Rabu, 21 Januari 2009

Hitam atau Putih ?

Pernah ketemu dengan orang yang suka cari kejelekan orang lain ?
Aku pernah....
Pernah kenal dengan orang yang hobby mempengaruhi orang lain dengan pandangan-pandangan negatifnya ?
Aku pernah....
Pernah berurusan dengan orang yang pinternya bermuka manis di depan orang lain tapi menikam di belakangnya ?
Aku pernah....

Bertemu, berkenalan dan berurusan dengan orang-orang seperti itu pasti terasa sangat mengganggu. Kalau diladenin, pasti akan keterusan. Kalau kita udah keterusan akan lebih parah lagi. Bisa-bisa kita ikut terseret arus negatifnya. Kita jadi terbiasa memandang orang lain dari sisi negatifnya juga dan kemudian.... membicarakannya dengan orang lain. Waaa., bahaya itu. Kalaupun kita mampu menjaga diri sehingga gak ikut arus negatifnya, tetap saja waktu berharga kita jadi sia-sia karena meladeninya.

Kalau didiemin, lama-lama kita yang akan jadi "sasaran tembaknya" dikemudian hari. Nah..., jika kita yang jadi "bahan" perbincangannya... tahu apa yang akan terjadi kemudian ? Mungkin kata yang tepat adalah... pembunuhan karakter !! Wuih..., ini lebih ngeri lagi.

Trus..., apa yang sebaiknya kita lakukan bila ngadepin orang-orang seperti di atas ? Kalau aku, lebih baik diam dan kemudian berlalu dari hadapannya. Soalnya, bagiku lebih ngeri kalau aku jadi "foto copy-an" dirinya. Pasti hari-hariku akan disibukkan dengan mencari dan membicarakan kekurangan orang lain. Walah.... cape' deh....

Tapi kalau aku yang kemudian dijadikan bahan omongannya dan pembunuhan karakter di alamatkan padaku, bagaimana dunk? Hmmm, setelah kupikir-pikir nih..., kayaknya akibat yang akan kutanggung lebih ringan daripada kalau aku yang melakukan pembunuhan karakter itu.

Kurasa bagi orang-orang yang mengenalku dengan baik, pasti gak akan menelan mentah-mentah pembunuhan karakter yang dialamatkan padaku. Sedangkan bagi orang-orang yang belum mengenalku, mungkin saja akan termakan omongan negatif itu. Tapi..., kupikir jika suatu saat mereka bisa lebih mengenalku, bisa saja pandangan negatif itu akan luntur dengan sendirinya.

Jadi..., rasanya saat ini aku memilih tetap berjalan di jalanku saja. Tetap melakukan apa saja yang menurutku baik untukku dan baik untuk sekitarku. Karena aku yakin, semua yang diniatkan untuk kebaikan akan berujung kebaikan juga. Mungkin ada orang yang gak bisa melihatnya, tapi masih banyak orang yang mampu melihat dengan nuraninya. Yang terpenting, Allah selalu melihat apa yang diperbuat hamba-Nya, bukan ? Dan dengan pilihan ini..., aku merasa hebat bisa melepaskan diri dari arus negatif.

Pernah bertemu dengan orang yang selalu tegar menghadapi segala macam cobaan ?
Aku pernah....
Pernah kenal dengan orang yang selalu berusaha melihat sisi positif dari segala macam persoalan ?
Aku pernah....
Pernah berurusan dengan orang yang mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri ?
Aku pernah....

Swear..., aku pernah bertemu, kenal dan berurusan dengan orang-orang seperti itu. Percayalah padaku. Dan ternyata..., berada dekat dengan mereka membuatku merasa sangat kecil dan malu. Sungguh, aku merasa diriku gak sebanding dengan mereka. Dan aku merasa aku bukanlah orang yang hebat (lagi).....

Walau di antara orang-orang seperti itu aku merasa malu, tapi aku gak akan surut langkah untuk terus berjalan bersama. Begitu banyak hal yang masih harus aku pelajari tentang hidup dan kehidupan. Bagaimana bisa menjalani hidup dengan baik dan memberikan kebaikan pula bagi orang lain. Bagaimana bisa mencintai hidup dan orang lain dengan sedemikian tulus. Bagaimana bisa menjalani hidup dengan sangat ringan tanpa dibebani dengan pikiran negatif terhadap orang lain.

Dan..., kini aku berusaha untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Sekali dua kali tersandung, tidak apalah. Bisa dijadikan pembelajaran untuk lebih hati-hati di kemudian hari. Sekali dua kali salah langkah juga tak masalah. Agar aku semakin mengetahui rambu-rambu yang ada dalam kehidupan ini. Berat ? Memang.... Tapi gak ada yang gak bisa dipelajari bukan ? Dengan membantu dan dibantu orang lain, aku yakin bahwa perjalananku ke depan akan semakin ringan. Semoga......

Hitam atau Putih ?

Pernah ketemu dengan orang yang suka cari kejelekan orang lain ?
Aku pernah....
Pernah kenal dengan orang yang hobby mempengaruhi orang lain dengan pandangan-pandangan negatifnya ?
Aku pernah....
Pernah berurusan dengan orang yang pinternya bermuka manis di depan orang lain tapi menikam di belakangnya ?
Aku pernah....

Bertemu, berkenalan dan berurusan dengan orang-orang seperti itu pasti terasa sangat mengganggu. Kalau diladenin, pasti akan keterusan. Kalau kita udah keterusan akan lebih parah lagi. Bisa-bisa kita ikut terseret arus negatifnya. Kita jadi terbiasa memandang orang lain dari sisi negatifnya juga dan kemudian.... membicarakannya dengan orang lain. Waaa., bahaya itu. Kalaupun kita mampu menjaga diri sehingga gak ikut arus negatifnya, tetap saja waktu berharga kita jadi sia-sia karena meladeninya.

Kalau didiemin, lama-lama kita yang akan jadi "sasaran tembaknya" dikemudian hari. Nah..., jika kita yang jadi "bahan" perbincangannya... tahu apa yang akan terjadi kemudian ? Mungkin kata yang tepat adalah... pembunuhan karakter !! Wuih..., ini lebih ngeri lagi.

Trus..., apa yang sebaiknya kita lakukan bila ngadepin orang-orang seperti di atas ? Kalau aku, lebih baik diam dan kemudian berlalu dari hadapannya. Soalnya, bagiku lebih ngeri kalau aku jadi "foto copy-an" dirinya. Pasti hari-hariku akan disibukkan dengan mencari dan membicarakan kekurangan orang lain. Walah.... cape' deh....

Tapi kalau aku yang kemudian dijadikan bahan omongannya dan pembunuhan karakter di alamatkan padaku, bagaimana dunk? Hmmm, setelah kupikir-pikir nih..., kayaknya akibat yang akan kutanggung lebih ringan daripada kalau aku yang melakukan pembunuhan karakter itu.

Kurasa bagi orang-orang yang mengenalku dengan baik, pasti gak akan menelan mentah-mentah pembunuhan karakter yang dialamatkan padaku. Sedangkan bagi orang-orang yang belum mengenalku, mungkin saja akan termakan omongan negatif itu. Tapi..., kupikir jika suatu saat mereka bisa lebih mengenalku, bisa saja pandangan negatif itu akan luntur dengan sendirinya.

Jadi..., rasanya saat ini aku memilih tetap berjalan di jalanku saja. Tetap melakukan apa saja yang menurutku baik untukku dan baik untuk sekitarku. Karena aku yakin, semua yang diniatkan untuk kebaikan akan berujung kebaikan juga. Mungkin ada orang yang gak bisa melihatnya, tapi masih banyak orang yang mampu melihat dengan nuraninya. Yang terpenting, Allah selalu melihat apa yang diperbuat hamba-Nya, bukan ? Dan dengan pilihan ini..., aku merasa hebat bisa melepaskan diri dari arus negatif.

Pernah bertemu dengan orang yang selalu tegar menghadapi segala macam cobaan ?
Aku pernah....
Pernah kenal dengan orang yang selalu berusaha melihat sisi positif dari segala macam persoalan ?
Aku pernah....
Pernah berurusan dengan orang yang mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri ?
Aku pernah....

Swear..., aku pernah bertemu, kenal dan berurusan dengan orang-orang seperti itu. Percayalah padaku. Dan ternyata..., berada dekat dengan mereka membuatku merasa sangat kecil dan malu. Sungguh, aku merasa diriku gak sebanding dengan mereka. Dan aku merasa aku bukanlah orang yang hebat (lagi).....

Walau di antara orang-orang seperti itu aku merasa malu, tapi aku gak akan surut langkah untuk terus berjalan bersama. Begitu banyak hal yang masih harus aku pelajari tentang hidup dan kehidupan. Bagaimana bisa menjalani hidup dengan baik dan memberikan kebaikan pula bagi orang lain. Bagaimana bisa mencintai hidup dan orang lain dengan sedemikian tulus. Bagaimana bisa menjalani hidup dengan sangat ringan tanpa dibebani dengan pikiran negatif terhadap orang lain.

Dan..., kini aku berusaha untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Sekali dua kali tersandung, tidak apalah. Bisa dijadikan pembelajaran untuk lebih hati-hati di kemudian hari. Sekali dua kali salah langkah juga tak masalah. Agar aku semakin mengetahui rambu-rambu yang ada dalam kehidupan ini. Berat ? Memang.... Tapi gak ada yang gak bisa dipelajari bukan ? Dengan membantu dan dibantu orang lain, aku yakin bahwa perjalananku ke depan akan semakin ringan. Semoga......

Senin, 19 Januari 2009

Kehamilan

Siapapun yang udah nikah pasti pengen segera punya momongan. Rasanya belum pas kalau belum jadi "orang tua" dalam arti yang sebenarnya. Jadi, kehamilan bagi pengantin baru selalu ditunggu-tunggu. Tidak saja bagi kedua pengantin baru, tapi juga bagi keluarganya. Jadi, bukan hal baru bila si pengantin baru sering dapat pertanyaan : "udah isi belum?" :f
Aku dulu juga mengalami hal seperti itu. Kebetulan, orang tuaku dan mertuaku sama-sama belum punya cucu. Jadi, begitu aku menikah mereka berharap untuk segera dapat menimang cucu. Malah eyang dari suamiku berharap, agar beliau segera dapat menimang buyut pertamanya dari hasil perkawinan kami. Berat nian kan bebanku .... *minta dikasihani*

Kebetulan aku juga gak langsung hamil. Setelah beberapa bulan bosen dengar pertanyaan "udah isi belum?" dari banyak orang, akhirnya aku hamil juga. Wah lega banget rasanya .... Aku "berhasil" hamil juga ....

Selama hamil, aku yang dulunya gak doyan makan jadi pengen makan semua jenis makanan. Bahkan bakso yang dulu aku gak doyan, jadi doyan gara-gara hamil. Poko'nya masalah makan aku gak ada masalah sama sekali. Aku juga gak ngalami yang namanya "morning sick". Cuman.... aku beberapa kali "pingsan" di kantor karena ternyata HB-ku rendah hehehe *sembunyi karena malu*

Ternyata setelah anakku lahir, dia doyan sekali makan. Mungkin benar apa kata orang-orang tua, waktu lihat aku doyan makan, banyak yang bilang pasti anakku besok gak sulit makan. Eh... ternyata betul tuh. Makanya anakku sekarang endut karena hobby banget makan.

Memang orang hamil itu lain-lain "bawaannya". Aku dulu doyan banget makan, tapi teman sekantorku yang saat ini istrinya sedang hamil jadi pusing gara-gara istrinya gak bisa nelan apa-apa. Semua yang masuk ke perutnya pasti keluar lagi. Makan buahpun pasti langsung dimuntahkan lagi. Susu juga gak doyan, sehingga dia sampai kekurangan cairan dan harus nginep di rumah sakit.

Padahal dulu dia pengen banget segera hamil waktu habis nikah. Mungkin juga "desakan" dari orang tua dan mertua yang membuatnya ingin cepat-cepat hamil. Giliran dia bisa hamil..., ternyata dia lemas dan tak berdaya. Tidak doyan makan pula. Cape' deh...

Kalau diingat "repot"nya hamil memang repot..., tapi sungguh gak sebanding dengan rasa bahagia yang luar biasa karena dapat menimang buah hati. Rasanya gak dapat dibandingkan dengan apapun.

Memiliki buah hati memang dambaan setiap pasangan suami istri. Makanya, sedih hati ini setiap mendengar berita tentang bayi yang diterlantarkan orang tuanya, atau malah dibuang. Padahal..., masih banyak orang tua yang menginginkan memiliki buah hati. Sungguh kontras dunia ini....

Kehamilan

Siapapun yang udah nikah pasti pengen segera punya momongan. Rasanya belum pas kalau belum jadi "orang tua" dalam arti yang sebenarnya. Jadi, kehamilan bagi pengantin baru selalu ditunggu-tunggu. Tidak saja bagi kedua pengantin baru, tapi juga bagi keluarganya. Jadi, bukan hal baru bila si pengantin baru sering dapat pertanyaan : "udah isi belum?" :f
Aku dulu juga mengalami hal seperti itu. Kebetulan, orang tuaku dan mertuaku sama-sama belum punya cucu. Jadi, begitu aku menikah mereka berharap untuk segera dapat menimang cucu. Malah eyang dari suamiku berharap, agar beliau segera dapat menimang buyut pertamanya dari hasil perkawinan kami. Berat nian kan bebanku .... *minta dikasihani*

Kebetulan aku juga gak langsung hamil. Setelah beberapa bulan bosen dengar pertanyaan "udah isi belum?" dari banyak orang, akhirnya aku hamil juga. Wah lega banget rasanya .... Aku "berhasil" hamil juga ....

Selama hamil, aku yang dulunya gak doyan makan jadi pengen makan semua jenis makanan. Bahkan bakso yang dulu aku gak doyan, jadi doyan gara-gara hamil. Poko'nya masalah makan aku gak ada masalah sama sekali. Aku juga gak ngalami yang namanya "morning sick". Cuman.... aku beberapa kali "pingsan" di kantor karena ternyata HB-ku rendah hehehe *sembunyi karena malu*

Ternyata setelah anakku lahir, dia doyan sekali makan. Mungkin benar apa kata orang-orang tua, waktu lihat aku doyan makan, banyak yang bilang pasti anakku besok gak sulit makan. Eh... ternyata betul tuh. Makanya anakku sekarang endut karena hobby banget makan.

Memang orang hamil itu lain-lain "bawaannya". Aku dulu doyan banget makan, tapi teman sekantorku yang saat ini istrinya sedang hamil jadi pusing gara-gara istrinya gak bisa nelan apa-apa. Semua yang masuk ke perutnya pasti keluar lagi. Makan buahpun pasti langsung dimuntahkan lagi. Susu juga gak doyan, sehingga dia sampai kekurangan cairan dan harus nginep di rumah sakit.

Padahal dulu dia pengen banget segera hamil waktu habis nikah. Mungkin juga "desakan" dari orang tua dan mertua yang membuatnya ingin cepat-cepat hamil. Giliran dia bisa hamil..., ternyata dia lemas dan tak berdaya. Tidak doyan makan pula. Cape' deh...

Kalau diingat "repot"nya hamil memang repot..., tapi sungguh gak sebanding dengan rasa bahagia yang luar biasa karena dapat menimang buah hati. Rasanya gak dapat dibandingkan dengan apapun.

Memiliki buah hati memang dambaan setiap pasangan suami istri. Makanya, sedih hati ini setiap mendengar berita tentang bayi yang diterlantarkan orang tuanya, atau malah dibuang. Padahal..., masih banyak orang tua yang menginginkan memiliki buah hati. Sungguh kontras dunia ini....

Sabtu, 17 Januari 2009

Raport Shasa

Akhirnya datang juga...., hari yang ditunggu-tunggu oleh Shasa. Pembagian Raport !! Tidak seperti biasanya, kali ini raport harus diambil langsung oleh orang tua/wali murid masing-masing. Akhirnya jam 8 pagi kurang dikit aku berangkat ke sekolah Shasa untuk ambil raport.

Awalnya kukira semua orang tua/wali murid dikumpulkan untuk mendengarkan penjelasan atau apalah dari Guru Wali Kelas. Ternyata, setiap orang tua/wali murid yang datang langsung dilayani pembagian raportnya. Sehingga aku gak butuh waktu banyak untuk ambil raport Shasa. Kebetulan waktu aku datang, baru ada 2 orang tua/wali murid di dalam kelas.

Kata Bu Mur (Guru Wali Kelas Shasa), prestasi Shasa sudah bagus, tapi akan lebih baik lagi kalau bisa ditingkatkan. Selanjutnya Bu Mur memberitahukan bahwa pada semester ini Shasa berhasil menduduki ranking 2. Alhamdulillah.... Aku jelas bahagia dan bangga sekali.

Mengingat bahwa pada saat Shasa sibuk mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir Semester kemarin aku sama sekali gak bisa bantu Shasa belajar, prestasi Shasa ini sudah sangat luar biasa bagiku. Apalagi selama ini aku gak pernah mentargetkan Shasa untuk menjadi juara 1. Aku hanya bilang, bisa masuk 5 besar saja sudah hebat. Ternyata..., Shasa malah bisa menduduki rangking 2. Untungnya, Shasa sudah mulai rasa tanggung jawab dalam hal belajar. Sehingga aku gak harus selalu menyuruhnya belajar. *tersenyum bahagia*

Prestasi Shasa di kelas naik turun. Begitu juga dengan teman-temannya. Hal itu bagus menurutku, karena membuktikan bahwa persaingan di kelas Shasa cukup ketat. Shasa sendiri jadi selalu termotivasi untuk meraih yang lebih baik. Waktu kelas 1, Shasa ranking 5. Naik ke kelas 2, pada semester ganjil Shasa ranking 3 dan pada semester genap dapat ranking 4. Sebenarnya pada semester ini Shasa mengira akan dapat ranking 4 lagi, tapi ternyata malah dapat ranking 2.

Kalaupun pada semester depan, misalnya, ranking Shasa turun aku gak akan mempermasalahkannya. Yang penting bagiku adalah Shasa sudah berusaha melakukan yang terbaik. Soal hasilnya, aku serahkan saja padaNya.