Cerita ini terjadi pada sore hari menjelang maghrib. Waktu Shasa mendengar penjual roti keliling lewat di depan rumah, dia memintaku untuk membelikan roti untuknya. Aku yang menyetujui permintaanya segera memanggil tukang roti itu. Singkat cerita, setelah memilih beberapa roti, transaksi jual beli terjadilah. Dan aku segera kembali ke dalam rumah.
Kupikir kejadiannya hanya akan berhenti sampai di situ saja. Tapi ternyata tidak.
Aku membeli roti 3 bungkus. Saat kami sekeluarga makan roti itu, iseng-iseng aku mengambil plastik-plastik pembungkusnya. Setelah lama mengamati plastik-plastik itu aku terkejut sekali. Karena setelah aku hitung-hitung, harga ketiga roti itu adalah Rp. 11.600 rupiah. Padahal tadi waktu penjualnya aku tanya berapa total harga yang harus aku bayar, dia bilang Rp. 8.600.
Kebiasaan burukku (yang sangat tidak patut dicontoh) dalam berbelanja adalah aku malas untuk menghitung total harga belanjaanku. *menutup muka yang memerah*
Aku jadi gelisah sekali. Suamiku
Beberapa hari kemudian, saat aku dan suami boncengan motor
Aku tak mau ambil pusing dengan kebingungannya. Bagiku, aku sudah lega telah menyerahkan kekurangan harga roti yang harusnya aku bayar. Kalaupun penjualnya bukan dia, aku tak peduli. Yang penting hatiku lega.
Sejak kejadian itu, kalo dia lewat depan rumah kami dan kami membeli rotinya, aku selalu memintanya menghitung pake kalkulator !! (hehehe, tetep aja aku malas ngitung sendiri) Istimewanya lagi, penjual roti itu kalau ketemu dengan kami dimana saja, pasti dia tak akan segan-segan membunyikan "nyanyian" rotinya
