Selasa, 10 Maret 2009

Grebeg Maulud Nabi

Untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, Kota Madiun menyelenggarakan acara Grebeg Maulud. Acara itu dilaksanakan pada Senin tanggal 9 Maret 2009 mulai jam 09.00 WIB. Grebeg Maulud di Kota Madiun sebenarnya baru dilaksanakan kurang lebih sejak 3 tahun yang lalu. Dari sejarahnya, kata “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh.

Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW tahun ini benar-benar diselenggarakan dalam nuansa yang berbeda. Pada tahun-tahun sebelumnya, Grebeg Maulud dipusatkan di Masjid Kuno Taman (dimulai dari Kelurahan Kuncen Madiun menuju ke Masjid Kuno Taman). Sementara pada tahun ini acara berpusat di Alun-alun Kota Madiun (dimulai dari Masjid Kuno Taman Madiun menuju Alun-alun Kota Madiun).

Sebelumnya aku mau cerita sedikit tentang Kota Madiun. Madiun adalah suatu wilayah yang dirintis oleh Ki Panembahan Ronggo Jumeno (Ki Ageng Ronggo). Pada awalnya, Madiun berada di bawah kekuasaan Mataram. Salah satu tokoh Kerajaam Mataram yang membangun basis kekuatan di Madiun adalah RA. Retno Dumilah (keturunan dari Pangeran Timoer, Bupati pertama di Madiun).

Beberapa peninggalan kerajaan Madiun tersebut banyak terdapat di Kelurahan Kuncen (beberapa orang meyakini bahwa Kuncen adalah cikal bakal dari Kota Madiun). Pada Kelurahan Kuncen terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Patih Wonosari selain makam para Bupati Madiun. Selain itu di Kelurahan Kuncen juga ada Masjid Tertua di Madiun yaitu Masjid Nur Hidayatullah serta sendang (tempat pemandian) keramat.

Itulah sebabnya mengapa kegiatan Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW selama ini dimulai dari Kelurahan Kuncen, karena disanalah tempat "pendiri" Madiun. Sementara pemakaian Masjid Kuno di Kelurahan Taman juga dikarenakan Masjid itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Di dekat Masjid Kuno Taman juga terdapat makam dari keturunan penguasa di Madiun pada jaman dulu. Saat ini Masjid Kuno taman dan Makam Taman telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya di Kota Madiun.

Kembali ke acara Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dalam Grebeg itu dikirab 2 buah gunungan : Gunungan Jaler dan Gunungan Estri. Gunungan Jaler (Pria) berisikan bahan mentah dari hasil bumi seperti jabe merah, kacang panjang, terong, buah-buahan dll. Sementara Gunungan Estri (Wanita) berisikan jajanan pasar. Kedua gunungan itu dinaikkan di atas kereta kuda (berbeda dengan Grebeg di Yogyakarta, dimana gunungan itu dibawa oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta).




Gunungan Jaler



Gunungan Estri

Melengkapi acara kirab tersebut diselenggarakan juga pawai budaya. Pawai tersebut diikuti oleh para pelajar dan juga para pejabat Pemerintah Kota Madiun. Para pelajar tersebut mengikuti pawai dengan berjalan kaki. Sementara "barisan berkuda" diikuti oleh perwakilan dari Dinas P dan K (selaku leading sector acara ini), 3 camat dan 27 Lurah yang ada di Madiun. Yang menarik, Sekretaris Daerah Kota Madiun mengikuti pawai itu dengan menaiki Kereta Kuda. Konon kabarnya, kereta kuda itu khusus didatangkan dari Surakarta.


Kereta kuda yang konon didatangkan dari Surakarta


Sekretaris Daerah Kota Madiun menaiki kereta kuda


Salah satu camat ikut naik kuda


Kalau ini rombongan Lurah-lurah


Salah satu perwakilan dari Dinas P & K


Kereta kuda yand dinaiki para "sesepuh"


Peserta pawai budaya dalam busana "prajurit"


Peserta pawai dengan busana ala "Retno Dumilah"


Peserta pawai dalam busana daerah


Peserta pawai yang membawa alat musik rebana







Beberapa spanduk yang dibawa peserta pawai

Salah satu peserta yang naik becak hias

Acara kirab gunungan dan pawai budaya yang bertujuan untuk melestarikan budaya bangsa tersebut cukup mendapatkan sambutan dari Masyarakat Kota Madiun. Terlihat antusiasme warga cukup besar saat melihat Gunungan Jaler dan Gunungan Estri dikirab. Antusiasme warga semakin bertambah ketika mengetahui hadirnya kereta kuda yang dinaiki oleh Sekda Kota Madiun. Sesuatu yang jarang dilihat di Kota Madiun. (serasa melihat raja-raja jaman dulu deh)

Acara Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW itu memang merupakan "penutup" dari serangkaian kegiatan dalam merayakan Maulud Nabi yang diselenggarakan sejak tanggal 7 sampai dengan 9 Maret 2009. Harapan dari kegiatan ini adalah agar ikon Kota Madiun sebagai wisata budaya dan religi semakin meningkat. Selain itu, tentu saja diharapkan agar perayaan tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

Grebeg Maulud Nabi

Untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, Kota Madiun menyelenggarakan acara Grebeg Maulud. Acara itu dilaksanakan pada Senin tanggal 9 Maret 2009 mulai jam 09.00 WIB. Grebeg Maulud di Kota Madiun sebenarnya baru dilaksanakan kurang lebih sejak 3 tahun yang lalu. Dari sejarahnya, kata “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh.

Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW tahun ini benar-benar diselenggarakan dalam nuansa yang berbeda. Pada tahun-tahun sebelumnya, Grebeg Maulud dipusatkan di Masjid Kuno Taman (dimulai dari Kelurahan Kuncen Madiun menuju ke Masjid Kuno Taman). Sementara pada tahun ini acara berpusat di Alun-alun Kota Madiun (dimulai dari Masjid Kuno Taman Madiun menuju Alun-alun Kota Madiun).

Sebelumnya aku mau cerita sedikit tentang Kota Madiun. Madiun adalah suatu wilayah yang dirintis oleh Ki Panembahan Ronggo Jumeno (Ki Ageng Ronggo). Pada awalnya, Madiun berada di bawah kekuasaan Mataram. Salah satu tokoh Kerajaam Mataram yang membangun basis kekuatan di Madiun adalah RA. Retno Dumilah (keturunan dari Pangeran Timoer, Bupati pertama di Madiun).

Beberapa peninggalan kerajaan Madiun tersebut banyak terdapat di Kelurahan Kuncen (beberapa orang meyakini bahwa Kuncen adalah cikal bakal dari Kota Madiun). Pada Kelurahan Kuncen terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Patih Wonosari selain makam para Bupati Madiun. Selain itu di Kelurahan Kuncen juga ada Masjid Tertua di Madiun yaitu Masjid Nur Hidayatullah serta sendang (tempat pemandian) keramat.

Itulah sebabnya mengapa kegiatan Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW selama ini dimulai dari Kelurahan Kuncen, karena disanalah tempat "pendiri" Madiun. Sementara pemakaian Masjid Kuno di Kelurahan Taman juga dikarenakan Masjid itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Di dekat Masjid Kuno Taman juga terdapat makam dari keturunan penguasa di Madiun pada jaman dulu. Saat ini Masjid Kuno taman dan Makam Taman telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya di Kota Madiun.

Kembali ke acara Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dalam Grebeg itu dikirab 2 buah gunungan : Gunungan Jaler dan Gunungan Estri. Gunungan Jaler (Pria) berisikan bahan mentah dari hasil bumi seperti jabe merah, kacang panjang, terong, buah-buahan dll. Sementara Gunungan Estri (Wanita) berisikan jajanan pasar. Kedua gunungan itu dinaikkan di atas kereta kuda (berbeda dengan Grebeg di Yogyakarta, dimana gunungan itu dibawa oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta).




Gunungan Jaler



Gunungan Estri

Melengkapi acara kirab tersebut diselenggarakan juga pawai budaya. Pawai tersebut diikuti oleh para pelajar dan juga para pejabat Pemerintah Kota Madiun. Para pelajar tersebut mengikuti pawai dengan berjalan kaki. Sementara "barisan berkuda" diikuti oleh perwakilan dari Dinas P dan K (selaku leading sector acara ini), 3 camat dan 27 Lurah yang ada di Madiun. Yang menarik, Sekretaris Daerah Kota Madiun mengikuti pawai itu dengan menaiki Kereta Kuda. Konon kabarnya, kereta kuda itu khusus didatangkan dari Surakarta.


Kereta kuda yang konon didatangkan dari Surakarta


Sekretaris Daerah Kota Madiun menaiki kereta kuda


Salah satu camat ikut naik kuda


Kalau ini rombongan Lurah-lurah


Salah satu perwakilan dari Dinas P & K


Kereta kuda yand dinaiki para "sesepuh"


Peserta pawai budaya dalam busana "prajurit"


Peserta pawai dengan busana ala "Retno Dumilah"


Peserta pawai dalam busana daerah


Peserta pawai yang membawa alat musik rebana







Beberapa spanduk yang dibawa peserta pawai

Salah satu peserta yang naik becak hias

Acara kirab gunungan dan pawai budaya yang bertujuan untuk melestarikan budaya bangsa tersebut cukup mendapatkan sambutan dari Masyarakat Kota Madiun. Terlihat antusiasme warga cukup besar saat melihat Gunungan Jaler dan Gunungan Estri dikirab. Antusiasme warga semakin bertambah ketika mengetahui hadirnya kereta kuda yang dinaiki oleh Sekda Kota Madiun. Sesuatu yang jarang dilihat di Kota Madiun. (serasa melihat raja-raja jaman dulu deh)

Acara Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW itu memang merupakan "penutup" dari serangkaian kegiatan dalam merayakan Maulud Nabi yang diselenggarakan sejak tanggal 7 sampai dengan 9 Maret 2009. Harapan dari kegiatan ini adalah agar ikon Kota Madiun sebagai wisata budaya dan religi semakin meningkat. Selain itu, tentu saja diharapkan agar perayaan tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

Minggu, 08 Maret 2009

Dukungan

Keberadaan keluarga, sahabat, teman atau bahkan orang lain memang sangat berarti bagi kita. Pada saat kita merasakan kebahagiaan, pada merekalah kita ingin berbagi bahagia. Dan.., pada saat kita sedang terpuruk dalam kesedihan, mereka jugalah tempat kita mengadu atau minta pertolongan (selain pada Allah tentu saja). Dukungan, kasih sayang, perhatian dan pengertian dari mereka akan menguatkan langkah kita. Dan itu sungguh tak ternilai harganya.

Aku pernah mengalami masa-masa sulit saat memasuki tempat kerja yang baru. Miskomunikasi dan salah paham sempat mewarnai langkahku. Sangat tak enak rasanya, berjalan di bawah tatapan curiga beberapa orang. Tapi dukungan keluarga dan sahabat memang melegakanku. Aku semakin lega setelah beberapa teman kantor, tanpa kuminta, datang dan mengulurkan tangan untuk membantuku. Dukungan yang mereka berikan padaku, dan keteguhan mereka dalam mempercayaiku sungguh meringkankan langkahku.


Kejadian tersebut memberikan banyak pelajaran padaku. Aku yang sebelumnya selalu merasa nyaman-nyaman saja setiap berhubungan dengan orang lain, memang sempat kaget dengan apa yang terjadi. Aku merasakan bahwa saat kita sedang berada di dalam jurang yang terdalam, uluran tangan dan dukungan dari orang-orang yang perduli pada kita ternyata bagaikan oase di padang gersang. Bagaikan cahaya lilin di gelap malam. Bagaikan oksigen saat kita nyaris tak mampu bernafas.


Uluran tangan yang sangat diharapkan. Gambar diambil dari sini.


Oase yang sangat menyegarkan di padang gersang. Gambar diambil dari sini.


Walau kecil cahaya lilin mampu menerangi gelapnya malam. Gambar diambil dari sini.

Karena kejadian itu aku jadi lebih menghargai pertemanan dan persahabatan. Aku juga ingin memberikan nilai lebih pada persahabatan dan pertemanan yang telah aku jalani selama ini. Aku juga ingin menjalin lebih banyak lagi pertemanan dan persabahatan. Sungguh, banyak sekali cara Allah untuk makin mendewasakan umat-Nya.

Dukungan yang tak terduga juga baru saja aku alami beberapa hari yang lalu. Kali ini dukungan bahkan datang dari orang-orang yang sama sekali belum pernah bertemu denganku. Mereka sama sekali belum mengenalku. Menakjubkan bukan ??

Ceritanya, beberapa hari yang lalu aku curhat di blogku ini tentang upayaku membangkitkan lagi semangat Shasa untuk ngeblog. Aku melihat keberadaan blog sangat positif bagi Shasa untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. Tapi melihat dia tak lagi bersemangat maka aku mencoba berbagai upaya untuk membuatnya bersemangat lagi. Tapi, berbagai upaya yang aku lakukan selama ini tak membuat Shasa semangat untuk ngeblog lagi.


Ternyata, sesuatu yang tak kuduga sebelumnya terjadi. Curhatku mendapat respon yang positif dari beberapa pihak. Melalui orang-orang yang aku kenal (hanya) lewat blog, dukungan itu mengalir. Terima kasih tak terhingga untuk mbak Amalia, mbah koeng, mas Erik dan mas Jonk. Mereka memberikan dukungan padaku untuk terus membangkitkan semangat Shasa lagi. Tak lupa mereka turut menyemangati Shasa.

Dengan cara masing-masing mereka membangkitkan semangat Shasa dan memberikan masukan yang sangat berharga bagi Shasa. Bahkan Mbak Tyas, mbak Kuyus, mbak Wendy, mbak G, bang Budi dan mas Nuga tak segan-segan mampir ke blog Shasa dan langsung memberikan dukungan pada Shasa. Hmmm, hangat terasa saat kurasakan dukungan tulus dari berbagai pihak.


Semangaatt....!! ( Gambar diambil dari sini )

Dan.., dampak dukungan itu memang terasa sekali. Mengetahui banyaknya dukungan padanya, maka Shasa mulai bersemangat untuk ngeblog lagi. Shasa semangat untuk belajar menulis lagi. Bahkan.., Shasa telah membuat cerita pendek. Belum bagus memang, tapi tak jadi masalah bagiku. Aku tak melihat hasilnya, tapi aku perduli dengan prosesnya. Mendorong Shasa melakukan sesuatu yang positif dan disukainya adalah tujuanku.

Mungkin bagi yang telah memberikan dukungan pada kami, tak menyadari bahwa hal kecil yang mereka berikan pada kami sungguh sangat berarti. Sekelumit komentar ternyata telah mampu membakar semangat Shasa. Percayalah..., dukungan itu, sekecil apapun sagat berarti bagi yang menerimanya.

Dengan bergandengan tangan akan membuat hidup kita dan orang lain menjadi lebih indah.
Gambar diambil dari sini.


Oleh karena itu, sebarkan dukungan kita (dalam bentuk apapun) pada orang lain. Apa yang mungkin dalam benak kita tak berarti, mungkin saja akan sangat berarti bagi orang lain. Mari rentangkan tangan, hand in hand, membuat hidup kita lebih bermakna bagi orang lain. Setuju ??

Dukungan

Keberadaan keluarga, sahabat, teman atau bahkan orang lain memang sangat berarti bagi kita. Pada saat kita merasakan kebahagiaan, pada merekalah kita ingin berbagi bahagia. Dan.., pada saat kita sedang terpuruk dalam kesedihan, mereka jugalah tempat kita mengadu atau minta pertolongan (selain pada Allah tentu saja). Dukungan, kasih sayang, perhatian dan pengertian dari mereka akan menguatkan langkah kita. Dan itu sungguh tak ternilai harganya.

Aku pernah mengalami masa-masa sulit saat memasuki tempat kerja yang baru. Miskomunikasi dan salah paham sempat mewarnai langkahku. Sangat tak enak rasanya, berjalan di bawah tatapan curiga beberapa orang. Tapi dukungan keluarga dan sahabat memang melegakanku. Aku semakin lega setelah beberapa teman kantor, tanpa kuminta, datang dan mengulurkan tangan untuk membantuku. Dukungan yang mereka berikan padaku, dan keteguhan mereka dalam mempercayaiku sungguh meringkankan langkahku.


Kejadian tersebut memberikan banyak pelajaran padaku. Aku yang sebelumnya selalu merasa nyaman-nyaman saja setiap berhubungan dengan orang lain, memang sempat kaget dengan apa yang terjadi. Aku merasakan bahwa saat kita sedang berada di dalam jurang yang terdalam, uluran tangan dan dukungan dari orang-orang yang perduli pada kita ternyata bagaikan oase di padang gersang. Bagaikan cahaya lilin di gelap malam. Bagaikan oksigen saat kita nyaris tak mampu bernafas.


Uluran tangan yang sangat diharapkan. Gambar diambil dari sini.


Oase yang sangat menyegarkan di padang gersang. Gambar diambil dari sini.


Walau kecil cahaya lilin mampu menerangi gelapnya malam. Gambar diambil dari sini.

Karena kejadian itu aku jadi lebih menghargai pertemanan dan persahabatan. Aku juga ingin memberikan nilai lebih pada persahabatan dan pertemanan yang telah aku jalani selama ini. Aku juga ingin menjalin lebih banyak lagi pertemanan dan persabahatan. Sungguh, banyak sekali cara Allah untuk makin mendewasakan umat-Nya.

Dukungan yang tak terduga juga baru saja aku alami beberapa hari yang lalu. Kali ini dukungan bahkan datang dari orang-orang yang sama sekali belum pernah bertemu denganku. Mereka sama sekali belum mengenalku. Menakjubkan bukan ??

Ceritanya, beberapa hari yang lalu aku curhat di blogku ini tentang upayaku membangkitkan lagi semangat Shasa untuk ngeblog. Aku melihat keberadaan blog sangat positif bagi Shasa untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. Tapi melihat dia tak lagi bersemangat maka aku mencoba berbagai upaya untuk membuatnya bersemangat lagi. Tapi, berbagai upaya yang aku lakukan selama ini tak membuat Shasa semangat untuk ngeblog lagi.


Ternyata, sesuatu yang tak kuduga sebelumnya terjadi. Curhatku mendapat respon yang positif dari beberapa pihak. Melalui orang-orang yang aku kenal (hanya) lewat blog, dukungan itu mengalir. Terima kasih tak terhingga untuk mbak Amalia, mbah koeng, mas Erik dan mas Jonk. Mereka memberikan dukungan padaku untuk terus membangkitkan semangat Shasa lagi. Tak lupa mereka turut menyemangati Shasa.

Dengan cara masing-masing mereka membangkitkan semangat Shasa dan memberikan masukan yang sangat berharga bagi Shasa. Bahkan Mbak Tyas, mbak Kuyus, mbak Wendy, mbak G, bang Budi dan mas Nuga tak segan-segan mampir ke blog Shasa dan langsung memberikan dukungan pada Shasa. Hmmm, hangat terasa saat kurasakan dukungan tulus dari berbagai pihak.


Semangaatt....!! ( Gambar diambil dari sini )

Dan.., dampak dukungan itu memang terasa sekali. Mengetahui banyaknya dukungan padanya, maka Shasa mulai bersemangat untuk ngeblog lagi. Shasa semangat untuk belajar menulis lagi. Bahkan.., Shasa telah membuat cerita pendek. Belum bagus memang, tapi tak jadi masalah bagiku. Aku tak melihat hasilnya, tapi aku perduli dengan prosesnya. Mendorong Shasa melakukan sesuatu yang positif dan disukainya adalah tujuanku.

Mungkin bagi yang telah memberikan dukungan pada kami, tak menyadari bahwa hal kecil yang mereka berikan pada kami sungguh sangat berarti. Sekelumit komentar ternyata telah mampu membakar semangat Shasa. Percayalah..., dukungan itu, sekecil apapun sagat berarti bagi yang menerimanya.

Dengan bergandengan tangan akan membuat hidup kita dan orang lain menjadi lebih indah.
Gambar diambil dari sini.


Oleh karena itu, sebarkan dukungan kita (dalam bentuk apapun) pada orang lain. Apa yang mungkin dalam benak kita tak berarti, mungkin saja akan sangat berarti bagi orang lain. Mari rentangkan tangan, hand in hand, membuat hidup kita lebih bermakna bagi orang lain. Setuju ??

Jumat, 06 Maret 2009

Cerita tentang Penjual Roti Keliling

Ini sebenarnya cerita yang sudah lama terjadi, kurang lebih sudah 2 tahun yang lalu. Bukan cerita yang istimewa sebenarnya, tapi aku hanya ingin berbagi saja. Tidak lebih dan tidak juga kurang. Tanpa ada maksud lain-lain. Apalagi menggalang massa (halah halah... kok jadi ngelantur ya ?!)

Cerita ini terjadi pada sore hari menjelang maghrib. Waktu Shasa mendengar penjual roti keliling lewat di depan rumah, dia memintaku untuk membelikan roti untuknya. Aku yang menyetujui permintaanya segera memanggil tukang roti itu. Singkat cerita, setelah memilih beberapa roti, transaksi jual beli terjadilah. Dan aku segera kembali ke dalam rumah.

Kupikir kejadiannya hanya akan berhenti sampai di situ saja. Tapi ternyata tidak.


Aku membeli roti 3 bungkus. Saat kami sekeluarga makan roti itu, iseng-iseng aku mengambil plastik-plastik pembungkusnya. Setelah lama mengamati plastik-plastik itu aku terkejut sekali. Karena setelah aku hitung-hitung, harga ketiga roti itu adalah Rp. 11.600 rupiah. Padahal tadi waktu penjualnya aku tanya berapa total harga yang harus aku bayar, dia bilang Rp. 8.600.

Kebiasaan burukku (yang sangat tidak patut dicontoh) dalam berbelanja adalah aku malas untuk menghitung total harga belanjaanku. *menutup muka yang memerah* Aku biasanya percaya saja sama penjualnya. Aku malas menghitung ulang. Tadi waktu aku beli roti, akupun tidak menghitung sendiri berapa banyak yang harus aku bayar. Aku hanya percaya saja sama penjualnya. Tapi ternyata...., aku kurang membayar 3 ribu rupiah !!

Aku jadi gelisah sekali. Suamiku "menasehati" aku (entah untuk keberapa kalinya hiks hiks) agar lain kali aku jangan malas menghitung belanjaan sendiri. Mungkin uang 3 ribu rupiah tak berarti banyak untukku. Tapi.., mungkin sekali berarti banyak untuk penjual roti itu. Duh..., gimana dunk. Di tengah rasa penyesalanku, aku berusaha mengingat-ingat muka penjual roti itu. Samar-samar aku mengingat wajahnya, tapi aku tak yakin.

Beberapa hari kemudian, saat aku dan suami boncengan motor pulang dari kantor, aku melihat penjual roti itu. Spontan aku meminta suamiku untuk mengejarnya. Akhirnya kami berhasil memintanya menepi. Aku menghampirinya dan mencoba menjelaskan kejadian beberapa hari sebelumnya padanya. Penjual itu seperti kebingungan mendengar ceritaku. Aku hanya bilang bahwa dalam ingatanku aku yakin kalau penjual itu adalah dia. Maka, aku kemudian menyodorkan uang 3 ribu rupiah sebagai kekurangan pembayaranku padanya. Dengan muka masih kebingungan, dia menerima uang itu.

Aku tak mau ambil pusing dengan kebingungannya. Bagiku, aku sudah lega telah menyerahkan kekurangan harga roti yang harusnya aku bayar. Kalaupun penjualnya bukan dia, aku tak peduli. Yang penting hatiku lega.

Sejak kejadian itu, kalo dia lewat depan rumah kami dan kami membeli rotinya, aku selalu memintanya menghitung pake kalkulator !! (hehehe, tetep aja aku malas ngitung sendiri) Istimewanya lagi, penjual roti itu kalau ketemu dengan kami dimana saja, pasti dia tak akan segan-segan membunyikan "nyanyian" rotinya . Ditambah bonus berupa senyuman lebarnya !! Selalu saja setiap itu terjadi, suamiku menggodaku dan berkata : "Tuh Sha..., lihat ! Ibu ketemu dengan penggemar beratnya hahahaha." Sementara aku cuma bisa tersenyum kecut (asem kali kecut...).