meraih kembali kesempatan yang sempat terlepas dari genggaman.

Kululusan sudah adilkah ?

Kemarin adalah hari yang ditunggu-tunggu dengan harap-harap cemas oleh banyak orang, karena kelulusan SMA yang sederajat diumumkan. Hasil di beberapa daerah dinyatakan bahwa ternyata tingkat kelulusan peserta Ujian Nasional (UN) tahun 2010 mengalami penurunan. Bahkan di beberapa sekolah ada yang tingkat kelulusannya 0%.

Kondisi tersebut tentu saja mau tak mau membuat banyak pihak merasa prihatin. Melihat anak-anak yang tidak lulus menangis histeris, stres bahkan ada yang mencoba bunuh diri membuat trenyuh siapa saja. Membayangkan generasi muda yang seolah kehilangan kepercayaan diri dan putus asa karena terganjal oleh Ujian Nasional membuat kita mengelus dada.

Kondisi di atas menjadi penyebab munculnya banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Apa yang salah dalam pendidikan kita ? Apa yang harus dibenahi ? Walau sejak beberapa tahun terakhir masalah Ujian Nasional menjadi polemik dan menjadi pembicaraan yang hangat di antara para praktisi pendidikan, namun Ujian Nasional tetap menjadi momok bagi pelaku pendidikan. Segalanya seolah dipertaruhkan lewat Ujian Nasional ini.

Bagi sekolah yang beruntung memiliki murid-murid yang 'bermutu' (dalam arti pandai dan memiliki motivasi tinggi untuk menuntut ilmu) maka guru-gurunya pun akan mengajar dengan senang hati. Apalagi ditambah dengan sarana dan prasarana yang memadai, maka proses belajar mengajar jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan. Semua itu membuat jalan menuju kelulusan terasa jauh lebih terbuka.

Namun bagaimana dengan berbagai hal yang menyangkut faktor ekstern dari peserta didik ? Seperti : sekolah-sekolah yang ada di 'pinggiran' yang mendapatkan murid-murid 'sisa' dari sekolah-sekolah favorit, atau sekolah yang sarana dan prasarananya serta guru-guru yang sangat terbatas. Bagaimana mereka harus 'berlari' dengan keterbatasan yang demikian menghimpit ?

Dengan dasar itulah maka aku menganggap bahwa patokan kelulusan belum dapat dikatakan adil, khususnya bagi sekolah-sekolah yang serba terbatas. Jika untuk kelulusan hanya menganut satu standar ukuran untuk beragam kondisi seperti itu.., menurutku memang kurang adil. Seharusnya, jika memang ingin menetapkan satu standar ukuran maka seharusnya semua kondisi dalam keadaan yang sama, dalam hal ini tentu saja kondisi yang menyangkut faktor eksternal dari anak didik. Kita tentu saja tak dapat menuntut semua anak didik memiliki kemampuan yang merata, tapi kita dapat membuat sarana dan prasarana pendidikan yang sama, termasuk penyediaan guru-guru yang memadai. Hanya sayangnya untuk saat ini hal tersebut belum dapat direalisasikan.

Jika sekarang banyak yang tidak lulus, kita rasanya harus bisa menerima dan tidak menyalahkan anak didik semata. Terlalu banyak faktor yang menjadi penyebab seseorang tidak lulus dalam Ujian Nasional, baik itu faktor intern dan faktor ekstern. Dan tahun ini 'untung'nya ada kesempatan untuk ujian ulang bagi yang tidak lulus Ujian Nasional. Semoga saja bagi anak-anak yang belum lulus Ujian Nasional dapat memanfaatkan Ujian Nasional Ulang dengan sebaik-baiknya dan mereka masih dapat meraih kembali kesempatan yang sempat terlepas dari genggaman.

Minggu, 18 April 2010

Di balik peristiwa

Tragedi Koja masih menyisakan duka. Banyak pihak yang dirugikan. Banyak pihak yang menjadi korban. Banyak pihak yang masih menyimpan trauma hingga sekarang. Bahkan, kepala Satpol PP mengatakan bahwa masih banyak anak buahnya yang belum diketahui nasibnya.

Aku.... adalah penonton dari tragedi tersebut dan hatiku benar-benar miris melihat kekerasan yang terjadi. Meskipun media elektronik (televisi) berlomba-lomba mempertontonkan kerusuhan dan aksi anarkis itu, aku tak tahu siapa yang memicu kerusuhan itu pertama kali. Yang aku tahu hanyalah setiap orang bisa berubah menjadi anarkis dan brutal. Setiap orang bisa dikuasai oleh amarah dan ingin menyakiti orang lain.

Itulah wajah negeri kita, yang anarkis dan brutal, yang dipertontonkan oleh berbagai stasiun televisi kita kepada dunia luar. Aku setuju... bahwa informasi harus disampaikan kepada masyarakat. Tapi... apakah tidak bisa informasi disampaikan dengan 'bijaksana' ? Bagaimanapun informasi yang kita dapatkan akan menggiring kita pada sebuah pemahaman dan opini. Jika informasi yang disampaikan 'tidak tepat' maka akan membuat kita sampai pada pemahaman dan opini yang tidak tepat juga.

 Foto oleh Yudhi Mahatma (Antara)

Terus terang.., aku sempat gusar dengan salah seorang pembawa acara di sebuah stasiun televisi yang mewawancarai narasumbernya dengan sangat berapi-api. Ujung-ujungnya, yang terjadi adalah perseteruan antara pihak-pihak yang bertikai malah semakin memanas. Mengapa berita yang disampaikan bisa memicu kebencian pada salah satu pihak, padahal yang terjadi sebenarnya juga masih belum jelas benar ? Mengapa semua justru sibuk mencari siapa yang salah ? Mengapa tidak dicari solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masalah serupa tidak akan pernah terjadi lagi ?

Seandainya media elektronik tak terburu nafsu mengumbar aksi anarkis dan brutal itu dan memilih untuk memberitakan sebuah peristiwa secara 'bijaksana'.... rasanya aroma kebencian dan kemarahan tak akan menyebar sedemikian cepatnya. Bagaimanapun.... media adalah ujung tombak yang dipercaya untuk memenuhi kebutuhan informasi. Semoga tragedi itu dapat menjadi pembelajaran bagi banyak pihak. Semoga....


Di balik peristiwa

Tragedi Koja masih menyisakan duka. Banyak pihak yang dirugikan. Banyak pihak yang menjadi korban. Banyak pihak yang masih menyimpan trauma hingga sekarang. Bahkan, kepala Satpol PP mengatakan bahwa masih banyak anak buahnya yang belum diketahui nasibnya.

Aku.... adalah penonton dari tragedi tersebut dan hatiku benar-benar miris melihat kekerasan yang terjadi. Meskipun media elektronik (televisi) berlomba-lomba mempertontonkan kerusuhan dan aksi anarkis itu, aku tak tahu siapa yang memicu kerusuhan itu pertama kali. Yang aku tahu hanyalah setiap orang bisa berubah menjadi anarkis dan brutal. Setiap orang bisa dikuasai oleh amarah dan ingin menyakiti orang lain.

Itulah wajah negeri kita, yang anarkis dan brutal, yang dipertontonkan oleh berbagai stasiun televisi kita kepada dunia luar. Aku setuju... bahwa informasi harus disampaikan kepada masyarakat. Tapi... apakah tidak bisa informasi disampaikan dengan 'bijaksana' ? Bagaimanapun informasi yang kita dapatkan akan menggiring kita pada sebuah pemahaman dan opini. Jika informasi yang disampaikan 'tidak tepat' maka akan membuat kita sampai pada pemahaman dan opini yang tidak tepat juga.

 Foto oleh Yudhi Mahatma (Antara)

Terus terang.., aku sempat gusar dengan salah seorang pembawa acara di sebuah stasiun televisi yang mewawancarai narasumbernya dengan sangat berapi-api. Ujung-ujungnya, yang terjadi adalah perseteruan antara pihak-pihak yang bertikai malah semakin memanas. Mengapa berita yang disampaikan bisa memicu kebencian pada salah satu pihak, padahal yang terjadi sebenarnya juga masih belum jelas benar ? Mengapa semua justru sibuk mencari siapa yang salah ? Mengapa tidak dicari solusi terbaik untuk mengatasi masalah tersebut dan agar masalah serupa tidak akan pernah terjadi lagi ?

Seandainya media elektronik tak terburu nafsu mengumbar aksi anarkis dan brutal itu dan memilih untuk memberitakan sebuah peristiwa secara 'bijaksana'.... rasanya aroma kebencian dan kemarahan tak akan menyebar sedemikian cepatnya. Bagaimanapun.... media adalah ujung tombak yang dipercaya untuk memenuhi kebutuhan informasi. Semoga tragedi itu dapat menjadi pembelajaran bagi banyak pihak. Semoga....


Jumat, 02 April 2010

Jembatan 2 negara

Indonesia dan Australia adalah 2 negara yang bertetangga, namun sayangnya selama ini hubungan kedua negara ini tak selalu berjalan mulus. Berbagai peristiwa dan kejadian memang sempat membuat hubungan kedua negara itu memburuk. Prasangka yang salah pun semakin memperburuk kondisi yang ada.

Namun, ternyata semenjak 3 tahun yang lalu telah ada "jembatan" yang menghubungkan kedua negara itu. Bukan jembatan dalam arti fisik, namun jembatan itu berupa "program kemitraan" yang dijalin oleh Australia dengan Indonesia. Program kemitraan itu bernama BRIDGE atau Building Relationship and Growing Engament Australia – Indonesia.

 Gambar diculik dari sini

Program BRIDGE ini mendapat kucuran dana dari Yayasan Myer dan AusAid. Dalam program BRIDGE inilah jembatan persahabatan antara Indonesia dan Australia terjalin melalui dunia pendidikan. Banyak hal yang telah dilakukan program itu antara lain membangun sekolah di Indonesia. Selain itu BRIDGE juga memberikan kesempata kepada guru-guru dari berbagai sekolah di Indonesia untuk melakukan studi banding di sekolah-sekolah yang ada di Australia.

Guru-guru yang dikirim ke Australia itu selain mendapat kesempatan untuk mengajar di sekolah-sekolah setempat, juga mendapat kesempatan luas belajar karena mereka tinggal di rumah-rumah guru Australia. Walau mereka hanya tinggal di Australia selama 3 minggu (21 hari) namun ternyata banyak sekali pengalaman berharga yang dapat dipetik. Rata-rata mereka terkesan dengan minat dari warga Australia dalam mempelajari bahasa dan budaya Indonesia, karena sebagian besar sekolah di Australia ternyata juga mempunyai pelajaran Bahasa Indonesia.

Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang diperoleh dari program itu. Semua guru yang pulang dari Australia setelah mengikuti program BRIDGE tak segan-segan untuk menerapkan hal-hal positif yang mereka peroleh dari Australia di sekolahnya masing-masing. Hal itu dilakukan semata-mata untuk memajukan dunia pendidikan umumnya, dan khususnya kemajuan anak didiknya masing-masing.

Banyak pihak yang sudah mengakui manfaat dari program BRIDGE tersebut, bukan hanya guru yang mendapatkan kesempatan ke Australia namun juga pihak sekolah dan para murid. Dengan terobosan-terobosan yang dilakukan oleh guru-guru yang baru pulang dari Australia, ternyata membuat suasana belajar mengajar lebih menggairahkan.

Semoga jembatan yang sudah dibangun lewat dunia pendidikan ini dapat menjadi jembatan bagi hubungan yang harmonis antara Indonesia dan Australia. Bagaimanapun juga, pengalaman dan pelajaran dapat kita petik dari siapa saja, bahkan dari orang yang paling kita benci sekalipun. Lewat program BRIDGE ini setidaknya kita mendapatkan 2 hal positif yaitu : adanya kesempatan untuk memajukan dunia pendidikan (berikut tenaga pendidiknya) dan membuat hubungan yang harmonis antara Australia dan Indonesia.

Jadi..., mengapa kita tidak memanfaatkan kesempatan untuk membuat dunia yang damai dan yang lebih baik bagi generasi penerus kita ?

*terinspirasi oleh tayangan Kick Andy : Berguru ke Negeri Kanguru*

Jembatan 2 negara

Indonesia dan Australia adalah 2 negara yang bertetangga, namun sayangnya selama ini hubungan kedua negara ini tak selalu berjalan mulus. Berbagai peristiwa dan kejadian memang sempat membuat hubungan kedua negara itu memburuk. Prasangka yang salah pun semakin memperburuk kondisi yang ada.

Namun, ternyata semenjak 3 tahun yang lalu telah ada "jembatan" yang menghubungkan kedua negara itu. Bukan jembatan dalam arti fisik, namun jembatan itu berupa "program kemitraan" yang dijalin oleh Australia dengan Indonesia. Program kemitraan itu bernama BRIDGE atau Building Relationship and Growing Engament Australia – Indonesia.

 Gambar diculik dari sini

Program BRIDGE ini mendapat kucuran dana dari Yayasan Myer dan AusAid. Dalam program BRIDGE inilah jembatan persahabatan antara Indonesia dan Australia terjalin melalui dunia pendidikan. Banyak hal yang telah dilakukan program itu antara lain membangun sekolah di Indonesia. Selain itu BRIDGE juga memberikan kesempata kepada guru-guru dari berbagai sekolah di Indonesia untuk melakukan studi banding di sekolah-sekolah yang ada di Australia.

Guru-guru yang dikirim ke Australia itu selain mendapat kesempatan untuk mengajar di sekolah-sekolah setempat, juga mendapat kesempatan luas belajar karena mereka tinggal di rumah-rumah guru Australia. Walau mereka hanya tinggal di Australia selama 3 minggu (21 hari) namun ternyata banyak sekali pengalaman berharga yang dapat dipetik. Rata-rata mereka terkesan dengan minat dari warga Australia dalam mempelajari bahasa dan budaya Indonesia, karena sebagian besar sekolah di Australia ternyata juga mempunyai pelajaran Bahasa Indonesia.

Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang diperoleh dari program itu. Semua guru yang pulang dari Australia setelah mengikuti program BRIDGE tak segan-segan untuk menerapkan hal-hal positif yang mereka peroleh dari Australia di sekolahnya masing-masing. Hal itu dilakukan semata-mata untuk memajukan dunia pendidikan umumnya, dan khususnya kemajuan anak didiknya masing-masing.

Banyak pihak yang sudah mengakui manfaat dari program BRIDGE tersebut, bukan hanya guru yang mendapatkan kesempatan ke Australia namun juga pihak sekolah dan para murid. Dengan terobosan-terobosan yang dilakukan oleh guru-guru yang baru pulang dari Australia, ternyata membuat suasana belajar mengajar lebih menggairahkan.

Semoga jembatan yang sudah dibangun lewat dunia pendidikan ini dapat menjadi jembatan bagi hubungan yang harmonis antara Indonesia dan Australia. Bagaimanapun juga, pengalaman dan pelajaran dapat kita petik dari siapa saja, bahkan dari orang yang paling kita benci sekalipun. Lewat program BRIDGE ini setidaknya kita mendapatkan 2 hal positif yaitu : adanya kesempatan untuk memajukan dunia pendidikan (berikut tenaga pendidiknya) dan membuat hubungan yang harmonis antara Australia dan Indonesia.

Jadi..., mengapa kita tidak memanfaatkan kesempatan untuk membuat dunia yang damai dan yang lebih baik bagi generasi penerus kita ?

*terinspirasi oleh tayangan Kick Andy : Berguru ke Negeri Kanguru*

Selasa, 30 Maret 2010

Siapa yang salah...?

Kawan.., kali ini aku hanya ingin berbagi sebuah cerita, yang mungkin saja dapat terjadi di mana saja dan dialami oleh siapa saja. Cerita ini... bisa dianggap sebagai contoh kasus, yang perlu untuk didiskusikan bagaimana menindaklanjutinya.

Oke..., agar tak berpanjang kata, kita mulai saja membaca ceritanya. Cerita ini mengambil setting sebuah sekolah dasar di suatu kota yang tak tak dapat digolongkan sebagai kota besar. Cerita lengkapnya begini :

Suatu hari, Adi, seorang siswa kelas 3 Sekolah Dasar masuk ke ruang guru. Di tangannya ada secarik kertas yang kemudian diserahkannya pada seorang guru yang kebetulan sedang berada di ruangan tersebut.

"Bu.., ini saya temukan di laci meja saya," kata Adi sambil menyerahkan kertas itu.
"Milik siapa kertas ini ?" tanya bu guru tersebut.
"Mungkin milik anak kelas 6 bu, karena tadi pagi kelas saya dipakai anak kelas 6 untuk try out" jawab Adi dengan sopan.
"Ya.., terima kasih. Segera kembali ke kelasmu," perintah guru itu.

Tak lama setelah Adi kembali ke kelasnya, ibu guru itu membuka lembaran kertas yang ada di tangannya. Dalam sekejap mukanya memerah menahan amarah. Ternyata, dalam lembaran kertas yang sudah kumal itu tertulis kata-kata yang sangat tidak sopan bahkan tak pantas dituliskan oleh seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Salah satunya berisi kata-kata yang jika dituliskan ke dalam bahasa Indonesia yang sopan berarti "berhubungan intim" atau "ML".

Setelah sempat shock membaca tulisan itu, yang menguasai perasaannya adalah rasa marah yang meluap. Dia bertekad untuk mengetahui siapa siswa sekolah itu yang telah menulis kata-kata yang sangat tidak pantas begitu. Dia benar-benar tak menyangka bahwa salah satu anak didiknya ada yang 'rusak' seperti itu.

Bergegas dia masuk ke ruang kelas 3, dimana Adi berada. Sambil menunjukkan kertas dari Adi tadi, dia berdiri di depan kelas dan menanyakan kepada siswa-siswa kelas 3 apakah ada yang tahu kertas itu milik siapa. Kebanyakan anak-anak kelas 3 menjawab bahwa itu kertas milik anak kelas 6.

Tak mau membuang waktu, Ibu guru itu menuju kelas 6. Setelah mengetuk pintu, dia meminta ijin kepada Wali Kelas 6 untuk berbicara sebentar dengan anak-anak kelas 6. Seperti di kelas 3 tadi, dia menunjukkan kertas itu dan menanyakan apakan siswa kelas 6 tahu siapa pemilik kertas itu. Dan tak diduga, semua siswa kelas 6 menyebutkan satu nama "Danang, buuuu..."

Danang pun kemudian ditanya apakah betul kertas itu miliknya, dan Danang pun mengakuinya. Selanjutnya ketika Danang ditanya apakah dia masih menyimpan kertas-kertas seperti itu lainnya, sekali lagi dia mengakuinya. Pengakuan Danang benar-benar membuat shock kedua gurunya tersebut, apalagi setelah Guru Wali Kelas ikut membaca isi kertas yang dipegang Ibu Guru itu.

Selanjutnya, dengan bergegas Guru Wali Kelas 6 menghampiri Danang. Kemudian, seluruh ruangan dikejutkan oleh bunyi tamparan sebanyak 4 kali. Ternyata, tamparan itu berasal dari tangan Guru Wali Kelas 6 yang mendarat di pipi Danang. Hal itu dilakukan oleh Guru Wali Kelas mungkin terdorong oleh emosi dan keterkejutan yang sangat.

Belum cukup dengan tamparan itu, Guru Wali Murid mengeluarkan perkataan yang tak kalah mengejutkannya, "Danang, besok kedua orang tuamu harus datang menghadap Kepala Sekolah. Jika tidak, maka kamu harus keluar dari sekolah ini."

Itulah cerita yang aku bawa sebagai contoh kasus disini. Sebuah peristiwa yang bisa terjadi dimana saja dan dialami siapa saja. Sebuah kejadian yang ternyata bisa terjadi pada seorang anak Sekolah Dasar. Mengejutkan ? Memang...! Siapa yang menyangka bahwa anak-anak Sekolah Dasar sudah mengenal istilah-istilah orang dewasa ? Dari siapa mereka mempelajari hal itu ?

Pertanyaan yang kemudian muncul terasa lebih menakutkan. Bagaimana mereka bisa mengenal istilah-istilah itu ? Sekedar mendengar atau bahkan sudah melihat ? Astagfirullah..... Betapa mirisnya kejadian itu, dan betapa kita harus segera berbuat untuk menyelamatkan generasi muda kita agar masa depan mereka tak hancur.

Siapa yang salah dalam contoh kasus di atas ? Danang yang entah bagaimana telah berbuat dan berkata sesuatu yang sangat tak pantas untuknya ? Ataukah kedua orang tuanya yang tidak tahu perkembangan Danang ? Atau justru kedua orang tuanya yang menyebabkan Danang telah berbuat sejauh itu ? Atau lingkungan yang salah sehingga Danang mencontoh sesuatu yang salah ? Atau.... Guru Wali Kelas yang tak mampu menahan emosi sehingga menampar Danang di depan semua teman sekalasnya ?

Siapa yang salah dalam contoh kasus di atas ? Jika kita semua terlalu sibuk mencari siapa yang salah maka tak akan ada penyelesaian yang tepat untuk kasus di atas. Rasanya semua pihak perlu untuk duduk bersama, membicarakan semuanya dengan kepala dingin dengan satu tujuan yaitu : menyelamatkan masa depan Danang (dan anak-anak lain yang mungkin juga telah berbuat yang sama dengan Danang).

Mari... kita dampingi putra putri kita agar mereka tak sampai kehilangan kesempatan meraih masa depan yang gemilang.

*foto diambil dari sini*