Tampilkan postingan dengan label kenangan-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan-ku. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2010

Bahagiaku

Alhamdulillah... aku bahagia sekali dan aku ingin berbagi bahagia ini dengan semua sobat yang telah mampir ke sini. Yang pertama, aku bahagia karena perjalanan dinasku ke Bandung sejak Kamis hingga Minggu dini hari telah berjalan lancar. Yang membuat acara-ku di Bandung makin menyenangkan adalah karena aku dapat kesempatan untuk kopdar dengan Mbak Vicky (cerita lengkapnya nyusul ya..).

Yang kedua, aku bahagia karena bisa kembali lagi mengunjungi rumah mayaku ini setelah terlantar selama berhari-hari karena aku tinggal pergi. Terima kasih untuk semua yang tetap setia mampir kesini. Maaf jika aku belum sempat berkunjung balik ya... Insya Allah aku akan meluangkan waktu untuk nyicil mengunjugi sobat semua. Sabar ya...

Yang paling membahagiakan aku adalah hari ini... Yups, hari ini adalah Hari Ulang Tahun Pernikahanku yang ke-12. Tak terasa sudah 12 tahun aku lewati hari dalam suka dan duka bersama  dengan suami tercinta. Sebuah perjalanan yang memberikan banyak pelajaran hidup dan memberikan kenangan yang tak terlupakan bagi kami berdua. Sebuah perjalanan yang telah mendewasakan aku....

Teruntuk suamiku...
tetaplah mencintaiku dan menerimaku sebagaimana aku adanya
tetaplah menjadi cahaya dalam hidupku
tetaplah menjadi penuntun dalam tiap langkahku
tetaplah menjadi penguat dalam setiap keterpurukanku
tetaplah gandeng tanganku hingga akhir nanti

Teruntuk suamiku...
terima kasih yang tak terhingga untukmu karna telah :
menemani hari-hariku
menampung semua keluh kesahku
berbagi tawa bahagia bersamaku
berlapang dada menerima segala marahku
menerima segala kekurangan dan kelemahanku

Teruntuk suamiku...
cinta dan hidupku telah tercurahkan sepenuhnya untukmu
kesetiaan ini aku persembahkan hanya untukmu
semoga pondasi cinta kita makin kukuh dari hari ke hari
hingga bangunan yang kita bangun mampu mengayomi kita bersama
dalam membimbing dan mengasuh buah hati kita

Terima kasih suamiku telah menemaniku dalam perjalanan ini
semoga saja sinergi yang terbangun antara kita
dapat mengantarkan Shasa menuju kebahagiaan dan keberhasilan
Amin...






Sebagai penutup aku ingin menyalin lirik lagu CINTA PUTIH yang telah dibuat Katon Bagaskara, karena lirik lagu itu benar-benar mewakili apa  yang ingin aku sampaikan...

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terjalin pengertian antara engkau dan aku
Masihlah panjang jalan hidup mesti ditempuh
S’moga tak lekang oleh waktu

Cukup bagiku hadirmu
Membawa cinta selalu
Lewat warna sikap kasihku
Kau ungkap tlah terjawab

Jika kau bertanya sejauh mana cinta membuat bahagia
Sepenuhnya t‘rimalah apa adanya dua beda menyatu
Saling mengisi tanpa pernah mengekang diri
Jadikan percaya yang utama

Rabu, 21 Juli 2010

Ke Makasar (3)

Sobat, ini cerita terakhirku (janji !) tentang oleh-oleh perjalananku ke Makasar. Semoga belum bosen membacanya ya...? Jika ingin tahu cerita kelanjutannya, segera aja baca cerita penutupnya. Mariii....

Nah, setelah acara belanja dan mengunjungi (lagi) Pantai Losari, aku buru-buru kembali ke hotel. Setelah semua urusan di kamar selesai, akhirnya aku turun kembali ke lobby pada pukul 12.35 WITA. Walau sebenarnya jadwal pesawatku baru akan terbang pada pukul 17.15 WITA tapi kami tetap harus check-out siang itu.  Sementara pihak panitia juga sudah menyiapkan bus untuk mengangkut peserta menuju Bandara Sultan Hasanudin pada pukul 13.00 WITA.

Sebenarnya sih maunya masih pengen belanja lagi, tapi mana mungkin aku belanja dengan membawa koper kesana kemari. Pihak hotel sendiri juga tak mau repot-repot dititipi koper-koper kami, apalagi kami sudah check-out dari hotel. Jadi (terpaksa) aku simpan hasrat untuk belanja dan ikut rombongan ke Bandara pukul 13.10 WITA (molor dari jadwal) siang itu.

So, aku dan peserta lain harus menunggu berjam-jam di bandara. Untung saja aku membawa novel (The Girls of Riyadh), jadi lumayan juga untuk membuang jenuh. Meskipun sudah membaca buku, tapi karena menunggu terlalu lama mau tak mau aku tetap saja merasa jenuh. Saat jam menunjukkan pukul 15.30 WITA aku dan peserta sosialisasi lainnya (yang ternyata kebanyakan naik pesawat yang sama denganku) memutuskan untuk check-in. Begitu sampai di dalam bandara, aku tak lupa untuk foto dulu *narsisbangetdotcom*


foto-foto narsis di Bandara Sultan Hasanudin

Berjalan di bandara yang besar membuatku kerepotan juga, apalagi kondisi fisik sedang meriang. Meskipun bawaanku tak banyak (1 tas polo kecil, tas jinjing isi oleh-oleh dan 1 tas yang tersampir di bahu) ternyata merepotkan juga dibawa jalan-jalan kesana-kemari. Sesuai dengan tiket di tangan, kami akan berangkat melalui Gate 5. Jam 16.20 WITA, kami semua sudah duduk manis di ruang tunggu Gate 5. Namun, menjelang pukul 17.00 WITA terdengar pengumuman bahwa penumpang Lion Air yang akan berangkat ke Surabaya pada pukul 17.15 WITA dialihkan pemberangkatan dari Gate 5 ke Gate 2.

Berduyun-duyunlah penumpang Lion Air pindah dari Gate 5 ke Gate 2. Aku kembali menyeret tas Polo-ku berjalan cukup jauh. Astaga... kenapa bandara harus seluas itu ya..? Untuk pindah gate saja kami harus berjalan lumayan jauh dan akibatnya... kakiku lecet..! Hehehe.... Sesampainya di Gate 2, ada pengumuman bahwa pesawat ditunda pemberangkatannya. ^_^

Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, akhirnya kami dipersilahkan masuk ke dalam pesawat. Berhubung nomor dudukku dan bosku di belakang sendiri (kursi nomor 37), maka kami sampai di kursi kami paling akhir. Akibatnya, kami sudah tak kebagian tempat untuk menyimpan tas Polo kecil kami. Rupanya para penumpang Lion Air siang itu banyak yang kalap belanja oleh-oleh, sehingga kabin penuh. Aku dan bosku terpaksa merelakan tas Polo kami dibawa ke bagasi... meskipun itu berarti kami memerlukan waktu tambahan untuk mengambilnya kembali saat kami sampai di Bandara Juanda nantinya.

Tak lama setelah pesawat berangkat, aku pun mulai merasakan pusing yang luar biasa. Padahal AC pesawat sudah dikecilkan, tapi rupanya kondisi tidak menguntungkan bagiku di hari pertama itu sangat mempengaruhi fisikku. Akhirnya, begitu kami sampai Bandara Juanda dengan selamat aku segera berpesan pada Bosku agar begitu keluar dari bandara kami harus mencari makan terlebih dahulu. Alhamdulillah, bosku langsung setuju.

Ohya, aku lupa bercerita ya bahwa peserta sosialisasi di Makasar itu mayoritas pria ? Sementara peserta wanitanya hanya ada 6 orang, yaitu : 1 orang dari Kota Madiun (that's me!), 2 orang dari Kota Surabaya, 2 orang dari Propinsi Jawa Timur dan 1 orang dari Kabupaten Sidoarjo. Dan... sepertinya dari keenam peserta wanita itu (atau mungkin dari keseluruhan peserta)... ternyata aku yang paling muda... Ehm..! *nyengir* Ohya, satu lagi... selama aku di Makasar, aku tak berkesempatan untuk kopdar dengan satu pun blogger dari Sulawesi Selatan *pada kemana sih semuanya?*

Nah.., itulah suka duka perjalanan dinasku ke Makasar selama 2 hari. Semoga ceritaku ini bisa menjawab rasa penasaran sobat-sobat semua. Walau sempat drop karena masuk angin, tapi pada dasarnya aku sangat menikmati perjalanan dinasku ke Makasar. Jika bukan karena urusan dinas, pasti aku tak akan pernah sampai ke Makasar. Alhamdulillah.., semua itu sangat aku syukuri dan benar-benar aku nikmati. Apalah artinya masuk angin dan badan meriang, jika imbalannya adalah pengalaman berharga yang tak mungkin terlupakan.

Benar tidak..? *Aa' Gym style*

Selasa, 20 Juli 2010

Ke Makasar (2)

Sobat, aku akan menepati janji untuk melanjutkan acara bagi-bagi oleh-oleh, berupa cerita perjalananku ke Makasar. OK, kita lanjut yuuk...

Di hari kedua, aku dan teman sekamarku ternyata bangun kesiangan ! Kami terbangun pada pukul 06.30 WITA. Masya Allah... Rupanya kami sama-sama 'teler'. Teman sekamarku sebelum tidur memang sempat minum obat flu, sehingga itu yang membuatnya tidur nyenyak. Sementara aku... sewaktu bangun tidur, badan sudah terasa meriang semua. Rupanya, aku masuk angin karena keenam kondisi tidak menguntungkan yang aku alami sehari sebelumnya.

Mengetahui bahwa kami sama-sama terlambat bangun. membuat kami pontang-panting. Maklum saja, jadwal hari kedua itu akan diawali dengan acara sarapan pagi pada pukul 07.00 WITA. Setelah siap, aku buru-buru turun untuk sarapan. Sementara teman sekamarku memintaku untuk turun duluan karena kalau aku menunggunya, beliau khawatir aku akan makin terlambat. Setelah sampai di bawah (oya, aku dapat kamar di lantai 5) aku ketemu dengan bos-ku yang sudah selesai sarapan di lobby *blushing*.

Sewaktu beliau bertanya mengapa aku baru turun, dengan malu-malu kujawab bahwa aku bangun kesiangan. Mendengar jawabanku itu, bosku berkata bahwa lebih baik aku karena masih bisa tidur, sementara beliau tak bisa tidur karena semalaman (maaf) muntah-muntah terus. Rupanya, tak hanya aku saja yang mengalami masuk angin, tapi ternyata bos-ku juga. Kami sama-sama mengalami enam kondisi yang tidak menguntungkan itu dan ternyata kami sama-sama gak kuat... ^_^

Setelah acara sarapan dan penutupan acara sebentar, kami peserta sosialisasi diajak jalan-jalan ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Panitia telah menyediakan 2 buah bus untuk mengangkut seluruh peserta sosialisasi, lengkap dengan panitianya. Bantimurung sendiri berjarak hanya sekitar 12 kilometer dari ibukota Kabupaten Maros, atau sekitar 45 kilometer dari pusat kota Makassar. Bantimurung dijuluki sebagai kerajaan kupu-kupu, tapi sayang ternyata kupu-kupu mulai punah di sana. Kepunahan itu disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah banyaknya kupu-kupu yang ditangkap dan dijadikan souvenir (gantungan kunci, hiasan dinding dll).

Saat kami sampai di sana, ternyata benar... tak satupun kupu-kupu kami jumpai. Meski sempat kecewa, tapi terobati oleh keindahan alam Bantimurung. Apalagi setelah kami melihat air terjun yang cantik banget... rasanya tak sia-sia kami datang kesana. Kubayangkan, seandainya saat itu banyak kupu-kupu, pasti Bantimurung akan terlihat sangat menarik. Rasa meriang di badan jadi terlupakan... hehehe.

air terjun yang indah sekali

aku dan peserta wanita lainnya

aku di depan air terjun
Kami tak bisa berlama-lama di sana, karena kami harus segera kembali dan mengejar waktu sholat Jum'at untuk bapak-bapak. Sebelum kembali ke hotel, kami masih sempat menyicipi Coto Makasar..! (sayang aku tak ingat nama jalannya, hanya seingatku dekat dengan peti kemas). Heemm.., enak juga ternyata. Sayang sekali, tempatnya ramai dan penuh pengunjung, jadi kami tak leluasa makan. Selesai makan Coto Makasar, kami segera mengantarkan bapak-bapak ke masjid, sementara ibu-ibu melanjutkan acara belanja... ^_^

Meski badang meriang, tapi untuk urusan belanja tetap semangat. Namun, aku tak bisa membeli banyak oleh-oleh, karena aku ogah ribet membawanya. Akhirnya, aku hanya beli kaos untuk Shasa, suami dan keponakan-keponakan, serta tas untuk ibu dan mertua. Sementara teman-teman sekantor aku bawakan gantungan kunci saja (yang mudah membawanya).

Urusan belanja selesai, aku harus buru-buru kembali ke hotel karena jadwal check-out jam 12.00 WITA. Meski sudah lewat sedikit dari jadwal check-out, aku menyempatkan untuk kembali mengunjungi Pantai Losari. Aku masih penasaran ingin melihat Pantai Losari dengan jelas. Maklum saja, malam sebelumnya aku tak bisa menikmati karena penerangan yang terbatas.

Kembali aku berfoto-foto di Pantai Losari. Aku juga sempat meminta tolong pada 2 orang remaja (cowok)  untuk mengambilkan fotoku. Kebetulan mereka berdua juga sedang asyik berfoto di Pantai Losari. Saat aku meminta tolong mereka untuk mengambil gambar, mereka mau. Salah satu dari mereka menerima kamera dariku, dan salah satu dari mereka berjalan ke arah belakangku. Sewaktu aku tanya pada yang memegang kamera, apakah latar belakang (tulisan Pantai Losari) terlihat di kamera, dia jawab iya. Setelah diambil gambar 2 kali olehnya, kuucapkan terima kasih. Namun... saat aku melihat hasilnya... Masya Allah, ternyata yang difoto oleh remaja itu bukan diriku tapi lantai..! Aku sudah berhasil dikerjain oleh remaja Makasar nih..! Pantas saja, sikap mereka agak aneh tadi. Sebel dan gondok juga aku... :(

di Pantai Losari saat siang hari

gedung di belakangku yang bagus sekali itu kalau gak salah RS Stella Morris
Wah, kok sudah panjang banget ya..? Terpaksa aku putus sampai disini dulu ceritanya, takut yang baca jenuh sih. Insya Allah... besok aku sambung lagi.

Senin, 19 Juli 2010

Ke Makasar (1)

Sobat, kali ini aku akan bercerita tentang perjalanan dinasku ke Makasar. Berhubung ceritanya panjang (karena aku doyan cerita hehehe), maka sengaja ceritanya aku bagi menjadi 2. Satu untuk hari ini dan akan bersambung esok hari. Soalnya, aku tak ingin yang membaca ceritaku (yang panjang banget itu) akan menjadi bosan... hehehe.

OK deh... ceritanya aku mulai dari saat pemberangkatan ya..? Aku dan bosku ke Makasar dengan menggunakan pesawat Lion Air yang berangkat dari Bandara Juanda jam 09.00 WIB. Tapi, bosku mengajak untuk berangkat ke Surabaya pukul 02.30 WIB. Itu sebabnya aku dengan terpaksa mandi jam 01.30 WIB (kondisi pertama yang tidak menguntungkan aku). Untung suamiku menyediakan air hangat untukku mandi di pagi itu (thanks honey..).

Kami (aku dan bosku) berangkat ke Surabaya dengan diantar kendaraan dinas lengkap dengan pengemudinya. Dalam perjalanan ke Surabaya, aku berusaha untuk melanjutkan tidurku. Namun aku sulit untuk melanjutkan tidurku. Meskipun AC mobil tak dihidupkan semua, tapi ternyata masih terlalu dingin untukku (kondisi kedua yang tidak menguntungkan aku), meskipun aku sudah mengenakan jaket.

Kurang lebih jam 07.00 WIB kami sampai juga di Bandara Juanda, setelah sebelumnya sempat mampir di Jombang untuk Sholat Subuh dan sarapan pada pukul 04.30 WIB ! Menunggu lama itu memang tidak menyenangkan.., apalagi ternyata pesawat delay selama 1 jam. Untung saja aku membawa novel (The Girls of Riyadh), sehingga bisa membantuku membuang jenuh.

Akhirnya, pesawat berangkat juga dan mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Hasanudin kurang lebih pukul 12.15 WITA. Dengan menggunakan taksi (catatan : taksi di Makasar mahal sekali)  kami menuju ke hotel tempat kami menginap dan tempat diselenggarakannya sosialisasi. Sayangnya, sesampai di hotel ternyata kamar yang akan kami tempati belum siap, sehingga kami dipersilahkan untuk makan dulu.

Setelah ditunggu sampai pukul 14.00 WITA ternyata kamar yang akan kami tempati belum juga siap, akhirnya panitia memutuskan untuk membuka acara sosialisasi tersebut. Beberapa peserta, termasuk aku dan bosku, terpaksa hadir di acara sosialisasi itu dengan penampilan seadanya (karena belum sempat ganti baju) sambil menenteng koper..!

Sebenarnya dresscode selama acara sosialisasi itu (dari mulai pembukaan sampai penutupan) adalah : batik. Namun, karena keadaan darurat, beberapa peserta tampil seadanya. Ada yang masih mengenakan kaos dan celana jeans. Sementara aku sendiri mengenakan blus lengan pendek, jeans dan jaket. Yups.., jaket..! Terpaksa jaket tak aku lepaskan karena ruangan tempat sosialisasi sangat dingin (kondisi ketiga yang tidak menguntungkan aku). AC ada di sebelah kiri, kanan, belakang dan dari atas-ku.

Acara sesi pertama baru selesai pada pukul 17.40 WITA, dan para peserta diharap berkumpul untuk melanjutkan acara sosialisasi pada pukul 19.00 WITA. Dalam waktu sesingkat itu, kami harus sudah mandi, ganti baju, sholat dan makan malam... plus cari kamar..! Jadi, begitu kami dapat kamar, kami belum bisa memanfaatkannya untuk istirahat. Oya, aku kebagian sekamar dengan seorang ibu, peserta dari Sidoarjo.

Untuk sesi selanjutnya aku sudah berganti batik. Namun, karena sudah pakai batik aku tak berani mengenakan jaket lagi (kondisi keempat yang tidak menguntungkan aku), meskipun ruangannya tetap saja dini. Begitulah..., acara sosialisasi itu terus berlanjut malam itu dan baru berakhir pada pukul 21.35 WITA, sementara aku kedinginan. Secara keseluruhan, aku bersyukur telah hadir di acara itu, karena materi yang disampaikan sangat bagus sekaligus telah membuka wawasan peserta. Pembicaranya pun sangat pandai menyampaikan materi-materinya, sehingga kami dapat mudah menangkap apa yang disampaikannya.

Selesai acara aku langsung kembali ke kamar. Belum lama sampai di kamar, bosku menelpon dan menawariku untuk melihat Pantai Losari. Ternyata... Pantai Losari tepat berada di seberang hotel tempat kami menginap. Malam itu, Pantai Losari ramai sekali, meskipun angin bertiup cukup kencang (kondisi kelima yang tidak menguntungkan aku), tapi rupanya pengunjung pantai tak terpengaruh sama sekali.




Selanjutnya, aku dan bosku mencoba jalan-jalan di sekitar tempat itu. Sayang sekali, karena memang sudah malam, toko-toko sudah tutup. Sehingga kami tak bisa belanja malam itu. So, kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk tidur. Tetapi sampai kamar, malah aku asyik ngerumpi sampai malam (kondisi keenam yang tidak menguntungkan aku) dengan teman sekamarku yang berasal dari Sidoarjo itu.

Jumat, 16 Juli 2010

Dinas dan Jalan-jalan

Semenjak kurang lebih setahun terakhir ini, aku sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Baik itu dengan menggunakan kendaraan dinas, kereta api ataupun pesawat. Hal itu berbeda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, bisa dikatakan aku jarang sekali  melakukan perjalanan dinas ke luar kota.

Memang di satu sisi acara dinas ke luar kota itu melelahkan, khususnya kalau dinas ke Jakarta. Sebagai gambaran, biasanya kami berangkat dari Madiun dengan menggunakan kereta api (misalkan) pada hari Selasa malam dan akan sampai ke Jakarta pada Rabu pagi. Pada hari Rabu itu, seharian kami menyelesaikan segala urusan di Jakarta. Sorenya, setelah semua pekerjaan selesai, kami langsung pulang lagi dengan menggunakan kereta api lagi. Kamis pagi, kami akan sampai kembali ke Madiun dan... pagi itu juga kami sudah masuk kantor kembali.

Kalau perjalanan dinas ke Surabaya, Malang dan sekitarnya sih tidak terlalu melelahkan, karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Namun, pada akhirnya aku bisa menikmati acara dinas plus jalan-jalan itu. Yah, hitung-hitung bisa sebagai sarana refreshingku. Seperti saat aku dinas ke Jakarta beberapa bulan yang lalu. Karena pekerjaan yang harus kuselesaikan di Jakarta cepat selesai, padahal jadwal kereta api-ku masih sangat lama, akhirnya aku putuskan untuk jalan-jalan ke Monas. Atau saat aku ke Surabaya dan urusan dinas juga selesai sangat cepat, maka aku dan teman-teman memutuskan untuk ke Jembatan Suramadu. Maklum, sejak jembatan itu diresmikan, kami belum pernah ke Jembatan Suramadu.

saat aku dan teman2 mampir ke Jembatan Suramadu

Sebenarnya ada keuntungan juga yang kudapatkan dari dinas ke luar kota itu. Seperti jika kota atau tempat  aku berdinas itu belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Seperti acara dinasku ke Makasar Kamis dan Jumat ini. Bahkan, karena dinas jualah aku bisa menikmati perjalanan dengan pesawat terbang. Mungkin bila bukan karena acara dinas, sampai sekarang aku belum sempat naik pesawat terbang hehehe....

Yah begitulah, meskipun dinas keluar kota itu melelahkan... tapi aku mencoba menikmatinya dan menganggapnya sebagai sarana bagiku keluar dari rutinitas pekerjaanku sehari-hari. Dengan begitu, aku tetap bisa bahagia.. (^_^) Setuju kan...?


Rabu, 16 Juni 2010

Si Tukang Usil

Suamiku bukan orang yang banyak bicara, beda banget dengan aku yang super duper cerewet *tersipu malu*. Aku kalau cerita bisa tak ada habisnya, sementara suamiku lebih banyak diam dan mendengarkan. Yah, mungkin Allah memang menjodohkan kami karena sifat kami yang bertolak belakang itu agar kami saling melengkapi. Coba saja seandainya aku dan suamiku sama-sama cerewet, pasti kami akan berebut bicara dan tak ada yang mendengarkan hehehe...

Selain pendiam, suamiku cenderung lebih santai sementara aku cenderung serius dan ngotot. Aku kurang suka melakukan hal-hal yang menurutku tak perlu, sementara suamiku enjoy aja melakukan hal-hal sepele yang menyenangkan hatinya, salah satunya adalah bersikap usil bin jahil. Yang menjadi korban keusilannya bukan hanya aku (dan Shasa) saja, tapi di kalangan teman-temannya suamiku terkenal sebagai "si usil" hehehe.

Aku ingat sekali suatu peristiwa yang tak akan pernah aku lupakan gara-gara keusilannya. Ceritanya, beberapa tahun yang lalu saat aku masih kuliah, kami mengadakan study tour ke Bandung. Acara itu tentu saja aku sambut dengan suka cita, karena kebetulan suamiku (saat itu dia masih berstatus pacar) kuliah di Bandung. Kesempatan untuk bertemu itu membuatku semangat mengikuti study tour, apalagi dia sudah berjanji untuk menyempatkan diri mengunjungiku di penginapan.

Selama kami berhubungan, tak banyak yang tahu bahwa aku sudah mempunyai pacar. Maklum saja, karena kami menjalani Hubungan Jarak Jauh, jadi teman-teman kuliahku di Yogya tahunya aku masih sendiri. Kalaupun ada yang tahu aku punya pacar, tapi tak ada yang tahu bagaimana dan siapa pacarku itu. Namun bagi beberapa orang sahabat dekatku, sosok pacarku sudah sangat mereka kenal karena beberapa kali dia sudah mengunjungiku di Yogya.

Nah, malam itu (sayang aku lupa tanggalnya) adalah waktu yang kami rencanakan untuk bertemu. Setelah menunggu dengan gelisah, akhirnya dia datang juga ke penginapan ditemani seorang teman lelakinya. Aku terus terang grogi sekali, dan untuk mengurangi rasa grogi aku mengajak salah seorang sahabatku untuk menemani aku menemuinya.

Pertemuan yang tak lama itu mengesankan dan mampu menghapus kerinduanku *ehm*. Saat dia hendak pulang, aku wanti-wanti dia agar sebisa mungkin tak mengundang perhatian teman-teman kuliahku yang lain. Kebetulan, saat dia hendak pulang, pas teman-teman kuliahku mulai berkumpul semua karena mau makan malam. Mauku sih, tak banyak yang memperhatikan kehadirannya karena aku masih malu jika menjadi perhatian teman-teman yang lain karena dikunjungi pacar.

Sayangnya, saat itu keusilannya sedang muncul. Tiba-tiba saja dia berjalan terpincang-pincang dengan menyeret sebelah kakinya. Otomatis, gerakannya itu menarik perhatian semua teman-temanku. Semua mata memandangnya ingin tahu. OMG, aku bisa bayangkan mukaku merah sekali saat itu. Setelah sampai di luar dan dia naik ke motornya, aku menghujaninya dengan cubitan gemas. Sementara temannya hanya bisa tertawa ngakak melihat semua kejadian malam itu.

Benar saja, begitu aku masuk ke dalam penginapan, semua temanku sibuk bertanya tentang lelaki yang baru saja mengunjungiku itu. Saat aku jelaskan kalau dia pacarku, ada beberapa teman yang bertanya mengapa kaki pacarku terpincang-pincang. Aku dongkol dalam hati membayangkan selama di perjalanan pulang dia dan temannya sibuk tertawa karena telah berhasil mengusili aku. *sigh*

Sampai kini, aku masih saja senyum-senyum sendiri setiap mengingat kejadian itu. Selama kami menikah, entah sudah berapa kali aku (dan juga Shasa) menjadi korban keusilannya. Namun, beberapa kali aku berhasil membalas keusilannya. Walaupun aku jarang berbuat usil, tapi selama ini aku hampir selalu berhasil membalas keusilannya.

Banyak orang yang mengatakan bahwa suaraku mirip dengan suara ibuku. Suatu ketika, aku sengaja menelponnya dan mengusilinya dengan menggunakan telepon Ibuku. Aku berpura-pura menjadi Ibuku. Aku memanggilnya dengan nama panggilan dari Ibuku untuknya dan suamiku pun menjawab semuanya dengan menggunakan Bahasa Jawa Halus. Karena tak terbiasa berbuat usil, belum lama aku 'bersandiwara' aku sudah tak kuat menahan tawa. Aku tak kuat menahan geli saat membayangkan suamiku yang berbicara denganku dengan sikap bak 'seorang menantu yang baik'.

Lain waktu, jika suamiku pulang malam dari warung kopi yang ada di komplek perumahan kami aku suka sekali mengusilinya. Biasanya, saat mengetahui dia pulang, aku sengaja bersembunyi di balik korden. Sehingga ketika dia membelakangi korden untuk menutup pintu, dia tak menyadari kehadiranku. Nah, ketika dia berbalik dan melangkah masuk ke ruang tengah aku dengan tiba-tiba akan menjulurkan kepalaku dari balik korden. Kemunculan kepala yang tiba-tiba dari balik korden di malam yang sepi mau tak mau membuatnya kaget setengah mati. Melihatnya kaget setengah mati dan pucat pasi mau tak mau membuatku tertawa kegirangan. *joget-joget*

Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku sekarang sudah keracunan usil dari suamiku. Sebenarnya aku sebel sekali jika penyakit usilnya kambuh, tapi jika dia tak usil... kok aku kangen ya..? Huh, repotnya.... hehehe

Kamis, 03 Juni 2010

Hiii... Ulaaarrr....

Pagi tadi di rumah ada kehebohan. Shasa yang sudah bangun pukul 03.30 pagi seperti biasa langsung beranjak ke kamar mandi. Tapi sampai di dapur dia dikejutkan dengan benda asing, hitam dan panjang yang ada di lantai dapur. Tentu saja kaget luar biasa, Shasa segera berlari memberitahu ayahnya bahwa ada ular di dapur.

Ayahnya Shasa segera saja mengambil clurit yang tergantung di dekat televisi dan menghambur ke dapur. Sementara aku tak berani melihat apa yang terjadi, Shasa malah asyik menonton aksi ayahnya melawan ular itu. Setelah cukup lama berkutat dengan ular itu, akhirnya si ular mati juga. Sewaktu ular dibawa ke samping rumah, aku hanya berani ngintip saja dari balik jendela kamar. Masya Allah.., ularnya ternyata besar juga. Sepertinya belang-belang gitu badannya, tapi kata Shasa bagian buntutnya berwarna merah.


Kami heran banget, darimana ular itu bisa masuk ke dalam rumah. Ngeri sekali membayangkan apa jadinya saat aku sudah sibuk di dapur dan tak menyadari kehadirannya. Bisa-bisa aku dipatuk oleh ular itu... Makin ngeri membayangkan kami masih asyik tidur sementara ular itu sudah jalan-jalan kemana-mana. Hiiii.... ngeriiiii.

Ini kali kedua rumahku kemasukan ular. Yang pertama sudah beberapa tahun yang lalu. Saat itu pas suami sedang tak ada di rumah, dan ibuku menemaniku dan Shasa tidur di rumah. Sewaktu Subuh, Ibu memutuskan untuk Sholat di depan televisi saja, padahal biasanya Ibu suka sholat di kamar. Sewaktu Ibu sholat itulah aku mendengar suara-suara aneh seperti suara bersin-bersin.

Awalnya aku tak terlalu memikirkan suara asing itu, tapi lama-lama aku takut juga. Kebetulan, saat itu sedang ramai kasus "flu burung" dan aku khawatir suara bersin-bersin itu berasal dari burung peliharaan suami. Perlahan aku masuk ke ruang televisi, karena memang burungnya ditaruh di ruang itu. Saat aku mendongak memandang sangkar yang tergantung di langit-langit mataku membelalak tak percaya. Ternyata sangkar burung itu tak lagi terisi burung. "Ularr..!" pekikku pelan tapi sempat membuyarkan konsentrasi Ibu yang sedang sholat Subuh.

Aku, Ibu dan Shasa terbelalak tak percaya memandang ke arah sangkar burung yang tergantung di langit-langit rumah. Kok bisa ularnya masuk kesana..? Berarti burung peliharaan suami sudah habis dimakan ular itu. Kapan kejadiannya, kok bisa kami serumah tidak mendengar suara 'ribut-ribut' sama sekali. Tapi Ibu ingat, sewaktu Sholat tahajud kurang kebih jam 3 pagi, Ibu sudah mendengar suara seperti bersin-bersin itu, hanya saja Ibu tak tahu asal usul suara itu.

Setelah kuperhatikan, ular itu sepertinya ular kobra, karena bagian kepala melebar seperti sendok. Rupanya ular itu merasa terganggu dengan aktivitas Ibu yang Sholat Subuh tak jauh dari sangkat itu. Mungkin gerakan Ibu sewaktu sholat dengan mukena putihnya seolah menakutinya, sehingga ular itu mendesis-desis (yang terdengar olehku seperti suara bersin-bersin).

Karena suami sedang tak ada di rumah, maka pagi itu aku terpaksa gedor pintu rumah tetangga untuk minta tolong mengeluarkan sangkar burung itu dari rumah. Aku takut jika ular itu sampai keluar dari sangkar karena tak segera dikeluarkan dari rumah, maka akan sulit mencari keberadaannya di dalam rumah kami. Hii... horor banget kan..?

Rupanya tetanggaku juga bingung bagaimana cara menurunkan sangkar itu dengan aman dari langit-langit rumah. Setelah cukup lama, akhirnya datang seorang yang berani menurunkan sangkar itu. Dan, sewaktu sangkar itu diturunkan, saat sangkar itu sudah sejajar dengan muka orang yang menurunkannya, rupa-rupanya ular kobra itu sempat menyembur muka orang itu. Huff.., sempat panik sesaat tapi untung saja tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Begitu ular dalam sangkar burung itu keluar rumah, lega banget rasanya...


Kedua kejadian itu membuatku makin takut saja dengan ular. Dari dulu aku memang takut banget dengan ular dan benci banget jika ada tayangan tentang ular di televisi. Sementara suami dan Shasa suka sekali nonton tayangan tentang Panji yang hobby berburu ular di salah satu stasiun televisi. Semoga saja, tak ada lagi ular yang nyelonong pengen berkunjung ke rumahku..... Amin.

NB : sengaja gak dipasang fotonya, karena aku takut melihatnya. Kalau dipasang kan membuatku teringat terus nantinya.

Jumat, 21 Mei 2010

Kok tak mau antri ya..?

Antri dong..! Rasanya kalimat itu ingin aku ucapkan di berbagai kesempatan. selama ini aku memang telah punya banyak pengalaman yang menjengkelkan yang menyangkut antri ini. Mengapa ya masyarakat kita masih sulit untuk mengantri dengan benar ? Mengapa semua inginnya 'dilayani' terlebih dahulu padahal datangnya belakangan ?

Coba saja, setiap peristiwa pembagian zakat, pembagian sembako, pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) bahkan pembagian sumbangan bagi korban bencana alam... selalu saja disertai berita 'kerusuhan' akibat orang-orang yang tidak mau mengantri dengan tertib. Semua takut tidak 'kebagian' sehingga berebut meminta duluan.... Kalau sudah begitu suasana menjadi rusuh kan..?


Aku sendiri punya banyak pengalaman tentang antri itu. Salah salah satunya adalah waktu aku sedang antri dokter. Saat itu aku sedang antar Shasa yang sakit batuk ke dokter. Kebetulan pasien yang datang banyak banget. Setelah sekian lama menunggu, giliran berikutnya adalah aku.

Sesaat sebelum masuk ruang periksa, ada seorang ibu yang sudah tua datang diantar anaknya. Begitu masuk ruang tunggu, sang anak bertanya giliran berikut yang masuk ruang dokter siapa, dan ada seorang bapak yang menunjuk kepadaku. Sang anak langsung menghampiriku dan meminta ijin padaku untuk masuk terlebih dahulu karena ibunya sakit parah dan kasihan kalau menunggu terlalu lama.

Mendengar permintaan itu terus terang aku bingung. Aku tak keberatan jika Ibu itu masuk lebih dulu daripada aku, toh Shasa hanya sakit batuk. Tapi, jika aku mengijinkannya, bagaimana dengan orang-orang lain yang sudah antri lama setelah aku ? Apakah mereka juga mau mengorbankan lebih banyak waktu lagi untuk menunggu dokter ?

Setelah sekian lama berpikir akhirnya aku tanyakan apakah kira-kira Si Ibu akan diperiksa lama di dalam, karena yang antri masih banyak. Sang anak memastikan bahwa dia dan ibunya tak akan lama di ruang periksa dokter. Mendengar jawaban itu akupun mengangguk mengijinkan dia masuk lebih dulu daripada aku. Dalam hati aku berdoa semoga orang lain yang antri di belakangku tak menyesali keputusanku.

gambar diculik dari sini

Lain lagi dengan pengalaman waktu Shasa masih duduk di TK Kelas A. Entah apa sebabnya, Shasa terkena infeksi saluran kencing. Penyakit itu membuat Shasa rewel dan berulang kali ngompol. Saat itu, aku dan suami baru pulang dari dokter untuk memeriksakan Shasa. Aku berinisiatif untuk mampir sebentar membeli jajanan buat Shasa, karena Shasa tiba-tiba kehilangan selera makan.

Setelah memilih jajanan dengan terburu-buru (karena Shasa sudah wanti-wanti agar tak kelamaan membeli jajanan), aku segera antri untuk membayar. Untung saja tak terlalu banyak yang belanja jajan saat itu. Saat tiba giliranku, tiba-tiba ibu yang datang setelahku mengambil posisi di sampingku. Dia tiba-tiba menyodorkan jajannya untuk dihitung.

Melihat hal itu tentu saja aku tak terima, dan langsung aku bilang pada penjualnya bahwa yang antri aku dulu. Tapi ibu yang sebelahku tadi menjawab, "Aku dulu saja mbak, kan belanjaanku juga tak terlalu banyak" sambil kembali menyorongkan jajannya ke depan kasir. Dan.., kasirpun mengambil jajanan itu dan mulai menghitungnya.

Melihat hal itu, aku terus terang saja marah sekali. Aku teringat Shasa yang sakit dan terpaksa menunggu di mobil lebih lama gara-gara seorang Ibu yang tak mau kalah tadi. Akhirnya aku putuskan, meninggalkan jajananku di depan kasir dan berkata, "Maaf mbak.. tak jadi beli" dan aku langsung keluar dari toko itu.

Benar saja, begitu masuk mobil Shasa berkata, "kok lama sih Ma? Pengen cepet pulang nih". Akhirnya memang kami langsung pulang. Sesampai di rumah suamiku pergi lagi untuk membeli jajanan di tempat lain. Dan... setelah kejadian itu aku tak pernah lagi belanja di toko itu (yang kini malah akhirnya bangkrut dan tutup).

Kok tak mau antri ya..?

Antri dong..! Rasanya kalimat itu ingin aku ucapkan di berbagai kesempatan. selama ini aku memang telah punya banyak pengalaman yang menjengkelkan yang menyangkut antri ini. Mengapa ya masyarakat kita masih sulit untuk mengantri dengan benar ? Mengapa semua inginnya 'dilayani' terlebih dahulu padahal datangnya belakangan ?

Coba saja, setiap peristiwa pembagian zakat, pembagian sembako, pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) bahkan pembagian sumbangan bagi korban bencana alam... selalu saja disertai berita 'kerusuhan' akibat orang-orang yang tidak mau mengantri dengan tertib. Semua takut tidak 'kebagian' sehingga berebut meminta duluan.... Kalau sudah begitu suasana menjadi rusuh kan..?


Aku sendiri punya banyak pengalaman tentang antri itu. Salah salah satunya adalah waktu aku sedang antri dokter. Saat itu aku sedang antar Shasa yang sakit batuk ke dokter. Kebetulan pasien yang datang banyak banget. Setelah sekian lama menunggu, giliran berikutnya adalah aku.

Sesaat sebelum masuk ruang periksa, ada seorang ibu yang sudah tua datang diantar anaknya. Begitu masuk ruang tunggu, sang anak bertanya giliran berikut yang masuk ruang dokter siapa, dan ada seorang bapak yang menunjuk kepadaku. Sang anak langsung menghampiriku dan meminta ijin padaku untuk masuk terlebih dahulu karena ibunya sakit parah dan kasihan kalau menunggu terlalu lama.

Mendengar permintaan itu terus terang aku bingung. Aku tak keberatan jika Ibu itu masuk lebih dulu daripada aku, toh Shasa hanya sakit batuk. Tapi, jika aku mengijinkannya, bagaimana dengan orang-orang lain yang sudah antri lama setelah aku ? Apakah mereka juga mau mengorbankan lebih banyak waktu lagi untuk menunggu dokter ?

Setelah sekian lama berpikir akhirnya aku tanyakan apakah kira-kira Si Ibu akan diperiksa lama di dalam, karena yang antri masih banyak. Sang anak memastikan bahwa dia dan ibunya tak akan lama di ruang periksa dokter. Mendengar jawaban itu akupun mengangguk mengijinkan dia masuk lebih dulu daripada aku. Dalam hati aku berdoa semoga orang lain yang antri di belakangku tak menyesali keputusanku.

gambar diculik dari sini

Lain lagi dengan pengalaman waktu Shasa masih duduk di TK Kelas A. Entah apa sebabnya, Shasa terkena infeksi saluran kencing. Penyakit itu membuat Shasa rewel dan berulang kali ngompol. Saat itu, aku dan suami baru pulang dari dokter untuk memeriksakan Shasa. Aku berinisiatif untuk mampir sebentar membeli jajanan buat Shasa, karena Shasa tiba-tiba kehilangan selera makan.

Setelah memilih jajanan dengan terburu-buru (karena Shasa sudah wanti-wanti agar tak kelamaan membeli jajanan), aku segera antri untuk membayar. Untung saja tak terlalu banyak yang belanja jajan saat itu. Saat tiba giliranku, tiba-tiba ibu yang datang setelahku mengambil posisi di sampingku. Dia tiba-tiba menyodorkan jajannya untuk dihitung.

Melihat hal itu tentu saja aku tak terima, dan langsung aku bilang pada penjualnya bahwa yang antri aku dulu. Tapi ibu yang sebelahku tadi menjawab, "Aku dulu saja mbak, kan belanjaanku juga tak terlalu banyak" sambil kembali menyorongkan jajannya ke depan kasir. Dan.., kasirpun mengambil jajanan itu dan mulai menghitungnya.

Melihat hal itu, aku terus terang saja marah sekali. Aku teringat Shasa yang sakit dan terpaksa menunggu di mobil lebih lama gara-gara seorang Ibu yang tak mau kalah tadi. Akhirnya aku putuskan, meninggalkan jajananku di depan kasir dan berkata, "Maaf mbak.. tak jadi beli" dan aku langsung keluar dari toko itu.

Benar saja, begitu masuk mobil Shasa berkata, "kok lama sih Ma? Pengen cepet pulang nih". Akhirnya memang kami langsung pulang. Sesampai di rumah suamiku pergi lagi untuk membeli jajanan di tempat lain. Dan... setelah kejadian itu aku tak pernah lagi belanja di toko itu (yang kini malah akhirnya bangkrut dan tutup).

Kamis, 20 Mei 2010

Kangen gudeg

Aku kangen gudeg. Aku pengen banget makan gudeg. Sebenarnya di kotaku ada juga penjual gudeg, tapi sayang rasanya tak seenak gudeg Yogya. Sebenarnya, saat suamiku pulang dari diklat ke Cisarua beberapa waktu yang lalu, dia sempat mampir ke Yogya. Rencananya akan membelikan aku gudeg. Sayang sekali, karena ada miskomunikasi antara suamiku dan penjual gudeg, jadinya suamiku tak kebagian gudeg. *nyesel banget*

Bicara tentang gudeng, aku selalu teringat dengan gudeg yang menjadi langgananku saat kuliah dulu. Selama aku kuliah dan kos di Yogya dulu, aku suka banget sarapan gudeg. Kebetulan di belakang rumah kostku ada penjual gudeg yang menurutku enak dan harganya terhitung murah untuk ukuran anak kost sepertiku. Jadinya, sarapan gudeg selalu saja jadi pilihan banyak mahasiswa.

Hanya sayangnya, aku dan beberapa mahasiswa lainnya suka tak sabaran beli gudeg di sana. Penyebabnya adalah penjualnya suka mementingkan dan mendahulukan kerabat dan tetangga. Sering sekali terjadi orang yang baru datang langsung minta dilayani dengan alasan untuk sarapan anaknya yang akan berangkat sekolah. Dan jika orang itu adalah kerabat atau tetangga, pasti langsung dilayani oleh Simbah penjual gudeg itu.

Hemmm.., sungguh melihat nasi gudeg itu aku jadi pengen banget
(gambar diculik dari sini)

Heran plus jengkel banget aku kalau sudah begitu. Ya kalau memang anaknya butuh sarapan gudeg sebelum berangkat sekolah, kenapa juga tak beli gudeg sejak pagi ? Memangnya sekian banyak mahasiswa yang sejak lama antri juga tak butuh kuliah di pagi hari ? Kalau para mahasiswa itu tak kuliah pagi, mereka kan bisa memilih beli gudeg agak siang, supaya tidak antri. Mentang-mentang mahasiswa ini 'orang luar' yang tidak dikenal secara pribadi oleh Simbah penjual gudeg, selalu saja dikalahkan kepentingannya. Namun aku tak pernah melihat ada mahasiswa yang berani protes atas diskriminasi itu... ^_^

Bahkan...., sampai aku lulus aku tetap saja membeli gudeg di situ, maklum saja tak ada penjual gudeg lain (yang murah meriah dan enak) di dekat tempat kostku. Apalagi jika pas sedang 'krisis keuangan' karena uang saku menipis, pasti deh banyak mahasiswa yang kesana. Bukan untuk beli gudeg, tapi untuk beli ketela pohon rebus yang diberi bumbu gudeg. Rasanya enak dan tak dapat ditemukan dimanapun juga. Yang lebih penting lagi adalah harganya jauh lebih murah... hehehe.

Duuh..., aku jadi makin kangen gudeg. Siapa mau mengirimi aku gudeg ya..? *ngarep banget*

Kangen gudeg

Aku kangen gudeg. Aku pengen banget makan gudeg. Sebenarnya di kotaku ada juga penjual gudeg, tapi sayang rasanya tak seenak gudeg Yogya. Sebenarnya, saat suamiku pulang dari diklat ke Cisarua beberapa waktu yang lalu, dia sempat mampir ke Yogya. Rencananya akan membelikan aku gudeg. Sayang sekali, karena ada miskomunikasi antara suamiku dan penjual gudeg, jadinya suamiku tak kebagian gudeg. *nyesel banget*

Bicara tentang gudeng, aku selalu teringat dengan gudeg yang menjadi langgananku saat kuliah dulu. Selama aku kuliah dan kos di Yogya dulu, aku suka banget sarapan gudeg. Kebetulan di belakang rumah kostku ada penjual gudeg yang menurutku enak dan harganya terhitung murah untuk ukuran anak kost sepertiku. Jadinya, sarapan gudeg selalu saja jadi pilihan banyak mahasiswa.

Hanya sayangnya, aku dan beberapa mahasiswa lainnya suka tak sabaran beli gudeg di sana. Penyebabnya adalah penjualnya suka mementingkan dan mendahulukan kerabat dan tetangga. Sering sekali terjadi orang yang baru datang langsung minta dilayani dengan alasan untuk sarapan anaknya yang akan berangkat sekolah. Dan jika orang itu adalah kerabat atau tetangga, pasti langsung dilayani oleh Simbah penjual gudeg itu.

Hemmm.., sungguh melihat nasi gudeg itu aku jadi pengen banget
(gambar diculik dari sini)

Heran plus jengkel banget aku kalau sudah begitu. Ya kalau memang anaknya butuh sarapan gudeg sebelum berangkat sekolah, kenapa juga tak beli gudeg sejak pagi ? Memangnya sekian banyak mahasiswa yang sejak lama antri juga tak butuh kuliah di pagi hari ? Kalau para mahasiswa itu tak kuliah pagi, mereka kan bisa memilih beli gudeg agak siang, supaya tidak antri. Mentang-mentang mahasiswa ini 'orang luar' yang tidak dikenal secara pribadi oleh Simbah penjual gudeg, selalu saja dikalahkan kepentingannya. Namun aku tak pernah melihat ada mahasiswa yang berani protes atas diskriminasi itu... ^_^

Bahkan...., sampai aku lulus aku tetap saja membeli gudeg di situ, maklum saja tak ada penjual gudeg lain (yang murah meriah dan enak) di dekat tempat kostku. Apalagi jika pas sedang 'krisis keuangan' karena uang saku menipis, pasti deh banyak mahasiswa yang kesana. Bukan untuk beli gudeg, tapi untuk beli ketela pohon rebus yang diberi bumbu gudeg. Rasanya enak dan tak dapat ditemukan dimanapun juga. Yang lebih penting lagi adalah harganya jauh lebih murah... hehehe.

Duuh..., aku jadi makin kangen gudeg. Siapa mau mengirimi aku gudeg ya..? *ngarep banget*

Selasa, 04 Mei 2010

Kebersamaan kita

Kebersamaanku dulu bersamamu tak akan tergantikan
Tak akan terlupakan
Kebersamaanku dulu bersamamu sangat berharga
Sangat bermakna

Jejak langkah kita demikian nyata adanya
hingga waktu yang berlalu tak akan mampu mengubahnya
ataupun menghapusnya

Biarlah kenangan itu tersimpan di angan
Biarlah kebersamaan itu terpatri di lubuk hati

Sampai akhir nanti.....





Kebersamaan kita

Kebersamaanku dulu bersamamu tak akan tergantikan
Tak akan terlupakan
Kebersamaanku dulu bersamamu sangat berharga
Sangat bermakna

Jejak langkah kita demikian nyata adanya
hingga waktu yang berlalu tak akan mampu mengubahnya
ataupun menghapusnya

Biarlah kenangan itu tersimpan di angan
Biarlah kebersamaan itu terpatri di lubuk hati

Sampai akhir nanti.....





Sabtu, 01 Mei 2010

Kondisi darurat

Setahun terakhir ini aku sering dihadapkan pada kondisi darurat. Yang aku maksud dengan kondisi darurat adalah kondisi yang tak terduga dan harus segera diambil tindakan secepatnya. Semula aku tentu saja sedikit kaget dan kalang kabut saat menghadapi kondisi darurat ini, namun setelah terjadi 2-3 kali aku mulai mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu menghadapinya.

Kondisi itu bermula ketika aku mendapatkan pimpinan yang baru. Jika pemimpinku yang lama sangat detil dan terlibat penuh dalam menjalankan pekerjaannya, maka pemimpin yang baru justru memberikan kepercayaan penuh pada masing-masing tim kerja yang ada. Beliau juga tak pernah menanyakan perkembangan pekerjaan kami, sehingga kami harus berinisiatif untuk sering-sering melaporkan perkembangan pekerjaan kepada beliau.

Masalahnya, mencari beliau itu sungguh sulit, karena beliau jarang ada di tempat. Sehingga tak semua hal dapat kami konsultasikan dan kami laporkan kepada beliau. Jika kondisi sangat mendesak, mau tak mau telepon menjadi perantara yang sangat berharga bagi kami. Namun untuk menghubungi beliau melalui handphone memang kami harus memilah-milah masalah dulu, tak enak jika semua masalah kami sampaikan lewat telepon.

Dari berbagai kondisi darurat yang paling aku ingat adalah kondisi darurat yang pertama kali aku hadapi. Saat itu tim kerjaku mempersiapkan acara pembinaan administrasi kepegawaian yang rencananya akan dibuka oleh Bapak Sekretaris Daerah. Sambutan untuk bapak Sekretaris Daerah dan Laporan Ketua Panitia yang akan disampaikan oleh pimpinanku pun sudah kami siapkan dan kami serahkan kepada beliau-beliau itu untuk dipelajari.

Beberapa saat sebelum acara itu akan dibuka, ternyata Bapak Sekretaris Daerah berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Asisten Administrasi Umum. Saat bapak Asisten Administrasi Umum memasuki ruangan dan duduk di depan dengan didampingi pimpinanku aku terbengong. Lho, kalau beliau duduk di sebelah bapak Asisten Administrasi Umum siapa dong yang akan menyampaikan Laporan Ketua Panitia nantinya ? Sesaat sebelum protokol membuka acara, pimpinanku melambaikan tangannya padaku dan mengatakan bahwa aku nanti yang ditugasi untuk membacakan Laporan Ketua Panitia.

What ?! Terus terang aku terkejut bukan main. Mengapa beliau menyampaikan hal ini secara mendadak ? Mengapa naskah Laporan Ketua Panitia yang mesti aku bacakan tak diserahkan kepadaku ? Bukankah naskah itu sudah kuserahkan pada beliau ?

tempat duduk utk Asisten Administrasi Umum dan pimpinanku

aku yang sedang membacakan laporan ketua panitia
Kemudian aku bergegas  kembali ke tempatku. Untung saja aku tak lupa membawa semua arsip kegiatan ini. Aku segera mencari-cari naskah Laporan Ketua Panitia. Huff..., untung ketemu. Belum sempat aku membuka map itu, protokol sudah menyilahkan aku maju untuk menyampaikan Laporan Ketua Panitia.

Setelah menenangkan diri sebentar aku berjalan menuju podium untuk membacakan Laporan Ketua Panitia yang terdiri dari 2 lembar. Alhamdulillah, halaman pertama dapat aku sampaikan dengan baik dan aku beralih ke halaman kedua. Seketika wajahku pucat pasi ketika menyadari bahwa kedua lembar naskah laporan yang aku bawa itu kedua-duanya adalah halaman pertama. Aduh..., halaman keduanya pergi kemana sih..?

Keringat sudah mulai membanjir di dahiku. Menyadari banyak mata memandangku dan menunggu kelanjutan laporanku, maka aku tahu bahwa aku tak dapat minta bantuan dari siapapun. Aku coba menenangkan diri dan mencoba mengingat-ingat bunyi naskah Laporan Ketua Panitia itu. Alhamdulillah, meskipun dengan sedikit terbata-bata, aku mampu menyelesaikannya. Untung saja aku telah membaca sebelumnya, sehingga meskipun aku tak hafal namun aku tahu poin-poinnya.

Saat turun dari podium, rasanya beban berat sudah terangkat dari pundakku. Begitu aku sampai kembali ke tempatku, aku tunjukkan pada anggota tim-ku apa yang membuatku sempat tersendat tadi. Mereka pun sama terkejutnya denganku. Walaupun di awal acara ada insiden kecil, untungnya pelaksanaan  pembinaan administrasi kepegawaian dapat berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali. Alhamdulillah...

Setelah kejadian itu, ada beberapa kondisi darurat lainnya yang serupa tapi tak sama, yang disebabkan oleh pemimpinku. Mengalami kondisi darurat berulang kali membuatku kini lebih prepare lagi dalam mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut beliau. Aku kini telah mempersiapkan diri untuk siap sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat seperti itu.

Hikmah yang dapat kuambil adalah masing-masing pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Dengan pemimpin yang baru ini, aku mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri seluas-luasnya.

Kondisi darurat

Setahun terakhir ini aku sering dihadapkan pada kondisi darurat. Yang aku maksud dengan kondisi darurat adalah kondisi yang tak terduga dan harus segera diambil tindakan secepatnya. Semula aku tentu saja sedikit kaget dan kalang kabut saat menghadapi kondisi darurat ini, namun setelah terjadi 2-3 kali aku mulai mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu menghadapinya.

Kondisi itu bermula ketika aku mendapatkan pimpinan yang baru. Jika pemimpinku yang lama sangat detil dan terlibat penuh dalam menjalankan pekerjaannya, maka pemimpin yang baru justru memberikan kepercayaan penuh pada masing-masing tim kerja yang ada. Beliau juga tak pernah menanyakan perkembangan pekerjaan kami, sehingga kami harus berinisiatif untuk sering-sering melaporkan perkembangan pekerjaan kepada beliau.

Masalahnya, mencari beliau itu sungguh sulit, karena beliau jarang ada di tempat. Sehingga tak semua hal dapat kami konsultasikan dan kami laporkan kepada beliau. Jika kondisi sangat mendesak, mau tak mau telepon menjadi perantara yang sangat berharga bagi kami. Namun untuk menghubungi beliau melalui handphone memang kami harus memilah-milah masalah dulu, tak enak jika semua masalah kami sampaikan lewat telepon.

Dari berbagai kondisi darurat yang paling aku ingat adalah kondisi darurat yang pertama kali aku hadapi. Saat itu tim kerjaku mempersiapkan acara pembinaan administrasi kepegawaian yang rencananya akan dibuka oleh Bapak Sekretaris Daerah. Sambutan untuk bapak Sekretaris Daerah dan Laporan Ketua Panitia yang akan disampaikan oleh pimpinanku pun sudah kami siapkan dan kami serahkan kepada beliau-beliau itu untuk dipelajari.

Beberapa saat sebelum acara itu akan dibuka, ternyata Bapak Sekretaris Daerah berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Asisten Administrasi Umum. Saat bapak Asisten Administrasi Umum memasuki ruangan dan duduk di depan dengan didampingi pimpinanku aku terbengong. Lho, kalau beliau duduk di sebelah bapak Asisten Administrasi Umum siapa dong yang akan menyampaikan Laporan Ketua Panitia nantinya ? Sesaat sebelum protokol membuka acara, pimpinanku melambaikan tangannya padaku dan mengatakan bahwa aku nanti yang ditugasi untuk membacakan Laporan Ketua Panitia.

What ?! Terus terang aku terkejut bukan main. Mengapa beliau menyampaikan hal ini secara mendadak ? Mengapa naskah Laporan Ketua Panitia yang mesti aku bacakan tak diserahkan kepadaku ? Bukankah naskah itu sudah kuserahkan pada beliau ?

tempat duduk utk Asisten Administrasi Umum dan pimpinanku

aku yang sedang membacakan laporan ketua panitia
Kemudian aku bergegas  kembali ke tempatku. Untung saja aku tak lupa membawa semua arsip kegiatan ini. Aku segera mencari-cari naskah Laporan Ketua Panitia. Huff..., untung ketemu. Belum sempat aku membuka map itu, protokol sudah menyilahkan aku maju untuk menyampaikan Laporan Ketua Panitia.

Setelah menenangkan diri sebentar aku berjalan menuju podium untuk membacakan Laporan Ketua Panitia yang terdiri dari 2 lembar. Alhamdulillah, halaman pertama dapat aku sampaikan dengan baik dan aku beralih ke halaman kedua. Seketika wajahku pucat pasi ketika menyadari bahwa kedua lembar naskah laporan yang aku bawa itu kedua-duanya adalah halaman pertama. Aduh..., halaman keduanya pergi kemana sih..?

Keringat sudah mulai membanjir di dahiku. Menyadari banyak mata memandangku dan menunggu kelanjutan laporanku, maka aku tahu bahwa aku tak dapat minta bantuan dari siapapun. Aku coba menenangkan diri dan mencoba mengingat-ingat bunyi naskah Laporan Ketua Panitia itu. Alhamdulillah, meskipun dengan sedikit terbata-bata, aku mampu menyelesaikannya. Untung saja aku telah membaca sebelumnya, sehingga meskipun aku tak hafal namun aku tahu poin-poinnya.

Saat turun dari podium, rasanya beban berat sudah terangkat dari pundakku. Begitu aku sampai kembali ke tempatku, aku tunjukkan pada anggota tim-ku apa yang membuatku sempat tersendat tadi. Mereka pun sama terkejutnya denganku. Walaupun di awal acara ada insiden kecil, untungnya pelaksanaan  pembinaan administrasi kepegawaian dapat berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali. Alhamdulillah...

Setelah kejadian itu, ada beberapa kondisi darurat lainnya yang serupa tapi tak sama, yang disebabkan oleh pemimpinku. Mengalami kondisi darurat berulang kali membuatku kini lebih prepare lagi dalam mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut beliau. Aku kini telah mempersiapkan diri untuk siap sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat seperti itu.

Hikmah yang dapat kuambil adalah masing-masing pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Dengan pemimpin yang baru ini, aku mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri seluas-luasnya.

Kamis, 22 April 2010

Hari ini dan 13 tahun yang lalu

Ya Allah, terima kasihku yang tak terhingga
atas segala yang telah Kau berikan padaku hingga hari ini
Betapa ku tak mampu menghitung dan menimbang
tiap-tiap berkah dan rahmad untukku
yang Kau berikan tak putus-putus

Betapa melimpah kebahagiaanku selama ini
    bisa didampingi kedua orang tua dan mertua
    yang tiada henti melimpahkan kasihnya hingga hari ini
    suami yang mendampingi setiap langkahku
    dengan segenap perhatian dan cintanya
    anak yang membuatku bangga memilikinya
    dan bahagia setiap memeluknya


Ya Allah betapa Maha Pemurah-nya Engkau
    untukku Kau hadirkan sahabat-sahabat yang menyayangiku
    teman-teman yang penuh pengertian
    pekerjaan yang menyenangkan (walau terkadang melelahkan)
    kesehatan dan rizky yang tiada hentinya....

Ya Allah, sungguh Engkau Maha Kaya
    meski telah banyak yang Kau berikan padaku
    namun selalu saja ada dan masih ada
    kejutan-kejutan indah dari-Mu

Terima kasih Ya Allah...
harapanku selalu, semoga aku tak kufur nikmat...
semoga aku mampu selalu berbagi kebahagiaan dan kenikmatan
yang telah aku dapatkan dari-Mu
semoga aku selalu dan selalu Kau beri kesabaran dan ketabahan
dalam menjalani hidup ini
agar aku tak pernah lagi mengeluh dan berputus asa
atas sedikit saja kerikil yang menghalangi jalanku

Amin....

Madiun, 22 April 2010

*******

Sobat, hari ini adalah hari ulang tahunku dan aku punya kenangan manis tentang hari ini tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, aku mendapatkan sebuah kejutan membahagiakan dari sahabatku, Afifah Inayati (Iin). Sebuah ungkapan persahabatan yang indah sebagai hadiah ulang tahunku. Hari ini... tiga belas tahun yang lalu... adalah salah satu momen yang tak akan terlupakan dari hidupku. Dan inilah hadiah terindah darinya yang masih aku simpan hingga hari ini...

Karena tulisannya terlalu kecil dan susah dibaca, maka di bawah ini aku salin lagi kalimat yang tertulis dalam kertas itu. Dan.... inilah salinannya...........


Jakarta, 22 April 1997

I imagine our friendship is like the Sun....
      It is warm against our body and soul
      It is lively that makes us smile
      It is beautiful, a comfort to restless heart
      It is meaningful we couldn't live without
      It is important, we wouldn't trade it for anything
      It is lasting like the time
      It is there everytime even at night when we can't see it
And like the Sun I wish our friendship will be.

Be happy my friend. With your cheerfulness and warm hearted nature, you will be the Sun for the people around you.
Me, for example.

Love always, IIN

Sobat... sebuah kebahagiaan bisa hadir meski hanya dari selembar kertas. Sobat..., hari ini adalah hari ulang tahunku dan... aku bahagia untuk hari ini dan bahagia mengenang sebuah kenangan tak terlupakan tiga belas tahun yang lalu.