Tampilkan postingan dengan label inspirasi-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi-ku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juni 2010

Menyikapi rasa kehilangan

Kehilangan putri tercinta, dalam usia yang relatif masih sangat muda, tentu saja membuat hati kedua orang tuanya luluh lantak. Seperti itulah yang aku saksikan pada hari Sabtu pagi kemarin, melalui penayangan di salah satu stasiun televisi itu. Duka yang teramat dalam tampak pada raut muka keluarga Dewi Yull dan Ray Sahetapy atas berpulang Gizcka Putri Agustina Sahetapy, pada  Jumat (11/3/2010) sekitar pukul 03.30 akibat penyakit radang otak.  

Sungguh suatu cobaan yang berat bagi siapa saja yang mengalami hal serupa. Namun, aku menyaksikan betapa Dewi Yull kemudian dapat dengan tegar memberikan keterangan pada pers tentang musibah yang dialaminya tersebut. Kulihat Dewi Yull berusaha untuk tetap tenang dan sesekali berusaha memberikan senyumnya pada insan pers. 

Ya Allah, sungguh aku kagum akan ketegarannya. Dia telah berusaha untuk mengikhlaskan kepergian buah hati tercintanya menghadap pada Sang Khalik. Tanpa menyalahkan siapa-siapa dan memandang musibah itu semata-mata atas kehendakNYA. Bahkan dengan senyum disampaikannya bahwa kini putrinya itu telah tenang dan terbebas dari rasa sakit yang telah dideritanya selama 3 bulan terakhir.

Aku sungguh kagum akan ketenangan Dewi Yull dalam menghadapi kehilangan yang besar dalam hidupnya. Apalagi sudah menjadi pemandangan yang 'biasa' jika orang-orang yang ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh orang-orang tercintanya akan menangis histeris atau bahkan pingsan. Bukan sekali ini aku melihat ketenangan, ketegaran dan keikhlasan Dewi Yull dalam menerima cobaan dari Sang Khalik. Pemandangan yang sama aku saksikan beberapa tahun lalu saat Dewi Yull harus mengikhlaskan bahtera rumah tangganya yang kandas. 

Aku salut sekali padanya atas kepandaiannya mengontrol emosi, atas kesabaran dan keikhlasannya menerima suratan takdir yang digariskan untuknya. Mungkin benar kata Dewi Yull, bahwa Gizca adalah 'guru' dalam hidupnya. Kehadiran Gizka telah mengajarkan banyak hal padanya, seperti kesabaran, keikhlasan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Allah kepadanya. Suatu keahlian yang diperolehnya setelah mengalami 'proses belajar' bertahun-tahun lamanya.

Aku sendiri tak yakin akan mampu bersikap setegar Dewi Yull ketika harus merelakan 'kehilangan' orang-orang yang aku cintai. 

Senin, 07 Juni 2010

Berdialog dengan Tuhan (2)

Kembali aku menerima email dari seorang teman yang kupikir sangat berguna jika aku bagikan disini. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Mungkin seperti inilah dialog yang telah kita lakukan dengan Tuhan :


Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku.
Tuhan berkata, "Bukankah seharusnya kau yang menyerahkannya kepada-Ku dan bukan Aku yang harus mengambilnya darimu ?"

Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya jiwanya telah sempurna, sementara tubuhnya hanyalah sementara."

Ya Tuhan berilah aku kesabaran.
Tuhan berkata, "Tidakkah kau pahami bahwa kesabaran itu hasil dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak serta merta kau dapatkan. Jadi kau harus meraihnya sendiri ."

Ya Tuhan berilah aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, "Sebenarnya Aku telah memberimu berkah yang berlimpah. Jika kau mensyukurinya, maka kebahagiaan itu akan kau dapatkan."

Ya Tuhan jauhkanlah aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, "Tahukah kau, penderitaan akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan akan membawamu untuk lebih mendekati Aku...?"

Ya Tuhan berilah aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, "Tidakkah kau sadari bahwa sebenarnya Aku telah memberimu kehidupan supaya kau bisa menikmati segala hal...?"

Ya Tuhan bantulah aku untuk mencintai orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Tuhan berkata, "Syukurlah...., akhirnya kau mengerti juga!"

** Begitulah manusia.., selalu saja menuntut segala kemudahan dan kenikmatan dari-Nya. Padahal apa yang telah diberikan Tuhan untuk kita sejatinya adalah yang terbaik untuk kita, karena memang hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik bagi kita. **

Jumat, 04 Juni 2010

Berdialog dengan Tuhan

Sobat, kembali aku mendapatkan sebuah pesan dari seorang sahabat tentang "Berdialog dengan Tuhan". Seperti biasa, kembali aku ingin menuliskannya di sini. Semoga saja membuat hidup kita hari ini dan seterusnya akan jauh lebih menyenangkan.

Manusia : "Selamat Pagi Tuhan, sekiranya Tuhan punya waktu bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan ?"

Tuhan : "Ooo.., waktuKU adalah kekekalan. Sama sekali tak ada masalah bagiku soal waktu. Apa pertanyaanmu?

Manusia : "Terima kasih, Tuhan. Apa sebenarnya yang paling mengherankan bagiMU tentang kami manusia?"

Tuhan : "Hahaha.... Kalian itu sebagai manusia adalah makhluk yang aneh."

Manusia : "Mengapa bisa begitu ?"

Tuhan : "Baiklah aku jelaskan padamu. Semoga kamu dapat mengerti.
  • Pertama : kalian suka mencemaskan masa depan, sampai lupa hari ini.
  • Kedua, kalian hidup seolah-olah tidak bakal mati.
  • Ketiga, kalian cepat bosan sebagai anak-anak dan terburu-buru ingin dewasa. Namun anehnya, setelah dewasa rindu lagi jadi anak-anak : suka bertengkar, ngambek dan ribut hanya karena masalah-masalah yang sepele.
  • Selanjutnya, yang keempat : kalian rela kehilangan kesehatan demi mengejar uang, tetapi membayarnya kembali untuk mengembalikan kesehatan itu. Hal-hal seperti itulah yang membuat hidup kalian susah."
Manusia : "Lantas apa nasihat Tuhan agar kami bisa hidup bahagia ?"

Tuhan : "Sebenarnya semua nasihat sudah pernah AKU berikan. Inilah satu lagi keanehan kalian : suka melupakan nasihatKU."

Manusia : "Sudikah Tuhan mengulang lagi nasehat itu ?"

Tuhan : "Baiklah.. Akan AKU ulangi lagi beberapa nasehat yang terpenting. Kali ini dengarkan baik-baik :
  1. Kalian harus sadar bahwa mengejar rejeki adalah sebuah kesalahan. Yang seharusnya kalian lakukan ialah menata diri agar kalian layak dikucuri rejeki. Jadi jangan mengejar rejeki, tetapi biarlah rejeki yang mengejar kalian.
  2. Ingat : 'siapa' yang kalian miliki itu lebih berharga dari pada 'apa' yang kalian punyai. Perbanyaklah teman, kurangi musuh.
  3. Jangan bodoh dengan cemburu dan selalu membandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain. Melainkan bersyukurlah dengan apa yang sudah kalian terima. Khususnya, kenalilah talentadan potensi yang kalian miliki lalu kembangkanlah itu sebaik-baiknya, maka kalian akan menjadi manusia unggul. Otomatis rejeki yang akan mengejar kalian.
  4. Ingat : orang yang disebut 'kaya' bukanlah dia yang berhasil mengumpulkan yang paling banyak, tetapi adalah dia yang paling 'sedikit' memerlukan, sehingga masih sanggup memberi kepada sesamanya.

Nah itu nasehatku, semoga kali ini tak kau lupakan lagi."

Rabu, 19 Mei 2010

Kekerasan vs Kelembutan

Beberapa hari yang lalu, saat aku datang ke blognya Bang Munir, aku sangat terkesan dengan postingannya yang berjudul : Cinta yang Merubah Hati Seseorang. Betapa dahsyatnya cinta, sehingga seorang mantan preman bisa bertekuk lutut pada cinta tulus dan penerimaan dari seorang wanita biasa. Bahkan, sang mantan preman itu bisa benar-benar menjadi pribadi baru yang baik dan berubah 180 derajad dari pribadinya yang lama. Subhanallah...

Yang membuat aku kagum adalah karena cerita itu bukanlah sekedar cerita fiksi karya Bang Munir, namun sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi. Menurutku kisah hidup itu sangat luar biasa, maka aku segera menyarankan pada Bang Munir untuk mendaftarkan postingannya itu dalam Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan blognya Mbak Anazkia.

Memang, tanpa adanya hidayah dari Allah maka perubahan seperti yang dikisahkan Bang Munir itu juga tak akan terjadi. Namun tetap saja peristiwa itu telah membuktikan bahwa 'teori' tentang kekerasan yang dapat dikalahkan oleh kelembutan terbukti nyata dan bukan isapan jempol belaka. Memang semua membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama, sehingga tanpa ketulusan dan kesungguhan hati perubahan yang diharapkan tak akan dapat terwudud. Seperti batu yang dapat dilubangi oleh tetesan air terus menerus selama berhari-hari.

Ada sebuah kisah yang dapat kembali menguatkan kita bahwa kekerasan dapat dikalahkan oleh kelembutan. Mungkin kisah ini bukan kisah baru namun tak ada salahnya aku menuliskannya lagi disini untuk kembali menyegarkan ingatan kita. Kisah ini berjudul "Kera di Pucuk Pohon Kelapa" dan.... inilah kisah itu :
Ada seekor kera yang sedang berada di pucuk pohon kelapa. Dia tak sadar jika sedang diintai oleh tiga angin besar, yaitu : Angin Topan, Tornado dan Angin Bahorok. Rupanya ketiga angin itu sedang bertaruh tentang siapa yang bisa menjatuhkan kera itu dari pohon kelapa dalam waktu yang paling singkat.

Angin Topan sesumbar bahwa dia hanya membutuhkan waktu 45 detik. Angin Tornado yang tak mau kalah dengan Angin Topan mengatakan bahwa dia hanya membutuhkan waktu 30 detik. Angin Bahorok tersenyum mengejek kedua temannya dan mengatakan bahwa hanya dalam waktu 15 detik dia akan dapat menjatuhkan kera itu.

Akhirnya pertarungan pun dimulai. Yang pertama kali menunjukkan kemampuannya adalah Angin Topan. Dia langsung meniup pohon kelapa dengan sangat kencang. Kera yang sedang ada di pohon kelapa terkejut bukan main. Begitu merasa ada angin besar datang, kera itu segera berpegangan erat-erat pada pohon kelapa. Beberape menit berlalu, tapi ternyata kera itu masih bertahan di pohon kelapa. Angin Topan pun menyerah.

Selanjutnya Angin Tornado unjuk kemampuan. Dia berusaha meniup pohon kelapa lebih kencang lagi. Angin yang semakin besar membuat kera itu semakin kuat berpegangan pada pohon kelapa. Kembali kera itu mampu bertahan di pohon kelapa dan Angin Tornado pun menyerah.

gambar diculik dari sini

Selanjutnya, tak ingin kalah seperti kedua angin terdahulu, maka Angin Bahorok berusaha meniup pohon kelapa sekuat tenaga. Si kera pun semakin kencang memeluk pohon kelapa dan kembali berhasil bertahan. Akhirnya, ketiga angin besar itu mau tak mau harus mengakui kehebatan sang kera.

Kejadian itu rupanya disaksikan oleh Angin Sepoi-Sepoi. Dia kemudian mengatakan pada ketiga angin besar itu bahwa dia pasti bisa menjatuhkan kera itu. Ketiga angin besar itu tertawa mendengar perkataan Angin Sepoi-sepoi, karena ketiga Angin Besar saja tak bisa melakukannya apalagi angin yang kecil.

Tanpa banyak bicara, Angin Sepoi-sepoi pun langsung meniup ubun-ubun kera itu. Kera itu pun merasakan hawa dingin dan segar menerpanya, dan tak lama kemudian  kera itu merasakan kantuk menyergapnya. Tak lama kemudian kera itu pun tertidur. Begitu pegangannya pada pohon kelapa terlepas, maka kera itu pun langsung jatuh.
Banyak hikmah yang dapat diambil dari kejadian itu. Yang pertama adalah untuk mengalahkan kekerasan hati akan lebih efektif dilakukan dengan kelembutan. Yang kedua, bahwa ternyata kita dapat lebih kuat saat dihadapkan dengan penderitaan dan kesulitan. Sementara jika kita dihadapkan pada kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan ternyata seringkali kita terlena.

Kekerasan vs Kelembutan

Beberapa hari yang lalu, saat aku datang ke blognya Bang Munir, aku sangat terkesan dengan postingannya yang berjudul : Cinta yang Merubah Hati Seseorang. Betapa dahsyatnya cinta, sehingga seorang mantan preman bisa bertekuk lutut pada cinta tulus dan penerimaan dari seorang wanita biasa. Bahkan, sang mantan preman itu bisa benar-benar menjadi pribadi baru yang baik dan berubah 180 derajad dari pribadinya yang lama. Subhanallah...

Yang membuat aku kagum adalah karena cerita itu bukanlah sekedar cerita fiksi karya Bang Munir, namun sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi. Menurutku kisah hidup itu sangat luar biasa, maka aku segera menyarankan pada Bang Munir untuk mendaftarkan postingannya itu dalam Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan blognya Mbak Anazkia.

Memang, tanpa adanya hidayah dari Allah maka perubahan seperti yang dikisahkan Bang Munir itu juga tak akan terjadi. Namun tetap saja peristiwa itu telah membuktikan bahwa 'teori' tentang kekerasan yang dapat dikalahkan oleh kelembutan terbukti nyata dan bukan isapan jempol belaka. Memang semua membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama, sehingga tanpa ketulusan dan kesungguhan hati perubahan yang diharapkan tak akan dapat terwudud. Seperti batu yang dapat dilubangi oleh tetesan air terus menerus selama berhari-hari.

Ada sebuah kisah yang dapat kembali menguatkan kita bahwa kekerasan dapat dikalahkan oleh kelembutan. Mungkin kisah ini bukan kisah baru namun tak ada salahnya aku menuliskannya lagi disini untuk kembali menyegarkan ingatan kita. Kisah ini berjudul "Kera di Pucuk Pohon Kelapa" dan.... inilah kisah itu :
Ada seekor kera yang sedang berada di pucuk pohon kelapa. Dia tak sadar jika sedang diintai oleh tiga angin besar, yaitu : Angin Topan, Tornado dan Angin Bahorok. Rupanya ketiga angin itu sedang bertaruh tentang siapa yang bisa menjatuhkan kera itu dari pohon kelapa dalam waktu yang paling singkat.

Angin Topan sesumbar bahwa dia hanya membutuhkan waktu 45 detik. Angin Tornado yang tak mau kalah dengan Angin Topan mengatakan bahwa dia hanya membutuhkan waktu 30 detik. Angin Bahorok tersenyum mengejek kedua temannya dan mengatakan bahwa hanya dalam waktu 15 detik dia akan dapat menjatuhkan kera itu.

Akhirnya pertarungan pun dimulai. Yang pertama kali menunjukkan kemampuannya adalah Angin Topan. Dia langsung meniup pohon kelapa dengan sangat kencang. Kera yang sedang ada di pohon kelapa terkejut bukan main. Begitu merasa ada angin besar datang, kera itu segera berpegangan erat-erat pada pohon kelapa. Beberape menit berlalu, tapi ternyata kera itu masih bertahan di pohon kelapa. Angin Topan pun menyerah.

Selanjutnya Angin Tornado unjuk kemampuan. Dia berusaha meniup pohon kelapa lebih kencang lagi. Angin yang semakin besar membuat kera itu semakin kuat berpegangan pada pohon kelapa. Kembali kera itu mampu bertahan di pohon kelapa dan Angin Tornado pun menyerah.

gambar diculik dari sini

Selanjutnya, tak ingin kalah seperti kedua angin terdahulu, maka Angin Bahorok berusaha meniup pohon kelapa sekuat tenaga. Si kera pun semakin kencang memeluk pohon kelapa dan kembali berhasil bertahan. Akhirnya, ketiga angin besar itu mau tak mau harus mengakui kehebatan sang kera.

Kejadian itu rupanya disaksikan oleh Angin Sepoi-Sepoi. Dia kemudian mengatakan pada ketiga angin besar itu bahwa dia pasti bisa menjatuhkan kera itu. Ketiga angin besar itu tertawa mendengar perkataan Angin Sepoi-sepoi, karena ketiga Angin Besar saja tak bisa melakukannya apalagi angin yang kecil.

Tanpa banyak bicara, Angin Sepoi-sepoi pun langsung meniup ubun-ubun kera itu. Kera itu pun merasakan hawa dingin dan segar menerpanya, dan tak lama kemudian  kera itu merasakan kantuk menyergapnya. Tak lama kemudian kera itu pun tertidur. Begitu pegangannya pada pohon kelapa terlepas, maka kera itu pun langsung jatuh.
Banyak hikmah yang dapat diambil dari kejadian itu. Yang pertama adalah untuk mengalahkan kekerasan hati akan lebih efektif dilakukan dengan kelembutan. Yang kedua, bahwa ternyata kita dapat lebih kuat saat dihadapkan dengan penderitaan dan kesulitan. Sementara jika kita dihadapkan pada kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan ternyata seringkali kita terlena.

Senin, 10 Mei 2010

Pidato seorang anak

Aku kembali mendapat email dari seorang teman yang diperolehnya dari The Collage Foundation. Email itu berisi tentang seorang anak (Severn Suzuki) yang pada usia 12 tahun berpidato (tanpa teks) di Forum PBB. Berbeda dengan anak-anak seusianya, pada usia 9 tahun Severn Suzuki telah mendirikan Enviromental Children's Organization (ECO), yaitu sebuah kelompok anak-anak yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah lingkungan. Hebat ya..?

Suatu kali (entah tepatnya kapan aku tak tahu, karena tak disebutkan di email itu), ECO diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan Hidup PBB. Severn yang pada saat itu sudah berusia 12 tahun berkesempatan menyampaikan sebuah pidato dalam forum PBB. Ternyata pidato yang disampaikannya (meskipun tanpa teks) telah memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Sedemikian hebatkah pidato yang disampaikan Severn ? Jika penasaran untuk mengetahuinya, inilah isi pidato Severn itu :

Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yang terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang berusaha untuk membuat perbedaan, yaitu : Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini, dari tempat yang jauhnya 6000 mil, untuk memberitahukan pada anda sekalian, orang-orang dewasa, bahwa anda harus mengubah cara anda. Hari ini, di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada di sini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang. Saya berada disini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada di bawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan ozon. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya. Hilang selamanya. Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang? Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap seolah-olah kita masih memiliki banyak waktu dan memiliki semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya, tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir...
Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya, tolong berhenti merusaknya...

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda : pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi, tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama. Perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita. Kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan. Kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami : "Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, serta cinta dan kasih sayang."

Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio. Saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia, seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan pada kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan, tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini ? Kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan : "Semuanya akan baik-baik saja", "Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan" dan "Ini bukanlah akhir dari segalanya."

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu bukan oleh kata-katamu.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari ? Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang anda semua, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
Servern Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai, serempak seluruh orang yang hadir di ruang tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepadanya.

Dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidatonya. "Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan di sekitar kita beserta isinya, oleh anak yang baru berusia 12 tahun. Seorang anak yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin? Saya ... tidak.... kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun."

Bagaimana dengan sobat semua? Apakah sobat semua juga merasakan kekaguman seperti yang aku rasakan? Apakah sobat semua juga merasa malu seperti yang aku rasakan? Jika begitu, kita dan para delegasi negara-negara yang ada di Forum PBB telah disadarkan oleh seorang anak yang berusia 12 tahun.

Semoga postingan ini membuat kita mau merubah sikap....

Pidato seorang anak

Aku kembali mendapat email dari seorang teman yang diperolehnya dari The Collage Foundation. Email itu berisi tentang seorang anak (Severn Suzuki) yang pada usia 12 tahun berpidato (tanpa teks) di Forum PBB. Berbeda dengan anak-anak seusianya, pada usia 9 tahun Severn Suzuki telah mendirikan Enviromental Children's Organization (ECO), yaitu sebuah kelompok anak-anak yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah lingkungan. Hebat ya..?

Suatu kali (entah tepatnya kapan aku tak tahu, karena tak disebutkan di email itu), ECO diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan Hidup PBB. Severn yang pada saat itu sudah berusia 12 tahun berkesempatan menyampaikan sebuah pidato dalam forum PBB. Ternyata pidato yang disampaikannya (meskipun tanpa teks) telah memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Sedemikian hebatkah pidato yang disampaikan Severn ? Jika penasaran untuk mengetahuinya, inilah isi pidato Severn itu :

Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yang terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang berusaha untuk membuat perbedaan, yaitu : Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini, dari tempat yang jauhnya 6000 mil, untuk memberitahukan pada anda sekalian, orang-orang dewasa, bahwa anda harus mengubah cara anda. Hari ini, di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada di sini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang. Saya berada disini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada di bawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan ozon. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya. Hilang selamanya. Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang? Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap seolah-olah kita masih memiliki banyak waktu dan memiliki semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya, tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir...
Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya, tolong berhenti merusaknya...

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda : pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi, tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama. Perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita. Kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan. Kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami : "Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, serta cinta dan kasih sayang."

Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio. Saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia, seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan pada kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan, tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini ? Kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan : "Semuanya akan baik-baik saja", "Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan" dan "Ini bukanlah akhir dari segalanya."

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu bukan oleh kata-katamu.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari ? Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang anda semua, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
Servern Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai, serempak seluruh orang yang hadir di ruang tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepadanya.

Dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidatonya. "Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan di sekitar kita beserta isinya, oleh anak yang baru berusia 12 tahun. Seorang anak yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin? Saya ... tidak.... kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun."

Bagaimana dengan sobat semua? Apakah sobat semua juga merasakan kekaguman seperti yang aku rasakan? Apakah sobat semua juga merasa malu seperti yang aku rasakan? Jika begitu, kita dan para delegasi negara-negara yang ada di Forum PBB telah disadarkan oleh seorang anak yang berusia 12 tahun.

Semoga postingan ini membuat kita mau merubah sikap....

Kamis, 06 Mei 2010

Serba salah

Aku punya teman seorang dokter, yang kebetulan masih muda. Seseorang bisa menyandang gelar dokter, pastinya dia pinter bukan ? Sayangnya, selain pinter dia itu ramah dan cantik. Lho..., kok pakai kata "sayangnya" ? Biasanya orang akan berkata, sudah pinter, ramah dan cantik lagi, tapi mengapa aku memakai kata "sayangnya" ? Karena... pintar, cantik dan ramah itulah sumber permasalahannya. Tambah bingung ?

Temanku itu memang sering mengeluh tentang kecantikan, kepandaian dan keramahannya karena ketiga hal itulah yang kini menjadi pemicu kecemburuan rekan kerjanya (yang kebetulan dokter juga). Kecemburuan itu sudah akut sepertinya, sehingga sang rekan kerja berusaha dengan berbagai macam cara untuk menjatuhkan dan mengalahkan temanku itu. Bahkan sang rekan kerja tak segan-segan menghasut rekan kerja yang lainnya untuk menyudutkan temanku ini.


Sebenarnya sang rekan kerja itu juga pintar dan cantik, tapi rupanya dia tak ingin ada yang menyainginya. Dia cemburu dengan temanku ini. Kecemburuan dan rasa iri hatinya memuncak ketika temanku mulai mendapatkan pomosi jabatan. Akibatnya, suasana kerja menjadi sangat tidak kondusif dan tidak nyaman. Apalagi setelah sekian banyak orang ikut-ikut meneropong dan mengkritik segala tingkah laku temanku itu.

Terus menerus bekerja di bawah tekanan membuat temanku tak nyaman dalam bekerja. Dia mulai merasa sangat terganggu dengan aneka 'aksi' sang rekan kerja yang ingin menjatuhkannya. Segala hal yang dilakukannya dianggap tidak benar. Temanku menjadi serba salah dalam bersikap. Di satu sisi dia ingin tak peduli dengan apapun yang dilakukan dan dikatakan sang rekan kerja untuk menjatuhkannya. Namun di sisi lain, dia merasa lelah dan tertekan sehingga ingin menyerah. Sudah berulang kali temanku mengeluh dan meyatakan keinginannya mundur dari jabatannya dan juga dari pekerjaannya.

Begitulah hidup, seringkali terasa 'serba salah' apalagi jika kita harus peduli dengan pendapat dan kata orang lain. Setiap manusia berbeda cara pandang dan sikapnya dalam menghadapi sesuatu, dan hal itu akan memunculkan pendapat yang berbeda pula dalam menyikapi suatu peristiwa. Jika semua kata dan pendapat orang lain dituruti, kita akan kelelahan sendiri... karena pendapat dan kata dari orang lain selalu berbeda-beda.. tak ada habisnya. Sementara jika kita tak mengikuti apa pendapat dan kata dari orang lain, kita dianggap sebagai manusia 'aneh' sekaligus makhluk anti sosial.

Aku jadi teringat dengan sebuah kisah klasik yang menceritakan tentang seorang bapak dan anaknya yang membawa keledai ke kota. Aku yakin banyak yang ingat dengan kisah populer ini. Namun bagi yang lupa, aku catatkan kembali kisah itu untuk mengingatkan kita semua.

Ada seorang bapak yang sedang berjalan bersama anak lelakinya sambil menuntun seekor keledai. Ketika mereka melewati sekelompok orang terdengar oleh mereka ada yang berkata “Sungguh bodoh bapak itu mempunyai keledai tapi tidak di tunggangi.”

Mendengar komentar itu, sang bapak lantas menyuruh anaknya untuk menaiki keledai tersebut, sedangkan sang bapak berjalan di sampingnya. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang berkata, "Wah ! Anak celaka ! Kau enak-enak duduk dia atas keledai sementara bapakmu berjalan kaki."

Kembali mereka terganggu dengan komentar itu. Akhirnya si bapak dan si anak bertukar tempat. Si anak berjalan kaki sementara si bapak menunggangi keledai. Belum lama berjalan, mereka bertemu dengan orang lain yang berkata, "Bapak macam mana kamu ini ? Enak-enak duduk di atas keledai sementara anakmu kau suruh berjalan kaki."

Si bapak kemudian menaikkan anaknya ke atas punggung keledai. Jadilah mereka menunggangi keledai itu berdua. Beres ? Ternyata tidak. Komentar tajam pun datang lagi dari orang lain yang melihatnya, "Dasar manusia tidak tahu diri ! Keledai sekecil itu kalian naiki berdua ?"

Dengan bingung si bapak dan si anak kemudian turun dari keledai dan memutuskan untuk memikul keledai itu sampai ke kota. Kali ini pun ada orang yang mengetawai mereka dan berkata, “ha…ha…ha... Keledai masih hidup dan sehat kok di pikul ? Seperti kurang kerjaan.”

 Foto oleh Aida yang diculik dari sini

Mendengarkan pendapat orang lain memang bagus, tapi tak semuanya harus ditelan dan diterima begitu saja. Bagiku lebih nyaman menjadi diri sendiri dan selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan norma-norma masyarakat, kita rasanya perlu meneguhkan hati untuk menjalani hidup dengan cara kita sendiri. Bagaimanapun juga kita yang akan menerima segala efek dari perbuatan kita sendiri. Orang lain hanya bisa menilai namun kita sendirilah yang dapat merasakan mana yang pas di hati dan mana yang tidak.

Serba salah

Aku punya teman seorang dokter, yang kebetulan masih muda. Seseorang bisa menyandang gelar dokter, pastinya dia pinter bukan ? Sayangnya, selain pinter dia itu ramah dan cantik. Lho..., kok pakai kata "sayangnya" ? Biasanya orang akan berkata, sudah pinter, ramah dan cantik lagi, tapi mengapa aku memakai kata "sayangnya" ? Karena... pintar, cantik dan ramah itulah sumber permasalahannya. Tambah bingung ?

Temanku itu memang sering mengeluh tentang kecantikan, kepandaian dan keramahannya karena ketiga hal itulah yang kini menjadi pemicu kecemburuan rekan kerjanya (yang kebetulan dokter juga). Kecemburuan itu sudah akut sepertinya, sehingga sang rekan kerja berusaha dengan berbagai macam cara untuk menjatuhkan dan mengalahkan temanku itu. Bahkan sang rekan kerja tak segan-segan menghasut rekan kerja yang lainnya untuk menyudutkan temanku ini.


Sebenarnya sang rekan kerja itu juga pintar dan cantik, tapi rupanya dia tak ingin ada yang menyainginya. Dia cemburu dengan temanku ini. Kecemburuan dan rasa iri hatinya memuncak ketika temanku mulai mendapatkan pomosi jabatan. Akibatnya, suasana kerja menjadi sangat tidak kondusif dan tidak nyaman. Apalagi setelah sekian banyak orang ikut-ikut meneropong dan mengkritik segala tingkah laku temanku itu.

Terus menerus bekerja di bawah tekanan membuat temanku tak nyaman dalam bekerja. Dia mulai merasa sangat terganggu dengan aneka 'aksi' sang rekan kerja yang ingin menjatuhkannya. Segala hal yang dilakukannya dianggap tidak benar. Temanku menjadi serba salah dalam bersikap. Di satu sisi dia ingin tak peduli dengan apapun yang dilakukan dan dikatakan sang rekan kerja untuk menjatuhkannya. Namun di sisi lain, dia merasa lelah dan tertekan sehingga ingin menyerah. Sudah berulang kali temanku mengeluh dan meyatakan keinginannya mundur dari jabatannya dan juga dari pekerjaannya.

Begitulah hidup, seringkali terasa 'serba salah' apalagi jika kita harus peduli dengan pendapat dan kata orang lain. Setiap manusia berbeda cara pandang dan sikapnya dalam menghadapi sesuatu, dan hal itu akan memunculkan pendapat yang berbeda pula dalam menyikapi suatu peristiwa. Jika semua kata dan pendapat orang lain dituruti, kita akan kelelahan sendiri... karena pendapat dan kata dari orang lain selalu berbeda-beda.. tak ada habisnya. Sementara jika kita tak mengikuti apa pendapat dan kata dari orang lain, kita dianggap sebagai manusia 'aneh' sekaligus makhluk anti sosial.

Aku jadi teringat dengan sebuah kisah klasik yang menceritakan tentang seorang bapak dan anaknya yang membawa keledai ke kota. Aku yakin banyak yang ingat dengan kisah populer ini. Namun bagi yang lupa, aku catatkan kembali kisah itu untuk mengingatkan kita semua.

Ada seorang bapak yang sedang berjalan bersama anak lelakinya sambil menuntun seekor keledai. Ketika mereka melewati sekelompok orang terdengar oleh mereka ada yang berkata “Sungguh bodoh bapak itu mempunyai keledai tapi tidak di tunggangi.”

Mendengar komentar itu, sang bapak lantas menyuruh anaknya untuk menaiki keledai tersebut, sedangkan sang bapak berjalan di sampingnya. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang berkata, "Wah ! Anak celaka ! Kau enak-enak duduk dia atas keledai sementara bapakmu berjalan kaki."

Kembali mereka terganggu dengan komentar itu. Akhirnya si bapak dan si anak bertukar tempat. Si anak berjalan kaki sementara si bapak menunggangi keledai. Belum lama berjalan, mereka bertemu dengan orang lain yang berkata, "Bapak macam mana kamu ini ? Enak-enak duduk di atas keledai sementara anakmu kau suruh berjalan kaki."

Si bapak kemudian menaikkan anaknya ke atas punggung keledai. Jadilah mereka menunggangi keledai itu berdua. Beres ? Ternyata tidak. Komentar tajam pun datang lagi dari orang lain yang melihatnya, "Dasar manusia tidak tahu diri ! Keledai sekecil itu kalian naiki berdua ?"

Dengan bingung si bapak dan si anak kemudian turun dari keledai dan memutuskan untuk memikul keledai itu sampai ke kota. Kali ini pun ada orang yang mengetawai mereka dan berkata, “ha…ha…ha... Keledai masih hidup dan sehat kok di pikul ? Seperti kurang kerjaan.”

 Foto oleh Aida yang diculik dari sini

Mendengarkan pendapat orang lain memang bagus, tapi tak semuanya harus ditelan dan diterima begitu saja. Bagiku lebih nyaman menjadi diri sendiri dan selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan norma-norma masyarakat, kita rasanya perlu meneguhkan hati untuk menjalani hidup dengan cara kita sendiri. Bagaimanapun juga kita yang akan menerima segala efek dari perbuatan kita sendiri. Orang lain hanya bisa menilai namun kita sendirilah yang dapat merasakan mana yang pas di hati dan mana yang tidak.

Rabu, 05 Mei 2010

Selembar Kertas Putih

Sobat, kali ini aku ingin berbagi tentang sebuah kisah yang menurutku sangat indah. Sengaja aku salin disini, agar aku dapat selalu membacanya dan mengingat pelajaran berharga yang ada di dalamnya. Semoga saja juga memberi manfaat kepada siapa saja yang belum pernah membaca kisah ini.

Bagi teman yang sudah pernah membaca kisah ini, mungkin akan menemukan sedikit perbedaan karena aku telah melakukan peng-editan dalam narasinya. Namun pesan yang ingin disampaikan lewat kisah ini tidak berubah sama sekali.


Ada seorang anak yang suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Dia dengan cekatan akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia akan menyalahkan teman dan orangtuanya.
Pada suatu hari anak itu berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.Terpikir olehnya bahwa madunya pasti sangat manis dan lezat, maka tergoda hatinya untuk mengambil madunya, si anak bertekad mengusir lebah yang ada di dalam sarang itu.
Ia pun mengambil sebatang galah dan kemudian menyodok sarang lebah itu dengan keras. Tentu saja, hal itu menyebabkan ribuan lebah merasa terusik dan mereka pun segera menyerang anak itu. Melihat lebah yang begitu banyak, anak itu lari terbirit-birit. Namun tentu saja lebaih-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Mereka terus saja menyengat anak itu.
Untuk menghindari sengatan lebah selanjutnya, anak itu nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pun pergi meninggalkan anak yang sedang kesakitan itu.
Sesampainya di rumah, diceritakanlah apa yang dialaminya tadi kepada ayahnya, tentu saja disertai kata-kata yang menyalahkan ayahnya.
"Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti Ayah sudah berusaha menyelamatkan aku. Semua ini salah Ayah !"
Ayahnya memandang sang anak dengan sedih. Setelah diam sejenak, dia mengambil selembar kertas putih.
"Anakku, apa yang kau lihat dari kertas ini ?" tanya sang Ayah seraya menunjukkan kertas itu di depan anaknya.
"Itu hanya kertas putih. Tidak ada gambarnya sama sekali," jawab anak itu.
Kemudian, sang Ayah menorehkan sebuah titik berwarna hitam di kertas putih itu.
"Sekarang..., apa yang kau lihat pada kertas putih ini ?" tanya Ayahnya lagi.
"Ada titik hitam di kertas itu," jawab anak itu segera.
"Anakku, mengapa kamu hanay melihat satu titik hitam pada kertas putih ini ? Padahal sebagian ebsar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah, padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."
Selesai berkata sang Ayah pun pergi meninggalkan anaknya yang sedang termenung.


sumber : Hadiah Terindah (Dessy Danarti)

Bagaimana Sobat, apakah kita juga melakukan yang sama seperti anak itu ? Apakah kita juga lebih mudah melihat setitik kecil hitam di atas selembar kertas putih yang besar ?

Cara termudah untuk mengurangi kesedihan dan kekecewaan adalah dengan mencari pembenaran terhadap diri sendiri dan menimpakan kesalahanannya pada orang lain. Namun..., apakah cara termudah ini yang akan kita ambil ? Jika kita melakukannya, maka kita telah kehilangan kesempatan istimewa untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.

*gambar diculik paksa dari sini*
 

Selembar Kertas Putih

Sobat, kali ini aku ingin berbagi tentang sebuah kisah yang menurutku sangat indah. Sengaja aku salin disini, agar aku dapat selalu membacanya dan mengingat pelajaran berharga yang ada di dalamnya. Semoga saja juga memberi manfaat kepada siapa saja yang belum pernah membaca kisah ini.

Bagi teman yang sudah pernah membaca kisah ini, mungkin akan menemukan sedikit perbedaan karena aku telah melakukan peng-editan dalam narasinya. Namun pesan yang ingin disampaikan lewat kisah ini tidak berubah sama sekali.


Ada seorang anak yang suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Dia dengan cekatan akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia akan menyalahkan teman dan orangtuanya.
Pada suatu hari anak itu berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.Terpikir olehnya bahwa madunya pasti sangat manis dan lezat, maka tergoda hatinya untuk mengambil madunya, si anak bertekad mengusir lebah yang ada di dalam sarang itu.
Ia pun mengambil sebatang galah dan kemudian menyodok sarang lebah itu dengan keras. Tentu saja, hal itu menyebabkan ribuan lebah merasa terusik dan mereka pun segera menyerang anak itu. Melihat lebah yang begitu banyak, anak itu lari terbirit-birit. Namun tentu saja lebaih-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Mereka terus saja menyengat anak itu.
Untuk menghindari sengatan lebah selanjutnya, anak itu nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pun pergi meninggalkan anak yang sedang kesakitan itu.
Sesampainya di rumah, diceritakanlah apa yang dialaminya tadi kepada ayahnya, tentu saja disertai kata-kata yang menyalahkan ayahnya.
"Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti Ayah sudah berusaha menyelamatkan aku. Semua ini salah Ayah !"
Ayahnya memandang sang anak dengan sedih. Setelah diam sejenak, dia mengambil selembar kertas putih.
"Anakku, apa yang kau lihat dari kertas ini ?" tanya sang Ayah seraya menunjukkan kertas itu di depan anaknya.
"Itu hanya kertas putih. Tidak ada gambarnya sama sekali," jawab anak itu.
Kemudian, sang Ayah menorehkan sebuah titik berwarna hitam di kertas putih itu.
"Sekarang..., apa yang kau lihat pada kertas putih ini ?" tanya Ayahnya lagi.
"Ada titik hitam di kertas itu," jawab anak itu segera.
"Anakku, mengapa kamu hanay melihat satu titik hitam pada kertas putih ini ? Padahal sebagian ebsar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah, padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."
Selesai berkata sang Ayah pun pergi meninggalkan anaknya yang sedang termenung.


sumber : Hadiah Terindah (Dessy Danarti)

Bagaimana Sobat, apakah kita juga melakukan yang sama seperti anak itu ? Apakah kita juga lebih mudah melihat setitik kecil hitam di atas selembar kertas putih yang besar ?

Cara termudah untuk mengurangi kesedihan dan kekecewaan adalah dengan mencari pembenaran terhadap diri sendiri dan menimpakan kesalahanannya pada orang lain. Namun..., apakah cara termudah ini yang akan kita ambil ? Jika kita melakukannya, maka kita telah kehilangan kesempatan istimewa untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.

*gambar diculik paksa dari sini*
 

Minggu, 02 Mei 2010

Sportivitas

Apa yang akan kita rasakan jika kita terus menerus menerima kekalahan dan kegagalan ? Apakah kita akan mampu untuk tetap bersemangat meraih kemenangan dan keberhasilan dalam kondisi seperti itu ? Apakah kita masih mampu menerimanya sebagai kekalahan dan kesalahan sendiri tanpa menyalahkan orang lain ? Hanya orang-orang yang menjunjung tinggi sportivitaslah yang akan mampu melakukannya.

Apakah sportivitas itu ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sportivitas diartikan sebagai sikap adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Orang-orang yang mampu bersikap seperti itu disebut sebagai orang-orang yang sportif dan tak banyak orang-orang seperti itu.

Seorang tokoh dunia yang di mataku memiliki jiwa yang sportif adalah mantan Presiden Amerika Serikat : Abraham Lincoln. Walau kegagalan dan kekalahan beruntun terjadi dalam hidupnya, dia tak menyerah dan menyalahkan orang lain. Meskipun sempat depresi namun dia memiliki semangat untuk bangkit lagi. Sebelum akhirnya berhasil dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat, kekalahan demi kekalahan telah dialaminya seperti : kalah dalam pemilihan Dewan Legislatif, kalah dalam pemilihan Kongres, kalah dalam pemilihan Senat, kalah dalam pemilihan calon Wakil Presiden. Setelah  melewati 8 kali kekalahan dalam pemilihan, sekian banyak kegagalan dalam hidup, semangatnya tak meredup dan pada pada tahun 1860 dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bicara tentang sportivitas, aku mau tak mau mengakui bahwa ternyata sportivitas (secara tak langsung) dijunjung tinggi oleh para blogger. Awalnya aku tak menyadarinya, hingga suatu kali aku memberikan diri untuk mengikuti lomba/kompetisi yang diperuntukkan para blogger dan bersaing dengan blogger-blogger lainnya. Siapa pun yang mengikuti lomba/kompetisi pasti berharap menang, namun uniknya aku menemukan bahwa di antara para blogger yang mengikuti lomba/kompetisi itu saling mendukung satu sama lain. Mereka saling memberikan semangat bahkan saling mendoakan agar menang, meskipun mereka jelas-jelas memperebutkan hal yang sama.

Ketika pemenang lomba/kompetisi diumumkan, semangat sportivitas kembali terlihat. Peserta yang kalah mengucapkan selamat kepada para pemenang dan menerima kekalahannya dengan lapang dada. Tak ada hujatan atas kemenangan itu. Tak ada ejekan untuk kekalahan itu. Persahabatan di antara para blogger pun tetap berjalan tanpa ada aroma persaingan yang tidak sehat. Mengungkapkan pujian dan kekaguman atas blog seorang blogger berikut prestasinya, bukan hal aneh lagi. Sungguh sangat menyenangkan.

Itulah yang aku alami dan aku rasakan selama ini. Jika ada kejadian-kejadian kecil yang tidak sesuai dengan apa yang aku ceritakan di atas, aku yakin bahwa prosentasenya sangat kecil. Di mataku, persahabatan dan persaingan antara sesama blogger berjalan dengan baik dan sarat dengan semangat sportivitas.

So, jika dalam dunia maya kita mampu menjaga sportivitas, mengapa tidak kita lakukan juga dalam dunia nyata ?

Sportivitas

Apa yang akan kita rasakan jika kita terus menerus menerima kekalahan dan kegagalan ? Apakah kita akan mampu untuk tetap bersemangat meraih kemenangan dan keberhasilan dalam kondisi seperti itu ? Apakah kita masih mampu menerimanya sebagai kekalahan dan kesalahan sendiri tanpa menyalahkan orang lain ? Hanya orang-orang yang menjunjung tinggi sportivitaslah yang akan mampu melakukannya.

Apakah sportivitas itu ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sportivitas diartikan sebagai sikap adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Orang-orang yang mampu bersikap seperti itu disebut sebagai orang-orang yang sportif dan tak banyak orang-orang seperti itu.

Seorang tokoh dunia yang di mataku memiliki jiwa yang sportif adalah mantan Presiden Amerika Serikat : Abraham Lincoln. Walau kegagalan dan kekalahan beruntun terjadi dalam hidupnya, dia tak menyerah dan menyalahkan orang lain. Meskipun sempat depresi namun dia memiliki semangat untuk bangkit lagi. Sebelum akhirnya berhasil dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat, kekalahan demi kekalahan telah dialaminya seperti : kalah dalam pemilihan Dewan Legislatif, kalah dalam pemilihan Kongres, kalah dalam pemilihan Senat, kalah dalam pemilihan calon Wakil Presiden. Setelah  melewati 8 kali kekalahan dalam pemilihan, sekian banyak kegagalan dalam hidup, semangatnya tak meredup dan pada pada tahun 1860 dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bicara tentang sportivitas, aku mau tak mau mengakui bahwa ternyata sportivitas (secara tak langsung) dijunjung tinggi oleh para blogger. Awalnya aku tak menyadarinya, hingga suatu kali aku memberikan diri untuk mengikuti lomba/kompetisi yang diperuntukkan para blogger dan bersaing dengan blogger-blogger lainnya. Siapa pun yang mengikuti lomba/kompetisi pasti berharap menang, namun uniknya aku menemukan bahwa di antara para blogger yang mengikuti lomba/kompetisi itu saling mendukung satu sama lain. Mereka saling memberikan semangat bahkan saling mendoakan agar menang, meskipun mereka jelas-jelas memperebutkan hal yang sama.

Ketika pemenang lomba/kompetisi diumumkan, semangat sportivitas kembali terlihat. Peserta yang kalah mengucapkan selamat kepada para pemenang dan menerima kekalahannya dengan lapang dada. Tak ada hujatan atas kemenangan itu. Tak ada ejekan untuk kekalahan itu. Persahabatan di antara para blogger pun tetap berjalan tanpa ada aroma persaingan yang tidak sehat. Mengungkapkan pujian dan kekaguman atas blog seorang blogger berikut prestasinya, bukan hal aneh lagi. Sungguh sangat menyenangkan.

Itulah yang aku alami dan aku rasakan selama ini. Jika ada kejadian-kejadian kecil yang tidak sesuai dengan apa yang aku ceritakan di atas, aku yakin bahwa prosentasenya sangat kecil. Di mataku, persahabatan dan persaingan antara sesama blogger berjalan dengan baik dan sarat dengan semangat sportivitas.

So, jika dalam dunia maya kita mampu menjaga sportivitas, mengapa tidak kita lakukan juga dalam dunia nyata ?

Jumat, 30 April 2010

Peduli sampah, peduli lingkungan

Sobat.., aku kembali ingin bicara tentang sampah, meskipun di postingan terdahulu aku sudah pernah membicarakan sampah sebanyak 2 kali, yaitu Ayo Bicara Tentang Sampah dan Memanfaatkan Barang Lama. Mungkin sobat banyak yang mempertanyakan mengapa aku kali ini kembali bicara tentang sampah. Jawabnya adalah... karena : Kilau Satu Bintang.

Nah.., pasti sekarang pertanyaannya ganti menjadi : "Apa itu Kilau Satu Bintang ?" Oke sobat, aku akan menjelaskannya. Kilau Satu Bintang adalah sebuah Novel karya Teera yang di dalamnya membicarakan sampah juga, disamping membicarakan tentang dilema seorang wanita yang menikah yang juga mengejar karirnya. Ingin tahu lebih detil..? Mari kita bahas bersama...


Adalah Alia, seorang yang menjadi 'bintang' di kampusnya. Dia cerdas, mandiri, perfeksionis dan aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan. Berhasil lulus dengan cemerlang dari kampusnya, Alia pun tak kesulitan mencari pekerjaan yang mapan. Sekali lagi, di tempat kerja Alia dapat menunjukkan kualitas 'bintang' dalam dirinya dan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan sangat baik.

Alia pun terlena dalam mengejar karirnya, hingga lupa untuk membangun keluarga hingga sang bunda memperingatkannya. Bagi Alia, memutuskan untuk menikah bukanlah hal yang mudah karena dia khawatir jika nanti menikah dia tak mampu lagi mengejar karirnya. Apalagi, 'pekerjaan domestik' sebagai ibu rumah tangga benar-benar tak menarik minatnya.

Kehidupan pernikahan Alia pada awalnya baik-baik saja, namun setelah setahun berlalu tanpa ada tanda-tanda kehamilan, Alia pun gelisah. Apalagi sudah banyak orang yang bertanya kapan dia akan menimang anak. Berdasarkan saran dokter dan pertimbangan sang suami, akhirnya dengan berat hati Alia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di saat dia akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang selama ini menjadi impiannya. Namun keinginan untuk hamil lebih kuat sehingga Alia memilih untuk mengubur mimpinya. Suatu keputusan yang sangat disesali oleh sahabatnya, Sofie.

Alia yang terbiasa aktif tak bisa diam di rumah setelah resmi keluar dari pekerjaannya, dan dia melakukan banyak kegiatan untuk membuang jenuh. Hingga beberapa peristiwa membuatnya berpaling untuk peduli kepada sampah. Keterlibatan Aulia dalam mengurusi masalah sampah mendapat tentangan keras dari beberapa penduduk di sekitarnya. Hal tersebut membuat Aulia kelelahan secara fisik dan psikis di saat dia sedang fokus untuk bisa hamil.

Terus terang..., sebagian yang dilakukan Alia telah aku lakukan dalam kehidupanku sehari-hari. Hanya bedanya, aku melakukannya sendiri sehingga tak memberikan dampak sama sekali bagi lingkungan di sekitarku. Jika aku sekedar berangan-angan dan melakukan perubahan kecil di rumahku, sedangkan Alia berani mewujudkan angannya. Dia telah berani melangkah lebih jauh dan mengajak lingkungan untuk melakukan hal yang sama sepertinya, meskipun sangat tak mudah.

Tiga keranjang sampah yang kusiapkan :
kiri utk sampah kering, tengah utk sampah basah dan kanan utk sampah yg biasa diambil oleh para pemulung

Sungguh aku tak menyesal memiliki novel ini dan bisa dengan bangga berkata kepada suamiku bahwa apa yang aku lakukan selama ini (di rumah) telah dilakukan juga Alia, oleh tokoh utama dalam buku ini. Bahwa apa yang aku pikirkan dan aku khawatirkan... juga dipikirkan dan dikhawatirkan oleh Alia. Maklum saja, selama ini suamiku memandang sebelah mata pada kerepotanku mengurusi sampah di rumah. Dan.., sejak itu suamiku tak pernah lagi memprotesku jika aku ribut dengan sampah-sampahku... ^_^

Penulis : Teera
Kategori : Fiksi
Penerbit : Frenari
Th. Terbit : Juli 2009 (cetakan I)
Tebal : 200 halaman
Harga : Rp. 30.000