Sabtu malam minggu, lagi-lagi aku tak bisa blogging karena koneksi internetku bener-benar matot (mati total). So, aku dengan terpaksa mematikan kompie dan duduk manis di depan televisi. Sungguh, jika bukan karena terpaksa... aku pasti jarang sekali meluangkan waktu duduk di depan televisi, kecuali untuk acara-acara televisi favoritku.
Nah, saking jarangnya nonton televisi... aku tak tahu acara apa saja yang bagus pada Sabtu malam. Sampai akhirnya aku terdampar di sebuah stasiun televisi yang memutar film India. Awalnya aku tak tertarik untuk menontonnya (apalagi aktor-aktornya gak terkenal, maklum... bukan penggemar film India sih), tapi karena tak ada pilihan lain akhirnya aku menontonnya juga, meskipun aku sambil membaca buku (gak niat banget untuk nonton soalnya).
Namun, lama kelamaan film yang aku tonton itu mulai menarik perhatianku. Ada suatu 'pelajaran' yang aku petik dari film itu, meskipun aku sebel banget waktu para pemainnya mulai menari dan menyanyi (kedua hal itu yang membuatku gak suka film India). Oke, lupakan tarian dan nyanyiannya yang 'maksa' banget itu, mari kita bicarakan saja tentang pesan moral yang hendak disampaikan dalam film itu (tapi, aku tak tahu apa judul filmnya, karena memang dari awal gak niat untuk nonton sih hehehe).
Adalah Raj seorang pemuda yang suka bertualang dan menaklukkan banyak wanita. Di antara wanita-wanita yang telah ditaklukkannya dan 'dipermainkan' olehnya ada 2 orang wanita yang terluka.Yang satu adalah seorang wanita India (kalau gak salah namanya Mahi) yang sudah bertunangan dan jatuh cinta dengan Raj saat mereka secara tak sengaja bertemu saat berwisata ke Swiss. Di akhir wisata itu, sang gadis harus menangis karena kecewa dan sakit hati karena perlakuan Raj.
Yang kedua adalah seorang wanita India yang manis (kalau gak salah namanya Radita) yang telah tinggal serumah dengan Raj meski mereka belum terikat dalam tali pernikahan. Suatu hari Raj meninggalkan Radita tepat di hari pernikahan mereka dan terbang ke Sidney bersama seorang sahabatnya, karena mereka mendapatkan posisi yang bagus di sana. Sementara itu Radita hanya bisa menangis pilu di tangga kantor Catatan Sipil lengkap dengan gaun pengantinnya.
Kehidupan di Australia seakan membuka peluang bagi Raj untuk berpetualang dari satu wanita ke wanita lainnya, hingga suatu hari dia bertemu dan jatuh cinta pada Gayatri. Berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya, Gayatri yang seorang sopir taksi dan kasir pada sebuah supermarket itu berhasil membuat Raj berani memutuskan untuk menikah. Sayangnya, justru Gayatri yang tak mau menikah dengan Raj, meskipun Raj bersumpah akan menunggu Gayatri seumur hidupnya.
Penolakan Gayatri membawa ingatan Raj pada 2 wanita yang telah disakitinya : Mahi dan Radita. Raj mulai menyadari kesalahannya dan berusaha untuk meminta maaf kepada keduanya. Kehidupan Mahi dan Radita sudah jauh berbeda dengan dulu dan kondisi itu menyulitkan Raj untuk mendekat dan meminta maaf kepada mereka. Raj yang bersungguh-sungguh menyesal mau melakukan apa saja, asalkan segala kesalahannya di masa lalu dimaafkan.
Seandainya Gayatri menerima ajakan Raj untuk menikah, maka Raj tidak akan pernah menyadari betapa pedihnya hati saat terluka karena cinta. Seandainya Raj tidak melukai hati Mahi, maka Mahi tidak akan mendapatkan seorang suami yang sangat mencintainya dan mau menerima dia apa adanya. Seandainya Raj tidak meninggalkan Radita di hari pernikahan mereka, maka Radita tak akan menjelma menjadi seorang artis papan atas. Ternyata di balik peristiwa menyakitkan yang mereka alami, mereka akhirnya menyadari bahwa ada hikmah luar biasa yang makin mendewasakan mereka.
Aku bukan penggemar film, sehingga tak banyak film yang aku tonton. Tapi aku salut pada film India yang aku tonton kemarin, karena ada nilai dan pesan moral yang disampaikan pada penontonnya, padahal sepertinya film itu bukan film terkenal (indikator : judul gak familiar, pemain gak terkenal. Atau aku saja yang gak tahu..? hihihi). Yang ingin aku tanyakan, apakah film-film Indonesia (yang bukan tergolong sebagai film bermutu lho..), juga ada pesan moral di dalamnya ? Atau hanya mengandalkan cerita jenaka, adegan baku hantam, vulgar dan mistis belaka ? Oke, aku tahu... film-film luar juga banyak kok yang asal dibuat saja tanpa memperhatikan muatan moral di dalamnya.
Sudah ah.., beginilah celoteh dari seseorang yang bukan penggemar film... tapi malah ngomongin film. Jadi maaf kalau gak nyambung... hehehe. (BTW, 2 kali aku bicara tentang film.. tapi kok keduanya film India sih? Gubraaakkk)





