Jumat, 27 Maret 2009

Berlibur (Bagian Satu)

Tanggal 26 Maret 2009 ada bonus libur 1 hari dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Saka 1931). Tak ingin melewatkan kesempatan untuk refreshing, aku bersama Shasa dan suami memutuskan untuk jalan-jalan. Kebetulan, beberapa hari terakhir kesibukan di kantor lumayan padat. Makanya, begitu ada kesempatan untuk melakukan refreshing tak akan kulewatkan begitu saja.

Setelah menimbang, mengingat dan sebagainya..., akhirnya kami putuskan untuk mengisi liburan ini dengan mencari udara segar di kaki Gunung Wilis. Tepatnya, kami ingin pergi ke Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Selain udara di sana yang masih segar, kami ingin bersantai di sana.


Perjalanan yang kami lalui sangat menyenangkan karena kami melewati persawahan yang menghijau. Di kejauhan, kami melihat sosok Gunung Wilis yang tegak berdiri. Indah sekali pemandangan yang kami saksikan. Rasa segar makin terasa saat udara dari perbukitan menyentuh kulit kami. Kami tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tempat yang kami ingin kami tuju.


Pemandangan yang indah menuju Monumen Kresek

Tujuan kami adalah mengunjungi Monumen Kresek yang terletak di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Desa Kresek adalah wilayah perkampungan yang terletak di kaki Gunung Wilis. Setiap tahun di lokasi Monumen Kresek ini diselenggarakan Upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Pelaksanaan upacara di lokasi tersebut dikarenakan pada tahun 1948 Desa Kresek telah dijadikan PKI sebagai ladang pembantaian tokoh masyarakat dan agama.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka pada tahun 1987 dibangunlah Monumen Kresek dan diresmikan pada tahun 1991. Monumen Kresek hanyalah salah satu saksi kekejaman PKI pimpinan Muso di Madiun. Monumen ini dibangun di atas tanah seluas 2 hektar yang berada di kaki Gunung Wilis dan berjarak kurang lebih 8 km ke arah timur dari Kota Madiun. Di dalam monumen itu, terdapat patung dan beberapa replika kejadian pembantaian yang dilengkapi pendopo rumah milik Sumo Radjimin yang saat itu digunakan sebagai jagal ratusan jiwa manusia.


Monumen dilihat dari pintu masuk


Replika peristiwa pembantaian yang dibuat di atas bukit


Peresmian Monumen yang ditandatangani oleh Gubernur Jawa Timur tahun 1991
Video monumen kresek dapat dilihat di sini



Replika kejadian pembantaian tersebut dibangun di atas bukit. Dan, tak jauh dari situ dibuat juga relief-relief yang menggambarkan kejadian pembantaian itu. Sementara di bawah dibuat tugu yang memuat nama-nama korban yang telah dibunuh oleh PKI. Di depan tugu tersebut dibuat replika mayat-mayat korban pembunuhan tersebut.


Tugu yang berisikan nama-nama korban pembunuhan

Replika mayat-mayat korban pembunuhan

Walaupun lokasi Monumen Kresek tidak terlalu jauh dari Kota Madiun, tapi ini adalah kunjungan Shasa yang kedua kalinya. Kunjungan pertama Shasa di Monumen Kresek adalah saat Shasa masih duduk di TK. Saat itu Shasa belum paham tentang sejarah kelam yang melatar belakangi dibangunnya monumen tersebut. Saat datang pertama kali di Monumen Kresek, Shasa tidak tertarik untuk melihat replika yang ada. Baru pada kedatangan kedua kalinya ini, Shasa berniat untuk melihat replika yang dibangun di atas bukit.

Saat kami datang, di lokasi Monumen itu banyak rombongan anak-anak sekolah yang datang. Ada rombongan anak-anak TK dan ada juga rombongan anak-anak SD. Ternyata, hari libur yang hanya 1 hari itu dimanfaatkan oleh beberapa sekolah untuk mengajak murid-muridnya melakukan karya wisata.

Walaupun terletak di atas bukit di kaki Gunung Wilis, tapi setelah matahari semakin tinggi lokasi itu panas juga. Untung saja kami datang masih pagi dan kami telah puas melihat-lihat lokasi tersebut sebelum hari semakin panas. Sebelum hari makin panas, kami sudah meninggalkan Monumen Kresek dan mencari tempat lain yang lebih sejuk....

Semoga saja catatan kelam sejarah masa lalu dapat dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang. Betapa luka yang ditinggalkan masih terasa sampai saat ini. Dan betapa sulitnya menghapus stigma yang ada dari sejarah Madiun. Semoga tak akan pernah lagi terjadi kejadian serupa di tanah air kita yang tercinta, Indonesia.

Berlibur (Bagian Satu)

Tanggal 26 Maret 2009 ada bonus libur 1 hari dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Saka 1931). Tak ingin melewatkan kesempatan untuk refreshing, aku bersama Shasa dan suami memutuskan untuk jalan-jalan. Kebetulan, beberapa hari terakhir kesibukan di kantor lumayan padat. Makanya, begitu ada kesempatan untuk melakukan refreshing tak akan kulewatkan begitu saja.

Setelah menimbang, mengingat dan sebagainya..., akhirnya kami putuskan untuk mengisi liburan ini dengan mencari udara segar di kaki Gunung Wilis. Tepatnya, kami ingin pergi ke Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Selain udara di sana yang masih segar, kami ingin bersantai di sana.


Perjalanan yang kami lalui sangat menyenangkan karena kami melewati persawahan yang menghijau. Di kejauhan, kami melihat sosok Gunung Wilis yang tegak berdiri. Indah sekali pemandangan yang kami saksikan. Rasa segar makin terasa saat udara dari perbukitan menyentuh kulit kami. Kami tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tempat yang kami ingin kami tuju.


Pemandangan yang indah menuju Monumen Kresek

Tujuan kami adalah mengunjungi Monumen Kresek yang terletak di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Desa Kresek adalah wilayah perkampungan yang terletak di kaki Gunung Wilis. Setiap tahun di lokasi Monumen Kresek ini diselenggarakan Upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Pelaksanaan upacara di lokasi tersebut dikarenakan pada tahun 1948 Desa Kresek telah dijadikan PKI sebagai ladang pembantaian tokoh masyarakat dan agama.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka pada tahun 1987 dibangunlah Monumen Kresek dan diresmikan pada tahun 1991. Monumen Kresek hanyalah salah satu saksi kekejaman PKI pimpinan Muso di Madiun. Monumen ini dibangun di atas tanah seluas 2 hektar yang berada di kaki Gunung Wilis dan berjarak kurang lebih 8 km ke arah timur dari Kota Madiun. Di dalam monumen itu, terdapat patung dan beberapa replika kejadian pembantaian yang dilengkapi pendopo rumah milik Sumo Radjimin yang saat itu digunakan sebagai jagal ratusan jiwa manusia.


Monumen dilihat dari pintu masuk


Replika peristiwa pembantaian yang dibuat di atas bukit


Peresmian Monumen yang ditandatangani oleh Gubernur Jawa Timur tahun 1991
Video monumen kresek dapat dilihat di sini



Replika kejadian pembantaian tersebut dibangun di atas bukit. Dan, tak jauh dari situ dibuat juga relief-relief yang menggambarkan kejadian pembantaian itu. Sementara di bawah dibuat tugu yang memuat nama-nama korban yang telah dibunuh oleh PKI. Di depan tugu tersebut dibuat replika mayat-mayat korban pembunuhan tersebut.


Tugu yang berisikan nama-nama korban pembunuhan

Replika mayat-mayat korban pembunuhan

Walaupun lokasi Monumen Kresek tidak terlalu jauh dari Kota Madiun, tapi ini adalah kunjungan Shasa yang kedua kalinya. Kunjungan pertama Shasa di Monumen Kresek adalah saat Shasa masih duduk di TK. Saat itu Shasa belum paham tentang sejarah kelam yang melatar belakangi dibangunnya monumen tersebut. Saat datang pertama kali di Monumen Kresek, Shasa tidak tertarik untuk melihat replika yang ada. Baru pada kedatangan kedua kalinya ini, Shasa berniat untuk melihat replika yang dibangun di atas bukit.

Saat kami datang, di lokasi Monumen itu banyak rombongan anak-anak sekolah yang datang. Ada rombongan anak-anak TK dan ada juga rombongan anak-anak SD. Ternyata, hari libur yang hanya 1 hari itu dimanfaatkan oleh beberapa sekolah untuk mengajak murid-muridnya melakukan karya wisata.

Walaupun terletak di atas bukit di kaki Gunung Wilis, tapi setelah matahari semakin tinggi lokasi itu panas juga. Untung saja kami datang masih pagi dan kami telah puas melihat-lihat lokasi tersebut sebelum hari semakin panas. Sebelum hari makin panas, kami sudah meninggalkan Monumen Kresek dan mencari tempat lain yang lebih sejuk....

Semoga saja catatan kelam sejarah masa lalu dapat dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang. Betapa luka yang ditinggalkan masih terasa sampai saat ini. Dan betapa sulitnya menghapus stigma yang ada dari sejarah Madiun. Semoga tak akan pernah lagi terjadi kejadian serupa di tanah air kita yang tercinta, Indonesia.

Selasa, 24 Maret 2009

Hollahop

Siapa yang belum tahu permainan hollahop ini ? Rasanya, permainan (sekaligus olah raga) ini sudah banyak dikenal oleh masyarakat. Bukan hanya orang dewasa, tapi anak-anak pun sudah banyak yang tahu bahkan mahir dalam memainkannya.

Beberapa bulan terakhir ini, memang permainan hollahop sedang "musim" lagi di Madiun. Beda dengan buah pisang, yang bisa terus berbuah tanpa mengenal musim.... Ternyata pemainan hollahop ini mengenal musim !! Mengingat sudah lama sekali permainan ini "hilang" dan kini... hop... !! Dia datang lagi.... Senengnya punya mainan baru.


Shasa sedang semangat berlatih main hollahop

Terus terang, aku dari dulu belum pernah memainkannya. Makanya, waktu Shasa minta dibeliin hollahop ini, aku langsung setuju aja. Selain Shasa ingin belajar memainkannya.., aku juga punya keinginan yang sama. Hehehehe *gak mau kalah ceritanya* So.., sekarang aku dan Shasa sedang hobby maen hollahop nih. Asyik juga ternyata. Dan.., capek juga. Gak apa-apa.., hitung-hitung olah raga ringan hehehe.

Aku punya cerita menarik tentang penjual hollahop ini. Kebetulan ada seorang penjual hollahop yang tiap hari berjualan tak jauh dari sekolah Shasa. Hollahop yang dijualnya itu ditaruhnya di atas sepedanya, yang disandarkannya pada sebuah pohon dekat sekolah Shasa.

Setiap waktu anak-anak pulang sekolah, penjual hollahop itu "laris". Eits.. jangan salah sangka..., bukan laris terjual hollahop-nya. Tapi..., hollahop itu laris dipinjem anak-anak yang baru pulang sekolah. Anak-anak itu bebas mengambil dan memilih sendiri hollahop yang ada di sepeda penjualnya. Sambil menunggu jemputan, anak-anak itu bermain hollahop sepuasnya !!

Untuk anak-anak yang "ngerti" setelah selesai bermain, mereka mengembalikan hollahop itu di atas sepeda penjualnya. Tapi, tak jarang ada anak-anak yang gak "ngerti" juga. Setelah tahu penjemputnya datang, hollahop itu diletakkan begitu saja di tanah. Kalau sudah begitu, sang penjual hollahop harus mengumpulkan kembali hollahop yang sudah selesai dipinjam gratis itu.

Padahal.., jadwal pulang anak-anak SD berbeda-beda. Untuk anak-anak kelas rendah, jadwal pulangnya tentu lebih pagi dibanding dengan anak-anak kelas yang lebih tinggi. Jadi bisa dibayangkan, betapa sibuknya sang penjual hollahop itu meladeni anak-anak yang meminjam hollahop dagangannya. Belum lagi kalau dia harus mengumpulkan kembali hollahop yang berserakan, yang tidak dikembalikan ke tempatnya semula oleh si peminjam.

Aku salut dengan si penjual hollahop itu. Saat ini kulihat banyak orang yang berusaha mencari celah untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Bagi orang lain yang menangkap "peluang" itu, maka mungkin saja timbul dalam benaknya untuk "menyewakan" hollahop itu. Mungkin saja ongkos yang ditarik dari para penyewa tak akan mahal. Mungkin hanya berkisar antara Rp. 500 s/d Rp. 1.000 sekali pakai. Tapi ini mungkin lho...

Sementara si penjual di dekat sekolah Shasa ini enjoy aja membiarkan barang dagangannya dipinjem untuk dipakai anak-anak bermain. Dia membiarkan anak-anak memilih sendiri hollahop yang diinginkannya untuk dipakai bermain. Bahkan..., dia rela mengumpulkan kembali hollahop dagangannya yang lupa dikembalikan oleh si peminjam. Salut benar aku.... Padahal penjual itu masih sangat muda (eh.., nyambung gak sih whekekeke).

Selama aku menunggu Shasa pulang sekolah, aku melihat bahwa para peminjam hollahop lebih banyak dibandingkan dengan pembeli hollahop. Selama aku mengamati kejadian itu, aku hanya melihat ada 1 orang pembeli yang membeli dagangannya. Sementara..., yang meminjam hollahopnya tak terhitung jumlahnya !! Aku jadi mikir.., berapa keuntungan yang didapatnya dari menjual sebuah hollahop itu ya ??

Ternyata, dari penjual hollahop ini aku mendapat pelajaran kehidupan. Tak semua orang bernafsu untuk mengejar lebih banyak harta. Tak semua orang berambisi untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Ada kebahagiaan dan kepuasan lain yang ingin diraihnya. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain kalah penting oleh kebutuhan ekonomi.

Tak ada yang patut dipersalahkan. Semua orang berhak untuk meraih kebahagiaannya sendiri-sendiri. Semua orang berhak untuk memilih jalannya sendiri. Namun..., rasanya akan lebih sempurna hidup ini apabila keberadaan kita juga memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain.

Ternyata, untuk membuat hidup kita berarti tak perlu harus melakukan hal yang sulit. Tak perlu pula harus menunggu melakukan sesuatu hal yang "besar". Ada banyak cara sederhana yang mampu membuat orang lain tersenyum bahagia.... Tak ada salahnya belajar dari si penjual hollahop itu. Sebagaimana orang bijak pernah mengatakan : mutiara itu darimana pun asalnya tetap mutiara juga.

Hollahop

Siapa yang belum tahu permainan hollahop ini ? Rasanya, permainan (sekaligus olah raga) ini sudah banyak dikenal oleh masyarakat. Bukan hanya orang dewasa, tapi anak-anak pun sudah banyak yang tahu bahkan mahir dalam memainkannya.

Beberapa bulan terakhir ini, memang permainan hollahop sedang "musim" lagi di Madiun. Beda dengan buah pisang, yang bisa terus berbuah tanpa mengenal musim.... Ternyata pemainan hollahop ini mengenal musim !! Mengingat sudah lama sekali permainan ini "hilang" dan kini... hop... !! Dia datang lagi.... Senengnya punya mainan baru.


Shasa sedang semangat berlatih main hollahop

Terus terang, aku dari dulu belum pernah memainkannya. Makanya, waktu Shasa minta dibeliin hollahop ini, aku langsung setuju aja. Selain Shasa ingin belajar memainkannya.., aku juga punya keinginan yang sama. Hehehehe *gak mau kalah ceritanya* So.., sekarang aku dan Shasa sedang hobby maen hollahop nih. Asyik juga ternyata. Dan.., capek juga. Gak apa-apa.., hitung-hitung olah raga ringan hehehe.

Aku punya cerita menarik tentang penjual hollahop ini. Kebetulan ada seorang penjual hollahop yang tiap hari berjualan tak jauh dari sekolah Shasa. Hollahop yang dijualnya itu ditaruhnya di atas sepedanya, yang disandarkannya pada sebuah pohon dekat sekolah Shasa.

Setiap waktu anak-anak pulang sekolah, penjual hollahop itu "laris". Eits.. jangan salah sangka..., bukan laris terjual hollahop-nya. Tapi..., hollahop itu laris dipinjem anak-anak yang baru pulang sekolah. Anak-anak itu bebas mengambil dan memilih sendiri hollahop yang ada di sepeda penjualnya. Sambil menunggu jemputan, anak-anak itu bermain hollahop sepuasnya !!

Untuk anak-anak yang "ngerti" setelah selesai bermain, mereka mengembalikan hollahop itu di atas sepeda penjualnya. Tapi, tak jarang ada anak-anak yang gak "ngerti" juga. Setelah tahu penjemputnya datang, hollahop itu diletakkan begitu saja di tanah. Kalau sudah begitu, sang penjual hollahop harus mengumpulkan kembali hollahop yang sudah selesai dipinjam gratis itu.

Padahal.., jadwal pulang anak-anak SD berbeda-beda. Untuk anak-anak kelas rendah, jadwal pulangnya tentu lebih pagi dibanding dengan anak-anak kelas yang lebih tinggi. Jadi bisa dibayangkan, betapa sibuknya sang penjual hollahop itu meladeni anak-anak yang meminjam hollahop dagangannya. Belum lagi kalau dia harus mengumpulkan kembali hollahop yang berserakan, yang tidak dikembalikan ke tempatnya semula oleh si peminjam.

Aku salut dengan si penjual hollahop itu. Saat ini kulihat banyak orang yang berusaha mencari celah untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Bagi orang lain yang menangkap "peluang" itu, maka mungkin saja timbul dalam benaknya untuk "menyewakan" hollahop itu. Mungkin saja ongkos yang ditarik dari para penyewa tak akan mahal. Mungkin hanya berkisar antara Rp. 500 s/d Rp. 1.000 sekali pakai. Tapi ini mungkin lho...

Sementara si penjual di dekat sekolah Shasa ini enjoy aja membiarkan barang dagangannya dipinjem untuk dipakai anak-anak bermain. Dia membiarkan anak-anak memilih sendiri hollahop yang diinginkannya untuk dipakai bermain. Bahkan..., dia rela mengumpulkan kembali hollahop dagangannya yang lupa dikembalikan oleh si peminjam. Salut benar aku.... Padahal penjual itu masih sangat muda (eh.., nyambung gak sih whekekeke).

Selama aku menunggu Shasa pulang sekolah, aku melihat bahwa para peminjam hollahop lebih banyak dibandingkan dengan pembeli hollahop. Selama aku mengamati kejadian itu, aku hanya melihat ada 1 orang pembeli yang membeli dagangannya. Sementara..., yang meminjam hollahopnya tak terhitung jumlahnya !! Aku jadi mikir.., berapa keuntungan yang didapatnya dari menjual sebuah hollahop itu ya ??

Ternyata, dari penjual hollahop ini aku mendapat pelajaran kehidupan. Tak semua orang bernafsu untuk mengejar lebih banyak harta. Tak semua orang berambisi untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Ada kebahagiaan dan kepuasan lain yang ingin diraihnya. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain kalah penting oleh kebutuhan ekonomi.

Tak ada yang patut dipersalahkan. Semua orang berhak untuk meraih kebahagiaannya sendiri-sendiri. Semua orang berhak untuk memilih jalannya sendiri. Namun..., rasanya akan lebih sempurna hidup ini apabila keberadaan kita juga memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain.

Ternyata, untuk membuat hidup kita berarti tak perlu harus melakukan hal yang sulit. Tak perlu pula harus menunggu melakukan sesuatu hal yang "besar". Ada banyak cara sederhana yang mampu membuat orang lain tersenyum bahagia.... Tak ada salahnya belajar dari si penjual hollahop itu. Sebagaimana orang bijak pernah mengatakan : mutiara itu darimana pun asalnya tetap mutiara juga.

Senin, 23 Maret 2009

Berbagi bahagia dan Award

Untuk semua yang udah bela-belain mampir di sini, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Maaf kalo akhir-akhir ini postinganku cuma tentang award. Bukan bermaksud menyombongkan diri. Bukan pula bermaksud untuk pamer... Tapi, ini adalah bentuk penghargaanku dan terima kasihku pada sobat-sobat blogger yang telah ikhlas berbagi kebahagiaan denganku.

Berbagi rasa bahagia sebenarnya adalah hal yang sederhana. Tapi tak semua orang bisa melakukannya. Rasanya, lebih mudah untuk berbagi derita. Betapa seringnya kita mendengar orang mengeluh. Betapa mudahnya orang mengadu akan nasib buruknya. Tapi.., untuk berbagi bahagia apalagi "rejeki" dengan orang lain..., ternyata tak semudah itu.

Award yang sedang simpang siur di dunia blogsphere ini memang bisa dipandang secara beragam. Ada yang menganggapnya hanya berupa "hadiah" berantai yang tak terlalu istimewa. Ada yang menganggapnya sebagai suatu pengakuan akan keberadaan seorang blogger. Atau mungkin ada yang berpendapat lain. Apapun pendapatnya, menurutku sih sah-sah saja. Tapi, kalau menurutku pribadi..., aku sangat senang menerima award-award itu. Sungguh.. !!

Bagiku, award ini semacam hadiah. Award dimataku adalah bentuk perhatian dari sobat blogger lainnya. Mendapat perhatian tentu saja menyenangkan, bukan ?? Apalagi..., di antara sekian banyak blogger yang ada di dunia maya ini, aku terpilih untuk menerima salah satu bentuk perhatian dari sobat blogger lainnya. Terlebih lagi.., selama ini aku belum pernah ketemu langsung dengan salah satu dari mereka. Jadi, dengan adanya award ini, yang kurasakan adalah "kedekatan" yang kian terasa erat. Hmm..., bagiku hal itu indah sekali (jangan bilang aku lebay yach ?? Hehehe).

Apalagi, bila ada seorang sobat blogger menerima award dan kemudian melemparkannya padaku..., aku merasa tersanjung sekali. Kenapa begitu ?? Karena, di saat sobat blogger itu bahagia karena mendapat award, dia masih ingat untuk berbagi kebahagiaan itu denganku. Hebat bukan ?? Soalnya, bagi si penerima award sah-sah saja apabila dia tidak ingin melemparkan lagi award itu pada sobat blogger yang lain bukan ?? Tidak ada keharusan yang mengharuskan seorang penerima award untuk meneruskannya pada orang lain, kok.

Tapi kawan..., itu semua dari sudut pandangku. Tentu saja ada yang tidak sependapat denganku. It's OK. Memang manusia diciptakan berbeda-beda. Tapi perbedaan tidak harus menyebabkan perpecahan, bukan ?? Justru perbedaan yang ada akan makin melengkapi kita sebagai manusia, satu sama lain.

Kembali ke award kawan..., kali ini aku kembali merasa bangga dan bahagia karena mbak Dhe telah berbagi awardnya denganku. Mbak Dhe meneruskan tongkat estafet menerima 4 buah award yang diterimanya kepadaku. Tentu saja aku sangat senang menerimanya. Bukan hanya 1 award, tapi sekaligus 4 buah award !! Sampai kerepotan aku membawanya ....

Tapi..., salah satu awardnya (friendly blogger award 2009) juga baru saja aku peroleh dari mbak Kuyus. Sementara ketiga award lainnya dari mbak Dhe adalah seperti di bawah ini :


Karena aku merasa bahagia setiap menerima award dari sobat-sobat blogger lainnya, makanya sekarang aku juga ingin berbagi bahagia ini dengan sobat blogger lainnya. Kali ini yang mendapatkan award ini dariku adalah :

  1. Kuyus is cute : sekarang ganti aku yang memberikan 3 award sekaligus untuk mbak Kuyus !! Thanks ya untuk semua kebaikan hati selama ini. It's very nice to know you.
  2. Mila Said : makasih untuk dukungannya selama ini. Semoga award ini bisa membangkitkan semangat untuk ngeblog lagi...
  3. Mbak Wendy : yang slama ini sangat hangat dan bersahabat. Akan sangat sepi tanpa 'kehadiran' mbak Wendy...
  4. Zener : yang menjadi favorit sesama blogger lainnya.
  5. Budiawan hutasoit : yang telah banyak memberikan dukungan moril untuk selalu semangat ngeblog.
  6. Bias Embun Pagi : yang selalu menentramkan hati
  7. Marcellino Agatha : yang telah membantu dan memberikan masukan yang bermanfaat
  8. Erik : yang telah rajin mengunjungi rumah mayaku ini.
  9. Amalia Hazen : yang telah banyak mengajak untuk lebih bijak memandang hidup ini
  10. Shasa imutz : yang telah semangat belajar nulis lewat media blog. Semoga award ini makin menguatkan semangat untuk belajar nulis ya....
Oke..., untuk sementara itulah kebahagiaan yang bisa aku bagikan pada sobat-sobat blogger lainnya. Semoga aja dapat diterima dengan kebahagiaan juga. Melalui award ini, semoga makin terjalin keakraban dan kedekatan antara kita. Terima kasih telah berbagi denganku selama ini... Salam persahabatan.

Sepertinya aku harus mulai menyediakan tempat khusus nih untuk award yang sudah kuterima. Ada saran untukku ??