Rabu, 06 Mei 2009

Awas ada pencuri ... !!!

Di saat harga-harga melambung tinggi, sementara lapangan kerja makin sulit di dapat seperti sekarang ini, maka tak mengherankan kalau kejahatan kini semakin marak. Di saat kebutuhan sudah semakin mendesak, sementara sudah tak ada lagi jalan keluar, maka seringkali membuat seseorang menjadi nekad. Di saat harapan dirasa semakin sulit didapat, seringkali membuat seseorang jadi gelap mata.

Himpitan ekonomi seringkali menjadi penyebab dari berbagai kejahatan yang terjadi. Sering terdengar kabar seseorang yang nekad mencuri hanya untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Ada ibu yang nekad mencuri sekotak susu dari sebuah toko swalayan karena tak memiliki uang untuk membelikan susu anaknya. Ada seorang bapak yang nekad mencuri HP hanya agar bisa membeli beras.

Kondisi rawan seperti itulah yang kini sedang terjadi di lingkungan perumahanku. Dalam bulan terakhir ini sudah beberapa kali terjadi pencurian. Pencurian yang "besar" adalah pencurian sebuah mobil yang terparkir di depan pagar. Sementara yang lain adalah pencurian handphone, sepeda dan barang-barang kecil lainnya.

Seringkali suatu tindakan diambil setelah terjadi suatu peristiwa. Seharusnya langkah antisipasi sudah disiapkan sebelum hal buruk terjadi, bukan ?? Tapi itulah, seringkali keadaan aman mampu melenakan sehingga penjagaan jadi mengedor. Hebatnya, di saat seperti ini, pencuri yang waspada dan pandai membaca suasana bisa leluasa bergerak. Akibatnya... warga yang sudah terlanjur terlena menjadi kelabakan.

Hal tersebut membuat beberapa warga yang marah kemudian mengambil tindakan. Lingkungan perumahan yang sudah terbiasa tanpa "penjagaan" akhirnya dirasa perlu untuk dijaga. Sudah lama memang pos kamling di lingkungan perumahanku tidak difungsikan. Setelah kejadian itu, akhirnya beberapa warga bahu membahu untuk melakukan penjagaan lagi (di malam hari) di sekitar lingkungan perumahan kami.

Kejadian pencurian yang berulang itu sempat membuat emosi warga memuncak. Maka ketika suatu malam seorang pencuri berhasil ditangkap, maka emosi warga tertumpah padanya. Warga yang tak mampu menahan emosi sempat melancarkan beberapa pukulan pada si pencuri. Tentu saja si pencuri tak berdaya menghadapi kemarahan warga.

Fakta yang aku lihat adalah pencuri yang tertangkap tangan hendak mencuri itu belum sempat melakukan aksinya. Namun beberapa kejadian sebelumnya membuat warga sudah tidak mau kompromi lagi. Padahal belum tentu pencuri yang saat itu dihajar warga adalah pencuri yang telah melakukan beberapa pencurian sebelumnya.

Yang aku pikirkan adalah bagaimana jika pencuri yang tertangkap tangan itu bukanlah pencuri yang sebelumnya beroperasi di lingkungan perumahanku ? Bagaimana jika sebenarnya pencuri itu adalah pencuri amatiran, dan karena belum berpengalaman makanya tertangkap bahkan sebelum melakukan aksinya ? Bagaimana jika pencuri itu adalah termasuk orang yang nekad mencuri karena anaknya kelaparan di rumah ?

Bukan maksudku membenarkan tindakan pencuri itu. Tapi entah mengapa yang tergambar di benakku adalah anak-anak yang menangis di tengah malam karena kelaparan. Sementara ayahnya yang ditunggu kedatangannya dengan membawa makanan ternyata tak kunjung pulang ? Bagaimana perasaan anak dan istrinya saat di puncak kelaparannya mendapat kabar bahwa sang tulang punggung keluarganya ternyata mendekam di penjara karena ketahuan "hendak" mencuri ?

Pencurian adalah tetap pencurian dan kejahatan adalah tetap kejahatan. Tapi menghajar seorang pencuri yang belum sempat beraksi, bahkan tanpa mengetahui alasannya nekad mencuri, rasanya juga sangat tidak adil.

Aku jadi gelisah mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab atas orang-orang yang tidak berdaya karena terjepit kemiskinan ? Siapa yang bersalah, yang tidak menyediakan lapangan kerja atau orang yang putus asa dan nekad melakukan perbuatan dosa ?

Aku masih terpaku dalam rasa ngilu......




Awas ada pencuri ... !!!

Di saat harga-harga melambung tinggi, sementara lapangan kerja makin sulit di dapat seperti sekarang ini, maka tak mengherankan kalau kejahatan kini semakin marak. Di saat kebutuhan sudah semakin mendesak, sementara sudah tak ada lagi jalan keluar, maka seringkali membuat seseorang menjadi nekad. Di saat harapan dirasa semakin sulit didapat, seringkali membuat seseorang jadi gelap mata.

Himpitan ekonomi seringkali menjadi penyebab dari berbagai kejahatan yang terjadi. Sering terdengar kabar seseorang yang nekad mencuri hanya untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Ada ibu yang nekad mencuri sekotak susu dari sebuah toko swalayan karena tak memiliki uang untuk membelikan susu anaknya. Ada seorang bapak yang nekad mencuri HP hanya agar bisa membeli beras.

Kondisi rawan seperti itulah yang kini sedang terjadi di lingkungan perumahanku. Dalam bulan terakhir ini sudah beberapa kali terjadi pencurian. Pencurian yang "besar" adalah pencurian sebuah mobil yang terparkir di depan pagar. Sementara yang lain adalah pencurian handphone, sepeda dan barang-barang kecil lainnya.

Seringkali suatu tindakan diambil setelah terjadi suatu peristiwa. Seharusnya langkah antisipasi sudah disiapkan sebelum hal buruk terjadi, bukan ?? Tapi itulah, seringkali keadaan aman mampu melenakan sehingga penjagaan jadi mengedor. Hebatnya, di saat seperti ini, pencuri yang waspada dan pandai membaca suasana bisa leluasa bergerak. Akibatnya... warga yang sudah terlanjur terlena menjadi kelabakan.

Hal tersebut membuat beberapa warga yang marah kemudian mengambil tindakan. Lingkungan perumahan yang sudah terbiasa tanpa "penjagaan" akhirnya dirasa perlu untuk dijaga. Sudah lama memang pos kamling di lingkungan perumahanku tidak difungsikan. Setelah kejadian itu, akhirnya beberapa warga bahu membahu untuk melakukan penjagaan lagi (di malam hari) di sekitar lingkungan perumahan kami.

Kejadian pencurian yang berulang itu sempat membuat emosi warga memuncak. Maka ketika suatu malam seorang pencuri berhasil ditangkap, maka emosi warga tertumpah padanya. Warga yang tak mampu menahan emosi sempat melancarkan beberapa pukulan pada si pencuri. Tentu saja si pencuri tak berdaya menghadapi kemarahan warga.

Fakta yang aku lihat adalah pencuri yang tertangkap tangan hendak mencuri itu belum sempat melakukan aksinya. Namun beberapa kejadian sebelumnya membuat warga sudah tidak mau kompromi lagi. Padahal belum tentu pencuri yang saat itu dihajar warga adalah pencuri yang telah melakukan beberapa pencurian sebelumnya.

Yang aku pikirkan adalah bagaimana jika pencuri yang tertangkap tangan itu bukanlah pencuri yang sebelumnya beroperasi di lingkungan perumahanku ? Bagaimana jika sebenarnya pencuri itu adalah pencuri amatiran, dan karena belum berpengalaman makanya tertangkap bahkan sebelum melakukan aksinya ? Bagaimana jika pencuri itu adalah termasuk orang yang nekad mencuri karena anaknya kelaparan di rumah ?

Bukan maksudku membenarkan tindakan pencuri itu. Tapi entah mengapa yang tergambar di benakku adalah anak-anak yang menangis di tengah malam karena kelaparan. Sementara ayahnya yang ditunggu kedatangannya dengan membawa makanan ternyata tak kunjung pulang ? Bagaimana perasaan anak dan istrinya saat di puncak kelaparannya mendapat kabar bahwa sang tulang punggung keluarganya ternyata mendekam di penjara karena ketahuan "hendak" mencuri ?

Pencurian adalah tetap pencurian dan kejahatan adalah tetap kejahatan. Tapi menghajar seorang pencuri yang belum sempat beraksi, bahkan tanpa mengetahui alasannya nekad mencuri, rasanya juga sangat tidak adil.

Aku jadi gelisah mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab atas orang-orang yang tidak berdaya karena terjepit kemiskinan ? Siapa yang bersalah, yang tidak menyediakan lapangan kerja atau orang yang putus asa dan nekad melakukan perbuatan dosa ?

Aku masih terpaku dalam rasa ngilu......




Selasa, 05 Mei 2009

Penghargaan

Penghargaan adalah bentuk apresiasi kepada suatu prestasi tertentu yang diberikan baik oleh perorangan ataupun suatu lembaga. Penghargaan itu tidak hanya berupa materi materi semata, tapi dapat juga berupa non materi. Apapun bentuknya, penghargaan akan memberikan kebanggaan dan kesenangan bagi siapa saja yang menerimanya.

Penghargaan dapat diberikan oleh siapa saja, kepada siapa saja. Alasan pemberian penghargaan itu bermacam-macam, tergantung dari si pemberi penghargaan. Penghargaan yang paling sederhana adalah ucapan terima kasih dan kata-kata pujian atau sanjungan.

Penghargaan yang berupa materi biasanya berwujud uang ataupun barang. Sementara besar kecilnya, tergantung pada si pemberi penghargaan. Kalau berkaitan dengan prestasi, biasanya penghargaan itu berupa trophy, atau piala, atau award atau medali atau bisa juga sertifikat/piagam.

Dan kini, aku kembali menerima penghargaan dari sahabat berupa sebuah award yang cantik. Award itu aku peroleh dari Not9 (lagi). Terima kasih banyak atas award yang kau kirimkan untukku ini. Sebuah penghargaan yang tulus dari seorang sahabat. Dan sebagaimana tujuan diberikannya award, aku senang dan bangga sekali menerimanya.

Maka sebagai wujud penghargaanku juga atas blog sahabat yang sering aku kunjungi, maka award yang cantik ini akan aku bagikan lagi kepada :

Selesai sudah. Semoga penghargaan yang aku bagikan ini dapat diterima dengan senang hati. Salam persahabatan...

Penghargaan

Penghargaan adalah bentuk apresiasi kepada suatu prestasi tertentu yang diberikan baik oleh perorangan ataupun suatu lembaga. Penghargaan itu tidak hanya berupa materi materi semata, tapi dapat juga berupa non materi. Apapun bentuknya, penghargaan akan memberikan kebanggaan dan kesenangan bagi siapa saja yang menerimanya.

Penghargaan dapat diberikan oleh siapa saja, kepada siapa saja. Alasan pemberian penghargaan itu bermacam-macam, tergantung dari si pemberi penghargaan. Penghargaan yang paling sederhana adalah ucapan terima kasih dan kata-kata pujian atau sanjungan.

Penghargaan yang berupa materi biasanya berwujud uang ataupun barang. Sementara besar kecilnya, tergantung pada si pemberi penghargaan. Kalau berkaitan dengan prestasi, biasanya penghargaan itu berupa trophy, atau piala, atau award atau medali atau bisa juga sertifikat/piagam.

Dan kini, aku kembali menerima penghargaan dari sahabat berupa sebuah award yang cantik. Award itu aku peroleh dari Not9 (lagi). Terima kasih banyak atas award yang kau kirimkan untukku ini. Sebuah penghargaan yang tulus dari seorang sahabat. Dan sebagaimana tujuan diberikannya award, aku senang dan bangga sekali menerimanya.

Maka sebagai wujud penghargaanku juga atas blog sahabat yang sering aku kunjungi, maka award yang cantik ini akan aku bagikan lagi kepada :

Selesai sudah. Semoga penghargaan yang aku bagikan ini dapat diterima dengan senang hati. Salam persahabatan...

Senin, 04 Mei 2009

Buku Murah

Siapa pun tahu bahwa buku di Indonesia relatif mahal. Apalagi untuk golongan menengah ke bawah, harga buku yang selangit seringkali membuat mereka kesulitan untuk memiliki buku-buku yang bagus dan berkualitas. Kalaupun sampai bisa membeli buku, berarti mereka harus mengesampingkan kepentingan yang lain terlebih dahulu.

Untuk aku yang termasuk suka membaca, maka keberadaan buku sangat penting. Keberadaan Buku dan Toko Buku adalah hal yang menyenangkan hatiku. Aku ingat, kejadian di saat aku masih sekolah dulu. Beberapa kali saat aku libur sekolah dan kebetulan ibuku dinas ke Surabaya, aku diajak serta. Bukan untuk ikut dalam acara dinasnya, tapi aku akan "ditinggalkan" di Toko Buku yang ada di Surabaya. Hehehe...

Maklum saja, untuk mendapatkan buku-buku baru saat itu memang sulit dilakukan di Madiun. Toko buku yang ada di Madiun lebih banyak menyediakan buku-buku pelajaran sekolah. Sementara untuk buku-buku bacaan lainnya, meskipun ada tapi jenisnya terbatas sekali.

Makanya waktu aku kuliah di Yogyakarta aku seneng banget bisa berkesempatan membeli buku dengan harga miring di beberapa tempat. Untuk kantong anak kost sepertiku, membeli buku adalah "barang mewah". Apalagi untuk bisa membeli buku aku harus berhemat selama beberapa waktu. So, kalau aku dapat buku yang murah... senanglah hatiku !!

Sudah jadi kebiasaanku, kalau aku pergi keluar kota (Solo, Yogyakarta, Surabaya dan Malang) maka aku akan menyempatkan diri datang ke Toko Buku. Selain cari buku yang tidak bisa kutemukan di Madiun, aku juga cari buku diskonan !! Berburu buku murah jadi rekreasi tersendiri bagiku hehehe...

Makanya, aku berusaha lewat beberapa cara untuk bisa mendapatkan buku yang murah. Sebenarnya buku murah akan mudah didapat saat ada pameran buku. Sayang sekali, selama ini di Madiun baru sekali ada pameran buku. Untuk keperluan ini, ada beberapa teman yang telah membantuku untuk mendapatkan buku-buku yang kuinginkan dengan harga murah.

Walaupun sekarang ada Toko Buku Salemba dan Toko Buku Toga Mas di Madiun, tapi tetap saja aku masih suka berburu buku murah. Dan, beberapa saat yang lalu aku menemukan 3 buah buku murah di Toko Buku Toga Mas. Memang bukan buku cetakan terbaru sih, tapi aku tetap ingin membelinya (apalagi harganya murah !!). Ketiga buku itu adalah :

  • Murder in Teh Mews (Agatha Christie, Gramedia, 2003) seharga Rp. 7.500
  • Hannibal (Thomas Harris, Gramedia, 2001) seharga Rp. 10.000
  • When The Wind Blows (James Patterson, Gramedia, 2006) seharga Rp. 10.000
Kemudian, Minggu tanggal 3 Mei 2009 yang lalu saat aku mengantarkan Shasa ikut lomba English Poetry for Children aku melihat spanduk Bazaar Buku Murah. Maka, saat ada waktu menunggu pengumuman dari juri aku menyempatkan mampir untuk melihat-lihat. Ternyata..., banyak buku yang dijual murah saudara-saudara...!!

Maka, seperti orang lapar mata, aku sekaligus memborong 7 buah buku untuk Shasa. So pasti, Shasa kegirangan sekali menerima buku sebanyak itu sekaligus. Buku-buku yang kubeli saat itu adalah :

  • Misi # 22 : Tantangan (Yunita Candra Sari, Dar! Mizan, 2005) seharga Rp. 10.000
  • Tangan-tangan Mungil Melukis Langit (Faiz dkk, Lingkar Pena, 2008) seharga Rp. 9.750
  • Anak-anak Masa Depan (Ali Shahab, Dar! Mizan, 2005) seharga Rp. 8.000
  • Markum yang Cerdik (Zaenal Radar T., Dar! Mizan, 2004) seharga Rp. 6.500
  • Naluri dan Nalari (Hasif Palajati, Dar! Mizan, 2005) seharga Rp. 6.500
  • Sepedaku Sayang (Laila Hilaliyah, Dar! Mizan, 2004) seharga Rp. 6.000
  • Rambut Tito dan Bel Ajaib (Benny Rhamdani, Dar! Mizan, 2005) seharga Rp. 4.000
Untungnya..., selama ini suamiku tidak pernah protes dengan kebiasaan burukku yang seringkali lapar mata saat melihat buku yang dijual murah. Hehehe... thanks a lot, dear...