Jumat, 05 Maret 2010

Pengalaman Hidup

"Pengalaman adalah guru yang paling baik"

Aku yakin kita semua pasti telah mengenal pepatah di atas dan aku yakin juga bahwa kita semua setuju dengan pepatah itu. Tak akan ada yang menyangkal bahwa memang pengalaman-lah guru yang terbaik. Nah.., masalahnya adalah bagaimana kita bisa menjadikan pengalaman itu sebagai guru yang terbaik. Dan apakah masing-masing dari kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman itu ?

Manusia menjalani kehidupannya sendiri dan oleh karenanya masing-masing orang memiliki pengalaman yang berbeda dari yang lainnya. Tentu saja orang-orang yang kaya akan pengalaman hidup akan mendapatkan banyak pelajaran yang berharga. Namun, bagi orang-orang yang tak memiliki banyak pengalaman, tetap saja dapat mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Untuk mendapatkan 'pelajaran' tentang kehidupan, kita tak harus mengalami sendiri bukan ? Bukankah pengalaman orang lain pun dapat menjadi pembelajaran bagi kita ?


Meskipun seseorang mendapatkan pengalaman hidup yang sama dengan orang lain, tapi sikap mereka dalam menyikapi pengalaman itu bisa saja tidak sama. Cara seseorang memandang pengalamannya sangat mempengaruhi dalam mengambil pembelajaran dari pengalaman itu. Tentu saja orang-orang yang berpikiran positif akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari pengalaman itu.

Salah satu orang yang memiliki banyak pengalaman hidup dan dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalamannya adalah Andy F. Noya. Aku adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang belajar banyak darinya. Dia adalah orang yang kaya akan pengalaman hidup dan suka juga belajar dari pengalaman orang lain. Semua itu membuatnya menjadi pribadi yang memiliki kepedulian tinggi kepada orang lain. Terus terang, aku kagum padanya.

Untungnya, dia juga suka berbagi (lewat tulisan) tentang pengalaman-pengalaman. Aku merasa beruntung, dengan membaca tulisannya tentang pengalamannya dan pengalaman orang lain, aku telah ikut belajar tentang kehidupan. Tentu saja aku berharap, aku pun dapat mengambil pelajaran berharga darinya karena aku ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada hari ini.

Itulah sebabnya aku menulis dan berbagi banyak hal di sini. Walau terkadang tulisanku hanya bercerita tentang diriku  ~ yang seringkali tidak penting ~  tapi aku yakin... setidaknya ada satu atau dua orang yang dapat mengambil pelajaran dari apa yang aku tuliskan disini. Sesekali aku juga menuliskan tentang kisah hidup seseorang yang aku kenal, karena aku telah mendapatkan pelajaran berharga dari pengalaman itu. Makanya aku pun ingin membaginya lagi kepada orang lain lewat tulisanku di blog ini.

"Ngeblog" itu memang asyik dan lebih mengasyikkan lagi jika ada "nilai plus" yang dapat kita ambil darinya.

Pengalaman Hidup

"Pengalaman adalah guru yang paling baik"

Aku yakin kita semua pasti telah mengenal pepatah di atas dan aku yakin juga bahwa kita semua setuju dengan pepatah itu. Tak akan ada yang menyangkal bahwa memang pengalaman-lah guru yang terbaik. Nah.., masalahnya adalah bagaimana kita bisa menjadikan pengalaman itu sebagai guru yang terbaik. Dan apakah masing-masing dari kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman itu ?

Manusia menjalani kehidupannya sendiri dan oleh karenanya masing-masing orang memiliki pengalaman yang berbeda dari yang lainnya. Tentu saja orang-orang yang kaya akan pengalaman hidup akan mendapatkan banyak pelajaran yang berharga. Namun, bagi orang-orang yang tak memiliki banyak pengalaman, tetap saja dapat mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Untuk mendapatkan 'pelajaran' tentang kehidupan, kita tak harus mengalami sendiri bukan ? Bukankah pengalaman orang lain pun dapat menjadi pembelajaran bagi kita ?


Meskipun seseorang mendapatkan pengalaman hidup yang sama dengan orang lain, tapi sikap mereka dalam menyikapi pengalaman itu bisa saja tidak sama. Cara seseorang memandang pengalamannya sangat mempengaruhi dalam mengambil pembelajaran dari pengalaman itu. Tentu saja orang-orang yang berpikiran positif akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari pengalaman itu.

Salah satu orang yang memiliki banyak pengalaman hidup dan dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalamannya adalah Andy F. Noya. Aku adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang belajar banyak darinya. Dia adalah orang yang kaya akan pengalaman hidup dan suka juga belajar dari pengalaman orang lain. Semua itu membuatnya menjadi pribadi yang memiliki kepedulian tinggi kepada orang lain. Terus terang, aku kagum padanya.

Untungnya, dia juga suka berbagi (lewat tulisan) tentang pengalaman-pengalaman. Aku merasa beruntung, dengan membaca tulisannya tentang pengalamannya dan pengalaman orang lain, aku telah ikut belajar tentang kehidupan. Tentu saja aku berharap, aku pun dapat mengambil pelajaran berharga darinya karena aku ingin menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada hari ini.

Itulah sebabnya aku menulis dan berbagi banyak hal di sini. Walau terkadang tulisanku hanya bercerita tentang diriku  ~ yang seringkali tidak penting ~  tapi aku yakin... setidaknya ada satu atau dua orang yang dapat mengambil pelajaran dari apa yang aku tuliskan disini. Sesekali aku juga menuliskan tentang kisah hidup seseorang yang aku kenal, karena aku telah mendapatkan pelajaran berharga dari pengalaman itu. Makanya aku pun ingin membaginya lagi kepada orang lain lewat tulisanku di blog ini.

"Ngeblog" itu memang asyik dan lebih mengasyikkan lagi jika ada "nilai plus" yang dapat kita ambil darinya.

Kamis, 04 Maret 2010

Informasi

"Informasi merupakan kekuasaan (John Naisbitt)"

gambar diambil dari sini

Saat ini arus informasi tak lagi dapat kita bendung. Informasi datang dari berbagai penjuru, baik itu melalui media cetak maupun media elektronik. Hanya dalam hitungan menit kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan bumi yang lain.


Semua orang pasti membutuhkan informasi, apapun itu bentuknya. Oleh karena itu orang-orang yang memiliki informasi (informan) adalah orang-orang yang punya 'kekuatan' dan 'kekuasaan'. Maka tak heran bila informan itu selalu diburu. Jadi ingat dengan kisah lama tentang Mayangsari saat sedang dihebohkan dengan Bambang Tri dulu. Demi mendapatkan berita tentang kebenaran berita tersebut, para wartawan sampai rela berhari-hari menunggu di depan rumah Mayangsari. Tak lupa juga tetangga dekat dan kerabat Mayangsari diminta untuk memberikan keterangan.

Tak heran bila akhirnya informasi yang dimilikinya layak untuk dijual. Contohnya adalah bila terjadi peristiwa unik dan langka yang terjadi di suatu daerah. Secara kebetulan ada orang yang merekam peristiwa tersebut meski hanya lewat HP-nya. Sebuah stasiun televisi yang tertarik dengan berita itu pun bisa membeli rekaman tersebut dan menayangkannya.

Orang-orang tertentu, yang dianggap sebagai pakar dan berkompeten dalam bidangnya, seringkali diburu untuk memberi komentar dan tanggapan atas suatu peristiwa. Pendapat dan komentar mereka dianggap sebagai informasi yang sangat penting untuk menguatkan atau menjelaskan suatu peristiwa. Salah satu pakar yang sering diburu dan diminta pendapatnya adalah Roy Suryo, yang dikenal sebagai Pakar Telematika. Jika ada foto-foto artis yang menggegerkan, maka Roy Suryo-lah yang akan diminta pendapatnya tentang asli tidaknya foto-foto tersebut.

Informasi bisa dijadikan senjata untuk menjatuhkan seseorang dan ini sering terjadi. Seseorang yang sedang berseteru dengan orang lain seringkali menggunakan informasi yang negatif untuk menjatuhkan lawannya itu. Makanya, sebaiknya kita hati-hati dalam berteman dan berbagi informasi dengan teman kita. Tak menutup kemungkinan jika suatu saat muncul masalah dalam pertemanan itu, mereka tak memiliki senjata mematikan untuk menjatuhkan kita.

Namun ada juga orang-orang yang mempunyai informasi pelit untuk berbagi informasi yang dimilikinya. Penyebabnya ada dua, yang pertama karena dia tak ingin informasi yang dimilikinya diketahui oleh orang lain dan yang kedua dia sengaja mengulur-ulur waktu berbagi informasi karena dia senang menjadi 'orang penting' dan sedang menikmati keadaan menjadi 'orang penting'. Semakin lama dia menyimpan informasi, maka semakin lama pula dia dikejar hanya untuk mendapatkan informasi tersebut dan semakin lama pula dia menjadi 'orang penting'.

Tentu saja derasnya informasi itu tak lepas dari makin canggihnya media elektronik dan media cetak dewasa ini. Semua informasi dari orang-orang tersebut di atas dapat tersaji lewat media-media itu. Bukan hanya selebritis dan tokoh-tokoh nasional saja yang bisa menjadi berita. Kasus 'pribadi' seseorang pun bisa menjadi berita lewat media-media itu. Contoh yang paling 'terkebal' adalah Kasus Prita Mulyasari. Kemudian ada juga kasus Bilqis Anindya Pasha, bayi berusia 17 bulan yang mengalami kelainan saluran empedu. Yang sering menghebohkan adalah beredarnya foto-foto 'intim' dua orang yang berbeda jenis kelaminnya yang awalnya menjadi 'koleksi' pribadi tiba-tiba tersebar di mana-mana. Tak kalah hebohnya adalah peristiwa 'hilangnya' anak gadis gara-gara pertemanannya dengan seorang laki-laki lewat media facebook.

Begitulah..., orang mencari informasi lewat mana saja. Apakah informasi yang diperolehnya akurat atau tidak, tak penting lagi. Maka tak mengherankan jika sekarang media pemberi informasi berlomba-lomba memberikan informasi yang paling 'up to date'. Sementara kita sebagai pemberi informasi harus lebih berhati-hati. Jangan membeberkan semua rahasia pribadi kita lewat apa saja, karena salah-salah bisa berpindah ke 'ranah publik'. 

Menghadapi derasnya informasi yang menyebar dan makin canggihnya media penyebar informasi ini, tentu saja seringkali membuat kita terlena. Namun sebelum semuanya terlambat, ada baiknya kita mulai bersikap hati-hati dalam berbagi informasi. Pun tak kalah pentingnya adalah kita juga harus lebih berhai-hati dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk berbagi informasi. 

Bukankah lebih baik berjaga-jaga supaya informasi kita tak menjadi bumerang bagi kita sendiri..?

Informasi

"Informasi merupakan kekuasaan (John Naisbitt)"

gambar diambil dari sini

Saat ini arus informasi tak lagi dapat kita bendung. Informasi datang dari berbagai penjuru, baik itu melalui media cetak maupun media elektronik. Hanya dalam hitungan menit kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan bumi yang lain.


Semua orang pasti membutuhkan informasi, apapun itu bentuknya. Oleh karena itu orang-orang yang memiliki informasi (informan) adalah orang-orang yang punya 'kekuatan' dan 'kekuasaan'. Maka tak heran bila informan itu selalu diburu. Jadi ingat dengan kisah lama tentang Mayangsari saat sedang dihebohkan dengan Bambang Tri dulu. Demi mendapatkan berita tentang kebenaran berita tersebut, para wartawan sampai rela berhari-hari menunggu di depan rumah Mayangsari. Tak lupa juga tetangga dekat dan kerabat Mayangsari diminta untuk memberikan keterangan.

Tak heran bila akhirnya informasi yang dimilikinya layak untuk dijual. Contohnya adalah bila terjadi peristiwa unik dan langka yang terjadi di suatu daerah. Secara kebetulan ada orang yang merekam peristiwa tersebut meski hanya lewat HP-nya. Sebuah stasiun televisi yang tertarik dengan berita itu pun bisa membeli rekaman tersebut dan menayangkannya.

Orang-orang tertentu, yang dianggap sebagai pakar dan berkompeten dalam bidangnya, seringkali diburu untuk memberi komentar dan tanggapan atas suatu peristiwa. Pendapat dan komentar mereka dianggap sebagai informasi yang sangat penting untuk menguatkan atau menjelaskan suatu peristiwa. Salah satu pakar yang sering diburu dan diminta pendapatnya adalah Roy Suryo, yang dikenal sebagai Pakar Telematika. Jika ada foto-foto artis yang menggegerkan, maka Roy Suryo-lah yang akan diminta pendapatnya tentang asli tidaknya foto-foto tersebut.

Informasi bisa dijadikan senjata untuk menjatuhkan seseorang dan ini sering terjadi. Seseorang yang sedang berseteru dengan orang lain seringkali menggunakan informasi yang negatif untuk menjatuhkan lawannya itu. Makanya, sebaiknya kita hati-hati dalam berteman dan berbagi informasi dengan teman kita. Tak menutup kemungkinan jika suatu saat muncul masalah dalam pertemanan itu, mereka tak memiliki senjata mematikan untuk menjatuhkan kita.

Namun ada juga orang-orang yang mempunyai informasi pelit untuk berbagi informasi yang dimilikinya. Penyebabnya ada dua, yang pertama karena dia tak ingin informasi yang dimilikinya diketahui oleh orang lain dan yang kedua dia sengaja mengulur-ulur waktu berbagi informasi karena dia senang menjadi 'orang penting' dan sedang menikmati keadaan menjadi 'orang penting'. Semakin lama dia menyimpan informasi, maka semakin lama pula dia dikejar hanya untuk mendapatkan informasi tersebut dan semakin lama pula dia menjadi 'orang penting'.

Tentu saja derasnya informasi itu tak lepas dari makin canggihnya media elektronik dan media cetak dewasa ini. Semua informasi dari orang-orang tersebut di atas dapat tersaji lewat media-media itu. Bukan hanya selebritis dan tokoh-tokoh nasional saja yang bisa menjadi berita. Kasus 'pribadi' seseorang pun bisa menjadi berita lewat media-media itu. Contoh yang paling 'terkebal' adalah Kasus Prita Mulyasari. Kemudian ada juga kasus Bilqis Anindya Pasha, bayi berusia 17 bulan yang mengalami kelainan saluran empedu. Yang sering menghebohkan adalah beredarnya foto-foto 'intim' dua orang yang berbeda jenis kelaminnya yang awalnya menjadi 'koleksi' pribadi tiba-tiba tersebar di mana-mana. Tak kalah hebohnya adalah peristiwa 'hilangnya' anak gadis gara-gara pertemanannya dengan seorang laki-laki lewat media facebook.

Begitulah..., orang mencari informasi lewat mana saja. Apakah informasi yang diperolehnya akurat atau tidak, tak penting lagi. Maka tak mengherankan jika sekarang media pemberi informasi berlomba-lomba memberikan informasi yang paling 'up to date'. Sementara kita sebagai pemberi informasi harus lebih berhati-hati. Jangan membeberkan semua rahasia pribadi kita lewat apa saja, karena salah-salah bisa berpindah ke 'ranah publik'. 

Menghadapi derasnya informasi yang menyebar dan makin canggihnya media penyebar informasi ini, tentu saja seringkali membuat kita terlena. Namun sebelum semuanya terlambat, ada baiknya kita mulai bersikap hati-hati dalam berbagi informasi. Pun tak kalah pentingnya adalah kita juga harus lebih berhai-hati dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk berbagi informasi. 

Bukankah lebih baik berjaga-jaga supaya informasi kita tak menjadi bumerang bagi kita sendiri..?

Selasa, 02 Maret 2010

Perhiasan

Wanita biasanya diidentikkan dengan perhiasan dan aneka macam acecories yang memperindah penampilan. Maklum saja, wanita sangat suka keindahan dan wanita pun kebanyakan ingin tampil cantik. Apalagi untuk tampil cantik tidaklah sulit, karena semakin banyak saja pernak-pernik yang dijual untuk membuat penampilan semakin menarik.

Aku memang suka melihat aneka macam perhiasan, acecories dan pernak-pernik yang dijual di toko. Aneka macam penjepit rambut, bando, bros, gelang, kalung dan lain-lain. Aku suka juga sih membelikan Shasa aneka macam pernak-pernik lucu untuknya. Punya anak perempuan memang ada seninya, karena bisa mendandaninya dengan aneka macam perhiasan dan pernak-pernik lucu.

Namun..., aku sendiri bukan termasuk wanita yang suka bersolek, bahkan aku tak suka mengenakan perhiasan. Sehari-hari aku tampil hanya dengan modal bedak dan lipstik serta ditambah dengan sepasang anting kecil di telingaku. Itu saja, tanpa cincin, gelang, jam tangan dan kalung, serta tanpa make up yang lainnya.

Aku memang tak pandai berdandan dan aku memang tak telaten mengenakan aneka macam perhiasan ataupun acecoris dalam penampilanku. Namun, beberapa hari yang lalu aku tertarik dengan sebuah cincin yang dijual di kantorku. Aku tertarik bukan karena desainnya yang istimewa, melainkan karena harganya. Bukan karena harganya yang mahal... tapi justru karena harganya yang sangat murah, yaitu : Rp. 5.000.

What..? Lima Ribu Rupiah...? Kok bisa...? Ternyata cincin itu dibuat dari sekeping uang logam Rp. 500. Wah, kok bisa ya...? Jika penjualnya tak memberitahuku bahan cincin itu aku tak pernah menyangka kalau terbuat dari uang logam, soalnya penampilannya persis sekali dengan cincin emas. Akhirnya, aku membeli sebuah cincin karena tertarik untuk membuktikan akan berapa lama 'awet' dan tidak berubah warnanya.


Walaupun sudah membeli cincin itu, tapi tetap saja aku seringkali lupa memakainya. Soalnya aku sudah terbiasa sih tidak mengenakan perhiasan. Jadinya, cincin itu aku pakai kalau ingat saja hehehe.