Jumat, 06 Maret 2009

Cerita tentang Penjual Roti Keliling

Ini sebenarnya cerita yang sudah lama terjadi, kurang lebih sudah 2 tahun yang lalu. Bukan cerita yang istimewa sebenarnya, tapi aku hanya ingin berbagi saja. Tidak lebih dan tidak juga kurang. Tanpa ada maksud lain-lain. Apalagi menggalang massa (halah halah... kok jadi ngelantur ya ?!)

Cerita ini terjadi pada sore hari menjelang maghrib. Waktu Shasa mendengar penjual roti keliling lewat di depan rumah, dia memintaku untuk membelikan roti untuknya. Aku yang menyetujui permintaanya segera memanggil tukang roti itu. Singkat cerita, setelah memilih beberapa roti, transaksi jual beli terjadilah. Dan aku segera kembali ke dalam rumah.

Kupikir kejadiannya hanya akan berhenti sampai di situ saja. Tapi ternyata tidak.


Aku membeli roti 3 bungkus. Saat kami sekeluarga makan roti itu, iseng-iseng aku mengambil plastik-plastik pembungkusnya. Setelah lama mengamati plastik-plastik itu aku terkejut sekali. Karena setelah aku hitung-hitung, harga ketiga roti itu adalah Rp. 11.600 rupiah. Padahal tadi waktu penjualnya aku tanya berapa total harga yang harus aku bayar, dia bilang Rp. 8.600.

Kebiasaan burukku (yang sangat tidak patut dicontoh) dalam berbelanja adalah aku malas untuk menghitung total harga belanjaanku. *menutup muka yang memerah* Aku biasanya percaya saja sama penjualnya. Aku malas menghitung ulang. Tadi waktu aku beli roti, akupun tidak menghitung sendiri berapa banyak yang harus aku bayar. Aku hanya percaya saja sama penjualnya. Tapi ternyata...., aku kurang membayar 3 ribu rupiah !!

Aku jadi gelisah sekali. Suamiku "menasehati" aku (entah untuk keberapa kalinya hiks hiks) agar lain kali aku jangan malas menghitung belanjaan sendiri. Mungkin uang 3 ribu rupiah tak berarti banyak untukku. Tapi.., mungkin sekali berarti banyak untuk penjual roti itu. Duh..., gimana dunk. Di tengah rasa penyesalanku, aku berusaha mengingat-ingat muka penjual roti itu. Samar-samar aku mengingat wajahnya, tapi aku tak yakin.

Beberapa hari kemudian, saat aku dan suami boncengan motor pulang dari kantor, aku melihat penjual roti itu. Spontan aku meminta suamiku untuk mengejarnya. Akhirnya kami berhasil memintanya menepi. Aku menghampirinya dan mencoba menjelaskan kejadian beberapa hari sebelumnya padanya. Penjual itu seperti kebingungan mendengar ceritaku. Aku hanya bilang bahwa dalam ingatanku aku yakin kalau penjual itu adalah dia. Maka, aku kemudian menyodorkan uang 3 ribu rupiah sebagai kekurangan pembayaranku padanya. Dengan muka masih kebingungan, dia menerima uang itu.

Aku tak mau ambil pusing dengan kebingungannya. Bagiku, aku sudah lega telah menyerahkan kekurangan harga roti yang harusnya aku bayar. Kalaupun penjualnya bukan dia, aku tak peduli. Yang penting hatiku lega.

Sejak kejadian itu, kalo dia lewat depan rumah kami dan kami membeli rotinya, aku selalu memintanya menghitung pake kalkulator !! (hehehe, tetep aja aku malas ngitung sendiri) Istimewanya lagi, penjual roti itu kalau ketemu dengan kami dimana saja, pasti dia tak akan segan-segan membunyikan "nyanyian" rotinya . Ditambah bonus berupa senyuman lebarnya !! Selalu saja setiap itu terjadi, suamiku menggodaku dan berkata : "Tuh Sha..., lihat ! Ibu ketemu dengan penggemar beratnya hahahaha." Sementara aku cuma bisa tersenyum kecut (asem kali kecut...).

Cerita tentang Penjual Roti Keliling

Ini sebenarnya cerita yang sudah lama terjadi, kurang lebih sudah 2 tahun yang lalu. Bukan cerita yang istimewa sebenarnya, tapi aku hanya ingin berbagi saja. Tidak lebih dan tidak juga kurang. Tanpa ada maksud lain-lain. Apalagi menggalang massa (halah halah... kok jadi ngelantur ya ?!)

Cerita ini terjadi pada sore hari menjelang maghrib. Waktu Shasa mendengar penjual roti keliling lewat di depan rumah, dia memintaku untuk membelikan roti untuknya. Aku yang menyetujui permintaanya segera memanggil tukang roti itu. Singkat cerita, setelah memilih beberapa roti, transaksi jual beli terjadilah. Dan aku segera kembali ke dalam rumah.

Kupikir kejadiannya hanya akan berhenti sampai di situ saja. Tapi ternyata tidak.


Aku membeli roti 3 bungkus. Saat kami sekeluarga makan roti itu, iseng-iseng aku mengambil plastik-plastik pembungkusnya. Setelah lama mengamati plastik-plastik itu aku terkejut sekali. Karena setelah aku hitung-hitung, harga ketiga roti itu adalah Rp. 11.600 rupiah. Padahal tadi waktu penjualnya aku tanya berapa total harga yang harus aku bayar, dia bilang Rp. 8.600.

Kebiasaan burukku (yang sangat tidak patut dicontoh) dalam berbelanja adalah aku malas untuk menghitung total harga belanjaanku. *menutup muka yang memerah* Aku biasanya percaya saja sama penjualnya. Aku malas menghitung ulang. Tadi waktu aku beli roti, akupun tidak menghitung sendiri berapa banyak yang harus aku bayar. Aku hanya percaya saja sama penjualnya. Tapi ternyata...., aku kurang membayar 3 ribu rupiah !!

Aku jadi gelisah sekali. Suamiku "menasehati" aku (entah untuk keberapa kalinya hiks hiks) agar lain kali aku jangan malas menghitung belanjaan sendiri. Mungkin uang 3 ribu rupiah tak berarti banyak untukku. Tapi.., mungkin sekali berarti banyak untuk penjual roti itu. Duh..., gimana dunk. Di tengah rasa penyesalanku, aku berusaha mengingat-ingat muka penjual roti itu. Samar-samar aku mengingat wajahnya, tapi aku tak yakin.

Beberapa hari kemudian, saat aku dan suami boncengan motor pulang dari kantor, aku melihat penjual roti itu. Spontan aku meminta suamiku untuk mengejarnya. Akhirnya kami berhasil memintanya menepi. Aku menghampirinya dan mencoba menjelaskan kejadian beberapa hari sebelumnya padanya. Penjual itu seperti kebingungan mendengar ceritaku. Aku hanya bilang bahwa dalam ingatanku aku yakin kalau penjual itu adalah dia. Maka, aku kemudian menyodorkan uang 3 ribu rupiah sebagai kekurangan pembayaranku padanya. Dengan muka masih kebingungan, dia menerima uang itu.

Aku tak mau ambil pusing dengan kebingungannya. Bagiku, aku sudah lega telah menyerahkan kekurangan harga roti yang harusnya aku bayar. Kalaupun penjualnya bukan dia, aku tak peduli. Yang penting hatiku lega.

Sejak kejadian itu, kalo dia lewat depan rumah kami dan kami membeli rotinya, aku selalu memintanya menghitung pake kalkulator !! (hehehe, tetep aja aku malas ngitung sendiri) Istimewanya lagi, penjual roti itu kalau ketemu dengan kami dimana saja, pasti dia tak akan segan-segan membunyikan "nyanyian" rotinya . Ditambah bonus berupa senyuman lebarnya !! Selalu saja setiap itu terjadi, suamiku menggodaku dan berkata : "Tuh Sha..., lihat ! Ibu ketemu dengan penggemar beratnya hahahaha." Sementara aku cuma bisa tersenyum kecut (asem kali kecut...).

Rabu, 04 Maret 2009

Blog dan Anak-anak

Ini cerita tentang Shasa dan blognya. Akhir-akhir ini Shasa memang sedang patah arang dalam ngeblog. Dia merasa tak bersemangat lagi untuk ngeblog karena pengunjung blognya hanya aku dan suamiku aja. Kalaupun ada orang lain, paling juga cuma 1 atau 2 orang, itu aja juga jarang sekali. Sementara kalau Shasa melihat blogku, dia merasa iri karena setidaknya ada 4-6 orang yang berkomentar di postinganku.

Aku sudah coba jelaskan kepada Shasa bahwa anak-anak yang ngeblog tak sebanyak orang dewasa. Selain itu, anak-anak juga ngeblog hanya untuk bersenang-senang dan belajar mengarang saja. Tak ada aktifitas lain seperti blogwalking dan sebagainya. So..., blog anak-anak jadi kurang dikenal. Kalaupun ada orang dewasa yang tahu, biasanya mereka juga males mampir karena tahu yang punya blog masih anak-anak.


Sebenarnya, menurutku siy..., kemampuan Shasa dalam hal menulis sudah mulai meningkat. Itu semua tentu saja hasil dari ngeblog. Walaupun Shasa sangat tergantung padaku dalam segi teknis ngeblog, tapi semua tulisan murni karya Shasa. Memang belum bagus, tapi itu sudah istimewa bagiku. Makanya aku sangat mendukung waktu Shasa minta kubuatkan blog juga untuk belajar mengarang.

Menurutku saat itu, kalau Shasa punya media yang menarik untuk belajar mengarang, pasti dia akan lebih semangat. Tak pernah kusangka bahwa keberadaan blogku yang ternyata (dalam kaca mata Shasa) lebih dikenal daripada blog Shasa justru menyebabkan Shasa patah arang. Malah, dia sempat minta blog-nya dihapus saja. Walah...!!

Aku sudah mencoba segala macam bujuk rayu dan berbagai macam upaya agar Shasa semangat untuk ngeblog lagi. Apalagi setelah guru di sekolahnya tahu Shasa punya blog, aku mencoba untuk membakar semangatnya lagi untuk terus update blognya. Tapi ..., tetap aja belum berhasil sampai sekarang. *curhat mode on*

Shasa sendiri sebenarnya masih ingin belajar nulis. Shasa sendiri masih tertarik dengan blog. Tapi..., dia takut kecewa karena apa yang dia tulis tak ada yang mau baca. Walaupun selama ini aku dan suami rajin memberikan komentar tentang kemajuannya dalam menulis, tetap saja tidak banyak berarti bagi Shasa. " Dia ingin orang lain yang memberikan komentar untuknya.

Ya.. ya, namanya juga anak-anak. Aku tak bisa memaksanya. Aku hanya akan terus mencoba membangkitkan semangatnya untuk belajar menulis lagi. Mendorongnya untuk melakukan hal positif tidak salah bukan ?? Semoga saja Shasa akan kembali bersemangat untuk ngeblog. Amien.... *sambil berharap banyak pihak yang mau ikut bantu doa* Tapi seandainya Shasa sudah benar-benar mau meninggalkan blognya untuk selamanya, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

Blog dan Anak-anak

Ini cerita tentang Shasa dan blognya. Akhir-akhir ini Shasa memang sedang patah arang dalam ngeblog. Dia merasa tak bersemangat lagi untuk ngeblog karena pengunjung blognya hanya aku dan suamiku aja. Kalaupun ada orang lain, paling juga cuma 1 atau 2 orang, itu aja juga jarang sekali. Sementara kalau Shasa melihat blogku, dia merasa iri karena setidaknya ada 4-6 orang yang berkomentar di postinganku.

Aku sudah coba jelaskan kepada Shasa bahwa anak-anak yang ngeblog tak sebanyak orang dewasa. Selain itu, anak-anak juga ngeblog hanya untuk bersenang-senang dan belajar mengarang saja. Tak ada aktifitas lain seperti blogwalking dan sebagainya. So..., blog anak-anak jadi kurang dikenal. Kalaupun ada orang dewasa yang tahu, biasanya mereka juga males mampir karena tahu yang punya blog masih anak-anak.


Sebenarnya, menurutku siy..., kemampuan Shasa dalam hal menulis sudah mulai meningkat. Itu semua tentu saja hasil dari ngeblog. Walaupun Shasa sangat tergantung padaku dalam segi teknis ngeblog, tapi semua tulisan murni karya Shasa. Memang belum bagus, tapi itu sudah istimewa bagiku. Makanya aku sangat mendukung waktu Shasa minta kubuatkan blog juga untuk belajar mengarang.

Menurutku saat itu, kalau Shasa punya media yang menarik untuk belajar mengarang, pasti dia akan lebih semangat. Tak pernah kusangka bahwa keberadaan blogku yang ternyata (dalam kaca mata Shasa) lebih dikenal daripada blog Shasa justru menyebabkan Shasa patah arang. Malah, dia sempat minta blog-nya dihapus saja. Walah...!!

Aku sudah mencoba segala macam bujuk rayu dan berbagai macam upaya agar Shasa semangat untuk ngeblog lagi. Apalagi setelah guru di sekolahnya tahu Shasa punya blog, aku mencoba untuk membakar semangatnya lagi untuk terus update blognya. Tapi ..., tetap aja belum berhasil sampai sekarang. *curhat mode on*

Shasa sendiri sebenarnya masih ingin belajar nulis. Shasa sendiri masih tertarik dengan blog. Tapi..., dia takut kecewa karena apa yang dia tulis tak ada yang mau baca. Walaupun selama ini aku dan suami rajin memberikan komentar tentang kemajuannya dalam menulis, tetap saja tidak banyak berarti bagi Shasa. " Dia ingin orang lain yang memberikan komentar untuknya.

Ya.. ya, namanya juga anak-anak. Aku tak bisa memaksanya. Aku hanya akan terus mencoba membangkitkan semangatnya untuk belajar menulis lagi. Mendorongnya untuk melakukan hal positif tidak salah bukan ?? Semoga saja Shasa akan kembali bersemangat untuk ngeblog. Amien.... *sambil berharap banyak pihak yang mau ikut bantu doa* Tapi seandainya Shasa sudah benar-benar mau meninggalkan blognya untuk selamanya, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

Selasa, 03 Maret 2009

Pameran Buku Gramedia

Akhirnya setelah sekian lama berharap, sesuatu yang lama kuimpikan terwujud juga. Di Madiun ada pameran buku !! Olala, seneng sekali. Pameran buku itu diselenggarakan mulai tanggal 28 Pebruari s/d 9 Maret 2009. Penyelenggaranya adalah Gramedia dan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun.

Tentu saja aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka itu. So, walaupun aku sibuk lembur di kantor, aku meluangkan sedikit waktu untuk datang ke Pameran Buku Gramedia itu. Kebetulan pameran itu diselenggarakan di pusat kota, yaitu di Hall Stadion Wilis Kota Madiun. So, dengan semangat membara (halah...) aku, suami dan Shasa berangkat ke TKP.



Sampai di tempat pameran, sempat ada rasa kecewa. Ternyata..., pameran bukunya gak seheboh yang aku bayangkan sebelumnya. Karena Hall Stadion Wilis memang tidak luas, maka area yang digunakan untuk pameran buku sangat terbatas.

Padahal, aku inginnya Pameran Buku bisa diselenggarakan di tempat yang luas, sehingga banyak penerbit yang berpartisipasi. Terus, ada lebih banyak buku yang dipamerkan. Bahkan menurutku, Pameran Buku yang diselenggarakan di Ponorogo tahun lalu malah terkesan lebih "besar" dan lebih lengkap.

Setelah aku pikir-pikir, rasanya di Kota Madiun belum memiliki gedung yang layak untuk bisa dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan Pameran Buku. Gedung-gedung yang ada rata-rata kecil. Sementara Wisma Haji yang menurutku lebih representatif sebagai tempat pameran buku, letaknya agak jauh dari pusat kota. Jadi, mau tak mau aku harus puas dengan Pameran Buku yang ada saat ini. Lebih baik ada daripada tidak sama sekali, bukan ?

Maka daripada berlama-lama dengan rasa kecewa, maka aku, suami dan Shasa segera saja menyerbu buku-buku yang digelar disana. Bingung juga awalnya buku mana yang harus kami pilih. Terus terang aja banyak buku yang menarik sebetulnya..., tapi gak bisa dibeli semuanya. So..., beberapa kali kami harus mengembalikan buku yang sudah kami ambil terlebih dulu karena kami menemukan buku lain yang menurut kami lebih menarik.

Setelah sekian lama terjebak di antara tumpukan buku-buku, kami akhirnya beranjak ke kasir dengan membawa segebok buku. Waw... banyak juga ternyata buku yang kami beli. Kami seperti orang kalap saja yang kegirangan karena dapat buku diskonan hehehehe.

Ternyata, seperti biasa, buku yang dibeli Shasa lebih banyak jumlahnya. Shasa berhasil mengambil 12 buah buku, sementara aku dan suami cuma kebagian 6 buku. Shasa tampak puas sekali. Tak apalah yang penting Shasa seneng. Tapi sudah terbayang di benakku, betapa akan susahnya aku minta pertolongan Shasa untuk membantuku di rumah. Karena..., pasti setelah ini muka Shasa akan tersembunyi di balik bukunya.

Setidaknya aku bersyukur karena Shasa-ku sangat gemar membaca. Tapi.., sedihnya kalau dia sudah asyik membaca, maka tak ada yang bisa mengganggunya saat dia tenggelam dalam bacaannya. Seringkali Shasa sampai lupa waktu saat sedang asyik membaca. Bahkan, terkadang untuk urusan yang paling dia suka (yaitu makan...!) bisa terkalahkan juga. Jadi..., aku harus bagaimana ?



Cerita terkait : Pameran Buku