Senin, 19 Oktober 2009

Mati gaya...?!

Sabtu dan Minggu kemarin, internetku benar-benar mati suri. Akibatnya, nyaris selama 2 hari aku pun ikutan mati gaya... hehehe (lebay dot com). Bagaimana tidak, aku tak bisa blogging, blog walking maupun menengok facebook-ku. Rasanya benar-benar terputus dengan dunia luar saja.... Benar-benar mati gaya... ^_^

Untuk mengisi hari libur itu, maka aku membuat alternatif kegiatan. Setelah acara bersih-bersih rumah dan mencuci (agenda wajib hari libur bagi wanita yang bekerja sepertiku), aku memutuskan untuk membuat salad buah. Sebenarnya, Shasa sudah lama ingin aku buatkan salad buah. Kebetulan juga, mulai Senin ini Shasa harus menjalani mid test di sekolahnya. Akhirnya, selama 2 hari itu.., aku puas-puaskan membuat salad buah yang banyak untuknya... dan Shasa pun bisa makan sampai puas.

Salad buah yang cocok dalam cuaca yang panas spt saat ini

Rasa salad buah yang manis, asem dan seger benar-benar menjadi santapan yang sangat nikmat dalam cuaca yang sangat panas seperti sekarang ini. Sehingga, seberapa banyaknya aku membuatnya, tak membutuhkan waktu lama akan segera habis. Aku sampai heran, doyan apa lapar sih ya..., kok sebanyak itu bisa habis dengan segera ?! Tapi, tentu saja senang sih kalau apa yang kita sediakan disambut dengan suka cita seperti itu. Bener kan..?

Acara masak memasak semakin seru karena Shasa juga ingin belajar memasak. Akhirnya, kami buat masakan sederhana untuk Shasa, yaitu sayur bening (bayam) dan bacem tahu tempe. Shasa semangat banget belajar memasaknya. Seperti inilah gaya Shasa saat belajar memasak.



Shasa yang sedang serius belajar memasak

Selain acara masak memasak dan bersih-bersih rumah itu selesai, aku mulai cari-cari kegiatan lain. Untuk baca buku aku masih malas, karena badan masih terasa capek oleh banyaknya aktivitas di kantor belakangan ini. Akhirnya, pilihanku jatuh pada... maen game...! Setelah sekian lama tidak maen game di komputer, ternyata asyik juga bisa refreshing dengan maen game lagi... hehehe. Benar-benar bisa menghapus perasaan mati gaya yang sempat melanda.

Internet-ku akhirnya bisa hidup lagi pada hari Minggu malam, hampir jam 22.00. Selarut itu, aku sudah malas untuk memulai blogging maupun blog walking. Jadi, aku hanya menuliskan pesan di sapa-ku yang ada di Blogku dan mengintip facebook sebentar saja. Rencananya, blogging dan blog walking baru akan aku laksanakan malam ini. Duh senengnya... tidak mati gaya lagi sekarang hehehe......

Mati gaya...?!

Sabtu dan Minggu kemarin, internetku benar-benar mati suri. Akibatnya, nyaris selama 2 hari aku pun ikutan mati gaya... hehehe (lebay dot com). Bagaimana tidak, aku tak bisa blogging, blog walking maupun menengok facebook-ku. Rasanya benar-benar terputus dengan dunia luar saja.... Benar-benar mati gaya... ^_^

Untuk mengisi hari libur itu, maka aku membuat alternatif kegiatan. Setelah acara bersih-bersih rumah dan mencuci (agenda wajib hari libur bagi wanita yang bekerja sepertiku), aku memutuskan untuk membuat salad buah. Sebenarnya, Shasa sudah lama ingin aku buatkan salad buah. Kebetulan juga, mulai Senin ini Shasa harus menjalani mid test di sekolahnya. Akhirnya, selama 2 hari itu.., aku puas-puaskan membuat salad buah yang banyak untuknya... dan Shasa pun bisa makan sampai puas.

Salad buah yang cocok dalam cuaca yang panas spt saat ini

Rasa salad buah yang manis, asem dan seger benar-benar menjadi santapan yang sangat nikmat dalam cuaca yang sangat panas seperti sekarang ini. Sehingga, seberapa banyaknya aku membuatnya, tak membutuhkan waktu lama akan segera habis. Aku sampai heran, doyan apa lapar sih ya..., kok sebanyak itu bisa habis dengan segera ?! Tapi, tentu saja senang sih kalau apa yang kita sediakan disambut dengan suka cita seperti itu. Bener kan..?

Acara masak memasak semakin seru karena Shasa juga ingin belajar memasak. Akhirnya, kami buat masakan sederhana untuk Shasa, yaitu sayur bening (bayam) dan bacem tahu tempe. Shasa semangat banget belajar memasaknya. Seperti inilah gaya Shasa saat belajar memasak.



Shasa yang sedang serius belajar memasak

Selain acara masak memasak dan bersih-bersih rumah itu selesai, aku mulai cari-cari kegiatan lain. Untuk baca buku aku masih malas, karena badan masih terasa capek oleh banyaknya aktivitas di kantor belakangan ini. Akhirnya, pilihanku jatuh pada... maen game...! Setelah sekian lama tidak maen game di komputer, ternyata asyik juga bisa refreshing dengan maen game lagi... hehehe. Benar-benar bisa menghapus perasaan mati gaya yang sempat melanda.

Internet-ku akhirnya bisa hidup lagi pada hari Minggu malam, hampir jam 22.00. Selarut itu, aku sudah malas untuk memulai blogging maupun blog walking. Jadi, aku hanya menuliskan pesan di sapa-ku yang ada di Blogku dan mengintip facebook sebentar saja. Rencananya, blogging dan blog walking baru akan aku laksanakan malam ini. Duh senengnya... tidak mati gaya lagi sekarang hehehe......

Sabtu, 17 Oktober 2009

Tanggung jawab

Albert Einstein pernah berkata bahwa "harga sebuah kebesaran ada di tanggung jawab".
Tanggung jawab sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Bila seseorang tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang akan memaksakan tanggung jawab itu.

Yang dimaksud dengan tanggung jawab adalah kesadaran manusia tentang tingkah laku atau perbuatannya baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsyafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya terhadap kepentingan pihak lain. Tanggung jawab ini muncul karena manusia hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam.

Dapat dikatakan bahwa tanggung jawab merupakan ciri dari manusia beradab. Seorang manusia akan merasa bertanggung jawab jika dia dapat menyadari akibat dari perbuatannya dan menyadari bahwa ada pihak-pihak lain yang juga menerima dampak dari perbuatannya tersebut. Oleh sebab itu, bagi sebagian besar orang, tanggung jawab merupakan sesuatu yang mungkin dirasakan berat yang tak semua orang mampu dan mau memikulnya.

Biasanya, seseorang akan dengan senang hati menerima sesuatu yang menyenangkan atau menguntungkan baginya. Tetapi jika ternyata hal tersebut menuntut tanggung jawab, biasanya banyak orang yang memilih untuk melarikan diri dari tanggung jawab setelah menerima hal yang menguntungkannya terlebih dahulu. Banyak contoh yang menunjukkan hal tersebut di lingkungan kita, salah satunya "jabatan".

Hampir semua orang dengan senang hati jika mendapatan jabatan, apalagi jika jabatan itu adalah duduk di "kursi empuk". Naik jabatan selalu berkonotasi dengan kenaikan gaji, dan semua orang tentu dengan suka cita menerimanya. Namun..., ternyata tak semua orang sanggup menerima konsekuensi dari meningkatnya tanggung jawab seiring dengan meningkatnya jabatannya.

Sebuah kejadian telah membuatku menyadari betapa tak mudah memikul sebuah tanggung jawab. Kebetulan hari Kamis dan Jumat kemarin aku harus dinas lagi ke Surabaya. Seperti sebelumnya, aku berangkat lagi bersama tim yang jumlahnya 10 orang, dengan menggunakan 2 kendaraan dinas. Tim kami yang semuanya masih tergolong muda (ehm... termasuk aku nih hehehe), semuanya masih memiliki semangat yang kuat untuk menjalankan tugas dengan sebaik mungkin.

Sesaat sebelum berangkat, seorang teman (seorang pejabat dari Bagian Hukum) meneleponku dan mengatakan bahwa dia baru saja pulang dari dokter. Aku menanyakan padanya apakah dia jadi ikut pergi ke Surabaya, mengingat kondisinya sedang tidak sehat. Namun dia meyakinkan aku bahwa dia akan baik-baik saja dan siap untuk menjalankan tugas ke Surabaya bersamaku.

Selama perjalanan dia tidak terlalu bersemangat dan lebih banyak diam. Sewaktu kutanyakan apa diagnosa dokter terhadapnya saat dia periksa sebelum berangkat, dia menjawab bahwa dicurigai dia akan terkena cacar air, tapi dokter belum berani memastikan karena memang belum ada tanda-tanda cacar yang muncul.

Selama di Surabaya, dia masih bisa menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan berusaha untuk tidak memperdulikan kondisinya. Aku sudah berulang kali menawarkan kepadanya supaya sopir kami berangkat mencarikan obat untuknya atau mengantarnya ke dokter, tapi dia menolaknya. Dia berusaha bertahan untuk bisa menyelesaikan tugasnya.

Sampai akhirnya, pada malam hari, sesaat sebelum makan malam, teman sekamarnya (kami bersepuluh menginap di hotel) mengatakan bahwa kami perlu untuk memanggil dokter. Ternyata demam yang dialami temanku itu semakin tinggi, sehingga akhirnya dia pasrah saat kami memanggilkan dokter untuknya. Namun, setelah diperiksa pun dia tak mau diantar pulang kembali ke Madiun dan ngotot bertahan di Surabaya sampai acara selesai pada hari Jumat.

Sekuat apa pun dia bertahan, akhirnya dia harus menyerah pada kondisi fisiknya yang semakin menurun. Ternyata, diagnosa dokter adalah dia terkena cacar air sekaligus radang tenggorokan..!! Malam itu juga, satu kendaraan dinas kami pulang terlebih dahulu untuk mengantarkan teman kami yang sakit tadi. Terpaksa, dia pulang sendiri dan hanya ditemani seorang sopir, karena kami semua masih punya tanggung jawab pekerjaan yang harus kami selesaikan di Surabaya.

Tanggung jawab yang demikian besar telah ditunjukkannya kepadaku dan kepada teman-teman yang lain. Kalaupun akhirnya dia menyerah, itu semata karena kondisi fisiknya yang tak dapat diajak kompromi dan mengharuskannya untuk beristirahat. Aku jadi membandingkannya dengan kondisi diriku sendiri. Meskipun aku masih pakai 'decker' pada kakiku yang keseleo, tapi sejujurnya tinggal rasa pegal-pegal yang aku rasakan. Aku tak yakin bisa bertahan seperti dia, jika aku yang berada dalam posisinya.

Selama ini aku sering mendengar bahwa anak-anak muda 'jaman sekarang' kurang memiliki rasa tanggung jawab. Pada kesempatan ini aku dapat berkata bahwa itu tidak benar, karena masih banyak anak muda yang bisa memikul tanggung jawab. Jadi, tak sepantasnya karena ada "nila setitik rusak susu sebelanga". Menurutku begitu...

Tanggung jawab

Albert Einstein pernah berkata bahwa "harga sebuah kebesaran ada di tanggung jawab".
Tanggung jawab sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Bila seseorang tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang akan memaksakan tanggung jawab itu.

Yang dimaksud dengan tanggung jawab adalah kesadaran manusia tentang tingkah laku atau perbuatannya baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsyafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya terhadap kepentingan pihak lain. Tanggung jawab ini muncul karena manusia hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam.

Dapat dikatakan bahwa tanggung jawab merupakan ciri dari manusia beradab. Seorang manusia akan merasa bertanggung jawab jika dia dapat menyadari akibat dari perbuatannya dan menyadari bahwa ada pihak-pihak lain yang juga menerima dampak dari perbuatannya tersebut. Oleh sebab itu, bagi sebagian besar orang, tanggung jawab merupakan sesuatu yang mungkin dirasakan berat yang tak semua orang mampu dan mau memikulnya.

Biasanya, seseorang akan dengan senang hati menerima sesuatu yang menyenangkan atau menguntungkan baginya. Tetapi jika ternyata hal tersebut menuntut tanggung jawab, biasanya banyak orang yang memilih untuk melarikan diri dari tanggung jawab setelah menerima hal yang menguntungkannya terlebih dahulu. Banyak contoh yang menunjukkan hal tersebut di lingkungan kita, salah satunya "jabatan".

Hampir semua orang dengan senang hati jika mendapatan jabatan, apalagi jika jabatan itu adalah duduk di "kursi empuk". Naik jabatan selalu berkonotasi dengan kenaikan gaji, dan semua orang tentu dengan suka cita menerimanya. Namun..., ternyata tak semua orang sanggup menerima konsekuensi dari meningkatnya tanggung jawab seiring dengan meningkatnya jabatannya.

Sebuah kejadian telah membuatku menyadari betapa tak mudah memikul sebuah tanggung jawab. Kebetulan hari Kamis dan Jumat kemarin aku harus dinas lagi ke Surabaya. Seperti sebelumnya, aku berangkat lagi bersama tim yang jumlahnya 10 orang, dengan menggunakan 2 kendaraan dinas. Tim kami yang semuanya masih tergolong muda (ehm... termasuk aku nih hehehe), semuanya masih memiliki semangat yang kuat untuk menjalankan tugas dengan sebaik mungkin.

Sesaat sebelum berangkat, seorang teman (seorang pejabat dari Bagian Hukum) meneleponku dan mengatakan bahwa dia baru saja pulang dari dokter. Aku menanyakan padanya apakah dia jadi ikut pergi ke Surabaya, mengingat kondisinya sedang tidak sehat. Namun dia meyakinkan aku bahwa dia akan baik-baik saja dan siap untuk menjalankan tugas ke Surabaya bersamaku.

Selama perjalanan dia tidak terlalu bersemangat dan lebih banyak diam. Sewaktu kutanyakan apa diagnosa dokter terhadapnya saat dia periksa sebelum berangkat, dia menjawab bahwa dicurigai dia akan terkena cacar air, tapi dokter belum berani memastikan karena memang belum ada tanda-tanda cacar yang muncul.

Selama di Surabaya, dia masih bisa menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan berusaha untuk tidak memperdulikan kondisinya. Aku sudah berulang kali menawarkan kepadanya supaya sopir kami berangkat mencarikan obat untuknya atau mengantarnya ke dokter, tapi dia menolaknya. Dia berusaha bertahan untuk bisa menyelesaikan tugasnya.

Sampai akhirnya, pada malam hari, sesaat sebelum makan malam, teman sekamarnya (kami bersepuluh menginap di hotel) mengatakan bahwa kami perlu untuk memanggil dokter. Ternyata demam yang dialami temanku itu semakin tinggi, sehingga akhirnya dia pasrah saat kami memanggilkan dokter untuknya. Namun, setelah diperiksa pun dia tak mau diantar pulang kembali ke Madiun dan ngotot bertahan di Surabaya sampai acara selesai pada hari Jumat.

Sekuat apa pun dia bertahan, akhirnya dia harus menyerah pada kondisi fisiknya yang semakin menurun. Ternyata, diagnosa dokter adalah dia terkena cacar air sekaligus radang tenggorokan..!! Malam itu juga, satu kendaraan dinas kami pulang terlebih dahulu untuk mengantarkan teman kami yang sakit tadi. Terpaksa, dia pulang sendiri dan hanya ditemani seorang sopir, karena kami semua masih punya tanggung jawab pekerjaan yang harus kami selesaikan di Surabaya.

Tanggung jawab yang demikian besar telah ditunjukkannya kepadaku dan kepada teman-teman yang lain. Kalaupun akhirnya dia menyerah, itu semata karena kondisi fisiknya yang tak dapat diajak kompromi dan mengharuskannya untuk beristirahat. Aku jadi membandingkannya dengan kondisi diriku sendiri. Meskipun aku masih pakai 'decker' pada kakiku yang keseleo, tapi sejujurnya tinggal rasa pegal-pegal yang aku rasakan. Aku tak yakin bisa bertahan seperti dia, jika aku yang berada dalam posisinya.

Selama ini aku sering mendengar bahwa anak-anak muda 'jaman sekarang' kurang memiliki rasa tanggung jawab. Pada kesempatan ini aku dapat berkata bahwa itu tidak benar, karena masih banyak anak muda yang bisa memikul tanggung jawab. Jadi, tak sepantasnya karena ada "nila setitik rusak susu sebelanga". Menurutku begitu...

Jumat, 16 Oktober 2009

I love you full......


Aku sangat menyayanginya, sungguh sangat sayang padanya
Bahkan dengan hanya melihat senyumnya
Hatiku terasa hangat dan berbunga-bunga
Atau saat ku tatap fotonya
Masih terasa debar-debar di dada


Aku sungguh mencintainya, amat sangat
Aku ingin hanya ada aku dalam hidupnya
Tak ingin aku berbagi dengan yang lain
Tak sanggup jika perhatiannya teralih dariku
Meskipun hanya sesaat saja

Rasa cinta yang terkadang membelenggu
Karena seringkali disertai rasa cemburu
Meskipun aku tahu bahwa
Tak selayaknya cinta berubah menjadi sangkar
Yang harus memenjarakan kemerdekaan

Rasa cinta yang terkadang terasa aneh
Karena kutahu dia tidaklah istimewa
Dia juga bukan orang yang begitu hebatnya
Dia hanya.... manusia biasa
Dengan segala kelemahannya
Dan juga kelebihannya
Namun mengapa aku sedemikian jatuh cinta..?

Rasa cinta yang terlahir dari besarnya kasih
Rasa cinta yang muncul dari rasa peduli
Rasa cinta yang tumbuh dalam kebersamaan
Rasa cinta yang mekar melalui pengorbanan
Rasa cinta yang kokoh dalam kesetiaan
Rasa cinta yang bahkan hadir setelah perselisihan
Rasa cinta yang menguat karena terbelenggu rindu
Rasa cinta yang masih ada saat terseret kecewa
Rasa cinta yang mengakar dalam derasnya perbedaan


Terima kasih untuk suamiku, yang rasa cintanya masih aku rasakan sampai sekarang. Yang membuatku hingga kini sulit untuk berpaling, dan membelengguku dengan rasa memiliki yang kuat. Meskipun kebersamaan kita sudah kita lalui sekian lama, dalam suka duka, dalam canda dan duka, dalam damai dan perdebatan... namun kita tetap dapat bersama, hingga detik ini dan semoga sampai akhir nanti. Amin.....


Untuk suamiku yang selalu membuatku berdebar-debar (meski hanya dengan memandangnya), dalam hari yang spesial ini aku ucapkan Selamat Ulang Tahun...!! Tetaplah menjadi cahaya dalam hidupku, penguat dalam risauku, penyemangat dalam langkahku, penenang dalam gejolakku dan pemenang dari cintaku..!!


Semoga dapat menjadi iman dan panutan, khususnya bagiku dan Shasa. Semoga dengan berjalannya waktu, kedewasaanmu bisa semakin membawa kami dalam ketenangan dan keteduhan. Semoga rasa cinta bisa membuatmu lebih bersemangat dalam berkarya dan meraih impianmu.


Suamiku, pada hari ini aku terpaksa berdinas di luar kota, sehingga aku sengaja menyiapkan ini pada hari Rabu malam, sehari sebelum aku berangkat ke Surabaya. Aku ingin, meskipun pada hari ini aku tak ada di sisimu, aku tetap bisa memberikan suatu kenangan untukmu. Maafkan aku, jika hari ini aku tak bisa menemanimu dan akhir-akhir ini aku sering pergi dinas ke luar kota. Bagaimanapun juga, terima kasih tak terhingga atas dukunganmu selama ini. I love you full.........