Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW tahun ini benar-benar diselenggarakan dalam nuansa yang berbeda. Pada tahun-tahun sebelumnya, Grebeg Maulud dipusatkan di Masjid Kuno Taman (dimulai dari Kelurahan Kuncen Madiun menuju ke Masjid Kuno Taman). Sementara pada tahun ini acara berpusat di Alun-alun Kota Madiun (dimulai dari Masjid Kuno Taman Madiun menuju Alun-alun Kota Madiun).
Sebelumnya aku mau cerita sedikit tentang Kota Madiun. Madiun adalah suatu wilayah yang dirintis oleh Ki Panembahan Ronggo Jumeno (Ki Ageng Ronggo). Pada awalnya, Madiun berada di bawah kekuasaan Mataram. Salah satu tokoh Kerajaam Mataram yang membangun basis kekuatan di Madiun adalah RA. Retno Dumilah (keturunan dari Pangeran Timoer, Bupati pertama di Madiun).
Beberapa peninggalan kerajaan Madiun tersebut banyak terdapat di Kelurahan Kuncen (beberapa orang meyakini bahwa Kuncen adalah cikal bakal dari Kota Madiun). Pada Kelurahan Kuncen terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Patih Wonosari selain makam para Bupati Madiun. Selain itu di Kelurahan Kuncen juga ada Masjid Tertua di Madiun yaitu Masjid Nur Hidayatullah serta sendang (tempat pemandian) keramat.
Itulah sebabnya mengapa kegiatan Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW selama ini dimulai dari Kelurahan Kuncen, karena disanalah tempat "pendiri" Madiun. Sementara pemakaian Masjid Kuno di Kelurahan Taman juga dikarenakan Masjid itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Di dekat Masjid Kuno Taman juga terdapat makam dari keturunan penguasa di Madiun pada jaman dulu. Saat ini Masjid Kuno taman dan Makam Taman telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya di Kota Madiun.
Kembali ke acara Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dalam Grebeg itu dikirab 2 buah gunungan : Gunungan Jaler dan Gunungan Estri. Gunungan Jaler (Pria) berisikan bahan mentah dari hasil bumi seperti jabe merah, kacang panjang, terong, buah-buahan dll. Sementara Gunungan Estri (Wanita) berisikan jajanan pasar. Kedua gunungan itu dinaikkan di atas kereta kuda (berbeda dengan Grebeg di Yogyakarta, dimana gunungan itu dibawa oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta).
Melengkapi acara kirab tersebut diselenggarakan juga pawai budaya. Pawai tersebut diikuti oleh para pelajar dan juga para pejabat Pemerintah Kota Madiun. Para pelajar tersebut mengikuti pawai dengan berjalan kaki. Sementara "barisan berkuda" diikuti oleh perwakilan dari Dinas P dan K (selaku leading sector acara ini), 3 camat dan 27 Lurah yang ada di Madiun. Yang menarik, Sekretaris Daerah Kota Madiun mengikuti pawai itu dengan menaiki Kereta Kuda. Konon kabarnya, kereta kuda itu khusus didatangkan dari Surakarta.
Kereta kuda yang konon didatangkan dari Surakarta
Sekretaris Daerah Kota Madiun menaiki kereta kuda
Salah satu camat ikut naik kuda
Kalau ini rombongan Lurah-lurah
Salah satu perwakilan dari Dinas P & K

Kereta kuda yand dinaiki para "sesepuh"

Peserta pawai budaya dalam busana "prajurit"

Peserta pawai dengan busana ala "Retno Dumilah"
Peserta pawai dalam busana daerah

Peserta pawai yang membawa alat musik rebana



Beberapa spanduk yang dibawa peserta pawai

Acara kirab gunungan dan pawai budaya yang bertujuan untuk melestarikan budaya bangsa tersebut cukup mendapatkan sambutan dari Masyarakat Kota Madiun. Terlihat antusiasme warga cukup besar saat melihat Gunungan Jaler dan Gunungan Estri dikirab. Antusiasme warga semakin bertambah ketika mengetahui hadirnya kereta kuda yang dinaiki oleh Sekda Kota Madiun. Sesuatu yang jarang dilihat di Kota Madiun. (serasa melihat raja-raja jaman dulu deh)
Acara Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW itu memang merupakan "penutup" dari serangkaian kegiatan dalam merayakan Maulud Nabi yang diselenggarakan sejak tanggal 7 sampai dengan 9 Maret 2009. Harapan dari kegiatan ini adalah agar ikon Kota Madiun sebagai wisata budaya dan religi semakin meningkat. Selain itu, tentu saja diharapkan agar perayaan tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.
Itulah sebabnya mengapa kegiatan Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW selama ini dimulai dari Kelurahan Kuncen, karena disanalah tempat "pendiri" Madiun. Sementara pemakaian Masjid Kuno di Kelurahan Taman juga dikarenakan Masjid itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Di dekat Masjid Kuno Taman juga terdapat makam dari keturunan penguasa di Madiun pada jaman dulu. Saat ini Masjid Kuno taman dan Makam Taman telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya di Kota Madiun.
Kembali ke acara Grebeg Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dalam Grebeg itu dikirab 2 buah gunungan : Gunungan Jaler dan Gunungan Estri. Gunungan Jaler (Pria) berisikan bahan mentah dari hasil bumi seperti jabe merah, kacang panjang, terong, buah-buahan dll. Sementara Gunungan Estri (Wanita) berisikan jajanan pasar. Kedua gunungan itu dinaikkan di atas kereta kuda (berbeda dengan Grebeg di Yogyakarta, dimana gunungan itu dibawa oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta).
Melengkapi acara kirab tersebut diselenggarakan juga pawai budaya. Pawai tersebut diikuti oleh para pelajar dan juga para pejabat Pemerintah Kota Madiun. Para pelajar tersebut mengikuti pawai dengan berjalan kaki. Sementara "barisan berkuda" diikuti oleh perwakilan dari Dinas P dan K (selaku leading sector acara ini), 3 camat dan 27 Lurah yang ada di Madiun. Yang menarik, Sekretaris Daerah Kota Madiun mengikuti pawai itu dengan menaiki Kereta Kuda. Konon kabarnya, kereta kuda itu khusus didatangkan dari Surakarta.
Kereta kuda yang konon didatangkan dari Surakarta
Sekretaris Daerah Kota Madiun menaiki kereta kuda
Salah satu camat ikut naik kuda
Kalau ini rombongan Lurah-lurah
Salah satu perwakilan dari Dinas P & K

Kereta kuda yand dinaiki para "sesepuh"

Peserta pawai budaya dalam busana "prajurit"

Peserta pawai dengan busana ala "Retno Dumilah"
Peserta pawai dalam busana daerah

Peserta pawai yang membawa alat musik rebana



Beberapa spanduk yang dibawa peserta pawai

Salah satu peserta yang naik becak hias
Acara Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW itu memang merupakan "penutup" dari serangkaian kegiatan dalam merayakan Maulud Nabi yang diselenggarakan sejak tanggal 7 sampai dengan 9 Maret 2009. Harapan dari kegiatan ini adalah agar ikon Kota Madiun sebagai wisata budaya dan religi semakin meningkat. Selain itu, tentu saja diharapkan agar perayaan tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.








