Kamis, 03 Desember 2009

Matematika... oh ... Matematika

Gambar diambil dari sini

Suatu sore Shasa mengulurkan buku sekolahnya kepadaku. Dia memintaku untuk membantunya mengoreksi Pekerjaan Rumah yang telah dikerjakannya. Ternyata Shasa memintaku mengoreksi pekerjaan Matematikanya. Biasanya Shasa memang memintaku mengoreksi PR-nya, agar jika ada kekeliruan dari jawabannya masih bisa diperbaikinya.

Setelah aku membaca soalnya..., mataku jadi terbelalak tak percaya. Soal-soal yang harus aku koreksi sebanyak 15 soal dan bentuk soalnya antara lain seperti ini :

  1. Ani pergi berenang setiap 3 hari sekali. Sedangkan Ana berenang setiap 4 hari sekali. Jika hari Minggu mereka berenang bersama-sama, pada setiap hari berapa hari mereka akan bertemu ?
  2. Lampu A menyapa setiap 45 menit lalu padam. Lampu B menyala setiap 30 menit lalu padam. Jika lampu A dan lampu B menyala bersama pada pukul 09.30, pada pukul berapa lampu A dan B menyala bersama lagi ?

Astaga... Shasa baru kelas 4 SD bukan ? Tapi kok pelajaran Matematikanya sudah 'rumit' begini ya... Terus terang saja aku tak langsung bisa mengoreksi hasil pekerjaan Shasa, karena aku tak tahu bagaimana cara menghitungnya. Akhirnya, aku harus belajar dulu cara-cara penyelesaian soal-soal seperti itu dari bukunya Shasa. Heehh..., ternyata tak mudah juga. Setelah bersusah payah mempelajarinya, akhirnya aku bisa juga mengoreksi pekerjaan Shasa. Leganya....

Namun aku tetap saja mulai merasa kewalahan dengan pelajaran Matematika-nya Shasa. Aku merasa pelajaran Matematika-nya sudah semakin berat. Atau... aku saja yang berlebihan karena pada dasarnya aku memang tidak mahir dalam Matematika ? Aku jadi berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki orang-orang yang membantunya mengoreksi pekerjaan rumahnya ? Jika ternyata mereka tak mampu mengerjakannya, pada siapa mereka akan bertanya.. ? Bagi yang memiliki banyak uang mungkin tak masalah, karena mereka dapat memasukkan anak-anaknya dalam program bimbingan belajar. Sementara bagi yang tidak mampu... bagaimana solusinya ?

Aku sendiri mulai berpikir untuk mencarikan tempat les Matematika bagi Shasa. Aku kini sudah merasa kesulitan mengikuti pelajaran Matematikan anak kelas 4 SD. Padahal dulu aku berkeinginan agar selama Shasa duduk di bangku SD, aku tak akan mengijinkannya mengikuti les pelajaran sekolah. Meskipun teman-teman Shasa sudah banyak yang les, dan Shasa sendiri sudah beberapa kali minta les, tapi selama ini aku tidak mengabulkannya. Bagiku, selama aku masih bisa mengajarinya maka aku tak akan memasukkannya dalam les manapun. Tapi kini... setelah mengetahui betapa rumitnya pelajaran anak kelas 4 SD... aku mulai berubah pikiran.

Seandainya saja aku cukup pandai dalam Matematika....

Matematika... oh ... Matematika

Gambar diambil dari sini

Suatu sore Shasa mengulurkan buku sekolahnya kepadaku. Dia memintaku untuk membantunya mengoreksi Pekerjaan Rumah yang telah dikerjakannya. Ternyata Shasa memintaku mengoreksi pekerjaan Matematikanya. Biasanya Shasa memang memintaku mengoreksi PR-nya, agar jika ada kekeliruan dari jawabannya masih bisa diperbaikinya.

Setelah aku membaca soalnya..., mataku jadi terbelalak tak percaya. Soal-soal yang harus aku koreksi sebanyak 15 soal dan bentuk soalnya antara lain seperti ini :

  1. Ani pergi berenang setiap 3 hari sekali. Sedangkan Ana berenang setiap 4 hari sekali. Jika hari Minggu mereka berenang bersama-sama, pada setiap hari berapa hari mereka akan bertemu ?
  2. Lampu A menyapa setiap 45 menit lalu padam. Lampu B menyala setiap 30 menit lalu padam. Jika lampu A dan lampu B menyala bersama pada pukul 09.30, pada pukul berapa lampu A dan B menyala bersama lagi ?

Astaga... Shasa baru kelas 4 SD bukan ? Tapi kok pelajaran Matematikanya sudah 'rumit' begini ya... Terus terang saja aku tak langsung bisa mengoreksi hasil pekerjaan Shasa, karena aku tak tahu bagaimana cara menghitungnya. Akhirnya, aku harus belajar dulu cara-cara penyelesaian soal-soal seperti itu dari bukunya Shasa. Heehh..., ternyata tak mudah juga. Setelah bersusah payah mempelajarinya, akhirnya aku bisa juga mengoreksi pekerjaan Shasa. Leganya....

Namun aku tetap saja mulai merasa kewalahan dengan pelajaran Matematika-nya Shasa. Aku merasa pelajaran Matematika-nya sudah semakin berat. Atau... aku saja yang berlebihan karena pada dasarnya aku memang tidak mahir dalam Matematika ? Aku jadi berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki orang-orang yang membantunya mengoreksi pekerjaan rumahnya ? Jika ternyata mereka tak mampu mengerjakannya, pada siapa mereka akan bertanya.. ? Bagi yang memiliki banyak uang mungkin tak masalah, karena mereka dapat memasukkan anak-anaknya dalam program bimbingan belajar. Sementara bagi yang tidak mampu... bagaimana solusinya ?

Aku sendiri mulai berpikir untuk mencarikan tempat les Matematika bagi Shasa. Aku kini sudah merasa kesulitan mengikuti pelajaran Matematikan anak kelas 4 SD. Padahal dulu aku berkeinginan agar selama Shasa duduk di bangku SD, aku tak akan mengijinkannya mengikuti les pelajaran sekolah. Meskipun teman-teman Shasa sudah banyak yang les, dan Shasa sendiri sudah beberapa kali minta les, tapi selama ini aku tidak mengabulkannya. Bagiku, selama aku masih bisa mengajarinya maka aku tak akan memasukkannya dalam les manapun. Tapi kini... setelah mengetahui betapa rumitnya pelajaran anak kelas 4 SD... aku mulai berubah pikiran.

Seandainya saja aku cukup pandai dalam Matematika....

Selasa, 01 Desember 2009

Ditinggal suami

Duh.., suamiku mau pergi nih. Kebetulan kantor suamiku mendapatkan undangan agar mengirimkan 2 orang peserta guna mengikuti pelatihan. Tempat pelatihannya di Bogor (jauh amat..... ). Kali ini yang ditugaskan berangkat mengikuti pelatihan itu salah satunya suamiku. Rencananya berangkat besok siang, dan baru akan sampai rumah lagi hari Minggu nanti. Jadi kurang lebih suamiku mengikuti pelatihan selama 4 hari 3 malam. Sebenarnya tak sampai seminggu sih, tapi kok kayaknya lama banget ya... hehehe.

Suamiku memang jarang dinas ke luar kota, tapi sekalinya dinas tidak pernah hanya sehari atau 2 hari, pasti lebih dari itu. Dia malah hampir tak pernah dinas keluar kota yang hanya memakan waktu sehari saja. Sementara aku relatif lebih sering dinas ke luar kota, tapi jarang banget menginap. Kalaupun menginap paling lama ya hanya semalam, tak pernah lebih lama dari itu.

Suamiku belum juga berangkat, tapi rasanya sudah kangen saja nih hehehe... Apalagi Shasa sudah ribut banget karena tahu akan ditinggal ayahnya pergi sekian lama. Karena jarang ditinggal pergi ayahnya, makanya Shasa jadi merasa sangat kehilangan. Dapat dimaklumi, karena selama ini yang sibuk antar-jemput Shasa setiap hari adalah ayahnya.


Selama ini, setiap ayahnya ke luar kota dalam waktu yang lama, Shasa selalu minta untuk tidur di rumah eyangnya. Mungkin dengan berada di rumah eyangnya, rasa kesepian Shasa akibat ditinggal ayahnya akan sedikit terobati. Ketidakhadiran ayahnya dapat tergantikan oleh keberadaan Eyang Putri dan Eyang Kakungnya. Jadi, seperti kebiasaan yang sudah-sudah, hari ini aku sudah mempersiapkan segala macam kebutuhan untuk 'mengungsi' ke rumah eyang selama suamiku tak ada di rumah. Buku-buku pelajaran sekolah Shasa juga diangkut semua...


Untung saja rumah eyangnya hanya berjarak kurang lebih 4 km dari rumah kami. Coba kalau rumah eyangnya jauh, wah... benar-benar akan serasa seperti mudik deh hahaha. Tapi aku sendiri sih sebenarnya juga senang diajak menginap di rumah eyang, itu berarti aku tidak kesepian di rumah. Setidaknya aku masih punya teman ngobrol di saat Shasa sudah terlelap dalam tidurnya.


Namun..., sebenarnya ada satu hal yang agak 'memberatkan' aku selama aku menginap di rumah eyang... yaitu tidak bisa internetan..! Maklum saja, di rumah eyang belum 'tersentuh' speedy. Selain itu, laptop-ku dibawa suami ke Bogor untuk pelatihan tersebut. Kompie di rumah terlalu ribet jika dibawa kemana-mana. Sementara itu aku tidak mahir dan tidak leluasa menggunakan HP untuk internetan.


Itu artinya..., aku untuk sementara istirahat dulu dari dunia blogging. Rencananya aku akan kembali pulang ke rumah Sabtu depan, dan pada saat itu aku bisa blogging sekaligus blogwalking. Sayangnya internet di kantor tidak bisa aku gunakan untuk itu karena akses ke blogger/blogspot diblokir. Kalaupun aku bisa mampir ke blog sahabat dari kantor, itu pun aku tak bisa meninggalkan komentar, dan hanya bisa nulis pesan lewat shoutmix / shoutbox saja.


Mungkin selama itu aku hanya bisa eksis di facebook, itupun hanya waktu siang hari saja. Kebetulan akses facebook dari kantor tidak diblokir. (^_^) So, sampai ketemu lagi Sabtu depan... atau lewat facebook saja ya... See you soon......

Ditinggal suami

Duh.., suamiku mau pergi nih. Kebetulan kantor suamiku mendapatkan undangan agar mengirimkan 2 orang peserta guna mengikuti pelatihan. Tempat pelatihannya di Bogor (jauh amat..... ). Kali ini yang ditugaskan berangkat mengikuti pelatihan itu salah satunya suamiku. Rencananya berangkat besok siang, dan baru akan sampai rumah lagi hari Minggu nanti. Jadi kurang lebih suamiku mengikuti pelatihan selama 4 hari 3 malam. Sebenarnya tak sampai seminggu sih, tapi kok kayaknya lama banget ya... hehehe.

Suamiku memang jarang dinas ke luar kota, tapi sekalinya dinas tidak pernah hanya sehari atau 2 hari, pasti lebih dari itu. Dia malah hampir tak pernah dinas keluar kota yang hanya memakan waktu sehari saja. Sementara aku relatif lebih sering dinas ke luar kota, tapi jarang banget menginap. Kalaupun menginap paling lama ya hanya semalam, tak pernah lebih lama dari itu.

Suamiku belum juga berangkat, tapi rasanya sudah kangen saja nih hehehe... Apalagi Shasa sudah ribut banget karena tahu akan ditinggal ayahnya pergi sekian lama. Karena jarang ditinggal pergi ayahnya, makanya Shasa jadi merasa sangat kehilangan. Dapat dimaklumi, karena selama ini yang sibuk antar-jemput Shasa setiap hari adalah ayahnya.


Selama ini, setiap ayahnya ke luar kota dalam waktu yang lama, Shasa selalu minta untuk tidur di rumah eyangnya. Mungkin dengan berada di rumah eyangnya, rasa kesepian Shasa akibat ditinggal ayahnya akan sedikit terobati. Ketidakhadiran ayahnya dapat tergantikan oleh keberadaan Eyang Putri dan Eyang Kakungnya. Jadi, seperti kebiasaan yang sudah-sudah, hari ini aku sudah mempersiapkan segala macam kebutuhan untuk 'mengungsi' ke rumah eyang selama suamiku tak ada di rumah. Buku-buku pelajaran sekolah Shasa juga diangkut semua...


Untung saja rumah eyangnya hanya berjarak kurang lebih 4 km dari rumah kami. Coba kalau rumah eyangnya jauh, wah... benar-benar akan serasa seperti mudik deh hahaha. Tapi aku sendiri sih sebenarnya juga senang diajak menginap di rumah eyang, itu berarti aku tidak kesepian di rumah. Setidaknya aku masih punya teman ngobrol di saat Shasa sudah terlelap dalam tidurnya.


Namun..., sebenarnya ada satu hal yang agak 'memberatkan' aku selama aku menginap di rumah eyang... yaitu tidak bisa internetan..! Maklum saja, di rumah eyang belum 'tersentuh' speedy. Selain itu, laptop-ku dibawa suami ke Bogor untuk pelatihan tersebut. Kompie di rumah terlalu ribet jika dibawa kemana-mana. Sementara itu aku tidak mahir dan tidak leluasa menggunakan HP untuk internetan.


Itu artinya..., aku untuk sementara istirahat dulu dari dunia blogging. Rencananya aku akan kembali pulang ke rumah Sabtu depan, dan pada saat itu aku bisa blogging sekaligus blogwalking. Sayangnya internet di kantor tidak bisa aku gunakan untuk itu karena akses ke blogger/blogspot diblokir. Kalaupun aku bisa mampir ke blog sahabat dari kantor, itu pun aku tak bisa meninggalkan komentar, dan hanya bisa nulis pesan lewat shoutmix / shoutbox saja.


Mungkin selama itu aku hanya bisa eksis di facebook, itupun hanya waktu siang hari saja. Kebetulan akses facebook dari kantor tidak diblokir. (^_^) So, sampai ketemu lagi Sabtu depan... atau lewat facebook saja ya... See you soon......

Jumat, 27 November 2009

Kenanganku tentang guruku (2)

Gambar diambil dari sini

Aku merasa, guru-guruku SD sangat peduli dan perhatian pada murid-muridnya. Aku yang waktu kecil sering sakit amandel, sering kena marah guru-guruku jika aku ketahuan membeli es dan makanan kecil lainnya yang dapat membuat sakit amandelku kambuh. Aku juga pernah membuat masalah 'besar' di sekolah. Saat itu kelas 4 SD, kami sekelas berseteru. Entah mengapa, anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki berseteru. Dan.., untuk kelompok perempuan, akulah yang jadi 'ketua'nya. Perseteruan itu akhirnya diketahui oleh guruku, sehingga aku dan temanku yang jadi 'ketua'nya anak laki-laki (Edy namanya) didamaikan di hadapan teman sekelas. Kalau ingat kejadian itu malu juga... hehehe.

Ada juga kejadian yang menurutku lucu. Selama SD, aku mempunyai sahabat karib yang kebetulan juga tetanggaku, Lelly namanya. Kami sangat dekat, seolah nyaris tak terpisahkan. Bahkan sempat ada anggapan : "dimana ada Reni, disitu ada Lelly". Kedekatan kami sampai ke batin juga lho. Contohnya saja, jika kami hendak pergi bersama teman-teman yang lain, aku tahu baju apa yang akan dipakainya. Sebaliknya dia juga begitu, sehingga seringkali kami muncul berdua dengan baju senada, meskipun kami tidak janjian sebelumnya.

Kedekatan kami rupanya membuat guru-guru mengkhawatirkan kami. Karena takut kami jadi saling ketergantungan satu sama lain, guru-guruku 'memisahkan' kami. Kami tak boleh lagi duduk sebangku. Kami tak boleh lagi bekerja dalam satu kelompok. Bahkan, aku dan Lelly seringkali ditunjuk menjadi ketua kelompok kami masing-masing. Itu saja belum cukup. Dalam kegiatan Pramuka, kami juga 'dipisahkan'. Lagi-lagi kami dijadikan ketua regu kami masing-masing/

Awalnya tentu saja kami tak paham apa maksud perlakuan guru kami itu. Namun lama kelamaan, kami mampu memahami alasan guru-guru kami. Selain agar kami tidak saling tergantung, rupanya guru-guru kami sengaja mempersiapkan mental jika kami tak bisa sama-sama selamanya. Guru-guru kami khawatir jika kami akan menjadi down dan patah semangat jika saat perpisahan itu terjadi.

Perhatian dari guru-gurunya membuatku suka bersekolah disana. Aku mencintai sepenuhnya guru-guruku yang hangat dan bersahabat. Saking cintanya aku pada guru-guruku, pernah suatu kali aku masuk ke dalam Ruang Guru dan mencatat data guru yang ada di papan data sekolah. Aku mencatat semua data tentang tanggal lahir dan alamat guru-guruku. Jika ternyata ada guruku yang berulang tahun, aku biasanya meminta ibuku untuk membuatkan kue ulang tahun. Selanjutnya, aku mengajak beberapa temanku untuk ke rumah guruku itu mengantarkan kue buat beliau. Demikian juga kalau ada guruku yang sakit, aku akan mengajak teman-temanku untuk membezuknya.

Acara berkunjung ke rumah guruku sudah bukan hal aneh bagiku dan teman-temanku. Kami datang ke rumah guru-guru kami itu hanya untuk ngobrol. Semua guru-ku di SD benar-benar sangat bersahabat sehingga kami dapat leluasa bercerita apa saja dengan guru-guru kami. Bahkan, ada guru yang sudah seperti kakak bagi kami sehingga kami bisa curhat dan bertukar pikiran dengan leluasa.

Bercerita tentang guru-guruku SD tak akan ada habisnya. Terlalu banyak kenangan manis yang tak terlupakan. Sekelumit kenanganku bersama guru SD-ku ini secara tiba-tiba hadir saat guru-guru di Indonesia merayakan "Hari Guru". Selamat Hari Guru untuk semua pendidik Indonesia, semoga dapat membimbing dan mendidik anak-anak Indonesia menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan berkualitas. Semoga...