Setelah sebelumnya aku berbagi sedikit tentang oleh-oleh cutiku, maka kali ini aku akan menuntaskan membagi oleh-oleh cuti itu. Supaya aku tak lagi punya hutang janji pada sahabat semua. Kalau teman-teman kantor dan tetanggaku sudah mendapat bagian oleh-oleh jenang, sale pisang dan lain-lain... maka teman-teman dari dunia maya cukup mendapatkan oleh-oleh cerita saja ya ?
Sebenarnya dari awal berangkat ke Pacitan, Shasa sudah bilang ingin ke Gua. Rupanya, pengalamannya masuk ke Gua Tabuhan di Pacitan setahun yang lalu membuatnya terkesan, dan dia ingin ke Gua Gong. Namun terpaksa kali ini kami tak dapat memenuhi keinginan Shasa untuk masuk ke Gua Gong. Penyebabnya adalah, kami khawatir saat kami sedang berada di dalam gua, tiba-tiba ada gempa. Sebab, pada hari Kamis pagi, sebelum kami sampai di Pacitan, ternyata Pacitan kembali dilanda gempa. Tentu saja, berita itu membuat kami khawatir juga kalau harus masuk ke gua. Untung saja, setelah diberi penjelasan, Shasa mau mengurungkan niatnya ke Gua Gong.
Sebenarnya dari awal berangkat ke Pacitan, Shasa sudah bilang ingin ke Gua. Rupanya, pengalamannya masuk ke Gua Tabuhan di Pacitan setahun yang lalu membuatnya terkesan, dan dia ingin ke Gua Gong. Namun terpaksa kali ini kami tak dapat memenuhi keinginan Shasa untuk masuk ke Gua Gong. Penyebabnya adalah, kami khawatir saat kami sedang berada di dalam gua, tiba-tiba ada gempa. Sebab, pada hari Kamis pagi, sebelum kami sampai di Pacitan, ternyata Pacitan kembali dilanda gempa. Tentu saja, berita itu membuat kami khawatir juga kalau harus masuk ke gua. Untung saja, setelah diberi penjelasan, Shasa mau mengurungkan niatnya ke Gua Gong.
Jum'at pagi, aku, suami, Shasa dan ibuku berangkat jalan-2 dengan mengendarai mobil iparku. Kami ingin melihat dermaga dan Tempat Pelelangan Ikan yang baru diresmikan SBY beberapa waktu yang lalu. Lucunya, kami sempat nyasar, maklum saja kami sama-sama tak hafal dengan jalan-jalan di Pacitan.
Ada untungnya juga kami kesasar, karena kami bisa sampai ke Monumen Tumpak Rinjing terletak di desa Pringkuku, kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Monumen itu dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran yang terjadi pada tanggal 7 Juni 1948 di Tumpak Rinjing antara tentara Indonesia yang dipimpin Jendral Soedirman dibantu masyarakat Pacitan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Sayang sekali, lokasi tempat monumen itu dibangun kurang terpelihara, sehingga kurang menarik minat orang untuk berkunjung.
Meskipun kami sempat kesasar lumayan jauh, akhirnya sampai juga kami ke dermaga. Pertama kami langsung menuju tempat mercusuar dibangun, tepat di ujung jalan, karena setelah jalan itu yang terhampar hanyalah hamparan Laut Selatan. Pemandangan yang tersaji di depan mata sangat indah. Meskipun panas menyengat, namun aku tak kuasa beranjak meninggalkan pesona laut selatan yang demikian indah. Subhanallah... betapa indah ciptaanNya.
Setelah kami puas memandang laut yang demikian indahnya, kami berpindah menuju Tempat Pelelangan Ikan. Beruntung, saat kami datang, ada sebuah kapal yang sedang merapat dan menurunkan hasil tangkapannya. Ternyata banyak sekali ikan hasil tangkapan mereka hari itu. Sebuah pengalaman baru bagi Shasa, menyaksikan nelayan membongkar hasil tangkapannya. Menariknya, ternyata ikan-ikan yang berhasil ditangkap ada yang sangat besar..!
Kali ini kami juga tak mengunjungi Pantai Teleng Ria, karena pada kunjungan-kunjungan kami sebelumnya, Teleng Ria selalu tak terlewatkan. Kali ini kami ingin ke Pemandian Air Panas yang terletak di Kecamatan Arjosari, kurang lebih 15 Km dari kota Pacitan. Kabarnya, Pemandian Air Panas (Banyu Anget) "Tirto Husodo" itu menyimpan berbagai khasiat dan manfaat karena mengandung belerang, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Pemandangan menuju Pemandian Air Panas itu sangat indah, melewati daerah pedesaan yang masih asri. Sawah-sawah membentang di bawah gunung yang menjulang dengan gagahnya. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Pemandangan di lokasi Pemandian Air Panas juga bagus ~jika kita masih sempat memperhatikannya~ karena berada di bawah lereng bukit batu putih atau Gunung Kelir.
Untuk dapat masuk ke pemandian itu, pengunjung dikenakan tarif retribusi Rp. 3.000/orang. Murah bukan ? Kolamnya ada 3 buah, dan aku memilih kolam yang paling dangkal, karena aku hanya ingin merendam kaki saja, aku tidak berniat untuk berenang di air yang panas itu. Sewaktu aku memasukkan kaki ke dalam kolam, untuk pertama kalinya, airnya terasa panas sekali. Namun setelah berulang kali memasukkan kaki, dan akhirnya nekad merendam kaki di kolam itu, panasnya tak terlalu terasa lagi. Melihatku berani merendam kaki, Shasa pun ikut-ikutan, walaupun dengan meringis menahan rasa panas.
Ohya..., sebelum postingan ini aku tutup aku akan memberitahukan bahwa... postingan ini adalah postinganku yang ke-300..! Akhirnya, aku bisa juga menyusul Bang Seti@wan. Duh.... senengnya.... ^_^ (hip hip horeeee....)
Ada untungnya juga kami kesasar, karena kami bisa sampai ke Monumen Tumpak Rinjing terletak di desa Pringkuku, kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Monumen itu dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam pertempuran yang terjadi pada tanggal 7 Juni 1948 di Tumpak Rinjing antara tentara Indonesia yang dipimpin Jendral Soedirman dibantu masyarakat Pacitan melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Sayang sekali, lokasi tempat monumen itu dibangun kurang terpelihara, sehingga kurang menarik minat orang untuk berkunjung.
Meskipun kami sempat kesasar lumayan jauh, akhirnya sampai juga kami ke dermaga. Pertama kami langsung menuju tempat mercusuar dibangun, tepat di ujung jalan, karena setelah jalan itu yang terhampar hanyalah hamparan Laut Selatan. Pemandangan yang tersaji di depan mata sangat indah. Meskipun panas menyengat, namun aku tak kuasa beranjak meninggalkan pesona laut selatan yang demikian indah. Subhanallah... betapa indah ciptaanNya.
Pemandangan indah yang menyambut di pintu masuk
Jalan menuju mercusuar
Yang ini mercusuarnya (semula kukira mercusuarnya besar, ternyata hanya kecil saja)
Setelah kami puas memandang laut yang demikian indahnya, kami berpindah menuju Tempat Pelelangan Ikan. Beruntung, saat kami datang, ada sebuah kapal yang sedang merapat dan menurunkan hasil tangkapannya. Ternyata banyak sekali ikan hasil tangkapan mereka hari itu. Sebuah pengalaman baru bagi Shasa, menyaksikan nelayan membongkar hasil tangkapannya. Menariknya, ternyata ikan-ikan yang berhasil ditangkap ada yang sangat besar..!
Ini dia dermaganya dan kapal-2 yang ada di dermaga
Mercusuar dilihat dari dermaga
Shasa yang sedang main air di dermaga
Kali ini kami juga tak mengunjungi Pantai Teleng Ria, karena pada kunjungan-kunjungan kami sebelumnya, Teleng Ria selalu tak terlewatkan. Kali ini kami ingin ke Pemandian Air Panas yang terletak di Kecamatan Arjosari, kurang lebih 15 Km dari kota Pacitan. Kabarnya, Pemandian Air Panas (Banyu Anget) "Tirto Husodo" itu menyimpan berbagai khasiat dan manfaat karena mengandung belerang, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Pemandangan menuju Pemandian Air Panas itu sangat indah, melewati daerah pedesaan yang masih asri. Sawah-sawah membentang di bawah gunung yang menjulang dengan gagahnya. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa. Pemandangan di lokasi Pemandian Air Panas juga bagus ~jika kita masih sempat memperhatikannya~ karena berada di bawah lereng bukit batu putih atau Gunung Kelir.
Untuk dapat masuk ke pemandian itu, pengunjung dikenakan tarif retribusi Rp. 3.000/orang. Murah bukan ? Kolamnya ada 3 buah, dan aku memilih kolam yang paling dangkal, karena aku hanya ingin merendam kaki saja, aku tidak berniat untuk berenang di air yang panas itu. Sewaktu aku memasukkan kaki ke dalam kolam, untuk pertama kalinya, airnya terasa panas sekali. Namun setelah berulang kali memasukkan kaki, dan akhirnya nekad merendam kaki di kolam itu, panasnya tak terlalu terasa lagi. Melihatku berani merendam kaki, Shasa pun ikut-ikutan, walaupun dengan meringis menahan rasa panas.
Foto oleh Bayu Kurniawan (karena aku malah lupa mengambil gambarnya)

Aku dan Shasa yang mencoba masuk ke kolam air panas
Itulah oleh-olehku selama menghabiskan waktu berliburku di Pacitan, Kota seribu gua. Bagiku, Pacitan adalah kota yang berada dalam lingkaran pegunungan, karena sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah pegunungan yang sambung menyambung tiada terputus. Benar-benar indah, dan membuatku rindu untuk bisa kembali berkunjung ke sana, suatu saat nanti. Insya Allah...Aku dan Shasa yang mencoba masuk ke kolam air panas
Ohya..., sebelum postingan ini aku tutup aku akan memberitahukan bahwa... postingan ini adalah postinganku yang ke-300..! Akhirnya, aku bisa juga menyusul Bang Seti@wan. Duh.... senengnya.... ^_^ (hip hip horeeee....)





















