Jumat, 22 Januari 2010

Maaf..., Salah kata

gambar diambil dari sini

Aku yakin, diantara kita semua, pasti pernah mengatakan kata-kata yang salah, pada orang yang salah, pada waktu yang salah dan pada tempat yang salah. Aku pernah melakukannya... dan sungguh aku sangat tak enak hati karenanya. Meskipun aku sudah minta maaf dengan bersungguh-sungguh, namun tetap saja rasa tak enak hinggap di hati. Bahkan saat yang bersangkutan sudah memaafkanku.

Ceritanya bermula saat aku menulis sebuah status di facebook. Sebuah status yang sebenarnya merupakan pertanyaan yang ada di kepalaku. Sedangkan pertanyaan itu tiba-tiba muncul setelah aku membaca sebuah kisah nyata yang sangat menggugah hatiku. Pertanyaan yang muncul dari rasa penasaran apakah aku sanggup menjalani kehidupan seperti kisah nyata tersebut.






Dari berbagai komentar yang masuk, ada sebuah komentar yang membuatku mengerutkan dahi. Sebuah komentar dari seorang teman baik yang aku kenal lewat dunia maya, kurang lebih setahun yang lalu. Sebagaimana pertemanan lewat dunia maya, aku belum tahu banyak tentangnya. Bahkan aku pun belum pernah berjumpa dengannya. Meski begitu, kami merasa dekat satu sama lain.

Kembali pada komentar yang ditulisnya, aku tak paham mengapa dia berkomentar seperti itu. Mengetahui aku bingung dengan komentarnya, dia berinisiatif menuliskan pesan di inbox-ku. Lewat inbox itulah, sebuah tabir terkuak. Dijelaskannya bahwa kisah nyata seperti yang aku tuliskan di status-ku itu seperti "menyindir"-nya. Ternyata, kisahnya tak jauh berbeda dengan kisah nyata tersebut.

Hatiku terasa tertohok. Aku jadi menyesal sekali menuliskan status itu, karena secara tidak langsung telah membuat seseorang merasa tak enak. Lebih tak enak lagi karena seolah aku yang "mengajak" orang untuk membicarakan kisah itu. Meskipun dia tahu bahwa aku tak sengaja melakukan itu, apalagi aku benar-benar tak tahu kondisi-nya. Namun tetap saja, perasaan bersalah dan menyesal menyesakkan dada.

Aku berkali-kali minta maaf padanya dan dia pun meyakinkan aku bahwa dia tak marah padaku. Dia maklum banget karena aku memang belum tahu apa-apa tentang diri pribadinya. Dia hanya merasa sedih karena sepertinya dia sedang jadi "bahan pembicaraan" secara terbuka di statusku. Untung saja, kami menyadari bahwa semua itu semata karena ketidaksengajaan dan hingga kini pertemanan kami masih terjalin dengan sangat baik.

Kejadian itu membuatku memetik pelajaran berharga. Meskipun aku tak ada niat untuk menjelekkan atau menyakiti orang lain, ternyata kata-kata yang aku sampaikan telah melakukannya. Meski aku merasa sudah berhati-hati, namun ternyata aku terperosok juga. Sejak itu, aku semakin hati-hati memilih kata-kata. Aku tak ingin terperosok lebih dalam lagi.

Betapa dahsyatnya sebuah kata. Dia bisa mendatangkan kebahagiaan namun juga dapat membuat seorang sakit hati dan kecewa. Kata-kata bisa melembutkan hati yang keras, namun sebaliknya dapat membuat sebuah hati yang lembut menjadi kasar.

Maaf..., Salah kata

gambar diambil dari sini

Aku yakin, diantara kita semua, pasti pernah mengatakan kata-kata yang salah, pada orang yang salah, pada waktu yang salah dan pada tempat yang salah. Aku pernah melakukannya... dan sungguh aku sangat tak enak hati karenanya. Meskipun aku sudah minta maaf dengan bersungguh-sungguh, namun tetap saja rasa tak enak hinggap di hati. Bahkan saat yang bersangkutan sudah memaafkanku.

Ceritanya bermula saat aku menulis sebuah status di facebook. Sebuah status yang sebenarnya merupakan pertanyaan yang ada di kepalaku. Sedangkan pertanyaan itu tiba-tiba muncul setelah aku membaca sebuah kisah nyata yang sangat menggugah hatiku. Pertanyaan yang muncul dari rasa penasaran apakah aku sanggup menjalani kehidupan seperti kisah nyata tersebut.






Dari berbagai komentar yang masuk, ada sebuah komentar yang membuatku mengerutkan dahi. Sebuah komentar dari seorang teman baik yang aku kenal lewat dunia maya, kurang lebih setahun yang lalu. Sebagaimana pertemanan lewat dunia maya, aku belum tahu banyak tentangnya. Bahkan aku pun belum pernah berjumpa dengannya. Meski begitu, kami merasa dekat satu sama lain.

Kembali pada komentar yang ditulisnya, aku tak paham mengapa dia berkomentar seperti itu. Mengetahui aku bingung dengan komentarnya, dia berinisiatif menuliskan pesan di inbox-ku. Lewat inbox itulah, sebuah tabir terkuak. Dijelaskannya bahwa kisah nyata seperti yang aku tuliskan di status-ku itu seperti "menyindir"-nya. Ternyata, kisahnya tak jauh berbeda dengan kisah nyata tersebut.

Hatiku terasa tertohok. Aku jadi menyesal sekali menuliskan status itu, karena secara tidak langsung telah membuat seseorang merasa tak enak. Lebih tak enak lagi karena seolah aku yang "mengajak" orang untuk membicarakan kisah itu. Meskipun dia tahu bahwa aku tak sengaja melakukan itu, apalagi aku benar-benar tak tahu kondisi-nya. Namun tetap saja, perasaan bersalah dan menyesal menyesakkan dada.

Aku berkali-kali minta maaf padanya dan dia pun meyakinkan aku bahwa dia tak marah padaku. Dia maklum banget karena aku memang belum tahu apa-apa tentang diri pribadinya. Dia hanya merasa sedih karena sepertinya dia sedang jadi "bahan pembicaraan" secara terbuka di statusku. Untung saja, kami menyadari bahwa semua itu semata karena ketidaksengajaan dan hingga kini pertemanan kami masih terjalin dengan sangat baik.

Kejadian itu membuatku memetik pelajaran berharga. Meskipun aku tak ada niat untuk menjelekkan atau menyakiti orang lain, ternyata kata-kata yang aku sampaikan telah melakukannya. Meski aku merasa sudah berhati-hati, namun ternyata aku terperosok juga. Sejak itu, aku semakin hati-hati memilih kata-kata. Aku tak ingin terperosok lebih dalam lagi.

Betapa dahsyatnya sebuah kata. Dia bisa mendatangkan kebahagiaan namun juga dapat membuat seorang sakit hati dan kecewa. Kata-kata bisa melembutkan hati yang keras, namun sebaliknya dapat membuat sebuah hati yang lembut menjadi kasar.

Rabu, 20 Januari 2010

Ketika kau pergi

Malam ini
Ketika sosokmu telah menghilang
dalam gerbong kereta api
ada ruang yang menghampa

Ketika peluit kereta melengking
Mengucapkan salam perpisahan
ada kesepian yang menyapa



Ketika kereta bergerak melaju
dan meninggalkanku termangu
selimut kesedihan mampir di hati

Kekasih
Dalam tatap nanarku
keretamu melaju semakin kencang
membentangkan jarak antara kau dan aku
semoga tidak dengan hati kita

Aku masih milikmu
dan akan tetap menunggu
meski pilu mendera
dan rindu makin meraja

Ya Allah...
aku titipkan kekasih hatiku
dalam lindunganMU
mudahkanlah segala urusannya
lancarkanlah perjalanannya
dan ampunilah dosanya

Ya Allah...
kabulkanlah doaku
karna ku tahu
tak kan ada yang sia-sia
apapun yang kutitipkan
pada-MU


Madiun, 20 Januari 2010 (22.10)


***



Malam ini aku ditinggalkan suami lagi, karena lagi-lagi suamiku ditugaskan untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan yang kali ini diadakan di Bekasi akan selesai pada hari Sabtu nanti (23 Januari 2010). Dan... seperti biasa, waktu aku mengantarkan ke Stasiun Kereta Api bersama Shasa, ada rasa yang hilang dan ada ruang yang tiba-tiba hampa.... dalam hatiku.


Kekasihku... semoga Allah mudahkan kebaikan untukmu di mana pun kamu berada... Amin.

Ketika kau pergi

Malam ini
Ketika sosokmu telah menghilang
dalam gerbong kereta api
ada ruang yang menghampa

Ketika peluit kereta melengking
Mengucapkan salam perpisahan
ada kesepian yang menyapa



Ketika kereta bergerak melaju
dan meninggalkanku termangu
selimut kesedihan mampir di hati

Kekasih
Dalam tatap nanarku
keretamu melaju semakin kencang
membentangkan jarak antara kau dan aku
semoga tidak dengan hati kita

Aku masih milikmu
dan akan tetap menunggu
meski pilu mendera
dan rindu makin meraja

Ya Allah...
aku titipkan kekasih hatiku
dalam lindunganMU
mudahkanlah segala urusannya
lancarkanlah perjalanannya
dan ampunilah dosanya

Ya Allah...
kabulkanlah doaku
karna ku tahu
tak kan ada yang sia-sia
apapun yang kutitipkan
pada-MU


Madiun, 20 Januari 2010 (22.10)


***



Malam ini aku ditinggalkan suami lagi, karena lagi-lagi suamiku ditugaskan untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan yang kali ini diadakan di Bekasi akan selesai pada hari Sabtu nanti (23 Januari 2010). Dan... seperti biasa, waktu aku mengantarkan ke Stasiun Kereta Api bersama Shasa, ada rasa yang hilang dan ada ruang yang tiba-tiba hampa.... dalam hatiku.


Kekasihku... semoga Allah mudahkan kebaikan untukmu di mana pun kamu berada... Amin.

Selasa, 19 Januari 2010

Cerita tentang curhat


Ini cerita tentang curhat teman-teman padaku. Sebenarnya, aku punya beberapa teman ~pria dan wanita~ yang suka curhat padaku tentang beberapa hal dalam hidup mereka. Kebanyakan sih curhat masalah pekerjaan, pertemanan, ada juga yang soal kekasih atau rumah tangganya. Pokoknya tentang apa saja yang membuat hati sumpek dan dada sesak.

Sejauh ini sih, aku hanya butuh menyediakan telinga untuk mendengarkan. Aku sebenarnya tak terlalu banyak memberikan masukan kepada mereka. Setelah sekian lama, aku tahu bahwa seringkali yang mereka butuhkan bukanlah nasehat, namun hanya telinga yang mau menampung segala keluh kesah mereka. Seringkali mereka sudah merasa sangat lega, setelah berhasil mengeluarkan uneg-uneg mereka.


Namun di antara semua teman yang suka curhat padaku, ada 3 orang yang istimewa. Satu orang adalah teman wanita yang berdomisili di Jakarta. Sehingga, untuk curhat padaku dia rela menelponku berlama-lama atau mengirimkan banyak SMS. Semuanya hanya untuk curhat, dari yang tak penting sampai yang bikin sesak napas.

Aku sih maklum saja, karena dia memang hidup sendiri di Jakarta, dan mungkin hanya butuh telinga untuk mendengarkan seluruh kisah hidupnya. Bukannya tak semua orang dapat begitu saja diajak curhat ? Kebetulan aku mengenalnya sudah lama, dan dia sangat percaya padaku, sehingga hal apapun dia curhatkan padaku. Aku sih senang-senang saja membantunya meringankan beban pikirannya.

Sementara 2 orang lainnya berjenis kelamin pria. Yang satu, setia menceritakan jatuh bangun perjalanan cintanya sampai akhirnya menikah, lengkap dengan aneka macam problematikanya. Sementara yang satu lagi seringkali curhat tentang kisah cintanya yang rumit. Maklum saja, meskipun sudah menjalani kehidupan rumah tangga, dia masih memiliki banyak cinta kepada beberapa wanita. *geleng-geleng kepala*

Temanku yang terakhir ini kalau sedang curhat sangat terbuka. Curhatnya padaku nyaris tanpa tedeng aling-aling, nyaris tak ada yang disembunyikan. Terkadang kalau ceritanya (menurutku) agak keterlaluan, aku pun tak sungkan-sungkan untuk mencela dan mengkritiknya. Bagusnya, dia bisa menerima celaan dan kritikan dariku dengan senyuman. Bahkan dia bilang agar aku jangan sampai bosan mendengar curhatnya, karena kalau aku sudah bosen mendengarnya, dia tak tahu lagi harus kemana menceritakan segala 'kegilaan'nya itu. Dia yakin, kalau semua itu tak diutarakan pada seseorang, dia bisa gila.... ^_^

Nah, dari temanku inilah yang telah memberikan banyak "inspirasi" untuk kutuliskan dalam blog ini. Walaupun tentu saja, aku perlu sedikit merubah cerita dan identitasnya agar 'tokoh yang aku ceritakan' itu tidak dikenal oleh teman-temanku yang kebetulan juga membaca tulisanku disini. Tak enak kan, kalau apa yang dipercayakan kepadaku akhirnya diketahui umum juga..?

Alasan mengapa aku suka menuliskan pengalaman hidup temanku yang telah di-curhat-kan padaku karena aku sering mengambil banyak pelajaran pengalaman hidup mereka itu. Siapa tahu, teman-teman yang lain pun dapat mengambil pelajaran dari pengalaman hidup teman-temanku itu. Karena menurutku, untuk pelajaran hidup dapat diperoleh tanpa kita harus mengalaminya sendiri. Bahkan, seringkali pengalaman hidup orang lain yang memberikan banyak pelajaran hidup bagi kita.

Apakah benar begitu....?

Gambar diambil dari sini