Tampilkan postingan dengan label wisata-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata-ku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juli 2010

Ke Makasar (3)

Sobat, ini cerita terakhirku (janji !) tentang oleh-oleh perjalananku ke Makasar. Semoga belum bosen membacanya ya...? Jika ingin tahu cerita kelanjutannya, segera aja baca cerita penutupnya. Mariii....

Nah, setelah acara belanja dan mengunjungi (lagi) Pantai Losari, aku buru-buru kembali ke hotel. Setelah semua urusan di kamar selesai, akhirnya aku turun kembali ke lobby pada pukul 12.35 WITA. Walau sebenarnya jadwal pesawatku baru akan terbang pada pukul 17.15 WITA tapi kami tetap harus check-out siang itu.  Sementara pihak panitia juga sudah menyiapkan bus untuk mengangkut peserta menuju Bandara Sultan Hasanudin pada pukul 13.00 WITA.

Sebenarnya sih maunya masih pengen belanja lagi, tapi mana mungkin aku belanja dengan membawa koper kesana kemari. Pihak hotel sendiri juga tak mau repot-repot dititipi koper-koper kami, apalagi kami sudah check-out dari hotel. Jadi (terpaksa) aku simpan hasrat untuk belanja dan ikut rombongan ke Bandara pukul 13.10 WITA (molor dari jadwal) siang itu.

So, aku dan peserta lain harus menunggu berjam-jam di bandara. Untung saja aku membawa novel (The Girls of Riyadh), jadi lumayan juga untuk membuang jenuh. Meskipun sudah membaca buku, tapi karena menunggu terlalu lama mau tak mau aku tetap saja merasa jenuh. Saat jam menunjukkan pukul 15.30 WITA aku dan peserta sosialisasi lainnya (yang ternyata kebanyakan naik pesawat yang sama denganku) memutuskan untuk check-in. Begitu sampai di dalam bandara, aku tak lupa untuk foto dulu *narsisbangetdotcom*


foto-foto narsis di Bandara Sultan Hasanudin

Berjalan di bandara yang besar membuatku kerepotan juga, apalagi kondisi fisik sedang meriang. Meskipun bawaanku tak banyak (1 tas polo kecil, tas jinjing isi oleh-oleh dan 1 tas yang tersampir di bahu) ternyata merepotkan juga dibawa jalan-jalan kesana-kemari. Sesuai dengan tiket di tangan, kami akan berangkat melalui Gate 5. Jam 16.20 WITA, kami semua sudah duduk manis di ruang tunggu Gate 5. Namun, menjelang pukul 17.00 WITA terdengar pengumuman bahwa penumpang Lion Air yang akan berangkat ke Surabaya pada pukul 17.15 WITA dialihkan pemberangkatan dari Gate 5 ke Gate 2.

Berduyun-duyunlah penumpang Lion Air pindah dari Gate 5 ke Gate 2. Aku kembali menyeret tas Polo-ku berjalan cukup jauh. Astaga... kenapa bandara harus seluas itu ya..? Untuk pindah gate saja kami harus berjalan lumayan jauh dan akibatnya... kakiku lecet..! Hehehe.... Sesampainya di Gate 2, ada pengumuman bahwa pesawat ditunda pemberangkatannya. ^_^

Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, akhirnya kami dipersilahkan masuk ke dalam pesawat. Berhubung nomor dudukku dan bosku di belakang sendiri (kursi nomor 37), maka kami sampai di kursi kami paling akhir. Akibatnya, kami sudah tak kebagian tempat untuk menyimpan tas Polo kecil kami. Rupanya para penumpang Lion Air siang itu banyak yang kalap belanja oleh-oleh, sehingga kabin penuh. Aku dan bosku terpaksa merelakan tas Polo kami dibawa ke bagasi... meskipun itu berarti kami memerlukan waktu tambahan untuk mengambilnya kembali saat kami sampai di Bandara Juanda nantinya.

Tak lama setelah pesawat berangkat, aku pun mulai merasakan pusing yang luar biasa. Padahal AC pesawat sudah dikecilkan, tapi rupanya kondisi tidak menguntungkan bagiku di hari pertama itu sangat mempengaruhi fisikku. Akhirnya, begitu kami sampai Bandara Juanda dengan selamat aku segera berpesan pada Bosku agar begitu keluar dari bandara kami harus mencari makan terlebih dahulu. Alhamdulillah, bosku langsung setuju.

Ohya, aku lupa bercerita ya bahwa peserta sosialisasi di Makasar itu mayoritas pria ? Sementara peserta wanitanya hanya ada 6 orang, yaitu : 1 orang dari Kota Madiun (that's me!), 2 orang dari Kota Surabaya, 2 orang dari Propinsi Jawa Timur dan 1 orang dari Kabupaten Sidoarjo. Dan... sepertinya dari keenam peserta wanita itu (atau mungkin dari keseluruhan peserta)... ternyata aku yang paling muda... Ehm..! *nyengir* Ohya, satu lagi... selama aku di Makasar, aku tak berkesempatan untuk kopdar dengan satu pun blogger dari Sulawesi Selatan *pada kemana sih semuanya?*

Nah.., itulah suka duka perjalanan dinasku ke Makasar selama 2 hari. Semoga ceritaku ini bisa menjawab rasa penasaran sobat-sobat semua. Walau sempat drop karena masuk angin, tapi pada dasarnya aku sangat menikmati perjalanan dinasku ke Makasar. Jika bukan karena urusan dinas, pasti aku tak akan pernah sampai ke Makasar. Alhamdulillah.., semua itu sangat aku syukuri dan benar-benar aku nikmati. Apalah artinya masuk angin dan badan meriang, jika imbalannya adalah pengalaman berharga yang tak mungkin terlupakan.

Benar tidak..? *Aa' Gym style*

Selasa, 20 Juli 2010

Ke Makasar (2)

Sobat, aku akan menepati janji untuk melanjutkan acara bagi-bagi oleh-oleh, berupa cerita perjalananku ke Makasar. OK, kita lanjut yuuk...

Di hari kedua, aku dan teman sekamarku ternyata bangun kesiangan ! Kami terbangun pada pukul 06.30 WITA. Masya Allah... Rupanya kami sama-sama 'teler'. Teman sekamarku sebelum tidur memang sempat minum obat flu, sehingga itu yang membuatnya tidur nyenyak. Sementara aku... sewaktu bangun tidur, badan sudah terasa meriang semua. Rupanya, aku masuk angin karena keenam kondisi tidak menguntungkan yang aku alami sehari sebelumnya.

Mengetahui bahwa kami sama-sama terlambat bangun. membuat kami pontang-panting. Maklum saja, jadwal hari kedua itu akan diawali dengan acara sarapan pagi pada pukul 07.00 WITA. Setelah siap, aku buru-buru turun untuk sarapan. Sementara teman sekamarku memintaku untuk turun duluan karena kalau aku menunggunya, beliau khawatir aku akan makin terlambat. Setelah sampai di bawah (oya, aku dapat kamar di lantai 5) aku ketemu dengan bos-ku yang sudah selesai sarapan di lobby *blushing*.

Sewaktu beliau bertanya mengapa aku baru turun, dengan malu-malu kujawab bahwa aku bangun kesiangan. Mendengar jawabanku itu, bosku berkata bahwa lebih baik aku karena masih bisa tidur, sementara beliau tak bisa tidur karena semalaman (maaf) muntah-muntah terus. Rupanya, tak hanya aku saja yang mengalami masuk angin, tapi ternyata bos-ku juga. Kami sama-sama mengalami enam kondisi yang tidak menguntungkan itu dan ternyata kami sama-sama gak kuat... ^_^

Setelah acara sarapan dan penutupan acara sebentar, kami peserta sosialisasi diajak jalan-jalan ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Panitia telah menyediakan 2 buah bus untuk mengangkut seluruh peserta sosialisasi, lengkap dengan panitianya. Bantimurung sendiri berjarak hanya sekitar 12 kilometer dari ibukota Kabupaten Maros, atau sekitar 45 kilometer dari pusat kota Makassar. Bantimurung dijuluki sebagai kerajaan kupu-kupu, tapi sayang ternyata kupu-kupu mulai punah di sana. Kepunahan itu disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah banyaknya kupu-kupu yang ditangkap dan dijadikan souvenir (gantungan kunci, hiasan dinding dll).

Saat kami sampai di sana, ternyata benar... tak satupun kupu-kupu kami jumpai. Meski sempat kecewa, tapi terobati oleh keindahan alam Bantimurung. Apalagi setelah kami melihat air terjun yang cantik banget... rasanya tak sia-sia kami datang kesana. Kubayangkan, seandainya saat itu banyak kupu-kupu, pasti Bantimurung akan terlihat sangat menarik. Rasa meriang di badan jadi terlupakan... hehehe.

air terjun yang indah sekali

aku dan peserta wanita lainnya

aku di depan air terjun
Kami tak bisa berlama-lama di sana, karena kami harus segera kembali dan mengejar waktu sholat Jum'at untuk bapak-bapak. Sebelum kembali ke hotel, kami masih sempat menyicipi Coto Makasar..! (sayang aku tak ingat nama jalannya, hanya seingatku dekat dengan peti kemas). Heemm.., enak juga ternyata. Sayang sekali, tempatnya ramai dan penuh pengunjung, jadi kami tak leluasa makan. Selesai makan Coto Makasar, kami segera mengantarkan bapak-bapak ke masjid, sementara ibu-ibu melanjutkan acara belanja... ^_^

Meski badang meriang, tapi untuk urusan belanja tetap semangat. Namun, aku tak bisa membeli banyak oleh-oleh, karena aku ogah ribet membawanya. Akhirnya, aku hanya beli kaos untuk Shasa, suami dan keponakan-keponakan, serta tas untuk ibu dan mertua. Sementara teman-teman sekantor aku bawakan gantungan kunci saja (yang mudah membawanya).

Urusan belanja selesai, aku harus buru-buru kembali ke hotel karena jadwal check-out jam 12.00 WITA. Meski sudah lewat sedikit dari jadwal check-out, aku menyempatkan untuk kembali mengunjungi Pantai Losari. Aku masih penasaran ingin melihat Pantai Losari dengan jelas. Maklum saja, malam sebelumnya aku tak bisa menikmati karena penerangan yang terbatas.

Kembali aku berfoto-foto di Pantai Losari. Aku juga sempat meminta tolong pada 2 orang remaja (cowok)  untuk mengambilkan fotoku. Kebetulan mereka berdua juga sedang asyik berfoto di Pantai Losari. Saat aku meminta tolong mereka untuk mengambil gambar, mereka mau. Salah satu dari mereka menerima kamera dariku, dan salah satu dari mereka berjalan ke arah belakangku. Sewaktu aku tanya pada yang memegang kamera, apakah latar belakang (tulisan Pantai Losari) terlihat di kamera, dia jawab iya. Setelah diambil gambar 2 kali olehnya, kuucapkan terima kasih. Namun... saat aku melihat hasilnya... Masya Allah, ternyata yang difoto oleh remaja itu bukan diriku tapi lantai..! Aku sudah berhasil dikerjain oleh remaja Makasar nih..! Pantas saja, sikap mereka agak aneh tadi. Sebel dan gondok juga aku... :(

di Pantai Losari saat siang hari

gedung di belakangku yang bagus sekali itu kalau gak salah RS Stella Morris
Wah, kok sudah panjang banget ya..? Terpaksa aku putus sampai disini dulu ceritanya, takut yang baca jenuh sih. Insya Allah... besok aku sambung lagi.

Senin, 19 Juli 2010

Ke Makasar (1)

Sobat, kali ini aku akan bercerita tentang perjalanan dinasku ke Makasar. Berhubung ceritanya panjang (karena aku doyan cerita hehehe), maka sengaja ceritanya aku bagi menjadi 2. Satu untuk hari ini dan akan bersambung esok hari. Soalnya, aku tak ingin yang membaca ceritaku (yang panjang banget itu) akan menjadi bosan... hehehe.

OK deh... ceritanya aku mulai dari saat pemberangkatan ya..? Aku dan bosku ke Makasar dengan menggunakan pesawat Lion Air yang berangkat dari Bandara Juanda jam 09.00 WIB. Tapi, bosku mengajak untuk berangkat ke Surabaya pukul 02.30 WIB. Itu sebabnya aku dengan terpaksa mandi jam 01.30 WIB (kondisi pertama yang tidak menguntungkan aku). Untung suamiku menyediakan air hangat untukku mandi di pagi itu (thanks honey..).

Kami (aku dan bosku) berangkat ke Surabaya dengan diantar kendaraan dinas lengkap dengan pengemudinya. Dalam perjalanan ke Surabaya, aku berusaha untuk melanjutkan tidurku. Namun aku sulit untuk melanjutkan tidurku. Meskipun AC mobil tak dihidupkan semua, tapi ternyata masih terlalu dingin untukku (kondisi kedua yang tidak menguntungkan aku), meskipun aku sudah mengenakan jaket.

Kurang lebih jam 07.00 WIB kami sampai juga di Bandara Juanda, setelah sebelumnya sempat mampir di Jombang untuk Sholat Subuh dan sarapan pada pukul 04.30 WIB ! Menunggu lama itu memang tidak menyenangkan.., apalagi ternyata pesawat delay selama 1 jam. Untung saja aku membawa novel (The Girls of Riyadh), sehingga bisa membantuku membuang jenuh.

Akhirnya, pesawat berangkat juga dan mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Hasanudin kurang lebih pukul 12.15 WITA. Dengan menggunakan taksi (catatan : taksi di Makasar mahal sekali)  kami menuju ke hotel tempat kami menginap dan tempat diselenggarakannya sosialisasi. Sayangnya, sesampai di hotel ternyata kamar yang akan kami tempati belum siap, sehingga kami dipersilahkan untuk makan dulu.

Setelah ditunggu sampai pukul 14.00 WITA ternyata kamar yang akan kami tempati belum juga siap, akhirnya panitia memutuskan untuk membuka acara sosialisasi tersebut. Beberapa peserta, termasuk aku dan bosku, terpaksa hadir di acara sosialisasi itu dengan penampilan seadanya (karena belum sempat ganti baju) sambil menenteng koper..!

Sebenarnya dresscode selama acara sosialisasi itu (dari mulai pembukaan sampai penutupan) adalah : batik. Namun, karena keadaan darurat, beberapa peserta tampil seadanya. Ada yang masih mengenakan kaos dan celana jeans. Sementara aku sendiri mengenakan blus lengan pendek, jeans dan jaket. Yups.., jaket..! Terpaksa jaket tak aku lepaskan karena ruangan tempat sosialisasi sangat dingin (kondisi ketiga yang tidak menguntungkan aku). AC ada di sebelah kiri, kanan, belakang dan dari atas-ku.

Acara sesi pertama baru selesai pada pukul 17.40 WITA, dan para peserta diharap berkumpul untuk melanjutkan acara sosialisasi pada pukul 19.00 WITA. Dalam waktu sesingkat itu, kami harus sudah mandi, ganti baju, sholat dan makan malam... plus cari kamar..! Jadi, begitu kami dapat kamar, kami belum bisa memanfaatkannya untuk istirahat. Oya, aku kebagian sekamar dengan seorang ibu, peserta dari Sidoarjo.

Untuk sesi selanjutnya aku sudah berganti batik. Namun, karena sudah pakai batik aku tak berani mengenakan jaket lagi (kondisi keempat yang tidak menguntungkan aku), meskipun ruangannya tetap saja dini. Begitulah..., acara sosialisasi itu terus berlanjut malam itu dan baru berakhir pada pukul 21.35 WITA, sementara aku kedinginan. Secara keseluruhan, aku bersyukur telah hadir di acara itu, karena materi yang disampaikan sangat bagus sekaligus telah membuka wawasan peserta. Pembicaranya pun sangat pandai menyampaikan materi-materinya, sehingga kami dapat mudah menangkap apa yang disampaikannya.

Selesai acara aku langsung kembali ke kamar. Belum lama sampai di kamar, bosku menelpon dan menawariku untuk melihat Pantai Losari. Ternyata... Pantai Losari tepat berada di seberang hotel tempat kami menginap. Malam itu, Pantai Losari ramai sekali, meskipun angin bertiup cukup kencang (kondisi kelima yang tidak menguntungkan aku), tapi rupanya pengunjung pantai tak terpengaruh sama sekali.




Selanjutnya, aku dan bosku mencoba jalan-jalan di sekitar tempat itu. Sayang sekali, karena memang sudah malam, toko-toko sudah tutup. Sehingga kami tak bisa belanja malam itu. So, kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk tidur. Tetapi sampai kamar, malah aku asyik ngerumpi sampai malam (kondisi keenam yang tidak menguntungkan aku) dengan teman sekamarku yang berasal dari Sidoarjo itu.

Jumat, 16 Juli 2010

Dinas dan Jalan-jalan

Semenjak kurang lebih setahun terakhir ini, aku sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Baik itu dengan menggunakan kendaraan dinas, kereta api ataupun pesawat. Hal itu berbeda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, bisa dikatakan aku jarang sekali  melakukan perjalanan dinas ke luar kota.

Memang di satu sisi acara dinas ke luar kota itu melelahkan, khususnya kalau dinas ke Jakarta. Sebagai gambaran, biasanya kami berangkat dari Madiun dengan menggunakan kereta api (misalkan) pada hari Selasa malam dan akan sampai ke Jakarta pada Rabu pagi. Pada hari Rabu itu, seharian kami menyelesaikan segala urusan di Jakarta. Sorenya, setelah semua pekerjaan selesai, kami langsung pulang lagi dengan menggunakan kereta api lagi. Kamis pagi, kami akan sampai kembali ke Madiun dan... pagi itu juga kami sudah masuk kantor kembali.

Kalau perjalanan dinas ke Surabaya, Malang dan sekitarnya sih tidak terlalu melelahkan, karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Namun, pada akhirnya aku bisa menikmati acara dinas plus jalan-jalan itu. Yah, hitung-hitung bisa sebagai sarana refreshingku. Seperti saat aku dinas ke Jakarta beberapa bulan yang lalu. Karena pekerjaan yang harus kuselesaikan di Jakarta cepat selesai, padahal jadwal kereta api-ku masih sangat lama, akhirnya aku putuskan untuk jalan-jalan ke Monas. Atau saat aku ke Surabaya dan urusan dinas juga selesai sangat cepat, maka aku dan teman-teman memutuskan untuk ke Jembatan Suramadu. Maklum, sejak jembatan itu diresmikan, kami belum pernah ke Jembatan Suramadu.

saat aku dan teman2 mampir ke Jembatan Suramadu

Sebenarnya ada keuntungan juga yang kudapatkan dari dinas ke luar kota itu. Seperti jika kota atau tempat  aku berdinas itu belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Seperti acara dinasku ke Makasar Kamis dan Jumat ini. Bahkan, karena dinas jualah aku bisa menikmati perjalanan dengan pesawat terbang. Mungkin bila bukan karena acara dinas, sampai sekarang aku belum sempat naik pesawat terbang hehehe....

Yah begitulah, meskipun dinas keluar kota itu melelahkan... tapi aku mencoba menikmatinya dan menganggapnya sebagai sarana bagiku keluar dari rutinitas pekerjaanku sehari-hari. Dengan begitu, aku tetap bisa bahagia.. (^_^) Setuju kan...?


Rabu, 14 April 2010

JajananTradisional

Jajanan tradisional kini makin sulit ditemui dewasa ini. Seringkali jajanan tradisional baru dapat dijumpai di pasar-pasar tradisional, sementara di mall-mall makin sulit menemukan jajan tradisional. Dalam kondisi seperti ini tidak mengherankan jika banyak anak-anak yang tidak mengenal aneka macam jajanan tradisional yang ada di daerahnya masing-masing. Jajanan tradisional semakin tidak familiar, bahkan jajanan 'kemasan prabrik' lebih 'familiar' bagi sebagian besar anak-anak kita.

Mengapa jajanan tradisional makin sulit ditemui sekarang ini ? Apakah karena rasanya yang kurang lezat ? Apakah karena kemasannya kurang menarik ? Ataukah karena pengolahannya lebih sulit, sehingga makin malas orang dalam membuatnya ? Ataukah harganya lebih mahal karena proses pengolahannya yang lebih lama dan lebih sulit ?

Apapun alasannya..., sebenarnya sangat disayangkan jika jajanan tradisional 'lenyap' dari bumi kita. Di daerahku, jajanan tradisional memang belum hilang sama sekali, tapi tak di semua tempat dapat ditemui. Menurutku pribadi, jajanan tradisional itu enak dan lezat. Jika jajanan tradisional dapat dikemas dengan baik, maka dapat menarik minat khususnya bagi anak-anak yang biasanya antipati dengan jajanan tradisional.

Sekarang ini yang kulihat, jajanan tradisional sudah disajikan dalam bentuk yang kecil-kecil, sehingga bagi yang ingin memakannya tak malas duluan melihat bentuknya yang besar-besar. Kue Ku pun sudah dikemas dalam aneka bentuk buah-buahan yang menarik. Lemper pun sudah dibuat lebih imut-imut. Kue lapis juga dibuat lebih tipis lapisannya sehingga menarik perhatian. Dan... masih banyak lagi.

Serabi, petola, gempol, gethuk dan sebagainya masih bisa ditemui. Harganya relatif murah dan rasanya pun nikmat luar biasa. Apakah sobat semua juga masih menyukai makanan jajanan tradisional ? Apakah jajanan tradisional yang ada di kotamu ? Di antara jajanan tradisional di bawah ini..., manakah yang menjadi favoritmu sobat ?

Serabi dan petola

Serabi dan gempol

Cenil, ketan dan lupis

Putu

Ronde

Klepon, Kue Ku, Semar Mendem, Lumpia, Bikang
Cukup sudah contoh jajanan tradisional yang masih bisa aku temukan di kotaku. Mungkin masih banyak jajanan tradisional yang bahkan kini sudah tak aku temui lagi.... Jajanan tradisional apakah yang masih kau kenal dari daerahmu, sobat..?

JajananTradisional

Jajanan tradisional kini makin sulit ditemui dewasa ini. Seringkali jajanan tradisional baru dapat dijumpai di pasar-pasar tradisional, sementara di mall-mall makin sulit menemukan jajan tradisional. Dalam kondisi seperti ini tidak mengherankan jika banyak anak-anak yang tidak mengenal aneka macam jajanan tradisional yang ada di daerahnya masing-masing. Jajanan tradisional semakin tidak familiar, bahkan jajanan 'kemasan prabrik' lebih 'familiar' bagi sebagian besar anak-anak kita.

Mengapa jajanan tradisional makin sulit ditemui sekarang ini ? Apakah karena rasanya yang kurang lezat ? Apakah karena kemasannya kurang menarik ? Ataukah karena pengolahannya lebih sulit, sehingga makin malas orang dalam membuatnya ? Ataukah harganya lebih mahal karena proses pengolahannya yang lebih lama dan lebih sulit ?

Apapun alasannya..., sebenarnya sangat disayangkan jika jajanan tradisional 'lenyap' dari bumi kita. Di daerahku, jajanan tradisional memang belum hilang sama sekali, tapi tak di semua tempat dapat ditemui. Menurutku pribadi, jajanan tradisional itu enak dan lezat. Jika jajanan tradisional dapat dikemas dengan baik, maka dapat menarik minat khususnya bagi anak-anak yang biasanya antipati dengan jajanan tradisional.

Sekarang ini yang kulihat, jajanan tradisional sudah disajikan dalam bentuk yang kecil-kecil, sehingga bagi yang ingin memakannya tak malas duluan melihat bentuknya yang besar-besar. Kue Ku pun sudah dikemas dalam aneka bentuk buah-buahan yang menarik. Lemper pun sudah dibuat lebih imut-imut. Kue lapis juga dibuat lebih tipis lapisannya sehingga menarik perhatian. Dan... masih banyak lagi.

Serabi, petola, gempol, gethuk dan sebagainya masih bisa ditemui. Harganya relatif murah dan rasanya pun nikmat luar biasa. Apakah sobat semua juga masih menyukai makanan jajanan tradisional ? Apakah jajanan tradisional yang ada di kotamu ? Di antara jajanan tradisional di bawah ini..., manakah yang menjadi favoritmu sobat ?

Serabi dan petola

Serabi dan gempol

Cenil, ketan dan lupis

Putu

Ronde

Klepon, Kue Ku, Semar Mendem, Lumpia, Bikang
Cukup sudah contoh jajanan tradisional yang masih bisa aku temukan di kotaku. Mungkin masih banyak jajanan tradisional yang bahkan kini sudah tak aku temui lagi.... Jajanan tradisional apakah yang masih kau kenal dari daerahmu, sobat..?

Minggu, 07 Maret 2010

Mancing bersama

Minggu pagi ini tiba-tiba suami ngajak "jalan-jalan". Acara dadakan ini tentu saja membuatku sempat kalang kabut, soalnya cucianku numpuk banyak sekali. Kebetulan rencana cuci baju di hari Sabtu batal karena ada acara takziyah ke tempat saudara yang ibunya meninggal.

Akhirnya, aku harus ngebut cuci baju dan bersih-bersih rumah. Suami bantu cuci piring dan Shasa bantu beres-beres rumah. Beginilah kalau tak ada pembantu, hari Sabtu - Minggu selalu disibukkan dengan acara "kerumah-tanggaan" (halah... bahasanya itu lho.. hehehe). Setelah semua pekerjaan rumah tertangani... jadi juga kami berangkat jalan-jalan.


Namun aku sempat tak semangat sewaktu suami ngajak jalan-jalan ke waduk, sekalian mancing katanya. Aku yang tak hobby mancing tentu saja langsung tak bergairah. Berbeda dengan Shasa, dia sangat antusias diajak mancing ayahnya. Aku heran, Shasa bisa sangat suka mancing... persis ayahnya..! Selama ini Shasa sudah beberapa kali ikut ayahnya mancing, sementara aku baru 4-5 kali saja ikut. Aku tak telaten soalnya nunggu orang mancing berlama-lama begitu. Walau aku tak semangat, aku tak tega membuat Shasa kecewa... akhirnya berangkat juga kami ke waduk.

Dulu aku sudah pernah ikut suami ke Waduk Sangiran, tempat favoritnya kalau mancing. Baru sebentar disana aku sudah tak kerasan... panas banget soalnya ! Jadi kali ini aku mempersiapkan diri untuk tetap akan berdiam diri di mobil saja jika cuaca panas, sementara suami dan Shasa memancing. Untuk menemaniku 'berdiam diri' di dalam mobil, aku membawa bekal sebuah Novel ! Jadi, kami akan melakukan hobby masing-masing di waduk... Hehehe....

Setelah cukup lama menempuh perjalanan (kurang lebih 1 jam), akhirnya kami sampai ke Waduk Bening yang berlokasi di Desa Widas, Kec. Saradan, Kab. Madiun. Berbeda dengan Waduk Sangiran, ternyata Waduk Bening yang luasnya mencapai 860 km2 sangat asri dan sejuk. Bahkan keindahan dan kesejukan itu sudah mulai terasa sebelum memasuki kawasan waduk.


Tempatnya yang teduh dan luas, membuat pengunjung nyaman untuk beristirahat sekaligus memancing di sana. Aku lihat banyak yang datang bersama keluarga dan melakukan aktivitas mancing bersama. Kami pun menemukan tempat yang nyaman untuk memancing. Shasa dan suami sangat antusias memancing.., sementara aku menunggu mereka sambil... baca buku ! Hehehe. Untung saja aku tak perlu harus berdiam diri di dalam mobil, karena aku bisa duduk nyaman di tempat teduh yang dekat dengan tempat mancingnya ssuami dan Shasa.

Setelah sekian lama memancing, ternyata kami hanya mendapatkan 6 ekor ikan yang masih kecil-kecil. Meskipun begitu Shasa sudah sangat gembira. Aku pun tak merasa bosan menunggu mereka memancing, selain karena aku sudah ditemani sebuah novel, tempatnya yang asri benar-benar membuatku kerasan. Aku pun bisa merasakan kegembiraan di acara berlibur kali ini.


Aku lihat fasilitas yang ada di Waduk Bening cukup lengkap. Di beberapa tempat telah disediakan tempat duduk yang nyaman. Selain tempat memancing, Waduk Bening dilengkapi juga arena bermain anak-anak. Bagi yang ingin berkeliling waduk bisa menyewa perahu lengkap dengan pemandu wisata dari masyarakat setempat. Ada juga kandang rusa, ayam mutiara dan burung puter. Selain itu ada cagar alam berupa pohon-pohon langka yang sengaja ditanam dan dilindungi. Mushola dan KM/WC telah disediakan pula.


Yang menyenangkan, di sekitar tempat memancing itu banyak penjual makanan. Ini penting karena Shasa tak boleh jauh-jauh dari makanan hehehe. Asyiknya aku menemukan sebuah warung yang menjual ikan bakar. Akhirnya aku memesan ikan bakarnya lengkap dengan nasi dan minumannya. Lebih asyik lagi, ternyata penjualnya mau mengantarkan pesanan kami ke tempat kami memancing. Jadilah kami makan siang dengan menu ikan bakar di lokasi pemancingan... Sedappp...


Terus terang, aku menyesal juga baru kali ini datang ke Waduk Bening. Meskipun jaraknya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, selama ini kami tak berpikiran untuk mampir kesana. Biasalah, yang ada dalam benak kami selama ini yang namanya waduk pasti tandus, gersang dan panas. Tapi ternyata Waduk Bening berbeda. Itu sebabnya, kami berencana akan sering-sering datang ke sana untuk refreshing dan tak lupa mengajak Ibuku (diantara semua eyangnya Shasa, ibuku emang yang paling hobby jalan-jalan heheh).

Nah..., jika suatu saat nanti aku ke Waduk Bening lagi..., siapa yang mau ikut..?

Mancing bersama

Minggu pagi ini tiba-tiba suami ngajak "jalan-jalan". Acara dadakan ini tentu saja membuatku sempat kalang kabut, soalnya cucianku numpuk banyak sekali. Kebetulan rencana cuci baju di hari Sabtu batal karena ada acara takziyah ke tempat saudara yang ibunya meninggal.

Akhirnya, aku harus ngebut cuci baju dan bersih-bersih rumah. Suami bantu cuci piring dan Shasa bantu beres-beres rumah. Beginilah kalau tak ada pembantu, hari Sabtu - Minggu selalu disibukkan dengan acara "kerumah-tanggaan" (halah... bahasanya itu lho.. hehehe). Setelah semua pekerjaan rumah tertangani... jadi juga kami berangkat jalan-jalan.


Namun aku sempat tak semangat sewaktu suami ngajak jalan-jalan ke waduk, sekalian mancing katanya. Aku yang tak hobby mancing tentu saja langsung tak bergairah. Berbeda dengan Shasa, dia sangat antusias diajak mancing ayahnya. Aku heran, Shasa bisa sangat suka mancing... persis ayahnya..! Selama ini Shasa sudah beberapa kali ikut ayahnya mancing, sementara aku baru 4-5 kali saja ikut. Aku tak telaten soalnya nunggu orang mancing berlama-lama begitu. Walau aku tak semangat, aku tak tega membuat Shasa kecewa... akhirnya berangkat juga kami ke waduk.

Dulu aku sudah pernah ikut suami ke Waduk Sangiran, tempat favoritnya kalau mancing. Baru sebentar disana aku sudah tak kerasan... panas banget soalnya ! Jadi kali ini aku mempersiapkan diri untuk tetap akan berdiam diri di mobil saja jika cuaca panas, sementara suami dan Shasa memancing. Untuk menemaniku 'berdiam diri' di dalam mobil, aku membawa bekal sebuah Novel ! Jadi, kami akan melakukan hobby masing-masing di waduk... Hehehe....

Setelah cukup lama menempuh perjalanan (kurang lebih 1 jam), akhirnya kami sampai ke Waduk Bening yang berlokasi di Desa Widas, Kec. Saradan, Kab. Madiun. Berbeda dengan Waduk Sangiran, ternyata Waduk Bening yang luasnya mencapai 860 km2 sangat asri dan sejuk. Bahkan keindahan dan kesejukan itu sudah mulai terasa sebelum memasuki kawasan waduk.


Tempatnya yang teduh dan luas, membuat pengunjung nyaman untuk beristirahat sekaligus memancing di sana. Aku lihat banyak yang datang bersama keluarga dan melakukan aktivitas mancing bersama. Kami pun menemukan tempat yang nyaman untuk memancing. Shasa dan suami sangat antusias memancing.., sementara aku menunggu mereka sambil... baca buku ! Hehehe. Untung saja aku tak perlu harus berdiam diri di dalam mobil, karena aku bisa duduk nyaman di tempat teduh yang dekat dengan tempat mancingnya ssuami dan Shasa.

Setelah sekian lama memancing, ternyata kami hanya mendapatkan 6 ekor ikan yang masih kecil-kecil. Meskipun begitu Shasa sudah sangat gembira. Aku pun tak merasa bosan menunggu mereka memancing, selain karena aku sudah ditemani sebuah novel, tempatnya yang asri benar-benar membuatku kerasan. Aku pun bisa merasakan kegembiraan di acara berlibur kali ini.


Aku lihat fasilitas yang ada di Waduk Bening cukup lengkap. Di beberapa tempat telah disediakan tempat duduk yang nyaman. Selain tempat memancing, Waduk Bening dilengkapi juga arena bermain anak-anak. Bagi yang ingin berkeliling waduk bisa menyewa perahu lengkap dengan pemandu wisata dari masyarakat setempat. Ada juga kandang rusa, ayam mutiara dan burung puter. Selain itu ada cagar alam berupa pohon-pohon langka yang sengaja ditanam dan dilindungi. Mushola dan KM/WC telah disediakan pula.


Yang menyenangkan, di sekitar tempat memancing itu banyak penjual makanan. Ini penting karena Shasa tak boleh jauh-jauh dari makanan hehehe. Asyiknya aku menemukan sebuah warung yang menjual ikan bakar. Akhirnya aku memesan ikan bakarnya lengkap dengan nasi dan minumannya. Lebih asyik lagi, ternyata penjualnya mau mengantarkan pesanan kami ke tempat kami memancing. Jadilah kami makan siang dengan menu ikan bakar di lokasi pemancingan... Sedappp...


Terus terang, aku menyesal juga baru kali ini datang ke Waduk Bening. Meskipun jaraknya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku, selama ini kami tak berpikiran untuk mampir kesana. Biasalah, yang ada dalam benak kami selama ini yang namanya waduk pasti tandus, gersang dan panas. Tapi ternyata Waduk Bening berbeda. Itu sebabnya, kami berencana akan sering-sering datang ke sana untuk refreshing dan tak lupa mengajak Ibuku (diantara semua eyangnya Shasa, ibuku emang yang paling hobby jalan-jalan heheh).

Nah..., jika suatu saat nanti aku ke Waduk Bening lagi..., siapa yang mau ikut..?

Selasa, 02 Februari 2010

Oleh-oleh cuti (2)

Setelah sebelumnya aku berbagi sedikit tentang oleh-oleh cutiku, maka kali ini aku akan menuntaskan membagi oleh-oleh cuti itu. Supaya aku tak lagi punya hutang janji pada sahabat semua. Kalau teman-teman kantor dan tetanggaku sudah mendapat bagian oleh-oleh jenang, sale pisang dan lain-lain... maka teman-teman dari dunia maya cukup mendapatkan oleh-oleh cerita saja ya ?

Sebenarnya dari awal berangkat ke Pacitan, Shasa sudah bilang ingin ke Gua. Rupanya, pengalamannya masuk ke Gua Tabuhan di Pacitan setahun yang lalu membuatnya terkesan, dan dia ingin ke Gua Gong. Namun terpaksa kali ini kami tak dapat memenuhi keinginan Shasa untuk masuk ke Gua Gong. Penyebabnya adalah, kami khawatir saat kami sedang berada di dalam gua, tiba-tiba ada gempa. Sebab, pada hari Kamis pagi, sebelum kami sampai di Pacitan, ternyata Pacitan kembali dilanda gempa. Tentu saja, berita itu membuat kami khawatir juga kalau harus masuk ke gua. Untung saja, setelah diberi penjelasan, Shasa mau mengurungkan niatnya ke Gua Gong.




Jum'at pagi, aku, suami, Shasa dan ibuku berangkat jalan-2 dengan mengendarai mobil iparku. Kami ingin melihat dermaga dan Tempat Pelelangan Ikan yang baru diresmikan SBY beberapa waktu yang lalu. Lucunya, kami sempat nyasar, maklum saja kami sama-sama tak hafal dengan jalan-jalan di Pacitan.

Ada untungnya juga kami kesasar, karena kami bisa sampai ke Monumen Tumpak Rinjing terletak di desa Pringkuku, kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Monumen itu dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran yang terjadi pada tanggal 7 Juni 1948 di Tumpak Rinjing antara tentara Indonesia yang dipimpin Jendral Soedirman dibantu masyarakat Pacitan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Sayang sekali, lokasi tempat monumen itu dibangun kurang terpelihara, sehingga kurang menarik minat orang untuk berkunjung.


Monumen untuk mengenang Jendral Soedirman
 
Meskipun kami sempat kesasar lumayan jauh, akhirnya sampai juga kami ke dermaga. Pertama kami langsung menuju tempat mercusuar dibangun, tepat di ujung jalan, karena setelah jalan itu yang terhampar hanyalah hamparan Laut Selatan. Pemandangan yang tersaji di depan mata sangat indah. Meskipun panas menyengat, namun aku tak kuasa beranjak meninggalkan pesona laut selatan yang demikian indah. Subhanallah... betapa indah ciptaanNya.


Pemandangan indah yang menyambut di pintu masuk


Jalan menuju mercusuar



Inilah ujung jalan itu, dan tampak puncak mercusuar tepat di ujung jalan
 
Yang ini mercusuarnya (semula kukira mercusuarnya besar, ternyata hanya kecil saja)

Setelah kami puas memandang laut yang demikian indahnya, kami berpindah menuju Tempat Pelelangan Ikan. Beruntung, saat kami datang, ada sebuah kapal yang sedang merapat dan menurunkan hasil tangkapannya. Ternyata banyak sekali ikan hasil tangkapan mereka hari itu. Sebuah pengalaman baru bagi Shasa, menyaksikan nelayan membongkar hasil tangkapannya. Menariknya, ternyata ikan-ikan yang berhasil ditangkap ada yang sangat besar..!


Ini dia dermaganya dan kapal-2 yang ada di dermaga



Kapal yang sedang merapat untuk menurunkan hasil tangkapan


Mercusuar dilihat dari dermaga


Shasa yang sedang main air di dermaga

Kali ini kami juga tak mengunjungi Pantai Teleng Ria, karena pada kunjungan-kunjungan kami sebelumnya, Teleng Ria selalu tak terlewatkan. Kali ini kami ingin ke Pemandian Air Panas yang terletak di Kecamatan Arjosari, kurang lebih 15 Km dari kota Pacitan. Kabarnya, Pemandian Air Panas (Banyu Anget) "Tirto Husodo" itu menyimpan berbagai khasiat dan manfaat karena mengandung belerang, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Pemandangan menuju Pemandian Air Panas itu sangat indah, melewati daerah pedesaan yang masih asri. Sawah-sawah membentang di bawah gunung yang menjulang dengan gagahnya. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Pemandangan di lokasi Pemandian Air Panas juga bagus ~jika kita masih sempat memperhatikannya~ karena berada di bawah lereng bukit batu putih atau Gunung Kelir.

Untuk dapat masuk ke pemandian itu, pengunjung dikenakan tarif retribusi Rp. 3.000/orang. Murah bukan ? Kolamnya ada 3 buah, dan aku memilih kolam yang paling dangkal, karena aku hanya ingin merendam kaki saja, aku tidak berniat untuk berenang di air yang panas itu. Sewaktu aku memasukkan kaki ke dalam kolam, untuk pertama kalinya, airnya terasa panas sekali. Namun setelah berulang kali memasukkan kaki, dan akhirnya nekad merendam kaki di kolam itu, panasnya tak terlalu terasa lagi. Melihatku berani merendam kaki, Shasa pun ikut-ikutan, walaupun dengan meringis menahan rasa panas.


Foto oleh Bayu Kurniawan (karena aku malah lupa mengambil gambarnya)
 


Aku dan Shasa yang mencoba masuk ke kolam air panas

Itulah oleh-olehku selama menghabiskan waktu berliburku di Pacitan, Kota seribu gua. Bagiku, Pacitan adalah kota yang berada dalam lingkaran pegunungan, karena sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah pegunungan yang sambung menyambung tiada terputus. Benar-benar indah, dan membuatku rindu untuk bisa kembali berkunjung ke sana, suatu saat nanti. Insya Allah...

Ohya..., sebelum postingan ini aku tutup aku akan memberitahukan bahwa... postingan ini adalah postinganku yang ke-300..! Akhirnya, aku bisa juga menyusul Bang Seti@wan. Duh.... senengnya.... ^_^ (hip hip horeeee....)

Oleh-oleh cuti (2)

Setelah sebelumnya aku berbagi sedikit tentang oleh-oleh cutiku, maka kali ini aku akan menuntaskan membagi oleh-oleh cuti itu. Supaya aku tak lagi punya hutang janji pada sahabat semua. Kalau teman-teman kantor dan tetanggaku sudah mendapat bagian oleh-oleh jenang, sale pisang dan lain-lain... maka teman-teman dari dunia maya cukup mendapatkan oleh-oleh cerita saja ya ?

Sebenarnya dari awal berangkat ke Pacitan, Shasa sudah bilang ingin ke Gua. Rupanya, pengalamannya masuk ke Gua Tabuhan di Pacitan setahun yang lalu membuatnya terkesan, dan dia ingin ke Gua Gong. Namun terpaksa kali ini kami tak dapat memenuhi keinginan Shasa untuk masuk ke Gua Gong. Penyebabnya adalah, kami khawatir saat kami sedang berada di dalam gua, tiba-tiba ada gempa. Sebab, pada hari Kamis pagi, sebelum kami sampai di Pacitan, ternyata Pacitan kembali dilanda gempa. Tentu saja, berita itu membuat kami khawatir juga kalau harus masuk ke gua. Untung saja, setelah diberi penjelasan, Shasa mau mengurungkan niatnya ke Gua Gong.




Jum'at pagi, aku, suami, Shasa dan ibuku berangkat jalan-2 dengan mengendarai mobil iparku. Kami ingin melihat dermaga dan Tempat Pelelangan Ikan yang baru diresmikan SBY beberapa waktu yang lalu. Lucunya, kami sempat nyasar, maklum saja kami sama-sama tak hafal dengan jalan-jalan di Pacitan.

Ada untungnya juga kami kesasar, karena kami bisa sampai ke Monumen Tumpak Rinjing terletak di desa Pringkuku, kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Monumen itu dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran yang terjadi pada tanggal 7 Juni 1948 di Tumpak Rinjing antara tentara Indonesia yang dipimpin Jendral Soedirman dibantu masyarakat Pacitan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Sayang sekali, lokasi tempat monumen itu dibangun kurang terpelihara, sehingga kurang menarik minat orang untuk berkunjung.


Monumen untuk mengenang Jendral Soedirman
 
Meskipun kami sempat kesasar lumayan jauh, akhirnya sampai juga kami ke dermaga. Pertama kami langsung menuju tempat mercusuar dibangun, tepat di ujung jalan, karena setelah jalan itu yang terhampar hanyalah hamparan Laut Selatan. Pemandangan yang tersaji di depan mata sangat indah. Meskipun panas menyengat, namun aku tak kuasa beranjak meninggalkan pesona laut selatan yang demikian indah. Subhanallah... betapa indah ciptaanNya.


Pemandangan indah yang menyambut di pintu masuk


Jalan menuju mercusuar



Inilah ujung jalan itu, dan tampak puncak mercusuar tepat di ujung jalan
 
Yang ini mercusuarnya (semula kukira mercusuarnya besar, ternyata hanya kecil saja)

Setelah kami puas memandang laut yang demikian indahnya, kami berpindah menuju Tempat Pelelangan Ikan. Beruntung, saat kami datang, ada sebuah kapal yang sedang merapat dan menurunkan hasil tangkapannya. Ternyata banyak sekali ikan hasil tangkapan mereka hari itu. Sebuah pengalaman baru bagi Shasa, menyaksikan nelayan membongkar hasil tangkapannya. Menariknya, ternyata ikan-ikan yang berhasil ditangkap ada yang sangat besar..!


Ini dia dermaganya dan kapal-2 yang ada di dermaga



Kapal yang sedang merapat untuk menurunkan hasil tangkapan


Mercusuar dilihat dari dermaga


Shasa yang sedang main air di dermaga

Kali ini kami juga tak mengunjungi Pantai Teleng Ria, karena pada kunjungan-kunjungan kami sebelumnya, Teleng Ria selalu tak terlewatkan. Kali ini kami ingin ke Pemandian Air Panas yang terletak di Kecamatan Arjosari, kurang lebih 15 Km dari kota Pacitan. Kabarnya, Pemandian Air Panas (Banyu Anget) "Tirto Husodo" itu menyimpan berbagai khasiat dan manfaat karena mengandung belerang, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Pemandangan menuju Pemandian Air Panas itu sangat indah, melewati daerah pedesaan yang masih asri. Sawah-sawah membentang di bawah gunung yang menjulang dengan gagahnya. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Pemandangan di lokasi Pemandian Air Panas juga bagus ~jika kita masih sempat memperhatikannya~ karena berada di bawah lereng bukit batu putih atau Gunung Kelir.

Untuk dapat masuk ke pemandian itu, pengunjung dikenakan tarif retribusi Rp. 3.000/orang. Murah bukan ? Kolamnya ada 3 buah, dan aku memilih kolam yang paling dangkal, karena aku hanya ingin merendam kaki saja, aku tidak berniat untuk berenang di air yang panas itu. Sewaktu aku memasukkan kaki ke dalam kolam, untuk pertama kalinya, airnya terasa panas sekali. Namun setelah berulang kali memasukkan kaki, dan akhirnya nekad merendam kaki di kolam itu, panasnya tak terlalu terasa lagi. Melihatku berani merendam kaki, Shasa pun ikut-ikutan, walaupun dengan meringis menahan rasa panas.


Foto oleh Bayu Kurniawan (karena aku malah lupa mengambil gambarnya)
 


Aku dan Shasa yang mencoba masuk ke kolam air panas

Itulah oleh-olehku selama menghabiskan waktu berliburku di Pacitan, Kota seribu gua. Bagiku, Pacitan adalah kota yang berada dalam lingkaran pegunungan, karena sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah pegunungan yang sambung menyambung tiada terputus. Benar-benar indah, dan membuatku rindu untuk bisa kembali berkunjung ke sana, suatu saat nanti. Insya Allah...

Ohya..., sebelum postingan ini aku tutup aku akan memberitahukan bahwa... postingan ini adalah postinganku yang ke-300..! Akhirnya, aku bisa juga menyusul Bang Seti@wan. Duh.... senengnya.... ^_^ (hip hip horeeee....)