Selasa, 02 Juni 2009

Sang revolusioner : Muhammad Yunus

Suatu kali aku mendapatkan email dari Mas Trimatra. Intinya, mulai Bulan Juni 2009 mas Trimatra ingin membuat Slim Magazine Blogger. Dan untuk kepentingan itu, Mas Trimatra mengundang 10 orang untuk mengisi kolom sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Untuk edisi pertama, aku dipilih untuk mengisi kolom "ekonomi". Awalnya aku merasa keberatan dan merasa tidak akan mampu memenuhinya.


Tapi kemudian aku teringat tokoh yang sangat revolusioner di bidang ekonomi : Muhammad Yunus !! Maka, akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan saja tentang keberhasilan Muhammad Yunus dalam mengentas kemiskinan di negaranya melalui Bank Grameen yang sangat inovatif sekaligus berpengaruh di dunia.

Kali ini aku tidak akan bercerita tentang Bank Grameen karena sudah aku tuliskan semuanya di Slim Magazine edisi pertama. Kali ini aku hanya ingin bercerita tentang sang revolusioner : Muhammad Yunus !

Ketertarikan pria kelahiran Chittagong tahun 1940 itu terhadap kaum miskin dimulai sejak tahun 1974. Saat itu Yunus, yang merupakan profesor ekonomi di Universitas Chittagong, sedang memimpin para mahasiswa berkunjung ke desa-desa miskin di Bangladesh. Dalam kunjungan tersebut dia kaget saat menyaksikan warga miskin bertahan dari kelaparan yang melanda negara itu, yang telah menewaskan ratusan ribu orang.

Menyaksikan keadaan itu, dia merasa sangat berdosa. Dari perasaan itulah, dia mulai mengembangkan konsep pemberdayaan kaum miskin. Filosofi yang dibangunnya adalah bagaimana membantu kaum miskin agar mereka bisa mengangkat derajat mereka sendiri.
"Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan kemiskinan itu. Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum miskin menjadi guru saya." (penjelasan Yunus mengenai penyebab keterlibatannya dengan kaum miskin)
Upayanya membantu kaum miskin semakin berkembang setelah dia membentuk Bank Grameen sebagai sarananya. Melalui Bank Grameen inilah Yunus telah mengembangkan berbagai upaya dalam mengangkat harkat dan martabat kaum miskin. Ternyata..., setelah berjalan sekian tahun, terlihatlah hasil yang menggembirakan bahwa ternyata upaya Yunus membantu kaum miskin telah membuahkan hasil. Pengentasan kemiskinan bukan hanya jadi slogan semata di Bangladesh, karena ternyata kaum miskin dan para gelandangan angkanya semakin mengecil.

Dunia mengakui keberhasilan tersebut, bahkan kemudian mengadopsinya. Telah lebih dari 30 penghargaan internasional dan sekitar lebih dari 25 gelar kehormatan dari berbagai perguruan tinggi di dunia telah diperoleh Muhammad Yunus berkat konsep Bank Grameen yang digagasnya.

Bahkan, Komiter Nobel Norwegia telah memberikan Hadiah Perdamaian Nobel 2006 kepada Muhammad Yunus dan Bank Grameen. Ini untuk pertama kalinya, sebuah pemberantasan kemiskinan mendapatkan apresiasi. Untuk pertama kalinya yang menang bukanlah selebriti yang sudah terkenal di dunia, juga bukan figur yang dijagokan, melainkan orang yang peduli pada pemberdayaan kaum miskin dan wanita.

Komite Nobel mengatakan bahwa Yunus dan Bank Grameen telah menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari masyarakat banyak. Menurut pandangan Komite Nobel, perdamaian yang berkesinambungan tidak akan dapat dicapai kecuali ditemukan cara untuk keluar dari kemiskinan. Menurut merekan, pencegahan perang yang paling fundamental adalah pemberantasan kemiskinan. Perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan.

Muhammad Yunus dengan pemikirannya yang revolusioner telah tampil sebagai seorang pemimpin, yang menerapkan visinya ke dalam hal praktis demi peruntungan jutaan orang, tidak hanya di Bangladesh, tetapi juga di banyak negara. So.., sangat pantas jika Yunus kemudian menjadi inspirasi dan teladan bagi para pengambil keputusan di berbagai negara.

Kapan ya di Indonesia hadir seorang seperti Muhammad Yunus ?? *berharap mode on*

Sang revolusioner : Muhammad Yunus

Suatu kali aku mendapatkan email dari Mas Trimatra. Intinya, mulai Bulan Juni 2009 mas Trimatra ingin membuat Slim Magazine Blogger. Dan untuk kepentingan itu, Mas Trimatra mengundang 10 orang untuk mengisi kolom sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Untuk edisi pertama, aku dipilih untuk mengisi kolom "ekonomi". Awalnya aku merasa keberatan dan merasa tidak akan mampu memenuhinya.


Tapi kemudian aku teringat tokoh yang sangat revolusioner di bidang ekonomi : Muhammad Yunus !! Maka, akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan saja tentang keberhasilan Muhammad Yunus dalam mengentas kemiskinan di negaranya melalui Bank Grameen yang sangat inovatif sekaligus berpengaruh di dunia.

Kali ini aku tidak akan bercerita tentang Bank Grameen karena sudah aku tuliskan semuanya di Slim Magazine edisi pertama. Kali ini aku hanya ingin bercerita tentang sang revolusioner : Muhammad Yunus !

Ketertarikan pria kelahiran Chittagong tahun 1940 itu terhadap kaum miskin dimulai sejak tahun 1974. Saat itu Yunus, yang merupakan profesor ekonomi di Universitas Chittagong, sedang memimpin para mahasiswa berkunjung ke desa-desa miskin di Bangladesh. Dalam kunjungan tersebut dia kaget saat menyaksikan warga miskin bertahan dari kelaparan yang melanda negara itu, yang telah menewaskan ratusan ribu orang.

Menyaksikan keadaan itu, dia merasa sangat berdosa. Dari perasaan itulah, dia mulai mengembangkan konsep pemberdayaan kaum miskin. Filosofi yang dibangunnya adalah bagaimana membantu kaum miskin agar mereka bisa mengangkat derajat mereka sendiri.
"Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan. Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan kemiskinan itu. Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum miskin menjadi guru saya." (penjelasan Yunus mengenai penyebab keterlibatannya dengan kaum miskin)
Upayanya membantu kaum miskin semakin berkembang setelah dia membentuk Bank Grameen sebagai sarananya. Melalui Bank Grameen inilah Yunus telah mengembangkan berbagai upaya dalam mengangkat harkat dan martabat kaum miskin. Ternyata..., setelah berjalan sekian tahun, terlihatlah hasil yang menggembirakan bahwa ternyata upaya Yunus membantu kaum miskin telah membuahkan hasil. Pengentasan kemiskinan bukan hanya jadi slogan semata di Bangladesh, karena ternyata kaum miskin dan para gelandangan angkanya semakin mengecil.

Dunia mengakui keberhasilan tersebut, bahkan kemudian mengadopsinya. Telah lebih dari 30 penghargaan internasional dan sekitar lebih dari 25 gelar kehormatan dari berbagai perguruan tinggi di dunia telah diperoleh Muhammad Yunus berkat konsep Bank Grameen yang digagasnya.

Bahkan, Komiter Nobel Norwegia telah memberikan Hadiah Perdamaian Nobel 2006 kepada Muhammad Yunus dan Bank Grameen. Ini untuk pertama kalinya, sebuah pemberantasan kemiskinan mendapatkan apresiasi. Untuk pertama kalinya yang menang bukanlah selebriti yang sudah terkenal di dunia, juga bukan figur yang dijagokan, melainkan orang yang peduli pada pemberdayaan kaum miskin dan wanita.

Komite Nobel mengatakan bahwa Yunus dan Bank Grameen telah menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari masyarakat banyak. Menurut pandangan Komite Nobel, perdamaian yang berkesinambungan tidak akan dapat dicapai kecuali ditemukan cara untuk keluar dari kemiskinan. Menurut merekan, pencegahan perang yang paling fundamental adalah pemberantasan kemiskinan. Perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan.

Muhammad Yunus dengan pemikirannya yang revolusioner telah tampil sebagai seorang pemimpin, yang menerapkan visinya ke dalam hal praktis demi peruntungan jutaan orang, tidak hanya di Bangladesh, tetapi juga di banyak negara. So.., sangat pantas jika Yunus kemudian menjadi inspirasi dan teladan bagi para pengambil keputusan di berbagai negara.

Kapan ya di Indonesia hadir seorang seperti Muhammad Yunus ?? *berharap mode on*

Senin, 01 Juni 2009

Kekuatan doa dan cinta

Aku dulu pernah membaca buku yang tak akan pernah aku lupakan dan aku tahu pasti aku tak akan sanggup membacanya lagi suatu saat nanti. Buku itu menceritakan perjalanan hidup dari Enny Arief (adik kandung penulis Pipiet Senja). Atas hasil kolaborasi keduanya lewat dunia maya, maka terbitlah buku itu yang berjudul : Tuhan, Jangan Tinggalkan aku.

Cerita yang tertuang dalam buku itu membuatku menahan nafas, mengelus dada dan melawan rasa pedih di dada. Aku nyaris tak percaya mengapa kejadian-kejadian yang begitu mengenaskan harus terjadi. Sebuah perjalanan hidup yang mungkin bagiku sungguh tak tertanggungkan....



Keberanian Enny untuk berbagi kisah hidupnya yang kelam, hanyalah suatu upaya agar perjalanan hidupnya dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain. Agar orang lain dapat memetik hikmahnya.



Tokoh utama dalam buku ini adalah Enny Arief yang dari kecil digambarkan sebagai anak yang pemberontak, keras kepala dan punya impian tinggi. Karena sifat-sifat itulah, maka kesulitan demi kesulitan harus dilalui oleh Enny. Bermula saat dia dicampakkan oleh pria yang ternyata telah beristri dan punya 3 orang anak. Gara-gara pria itulah Enny hampir saja kehilangan nyawanya karena keracunan hebat akibat minum jamu-jamuan peluntur.

Kemudian dia dinikahi oleh seorang pria yang kaya sebagai istri kedua. Dari pernikahan inilah Enny memiliki seorang anak yang diberi nama Peter. Seorang anak yang amat sangat dicintai oleh Enny dan telah menjadi sumber kekuatan bagi Enny.

Sayangnya pernikahan itu kandas ditengah jalan karena pria itu ternyata bukanlah tipe setia. Bahkan suaminya itu suka berganti-ganti pasangan dan tanpa sungkan memamerkannya pada Enny dengan penuh kebanggaan. Namun pernikahan itu tidak berakhir dengan baik, karena mantan suami Enny sering sekali mengancam untuk menculik dan membunuh Peter.

Pada saat Enny sedang cemas akan kehilangan Peter, saat itulah dia menjalin hubungan dengan pria warga Belanda (namanya Gez) melalui klub Penpals Internasional. Terobsesi akan impiannya menjadi orang kaya dan tinggal di luar negeri, Enny menerima tawaran pria itu menikah. Maka.., berangkatlah Enny dan Peter (yang saat itu belum genap berumur 6 tahun) ke Belanda untuk memulai hidup baru.

Ternyata... impian tak seindah kenyataan. Kehidupan yang kelabu ternyata harus dilalui oleh Enny dan Peter. Ternyata, Gez adalah seorang interniran militer, penipu, pemabuk dan psikopat. Selama hidup bersamanya kehidupan Enny dan Peter semakin kelam.

Enny harus melayani kebutuhan seksualnya secara biadab, kapan pun dan dimana pun. Apabila ketahuan hendak mencoba lolos, maka Enny akan dihajar tanpa ampun sampai babak belur. Bahkan segala benda berharga dan paspor yang dibawa Enny dari Indonesia semuanya sudah disita oleh Gez.

Sungguh berat hidup yang harus dilalui Enny dan Peter selama bersama Gez. Aku tak sampai hati membayangkan betapa beratnya beban mereka hidup dalam siksaan, kecemasan, ancaman pembunuhan dan... kelaparan !! Siapapun pasti tak tega anaknya disuruh tinggal dalam kamar mandi sampai akhirnya menggigil kedingingan dan jatuh sakit. Tapi.., itulah perlakuan Gez kepada Peter.

Namun dalam berbagai penderitaan yang dilalui Enny bersama Peter, sangat tampak betapa besarnya kekuatan cinta Enny dan Peter.
Kupeluk erat-erat tubuh mungil anakku yang mulai banyak diam, hanya sesekali mencuri pandang, menatap wajahku dengan cemas. Aduuh, Tuhanku...segera kubuang jauh-jauh kecengengan yang membalut ragaku.
"Tenanglah, Nak, Mama kan sudah janji. Kemanapun dan dimanapun, kita akan selalu bersama, bersama!" (hal 142)

"Tuhanku, dengarlah sumpahku ini, jika Engkau tetap ada untuk kami berdua... Demi Engkau Yang Maha Tinggi, aku akan membesarkan anakku, dan memberinya masa depan sebaik-baiknya ! Dengarlah sumpah seorang ibu yang teraniaya ini, ya Tuhan, dengarlaaah !" (halaman 163)

Tangisku pecah jauh di dalam dada melihat hasrat dan kelahapan anakku. Secuil roti yang hanya pantas buat mainan tikus dan kecoa saat di tanah air. Namun, lihatlah Tuhan ! Hari-hari ini begitu dibutuhkan anakku sebagai pengganjal perutnya..." (halaman 149)
Yang membuatku makin tersayat adalah bahwa Peter, ternyata memahami bahwa hidupnya dan ibunya terancam bahaya. Mungkin jerit kesakitan ibunya, yang meskipun berusaha ditahan Enny sekuat tenaga, sampai juga ke telinga Peter. Setiap kali Enny selalu berpesan pada Peter agar tidak menangis ataupun berteriak selama ditinggal Enny "melayani" Gez.
"Iya... aku nggak akan nangis, Mama. Nggak akan jerit-jerit, Mama. Asalkan Mama ke sini lagi, hati-hati, ya Mama..." Dia mengiyakanku sambil berlinangan air mata, dipandanginya diriku dalam isak tertahan. (halaman 148)
Sungguh, aku tak sanggup membendung air mataku membacanya. Ya Allah, mengapa ada orang yang tega berbuat kejam kepada anak beranak itu ? Aku sungguh tak sanggup membayangkan trauma yang dialami Peter selama hidup bersama dengan Gez.

Sampai akhirnya, Enny dan Peter berhasil kabur dari rumah Gez. Itupun hanya berbekal paspor yang berhasil diambil dari kotak persembunyian Gez, sementara harta benda yang dibawa Enny dari Indonesia entah sudah dikemanakan Gez. Setelah sempat terlunta-lunta, kehidupan Enny dan Peter akhirnya berubah menjadi baik waktu mereka bertemu dengan Paul.

Kebaikan hati Paul telah meluluhkan Enny sehingga dia dan Paul akhirnya menikah. Paul sangat mencintai Enny dan Peter. Paul bisa menerima dan menyayangi Peter, bahkan saat Peter ketahuan mengidap kelainan psikologis : Kleptomania, sebagai dampak kekerasan yang dilakukan Gez. Enny dan Paul berusaha keras untuk memulihkan kesehatan mental dan jiwa Peter.

Kehidupan Enny selanjutnya tetaplah penuh perjuangan, namun dia mendapat dukungan sepenuhnya dari Paul. Yang kemudian terjadi, Enny kemudian berubah kewarganegaraan dan beralih keyakinan. Semua itu dilakukannya dengan sadar, dan tanpa paksaan. Meskipun akhirnya, 20 tahun kemudian pada saat Enny menderita sakit parah, Enny merasakan kehampaan yang tiada tara dalam batin dan jiwanya. Sampai akhirnya, Enny memutuskan untuk kembali lagi memeluk agama lamanya.

Ternyata, selama itu ibunda Enny di Indonesia, tak putus-putus mengirimkan doa agar Enny kembali mendapatkan hidayah. Bahkan, ibunda Enny tak segan-segan minta bantuan tetangga untuk ikut mendoakan Enny. Dan kini, Enny hidup dalam damai, terbebas dari rasa benci dan dendam. Enny telah berhasil memasrahkan semuanya pada Sang Kuasa.

Poin yang perlu dicatat dari buku ini adalah :
  • Kekuatan cinta orang tua dan anak telah mampu memberikan semangat yang luar biasa dalam menghadapi setiap permasalahan.
  • Doa seorang ibu adalah senjata yang sangat ampuh dalam menghadapi masalah.
  • Seburuk apapun tingkah dan perilaku sang anak, cinta orang tua tak akan pernah luntur. Hal itu dibuktikan oleh orang tua Enny yang tetap mencintai Enny, meskipun beberapa kali Enny telah mengecewakan mereka. Juga, cinta Enny pada Peter tak padam, meskipun beberapa kali Enny terlibat masalah karena penyakit Kleptomania yang diderita Peter.
Penulis : Pipiet Senja
Kategori : Non Fiksi ~ Memoar
Penerbit : Zikrul Hakim
Th. Terbit : 2007 (cetakan I)
Tebal : 202 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 28.000 (diskon)

Kekuatan doa dan cinta

Aku dulu pernah membaca buku yang tak akan pernah aku lupakan dan aku tahu pasti aku tak akan sanggup membacanya lagi suatu saat nanti. Buku itu menceritakan perjalanan hidup dari Enny Arief (adik kandung penulis Pipiet Senja). Atas hasil kolaborasi keduanya lewat dunia maya, maka terbitlah buku itu yang berjudul : Tuhan, Jangan Tinggalkan aku.

Cerita yang tertuang dalam buku itu membuatku menahan nafas, mengelus dada dan melawan rasa pedih di dada. Aku nyaris tak percaya mengapa kejadian-kejadian yang begitu mengenaskan harus terjadi. Sebuah perjalanan hidup yang mungkin bagiku sungguh tak tertanggungkan....



Keberanian Enny untuk berbagi kisah hidupnya yang kelam, hanyalah suatu upaya agar perjalanan hidupnya dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain. Agar orang lain dapat memetik hikmahnya.



Tokoh utama dalam buku ini adalah Enny Arief yang dari kecil digambarkan sebagai anak yang pemberontak, keras kepala dan punya impian tinggi. Karena sifat-sifat itulah, maka kesulitan demi kesulitan harus dilalui oleh Enny. Bermula saat dia dicampakkan oleh pria yang ternyata telah beristri dan punya 3 orang anak. Gara-gara pria itulah Enny hampir saja kehilangan nyawanya karena keracunan hebat akibat minum jamu-jamuan peluntur.

Kemudian dia dinikahi oleh seorang pria yang kaya sebagai istri kedua. Dari pernikahan inilah Enny memiliki seorang anak yang diberi nama Peter. Seorang anak yang amat sangat dicintai oleh Enny dan telah menjadi sumber kekuatan bagi Enny.

Sayangnya pernikahan itu kandas ditengah jalan karena pria itu ternyata bukanlah tipe setia. Bahkan suaminya itu suka berganti-ganti pasangan dan tanpa sungkan memamerkannya pada Enny dengan penuh kebanggaan. Namun pernikahan itu tidak berakhir dengan baik, karena mantan suami Enny sering sekali mengancam untuk menculik dan membunuh Peter.

Pada saat Enny sedang cemas akan kehilangan Peter, saat itulah dia menjalin hubungan dengan pria warga Belanda (namanya Gez) melalui klub Penpals Internasional. Terobsesi akan impiannya menjadi orang kaya dan tinggal di luar negeri, Enny menerima tawaran pria itu menikah. Maka.., berangkatlah Enny dan Peter (yang saat itu belum genap berumur 6 tahun) ke Belanda untuk memulai hidup baru.

Ternyata... impian tak seindah kenyataan. Kehidupan yang kelabu ternyata harus dilalui oleh Enny dan Peter. Ternyata, Gez adalah seorang interniran militer, penipu, pemabuk dan psikopat. Selama hidup bersamanya kehidupan Enny dan Peter semakin kelam.

Enny harus melayani kebutuhan seksualnya secara biadab, kapan pun dan dimana pun. Apabila ketahuan hendak mencoba lolos, maka Enny akan dihajar tanpa ampun sampai babak belur. Bahkan segala benda berharga dan paspor yang dibawa Enny dari Indonesia semuanya sudah disita oleh Gez.

Sungguh berat hidup yang harus dilalui Enny dan Peter selama bersama Gez. Aku tak sampai hati membayangkan betapa beratnya beban mereka hidup dalam siksaan, kecemasan, ancaman pembunuhan dan... kelaparan !! Siapapun pasti tak tega anaknya disuruh tinggal dalam kamar mandi sampai akhirnya menggigil kedingingan dan jatuh sakit. Tapi.., itulah perlakuan Gez kepada Peter.

Namun dalam berbagai penderitaan yang dilalui Enny bersama Peter, sangat tampak betapa besarnya kekuatan cinta Enny dan Peter.
Kupeluk erat-erat tubuh mungil anakku yang mulai banyak diam, hanya sesekali mencuri pandang, menatap wajahku dengan cemas. Aduuh, Tuhanku...segera kubuang jauh-jauh kecengengan yang membalut ragaku.
"Tenanglah, Nak, Mama kan sudah janji. Kemanapun dan dimanapun, kita akan selalu bersama, bersama!" (hal 142)

"Tuhanku, dengarlah sumpahku ini, jika Engkau tetap ada untuk kami berdua... Demi Engkau Yang Maha Tinggi, aku akan membesarkan anakku, dan memberinya masa depan sebaik-baiknya ! Dengarlah sumpah seorang ibu yang teraniaya ini, ya Tuhan, dengarlaaah !" (halaman 163)

Tangisku pecah jauh di dalam dada melihat hasrat dan kelahapan anakku. Secuil roti yang hanya pantas buat mainan tikus dan kecoa saat di tanah air. Namun, lihatlah Tuhan ! Hari-hari ini begitu dibutuhkan anakku sebagai pengganjal perutnya..." (halaman 149)
Yang membuatku makin tersayat adalah bahwa Peter, ternyata memahami bahwa hidupnya dan ibunya terancam bahaya. Mungkin jerit kesakitan ibunya, yang meskipun berusaha ditahan Enny sekuat tenaga, sampai juga ke telinga Peter. Setiap kali Enny selalu berpesan pada Peter agar tidak menangis ataupun berteriak selama ditinggal Enny "melayani" Gez.
"Iya... aku nggak akan nangis, Mama. Nggak akan jerit-jerit, Mama. Asalkan Mama ke sini lagi, hati-hati, ya Mama..." Dia mengiyakanku sambil berlinangan air mata, dipandanginya diriku dalam isak tertahan. (halaman 148)
Sungguh, aku tak sanggup membendung air mataku membacanya. Ya Allah, mengapa ada orang yang tega berbuat kejam kepada anak beranak itu ? Aku sungguh tak sanggup membayangkan trauma yang dialami Peter selama hidup bersama dengan Gez.

Sampai akhirnya, Enny dan Peter berhasil kabur dari rumah Gez. Itupun hanya berbekal paspor yang berhasil diambil dari kotak persembunyian Gez, sementara harta benda yang dibawa Enny dari Indonesia entah sudah dikemanakan Gez. Setelah sempat terlunta-lunta, kehidupan Enny dan Peter akhirnya berubah menjadi baik waktu mereka bertemu dengan Paul.

Kebaikan hati Paul telah meluluhkan Enny sehingga dia dan Paul akhirnya menikah. Paul sangat mencintai Enny dan Peter. Paul bisa menerima dan menyayangi Peter, bahkan saat Peter ketahuan mengidap kelainan psikologis : Kleptomania, sebagai dampak kekerasan yang dilakukan Gez. Enny dan Paul berusaha keras untuk memulihkan kesehatan mental dan jiwa Peter.

Kehidupan Enny selanjutnya tetaplah penuh perjuangan, namun dia mendapat dukungan sepenuhnya dari Paul. Yang kemudian terjadi, Enny kemudian berubah kewarganegaraan dan beralih keyakinan. Semua itu dilakukannya dengan sadar, dan tanpa paksaan. Meskipun akhirnya, 20 tahun kemudian pada saat Enny menderita sakit parah, Enny merasakan kehampaan yang tiada tara dalam batin dan jiwanya. Sampai akhirnya, Enny memutuskan untuk kembali lagi memeluk agama lamanya.

Ternyata, selama itu ibunda Enny di Indonesia, tak putus-putus mengirimkan doa agar Enny kembali mendapatkan hidayah. Bahkan, ibunda Enny tak segan-segan minta bantuan tetangga untuk ikut mendoakan Enny. Dan kini, Enny hidup dalam damai, terbebas dari rasa benci dan dendam. Enny telah berhasil memasrahkan semuanya pada Sang Kuasa.

Poin yang perlu dicatat dari buku ini adalah :
  • Kekuatan cinta orang tua dan anak telah mampu memberikan semangat yang luar biasa dalam menghadapi setiap permasalahan.
  • Doa seorang ibu adalah senjata yang sangat ampuh dalam menghadapi masalah.
  • Seburuk apapun tingkah dan perilaku sang anak, cinta orang tua tak akan pernah luntur. Hal itu dibuktikan oleh orang tua Enny yang tetap mencintai Enny, meskipun beberapa kali Enny telah mengecewakan mereka. Juga, cinta Enny pada Peter tak padam, meskipun beberapa kali Enny terlibat masalah karena penyakit Kleptomania yang diderita Peter.
Penulis : Pipiet Senja
Kategori : Non Fiksi ~ Memoar
Penerbit : Zikrul Hakim
Th. Terbit : 2007 (cetakan I)
Tebal : 202 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 28.000 (diskon)

Minggu, 31 Mei 2009

Mengatasi rasa malas

Entah kemana perginya semangatku. Sejak kemarin malam sampai pagi ini kok semangatku pergi dan belum kembali ya ? Sebenarnya dari kemarin aku sudah nulis postingan, tapi tidak berhasil aku selesaikan karena rasa malas terlebih dahulu memelukku. Baru jalan-jalan ke beberapa blog sahabat, aku sudah malas meneruskan. Maaf ya sahabat.., kalau sejak kemarin aku belum sempat menyapamu.

Aku tidak tahu kenapa rasa malas tiba-tiba datang dan tidak mau pergi meninggalkanku. Gemes banget aku rasanya. Berbagai upaya aku coba untuk menghilangkan rasa malas itu. Aku coba curhat via facebook dan beberapa sahabat datang dan mencoba menyemangati aku. Terima kasih semuanya....

Kemudian kucoba mencari kesenangan dengan main kuis yang ada di Facebook. Biasanya kuis-kuis yang lucu-lucu dan hasil yang super duper ajaib mampu membuatku tertawa geli. Lumayan berhasil juga ternyata. Tapi aku belum ingin berhenti..., aku ingin mengembalikan semua semangat yang aku miliki.

Nah.., kali ini aktivitas blogwalking aku lanjutkan lagi. Beberapa hal yang aku dapatkan dari acara jalan-jalan di siang hari ini ternyata semakin membuatku bersemangat lagi. Apalagi kemudian aku mendapatkan banyak award dari hasil jalan-jalanku itu.

Untuk lebih memompa semangatku lagi, maka aku akan langsung pajang deh award-award itu. Ini dia award-award itu...

Tanggal 27 Mei 2009, mas Awal Sholeh memberiku sebuah award. Terima kasih banyak ya... Award ini akan aku bagikan kembali kepada mas Dinoe, Dunia Polar, Rangga, Saga 02 dan kakve-santi.

Tanggal 29 Mei 2009, ganti Mbak Henny yang mengirimkan award kepadaku. Terima kasih banyak, mbak..... Award yang imut ini akan aku bagikan lagi kepada mbak Uke, mbak Loly, mbak Mulyati, mbak Narti dan mbak Peni.

Masih pada tanggal 29 Mei 2009, mbak Elly juga memberiku award. Sebuah award yang indah, makasih banyak mbak Elly. Seperti biasa juga, award ini akan aku bagikan kepada mas Yudie, mas Erik, bang Budiawan Hutasoit, bang Eri Communicator, Jeng Sri, mbak Kuyus, mbak Fanda dan Shasa imutz.

Lalu sebuah award yang aku terima dari 2 orang sahabat, yaitu Saga 02 (tanggal 29 Mei 2009) dan mbak Fanda (30 Mei 2009). Award yang bertemakan penyelamatan bumi ini akan aku bagikan kepada Attayaya,
Bang Seti@wan, buwel, not9, mas Awal Sholeh, Jonk dan Shasa imutz.

Masih pada tanggal 30 Mei 2009, aku mendapatkan award hasil karya Bang Seti@wan. Terima kasih banyak Bang, awardnya keren banget. Bang Seti@wan telah membagikan award ini merata kepada semua sahabatnya. Maka, aku ingin membaginya dengan mbak Sinta,
Mbak Henny , mbak Irma, Shasa Imutz dan kang dwi.

Nah..., sekarang aku sudah makin semangat nih..!! Semoga semangatku ini tidak akan luntur lagi. Persahabatan di dunia maya ini ternyata mampu juga menyemangatiku. Terima kasih semuanya...