Selasa, 02 Februari 2010

Oleh-oleh cuti (2)

Setelah sebelumnya aku berbagi sedikit tentang oleh-oleh cutiku, maka kali ini aku akan menuntaskan membagi oleh-oleh cuti itu. Supaya aku tak lagi punya hutang janji pada sahabat semua. Kalau teman-teman kantor dan tetanggaku sudah mendapat bagian oleh-oleh jenang, sale pisang dan lain-lain... maka teman-teman dari dunia maya cukup mendapatkan oleh-oleh cerita saja ya ?

Sebenarnya dari awal berangkat ke Pacitan, Shasa sudah bilang ingin ke Gua. Rupanya, pengalamannya masuk ke Gua Tabuhan di Pacitan setahun yang lalu membuatnya terkesan, dan dia ingin ke Gua Gong. Namun terpaksa kali ini kami tak dapat memenuhi keinginan Shasa untuk masuk ke Gua Gong. Penyebabnya adalah, kami khawatir saat kami sedang berada di dalam gua, tiba-tiba ada gempa. Sebab, pada hari Kamis pagi, sebelum kami sampai di Pacitan, ternyata Pacitan kembali dilanda gempa. Tentu saja, berita itu membuat kami khawatir juga kalau harus masuk ke gua. Untung saja, setelah diberi penjelasan, Shasa mau mengurungkan niatnya ke Gua Gong.




Jum'at pagi, aku, suami, Shasa dan ibuku berangkat jalan-2 dengan mengendarai mobil iparku. Kami ingin melihat dermaga dan Tempat Pelelangan Ikan yang baru diresmikan SBY beberapa waktu yang lalu. Lucunya, kami sempat nyasar, maklum saja kami sama-sama tak hafal dengan jalan-jalan di Pacitan.

Ada untungnya juga kami kesasar, karena kami bisa sampai ke Monumen Tumpak Rinjing terletak di desa Pringkuku, kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Monumen itu dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran yang terjadi pada tanggal 7 Juni 1948 di Tumpak Rinjing antara tentara Indonesia yang dipimpin Jendral Soedirman dibantu masyarakat Pacitan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Sayang sekali, lokasi tempat monumen itu dibangun kurang terpelihara, sehingga kurang menarik minat orang untuk berkunjung.


Monumen untuk mengenang Jendral Soedirman
 
Meskipun kami sempat kesasar lumayan jauh, akhirnya sampai juga kami ke dermaga. Pertama kami langsung menuju tempat mercusuar dibangun, tepat di ujung jalan, karena setelah jalan itu yang terhampar hanyalah hamparan Laut Selatan. Pemandangan yang tersaji di depan mata sangat indah. Meskipun panas menyengat, namun aku tak kuasa beranjak meninggalkan pesona laut selatan yang demikian indah. Subhanallah... betapa indah ciptaanNya.


Pemandangan indah yang menyambut di pintu masuk


Jalan menuju mercusuar



Inilah ujung jalan itu, dan tampak puncak mercusuar tepat di ujung jalan
 
Yang ini mercusuarnya (semula kukira mercusuarnya besar, ternyata hanya kecil saja)

Setelah kami puas memandang laut yang demikian indahnya, kami berpindah menuju Tempat Pelelangan Ikan. Beruntung, saat kami datang, ada sebuah kapal yang sedang merapat dan menurunkan hasil tangkapannya. Ternyata banyak sekali ikan hasil tangkapan mereka hari itu. Sebuah pengalaman baru bagi Shasa, menyaksikan nelayan membongkar hasil tangkapannya. Menariknya, ternyata ikan-ikan yang berhasil ditangkap ada yang sangat besar..!


Ini dia dermaganya dan kapal-2 yang ada di dermaga



Kapal yang sedang merapat untuk menurunkan hasil tangkapan


Mercusuar dilihat dari dermaga


Shasa yang sedang main air di dermaga

Kali ini kami juga tak mengunjungi Pantai Teleng Ria, karena pada kunjungan-kunjungan kami sebelumnya, Teleng Ria selalu tak terlewatkan. Kali ini kami ingin ke Pemandian Air Panas yang terletak di Kecamatan Arjosari, kurang lebih 15 Km dari kota Pacitan. Kabarnya, Pemandian Air Panas (Banyu Anget) "Tirto Husodo" itu menyimpan berbagai khasiat dan manfaat karena mengandung belerang, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Pemandangan menuju Pemandian Air Panas itu sangat indah, melewati daerah pedesaan yang masih asri. Sawah-sawah membentang di bawah gunung yang menjulang dengan gagahnya. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Pemandangan di lokasi Pemandian Air Panas juga bagus ~jika kita masih sempat memperhatikannya~ karena berada di bawah lereng bukit batu putih atau Gunung Kelir.

Untuk dapat masuk ke pemandian itu, pengunjung dikenakan tarif retribusi Rp. 3.000/orang. Murah bukan ? Kolamnya ada 3 buah, dan aku memilih kolam yang paling dangkal, karena aku hanya ingin merendam kaki saja, aku tidak berniat untuk berenang di air yang panas itu. Sewaktu aku memasukkan kaki ke dalam kolam, untuk pertama kalinya, airnya terasa panas sekali. Namun setelah berulang kali memasukkan kaki, dan akhirnya nekad merendam kaki di kolam itu, panasnya tak terlalu terasa lagi. Melihatku berani merendam kaki, Shasa pun ikut-ikutan, walaupun dengan meringis menahan rasa panas.


Foto oleh Bayu Kurniawan (karena aku malah lupa mengambil gambarnya)
 


Aku dan Shasa yang mencoba masuk ke kolam air panas

Itulah oleh-olehku selama menghabiskan waktu berliburku di Pacitan, Kota seribu gua. Bagiku, Pacitan adalah kota yang berada dalam lingkaran pegunungan, karena sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah pegunungan yang sambung menyambung tiada terputus. Benar-benar indah, dan membuatku rindu untuk bisa kembali berkunjung ke sana, suatu saat nanti. Insya Allah...

Ohya..., sebelum postingan ini aku tutup aku akan memberitahukan bahwa... postingan ini adalah postinganku yang ke-300..! Akhirnya, aku bisa juga menyusul Bang Seti@wan. Duh.... senengnya.... ^_^ (hip hip horeeee....)

Oleh-oleh cuti (2)

Setelah sebelumnya aku berbagi sedikit tentang oleh-oleh cutiku, maka kali ini aku akan menuntaskan membagi oleh-oleh cuti itu. Supaya aku tak lagi punya hutang janji pada sahabat semua. Kalau teman-teman kantor dan tetanggaku sudah mendapat bagian oleh-oleh jenang, sale pisang dan lain-lain... maka teman-teman dari dunia maya cukup mendapatkan oleh-oleh cerita saja ya ?

Sebenarnya dari awal berangkat ke Pacitan, Shasa sudah bilang ingin ke Gua. Rupanya, pengalamannya masuk ke Gua Tabuhan di Pacitan setahun yang lalu membuatnya terkesan, dan dia ingin ke Gua Gong. Namun terpaksa kali ini kami tak dapat memenuhi keinginan Shasa untuk masuk ke Gua Gong. Penyebabnya adalah, kami khawatir saat kami sedang berada di dalam gua, tiba-tiba ada gempa. Sebab, pada hari Kamis pagi, sebelum kami sampai di Pacitan, ternyata Pacitan kembali dilanda gempa. Tentu saja, berita itu membuat kami khawatir juga kalau harus masuk ke gua. Untung saja, setelah diberi penjelasan, Shasa mau mengurungkan niatnya ke Gua Gong.




Jum'at pagi, aku, suami, Shasa dan ibuku berangkat jalan-2 dengan mengendarai mobil iparku. Kami ingin melihat dermaga dan Tempat Pelelangan Ikan yang baru diresmikan SBY beberapa waktu yang lalu. Lucunya, kami sempat nyasar, maklum saja kami sama-sama tak hafal dengan jalan-jalan di Pacitan.

Ada untungnya juga kami kesasar, karena kami bisa sampai ke Monumen Tumpak Rinjing terletak di desa Pringkuku, kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Monumen itu dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran yang terjadi pada tanggal 7 Juni 1948 di Tumpak Rinjing antara tentara Indonesia yang dipimpin Jendral Soedirman dibantu masyarakat Pacitan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Sayang sekali, lokasi tempat monumen itu dibangun kurang terpelihara, sehingga kurang menarik minat orang untuk berkunjung.


Monumen untuk mengenang Jendral Soedirman
 
Meskipun kami sempat kesasar lumayan jauh, akhirnya sampai juga kami ke dermaga. Pertama kami langsung menuju tempat mercusuar dibangun, tepat di ujung jalan, karena setelah jalan itu yang terhampar hanyalah hamparan Laut Selatan. Pemandangan yang tersaji di depan mata sangat indah. Meskipun panas menyengat, namun aku tak kuasa beranjak meninggalkan pesona laut selatan yang demikian indah. Subhanallah... betapa indah ciptaanNya.


Pemandangan indah yang menyambut di pintu masuk


Jalan menuju mercusuar



Inilah ujung jalan itu, dan tampak puncak mercusuar tepat di ujung jalan
 
Yang ini mercusuarnya (semula kukira mercusuarnya besar, ternyata hanya kecil saja)

Setelah kami puas memandang laut yang demikian indahnya, kami berpindah menuju Tempat Pelelangan Ikan. Beruntung, saat kami datang, ada sebuah kapal yang sedang merapat dan menurunkan hasil tangkapannya. Ternyata banyak sekali ikan hasil tangkapan mereka hari itu. Sebuah pengalaman baru bagi Shasa, menyaksikan nelayan membongkar hasil tangkapannya. Menariknya, ternyata ikan-ikan yang berhasil ditangkap ada yang sangat besar..!


Ini dia dermaganya dan kapal-2 yang ada di dermaga



Kapal yang sedang merapat untuk menurunkan hasil tangkapan


Mercusuar dilihat dari dermaga


Shasa yang sedang main air di dermaga

Kali ini kami juga tak mengunjungi Pantai Teleng Ria, karena pada kunjungan-kunjungan kami sebelumnya, Teleng Ria selalu tak terlewatkan. Kali ini kami ingin ke Pemandian Air Panas yang terletak di Kecamatan Arjosari, kurang lebih 15 Km dari kota Pacitan. Kabarnya, Pemandian Air Panas (Banyu Anget) "Tirto Husodo" itu menyimpan berbagai khasiat dan manfaat karena mengandung belerang, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Pemandangan menuju Pemandian Air Panas itu sangat indah, melewati daerah pedesaan yang masih asri. Sawah-sawah membentang di bawah gunung yang menjulang dengan gagahnya. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Pemandangan di lokasi Pemandian Air Panas juga bagus ~jika kita masih sempat memperhatikannya~ karena berada di bawah lereng bukit batu putih atau Gunung Kelir.

Untuk dapat masuk ke pemandian itu, pengunjung dikenakan tarif retribusi Rp. 3.000/orang. Murah bukan ? Kolamnya ada 3 buah, dan aku memilih kolam yang paling dangkal, karena aku hanya ingin merendam kaki saja, aku tidak berniat untuk berenang di air yang panas itu. Sewaktu aku memasukkan kaki ke dalam kolam, untuk pertama kalinya, airnya terasa panas sekali. Namun setelah berulang kali memasukkan kaki, dan akhirnya nekad merendam kaki di kolam itu, panasnya tak terlalu terasa lagi. Melihatku berani merendam kaki, Shasa pun ikut-ikutan, walaupun dengan meringis menahan rasa panas.


Foto oleh Bayu Kurniawan (karena aku malah lupa mengambil gambarnya)
 


Aku dan Shasa yang mencoba masuk ke kolam air panas

Itulah oleh-olehku selama menghabiskan waktu berliburku di Pacitan, Kota seribu gua. Bagiku, Pacitan adalah kota yang berada dalam lingkaran pegunungan, karena sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah pegunungan yang sambung menyambung tiada terputus. Benar-benar indah, dan membuatku rindu untuk bisa kembali berkunjung ke sana, suatu saat nanti. Insya Allah...

Ohya..., sebelum postingan ini aku tutup aku akan memberitahukan bahwa... postingan ini adalah postinganku yang ke-300..! Akhirnya, aku bisa juga menyusul Bang Seti@wan. Duh.... senengnya.... ^_^ (hip hip horeeee....)

Senin, 01 Februari 2010

Oleh-oleh cuti (1)

Akhirnya setelah menjalani cuti selama 3 hari dan berlibur ke Pacitan selama 4 hari, aku kembali ke rutinitasku. Kemarin sore, aku sudah kembali ke Madiun lagi. Sebenarnya aku ingin langsung posting tentang oleh-olehku selama cuti di Pacitan, seperti yang aku janjikan sebelumnya. Namun, terpaksa kutunda dengan 2 alasan.

Alasan pertama adalah aku merasa kurang enak badan, setelah sempat kehujanan beberapa kali. Tenggorokanku sudah merasa serak, badan terasa "nggreges" dan kepala sedikit pusing. Makanya, aku memilih tidur saja kemarin dan melupakan niat untuk blogwalking plus blogging.


Alasan kedua (yang tak bisa ditawar) adalah kompie dipakai Shasa. Dia ngotot ingin update blognya. Mengingat Shasa sudah sangat lama tidak blogging, maka aku dengan suka rela mengijinkannya pakai kompie. Akhirnya, malah Shasa yang blogging dan blogwalking... ^_^

Sekarang aku akan menepati janjiku untuk membagi oleh-oleh cuti. Namun, aku putuskan untuk membaginya ke dalam 2 bagian. Soalnya aku tak ingin membuat postingan yang terlalu panjang, supaya yang membaca tidak sampai bosan.

Yang pertama, alasan kami pergi ke Pacitan karena ingin menengok adikku dan keluarganya yang menetap di Pacitan. Kebetulan, 3 bulan yang lalu adikku baru saja melahirkan anak keduanya. Terakhir aku ketemu dengan adikku saat dia melahirkan 3 bulan yang lalu, dan kini aku ingin bertemu dengannya lagi. Tentu saja ingin bertemu lagi dengan keponakanku yang sekarang sedang lucu-lucunya.

Alasan "tambahan" adalah suamiku ingin mancing di laut, kebetulan suami adikku juga hobby mancing. Akhirnya selama di Pacitan, suamiku dan iparku pergi memancing sebanyak 3 kali (Kamis malam, Jumat sore dan Sabtu siang). Namun, mengingat cuaca pada saat ini kurang bersahabat, mereka tak berani mancing di tengah laut. Akhirnya mereka sepakat memancing di pinggir laut, tak jauh dari dermaga. Semula mereka sempat merencanakan untuk memancing ke Pantai Srau, tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya rencana itu dibatalkan. Ingin tahu hasil mancingnya..? Hanya 2 ekor ikan (itupun kecil-kecil) yang mereka dapatkan selama 3 kali berangkat mancing. ^_^

Kesan yang aku tangkap selama di Pacitan adalah hubungan dengan tetangga sangat dekat. Tolong menolong dan gotong royong masih sangat kuat di antara para penduduk Pacitan. Sewaktu kami datang, tetangga-tetangga adikku sangat
welcome dan beberapa diantaranya malah sampai datang ke rumah adikku, sekedar untuk 'menyambut' sekedar mengucapkan selamat datang. Hmm.., pantas saja adikku betah tinggal di Pacitan.

Selain itu yang membuat semakin betah di Pacitan adalah pemandangan alamnya yang indah luar biasa. Perjalanan yang penuh kelok dan berliku tidak membosankan, karena pemandangan alamnya sungguh mempesona. Sejak dari Slahung Ponorogo sampai Pacitan, aku tak henti-hentinya mengagumi keindahan alamnya. Seingatku, aku belum pernah menyaksikan keindahan alam yang lebih indah dari Pacitan.

Sebenarnya, aku ingin sekali memindahkan keindahan alam itu lewat foto-foto yang aku ambil selama perjalanan. Namun, sayang sekali, keindahan itu tak sepenuhnya dapat tertangkap lewat kameraku. Maklum saja, aku hanya hanya bermodal kamera saku. Seandainya aku menggunakan kamera yang lebih bagus, mungkin saja keindahan alam itu dapat berpindah ke dalam kameraku. Selain itu, aku menyadari bahwa aku memang tidak jago dalam fotografi. Sungguh, di saat seperti ini aku menyesal sekali karena tak pandai mengambil gambar dengan baik. *sigh*










Nah.., itulah sebagian foto yang menggambarkan keindahan alam Pacitan. Semoga saja keindahan itu masih bisa ditangkap, meski tak sepenuhnya sesuai dengan yang aku harapkan. Sedangkan cerita lainnya, aku sambung besok ya... See you soon.

Oleh-oleh cuti (1)

Akhirnya setelah menjalani cuti selama 3 hari dan berlibur ke Pacitan selama 4 hari, aku kembali ke rutinitasku. Kemarin sore, aku sudah kembali ke Madiun lagi. Sebenarnya aku ingin langsung posting tentang oleh-olehku selama cuti di Pacitan, seperti yang aku janjikan sebelumnya. Namun, terpaksa kutunda dengan 2 alasan.

Alasan pertama adalah aku merasa kurang enak badan, setelah sempat kehujanan beberapa kali. Tenggorokanku sudah merasa serak, badan terasa "nggreges" dan kepala sedikit pusing. Makanya, aku memilih tidur saja kemarin dan melupakan niat untuk blogwalking plus blogging.


Alasan kedua (yang tak bisa ditawar) adalah kompie dipakai Shasa. Dia ngotot ingin update blognya. Mengingat Shasa sudah sangat lama tidak blogging, maka aku dengan suka rela mengijinkannya pakai kompie. Akhirnya, malah Shasa yang blogging dan blogwalking... ^_^

Sekarang aku akan menepati janjiku untuk membagi oleh-oleh cuti. Namun, aku putuskan untuk membaginya ke dalam 2 bagian. Soalnya aku tak ingin membuat postingan yang terlalu panjang, supaya yang membaca tidak sampai bosan.

Yang pertama, alasan kami pergi ke Pacitan karena ingin menengok adikku dan keluarganya yang menetap di Pacitan. Kebetulan, 3 bulan yang lalu adikku baru saja melahirkan anak keduanya. Terakhir aku ketemu dengan adikku saat dia melahirkan 3 bulan yang lalu, dan kini aku ingin bertemu dengannya lagi. Tentu saja ingin bertemu lagi dengan keponakanku yang sekarang sedang lucu-lucunya.

Alasan "tambahan" adalah suamiku ingin mancing di laut, kebetulan suami adikku juga hobby mancing. Akhirnya selama di Pacitan, suamiku dan iparku pergi memancing sebanyak 3 kali (Kamis malam, Jumat sore dan Sabtu siang). Namun, mengingat cuaca pada saat ini kurang bersahabat, mereka tak berani mancing di tengah laut. Akhirnya mereka sepakat memancing di pinggir laut, tak jauh dari dermaga. Semula mereka sempat merencanakan untuk memancing ke Pantai Srau, tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya rencana itu dibatalkan. Ingin tahu hasil mancingnya..? Hanya 2 ekor ikan (itupun kecil-kecil) yang mereka dapatkan selama 3 kali berangkat mancing. ^_^

Kesan yang aku tangkap selama di Pacitan adalah hubungan dengan tetangga sangat dekat. Tolong menolong dan gotong royong masih sangat kuat di antara para penduduk Pacitan. Sewaktu kami datang, tetangga-tetangga adikku sangat
welcome dan beberapa diantaranya malah sampai datang ke rumah adikku, sekedar untuk 'menyambut' sekedar mengucapkan selamat datang. Hmm.., pantas saja adikku betah tinggal di Pacitan.

Selain itu yang membuat semakin betah di Pacitan adalah pemandangan alamnya yang indah luar biasa. Perjalanan yang penuh kelok dan berliku tidak membosankan, karena pemandangan alamnya sungguh mempesona. Sejak dari Slahung Ponorogo sampai Pacitan, aku tak henti-hentinya mengagumi keindahan alamnya. Seingatku, aku belum pernah menyaksikan keindahan alam yang lebih indah dari Pacitan.

Sebenarnya, aku ingin sekali memindahkan keindahan alam itu lewat foto-foto yang aku ambil selama perjalanan. Namun, sayang sekali, keindahan itu tak sepenuhnya dapat tertangkap lewat kameraku. Maklum saja, aku hanya hanya bermodal kamera saku. Seandainya aku menggunakan kamera yang lebih bagus, mungkin saja keindahan alam itu dapat berpindah ke dalam kameraku. Selain itu, aku menyadari bahwa aku memang tidak jago dalam fotografi. Sungguh, di saat seperti ini aku menyesal sekali karena tak pandai mengambil gambar dengan baik. *sigh*










Nah.., itulah sebagian foto yang menggambarkan keindahan alam Pacitan. Semoga saja keindahan itu masih bisa ditangkap, meski tak sepenuhnya sesuai dengan yang aku harapkan. Sedangkan cerita lainnya, aku sambung besok ya... See you soon.

Kamis, 28 Januari 2010

Cuti

Akhirnya aku bisa juga ambil cuti setelah sekian lama terbenam dengan kesibukan kantor. Mumpung Shasa libur sekolah selama seminggu, maka aku dan suami ambil cuti sekalian. Kami ingin menikmati libur bersama dengan Shasa.

Aku cuti mulai tanggal 27 Januari sampai dengan 29 Januari 2010. Hari pertama cuti, kemarin, aku lalui di rumah saja. Aku bisa beres-beres rumah dan memasak bersama Shasa. Tentu saja tak lupa blogging.... hehehe.


Dan, mulai hari ini sampai hari Minggu nanti, kami sekeluarga dan juga kedua orang tuaku berangkat ke Pacitan. Kami ingin mengunjungi adikku yang tinggal di Pacitan bersama suami dan kedua anaknya. Jika biasanya kami ke Pacitan naik travel atau membawa kendaraan pribadi, kali ini kami ingin lebih santai. Makanya kami sewa mobil saja untuk mengantarkan kami ke Pacitan.


Setelah Dhuhur, berangkatlah kami ke Pacitan. Alhamdulillah, perjalanan kami lancar. Padahal sewaktu kami berangkat, mendung tebal menggantung. Semula kami sempat khawatir akan turun hujan deras dan kami terhadang longsor di Pacitan. Maklum saja, sampai sekarang ini jalan ke Pacitan masih rawan longsor, terutama jika hujan turun dengan derasnya.


Cuaca yang bersahabat membuat kami bisa menikmati perjalanan ini. Jalan mendaki dan berliku-liku kami lalui dengan lancar. Sungai-sungai mengalir tenang di bawah gunung-gunung batu yang sudah nyaris rata dengan tanah. Memang, bagi sebagian penduduk Pacitan, bekerja sebagai pemecah batu adalah sumber mata pencaharian mereka. Maka tak heran, jika di beberapa tempat, kami bisa menyaksikan orang-orang yang sibuk memecah batu di pinggir jalan. Atau beberapa orang yang berusaha memecah gunung batu untuk dijadikan bahan material bangunan.


Selama cuti ini aku mungkin tak bisa leluasa blogging dan blogwalking. Untuk itu aku minta maaf kepada sahabat-sahabat yang telah mampir kesini dan aku belum bisa berkunjung balik. Insya Allah, selesai cuti nanti dan aku telah kembali kepada aktivitas harianku, aku akan segera berkunjung ke rumah sahabat satu persatu.


Selain itu, aku juga minta maaf pada Laksamana Embun, mbak Ninneta dan mbak Fandakarena aku belum sempat memajang award-nya. Tambahan untuk mbak Fanda, tag-nya baru bisa aku kerjakan setelah cuti selesai.


Sementara itu saja yang dapat aku sampaikan kepada para sahabat. Sekarang aku ingin menikmati cutiku, agar nanti saat aku kembali pada aktivitas normalku, aku sudah sangat fresh. Insya Allah, oleh-oleh cutiku di Pacitan ini akan aku bagikan setelah aku pulang ke Madiun nanti. OK..? See you soon...