Minggu, 17 Januari 2010

Shasa beraksi lagi

Judulnya keren ya..? Hehehe, entah mengapa aku kok tiba-tiba ingin memakai kata-kata itu. Tapi jangan membayangkan 'aksi' yang heboh dulu. Yang ingin aku ceritakan adalah 'aksi' Shasa dalam 'berbisnis' kecil-kecilan... (^_^) Pengen tahu kan...?

Ceritanya berawal waktu Shasa kelas 2 SD, dua tahun yang lalu. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba saja Shasa ingin 'jualan'. Waktu itu, Shasa mencoba untuk mendapatkan uang dari hasil menjual pembatas buku. Meskipun hanya dijual pada teman-teman sekelasnya, aku tetap saja kewalahan. Maklum saja, pembatas buku yang dijual Shasa itu adalah hasil karyaku. Shasa hanya membantuku memasangkan pita kecil pada pembatas buku, sebagai sentuhan akhirnya.

Ini sisa-sisa pembatas buku yang tidak laku terjual (mungkin karena terlalu sederhana), sementara pembatas buku yang lain yang lebih bagus sudah habis terjual


Meskipun sederhana, tapi pekerjaan membuat pembatas buku ~dengan gambar dan warna kertas sesuai pesanan teman-teman Shasa~ ternyata menyita waktuku. Pembatas buku hasil karyaku itu dijual Shasa perlembarnya Rp. 500. Setelah aku kewalahan melayani pesanan teman-teman Shasa, aku minta Shasa menghentikan aksinya. Dan, hasil penjualannya murni menjadi milik Shasa, aku tak dibaginya sepeserpun...! *gemes mode on*

Selanjutnya waktu kelas 3 SD, Shasa punya ide yang lain. Dia ingin menjual gelang, kalung dan cincin dari hasil kerajinan tangannya sendiri. Akhirnya, aku dan suami belanja aneka manik-manik untuk keperluan itu. Berbeda dengan pembatas buku, untuk barang dagangannya kali ini Shasa bisa membuat sendiri dan aku hanya 'ditugasi' untuk mengikat talinya. Untuk dagangannya kali ini Shasa menjualnya dengan harga Rp. 1.500 s/d Rp. 2.500. Dan seperti sebelumnya, hasil penjualan itu diambil Shasa semua untuk ditabungnya.


Ini sisa hasil karya Shasa yang juga tak laku terjual, ternyata banyak yang tidak suka warna manik-manik itu

Sepertinya, setiap tahun Shasa punya ide untuk mendapatkan uang selain dari orang tua dan eyangnya. Karena tahun ini, saat kelas 4 SD, Shasa punya ide baru... yaitu menjual karet penghapus. Anehnya, ide itu selalu muncul setelah Shasa selesai menjalani UTS atau UAS. Mungkin kegiatan itu dilakukan Shasa sebagai sarana refreshing ya ?

Kali ini Shasa tidak perlu membuat sendiri barang dagangannya, karena dia sudah punya banyak sekali karet penghapus. Sejak kecil Shasa memang sudah koleksi karet penghapus, dan mungkin karena bosan, kemudian dia menjualnya kepada teman-teman sekelasnya. Kebetulan, beberapa hari yang lalu aku mengomentari koleksi karet penghapusnya itu mau diapakan setelah berkumpul sekian lama. Jawab Shasa saat itu adalah, " ya nanti kalau sudah bosan, ya dijual to..." Mendengar jawabannya itu aku menjawab, "ya nggak bisa to mbak, wong sudah dibeli kok dijual lagi." Mungkin saja kata-kataku itu menginspirasinya.

Aku dan suami sampai heran kenapa tiba-tiba dia punya ide untuk menjual barang koleksinya. Tapi kami membiarkan saja, apalagi karet penghapus itu memang milik Shasa sendiri. Awalnya Shasa mengambil keuntungan Rp. 500 untuk setiap karet penghapus yang dijualnya. Tapi aku melarangnya. Soalnya harga karet itu waktu aku beli berkisar Rp. 1.000 s/d Rp. 2.500, kalau ditambah 'laba' Rp. 500 jadinya kok kemahalan menurutku. Jadinya, Shasa aku minta tetap menjualnya sesuai dengan harga belinya dulu.



Ini timbunan koleksi karet penghapus Shasa

Campuran (bintang, kerang, hati, bundar, dll)

Tokoh-2 animasi

Biskuit dan sandwich

Permen dan ice cream

Yang dikemas dalam wadah yang cantik

Fashion (baju, sepatu, sandal dan topi)

Telephone

Binatang

Karet penghapus yg bisa dibongkar pasang

Campuran : alat-2 pertukangan, sikat gigi, alat-2 makan, alat tulis, dll

Buah, sayur dan bunga

Paket makanan

Aku saat ini hanya ingin Shasa tidak 'money oriented' dengan mengejar laba sebanyak-banyaknya. Aku mengijinkannya 'beraksi' supaya Shasa punya pengalaman sendiri bahwa untuk mendapatkan uang, perlu usaha dan kerja keras. Bahwa perlu keuletan dalam menjalankan usaha. Aku memang mendukung niat Shasa, sekaligus berupaya menumbuhkan jiwa entrepeneur padanya. Siapa tahu, kelak Shasa bisa menjadi pengusaha yang sukses kan..? Amin.

Itulah koleksi karet penghapus Shasa. Siapa yang ingin beli....?

Shasa beraksi lagi

Judulnya keren ya..? Hehehe, entah mengapa aku kok tiba-tiba ingin memakai kata-kata itu. Tapi jangan membayangkan 'aksi' yang heboh dulu. Yang ingin aku ceritakan adalah 'aksi' Shasa dalam 'berbisnis' kecil-kecilan... (^_^) Pengen tahu kan...?

Ceritanya berawal waktu Shasa kelas 2 SD, dua tahun yang lalu. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba saja Shasa ingin 'jualan'. Waktu itu, Shasa mencoba untuk mendapatkan uang dari hasil menjual pembatas buku. Meskipun hanya dijual pada teman-teman sekelasnya, aku tetap saja kewalahan. Maklum saja, pembatas buku yang dijual Shasa itu adalah hasil karyaku. Shasa hanya membantuku memasangkan pita kecil pada pembatas buku, sebagai sentuhan akhirnya.

Ini sisa-sisa pembatas buku yang tidak laku terjual (mungkin karena terlalu sederhana), sementara pembatas buku yang lain yang lebih bagus sudah habis terjual


Meskipun sederhana, tapi pekerjaan membuat pembatas buku ~dengan gambar dan warna kertas sesuai pesanan teman-teman Shasa~ ternyata menyita waktuku. Pembatas buku hasil karyaku itu dijual Shasa perlembarnya Rp. 500. Setelah aku kewalahan melayani pesanan teman-teman Shasa, aku minta Shasa menghentikan aksinya. Dan, hasil penjualannya murni menjadi milik Shasa, aku tak dibaginya sepeserpun...! *gemes mode on*

Selanjutnya waktu kelas 3 SD, Shasa punya ide yang lain. Dia ingin menjual gelang, kalung dan cincin dari hasil kerajinan tangannya sendiri. Akhirnya, aku dan suami belanja aneka manik-manik untuk keperluan itu. Berbeda dengan pembatas buku, untuk barang dagangannya kali ini Shasa bisa membuat sendiri dan aku hanya 'ditugasi' untuk mengikat talinya. Untuk dagangannya kali ini Shasa menjualnya dengan harga Rp. 1.500 s/d Rp. 2.500. Dan seperti sebelumnya, hasil penjualan itu diambil Shasa semua untuk ditabungnya.


Ini sisa hasil karya Shasa yang juga tak laku terjual, ternyata banyak yang tidak suka warna manik-manik itu

Sepertinya, setiap tahun Shasa punya ide untuk mendapatkan uang selain dari orang tua dan eyangnya. Karena tahun ini, saat kelas 4 SD, Shasa punya ide baru... yaitu menjual karet penghapus. Anehnya, ide itu selalu muncul setelah Shasa selesai menjalani UTS atau UAS. Mungkin kegiatan itu dilakukan Shasa sebagai sarana refreshing ya ?

Kali ini Shasa tidak perlu membuat sendiri barang dagangannya, karena dia sudah punya banyak sekali karet penghapus. Sejak kecil Shasa memang sudah koleksi karet penghapus, dan mungkin karena bosan, kemudian dia menjualnya kepada teman-teman sekelasnya. Kebetulan, beberapa hari yang lalu aku mengomentari koleksi karet penghapusnya itu mau diapakan setelah berkumpul sekian lama. Jawab Shasa saat itu adalah, " ya nanti kalau sudah bosan, ya dijual to..." Mendengar jawabannya itu aku menjawab, "ya nggak bisa to mbak, wong sudah dibeli kok dijual lagi." Mungkin saja kata-kataku itu menginspirasinya.

Aku dan suami sampai heran kenapa tiba-tiba dia punya ide untuk menjual barang koleksinya. Tapi kami membiarkan saja, apalagi karet penghapus itu memang milik Shasa sendiri. Awalnya Shasa mengambil keuntungan Rp. 500 untuk setiap karet penghapus yang dijualnya. Tapi aku melarangnya. Soalnya harga karet itu waktu aku beli berkisar Rp. 1.000 s/d Rp. 2.500, kalau ditambah 'laba' Rp. 500 jadinya kok kemahalan menurutku. Jadinya, Shasa aku minta tetap menjualnya sesuai dengan harga belinya dulu.



Ini timbunan koleksi karet penghapus Shasa

Campuran (bintang, kerang, hati, bundar, dll)

Tokoh-2 animasi

Biskuit dan sandwich

Permen dan ice cream

Yang dikemas dalam wadah yang cantik

Fashion (baju, sepatu, sandal dan topi)

Telephone

Binatang

Karet penghapus yg bisa dibongkar pasang

Campuran : alat-2 pertukangan, sikat gigi, alat-2 makan, alat tulis, dll

Buah, sayur dan bunga

Paket makanan

Aku saat ini hanya ingin Shasa tidak 'money oriented' dengan mengejar laba sebanyak-banyaknya. Aku mengijinkannya 'beraksi' supaya Shasa punya pengalaman sendiri bahwa untuk mendapatkan uang, perlu usaha dan kerja keras. Bahwa perlu keuletan dalam menjalankan usaha. Aku memang mendukung niat Shasa, sekaligus berupaya menumbuhkan jiwa entrepeneur padanya. Siapa tahu, kelak Shasa bisa menjadi pengusaha yang sukses kan..? Amin.

Itulah koleksi karet penghapus Shasa. Siapa yang ingin beli....?

Jumat, 15 Januari 2010

Rasa yang membara

Salahkah aku kawan
ketika hatiku membenci
seseorang yang tega lukai hati
dan tinggalkan nyeri

Salahkah aku kawan
ketika tersimpan bara
yang kini membakar dada
dan segenap logika

Sungguh
aku pun tak ingin begini
hanya ku tak mampu
kendalikan emosi
dan segala rasa benci


Lelah kawan
sungguh lelah kurasa
memanggul segala rasa
yang menyesakkan dada


Andai ku mampu
kan kumusnahkan semua
segala bara yang ada
Ataukah kau punya
penawar segala rasa
agar ku bebas merdeka


Kawan.....
Jika ada waktumu
kan kutumpahkan segala rasaku
karna ku ingin bahagia
dalam sejuk dan indahnya
nada-nada cinta
bersamamu...

For : someone, thanks telah membagi segala rasamu padaku..., semoga selalu tabah

Sad butterfly

Rasa yang membara

Salahkah aku kawan
ketika hatiku membenci
seseorang yang tega lukai hati
dan tinggalkan nyeri

Salahkah aku kawan
ketika tersimpan bara
yang kini membakar dada
dan segenap logika

Sungguh
aku pun tak ingin begini
hanya ku tak mampu
kendalikan emosi
dan segala rasa benci


Lelah kawan
sungguh lelah kurasa
memanggul segala rasa
yang menyesakkan dada


Andai ku mampu
kan kumusnahkan semua
segala bara yang ada
Ataukah kau punya
penawar segala rasa
agar ku bebas merdeka


Kawan.....
Jika ada waktumu
kan kutumpahkan segala rasaku
karna ku ingin bahagia
dalam sejuk dan indahnya
nada-nada cinta
bersamamu...

For : someone, thanks telah membagi segala rasamu padaku..., semoga selalu tabah

Sad butterfly

Kamis, 14 Januari 2010

Sehari bersama para pensiunan

Hari ini aku mendapatkan kesempatan untuk berkumpul bersama para pensiunan. Kemarin bos-ku menerima undangan dari Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Propinsi Jawa Timur yang mengadakan Rakorwil Se-eks Karisidenan Madiun. Acaranya diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Ngawi, dan rencananya akan dibuka langsung oleh bapak Bupati Ngawi.

Karena Bos-ku berhalangan hadir, beliau mewakilkan aku untuk hadir di acara tersebut. Akhirnya..., meluncurlah aku pagi itu ke Ngawi. Acara itu dihadiri oleh perwakilan PWRI Cabang se-eks Karisidenan Madiun yang meliputi : Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Pacitan. Selain itu mereka mengundang Kantor Pajak, ASKES, Perwakilan Perbankan dan Kantor Pos.

Acara tersebut jadi dibuka oleh Bapak Bupati Ngawi. Dari sambutan beliau, tampak penghargaan yang besar kepada para pensiunan yang tergabung dalam PWRI. Beliau menyatakan bahwa generasi muda seyogyanya belajar banyak dari para pensiunan, karena motivasi dan semangat kerja PNS saat itu jauh berbeda dengan dulu. PNS sekarang sudah tidak se-idealis dulu.

Selanjutnya, acara diisi dengan pemberian materi seputar Pajak (Khususnya NPWP) dan Askes. Para pensiunan itu terlihat sangat serius memperhatikan materi yang disampaikan. Bahkan, sesi tanya jawab jadi sangat hidup karena para pensiunan itu sangat antusias mengajukan pertanyaan. Hanya sayang sekali, aku tak membawa kamera untuk mengambil gambar dari kegiatan tersebut.

Terus terang, aku sangat salut dengan semangat para pensiunan itu. Mereka yang bertempat tinggal di Ponorogo dan Pacitan..., yang relatif jauh dari Ngawi, masih bersemangat untuk hadir. Selain itu, mereka masih semangat untuk menimba informasi-informasi terbaru. Bagi mereka, usia tua tak menghalangi untuk tetap melangkah maju. Salutku untuk mereka....

Sehari bersama para pensiunan membuatku memetik banyak pelajaran, yaitu :
  • Bagi para pensiunan itu, berkumpul bersama rekan-rekan sebaya adalah hiburan yang sangat berharga
  • Berdiam diri di rumah tanpa kegiatan sama sekali justru menjadi siksaan bagi mereka
  • Berorganisasi membuat kehidupan para pensiunan itu lebih hidup dan bergairah
  • Menjalani hari tua dengan sehat adalah karunia yang tak terhingga
  • Meskipun sudah tua, namun semangat untuk berkarya dan menimba ilmu tak harus menurun
  • Yang terakhir, aku terlihat paling muda diantara semua undangan yang hadir ( hehehe, sungguh yang terakhir ini gak penting banget, maaf...:p ).
Jadi.., begitulah pengalaman yang kudapat hari ini. Aku ingin seperti mereka jika aku tua nanti, tetap bersemangat dalam menjalani hari tua dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Hmm.., aku rasa semua sahabat setuju denganku bukan ?