Sabtu, 31 Juli 2010

Koleksi foto

Saat sobat mampir ke blog ini, aku sedang tidak ada disini. Sejak tanggal 29 Juli 2010 malam aku berangkat ke Bandung dan baru akan kembali ke Madiun lagi pada tanggal 1 Agustus 2010 dini hari. Keberangkatanku ke Bandung kali ini untuk acara dinas (lagi). Doakan kegiatanku di Bandung dapat berjalan dengan lancar ya..? Doakan juga semoga perjalananku lancar. Amin.

Sobat.., kali ini aku hanya ingin berbagi koleksi foto milikku. Namun maaf banget jika hasil pemotretan yang aku lakukan tak bagus. Mungkin juga sudut-sudut pengambilan gambar tak tepat. Segala kekurangan yang ada dalam foto ini mohon untuk dimaklumi ya... karena aku memang bukan photographer profesional. Aku bahkan tak pernah belajar tentang bagaimana teknik fotografi yang benar.

OK.., daripada berpanjang kata... inilah sebagian dari koleksi fotoku. Kali ini temanya adalah Bunga. Ini dia foto-fotonya.....

bunga teratai yang cantik sekali
(diambil dari sebuah tempat wisata)

koleksi kambojaku


beberapa koleksi euporbia-ku

bunga kemuning

bunga desember

Semua foto bunga itu adalah tanaman di rumahku, kecuali teratai. Sayang sekali, karena makin sempitnya waktuku (dan suamiku) untuk mengurusi tanaman-tanaman itu, beberapa diantaranya tidak terawat. Walau masih berbunga, tapi kondisinya sudah tidak secantik yang ada di foto-foto itu.

Nah.., bagaimana menurutmu kawan, apakah memandang keelokan ciptaan Yang Maha Kuasa mampu membuat damai hati kita..?

Jumat, 30 Juli 2010

Speech Competition

Besok, hari Sabtu, tanggal 31 Juli 2010 Shasa akan mengikuti lomba lagi, yaitu Speech Competition. Selama beberapa hari ini Shasa sibuk berlatih, siang hari di sekolah dengan guru pembimbing Bahasa Inggrisnya dan sore hari berlatih lagi di tempatnya les Bahasa Inggris. Beberapa hari yang sibuk, tak hanya bagi Shasa tapi juga bagi ayahnya yang harus bolak balik antar jemput Shasa.

Dalam lomba kali ini, salah satu tema yang diangkat dalam pidato itu adalah masalah teknologi. Untuk itu, Shasa telah mencoba membuat sendiri naskah pidatonya. Naskah yang dibuatnya tidaklah panjang, yang bercerita tentang kemajuan teknologi dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari. Yang dijadikan contoh oleh Shasa adalah internet dan telepon seluler. Naskah itu sempat direvisi oleh guru les Bahasa Inggrisnya, karena ada beberapa kata yang dipilih Shasa dinilai kurang tepat.

Seperti biasa, Shasa sangat antusias sekali dalam mempersiapkan diri dalam lomba ini. Naskah pidato itu telah berhasil dihafal Shasa sejak jauh-jauh hari, mungkin karena hasil karya sendiri sehingga mudah baginya untuk menghafal naskah itu. Setelah naskah dikuasai, Shasa bisa fokus pada tekniknya.

Sebenarnya, Shasa ingin sekali aku bisa hadir dan menyaksikannya berlomba pada hari Sabtu itu. Namun sayang sekali, aku sedang dinas ke Bandung sehingga tidak bisa mendampinginya kali ini. Untuk menyemangati Shasa, ayahnya dan juga Ibuku akan hadir menemani Shasa. Semoga saja Shasa bisa tampil maksimal dalam lombanya nanti. Amin....

Shasa sangat berharap bisa lolos sampai ke babak final, agar aku bisa menyaksikannya berlomba. Menurut rencana babak final akan diselenggarakan pada hari Minggu 1 Agustus 2010 dan pada Minggu dini hari aku sudah sampai kembali di Madiun. Aku sendiri pun berharap dapat menyaksikan Shasa pada tanggal 1 Agustus nanti.

Sobat semua..., mohon doanya untuk Shasa ya, agar dia mampu menampilkan yang terbaik yang dia bisa, dan syukur-syukur bisa masuk final. Terima kasih...

Kamis, 29 Juli 2010

Bersaing dengan batuk

Beberapa hari ini aku terserang penyakit yang selama ini paling aku 'hindari' yaitu... batuk ! Karena, batukku memang bukan termasuk batuk yang ringan. Kalau aku sudah batuk pasti yang mendengarnya akan kasihan sekaligus risih, karena gak berhenti-berhenti bahkan sampai memerah mukaku. Itu sebabnya, aku tersiksa sekali jika sedang batuk. Aku malu bertemu banyak orang dalam keadaan seperti itu. Kalau teman-teman sekantorku, yang sudah lama kenal aku, tahu banget bagaimana beratnya batukku.

Cerita tentang bagaimana repotnya aku kalau sedang batuk pernah aku ceritakan di Rapat Batuk. Entah mengapa sejak kecil aku paling mudah terserang batuk. Kali ini batuk yang aku rasakan adalah karena kondisi tidak menguntungkan yang aku alami selama perjalanan dinasku ke Makasar beberapa hari yang lalu. Mungkin karena kondisi fisik yang lelah ditambah dengan masuk angin (karena tak terbiasa dengan AC), sehingga sang batuk kembali menyambangi aku.

Masalahnya adalah... Jumat dan Sabtu yang akan datang aku kembali harus melakukan perjalanan dinas ke Bandung. Sebenarnya acara dinas ke Bandung ini sudah bukan tugasku lagi semenjak aku dialihtugaskan ke bidang lain pada pertengahan bulan ini. Namun karena penggantiku masih berkewajiban menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya di tempat kerjanya yang lama sampai akhir bulan ini, maka my boss memintaku untuk pergi ke Bandung.

Rencananya aku akan berangkat ke Bandung dengan menggunakan kereta api pada hari Kamis malam dan akan kembali ke Madiun pada Minggu pagi. Yang menjadi pikiranku saat ini adalah batukku harus sembuh dulu sebelum berangkat. Tentu saja aku malu jika selama rapat berlangsung aku terbatu-batuk dengan sangat hebatnya. Alasan lainnya adalah kata kakak iparku yang tinggal di Bandung, saat ini Bandung sedang sangat dingin dan hampir tiap hari hujan. Nah.., aku takut jika batukku belum sembuh malah akan semakin parah.

Itu sebabnya aku sekarang bersaing dengan batuk. Kuat usahaku menghentikan batukku atau kuat batuk yang menguasaiku. Aku berjuang dengan barbagai cara agar kali ini aku yang menang bersaing melawan batuk. Bepergian dengan kondisi badan yang kurang fit sama sekali tidak menyenangkan bukan..?

Sobat..., bantu aku dengan doa ya semoga saja batukku segera berhenti dan aku siap menjalankan tugas untuk mengikuti rapat dinas ke Bandung. Amin.

Rabu, 28 Juli 2010

Laundry oh Laundry

Pada saat ini, makin banyak orang yang mencoba peruntungan mereka dalam dunia usaha. Bahkan dengan makin berkembangnya dunia ini, jenis usaha pun kian beragam. Kalau dulu orang-orang cenderung mencoba usaha di bidang makanan dan busana, kini tidak lagi. Ada yang mencoba usaha yang menyangkut buku, kerajinan tangan dll. Apalagi internet sangat mendukung dilakukannya toko online.

Yang saat ini sedang menjamur di kotaku adalah usaha laundry. Jika dulu pengusaha laundry hanya ada 1 dan itupun menarik biaya yang mahal, kini keadaan sudah berubah. Sudah banyak laundry di setiap pelosok kota, mulai dari sistem kiloan ataupun bijian. Kebetulan, aku punya beberapa pengalaman dengan beberapa laundry di kotaku. Karena aku tak punya asisten rumah tangga, maka terkadang aku membutuhkan jasa laundry untuk membantuku ketika waktuku sedang sangat sempit.

Semula aku mencoba laundry "D" yang memberikan fasilitas antar jemput dan sehari jadi. Selama ini aku cukup puas dengan pelayanannya karena tak pernah mengecewakan. Hanya saja, laundry "D" itu terhitung sedikit lebih mahal dibandingkan dengan laundry kiloan, karena laundry "D" menerapkan biaya untuk tiap potong baju. Namun untuk baju-baju itu penanganan khusus, seperti jas, kebaya atau baju yang berpayet-payet, aku lebih percaya kepada laundry "D".

gambar diculik dari sini

Aku pernah juga mencoba laundry "H" yang menerapkan sistem kiloan. Saat itu aku sedang sangat repot dan hendak bepergian, sehingga aku mencoba menggunakan jasa laundry "H". Kalau tidak salah, selama 3 kali aku menggunakan jasanya, aku selalu saja kecewa. Penyebabnya adalah waktu yang dijanjikan untuk selalu saja molor. Bahkan yang terakhir, janji 3 hari jadinya malah 6 hari...!

Kejadian itu membuatku kapok menggunakan jasa laundry "H" dan aku beralih ke laundry "K". Untuk urusan antar jemput cucian laundry "K" tak mengalami masalah dan selalu tepat waktu. Tapi, setelah 2 kali menggunakan jasanya, aku melihat bahwa hasil setrikaannya kurang rapi. Bahkan ada baju kerjaku yang 'rusak' karena setrikanya terlalu panas. Jadi, kuputus kerjasamaku dengan laundry "K".

Lama tak menggunakan jasa laundry, kembali aku mencari laundry baru setelah aku pulang dari Makasar. Maklum saja, sepulangnya dari Makasar aku malah masuk angin dan batuk-batuk. Sehingga untuk cucian yang besar-besar seperti jeans, sprei dll aku kembali mencari jasa laundry. Kali ini pilihan jatuh pada laundry "Q". Alhamdulillah..., setelah 3 kali menggunakan jasa laundry "Q" aku cukup puas dengan pelayanannya. Cucian yang dijanjikannya selesai dalam 2 hari selalu tepat waktu dan setrikaannya pun lumayan rapi.

Dari kejadian itu aku berpikir bahwa memanjakan pelanggan memang sulit dan membutuhkan kesungguhan hati. Jika seseorang menjalankan usaha tapi lupa mengutamakan kepentingan/kepuasan pelanggan, aku yakin usahanya akan dengan mudah gulung tikar. Seperti laundry "H" yang tergolong pelopor dalam bisnis laundry kiloan, setelah usahanya laris manis kini malah keteteran mengurus pelanggannya sehingga janji 3 hari jadi selalu saja mundur.

Padahal, kini banyak sekali laundry baru bermunculan di kotaku. Laundry "K" termasuk yang baru dan masalah janji masih bisa ditepati, mungkin karena pelanggannya belum banyak. Hanya sayangnya dia tak menjaga kerapian setrikaannya, sehingga pelanggan sepertiku yang merasa kesal karena bajunya jadi rusak karena seterika yang terlalu panas memilih mundur.

Ternyata... jika ada kemauan disitu ada jalan. Begitu banyak peluang usaha yang bisa dimanfaatkan karena mengingat makin sempitnya waktu para orang tua yang bekerja. Hanya saja, usaha tak hanya membutuhkan modal semata, tapi juga kemauan untuk memberikan pelayanan dan kepuasan bagi pelanggannya. Tanpa itu semua.., rasanya tinggal menunggu tutup saja.

Selasa, 27 Juli 2010

Belajar dari anak-anak

Cerita kali ini masih ada kaitannya dengan cerita tentang belajar tentang arti kelompok dan kepemimpinan yang aku ceritakan kemarin. Jadi, setelah aku melaporkan masalah anak-anak kelas 5 itu kepada bapak pembina Pramuka, rupanya kemarin siang langsung ditindaklanjuti oleh beliau.

Saat beliau masuk ke kelas 5, beliau meminta ketua Pramuka regu putri maju ke depan. Shasa dan satu lagi temannya (sebut saja namanya Tyas) maju. Setelah itu, bapak pembina Pramuka itu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendapat penjelasan dari anak-anak itu, akhirnya beliau memberikan penjelasan panjang lebar tentang arti kelompok. Beliau menekankan agar regu yang terbentuk jangan sampai dirubah-rubah lagi.

Akhirnya, memang regu Pramuka di kelas Shasa tidak mengalami perubahan. Semua bisa menerima dengan baik. Yang menarik, Tyas sebagai ketua regu putri kelompok lainnya, yang berencana untuk mengambil 4 orang anggota regu dari Shasa tanpa diminta meminta maaf pada Shasa. Selain itu, Mita (sebut saja begitu) sebagai salah satu dari 4 orang yang akan berpindah regu, juga meminta maaf pada Shasa. Shasa pun menerima permintaan maaf itu dengan tangan terbuka.

Lihatlah..., betapa anak-anak ternyata mampu bersikap lebih bijak daripada orang-orang dewasa. Anak-anak tanpa diminta telah dengan mudah meminta maaf atas kesalahannya. Mereka tak merasa gengsi meminta maaf. Sementara anak-anak pun dengan tulus memaafkannya, tanpa mengungkit-ungkit lagi semua yang telah terjadi. Sekarang pun pertemanan di antara mereka berjalan dengan normal, tanpa ada rasa sakit hati atau dendam. Bahkan, kemarin siang pun Shasa sudah berlatih lagi menari bersama-sama dengan anggota regunya.


Tak hanya Shasa dan teman-temannya yang belajar banyak dari kejadian kemarin itu. Tapi aku, yang kebetulan tahu permasalahan itu, jadi mendapat pelajaran berharga pula dari anak-anak. Aku belajar menjadi bijak, agar aku dapat mengajarkannya kepada Shasa. Aku belajar tentang ketulusan karena kulihat anak-anak dengan mudah melakukannya. Aku belajar lebih banyak tentang kekuatan maaf yang telah mampu mengukir kembali senyum di bibir mereka-mereka yang semula bermasalah.

Apakah kita, selaku orang dewasa akan dengan mudah meminta maaf pada siapa saja (termasuk kepada anak-anak sekalipun) saat kita melakukan kesalahan ? Apakah kita, selaku orang dewasa akan dengan tulus hati memberikan maaf pada orang-orang yang telah menyakiti kita ? Apakah kita, selaku orang-orang dewasa, akan dengan mudah melupakan rasa sakit hati dan dendam di hati kita ? Apakah kita, lebih baik daripada anak-anak itu ?

Kali ini..., rasanya yang mendapat pelajaran berharga lebih banyak adalah aku dari Shasa (dan teman-temannya) ... dan bukan  sebaliknya.