Minggu, 02 Agustus 2009

Refreshing with old friends....

Sabtu tanggal 1 Agustus 2009 kemarin aku jadi berkumpul lagi dengan beberapa teman lamaku. Ajakan yang menyenangkan tentu saja, apalagi kami sudah lama tak berjumpa. Bukan saja dengan teman-teman yang ada di luar kota Madiun, dengan teman-teman yang ada Madiun saja kami jarang banget bertemu.


Saat bertemu lagi, teriakan dan pelukan mewarnai pertemuan kami. Yang dirasakan hanya seneng.. seneng dan seneng. Sayang sekali tempat yang kami pilih untuk bertemu dan kangen-kangenan kurang memuaskan. Lampu penerangan terlalu redup dan suara live music-nya terlalu keras, sehingga kami harus teriak-teriak kalau mau ngobrol.

Kalau tanggal 14 Juli 2009 yang lalu kami kumpul-kumpul itu dalam rangka memanfaatkan momen kepulangan Murni Ramli ke Madiun sebelum dia kembali lagi ke Nagoya, Jepang. Selain itu tentu saja untuk melepas kangen setelah kami selama 19 tahun tak bertemu. Sedangkan kali ini acara diadakan atas inisiatif 2 orang teman kami yang selama ini tinggal di luar kota (Yogyakarta dan Surabaya) dan sangat ingin bertemu lagi dengan teman-teman lama yang masih ada di Madiun.


Sebagaimana acara sebelumnya, kali ini aku dan temanku (Ipung namanya) kembali harus bergerak menghubungi satu per satu teman-teman kami yang keberadaannya di Madiun terdeteksi. Dibandingkan acara kumpul-kumpulku beberapa hari yang lalu, kali ini acaranya lebih seru, karena yang datang lebih banyak. Makin banyak kan makin seru... Saat kumpul begini, acara makan tak penting lagi. Semua lebih asyik ngobrol dan bercanda, seolah melepas segala rindu yang telah terpendam belasan tahun lamanya.


Hayo..., aku yang mana ?!?!


Sayang sekali, keterbatasan waktu membatasi keinginan kami untuk menumpahkan segala rindu yang ada di dada. Sehingga menumbuhkan keinginan untuk dapat ketemuan lagi pada Idul Fitri tahun ini. Diharap pada saat itu kami dapat ketemu dengan lebih banyak teman lama, karena masih banyak yang akan pulang ke Madiun. Selanjutnya sudah mulai direncanakan untuk mengadakan reuni akbar pada tahun 2010 nanti.


Hmmm... kira-kira berhasil tidak ya ? Jadi tidak sabar untuk bisa ketemu dengan teman-teman lainnya nih.

Refreshing with old friends....

Sabtu tanggal 1 Agustus 2009 kemarin aku jadi berkumpul lagi dengan beberapa teman lamaku. Ajakan yang menyenangkan tentu saja, apalagi kami sudah lama tak berjumpa. Bukan saja dengan teman-teman yang ada di luar kota Madiun, dengan teman-teman yang ada Madiun saja kami jarang banget bertemu.


Saat bertemu lagi, teriakan dan pelukan mewarnai pertemuan kami. Yang dirasakan hanya seneng.. seneng dan seneng. Sayang sekali tempat yang kami pilih untuk bertemu dan kangen-kangenan kurang memuaskan. Lampu penerangan terlalu redup dan suara live music-nya terlalu keras, sehingga kami harus teriak-teriak kalau mau ngobrol.

Kalau tanggal 14 Juli 2009 yang lalu kami kumpul-kumpul itu dalam rangka memanfaatkan momen kepulangan Murni Ramli ke Madiun sebelum dia kembali lagi ke Nagoya, Jepang. Selain itu tentu saja untuk melepas kangen setelah kami selama 19 tahun tak bertemu. Sedangkan kali ini acara diadakan atas inisiatif 2 orang teman kami yang selama ini tinggal di luar kota (Yogyakarta dan Surabaya) dan sangat ingin bertemu lagi dengan teman-teman lama yang masih ada di Madiun.


Sebagaimana acara sebelumnya, kali ini aku dan temanku (Ipung namanya) kembali harus bergerak menghubungi satu per satu teman-teman kami yang keberadaannya di Madiun terdeteksi. Dibandingkan acara kumpul-kumpulku beberapa hari yang lalu, kali ini acaranya lebih seru, karena yang datang lebih banyak. Makin banyak kan makin seru... Saat kumpul begini, acara makan tak penting lagi. Semua lebih asyik ngobrol dan bercanda, seolah melepas segala rindu yang telah terpendam belasan tahun lamanya.


Hayo..., aku yang mana ?!?!


Sayang sekali, keterbatasan waktu membatasi keinginan kami untuk menumpahkan segala rindu yang ada di dada. Sehingga menumbuhkan keinginan untuk dapat ketemuan lagi pada Idul Fitri tahun ini. Diharap pada saat itu kami dapat ketemu dengan lebih banyak teman lama, karena masih banyak yang akan pulang ke Madiun. Selanjutnya sudah mulai direncanakan untuk mengadakan reuni akbar pada tahun 2010 nanti.


Hmmm... kira-kira berhasil tidak ya ? Jadi tidak sabar untuk bisa ketemu dengan teman-teman lainnya nih.

Bersama dalam perbedaan

animations


Hari ini, sebelas tahun yang lalu, aku dan suami mengikat janji sehidup semati. Mulai hari itu, kami telah resmi menjadi sepasang suami istri. Alhamdulillah.., setelah sekian lama bersama akhirnya kami bisa bersatu dalam suatu ikatan suci pernikahan. Sungguh tak kusangka, setelah melalui masa yang panjang dan bertemu dengan banyak orang, akhirnya kami dapat bersama selamanya (Insya Allah).

Jika menengok lagi ke masa silam, aku mengenal suamiku saat kelas 1 SMP. Kebetulan kami berada dalam kelas yang sama saat itu. Pertemanan kami awalnya biasa saja, namun seiring berjalannya waktu ternyata tumbuh rasa yang berbeda di antara kami. Yang aku ingat, saat pertama kali suamiku datang ke rumah bersama teman-teman laki-laki lainnya, aku tak dapat menemui mereka, karena bertepatan dengan saat aku akan berangkat menghadiri pertemuan Karang Taruna. Yang kuingat, saat itu aku deg-degan juga.... hehehe.

Aku sekelas dengan suamiku hanya 2 tahun, yaitu saat kelas 1 dan kelas 2 SMP. Saat kelas 3, kami sudah berbeda kelas, tapi itu tidak membuat pertemuan kami menjadi jarang. Selepas SMP, kami masuk di SMA yang berbeda. Namun.., seringkali saat aku pulang sekolah setelah mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, aku hampir selalu mendapati suamiku bersama beberapa temannya berada di jalan tak jauh dari sekolahku. Saat melewati mereka... aku selalu merasa deg-degan.... (halaaah...!!)

Saat pertama kali suamiku menyatakan rasa sukanya padaku, aku katakan kepadanya bahwa untuk saat itu (SMP !!) aku belum berani menjalin hubungan lebih dari pertemanan biasa. Aku menganggap bahwa di usiaku itu aku belum perlu berpikir yang lebih dari sekedar pertemanan biasa. Meskipun aku akui, bahwa dia berada di tempat yang istimewa di hatiku. Walaupun beberapa kali mendapatkan 'penolakan' untuk merubah status hubungan kami dariku, namun ternyata dia tetap rajin datang berkunjung ke rumahku, meskipun selanjutnya, aku dan suami melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda.

Setelah berkali-kali suamiku menyatakan rasa sukanya, dan kami masih menjalani hubungan yang 'nanggung' (pacaran belum, tapi pertemanan biasa juga tidak) akhirnya aku baru berani secara terbuka menerimanya saat aku sudah kuliah tahun ke-3. Menjelang keberangkatanku untuk KKN, suamiku tanpa dinyana mengajak kedua orang tuanya untuk bertemu denganku dan kedua orangtuaku untuk membicarakan kelanjutan hubungan kami.

Orang tuaku menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku. Apakah aku mau menerima atau tidak. Akhirnya, aku putuskan aku menerima. Sehingga, saat KKN aku sudah melangkah dengan lebih mantap karena aku merasa bahwa aku ada yang menunggu. Bahkan, suamiku menyempatkan diri untuk menjengukku di lokasi KKN di Purworejo sana. Jauh juga lho jaraknya.... Aku tentu saja senang sekali menerima kunjungan yang tak terduga itu. (So sweet... )

Takdir ternyata membawaku dan suamiku sama-sana bekerja di Madiun. Setelah merasa siap, akhirnya kami memutuskan untuk melangkah ke arah yang lebih serius lagi, yaitu pernikahan. Kedua orang tua kami menyambut hal itu dengan suka cita. Setelah 13 tahun kebersamaan kami, kami melangkah bersama dalam pernikahan. Meskipun kami sudah bersama selama itu, bukan berarti kami tidak mengalami benturan-benturan dalam pernikahan kami.

Aku menyadari bahwa kami tetaplah 2 orang yang berbeda, yang melangkah bersama untuk mencapai tujuan. Benturan berupa perbedaan pendapat dan salah paham pasti ada, apalagi kami sama-sama keras kepala dan usia kami hanya berselisih 6 bulan saja. Alhamdulillah, sejauh ini semua masih dapat terselesaikan dengan baik. Satu hal yang aku sadari adalah aku sudah terlanjur 'terbiasa' dengan kehadirannya sejak 24 tahun yang lalu. Sebagian besar hidupku telah diwarnai olehnya dan aku makin menyadari bahwa aku sulit untuk berpaling darinya.

Setelah 11 tahun bersama mengayuh biduk rumah tangga, dan sejak 10 tahun yang lalu kami dianugerahi seorang anak yang menjadi amanah bagi kami, sudah banyak kenangan manis yang sulit dilepaskan dari ingatan. Kenangan indah yang ingin aku kenang selamanya dan kuharap akan mampu menjadi penguat hubungan kami selamanya. Amin.

happily ever after

Kini aku hanya bisa berharap, semoga kebersamaan kami senantiasa memberikan kebahagiaan satu sama lain. Semoga kami dapat menjaga amanah yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan sebaik-baiknya. Dan untuk sahabat semua, jangan lupa doakan kami juga agar kami dapat menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Amin....

Bersama dalam perbedaan

animations


Hari ini, sebelas tahun yang lalu, aku dan suami mengikat janji sehidup semati. Mulai hari itu, kami telah resmi menjadi sepasang suami istri. Alhamdulillah.., setelah sekian lama bersama akhirnya kami bisa bersatu dalam suatu ikatan suci pernikahan. Sungguh tak kusangka, setelah melalui masa yang panjang dan bertemu dengan banyak orang, akhirnya kami dapat bersama selamanya (Insya Allah).

Jika menengok lagi ke masa silam, aku mengenal suamiku saat kelas 1 SMP. Kebetulan kami berada dalam kelas yang sama saat itu. Pertemanan kami awalnya biasa saja, namun seiring berjalannya waktu ternyata tumbuh rasa yang berbeda di antara kami. Yang aku ingat, saat pertama kali suamiku datang ke rumah bersama teman-teman laki-laki lainnya, aku tak dapat menemui mereka, karena bertepatan dengan saat aku akan berangkat menghadiri pertemuan Karang Taruna. Yang kuingat, saat itu aku deg-degan juga.... hehehe.

Aku sekelas dengan suamiku hanya 2 tahun, yaitu saat kelas 1 dan kelas 2 SMP. Saat kelas 3, kami sudah berbeda kelas, tapi itu tidak membuat pertemuan kami menjadi jarang. Selepas SMP, kami masuk di SMA yang berbeda. Namun.., seringkali saat aku pulang sekolah setelah mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, aku hampir selalu mendapati suamiku bersama beberapa temannya berada di jalan tak jauh dari sekolahku. Saat melewati mereka... aku selalu merasa deg-degan.... (halaaah...!!)

Saat pertama kali suamiku menyatakan rasa sukanya padaku, aku katakan kepadanya bahwa untuk saat itu (SMP !!) aku belum berani menjalin hubungan lebih dari pertemanan biasa. Aku menganggap bahwa di usiaku itu aku belum perlu berpikir yang lebih dari sekedar pertemanan biasa. Meskipun aku akui, bahwa dia berada di tempat yang istimewa di hatiku. Walaupun beberapa kali mendapatkan 'penolakan' untuk merubah status hubungan kami dariku, namun ternyata dia tetap rajin datang berkunjung ke rumahku, meskipun selanjutnya, aku dan suami melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda.

Setelah berkali-kali suamiku menyatakan rasa sukanya, dan kami masih menjalani hubungan yang 'nanggung' (pacaran belum, tapi pertemanan biasa juga tidak) akhirnya aku baru berani secara terbuka menerimanya saat aku sudah kuliah tahun ke-3. Menjelang keberangkatanku untuk KKN, suamiku tanpa dinyana mengajak kedua orang tuanya untuk bertemu denganku dan kedua orangtuaku untuk membicarakan kelanjutan hubungan kami.

Orang tuaku menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku. Apakah aku mau menerima atau tidak. Akhirnya, aku putuskan aku menerima. Sehingga, saat KKN aku sudah melangkah dengan lebih mantap karena aku merasa bahwa aku ada yang menunggu. Bahkan, suamiku menyempatkan diri untuk menjengukku di lokasi KKN di Purworejo sana. Jauh juga lho jaraknya.... Aku tentu saja senang sekali menerima kunjungan yang tak terduga itu. (So sweet... )

Takdir ternyata membawaku dan suamiku sama-sana bekerja di Madiun. Setelah merasa siap, akhirnya kami memutuskan untuk melangkah ke arah yang lebih serius lagi, yaitu pernikahan. Kedua orang tua kami menyambut hal itu dengan suka cita. Setelah 13 tahun kebersamaan kami, kami melangkah bersama dalam pernikahan. Meskipun kami sudah bersama selama itu, bukan berarti kami tidak mengalami benturan-benturan dalam pernikahan kami.

Aku menyadari bahwa kami tetaplah 2 orang yang berbeda, yang melangkah bersama untuk mencapai tujuan. Benturan berupa perbedaan pendapat dan salah paham pasti ada, apalagi kami sama-sama keras kepala dan usia kami hanya berselisih 6 bulan saja. Alhamdulillah, sejauh ini semua masih dapat terselesaikan dengan baik. Satu hal yang aku sadari adalah aku sudah terlanjur 'terbiasa' dengan kehadirannya sejak 24 tahun yang lalu. Sebagian besar hidupku telah diwarnai olehnya dan aku makin menyadari bahwa aku sulit untuk berpaling darinya.

Setelah 11 tahun bersama mengayuh biduk rumah tangga, dan sejak 10 tahun yang lalu kami dianugerahi seorang anak yang menjadi amanah bagi kami, sudah banyak kenangan manis yang sulit dilepaskan dari ingatan. Kenangan indah yang ingin aku kenang selamanya dan kuharap akan mampu menjadi penguat hubungan kami selamanya. Amin.

happily ever after

Kini aku hanya bisa berharap, semoga kebersamaan kami senantiasa memberikan kebahagiaan satu sama lain. Semoga kami dapat menjaga amanah yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan sebaik-baiknya. Dan untuk sahabat semua, jangan lupa doakan kami juga agar kami dapat menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Amin....

Sabtu, 01 Agustus 2009

Mencintai nenek

Kamis yang lalu, Shasa pulang dari sekolah sambil membawa sebuah buku dari perpustakaan. Rupanya dia pinjam buku lagi dari perpustakaan. Dan seperti biasa, setelah selesai belajar (yang mungkin agak terburu-buru agar cepat selesai), Shasa langsung membaca buku itu.

Shasa membaca buku itu tak jauh dari tempatku blogging. Jadilah kami tenggelam dengan keasyikan sendiri-sendiri, Shasa dengan bukunya dan aku dengan kompie-ku. Namun beberapa lama kemudian aku mendengar suara 'aneh' dari tempat Shasa. Masya Allah, Shasa menangis. Aku yang kaget dan khawatir segera saja menanyakan apa yang membuatnya tiba-tiba menangis seperti itu.



Shasa menjelaskan bahwa buku yang dibacanya yang membuatnya menangis. Kemudian Shasa memintaku untuk membaca juga buku itu sebelum dikembalikannya ke perpustakaan. Saat aku bilang bahwa aku akan membacanya kalau sempat, Shasa langsung protes dan dia memaksaku. Aku harus membaca buku itu. Akhirnya, Jumat kemarin buku itu aku bawa ke kantor. Rencananya buku itu akan aku baca saat jam istirahat kantor.

Akhirnya aku jadi juga membaca buku itu pada saat jam istirahat kantor. Untung saja buku itu tidak tebal, maklum buku anak-anak, jadi aku bisa segera menyelesaikannya dalam waktu singkat. Buku yang berjudul : " Maafkan Nina, Nek " dan ditujukan untuk anak-anak itu memang bagus, karena mengandung pendidikan dan budi pekerti.

Diceritakan tentang Nina yang sangat membenci neneknya, bahkan menyebut neneknya sebagai nenek sihir yang sangat cerewet dan suka mencampuri urusan orang lain. Begitu kedua orang tuanya meminta sang nenek tinggal bersama mereka, Nina langsung merasa dunianya yang damai telah porak poranda.

Nina jadi sering uring-uringan di rumah dan di sekolah. Mama Nina prihatin sekali melihat anaknya yang tidak mampu mencintai neneknya sendiri. Teman-teman Nina pun tak kalah herannya melihat betapa besar kebencian Nina pada sang nenek. Sewaktu teman-teman Nina berkesempatan melakukan belajar kelompok di rumah Nina, mereka berkesempatan berkenalan dengan Nenek Zainar, neneknya Nina. Ternyata teman-teman Nina itu semuanya menyukai Nenek Zainar. Mengetahui bahwa ternyata semua teman-temannya menyukai sang nenek, Nina semakin membenci neneknya.

Apalagi setelah rencana pergi berlibur bersama teman-temannya berantakan gara-gara teman-temannya secara spontan meminta Nenek Zainar ikut serta. Mengetahui neneknya diajak, Nina menantang teman-temannya untuk memilih salah satu, antara dirinya atau neneknya, yang diajak pergi ke kebun binatang. Ternyata semua temannya memilih Nenek Zainar daripada Nina. Kebencian terhadap sang nenek semakin besar dan akhirnya hal itu membuat Mama Nina menegur Nina dengan keras.

Hingga suatu kejadian membuat Nina menyadari bahwa sang nenek sebenarnya sangat sayang kepadanya. Nina yang sangat menyesali semua perbuatannya akhirnya meminta maaf kepada sang nenek. Pelukan dan tangis Nina di bandara tak dapat mencegah kepergian sang nenek.

Poin yang perlu dicatat dari buku ini adalah :
  • Seorang anak harus menghormati orang-orang yang lebih tua.
  • Cinta seorang nenek kepada cucunya sangat tulus.
  • Nasehat orang yang lebih tua hendaknya didengarkan
  • Seorang sahabat wajib mengingatkan jika sahabatnya telah melakukan kesalahan.

Penulis : Fahri Asiza &Ridha Anwar
Kategori : Novel anak (usia 7-13 tahun)
Penerbit : Zikrul Kids
Cover : Soft Cover