Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Juni 2010

Mencari hikmah dari suatu peristiwa

Sabtu malam minggu, lagi-lagi aku tak bisa blogging karena koneksi internetku bener-benar matot (mati total). So, aku dengan terpaksa mematikan kompie dan duduk manis di depan televisi. Sungguh, jika bukan karena terpaksa... aku pasti jarang sekali meluangkan waktu duduk di depan televisi, kecuali untuk acara-acara televisi favoritku.

Nah, saking jarangnya nonton televisi... aku tak tahu acara apa saja yang bagus pada Sabtu malam. Sampai akhirnya aku terdampar di sebuah stasiun televisi yang memutar film India. Awalnya aku tak tertarik untuk menontonnya (apalagi aktor-aktornya gak terkenal, maklum... bukan penggemar film India sih), tapi karena tak ada pilihan lain akhirnya aku menontonnya juga, meskipun aku sambil membaca buku (gak niat banget untuk nonton soalnya).

Namun, lama kelamaan film yang aku tonton itu mulai menarik perhatianku. Ada suatu 'pelajaran' yang aku petik dari film itu, meskipun aku sebel banget waktu para pemainnya mulai menari dan menyanyi (kedua hal itu yang membuatku gak suka film India). Oke, lupakan tarian dan nyanyiannya yang 'maksa' banget itu, mari kita bicarakan saja tentang pesan moral yang hendak disampaikan dalam film itu (tapi, aku tak tahu apa judul filmnya, karena memang dari awal gak niat untuk nonton sih hehehe).

Adalah Raj seorang pemuda yang suka bertualang dan menaklukkan banyak wanita. Di antara wanita-wanita yang telah ditaklukkannya dan 'dipermainkan' olehnya ada 2 orang wanita yang terluka.Yang satu adalah seorang wanita India (kalau gak salah namanya Mahi) yang sudah bertunangan dan jatuh cinta dengan Raj saat mereka secara tak sengaja bertemu saat berwisata ke Swiss. Di akhir wisata itu, sang gadis harus menangis karena kecewa dan sakit hati karena perlakuan Raj.

Yang kedua adalah seorang wanita India yang manis (kalau gak salah namanya Radita) yang telah tinggal serumah dengan Raj meski mereka belum terikat dalam tali pernikahan. Suatu hari Raj meninggalkan Radita tepat di hari pernikahan mereka dan terbang ke Sidney bersama seorang sahabatnya, karena mereka mendapatkan posisi yang bagus di sana. Sementara itu Radita hanya bisa menangis pilu di tangga kantor Catatan Sipil lengkap dengan gaun pengantinnya.

Kehidupan di Australia seakan membuka peluang bagi Raj untuk berpetualang dari satu wanita ke wanita lainnya, hingga suatu hari dia bertemu dan jatuh cinta pada Gayatri. Berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya, Gayatri yang seorang sopir taksi dan kasir pada sebuah supermarket itu berhasil membuat Raj berani memutuskan untuk menikah. Sayangnya, justru Gayatri yang tak mau menikah dengan Raj, meskipun Raj bersumpah akan menunggu Gayatri seumur hidupnya.

Penolakan Gayatri membawa ingatan Raj pada 2 wanita yang telah disakitinya : Mahi dan Radita. Raj mulai menyadari kesalahannya dan berusaha untuk meminta maaf kepada keduanya. Kehidupan Mahi dan Radita sudah jauh berbeda dengan dulu dan kondisi itu menyulitkan Raj untuk mendekat dan meminta maaf kepada mereka. Raj yang bersungguh-sungguh menyesal mau melakukan apa saja, asalkan segala kesalahannya di masa lalu dimaafkan.

Seandainya Gayatri menerima ajakan Raj untuk menikah, maka Raj tidak akan pernah menyadari betapa pedihnya hati saat terluka karena cinta. Seandainya Raj tidak melukai hati Mahi, maka Mahi tidak akan mendapatkan seorang suami yang sangat mencintainya dan mau menerima dia apa adanya. Seandainya Raj tidak meninggalkan Radita di hari pernikahan mereka, maka Radita tak akan menjelma menjadi seorang artis papan atas. Ternyata di balik peristiwa menyakitkan yang mereka alami, mereka akhirnya menyadari bahwa ada hikmah luar biasa yang makin mendewasakan mereka.

Aku bukan penggemar film, sehingga tak banyak film yang aku tonton. Tapi aku salut pada film India yang aku tonton kemarin, karena ada nilai dan pesan moral yang disampaikan pada penontonnya, padahal sepertinya film itu bukan film terkenal (indikator : judul gak familiar, pemain gak terkenal. Atau aku saja yang gak tahu..? hihihi). Yang ingin aku tanyakan, apakah film-film Indonesia (yang bukan tergolong sebagai film bermutu lho..), juga ada pesan moral di dalamnya ? Atau hanya mengandalkan cerita jenaka, adegan baku hantam, vulgar dan mistis belaka ? Oke, aku tahu... film-film luar juga banyak kok yang asal dibuat saja tanpa memperhatikan muatan moral di dalamnya.

Sudah ah.., beginilah celoteh dari seseorang yang bukan penggemar film... tapi malah ngomongin film. Jadi maaf kalau gak nyambung... hehehe. (BTW, 2 kali aku bicara tentang film.. tapi kok keduanya film India sih? Gubraaakkk)

Sabtu, 08 Mei 2010

Hachiko yang melegenda

Hachiko adalah seekor anjing di Jepang yang sangat terkenal dan melegenda. Ia adalah anjing ras khas peranakan Jepang jenis Akita Inu. Awalnya, dia ditemukan oleh seorang dosen bernama Profesor Parker Wilson yang tersesat di jalanan. Profesor Wilson merawat dan membesarkan Hachiko dengan kasih sayang yang tulus, hingga tak mengherankan jika kemudian tercipta satu hubungan istimewa di antara keduanya.

Gambar diambil dari sini


Setiap pagi, Hachiko akan mengantarkan Profesor Wilson berangkat bekerja. Sedangkan di sore harinya, tepat pada waktu Profsor Wilson pulang kerja, Hachiko pasti sudah siap sedia menunggu di muka stasiun. Rutinitas itu berlangsung setiap hari, hingga suatu hari Profesor Wilson tak pernah turun dari kereta pada hari itu dan seterusnya..

Rupanya, Profesor Wilson terkena serangan jantung saat mengajar di universitas dan meninggal. Itu sebabnya Profesor Wilson tak pernah kembali lagi. Namun meskipun tak jua menjumpai Profesor Wilson di stasiun, kesetiaan Hachiko tetap tak berubah. Setiap sore di jadwal pulang Profesor Wilson, Hachiko pasti sudah berada di stasiun, menunggu Profesor Wilson pulang ke rumah. Meski tiap sore pula Hachiko pulang tanpa hasil, ia tetap melakukan rutinitas itu hingga lebih dari sepuluh tahun lamanya. Penantian itu baru berakhir ketika Hachiko meninggal dunia pada tanggal 8 Maret 1935, tepat di tempat Profesor Wilson pertama kali menemukannya.

Kisah Hachiko yang menyentuh hati itu menjadi headline berbagai surat kabar di Tokyo pada tahun 1932. Bahkan Hachiko diabadikan dalam bentuk patung perunggu oleh pematung terkenal di Jepang pada tahun 1934. Patung itu kemudian diletakkan di stasiun Kereta Api Shibuya. Patung yang sama juga didirikan di kota kelahiran Hachiko, tepatnya di muka stasiun kerea Odeta. Bahkan, kisah kesetiaan Hachiko itu juga diabadikan dalam buku yang berjudul Hachiko Waits. Buku itu menjadi buku literatur wajib untuk pelajar SD di Jepang.

Gambar diambil dari sini

Kisah Hachiko benar-benar merebut hati warga Jepang, sehingga ketika Haciko meninggal dunia, jasadnya diawetkan dan disimpan di Museum Nasional Jepang di Ueno, Tokyo. Bahkan hingga kini setiap tanggal 8 Maret masyarakat Jepang masih mengadakan peringatan untuk mengingat Hachiko di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1987, Jepang membuat film yang berkisah tentang Hachiko dan film itu diberi judul : Hachiko Monogatari. Mengingat betapa besar arti Hachiko bagi masyarakat Jepang, akhirnya pada tahun 2009 dibuatlah remake film Hachiko Monogatari yang disutradarai oleh Lasse Hallstrom. Film yang langsung dilempar ke pasaran dalam bentuk DVD pada tanggal 9 Maret 2010 yang lalu diberi judul Hachiko : A Dog's Story sedangkan pemeran utama sebagai Profesor Wilson adalah Richard Gere.

Gambar diambil dari sini

Meski film itu tak melalui rilis yang heboh sebagaimana film-film box office lainnya, namun yang pasti film ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Hachiko yang melegenda

Hachiko adalah seekor anjing di Jepang yang sangat terkenal dan melegenda. Ia adalah anjing ras khas peranakan Jepang jenis Akita Inu. Awalnya, dia ditemukan oleh seorang dosen bernama Profesor Parker Wilson yang tersesat di jalanan. Profesor Wilson merawat dan membesarkan Hachiko dengan kasih sayang yang tulus, hingga tak mengherankan jika kemudian tercipta satu hubungan istimewa di antara keduanya.

Gambar diambil dari sini


Setiap pagi, Hachiko akan mengantarkan Profesor Wilson berangkat bekerja. Sedangkan di sore harinya, tepat pada waktu Profsor Wilson pulang kerja, Hachiko pasti sudah siap sedia menunggu di muka stasiun. Rutinitas itu berlangsung setiap hari, hingga suatu hari Profesor Wilson tak pernah turun dari kereta pada hari itu dan seterusnya..

Rupanya, Profesor Wilson terkena serangan jantung saat mengajar di universitas dan meninggal. Itu sebabnya Profesor Wilson tak pernah kembali lagi. Namun meskipun tak jua menjumpai Profesor Wilson di stasiun, kesetiaan Hachiko tetap tak berubah. Setiap sore di jadwal pulang Profesor Wilson, Hachiko pasti sudah berada di stasiun, menunggu Profesor Wilson pulang ke rumah. Meski tiap sore pula Hachiko pulang tanpa hasil, ia tetap melakukan rutinitas itu hingga lebih dari sepuluh tahun lamanya. Penantian itu baru berakhir ketika Hachiko meninggal dunia pada tanggal 8 Maret 1935, tepat di tempat Profesor Wilson pertama kali menemukannya.

Kisah Hachiko yang menyentuh hati itu menjadi headline berbagai surat kabar di Tokyo pada tahun 1932. Bahkan Hachiko diabadikan dalam bentuk patung perunggu oleh pematung terkenal di Jepang pada tahun 1934. Patung itu kemudian diletakkan di stasiun Kereta Api Shibuya. Patung yang sama juga didirikan di kota kelahiran Hachiko, tepatnya di muka stasiun kerea Odeta. Bahkan, kisah kesetiaan Hachiko itu juga diabadikan dalam buku yang berjudul Hachiko Waits. Buku itu menjadi buku literatur wajib untuk pelajar SD di Jepang.

Gambar diambil dari sini

Kisah Hachiko benar-benar merebut hati warga Jepang, sehingga ketika Haciko meninggal dunia, jasadnya diawetkan dan disimpan di Museum Nasional Jepang di Ueno, Tokyo. Bahkan hingga kini setiap tanggal 8 Maret masyarakat Jepang masih mengadakan peringatan untuk mengingat Hachiko di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1987, Jepang membuat film yang berkisah tentang Hachiko dan film itu diberi judul : Hachiko Monogatari. Mengingat betapa besar arti Hachiko bagi masyarakat Jepang, akhirnya pada tahun 2009 dibuatlah remake film Hachiko Monogatari yang disutradarai oleh Lasse Hallstrom. Film yang langsung dilempar ke pasaran dalam bentuk DVD pada tanggal 9 Maret 2010 yang lalu diberi judul Hachiko : A Dog's Story sedangkan pemeran utama sebagai Profesor Wilson adalah Richard Gere.

Gambar diambil dari sini

Meski film itu tak melalui rilis yang heboh sebagaimana film-film box office lainnya, namun yang pasti film ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Minggu, 30 Agustus 2009

Persahabatan yang abadi


Kali ini aku ingin menceritakan sebuah kisah dari sebuah film India (yups.. Bollywood punya !!) yang beberapa hari yang lalu tanpa sengaja aku saksikan di televisi. Sebenarnya malam itu, sepulang dari Taraweh aku mencari penayangan Konser Michael Jackson di Televisi. Pada saat gonta ganti channel itulah, tiba-tiba tanganku berhenti di channel TPI yang sedang menayangkan sebuah Film India.

Entah mengapa, aku yang sebenarnya tidak hobby nonton film tiba-tiba tertarik untuk mengikuti film itu, padahal mungkin sudah terlewat separo lebih. Tidak biasanya juga aku tertarik nonton film India, karena durasinya yang rata-rata lama dan penuh dengan 'kehebohan' tarian dan nyanyian itu. Terlebih lagi aku kurang suka juga dengan banyaknya adegan perkelahian yang hampir selalu ada pada setiap film India. Tapi... film yang satu ini sepertinya berbeda. Sepertinya di film itu tak ada adegan perkelahiannya. Kebetulan juga, di sisa film yang aku saksikan itu, aku sudah tidak kebagian adegan menari dan menyanyinya... ^_^

Film yang judulnya (yaitu Billu Barber) baru aku ketahui saat film selesai itu ternyata menarik, bahkan endingnya membuatku terharu. Sampai-sampai aku lupa kalau pada awalnya aku ingin menyaksikan Konser Michael Jackson dan malah menyaksikan Billu Barber..!!

Pada film itu diceritakan kisah tentang Billu, seorang warga desa yang sangat biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Dia hidup dengan seorang istri dan 2 anaknya. Kehidupan mereka cukup memprihatinkan karena usaha Billu sebagai tukang potong rambut makin sepi dari hari ke hari. Kemunduran usahanya itu disebabkan karena kios yang dipakainya sangat memprihatinkan dan sudah ketinggalan jaman, bahkan kursi yang dipakai untuk pelanggannya sudah sangat reyot dan seringkali patah.

Kehidupan Billu dilalui tanpa banyak peristiwa sampai akhirnya seorang Superstar Bollywood Sahir Khan (yang diperankan oleh Shahrukh Khan) datang ke desanya untuk syuting film. Kejadian tersebut sangat langka terjadi di desa yang miskin itu. Seluruh desa heboh karena semua mengidolakan sang Superstar. Semua ingin menemui sang Superstar.

Suatu ketika Billu berkata kepada keluarganya bahwa ia mengenal Sahir saat kecil, tapi dia tak pernah menjelaskan bagaimana hubungan mereka. Kemudian anak-anaknya menyebarkan berita pertemanan sang ayah dengan sang Superstar itu kepada penduduk desa. Mengetahui bahwa Billu adalah teman Sahir, dalam sekejap status Billu berubah. Dia menjadi sangat dihormati dan menjadi pusat perhatian.

Semua orang ingin dia menemui Sahir, sang Superstar. Orang-orang yang sebelumnya menolaknya kini menganggapnya sebagai teman dekat dengan harapan agar mereka dapat dikenalkan pada Sahir. Billu menolak pertemanan itu dan mengatakan bahwa tak mungkin baginya mengenalkan Sahir pada penduduk desanya. Billu merasa tidak sederajat dengan Sahir. Selain itu Billu takut jika ternyata Sahir tak lagi mengenalnya. Namun penduduk desa tidak mau peduli, semua menuntutnya membawa Sahir kepada mereka.

Seorang rentenir membuatkannya sebuah kursi dan merenovasi semua peralatan cukurnya secara gratis asalkan Sahir bisa ditemui. Kepala sekolah membebaskan SPP anak-anaknya asalkan Sahir mau datang ke sekolahnya. Setiap kali istrinya belanja di pasar sering pula diberi gratisan. Pelanggan cukur semakin berduyun-duyun karena ingin dipotong rambutnya ala Sahir. Semua itu membuat kehidupan Billu menjadi semakin makmur.

Sebenarnya Billu sudah menempuh berbagai cara untuk menemui sang superstar, tapi gagal. Semua itu membuatnya menyerah. Maka ketika saat syuting hampir berakhir dan Billu tidak kunjung membawa Sahir kepada orang-orang yang sudah membiayai hidupnya, keadaan berubah kembali. Satu persatu kehidupannya kembali seperti dulu. Dia dituduh berbohong tentang pertemannya dengan Sahir, bahkan istri dan anak-anaknya mulai meragukannya dan membencinya. Namun, Billu tetap memilih diam saja dan tidak menceritakan tentang bagaimana sejatinya hubungan pertemannya dengan Sahir.

Setelah Billu tidak dapat memenuhi janjinya mendatangkan Sahir ke sekolah, maka Kepala sekolah datang sendiri ke tempat syuting. Dia meminta Sahir mau datang ke sekolahnya untuk memberikan motivasi kepada murid-muridnya agar giat belajar. Maklumlah, banyak murid-muridnya yang mengidolakan Sahir. Ternyata Sahir menyetujuinya.

Pada hari Sahir datang ke sekolah, seluruh warga tumpah ruah memenuhi sekolah itu untuk melihat sang idolanya dari dekat, kecuali Billu dan istrinya. Tetapi setelah si istri memohon dengan amat sangat akhirnya mereka berdua berangkat ke sekolah. Sayangnya mereka sedikit terlambat datang ke sekolah sehingga hanya bisa melihat dari luar pagar sekolah.

Pada saat Sahir diminta memberikan sambutan, Sahir menceritakan bahwa dia dulu miskin dan bukan siapa-siapa. Tapi dia memiliki seorang sahabat yang sangat spesial bernama Billu. Sahir bahkan menceritakan betapa sebenarnya Billu sangat peduli padanya dan berperan besar dalam kesuksesannya menjadi Superstar. Pernah Billu menjual perhiasan yang dimilikinya untuk membiayai Sahir ke Mumbai untuk menggapai mimpinya menjadi Superstar. Sayangnya saat Sahir telah berhasil menjadi Superstar, dia tak mampu menemukan jejak sahabat yang sangat dicintainya, Billu.

Billu, yang saat itu berdiri di luar pagar sekolah, tak menyangka sama sekali bahwa Sahir sahabat masa kecilnya yang sudah menjadi seorang Superstar tetap mengingat setiap detil persahabatan mereka. Billu kemudian memilih untuk meninggalkan sekolah itu dan kembali pulang ke rumah. Dia bahkan tak berminat untuk menemui dan menampakkan keberadaannya pada Sahir. Sementara itu, penduduk desa segera menyadari kesalahan mereka. Dan mengingat betapa indahnya persahabatan antara Sahir dan Billu yang tak lekang dimakan waktu meski telah kehilangan kontak selama bertahun-tahun, maka penduduk desa mengantarkan Sahir ke rumah Billu. Akhirnya..., kedua sahabat itu kembali bertemu dalam suasana yang sangat mengharukan.

Sungguh teman..., aku terharu sekali dengan akhir cerita film tersebut. Oke, aku mengaku... bahwa aku sempat menitikkan air mata saat menyaksikan pengakuan Sahir tentang persahabatannya dengan Billu. Aku juga sangat terharu bahwa Billu selama ini tetap memilih diam dan tak menceritakan sedikitpun, bahkan kepada keluarganya pun tidak, tentang 'jasa-jasa'nya di balik kesuksesan seorang Superstar, Sahir.

Semoga persahabatan antara Bellu dan Sahir, meskipun hanya fiktif belaka, mampu membuat kita menghargai persahabatan yang telah kita jalin bersama sahabat-sabahat kita. Sahabat adalah orang yang mampu menerima kita apa adanya, tanpa menuntut lebih. Persahabatan itu tulus..., persahabatan itu indah... dan keindahan persahabatan itu tetap terasa meskipun tak ada hal spesial yang dilakukan. Karena persahabatan adalah penerimaan dan itu dapat dirasakan di hati...


 

Persahabatan yang abadi


Kali ini aku ingin menceritakan sebuah kisah dari sebuah film India (yups.. Bollywood punya !!) yang beberapa hari yang lalu tanpa sengaja aku saksikan di televisi. Sebenarnya malam itu, sepulang dari Taraweh aku mencari penayangan Konser Michael Jackson di Televisi. Pada saat gonta ganti channel itulah, tiba-tiba tanganku berhenti di channel TPI yang sedang menayangkan sebuah Film India.

Entah mengapa, aku yang sebenarnya tidak hobby nonton film tiba-tiba tertarik untuk mengikuti film itu, padahal mungkin sudah terlewat separo lebih. Tidak biasanya juga aku tertarik nonton film India, karena durasinya yang rata-rata lama dan penuh dengan 'kehebohan' tarian dan nyanyian itu. Terlebih lagi aku kurang suka juga dengan banyaknya adegan perkelahian yang hampir selalu ada pada setiap film India. Tapi... film yang satu ini sepertinya berbeda. Sepertinya di film itu tak ada adegan perkelahiannya. Kebetulan juga, di sisa film yang aku saksikan itu, aku sudah tidak kebagian adegan menari dan menyanyinya... ^_^

Film yang judulnya (yaitu Billu Barber) baru aku ketahui saat film selesai itu ternyata menarik, bahkan endingnya membuatku terharu. Sampai-sampai aku lupa kalau pada awalnya aku ingin menyaksikan Konser Michael Jackson dan malah menyaksikan Billu Barber..!!

Pada film itu diceritakan kisah tentang Billu, seorang warga desa yang sangat biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Dia hidup dengan seorang istri dan 2 anaknya. Kehidupan mereka cukup memprihatinkan karena usaha Billu sebagai tukang potong rambut makin sepi dari hari ke hari. Kemunduran usahanya itu disebabkan karena kios yang dipakainya sangat memprihatinkan dan sudah ketinggalan jaman, bahkan kursi yang dipakai untuk pelanggannya sudah sangat reyot dan seringkali patah.

Kehidupan Billu dilalui tanpa banyak peristiwa sampai akhirnya seorang Superstar Bollywood Sahir Khan (yang diperankan oleh Shahrukh Khan) datang ke desanya untuk syuting film. Kejadian tersebut sangat langka terjadi di desa yang miskin itu. Seluruh desa heboh karena semua mengidolakan sang Superstar. Semua ingin menemui sang Superstar.

Suatu ketika Billu berkata kepada keluarganya bahwa ia mengenal Sahir saat kecil, tapi dia tak pernah menjelaskan bagaimana hubungan mereka. Kemudian anak-anaknya menyebarkan berita pertemanan sang ayah dengan sang Superstar itu kepada penduduk desa. Mengetahui bahwa Billu adalah teman Sahir, dalam sekejap status Billu berubah. Dia menjadi sangat dihormati dan menjadi pusat perhatian.

Semua orang ingin dia menemui Sahir, sang Superstar. Orang-orang yang sebelumnya menolaknya kini menganggapnya sebagai teman dekat dengan harapan agar mereka dapat dikenalkan pada Sahir. Billu menolak pertemanan itu dan mengatakan bahwa tak mungkin baginya mengenalkan Sahir pada penduduk desanya. Billu merasa tidak sederajat dengan Sahir. Selain itu Billu takut jika ternyata Sahir tak lagi mengenalnya. Namun penduduk desa tidak mau peduli, semua menuntutnya membawa Sahir kepada mereka.

Seorang rentenir membuatkannya sebuah kursi dan merenovasi semua peralatan cukurnya secara gratis asalkan Sahir bisa ditemui. Kepala sekolah membebaskan SPP anak-anaknya asalkan Sahir mau datang ke sekolahnya. Setiap kali istrinya belanja di pasar sering pula diberi gratisan. Pelanggan cukur semakin berduyun-duyun karena ingin dipotong rambutnya ala Sahir. Semua itu membuat kehidupan Billu menjadi semakin makmur.

Sebenarnya Billu sudah menempuh berbagai cara untuk menemui sang superstar, tapi gagal. Semua itu membuatnya menyerah. Maka ketika saat syuting hampir berakhir dan Billu tidak kunjung membawa Sahir kepada orang-orang yang sudah membiayai hidupnya, keadaan berubah kembali. Satu persatu kehidupannya kembali seperti dulu. Dia dituduh berbohong tentang pertemannya dengan Sahir, bahkan istri dan anak-anaknya mulai meragukannya dan membencinya. Namun, Billu tetap memilih diam saja dan tidak menceritakan tentang bagaimana sejatinya hubungan pertemannya dengan Sahir.

Setelah Billu tidak dapat memenuhi janjinya mendatangkan Sahir ke sekolah, maka Kepala sekolah datang sendiri ke tempat syuting. Dia meminta Sahir mau datang ke sekolahnya untuk memberikan motivasi kepada murid-muridnya agar giat belajar. Maklumlah, banyak murid-muridnya yang mengidolakan Sahir. Ternyata Sahir menyetujuinya.

Pada hari Sahir datang ke sekolah, seluruh warga tumpah ruah memenuhi sekolah itu untuk melihat sang idolanya dari dekat, kecuali Billu dan istrinya. Tetapi setelah si istri memohon dengan amat sangat akhirnya mereka berdua berangkat ke sekolah. Sayangnya mereka sedikit terlambat datang ke sekolah sehingga hanya bisa melihat dari luar pagar sekolah.

Pada saat Sahir diminta memberikan sambutan, Sahir menceritakan bahwa dia dulu miskin dan bukan siapa-siapa. Tapi dia memiliki seorang sahabat yang sangat spesial bernama Billu. Sahir bahkan menceritakan betapa sebenarnya Billu sangat peduli padanya dan berperan besar dalam kesuksesannya menjadi Superstar. Pernah Billu menjual perhiasan yang dimilikinya untuk membiayai Sahir ke Mumbai untuk menggapai mimpinya menjadi Superstar. Sayangnya saat Sahir telah berhasil menjadi Superstar, dia tak mampu menemukan jejak sahabat yang sangat dicintainya, Billu.

Billu, yang saat itu berdiri di luar pagar sekolah, tak menyangka sama sekali bahwa Sahir sahabat masa kecilnya yang sudah menjadi seorang Superstar tetap mengingat setiap detil persahabatan mereka. Billu kemudian memilih untuk meninggalkan sekolah itu dan kembali pulang ke rumah. Dia bahkan tak berminat untuk menemui dan menampakkan keberadaannya pada Sahir. Sementara itu, penduduk desa segera menyadari kesalahan mereka. Dan mengingat betapa indahnya persahabatan antara Sahir dan Billu yang tak lekang dimakan waktu meski telah kehilangan kontak selama bertahun-tahun, maka penduduk desa mengantarkan Sahir ke rumah Billu. Akhirnya..., kedua sahabat itu kembali bertemu dalam suasana yang sangat mengharukan.

Sungguh teman..., aku terharu sekali dengan akhir cerita film tersebut. Oke, aku mengaku... bahwa aku sempat menitikkan air mata saat menyaksikan pengakuan Sahir tentang persahabatannya dengan Billu. Aku juga sangat terharu bahwa Billu selama ini tetap memilih diam dan tak menceritakan sedikitpun, bahkan kepada keluarganya pun tidak, tentang 'jasa-jasa'nya di balik kesuksesan seorang Superstar, Sahir.

Semoga persahabatan antara Bellu dan Sahir, meskipun hanya fiktif belaka, mampu membuat kita menghargai persahabatan yang telah kita jalin bersama sahabat-sabahat kita. Sahabat adalah orang yang mampu menerima kita apa adanya, tanpa menuntut lebih. Persahabatan itu tulus..., persahabatan itu indah... dan keindahan persahabatan itu tetap terasa meskipun tak ada hal spesial yang dilakukan. Karena persahabatan adalah penerimaan dan itu dapat dirasakan di hati...