Kamis, 23 Juli 2009

Kebun Teh Njamus

Aku masih ingin melanjutkan cerita jalan-jalanku kemarin. Setelah kami meninggalkan Taman Rekreasi Tawun di Ngawi, kami pun meluncur ke Kebun Teh Njamus, di lereng Gunung Lawu. Kami sama sekali belum tahu jalan ke sana, sehingga beberapa kali kami harus menanyakan jalan kepada penduduk yang kami lewati. Tak kusangka... jalan ke Kebun Teh Njamus menanjak sekali !!

Setelah menempuh jalan yang (menurutku) cukup panjang, berkelok-kelok dan menanjak.. akhirnya kami sampai juga di Perkebunan Teh Njamus. Subhanallah...., tak kusangka... pemandangannya indah sekali...!! Lenyap sudah keindahan alam yang sebelumnya kusaksikan di Tawun, dan berganti kekaguman yang tak ada hentinya akan keindahan alam yang ada di depan mata.

Kami menyaksikan hamparan kebun teh yang menghijau diantara gunung-gunung yang menjulang. Itu semua belum cukup, karena mata kami masih dimanjakan oleh keindahan air terjun yang ada di situ. Sewaktu kami sampai di tempat yang sangat lapang, kami mencium bau yang wangi sekali. Setelah kami mencari sumbernya, ternyata bau yang wangi itu berasal dari 3 buah pohon kantil yang besar sekali, tepat di atas mobil kami diparkir !! Masya Allah..., pemandangan yang indah dengan desiran angin yang lembut disertai bau yang wangi sekali. Rasanya tak ada lagi tempat yang lebih indah daripada di sini.

Tak jauh dari situ ada bangunan putih yang menjulang, yang konon katanya merupakan pabrik teh. Namun, aku tak sempat menanyakan kebenarannya kepada penduduk sekitar, karena kalau melihat bentuk bangunannya, aku percaya saja kalau bangunan itu memang bangunan pabrik teh. Bangunan pabrik itu berdekatan dengan rumah dinas administratur perkebunan teh itu. Aku jadi membayangkan..., betapa asyiknya bisa bermalam di tempat yang seasri itu pada akhir pekan ya..?


Pemandangan kebun teh Njamus

Kiri : pabrik teh, kanan : salah satu pohon kantil yang besar itu

Puas bermain di air terjun yang airnya dingin
Diantara rimbun daun teh

Kami cukup lama juga memanjakan diri dan mata kami memandang keindahan alam itu. Setelah hari menjelang sore, barulah kami dengan malas beranjak pulang. Semoga saja lain kali kami dapat kesana lagi....

Maaf kali ini aku tak mampu berkata banyak, segala keindahan yang aku saksikan rasanya tak mampu terwakili oleh kata-kata, sehingga aku memilih memajang sebanyak mungkin foto disini. Semoga foto-foto itu lebih mampu menceritakan bagaimana keindahan yang kami saksikan.

Kebun Teh Njamus

Aku masih ingin melanjutkan cerita jalan-jalanku kemarin. Setelah kami meninggalkan Taman Rekreasi Tawun di Ngawi, kami pun meluncur ke Kebun Teh Njamus, di lereng Gunung Lawu. Kami sama sekali belum tahu jalan ke sana, sehingga beberapa kali kami harus menanyakan jalan kepada penduduk yang kami lewati. Tak kusangka... jalan ke Kebun Teh Njamus menanjak sekali !!

Setelah menempuh jalan yang (menurutku) cukup panjang, berkelok-kelok dan menanjak.. akhirnya kami sampai juga di Perkebunan Teh Njamus. Subhanallah...., tak kusangka... pemandangannya indah sekali...!! Lenyap sudah keindahan alam yang sebelumnya kusaksikan di Tawun, dan berganti kekaguman yang tak ada hentinya akan keindahan alam yang ada di depan mata.

Kami menyaksikan hamparan kebun teh yang menghijau diantara gunung-gunung yang menjulang. Itu semua belum cukup, karena mata kami masih dimanjakan oleh keindahan air terjun yang ada di situ. Sewaktu kami sampai di tempat yang sangat lapang, kami mencium bau yang wangi sekali. Setelah kami mencari sumbernya, ternyata bau yang wangi itu berasal dari 3 buah pohon kantil yang besar sekali, tepat di atas mobil kami diparkir !! Masya Allah..., pemandangan yang indah dengan desiran angin yang lembut disertai bau yang wangi sekali. Rasanya tak ada lagi tempat yang lebih indah daripada di sini.

Tak jauh dari situ ada bangunan putih yang menjulang, yang konon katanya merupakan pabrik teh. Namun, aku tak sempat menanyakan kebenarannya kepada penduduk sekitar, karena kalau melihat bentuk bangunannya, aku percaya saja kalau bangunan itu memang bangunan pabrik teh. Bangunan pabrik itu berdekatan dengan rumah dinas administratur perkebunan teh itu. Aku jadi membayangkan..., betapa asyiknya bisa bermalam di tempat yang seasri itu pada akhir pekan ya..?


Pemandangan kebun teh Njamus

Kiri : pabrik teh, kanan : salah satu pohon kantil yang besar itu

Puas bermain di air terjun yang airnya dingin
Diantara rimbun daun teh

Kami cukup lama juga memanjakan diri dan mata kami memandang keindahan alam itu. Setelah hari menjelang sore, barulah kami dengan malas beranjak pulang. Semoga saja lain kali kami dapat kesana lagi....

Maaf kali ini aku tak mampu berkata banyak, segala keindahan yang aku saksikan rasanya tak mampu terwakili oleh kata-kata, sehingga aku memilih memajang sebanyak mungkin foto disini. Semoga foto-foto itu lebih mampu menceritakan bagaimana keindahan yang kami saksikan.

Selasa, 21 Juli 2009

Jalan-jalan ke Tawun

Aku dan suami sedang seneng mengajak Shasa jalan-jalan nih. Kebetulan masih ada waktu, sebelum kami semua kembali terperangkap dalam kesibukan masing-masing. Sebelum Shasa tenggelam diantara setumpuk kegiatan dan pekerjaan rumahnya dan sebelum aku plus suami makin dikejar dengan pekerjaan, maka acara jalan-jalan pun dilanjutkan kembali.

Saat ini kami sedang senang jalan-jalan ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh tapi memiliki pemandangan alam yang indah. Kali ini kami mengunjungi 2 tempat sekaligus. Yang pertama adalah Taman Rekreasi Tawun yang terletak di Ngawi.

Taman Rekreasi Tawun ini memiliki kolam bulus . Di sini banyak sekali bulus, dari yang kecil sampai yang besar. Sayang sekali, sulit banget untuk mengambil foto bulus-bulus itu. Mereka sembunyi terus di dalam air, sehingga tak tampak jelas untuk bisa diambil gambarnya. Sepertinya tempat ini memang tempat berkembang biaknya bulus, sehingga dibuatkan kolam khusus untuk bulus-bulus itu. Bahkan ada patung-patung bulus juga lho.


Foto bulus paling kiri, tidak terlihat jelas ya ?
Foto tengah dan kanan, Shasa foto di depan patung bulus

Ada juga kolam ikan. Ikan-ikannya banyak sekali, dan mereka bergerak mengikuti kemanapun kaki kami melangkah. Mungkin saja mereka mengira kami akan memberikan makanan, sehingga ikan-ikan itu mengikuti kami terus.


Foto ikan yang bergerombol mengikuti kami dan teratai yang indah

Selain itu, ada taman bermain anak, kolam renang dan juga area yang sangat luas untuk melakukan berbagai aktivitas bersama. Shasa senang sekali berada di sini, karena tempatnya yang cukup rindang dan menyenangkan. Aku paling suka saat melihat tanaman bambu yang berjajar rapi. Hanya tanaman bambu... tapi aku sangat terpesona melihatnya..., karena menurutku pemandangan itu indah sekali.

Pemandangannya indah sekali, apalagi tanaman bambunya sunguh indah

Saat kami datang kesana, pengunjung taman rekreasi itu ternyata banyak juga. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur, jadi pengunjungnya banyak. Apalagi tiket masuknya tidak mahal, sehingga taman rekreasi itu menjadi tempat pilihan bagi warga sekitarnya untuk mengisi hari liburnya.

Jalan-jalan ke Tawun

Aku dan suami sedang seneng mengajak Shasa jalan-jalan nih. Kebetulan masih ada waktu, sebelum kami semua kembali terperangkap dalam kesibukan masing-masing. Sebelum Shasa tenggelam diantara setumpuk kegiatan dan pekerjaan rumahnya dan sebelum aku plus suami makin dikejar dengan pekerjaan, maka acara jalan-jalan pun dilanjutkan kembali.

Saat ini kami sedang senang jalan-jalan ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh tapi memiliki pemandangan alam yang indah. Kali ini kami mengunjungi 2 tempat sekaligus. Yang pertama adalah Taman Rekreasi Tawun yang terletak di Ngawi.

Taman Rekreasi Tawun ini memiliki kolam bulus . Di sini banyak sekali bulus, dari yang kecil sampai yang besar. Sayang sekali, sulit banget untuk mengambil foto bulus-bulus itu. Mereka sembunyi terus di dalam air, sehingga tak tampak jelas untuk bisa diambil gambarnya. Sepertinya tempat ini memang tempat berkembang biaknya bulus, sehingga dibuatkan kolam khusus untuk bulus-bulus itu. Bahkan ada patung-patung bulus juga lho.


Foto bulus paling kiri, tidak terlihat jelas ya ?
Foto tengah dan kanan, Shasa foto di depan patung bulus

Ada juga kolam ikan. Ikan-ikannya banyak sekali, dan mereka bergerak mengikuti kemanapun kaki kami melangkah. Mungkin saja mereka mengira kami akan memberikan makanan, sehingga ikan-ikan itu mengikuti kami terus.


Foto ikan yang bergerombol mengikuti kami dan teratai yang indah

Selain itu, ada taman bermain anak, kolam renang dan juga area yang sangat luas untuk melakukan berbagai aktivitas bersama. Shasa senang sekali berada di sini, karena tempatnya yang cukup rindang dan menyenangkan. Aku paling suka saat melihat tanaman bambu yang berjajar rapi. Hanya tanaman bambu... tapi aku sangat terpesona melihatnya..., karena menurutku pemandangan itu indah sekali.

Pemandangannya indah sekali, apalagi tanaman bambunya sunguh indah

Saat kami datang kesana, pengunjung taman rekreasi itu ternyata banyak juga. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur, jadi pengunjungnya banyak. Apalagi tiket masuknya tidak mahal, sehingga taman rekreasi itu menjadi tempat pilihan bagi warga sekitarnya untuk mengisi hari liburnya.

Senin, 20 Juli 2009

Rasa ikut memiliki

Hidup kita senantiasa bersinggungan dengan berbagai hal yang bukan merupakan privasi kita. Seringkali kita berurusan dengan hal-hal yang menjadi milik umum, milik bersama. Akan sangat mudah bagi kita untuk menjaga segala apa yang menjadi milik pribadi kita. Namun untuk menumbuhkan rasa ikut memiliki terhadap barang-barang yang bukan milik kita apakah juga semudah itu ?

Ternyata, rasa ikut memiliki terhadap barang-barang yang bukan merupakan milik pribadi belum dimiliki oleh semua orang. Yang aku tahu, selama ini beberapa fasilitas umum yang ada di Indonesia tidak terawat dengan baik. Tempat-tempat seperti itu seringkali rusak dan kotor, bahkan tak jarang tangan-tangan jahil memperburuk penampilannya dengan aneka coretan yang sebetulnya tidak perlu.

Contoh yang paling gampang adalah rasa ikut memiliki kota dimana kita tinggal. Kalau kita merasa ikut memilikinya, maka harusnya kita peduli dengan kebersihan dan keindahannya, bukan ? Tapi ternyata..., seringkali kita justru ikut andil membuatnya menjadi kotor. Misalkan saja saat kita sedang berkendaraan, seringkali kita dengan sengaja membuang sampah di jalan. Bisa saja kita mengatakan bahwa sampah yang kita buang adalah bungkus permen yang kecil. Tapi, kalau setiap orang berpikiran sama dengan kita, maka di jalan-jalan kota itu akan penuh dengan sampah bungkus permen.

Itu baru bungkus permen, belum lagi kalau ada yang yang membuang kantong plastik bekas tempat kue, kulit pisang, bekas botol air mineral dan lain-lain. Jika semua orang bersikap seperti itu, bisa dipastikan jalan-jalan di kota yang kita tinggali akan sangat kotor. Kalau semua orang berpikir bahwa ada petugas kebersihan yang membersihkannya, maka itu menunjukkan bahwa kita memang benar-benar tidak memiliki rasa ikut memiliki terhadap kota kita sendiri.

Beberapa hari yang lalu aku kembali dihadapkan dengan ketiadaan rasa ikut memiliki itu lagi. Suatu sore Shasa meminta bantuanku untuk memberi sampul buku-buku BOS yang dipinjamkan oleh pihak sekolah kepadanya. Di bangku kelas 4 ini Shasa mendapatkan pinjaman buku BOS sebanyak 3 buah, yaitu buku paket Sains, Bahasa Indonesia dan Matematika. Shasa mengeluh karena buku-buku yang dipinjamkan kepadanya, meminjam istilah Shasa, jelek banget !!

Waktu buku-buku itu diserahkannya kepadaku, aku trenyuh sekali. Buku-buku BOS yang dipinjamkan pihak sekolah kepada murid-muridnya setiap tahun itu ternyata sudah parah sekali kondisinya, terlebih buku Sains-nya. Mungkin saja murid yang terdahulu dipinjami buku itu tidak merawatnya dengan baik, sehingga cover buku sudah terkoyak, ujung-ujung buku berlipat semua. Sisi pinggir buku (bagian yang dijilid) sudah koyak, malah ada yang sudah diisolasi.

Kondisi buku saat pertama kali diterima Shasa

Akhirnya, aku memerlukan banyak waktu untuk 'menangani' buku pinjaman itu. Cover buku yang sudah terkoyak terpaksa aku tambal dengan kertas lain. Bagian sisi buku aku isolasi semua, dan (yang paling menyebalkan) aku harus membuka satu persatu ujung halaman yang berlipat-lipat. Baru setelah semua selesai, aku memasangkan sampul plastik. Lama dan melelahkan sebenarnya...


Usaha maksimalku membenahi buku BOS (cover buku Sains sampai harus ditembel)

Aku yang selama ini sangat rewel untuk urusan kebersihan buku, sangat trenyuh melihat buku-buku BOS yang tidak terawat seperti itu. Yang ada dalam pikiranku cuma satu, kalau bukunya saja sudah rusak seperti itu, bagaimana anak mau tertarik untuk mempelajari isinya ? Mengapa murid-murid yang sudah jelas-jelas diberi pinjaman buku gratis dari sekolah tidak mau merawatnya dengan baik ? Apakah mereka tidak menyadari bahwa buku-buku itu nantinya akan dipakai juga oleh adik kelas mereka ?

Aku pikir pihak sekolah sudah harus mengajarkan arti rasa memiliki itu kepada seluruh anak didiknya. Bukan saja terhadap buku-buku BOS yang dipinjamkan, tetapi juga terhadap seluruh fasilitas sekolah, seperti buku-buku yang ada di perpustakaan, inventaris yang ada di ruang kelas masing-masing, bahkan sampai pada lingkungan sekolah (termasuk kamar mandi dan WC).

Semoga dengan ditanamkannya rasa ikut memiliki sejak dini, anak-anak itu nanti akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kepedulian yang tinggi kepada lingkungannya. Selanjutnya, mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang bertanggung jawab tidak saja atas kehidupan pribadinya namun juga kepada kehidupan orang lain. Semoga....