Hidup kita senantiasa bersinggungan dengan berbagai hal yang bukan merupakan privasi kita. Seringkali kita berurusan dengan hal-hal yang menjadi milik umum, milik bersama. Akan sangat mudah bagi kita untuk menjaga segala apa yang menjadi milik pribadi kita. Namun untuk menumbuhkan rasa ikut memiliki terhadap barang-barang yang bukan milik kita apakah juga semudah itu ?
Ternyata, rasa ikut memiliki terhadap barang-barang yang bukan merupakan milik pribadi belum dimiliki oleh semua orang. Yang aku tahu, selama ini beberapa fasilitas umum yang ada di Indonesia tidak terawat dengan baik. Tempat-tempat seperti itu seringkali rusak dan kotor, bahkan tak jarang tangan-tangan jahil memperburuk penampilannya dengan aneka coretan yang sebetulnya tidak perlu.

Usaha maksimalku membenahi buku BOS (cover buku Sains sampai harus ditembel)
Ternyata, rasa ikut memiliki terhadap barang-barang yang bukan merupakan milik pribadi belum dimiliki oleh semua orang. Yang aku tahu, selama ini beberapa fasilitas umum yang ada di Indonesia tidak terawat dengan baik. Tempat-tempat seperti itu seringkali rusak dan kotor, bahkan tak jarang tangan-tangan jahil memperburuk penampilannya dengan aneka coretan yang sebetulnya tidak perlu.
Contoh yang paling gampang adalah rasa ikut memiliki kota dimana kita tinggal. Kalau kita merasa ikut memilikinya, maka harusnya kita peduli dengan kebersihan dan keindahannya, bukan ? Tapi ternyata..., seringkali kita justru ikut andil membuatnya menjadi kotor. Misalkan saja saat kita sedang berkendaraan, seringkali kita dengan sengaja membuang sampah di jalan. Bisa saja kita mengatakan bahwa sampah yang kita buang adalah bungkus permen yang kecil. Tapi, kalau setiap orang berpikiran sama dengan kita, maka di jalan-jalan kota itu akan penuh dengan sampah bungkus permen.
Itu baru bungkus permen, belum lagi kalau ada yang yang membuang kantong plastik bekas tempat kue, kulit pisang, bekas botol air mineral dan lain-lain. Jika semua orang bersikap seperti itu, bisa dipastikan jalan-jalan di kota yang kita tinggali akan sangat kotor. Kalau semua orang berpikir bahwa ada petugas kebersihan yang membersihkannya, maka itu menunjukkan bahwa kita memang benar-benar tidak memiliki rasa ikut memiliki terhadap kota kita sendiri.
Beberapa hari yang lalu aku kembali dihadapkan dengan ketiadaan rasa ikut memiliki itu lagi. Suatu sore Shasa meminta bantuanku untuk memberi sampul buku-buku BOS yang dipinjamkan oleh pihak sekolah kepadanya. Di bangku kelas 4 ini Shasa mendapatkan pinjaman buku BOS sebanyak 3 buah, yaitu buku paket Sains, Bahasa Indonesia dan Matematika. Shasa mengeluh karena buku-buku yang dipinjamkan kepadanya, meminjam istilah Shasa, jelek banget !!
Waktu buku-buku itu diserahkannya kepadaku, aku trenyuh sekali. Buku-buku BOS yang dipinjamkan pihak sekolah kepada murid-muridnya setiap tahun itu ternyata sudah parah sekali kondisinya, terlebih buku Sains-nya. Mungkin saja murid yang terdahulu dipinjami buku itu tidak merawatnya dengan baik, sehingga cover buku sudah terkoyak, ujung-ujung buku berlipat semua. Sisi pinggir buku (bagian yang dijilid) sudah koyak, malah ada yang sudah diisolasi.
Kondisi buku saat pertama kali diterima ShasaItu baru bungkus permen, belum lagi kalau ada yang yang membuang kantong plastik bekas tempat kue, kulit pisang, bekas botol air mineral dan lain-lain. Jika semua orang bersikap seperti itu, bisa dipastikan jalan-jalan di kota yang kita tinggali akan sangat kotor. Kalau semua orang berpikir bahwa ada petugas kebersihan yang membersihkannya, maka itu menunjukkan bahwa kita memang benar-benar tidak memiliki rasa ikut memiliki terhadap kota kita sendiri.
Beberapa hari yang lalu aku kembali dihadapkan dengan ketiadaan rasa ikut memiliki itu lagi. Suatu sore Shasa meminta bantuanku untuk memberi sampul buku-buku BOS yang dipinjamkan oleh pihak sekolah kepadanya. Di bangku kelas 4 ini Shasa mendapatkan pinjaman buku BOS sebanyak 3 buah, yaitu buku paket Sains, Bahasa Indonesia dan Matematika. Shasa mengeluh karena buku-buku yang dipinjamkan kepadanya, meminjam istilah Shasa, jelek banget !!
Waktu buku-buku itu diserahkannya kepadaku, aku trenyuh sekali. Buku-buku BOS yang dipinjamkan pihak sekolah kepada murid-muridnya setiap tahun itu ternyata sudah parah sekali kondisinya, terlebih buku Sains-nya. Mungkin saja murid yang terdahulu dipinjami buku itu tidak merawatnya dengan baik, sehingga cover buku sudah terkoyak, ujung-ujung buku berlipat semua. Sisi pinggir buku (bagian yang dijilid) sudah koyak, malah ada yang sudah diisolasi.
Akhirnya, aku memerlukan banyak waktu untuk 'menangani' buku pinjaman itu. Cover buku yang sudah terkoyak terpaksa aku tambal dengan kertas lain. Bagian sisi buku aku isolasi semua, dan (yang paling menyebalkan) aku harus membuka satu persatu ujung halaman yang berlipat-lipat. Baru setelah semua selesai, aku memasangkan sampul plastik. Lama dan melelahkan sebenarnya...

Usaha maksimalku membenahi buku BOS (cover buku Sains sampai harus ditembel)
Aku yang selama ini sangat rewel untuk urusan kebersihan buku, sangat trenyuh melihat buku-buku BOS yang tidak terawat seperti itu. Yang ada dalam pikiranku cuma satu, kalau bukunya saja sudah rusak seperti itu, bagaimana anak mau tertarik untuk mempelajari isinya ? Mengapa murid-murid yang sudah jelas-jelas diberi pinjaman buku gratis dari sekolah tidak mau merawatnya dengan baik ? Apakah mereka tidak menyadari bahwa buku-buku itu nantinya akan dipakai juga oleh adik kelas mereka ?
Aku pikir pihak sekolah sudah harus mengajarkan arti rasa memiliki itu kepada seluruh anak didiknya. Bukan saja terhadap buku-buku BOS yang dipinjamkan, tetapi juga terhadap seluruh fasilitas sekolah, seperti buku-buku yang ada di perpustakaan, inventaris yang ada di ruang kelas masing-masing, bahkan sampai pada lingkungan sekolah (termasuk kamar mandi dan WC).
Semoga dengan ditanamkannya rasa ikut memiliki sejak dini, anak-anak itu nanti akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kepedulian yang tinggi kepada lingkungannya. Selanjutnya, mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang bertanggung jawab tidak saja atas kehidupan pribadinya namun juga kepada kehidupan orang lain. Semoga....









