Minggu, 15 Maret 2009

Nikmat yang berlimpah

Sungguh, luar biasa nikmat Allah yang diberikan padaku kemarin sampai hari ini. Sungguh berlimpah kebahagiaan yang diberikan padaku. Rasanya belum terhapus senyum dari wajahku, sudah muncul senyum baru yang lain.

Tak seperti ini biasanya yang aku alami. Walau ada kebahagiaan dan kenikmatan yang ditambahkan padaku, tapi tidak beruntun seperti dua hari terakhir ini. Sungguh sangat tidak biasa.


Yang pertama, adalah kabar tiba-tiba bahwa adikku yang di Pacitan akan datang ke Madiun pada Sabtu pagi (kemarin). Walau terakhir kali kami ketemu bulan Pebruari yang lalu, tapi seneng sekali bisa ketemu lagi dengannya dan keluarganya. Dan, ternyata pertemuan kami memang membahagiakan. Berkumpul bersama, orang tua, keluargaku dan keluarga adikku. Adakah yang lebih membahagiakan daripada itu ?

Yang kedua, kemarin malam waktu aku buka blogku aku menemukan sebuah pesan pada shoutbox-ku yang membuat hatiku berdebar-debar (halah....). Ada pesan dari seseorang yang (mengaku) bernama Sanie B. Kuncoro. Hah..?!?! Kebetulan, Jumat yang lalu aku posting review tentang buku yang berjudul Ma Yan dan penulisnya Sanie B. Kuncoro. Dalam Shoutbox-ku itu pesan yang ditulis Sanie B. Kuncoro adalah : "Dirimu pembaca yg mengesankan, menangkap jitu esensi cerita. Tks ya."

Sungguh, kalau yang menulis pesan itu benar-benar Sanie B. Kuncoro, wah mau meledak rasanya dadaku. Dipuji oleh penulis buku yang bukunya aku review... apakah itu bukan sesuatu yang mampu membuat "mabuk kepayang" ??

Kebahagiaanku bertambah lagi hari Minggu ini. Bahkan sejak dini hari !! Jam 00.35 WIB suamiku membangunkan aku. Kabar yang disampaikannya benar-benar mampu mengusir rasa kantukku. Kabar itu adalah anak kami tercinta, Shasa, berhasil lolos masuk babak Semifinal Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2009.

Segera saja aku turun dari ranjang dan ikut suamiku nangkring di depan kompi. Untuk memastikan bahwa nama Shasa benar-benar ada di antara nama anak-anak yang lolos ke babak semifinal. Dan ternyata memang ada. Subhanallah....

Sejujurnya, untuk OSK kali ini aku tidak berharap terlalu banyak pada Shasa. Karena kesibukanku, aku benar-benar tak bisa membantu Shasa mempersiapkan diri menghadapi OSK (what a bad mother I am. Hiks...). Selain itu, aku juga melihat sebenarnya semangat dan motivasi Shasa dalam menghadapi OSK ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi ternyata Allah sedang bermurah hati pada kami.

Siang harinya, aku mengantarkan Shasa ikut lomba komputer anak di Ponorogo. Sebenarnya Shasa baru tahu lomba ini hari Jumat siang yang lalu. Tapi, Shasa tetap ngotot ingin ikut. Baru Sabtu siang aku menerima CD yang berisi materi lomba untuk dipelajari Shasa lewat seorang teman yang baik hati. Praktis, waktu Shasa berlatih hanya hari Sabtu itu. Sementara administrasi pendaftaran pun baru bisa aku serahkan tadi pada panitia di tempat lomba. Sehingga, nomor peserta dan sertifikat peserta dibuat mendadak saat itu juga.

Dengan persiapan yang amat minimal tersebut aku tak menaruh harapan pada Shasa untuk bisa memenangkan salah satu juara. Selain karena selama ini Shasa tidak pernah kontinyu berlatih mengetik dengan 10 jari, tapi juga karena banyak materi lomba yang belum sempat dipelajari Shasa.

Tapi ternyata..., Shasa masih bisa menduduki peringkat ke IX untuk peserta dari kelas 3 SD. Untuk itu, Shasa berhak mendapatkan trophy dan sertifikat. Alhamdulillah. Sebagai gambaran, untuk peringkat I nilainya 2040. Sedangkan untuk peringkat II-VIII nilainya berkisar pada angka 1000-an. Sementara nilai Shasa hanya 870. Dan untuk peringkat X nilainya hanya 600-an. Dapat peringkat IX inipun aku sudah seneng banget karena gak nyangka sama sekali.

Selanjutnya, sampai rumah dan buka blog.... ada satu kebahagiaan lagi yang datang padaku dan Shasa. Kami berdua dapat award pertama kami. Rasanya, tak cukup dadaku menampung rasa bahagia yang bertubi-tubi ini. Cerita tentang award akan aku tulis tersendiri nanti. Sabar ya... *ngerasa sok penting*

Mendapat limpahan kenikmatan dalam sekejap mata, sempat membuatku takut juga. Takut kalau ujian Allah kali ini justru menyeretku pada kufur nikmat. Semoga saja nikmat yang berlimpah ini tak membuat aku (dan keluargaku) terlena dan lupa diri. Semoga nikmat ini tak sampai membuat kami jadi sombong dan tinggi hati.

Ya Allah..., jadikan kami hamba-Mu yang selalu mampu mensyukuri nikmat-Mu. Jadikan kami hamba-Mu yang selalu ingat akan kebesaran-Mu. Jadikan kami hamba-Mu yang selalu menyerahkan kembali segala urusan pada kehendak-Mu.

Jumat, 13 Maret 2009

Keteguhan hati

Keteguhan hati dalam menjalani pilihan terkadang tak mampu dimiliki oleh semua orang, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Karena dari keteguhan hati seringkali memunculkan banyak konsekuensi/resiko yang harus ditanggung. Seringkali, di saat resiko dirasa terlalu berat, maka keteguhan hati mulai goyah.

Tapi, ternyata keteguhan hati ada dalam diri seorang anak perempuan kecil. Keteguhan hatinya untuk tetap dapat bersekolah, mampu membuatnya bertahan menghadapi segala macam konsekuensi yang paling berat sekalipun. Anak perempuan itu bernama Ma Yan.

Ma Yan adalah anak pertama dari 3 orang bersaudara. Bersama orang tua dan adiknya, mereka tinggal di sebuah desa yang miskin di Zhangjiashu, wilayah Ningxia, China. Daerah tersebut bukan saja miskin, tapi juga tandus. Air sangat berharga di desa itu. Mereka terpaksa mencairkan salju untuk disimpan sebagai simpanan dalam menghadapi musim kemarau yang sangat panjang. Bahkan, untuk menjalankan sholat 5 waktu mereka menggantikan wudhu dengan bertayamum dengan pasir.





Kondisi desa tempat tinggal Ma Yan
Gambar diambil dari sini

Di daerah miskin itu, keluarga Ma Yan tergolong sebagai penduduk yang paling miskin. Suatu keadaan yang akan sangat mudah menjauhkan siapa saja dari mimpi. Walaupun miskin, Ma Yan dan kedua orang tuanya bertekad melakukan apa saja untuk bisa meraih pendidikan. Tentu saja dengan harapan agar suatu hari kelak, bukan lagi kemiskinan yang akan diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya, melainkan masa depan yang jauh lebih baik.

Untuk bisa memberikan pendidikan itu, kedua orang tua Ma Yan rela melakukan apa saja guna membiayai pendidikan Ma Yan dan adiknya. Hasil pertanian mereka yang tak seberapa, seringkali tak ada sisa yang bisa dijual, karena hanya habis untuk makan sehari-hari. Itupun rasa kenyang masih belum mampu dirasakan oleh keluarga Ma Yan. Bahkan, kedua orang tua Ma Yan terkadang harus merelakan jatah nasi mereka yang cuma sedikit agar anak-anak mereka dapat makan lebih banyak.

Sang ayah yang kerap kali tak dapat mengandalkan hasil pertaniannya karena tanah yang tandus dan dilanda kemarau panjang harus rela pergi ke kota untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Itu pun seringkali tak memberikan penghasilan yang sepadan, karena kerap kali upah kuli bangunan tidak dibayarkan oleh sang mandor. Sementara ayah Ma Yan yang bekerja secara ilegal, tentu saja tak mampu menuntut bayarannya. Bahkan terkadang, setelah bekerja sekian lama, ayah Ma Yan tak memiliki cukup uang untuk kembali ke desanya.

Sementara ibu Ma Yan harus memutar otak guna membelanjakan uang yang ada hanya untuk hal-hal yang perlu saja. Bagian uang untuk biaya sekolah anak-anaknya, tak berani diganggu. Sementara untuk kebutuhan lain-lain bisa ditiadakan.

Untuk bisa bersekolah pun bukan perkara mudah bagi Ma Yan dan adiknya. Mereka harus menempuh jarak sejauh 20 km dengan berjalan kaki menuju asrama sekolah. Itupun tak mudah karena jalan yang harus dilalui penuh dengan bahaya, baik itu berupa hewan buas dan berbisa (seperti ular) maupun oleh para perampok yang suka menghadang di jalan. Bahkan perampok itu tak segan-segan merampok bekal makan siang ataupun alat tulis, apabila hanya itu yang mereka dapatkan dari korbannya. Sementara untuk menempuh perjalanan dengan menumpang traktor dengan biaya hanya 1 Yuan pun mereka tak mampu membayarnya. Karena uang sebesar itu adalah jumlah uang saku mereka untuk 1 pekan lamanya.

Ma Yan dan adiknya praktis hanya makan 2 kali sehari di asrama sekolah. Itupun bukan makanan yang lezat ataupun mengenyangkan. Pagi hari Ma Yan dan adiknya harus puas hanya dengan sarapan segelas air teh, sementara teman yang lain bisa membeli mie atau roti sebagai teman minum teh. Di siang hari, sekolah hanya menyajikan semangkuk kecil nasi putih. Kalau beruntung, Ma Yan dan adiknya bisa membeli sedikit sayur untuk memberi rasa pada menu makan siang mereka.

Sementara pada malam hari, mereka hanya makan 1 buah roti kukus yang dibawakan oleh ibunya sebagai jatah makan malam mereka selama 1 pekan. Satu roti kukus untuk satu makan malam. Kalau Ma Yan makan lebih dari jatah itu, berarti ada 1 hari dimana Ma Yan hanya ketemu makan pada siang hari saja. Itu berarti harus puasa selama 24 jam. Oleh karena itu, Ma Yan harus sering mengendalikan diri untuk tidak menambah jatah makan malamnya meskipun perutnya melilit kelaparan.

Suatu kali Ma Yan sangat ingin memiliki sebuah pena. Harapannya dengan pena dia bisa mencatat kisah hidupnya yang akan disimpan untuk suatu hari kelak dapat dikenangnya. Harga pena itu sebesar 2 Yuan. Sama dengan jumlah uang sakunya untuk 2 pekan lamanya. Pada pekan pertama 1 Yuan pertama berhasil disimpan meskipun untuk itu Ma Yan harus rela menelan makan siangnya yang hanya berupa semangkuk kecil nasi putih tanpa rasa, tanpa dilengkapi dengan sedikit sayur ataupun lauk sama sekali.

Pekan kedua, 1 Yuan yang diharapkannya tidak mampu dimiliki karena orang tuanya tidak mampu memberikan uang saku untuk satu pekan itu. Kembali Ma Yan melewati pekan keduanya dengan perut kelaparan yang hanya diiisi oleh semangkuk kecil nasi putih dan sebuah roti kukus. Baru pada pekan ketiga Ma Yan dapat membeli pena yang diidamkannya, ketika orangtuanya kembali dapat memberi uang saku sebesar 1 Yuan.

Kehidupan Ma Yan nyaris harus putus sekolah, karena biaya sekolah sudah semakin sulit ditanggung oleh keluarganya. Penolakan Ma Yan atas nasib yang harus dijalaninya membuat ibunya tak berkutik. Apalagi setelah Ma Yan memohon dengan sangat untuk tetap bisa sekolah, dan untuk itu Ma Yan rela kalau sampai harus kehilangan jatah nasinya. Melihat tekad anaknya yang sudah bulat, akhirnya sang ibu membulatkan tekad untuk ikut bekerja mencari uang. Meskipun pekerjaan yang harus dijalaninya sangat berat.

Keadaan Ma Yan berubah ketika ibunya dengan yakin menyerahkan buku catatan harian Ma Yan pada sekelompok orang asing yang mau meninggalkan desa mereka. Walau mereka asing satu sama lain dan tidak dapat berkomunikasi karena kendala bahasa, ternyata ibu Ma Yan sangat percaya bahwa lewat buku catatan harian Ma Yan orang-orang asing itu dapat memberikan keajaiban pada kehidupan mereka.



Kisah inspiratif ini aku dapatkan dari novel yang berjudul Ma Yan, karya Sanie B Kuncoro. Novel yang diambil dari kisah nyata ini mampu menguras air mataku saat aku membaca lembar demi lembar kisah hidup Ma Yan. Kisah dalam buku tersebut diakhiri dengan tekad Pierre Haski, seorang direktur harian Liberation (Perancis) untuk menampilkan perjuangan dan keteguhan hati Ma Yan dalam meraih pendidikan dalam harian Liberation. Tujuan Haski adalah agar dunia tahu betapa kerasnya perjuangan seorang Ma Yan. Pierre Haski adalah satu dari orang asing yang mendapat kepercayaan dari ibu Ma Yan menerima buku catatan harian Ma Yan.

Kisah yang belum selesai itu menggelitikku ingin mengetahui bagaimana kisah hidup selanjutnya dari Ma Yan. Maka, aku kemudian sibuk mencari kelanjutan cerita iut. Aku berhasil menemukan kelanjutan kisah itu di sini. Akhirnya pada bulan September 2001 Haski menuliskan kisah hidup Ma Yan dalam harian Liberation dengan judul : 'Je veux étudier' (I want to study). Cerita itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat.


Ma Yan dan Ibunya
Gambar diambil dari sini

Sebagai respon atas banyaknya mendapat surat dan kiriman uang dari masyarakat, maka Haski mendirikan Yayasan yang bernama "Enfants du Ningxia" untuk mengumpulkan uang guna membantu anak-anak di desa Ma Yan agar bisa bersekolah. Ma Yan bahkan menjadi gadis pertama di desanya yang bisa masuk universitas. Bahkan kabar dari sini menyebutkan bahwa Ma Yan sedang bersiap untuk melanjutkan pendidikan ke Perancis !! Wow....


Happy Ma Yan (gambar diambil dari sini)

Dari sini aku mendapat kelanjutan kisah tersebut. Saat ini, Bai Juhua (ibu Ma Yan) mencurahkan sebagian besar waktunya untuk membantu "Enfants du Ningxia" memberikan beasiswa dan kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak miskin di daerah-daerah pedalaman. Sebagian royalti dari publikasi tentang Ma Yan juga disumbangkan untuk membantu anak-anak itu. Bai Juhua juga sedang mencoba menyusun program untuk memberdayakan wanita di Ningxia melalui koperasi (kerajinan tangan) sulaman.

Sungguh luar biasa semangat yang demikian besar muncul dari jiwa-jiwa yang kelaparan. Keteguhan hati seorang anak dibantu dengan keyakinan ibunya, maka Ma Yan berhasil meneruskan pendidikan. Sesuatu yang selama ini menjadi impiannya.

Keteguhan hati

Keteguhan hati dalam menjalani pilihan terkadang tak mampu dimiliki oleh semua orang, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Karena dari keteguhan hati seringkali memunculkan banyak konsekuensi/resiko yang harus ditanggung. Seringkali, di saat resiko dirasa terlalu berat, maka keteguhan hati mulai goyah.

Tapi, ternyata keteguhan hati ada dalam diri seorang anak perempuan kecil. Keteguhan hatinya untuk tetap dapat bersekolah, mampu membuatnya bertahan menghadapi segala macam konsekuensi yang paling berat sekalipun. Anak perempuan itu bernama Ma Yan.

Ma Yan adalah anak pertama dari 3 orang bersaudara. Bersama orang tua dan adiknya, mereka tinggal di sebuah desa yang miskin di Zhangjiashu, wilayah Ningxia, China. Daerah tersebut bukan saja miskin, tapi juga tandus. Air sangat berharga di desa itu. Mereka terpaksa mencairkan salju untuk disimpan sebagai simpanan dalam menghadapi musim kemarau yang sangat panjang. Bahkan, untuk menjalankan sholat 5 waktu mereka menggantikan wudhu dengan bertayamum dengan pasir.





Kondisi desa tempat tinggal Ma Yan
Gambar diambil dari sini

Di daerah miskin itu, keluarga Ma Yan tergolong sebagai penduduk yang paling miskin. Suatu keadaan yang akan sangat mudah menjauhkan siapa saja dari mimpi. Walaupun miskin, Ma Yan dan kedua orang tuanya bertekad melakukan apa saja untuk bisa meraih pendidikan. Tentu saja dengan harapan agar suatu hari kelak, bukan lagi kemiskinan yang akan diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya, melainkan masa depan yang jauh lebih baik.

Untuk bisa memberikan pendidikan itu, kedua orang tua Ma Yan rela melakukan apa saja guna membiayai pendidikan Ma Yan dan adiknya. Hasil pertanian mereka yang tak seberapa, seringkali tak ada sisa yang bisa dijual, karena hanya habis untuk makan sehari-hari. Itupun rasa kenyang masih belum mampu dirasakan oleh keluarga Ma Yan. Bahkan, kedua orang tua Ma Yan terkadang harus merelakan jatah nasi mereka yang cuma sedikit agar anak-anak mereka dapat makan lebih banyak.

Sang ayah yang kerap kali tak dapat mengandalkan hasil pertaniannya karena tanah yang tandus dan dilanda kemarau panjang harus rela pergi ke kota untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Itu pun seringkali tak memberikan penghasilan yang sepadan, karena kerap kali upah kuli bangunan tidak dibayarkan oleh sang mandor. Sementara ayah Ma Yan yang bekerja secara ilegal, tentu saja tak mampu menuntut bayarannya. Bahkan terkadang, setelah bekerja sekian lama, ayah Ma Yan tak memiliki cukup uang untuk kembali ke desanya.

Sementara ibu Ma Yan harus memutar otak guna membelanjakan uang yang ada hanya untuk hal-hal yang perlu saja. Bagian uang untuk biaya sekolah anak-anaknya, tak berani diganggu. Sementara untuk kebutuhan lain-lain bisa ditiadakan.

Untuk bisa bersekolah pun bukan perkara mudah bagi Ma Yan dan adiknya. Mereka harus menempuh jarak sejauh 20 km dengan berjalan kaki menuju asrama sekolah. Itupun tak mudah karena jalan yang harus dilalui penuh dengan bahaya, baik itu berupa hewan buas dan berbisa (seperti ular) maupun oleh para perampok yang suka menghadang di jalan. Bahkan perampok itu tak segan-segan merampok bekal makan siang ataupun alat tulis, apabila hanya itu yang mereka dapatkan dari korbannya. Sementara untuk menempuh perjalanan dengan menumpang traktor dengan biaya hanya 1 Yuan pun mereka tak mampu membayarnya. Karena uang sebesar itu adalah jumlah uang saku mereka untuk 1 pekan lamanya.

Ma Yan dan adiknya praktis hanya makan 2 kali sehari di asrama sekolah. Itupun bukan makanan yang lezat ataupun mengenyangkan. Pagi hari Ma Yan dan adiknya harus puas hanya dengan sarapan segelas air teh, sementara teman yang lain bisa membeli mie atau roti sebagai teman minum teh. Di siang hari, sekolah hanya menyajikan semangkuk kecil nasi putih. Kalau beruntung, Ma Yan dan adiknya bisa membeli sedikit sayur untuk memberi rasa pada menu makan siang mereka.

Sementara pada malam hari, mereka hanya makan 1 buah roti kukus yang dibawakan oleh ibunya sebagai jatah makan malam mereka selama 1 pekan. Satu roti kukus untuk satu makan malam. Kalau Ma Yan makan lebih dari jatah itu, berarti ada 1 hari dimana Ma Yan hanya ketemu makan pada siang hari saja. Itu berarti harus puasa selama 24 jam. Oleh karena itu, Ma Yan harus sering mengendalikan diri untuk tidak menambah jatah makan malamnya meskipun perutnya melilit kelaparan.

Suatu kali Ma Yan sangat ingin memiliki sebuah pena. Harapannya dengan pena dia bisa mencatat kisah hidupnya yang akan disimpan untuk suatu hari kelak dapat dikenangnya. Harga pena itu sebesar 2 Yuan. Sama dengan jumlah uang sakunya untuk 2 pekan lamanya. Pada pekan pertama 1 Yuan pertama berhasil disimpan meskipun untuk itu Ma Yan harus rela menelan makan siangnya yang hanya berupa semangkuk kecil nasi putih tanpa rasa, tanpa dilengkapi dengan sedikit sayur ataupun lauk sama sekali.

Pekan kedua, 1 Yuan yang diharapkannya tidak mampu dimiliki karena orang tuanya tidak mampu memberikan uang saku untuk satu pekan itu. Kembali Ma Yan melewati pekan keduanya dengan perut kelaparan yang hanya diiisi oleh semangkuk kecil nasi putih dan sebuah roti kukus. Baru pada pekan ketiga Ma Yan dapat membeli pena yang diidamkannya, ketika orangtuanya kembali dapat memberi uang saku sebesar 1 Yuan.

Kehidupan Ma Yan nyaris harus putus sekolah, karena biaya sekolah sudah semakin sulit ditanggung oleh keluarganya. Penolakan Ma Yan atas nasib yang harus dijalaninya membuat ibunya tak berkutik. Apalagi setelah Ma Yan memohon dengan sangat untuk tetap bisa sekolah, dan untuk itu Ma Yan rela kalau sampai harus kehilangan jatah nasinya. Melihat tekad anaknya yang sudah bulat, akhirnya sang ibu membulatkan tekad untuk ikut bekerja mencari uang. Meskipun pekerjaan yang harus dijalaninya sangat berat.

Keadaan Ma Yan berubah ketika ibunya dengan yakin menyerahkan buku catatan harian Ma Yan pada sekelompok orang asing yang mau meninggalkan desa mereka. Walau mereka asing satu sama lain dan tidak dapat berkomunikasi karena kendala bahasa, ternyata ibu Ma Yan sangat percaya bahwa lewat buku catatan harian Ma Yan orang-orang asing itu dapat memberikan keajaiban pada kehidupan mereka.



Kisah inspiratif ini aku dapatkan dari novel yang berjudul Ma Yan, karya Sanie B Kuncoro. Novel yang diambil dari kisah nyata ini mampu menguras air mataku saat aku membaca lembar demi lembar kisah hidup Ma Yan. Kisah dalam buku tersebut diakhiri dengan tekad Pierre Haski, seorang direktur harian Liberation (Perancis) untuk menampilkan perjuangan dan keteguhan hati Ma Yan dalam meraih pendidikan dalam harian Liberation. Tujuan Haski adalah agar dunia tahu betapa kerasnya perjuangan seorang Ma Yan. Pierre Haski adalah satu dari orang asing yang mendapat kepercayaan dari ibu Ma Yan menerima buku catatan harian Ma Yan.

Kisah yang belum selesai itu menggelitikku ingin mengetahui bagaimana kisah hidup selanjutnya dari Ma Yan. Maka, aku kemudian sibuk mencari kelanjutan cerita iut. Aku berhasil menemukan kelanjutan kisah itu di sini. Akhirnya pada bulan September 2001 Haski menuliskan kisah hidup Ma Yan dalam harian Liberation dengan judul : 'Je veux étudier' (I want to study). Cerita itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat.


Ma Yan dan Ibunya
Gambar diambil dari sini

Sebagai respon atas banyaknya mendapat surat dan kiriman uang dari masyarakat, maka Haski mendirikan Yayasan yang bernama "Enfants du Ningxia" untuk mengumpulkan uang guna membantu anak-anak di desa Ma Yan agar bisa bersekolah. Ma Yan bahkan menjadi gadis pertama di desanya yang bisa masuk universitas. Bahkan kabar dari sini menyebutkan bahwa Ma Yan sedang bersiap untuk melanjutkan pendidikan ke Perancis !! Wow....


Happy Ma Yan (gambar diambil dari sini)

Dari sini aku mendapat kelanjutan kisah tersebut. Saat ini, Bai Juhua (ibu Ma Yan) mencurahkan sebagian besar waktunya untuk membantu "Enfants du Ningxia" memberikan beasiswa dan kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak miskin di daerah-daerah pedalaman. Sebagian royalti dari publikasi tentang Ma Yan juga disumbangkan untuk membantu anak-anak itu. Bai Juhua juga sedang mencoba menyusun program untuk memberdayakan wanita di Ningxia melalui koperasi (kerajinan tangan) sulaman.

Sungguh luar biasa semangat yang demikian besar muncul dari jiwa-jiwa yang kelaparan. Keteguhan hati seorang anak dibantu dengan keyakinan ibunya, maka Ma Yan berhasil meneruskan pendidikan. Sesuatu yang selama ini menjadi impiannya.

Rabu, 11 Maret 2009

Belajar dari Greg Mortenson


Sungguh menakjubkan membaca kisah tentang jalan hidup yang dipilih oleh Greg Mortenson. Greg Mortenson adalah seorang laki-laki biasa yang sanggup melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa. Seorang Greg bukan hanya mampu melakukan hal-hal yang nyaris tidak masuk akal. Greg juga mampu menggerakkan begitu banyak manusia (melewati batas agama, ras, suku dan bangsa). Sungguh sulit dipercaya. Kisah yang sangat inspiratif ini aku baca dalam buku yang berjudul Three Cups of Tea.

Greg adalah seorang pendaki gunung yang berasal dari Amerika. Kisahnya berawal pada saat Greg gagal menaklukkan puncak kedua tertinggi di dunia, K2, di Pegunungan Karakoram tahun 1993 yang lalu. Saat turun dari K2, Greg tersesat di suatu desa terpencil dan sangat miskin, yang bahkan namanya pun tak ada di peta. Desa itu bernama Korphe, terletak di Pakistan Utara.

Di desa Korphe inilah Greg yang kelelahan dan kelaparan dirawat dan dilayani dengan sangat baik oleh penduduk desa Korphe (khususnya keluarga Haji Ali). Mendapat perlakuan yang sangat baik oleh penduduk Korphe yang sangat miskin tersebut membuat Greg merasa berhutang budi. Sampai akhirnya Greg melihat kenyataan bahwa anak-anak Desa Korphe tidak memiliki sekolah. Untuk membalas budi, Greg memberikan janji pada Haji Ali bahwa suatu saat nanti dia akan membangun sebuah sekolah di Korphe !!


Gambar diambil dari sini




Greg Mortenson sangat sayang dan peduli pada anak-anak Pakistan
Gambar diambil dari sini

Yang kemudian dilakukan oleh Greg untuk memenuhi janjinya (yang nyaris tak masuk akal) itu sungguh sangat luar biasa. Greg bertekad mengumpulkan dana untuk membangun sekolah yang telah dijanjikannya itu. Greg menghemat tiap sen uang yang dimilikinya, sampai-sampai dia membatasi dana yang digunakan untuk makan (mengingat pekerjaan Greg hanyalah seorang perawat di sebuah Rumah Sakit). Greg juga memutuskan untuk tidak menyewa apartemen dan memilih tidur di dalam mobilnya (satu-satunya harta berharga yang dimilikinya).

Upaya lain yang dilakukan Greg adalah mengirimkan 580 surat yang berisi permohonan bantuan dana untuk merealisasikan sekolahnya itu. Dan, setelah 6 bulan menunggu, akhirnya dia menerima satu-satunya balasan dari Tom Brokaw. Dari Tom inilah Greg mendapatkan bantuan pertama sebesar seratus dolar. Sampai akhirnya, datanglah bantuan yang tak terduga dari Dr. Jean Hoerni.

"Jean benar-benar langsung merespon Greg. Saat pertama kali dia membaca tentang Greg di newsletter Yayasan Amerika-Himalaya, Jean bilang padaku : 'Orang Amerika peduli pada umat Budha, tapi tidak pada umat Muslim. Orang ini takkan mendapat bantuan. Aku harus mewujudkannya'." kata janda Hoerni, Jennifer Wilson tentang alasan suaminya memberikan dukungan pada Greg.


Sekolah yang didirikan di Lembah Hushe
Gambar diambil dari sini

Masalah dana untuk pembangunan sekolah (yang diperkirakan sebesar dua belas ribu dolar) telah terpecahkan berkat bantuan Dr. Jean Hoerni. Tapi, masalah dana untuk membiayai keberangkatan Greg ke Pakistan dan biaya hidup yang harus ditanggung Greg selama di Pakistan belum menemukan jalan keluarnya. Sehingga, Greg mengubah apa saja yang dimilikinya menjadi uang. Mulai dari peralatan mendaki sampai mobilnya, yang merupakan satu-satunya hartanya yang berharga.

Sungguh tak terbayangkan olehku bahwa ada seorang manusia yang rela menjual semua barang yang dia miliki untuk diberikan pada orang lain. Memiliki dana di tangan untuk memulai memenuhi janjinya tersebut, bukan berarti masalah Greg selesai. Justru, dari situlah Greg memulai kehidupan yang baru, yang nyaris tak lepas dari masalah.


Gambar diambil dari sini

Membangun sekolah di tempat terpencil dan miskin bukan perkara mudah. Greg mengambil resiko dengan membangun sekolah di wilayah yang menjadi tempat lahirnya gerakan Taliban. Kekisruhan antara penganut Sunni dan Syiah seringkali terjadi juga kerap menimbulkan ketegangan. Belum lagi dengan pandangan kaum Muslimin konvensional yang menganggap pendidikan bagi anak-anak perempuan itu tidak perlu. Bukan sekali dua kali Greg mendapatkan ancaman dari beberapa tokoh yang tidak setuju dengan upaya Greg mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan.

Greg pernah harus menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalahnya menghadapi kelompok-kelompok yang ingin menghentikan upayanya membangun sekolah di Pakistan. Bahkan, Greg pernah diculik dan disekap selama 8 hari saat berada di daerah konflik di Afghanistan, pada saat Muslim konservatif menyatakan perang terhadap Amerika.

"Aku tersadar bahwa semua kesulitan yang telah aku alami, sejak saat aku berjanji untuk membangun sekolah itu, dan sepanjang perjuangan panjang untuk menyelesaikannya, sama sekali tak berarti dibandingkan dengan pengorbanan yang siap diberikan Haji Ali untuk warganya. Dia seorang buta huruf, yang hampir-hampir tak pernah meninggalkan kampungnya di Karakoram. Namun, dia adalah sosok paling bijaksana yang pernah kutemui." kenangan Greg terhadap sosok Haji Ali.

Melihat kesungguhan Greg dalam memperjuangkan pembangunan sekolah di Pakistan, maka Dr. Jean Hoerni selaku donator pembangunan sekolah itu kemudian mendirikan Yayasan untuk menjalankan Institut Asia Tengah yang bertujuan untuk membangun lebih banyak sekolah di daerah-daerah miskin di Pakistan.

Kedudukan Greg sebagai Direktur Institut Asia Tengah lebih memudahkan langkah Greg untuk membangun lebih banyak sekolah lagi, di Pakistan (dan juga Afghanistan). Bahkan, Greg juga membangun saluran-saluran air dan juga pusat-pusat latihan ketrampilan bagi kaum perempuan dan kaum laki-laki. Anak-anak korban pengungsian akibat perang pun tak luput mendapatkan bantuan dari Greg.



Greg dg anak-anak Afghanistan yang berkesempatan memperoleh pendidikan
Gambar diambil dari sini

"Aku berharap orang-orang Barat yang salah paham tentang kaum Muslimin bisa melihat segala perilaku Syed Abbas hari itu. Mereka akan segera sadar bahwa sebagian besar orang yang benar-benar melaksanakan ajaran sejati Islam, bahkan Mullah konservatif seperti Syed Abbas sekalipun, meyakini perdamaian dan keadilan." pendapat Monterson terhadap anggota Dewan Mullah, Syed Abbas.

Atas upayanya yang tak kenal menyerah dalam memperjuangkan pembangunan sekolah untuk anak-anak khususnya anak-anak perempuan tersebut, Greg benar-benar berhasil menarik simpati banyak pihak. Greg telah menarik sukarelawan dan pengagum dari berbagai lapisan masyarakat di Pakistan dan dari semua sekte Islam radikal yang saling bertikai. Bahkan, tak sedikit dari para pendukung Greg yang siap mempertaruhkan nyawa mereka untuk Greg.

"Kalau kau ingin berhasil di Baltistan, kau harus menghargai cara-cara kami. Kali pertama kau minum teh bersama-sama orang Balti, kau masih orang asing. Kedua kalinya kau minum teh, kau adalah tamu yang dihormati. Kali ketiga kau berbagi semangkuk teh, kau sudah menjadi keluarga, dan untuk keluarga kami, kami bersedia untuk melakukan apa saja, bahkan untuk mati sekalipun," nasehat Haji Ali pada Greg Mortenson.

Sampai dengan diterbitkannya buku Three Cups of Tea, Greg telah mendirikan 51 sekolah. Greg telah memilih jalannya sendiri. Bukan jalan yang mudah untuk dilalui. Jalan hidup Greg adalah untuk memberikan pendidikan seluas-luasnya pada masyarakat miskin Pakistan (dan juga Afgganistan).

Greg memiliki cinta yang tanpa syarat. Dia melakukan semua itu tanpa menuntut imbalan sama sekali. Kekuatan cinta Greg ternyata membuat banyak orang terinspirasi dan menjadikan buku tersebut menjadi Best Seller. Rasanya, sangat pantas bila kelak Greg Mortenson mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian atas usahanya yang tak kenal menyerah selama lebih dari 10 tahun itu.

Rasanya aku harus belajar banyak dari Greg Mortenson. Belajar untuk mampu mencintai tanpa syarat pada orang lain. Belajar untuk mampu ikhlas berbuat baik bagi orang lain. Belajar untuk melakukan hal baik tanpa terlalu banyak berhitung. Belajar untuk ....., ah entah apa lagi. Aku sampai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa terpesonanya aku padanya. Dan, seperti yang dikatakan oleh penulis buku itu, David Oliver Relin, aku saat ini tersedot dalam orbit Greg Mortenson.

Belajar dari Greg Mortenson

Sungguh menakjubkan membaca kisah tentang jalan hidup yang dipilih oleh Greg Mortenson. Greg Mortenson adalah seorang laki-laki biasa yang sanggup melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa. Seorang Greg bukan hanya mampu melakukan hal-hal yang nyaris tidak masuk akal. Greg juga mampu menggerakkan begitu banyak manusia (melewati batas agama, ras, suku dan bangsa). Sungguh sulit dipercaya. Kisah yang sangat inspiratif ini aku baca dalam buku yang berjudul Three Cups of Tea.

Greg adalah seorang pendaki gunung yang berasal dari Amerika. Kisahnya berawal pada saat Greg gagal menaklukkan puncak kedua tertinggi di dunia, K2, di Pegunungan Karakoram tahun 1993 yang lalu. Saat turun dari K2, Greg tersesat di suatu desa terpencil dan sangat miskin, yang bahkan namanya pun tak ada di peta. Desa itu bernama Korphe, terletak di Pakistan Utara.


Di desa Korphe inilah Greg yang kelelahan dan kelaparan dirawat dan dilayani dengan sangat baik oleh penduduk desa Korphe (khususnya keluarga Haji Ali). Mendapat perlakuan yang sangat baik oleh penduduk Korphe yang sangat miskin tersebut membuat Greg merasa berhutang budi. Sampai akhirnya Greg melihat kenyataan bahwa anak-anak Desa Korphe tidak memiliki sekolah. Untuk membalas budi, Greg memberikan janji pada Haji Ali bahwa suatu saat nanti dia akan membangun sebuah sekolah di Korphe !!


Gambar diambil dari sini



Greg Mortenson sangat sayang dan peduli pada anak-anak Pakistan
Gambar diambil dari sini


Yang kemudian dilakukan oleh Greg untuk memenuhi janjinya (yang nyaris tak masuk akal) itu sungguh sangat luar biasa. Greg bertekad mengumpulkan dana untuk membangun sekolah yang telah dijanjikannya itu. Greg menghemat tiap sen uang yang dimilikinya, sampai-sampai dia membatasi dana yang digunakan untuk makan (mengingat pekerjaan Greg hanyalah seorang perawat di sebuah Rumah Sakit). Greg juga memutuskan untuk tidak menyewa apartemen dan memilih tidur di dalam mobilnya (satu-satunya harta berharga yang dimilikinya).

Upaya lain yang dilakukan Greg adalah mengirimkan 580 surat yang berisi permohonan bantuan dana untuk merealisasikan sekolahnya itu. Dan, setelah 6 bulan menunggu, akhirnya dia menerima satu-satunya balasan dari Tom Brokaw. Dari Tom inilah Greg mendapatkan bantuan pertama sebesar seratus dolar. Sampai akhirnya, datanglah bantuan yang tak terduga dari Dr. Jean Hoerni.

"Jean benar-benar langsung merespon Greg. Saat pertama kali dia membaca tentang Greg di newsletter Yayasan Amerika-Himalaya, Jean bilang padaku : 'Orang Amerika peduli pada umat Budha, tapi tidak pada umat Muslim. Orang ini takkan mendapat bantuan. Aku harus mewujudkannya'." kata janda Hoerni, Jennifer Wilson tentang alasan suaminya memberikan dukungan pada Greg.

.
Sekolah yang didirikan di Lembah Hushe
Gambar diambil dari sini

Masalah dana untuk pembangunan sekolah (yang diperkirakan sebesar dua belas ribu dolar) telah terpecahkan berkat bantuan Dr. Jean Hoerni. Tapi, masalah dana untuk membiayai keberangkatan Greg ke Pakistan dan biaya hidup yang harus ditanggung Greg selama di Pakistan belum menemukan jalan keluarnya. Sehingga, Greg mengubah apa saja yang dimilikinya menjadi uang. Mulai dari peralatan mendaki sampai mobilnya, yang merupakan satu-satunya hartanya yang berharga.

Sungguh tak terbayangkan olehku bahwa ada seorang manusia yang rela menjual semua barang yang dia miliki untuk diberikan pada orang lain. Memiliki dana di tangan untuk memulai memenuhi janjinya tersebut, bukan berarti masalah Greg selesai. Justru, dari situlah Greg memulai kehidupan yang baru, yang nyaris tak lepas dari masalah.




Gambar diambil dari sini

Membangun sekolah di tempat terpencil dan miskin bukan perkara mudah. Greg mengambil resiko dengan membangun sekolah di wilayah yang menjadi tempat lahirnya gerakan Taliban. Kekisruhan antara penganut Sunni dan Syiah seringkali terjadi juga kerap menimbulkan ketegangan. Belum lagi dengan pandangan kaum Muslimin konvensional yang menganggap pendidikan bagi anak-anak perempuan itu tidak perlu. Bukan sekali dua kali Greg mendapatkan ancaman dari beberapa tokoh yang tidak setuju dengan upaya Greg mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan.

Greg pernah harus menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalahnya menghadapi kelompok-kelompok yang ingin menghentikan upayanya membangun sekolah di Pakistan. Bahkan, Greg pernah diculik dan disekap selama 8 hari saat berada di daerah konflik di Afghanistan, pada saat Muslim konservatif menyatakan perang terhadap Amerika.

"Aku tersadar bahwa semua kesulitan yang telah aku alami, sejak saat aku berjanji untuk membangun sekolah itu, dan sepanjang perjuangan panjang untuk menyelesaikannya, sama sekali tak berarti dibandingkan dengan pengorbanan yang siap diberikan Haji Ali untuk warganya. Dia seorang buta huruf, yang hampir-hampir tak pernah meninggalkan kampungnya di Karakoram. Namun, dia adalah sosok paling bijaksana yang pernah kutemui." kenangan Greg terhadap sosok Haji Ali.
Melihat kesungguhan Greg dalam memperjuangkan pembangunan sekolah di Pakistan, maka Dr. Jean Hoerni selaku donator pembangunan sekolah itu kemudian mendirikan Yayasan untuk menjalankan Institut Asia Tengah yang bertujuan untuk membangun lebih banyak sekolah di daerah-daerah miskin di Pakistan.

Kedudukan Greg sebagai Direktur Institut Asia Tengah lebih memudahkan langkah Greg untuk membangun lebih banyak sekolah lagi, di Pakistan (dan juga Afghanistan). Bahkan, Greg juga membangun saluran-saluran air dan juga pusat-pusat latihan ketrampilan bagi kaum perempuan dan kaum laki-laki. Anak-anak korban pengungsian akibat perang pun tak luput mendapatkan bantuan dari Greg.



Greg dg anak-anak Afghanistan yang berkesempatan memperoleh pendidikan
Gambar diambil dari sini
"Aku berharap orang-orang Barat yang salah paham tentang kaum Muslimin bisa melihat segala perilaku Syed Abbas hari itu. Mereka akan segera sadar bahwa sebagian besar orang yang benar-benar melaksanakan ajaran sejati Islam, bahkan Mullah konservatif seperti Syed Abbas sekalipun, meyakini perdamaian dan keadilan." pendapat Monterson terhadap anggota Dewan Mullah, Syed Abbas.

Atas upayanya yang tak kenal menyerah dalam memperjuangkan pembangunan sekolah untuk anak-anak khususnya anak-anak perempuan tersebut, Greg benar-benar berhasil menarik simpati banyak pihak. Greg telah menarik sukarelawan dan pengagum dari berbagai lapisan masyarakat di Pakistan dan dari semua sekte Islam radikal yang saling bertikai. Bahkan, tak sedikit dari para pendukung Greg yang siap mempertaruhkan nyawa mereka untuk Greg.

"Kalau kau ingin berhasil di Baltistan, kau harus menghargai cara-cara kami. Kali pertama kau minum teh bersama-sama orang Balti, kau masih orang asing. Kedua kalinya kau minum teh, kau adalah tamu yang dihormati. Kali ketiga kau berbagi semangkuk teh, kau sudah menjadi keluarga, dan untuk keluarga kami, kami bersedia untuk melakukan apa saja, bahkan untuk mati sekalipun," nasehat Haji Ali pada Greg Mortenson.
Sampai dengan diterbitkannya buku Three Cups of Tea, Greg telah mendirikan 51 sekolah. Greg telah memilih jalannya sendiri. Bukan jalan yang mudah untuk dilalui. Jalan hidup Greg adalah untuk memberikan pendidikan seluas-luasnya pada masyarakat miskin Pakistan (dan juga Afgganistan).

Greg memiliki cinta yang tanpa syarat. Dia melakukan semua itu tanpa menuntut imbalan sama sekali. Kekuatan cinta Greg ternyata membuat banyak orang terinspirasi dan menjadikan buku tersebut menjadi Best Seller. Rasanya, sangat pantas bila kelak Greg Mortenson mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian atas usahanya yang tak kenal menyerah selama lebih dari 10 tahun itu.

Rasanya aku harus belajar banyak dari Greg Mortenson. Belajar untuk mampu mencintai tanpa syarat pada orang lain. Belajar untuk mampu ikhlas berbuat baik bagi orang lain. Belajar untuk melakukan hal baik tanpa terlalu banyak berhitung. Belajar untuk ....., ah entah apa lagi. Aku sampai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa terpesonanya aku padanya. Dan, seperti yang dikatakan oleh penulis buku itu, David Oliver Relin, aku saat ini tersedot dalam orbit Greg Mortenson.