Senin, 08 Februari 2010

I'm sorry

Aku hanya ingin berucap : I'm sorry...
Berat memang mengatakannya
Tapi aku tak punya pilihan lain

Kali ini aku hanya ingin menyampaikan : I'm sorry
Jika terpaksa aku tak datang
dan bersilaturrahim ke rumahmu



Aku hanya ingin istirahat sejenak
agar batuk-ku segera mereda
dan aku kembali ceria

Ijinkan aku menikmati masa rehatku
agar kutemukan lagi kebugaranku
dan bisa segera menyapamu

Sobat..., aku akan segera kembali
karena aku merindukan pertemuan denganmu
Jadi.... doakan aku.

I'm sorry

Aku hanya ingin berucap : I'm sorry...
Berat memang mengatakannya
Tapi aku tak punya pilihan lain

Kali ini aku hanya ingin menyampaikan : I'm sorry
Jika terpaksa aku tak datang
dan bersilaturrahim ke rumahmu



Aku hanya ingin istirahat sejenak
agar batuk-ku segera mereda
dan aku kembali ceria

Ijinkan aku menikmati masa rehatku
agar kutemukan lagi kebugaranku
dan bisa segera menyapamu

Sobat..., aku akan segera kembali
karena aku merindukan pertemuan denganmu
Jadi.... doakan aku.

Minggu, 07 Februari 2010

Tabung elpiji 3kg

Entah sudah berapa kali aku mendengar berita tentang tabung elpiji 3 kg yang meledak dan memakan korban. Yang terakhir aku dengar adalah pemilik kantin kantorku juga menjadi korban ledakan tabung elpiji 3 kg itu. Untung saja, luka yang dialaminya tidak serius. Namun begitu, rasa was-was itu tetap ada. Apalagi sekarang setiap rumah (di lingkunganku) telah mempunyai tabung itu. Takutnya kalau meledak, bukan hanya satu rumah yang menjadi korbannya... tapi beberapa rumah. Namanya tinggal di komplek perumahan, rumahnya sudah gandeng semuanya. Kalau satu terbakar... maka akan dengan mudah merembet ke tetangga-tetangganya. Iih... ngeri.

Aku heran, mengapa tabung elpiji 3 kg mudah sekali meledak. Sementara tabung elpiji yang besar kok tidak ya ? Mengapa gas bisa bocor ya ? Apakah tabungnya yang tidak memenuhi standar ? Kalau hal itu ditanyakan ke pihak Pertamina, pasti jawabannya adalah Tabung Elpiji 3 kg sudah memenuhi standard Safety SNI 19-1452-2001, sehingga tidak mudah meledak. 

Pertamina meyakinkan bahwa setiap tabung Elpiji mempunyai masa edar 5 tahun sejak diproduksi dan kemudian setelah 5 tahun akan diuji ulang secara menyeluruh. Apabila kondisi tabung masih layak edar maka tabung tersebut akan diedarkan dan diisi Elpiji hingga 5 tahun mendatang. Kalau begitu.., mengapa banyak tabung elpiji 3 kg yang meledak ?

Kalau 'kesalahan' tidak terletak pada tabungnya, maka apakah regulator-nya yang bermasalah ? Padahal, regulator itu sama dengan yang dipakai untuk tabung elpiji yang lebih besar (12 kg) kok tidak mudah meledak ?.  Ada yang menyarankan agar tabung elpiji itu diberi pengaman. Walaupun tidak mahal, tapi bagi masyrakat miskin tetap sayang juga kalau harus mengeluarkan uang sendiri untuk beli pengamannya.

Aku yang sering berurusan dengan elpiji dan kompor di dapur tentu saja sering merasa was-was. Takut ada kebocoran gas, takut tabungnya meledak. Aduh.., masak di rumah sendiri kok tak merasa nyaman dan aman ya ?

Kemarin ada kejadian yang membuatku bingung. Ceritanya aku sedang memasak nasi dengan menggunakan gas dari tabung elpiji 3 kg. Kebetulan tabung elpiji yang 12 kg sedang kosong, dan aku belum sempat membeli lagi. Saat aku ke dapur untuk mengambil sesuatu, tanpa sengaja kakiku mengenai tabung elpiji yang 3 kg itu. Aku kaget.., kok tabungnya dingin banget ? Aku periksa apakah kira-kira tabungnya tadi ketumpahan air. Tapi ternyata tidak, karena sekelilingnya kering. Aku penasaran... maka dengan kakiku, aku menyenggol beberapa bagian luar tabung itu. Lho... kok semuanya dingin ?

Setelah aku cermati lagi.., tabung itu ternyata berembun di bagian luarnya. Seperti sebuah gelas yang di dalamnya diisi dengan es, maka bagian luar gelas berembun bukan ? Nah... seperti itulah keadaan tabung gas-ku kemarin. Tabung itu berembun di bagian luarnya, seakan-akan yang di dalam tabung itu adalah es. Antara bingung dan takut.., maka aku segera mematikan kompor. Selanjutnya aku minta suamiku untuk mencabut selang regulatornya.

Aku dan suami tak tahu, mengapa tiba-tiba tabung gas itu berembun. Kami juga tak tahu apakah tindakan yang kami ambil sudah benar. Kami hanya berjaga-jaga saja, karena kami takut tabung itu akan meledak. Untuk sahabat semua.., adakah yang bisa memberiku jawaban mengapa tabung elpiji itu bisa berembun di luarnya ? Apa yang menyebabkan tabung elpiji mudah sekali meledak ?

Sebelumnya terima kasih banyak bagi yang bersedia memberiku informasi yang aku butuhkan itu.

Tabung elpiji 3kg

Entah sudah berapa kali aku mendengar berita tentang tabung elpiji 3 kg yang meledak dan memakan korban. Yang terakhir aku dengar adalah pemilik kantin kantorku juga menjadi korban ledakan tabung elpiji 3 kg itu. Untung saja, luka yang dialaminya tidak serius. Namun begitu, rasa was-was itu tetap ada. Apalagi sekarang setiap rumah (di lingkunganku) telah mempunyai tabung itu. Takutnya kalau meledak, bukan hanya satu rumah yang menjadi korbannya... tapi beberapa rumah. Namanya tinggal di komplek perumahan, rumahnya sudah gandeng semuanya. Kalau satu terbakar... maka akan dengan mudah merembet ke tetangga-tetangganya. Iih... ngeri.

Aku heran, mengapa tabung elpiji 3 kg mudah sekali meledak. Sementara tabung elpiji yang besar kok tidak ya ? Mengapa gas bisa bocor ya ? Apakah tabungnya yang tidak memenuhi standar ? Kalau hal itu ditanyakan ke pihak Pertamina, pasti jawabannya adalah Tabung Elpiji 3 kg sudah memenuhi standard Safety SNI 19-1452-2001, sehingga tidak mudah meledak. 

Pertamina meyakinkan bahwa setiap tabung Elpiji mempunyai masa edar 5 tahun sejak diproduksi dan kemudian setelah 5 tahun akan diuji ulang secara menyeluruh. Apabila kondisi tabung masih layak edar maka tabung tersebut akan diedarkan dan diisi Elpiji hingga 5 tahun mendatang. Kalau begitu.., mengapa banyak tabung elpiji 3 kg yang meledak ?

Kalau 'kesalahan' tidak terletak pada tabungnya, maka apakah regulator-nya yang bermasalah ? Padahal, regulator itu sama dengan yang dipakai untuk tabung elpiji yang lebih besar (12 kg) kok tidak mudah meledak ?.  Ada yang menyarankan agar tabung elpiji itu diberi pengaman. Walaupun tidak mahal, tapi bagi masyrakat miskin tetap sayang juga kalau harus mengeluarkan uang sendiri untuk beli pengamannya.

Aku yang sering berurusan dengan elpiji dan kompor di dapur tentu saja sering merasa was-was. Takut ada kebocoran gas, takut tabungnya meledak. Aduh.., masak di rumah sendiri kok tak merasa nyaman dan aman ya ?

Kemarin ada kejadian yang membuatku bingung. Ceritanya aku sedang memasak nasi dengan menggunakan gas dari tabung elpiji 3 kg. Kebetulan tabung elpiji yang 12 kg sedang kosong, dan aku belum sempat membeli lagi. Saat aku ke dapur untuk mengambil sesuatu, tanpa sengaja kakiku mengenai tabung elpiji yang 3 kg itu. Aku kaget.., kok tabungnya dingin banget ? Aku periksa apakah kira-kira tabungnya tadi ketumpahan air. Tapi ternyata tidak, karena sekelilingnya kering. Aku penasaran... maka dengan kakiku, aku menyenggol beberapa bagian luar tabung itu. Lho... kok semuanya dingin ?

Setelah aku cermati lagi.., tabung itu ternyata berembun di bagian luarnya. Seperti sebuah gelas yang di dalamnya diisi dengan es, maka bagian luar gelas berembun bukan ? Nah... seperti itulah keadaan tabung gas-ku kemarin. Tabung itu berembun di bagian luarnya, seakan-akan yang di dalam tabung itu adalah es. Antara bingung dan takut.., maka aku segera mematikan kompor. Selanjutnya aku minta suamiku untuk mencabut selang regulatornya.

Aku dan suami tak tahu, mengapa tiba-tiba tabung gas itu berembun. Kami juga tak tahu apakah tindakan yang kami ambil sudah benar. Kami hanya berjaga-jaga saja, karena kami takut tabung itu akan meledak. Untuk sahabat semua.., adakah yang bisa memberiku jawaban mengapa tabung elpiji itu bisa berembun di luarnya ? Apa yang menyebabkan tabung elpiji mudah sekali meledak ?

Sebelumnya terima kasih banyak bagi yang bersedia memberiku informasi yang aku butuhkan itu.

Jumat, 05 Februari 2010

Bertetangga dengan stasiun radio

Sudah selama 8 tahun aku tinggal di komplek perumahan, setelah sebelumnya aku dan suami masih numpang di rumah ortu. Komplek perumahan-ku ini berdekatan dengan sebuah radio swasta yang cukup terkenal di kotaku. Kebetulan, yang paling dekat dengan stasiun radio itu adalah blok tempatku tinggal. Bahkan.., tower (pemancar) dari stasiun radio itu tak jauh dari rumahku (hanya berjarak kurang lebih 8 meter).


Pada awal-awal bertetangga dengan stasiun radio itu, ada rasa was-was dalam hatiku, terutama jika ada petir dan angin besar. Maklum saja..., tower dari stasiun radio itu tinggi sekali (kurang lebih 70 meter !). Jadi selalu ada rasa khawatir jika sewaktu-waktu tower itu ambruk terkena petir atau angin. Namun lama-lama aku mulai bisa 'cuek'... soalnya capek juga kalau terus menerus merasa khawatir dan was-was.




Aku tak tahu bagaimana proses pembangunan tower itu sebelumnya. Seingatku dulu sewaktu aku membeli kapling rumah di situ, tower dan stasiun radio itu belum berdiri. Tapi sewaktu aku mulai menempati rumah di sana... stasiun radio dan tower itu sudah berdiri dengan gagahnya. Para tetanggaku juga tidak bilang bahwa sebelumnya ada permintaan ijin dari stasiun radio itu untuk membangun tower di dekat perumahan kami.


Ternyata, "bertetangga" dengan sebuah stasiun radio itu sangat tidak enak. Beberapa kali kejadian televisi / radio di rumahku terganggu (muncul suara dari siaran di radio itu) karena ada "kebocoran" dari radio itu. Tentu saja hal itu mengganggu keasyikan kami dalam menyaksikan siaran televisi atau mendengarkan radio.


Selain itu masih ada jenis "gangguan" lainnya, yaitu keramaian. Sudah biasa terjadi, bahwa di sebuah stasiun radio pasti akan sering menyelenggarakan "keramaian" seperti membuat panggung hiburan dan sebagainya. Dan karena rumah kami sangat dekat dengan stasiun radio itu, maka keramaian itu sangat mengganggu.


Hal itu terjadi lagi, kemarin malam. Entah sedang menggelar acara apa, yang jelas stasiun radio itu membuat panggung terbuka mulai jam 8 kemarin malam. Terpaksa..., aku harus mendengarkan aneka lagu yang ditampilkan di acara itu. Dan... seperti pengalaman-pengalaman terdahulu, kemeriahan itu baru akan berakhir pada pukul 24.00 WIB.


Keramaian yang terjadi kemarin malam sempat membuatku dan Shasa sulit untuk tidur. Kejadian seperti ini sudah sering kali terjadi. Aku heran, apakah memang stasiun radio bebas menggelar keramaian seperti itu tanpa perlu minta ijin juga pada lingkungannya ya..? Apakah mereka tak menyadari bahwa warga kompleks kami sangat terganggu dengan keramaian itu ?


Dulu pernah ada kabar bahwa tower stasiun radio itu akan "dipotong" supaya tidak terlalu tinggi. Namun sampai sekarang ternyata tidak direalisasikan. Dulu pernah perwakilan RT di kompleks perumahanku melakukan dialog dengan stasiun radio itu... tapi ternyata sampai sekarang tetap saja tak ada perubahan apa-apa.


Entahlah..., aku tak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Namun di atas semua masalah di atas, setidaknya aku masih bersyukur bahwa aku sudah memiliki rumah sendiri. Meskipun rumah itu sederhana, tidak besar dan 'bertetangga' dengan sebuah tower radio... aku masih lebih 'beruntung' dibandingkan dengan orang lain yang hingga kini belum memiliki tempat untuk berteduh.