Judulnya keren ya..? Hehehe, entah mengapa aku kok tiba-tiba ingin memakai kata-kata itu. Tapi jangan membayangkan 'aksi' yang heboh dulu. Yang ingin aku ceritakan adalah 'aksi' Shasa dalam 'berbisnis' kecil-kecilan... (^_^) Pengen tahu kan...?
Ceritanya berawal waktu Shasa kelas 2 SD, dua tahun yang lalu. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba saja Shasa ingin 'jualan'. Waktu itu, Shasa mencoba untuk mendapatkan uang dari hasil menjual pembatas buku. Meskipun hanya dijual pada teman-teman sekelasnya, aku tetap saja kewalahan. Maklum saja, pembatas buku yang dijual Shasa itu adalah hasil karyaku. Shasa hanya membantuku memasangkan pita kecil pada pembatas buku, sebagai sentuhan akhirnya.
Ini sisa-sisa pembatas buku yang tidak laku terjual (mungkin karena terlalu sederhana), sementara pembatas buku yang lain yang lebih bagus sudah habis terjual
Ini sisa-sisa pembatas buku yang tidak laku terjual (mungkin karena terlalu sederhana), sementara pembatas buku yang lain yang lebih bagus sudah habis terjualMeskipun sederhana, tapi pekerjaan membuat pembatas buku ~dengan gambar dan warna kertas sesuai pesanan teman-teman Shasa~ ternyata menyita waktuku. Pembatas buku hasil karyaku itu dijual Shasa perlembarnya Rp. 500. Setelah aku kewalahan melayani pesanan teman-teman Shasa, aku minta Shasa menghentikan aksinya. Dan, hasil penjualannya murni menjadi milik Shasa, aku tak dibaginya sepeserpun...! *gemes mode on*
Selanjutnya waktu kelas 3 SD, Shasa punya ide yang lain. Dia ingin menjual gelang, kalung dan cincin dari hasil kerajinan tangannya sendiri. Akhirnya, aku dan suami belanja aneka manik-manik untuk keperluan itu. Berbeda dengan pembatas buku, untuk barang dagangannya kali ini Shasa bisa membuat sendiri dan aku hanya 'ditugasi' untuk mengikat talinya. Untuk dagangannya kali ini Shasa menjualnya dengan harga Rp. 1.500 s/d Rp. 2.500. Dan seperti sebelumnya, hasil penjualan itu diambil Shasa semua untuk ditabungnya.
Ini sisa hasil karya Shasa yang juga tak laku terjual, ternyata banyak yang tidak suka warna manik-manik itu
Sepertinya, setiap tahun Shasa punya ide untuk mendapatkan uang selain dari orang tua dan eyangnya. Karena tahun ini, saat kelas 4 SD, Shasa punya ide baru... yaitu menjual karet penghapus. Anehnya, ide itu selalu muncul setelah Shasa selesai menjalani UTS atau UAS. Mungkin kegiatan itu dilakukan Shasa sebagai sarana refreshing ya ?
Kali ini Shasa tidak perlu membuat sendiri barang dagangannya, karena dia sudah punya banyak sekali karet penghapus. Sejak kecil Shasa memang sudah koleksi karet penghapus, dan mungkin karena bosan, kemudian dia menjualnya kepada teman-teman sekelasnya. Kebetulan, beberapa hari yang lalu aku mengomentari koleksi karet penghapusnya itu mau diapakan setelah berkumpul sekian lama. Jawab Shasa saat itu adalah, " ya nanti kalau sudah bosan, ya dijual to..." Mendengar jawabannya itu aku menjawab, "ya nggak bisa to mbak, wong sudah dibeli kok dijual lagi." Mungkin saja kata-kataku itu menginspirasinya.
Aku dan suami sampai heran kenapa tiba-tiba dia punya ide untuk menjual barang koleksinya. Tapi kami membiarkan saja, apalagi karet penghapus itu memang milik Shasa sendiri. Awalnya Shasa mengambil keuntungan Rp. 500 untuk setiap karet penghapus yang dijualnya. Tapi aku melarangnya. Soalnya harga karet itu waktu aku beli berkisar Rp. 1.000 s/d Rp. 2.500, kalau ditambah 'laba' Rp. 500 jadinya kok kemahalan menurutku. Jadinya, Shasa aku minta tetap menjualnya sesuai dengan harga belinya dulu.
Aku saat ini hanya ingin Shasa tidak 'money oriented' dengan mengejar laba sebanyak-banyaknya. Aku mengijinkannya 'beraksi' supaya Shasa punya pengalaman sendiri bahwa untuk mendapatkan uang, perlu usaha dan kerja keras. Bahwa perlu keuletan dalam menjalankan usaha. Aku memang mendukung niat Shasa, sekaligus berupaya menumbuhkan jiwa entrepeneur padanya. Siapa tahu, kelak Shasa bisa menjadi pengusaha yang sukses kan..? Amin.
Itulah koleksi karet penghapus Shasa. Siapa yang ingin beli....?
Selanjutnya waktu kelas 3 SD, Shasa punya ide yang lain. Dia ingin menjual gelang, kalung dan cincin dari hasil kerajinan tangannya sendiri. Akhirnya, aku dan suami belanja aneka manik-manik untuk keperluan itu. Berbeda dengan pembatas buku, untuk barang dagangannya kali ini Shasa bisa membuat sendiri dan aku hanya 'ditugasi' untuk mengikat talinya. Untuk dagangannya kali ini Shasa menjualnya dengan harga Rp. 1.500 s/d Rp. 2.500. Dan seperti sebelumnya, hasil penjualan itu diambil Shasa semua untuk ditabungnya.
Ini sisa hasil karya Shasa yang juga tak laku terjual, ternyata banyak yang tidak suka warna manik-manik ituSepertinya, setiap tahun Shasa punya ide untuk mendapatkan uang selain dari orang tua dan eyangnya. Karena tahun ini, saat kelas 4 SD, Shasa punya ide baru... yaitu menjual karet penghapus. Anehnya, ide itu selalu muncul setelah Shasa selesai menjalani UTS atau UAS. Mungkin kegiatan itu dilakukan Shasa sebagai sarana refreshing ya ?
Kali ini Shasa tidak perlu membuat sendiri barang dagangannya, karena dia sudah punya banyak sekali karet penghapus. Sejak kecil Shasa memang sudah koleksi karet penghapus, dan mungkin karena bosan, kemudian dia menjualnya kepada teman-teman sekelasnya. Kebetulan, beberapa hari yang lalu aku mengomentari koleksi karet penghapusnya itu mau diapakan setelah berkumpul sekian lama. Jawab Shasa saat itu adalah, " ya nanti kalau sudah bosan, ya dijual to..." Mendengar jawabannya itu aku menjawab, "ya nggak bisa to mbak, wong sudah dibeli kok dijual lagi." Mungkin saja kata-kataku itu menginspirasinya.
Aku dan suami sampai heran kenapa tiba-tiba dia punya ide untuk menjual barang koleksinya. Tapi kami membiarkan saja, apalagi karet penghapus itu memang milik Shasa sendiri. Awalnya Shasa mengambil keuntungan Rp. 500 untuk setiap karet penghapus yang dijualnya. Tapi aku melarangnya. Soalnya harga karet itu waktu aku beli berkisar Rp. 1.000 s/d Rp. 2.500, kalau ditambah 'laba' Rp. 500 jadinya kok kemahalan menurutku. Jadinya, Shasa aku minta tetap menjualnya sesuai dengan harga belinya dulu.
Aku saat ini hanya ingin Shasa tidak 'money oriented' dengan mengejar laba sebanyak-banyaknya. Aku mengijinkannya 'beraksi' supaya Shasa punya pengalaman sendiri bahwa untuk mendapatkan uang, perlu usaha dan kerja keras. Bahwa perlu keuletan dalam menjalankan usaha. Aku memang mendukung niat Shasa, sekaligus berupaya menumbuhkan jiwa entrepeneur padanya. Siapa tahu, kelak Shasa bisa menjadi pengusaha yang sukses kan..? Amin.
Itulah koleksi karet penghapus Shasa. Siapa yang ingin beli....?












