Gambar diambil dari siniSuatu sore Shasa mengulurkan buku sekolahnya kepadaku. Dia memintaku untuk membantunya mengoreksi Pekerjaan Rumah yang telah dikerjakannya. Ternyata Shasa memintaku mengoreksi pekerjaan Matematikanya. Biasanya Shasa memang memintaku mengoreksi PR-nya, agar jika ada kekeliruan dari jawabannya masih bisa diperbaikinya.
Setelah aku membaca soalnya..., mataku jadi terbelalak tak percaya. Soal-soal yang harus aku koreksi sebanyak 15 soal dan bentuk soalnya antara lain seperti ini :
Astaga... Shasa baru kelas 4 SD bukan ? Tapi kok pelajaran Matematikanya sudah 'rumit' begini ya... Terus terang saja aku tak langsung bisa mengoreksi hasil pekerjaan Shasa, karena aku tak tahu bagaimana cara menghitungnya. Akhirnya, aku harus belajar dulu cara-cara penyelesaian soal-soal seperti itu dari bukunya Shasa. Heehh..., ternyata tak mudah juga. Setelah bersusah payah mempelajarinya, akhirnya aku bisa juga mengoreksi pekerjaan Shasa. Leganya....
Namun aku tetap saja mulai merasa kewalahan dengan pelajaran Matematika-nya Shasa. Aku merasa pelajaran Matematika-nya sudah semakin berat. Atau... aku saja yang berlebihan karena pada dasarnya aku memang tidak mahir dalam Matematika ? Aku jadi berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki orang-orang yang membantunya mengoreksi pekerjaan rumahnya ? Jika ternyata mereka tak mampu mengerjakannya, pada siapa mereka akan bertanya.. ? Bagi yang memiliki banyak uang mungkin tak masalah, karena mereka dapat memasukkan anak-anaknya dalam program bimbingan belajar. Sementara bagi yang tidak mampu... bagaimana solusinya ?
Aku sendiri mulai berpikir untuk mencarikan tempat les Matematika bagi Shasa. Aku kini sudah merasa kesulitan mengikuti pelajaran Matematikan anak kelas 4 SD. Padahal dulu aku berkeinginan agar selama Shasa duduk di bangku SD, aku tak akan mengijinkannya mengikuti les pelajaran sekolah. Meskipun teman-teman Shasa sudah banyak yang les, dan Shasa sendiri sudah beberapa kali minta les, tapi selama ini aku tidak mengabulkannya. Bagiku, selama aku masih bisa mengajarinya maka aku tak akan memasukkannya dalam les manapun. Tapi kini... setelah mengetahui betapa rumitnya pelajaran anak kelas 4 SD... aku mulai berubah pikiran.
Seandainya saja aku cukup pandai dalam Matematika....
Setelah aku membaca soalnya..., mataku jadi terbelalak tak percaya. Soal-soal yang harus aku koreksi sebanyak 15 soal dan bentuk soalnya antara lain seperti ini :
- Ani pergi berenang setiap 3 hari sekali. Sedangkan Ana berenang setiap 4 hari sekali. Jika hari Minggu mereka berenang bersama-sama, pada setiap hari berapa hari mereka akan bertemu ?
- Lampu A menyapa setiap 45 menit lalu padam. Lampu B menyala setiap 30 menit lalu padam. Jika lampu A dan lampu B menyala bersama pada pukul 09.30, pada pukul berapa lampu A dan B menyala bersama lagi ?
Astaga... Shasa baru kelas 4 SD bukan ? Tapi kok pelajaran Matematikanya sudah 'rumit' begini ya... Terus terang saja aku tak langsung bisa mengoreksi hasil pekerjaan Shasa, karena aku tak tahu bagaimana cara menghitungnya. Akhirnya, aku harus belajar dulu cara-cara penyelesaian soal-soal seperti itu dari bukunya Shasa. Heehh..., ternyata tak mudah juga. Setelah bersusah payah mempelajarinya, akhirnya aku bisa juga mengoreksi pekerjaan Shasa. Leganya....
Namun aku tetap saja mulai merasa kewalahan dengan pelajaran Matematika-nya Shasa. Aku merasa pelajaran Matematika-nya sudah semakin berat. Atau... aku saja yang berlebihan karena pada dasarnya aku memang tidak mahir dalam Matematika ? Aku jadi berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki orang-orang yang membantunya mengoreksi pekerjaan rumahnya ? Jika ternyata mereka tak mampu mengerjakannya, pada siapa mereka akan bertanya.. ? Bagi yang memiliki banyak uang mungkin tak masalah, karena mereka dapat memasukkan anak-anaknya dalam program bimbingan belajar. Sementara bagi yang tidak mampu... bagaimana solusinya ?
Aku sendiri mulai berpikir untuk mencarikan tempat les Matematika bagi Shasa. Aku kini sudah merasa kesulitan mengikuti pelajaran Matematikan anak kelas 4 SD. Padahal dulu aku berkeinginan agar selama Shasa duduk di bangku SD, aku tak akan mengijinkannya mengikuti les pelajaran sekolah. Meskipun teman-teman Shasa sudah banyak yang les, dan Shasa sendiri sudah beberapa kali minta les, tapi selama ini aku tidak mengabulkannya. Bagiku, selama aku masih bisa mengajarinya maka aku tak akan memasukkannya dalam les manapun. Tapi kini... setelah mengetahui betapa rumitnya pelajaran anak kelas 4 SD... aku mulai berubah pikiran.
Seandainya saja aku cukup pandai dalam Matematika....

