Kamis, 21 Mei 2009

Undangan yang membanggakan

Suatu hari aku mendapatkan undangan yang berbeda dari undangan-undangan yang selama ini aku terima. Undangan dari mbak Fanda ini sangat 'unik'. Ternyata, dalam rangka menyambut postingan ke seratus Blog Baca Buku Fanda, aku diberi kehormatan untuk menuliskan satu artikel yang akan dipublikasikan dalam blognya. Wah…, tentu saja aku merasa tersanjung sekali mendapatkan kehormatan itu.


".... Anyway, sebagai rasa terima kasihku dan untuk memberi nuansa yang lain pada event posting ke-100 ini, aku mengundang dan memberi kesempatan kepada beberapa blogger untuk menjadi guest writer/penulis tamu di blog Baca Buku Fanda ini. Guest Writer ini akan memberi nuansa berbeda bagi para pembaca blog-ku, dan moga-moga juga membawa pembaca-pembaca baru ke blog si guest writer.

Mereka yang terpilih adalah:

Mbak Reni – yang menurutku tulisannya selalu membumi (maksudnya??) dan apa adanya terhadap semua hal di sekitar hidup dan dirinya. ..... "

Selain aku, masih ada 4 orang blogger lainnya yang diundang untuk menyumbangkan tulisannya untuk blog Baca Buku Fanda. Undangan dan penawaran itu aku terima dengan senang hati, tapi terus terang saja aku bingung kira-kira aku akan bicara tentang apa. Ternyata, menulis untuk orang lain tak semudah yang aku bayangkan saudara-saudara…. Hehehe…

Setelah berpikir lama, akhirnya aku memantapkan hati untuk bercerita tentang buku. Alasannya ? Tentu saja sesuai dengan nama blognya mbak Fanda. Selain itu semua juga sudah tahu bahwa si empunya blog adalah pecinta buku. Oleh karena itu, di momen yang special ini aku ingin menghadiahkan tulisan tentang sesuatu hal yang disukainya, yaitu buku !

Tapi…, aku bingung juga mau cerita tentang buku apa? Buku-buku koleksiku aku buka-buka lagi untuk mencari tema yang menarik. Setelah sekian lama bingung milih buku, akhirnya aku ketemu juga tema yang menarik. Tentang penulis buku favoritku, yaitu Torey Hayden. Dia penulis yang special di mataku, karena apa yang dia tulis adalah kisah nyata dari pengalamannya membantu ‘anak-anak yang bermasalah’. Ketulusan dan cintanya pada anak-anak yang tidak beruntung itulah yang membuatku jatuh hati padanya.

Kalau teman-teman ingin tahu ceritaku tentang Torey Hayden, datang aja ke blognya mbak Fanda ya? Oh ya.., sebagai ‘hadiah’ bagi kami yang telah rela menyumbangkan tulisan untuk blognya, mbak Fanda memberikan hadiah berupa award seperti ini :

Terimakasih untuk mbak Fanda atas awardnya ini. Kebetulan aku belum punya nih award ini. Sekali lagi makasih ya... Dan atas ijin mbak Fanda, aku akan memberikan award ini kembali kepada para sahabat yang selama ini banyak memberikan support padaku, yaitu : mbak kuyus, marcellino agatha, Bang Budiawan, dan tentu saja yang tak boleh ketinggalan adalah Shasa imutz.

Selain itu aku juga mendapat undangan lain yang juga membuatku bangga. Undangan untuk mengambil award. Nah, undangan simpatik begini tak layak utnuk ditolak kan ? Undangan yang pertama dari mas Agus, yang dituliskannya dalam shoutmix-ku.


• SAHABAT PENA DARI JAWA : anda dapat award tuh ambil ya sob.... (2009-05-17 12:20 AM)
Ternyata..., award yang diberikan padaku ini adalah hasil karya mas Agus Fauzy sendiri lho. Terima kasih banyak untuk mas Agus Fauzy yang sudah memberiku award yang cantik ini. Dan award dari Mas Agus ini akan aku bagikan kepada : mbak Fanda, mbak Fanny, Jeng Sri, Bang Eri, mas Yudie, Kang Dwi dan Shasa Imutz. Inilah award yang aku bagi-bagikan itu :

Undangan menerima award yang lebih lama lagi adalah dari Mbak Echi, Mas Awal Sholeh dan Kang Dwi. Sebenarnya aku sudah pernah menerima award ini dari sahabat yang lain, tapi aku tetap menerimanya dengan senang hati. Untuk mbak Echi, Mas Awal Sholeh dan Kang Dwi..., terimakasih banyak untuk award yang telah dibagikan padaku.

Award cantik dari mbak Echi ini akan aku bagikan juga kepada beberapa sahabat. Mereka adalah : mbak Irmasenjaque,
mbak Dwinacute, mbak Penny, mbak Elly dan mbak Sinta.

Award dari
mas Awal Sholeh ini aku bagikan lagi kepada : Itik Bali, mbak Echi, mas Ari,dan Buwel.


Nah award yang terakhir ini aku peroleh dari
Kang Dwi. Selanjutnya award ini aku bagikan lagi kepada mas Yanuar, mas Awal Sholeh, Trimatra, Anak Nelayan dan mas Agus Fauzy.

Oke..., selesai sudah aku bagi-bagi award. Semoga semua award diterima dengan senang hati ya ? Sampai jumpa lagi...

*gambar diambil dari http://www.avdistrict.org/library/authorhayden.html *

Undangan yang membanggakan

Suatu hari aku mendapatkan undangan yang berbeda dari undangan-undangan yang selama ini aku terima. Undangan dari mbak Fanda ini sangat 'unik'. Ternyata, dalam rangka menyambut postingan ke seratus Blog Baca Buku Fanda, aku diberi kehormatan untuk menuliskan satu artikel yang akan dipublikasikan dalam blognya. Wah…, tentu saja aku merasa tersanjung sekali mendapatkan kehormatan itu.


".... Anyway, sebagai rasa terima kasihku dan untuk memberi nuansa yang lain pada event posting ke-100 ini, aku mengundang dan memberi kesempatan kepada beberapa blogger untuk menjadi guest writer/penulis tamu di blog Baca Buku Fanda ini. Guest Writer ini akan memberi nuansa berbeda bagi para pembaca blog-ku, dan moga-moga juga membawa pembaca-pembaca baru ke blog si guest writer.

Mereka yang terpilih adalah:

Mbak Reni – yang menurutku tulisannya selalu membumi (maksudnya??) dan apa adanya terhadap semua hal di sekitar hidup dan dirinya. ..... "

Selain aku, masih ada 4 orang blogger lainnya yang diundang untuk menyumbangkan tulisannya untuk blog Baca Buku Fanda. Undangan dan penawaran itu aku terima dengan senang hati, tapi terus terang saja aku bingung kira-kira aku akan bicara tentang apa. Ternyata, menulis untuk orang lain tak semudah yang aku bayangkan saudara-saudara…. Hehehe…

Setelah berpikir lama, akhirnya aku memantapkan hati untuk bercerita tentang buku. Alasannya ? Tentu saja sesuai dengan nama blognya mbak Fanda. Selain itu semua juga sudah tahu bahwa si empunya blog adalah pecinta buku. Oleh karena itu, di momen yang special ini aku ingin menghadiahkan tulisan tentang sesuatu hal yang disukainya, yaitu buku !

Tapi…, aku bingung juga mau cerita tentang buku apa? Buku-buku koleksiku aku buka-buka lagi untuk mencari tema yang menarik. Setelah sekian lama bingung milih buku, akhirnya aku ketemu juga tema yang menarik. Tentang penulis buku favoritku, yaitu Torey Hayden. Dia penulis yang special di mataku, karena apa yang dia tulis adalah kisah nyata dari pengalamannya membantu ‘anak-anak yang bermasalah’. Ketulusan dan cintanya pada anak-anak yang tidak beruntung itulah yang membuatku jatuh hati padanya.

Kalau teman-teman ingin tahu ceritaku tentang Torey Hayden, datang aja ke blognya mbak Fanda ya? Oh ya.., sebagai ‘hadiah’ bagi kami yang telah rela menyumbangkan tulisan untuk blognya, mbak Fanda memberikan hadiah berupa award seperti ini :

Terimakasih untuk mbak Fanda atas awardnya ini. Kebetulan aku belum punya nih award ini. Sekali lagi makasih ya... Dan atas ijin mbak Fanda, aku akan memberikan award ini kembali kepada para sahabat yang selama ini banyak memberikan support padaku, yaitu : mbak kuyus, marcellino agatha, Bang Budiawan, dan tentu saja yang tak boleh ketinggalan adalah Shasa imutz.

Selain itu aku juga mendapat undangan lain yang juga membuatku bangga. Undangan untuk mengambil award. Nah, undangan simpatik begini tak layak utnuk ditolak kan ? Undangan yang pertama dari mas Agus, yang dituliskannya dalam shoutmix-ku.


• SAHABAT PENA DARI JAWA : anda dapat award tuh ambil ya sob.... (2009-05-17 12:20 AM)
Ternyata..., award yang diberikan padaku ini adalah hasil karya mas Agus Fauzy sendiri lho. Terima kasih banyak untuk mas Agus Fauzy yang sudah memberiku award yang cantik ini. Dan award dari Mas Agus ini akan aku bagikan kepada : mbak Fanda, mbak Fanny, Jeng Sri, Bang Eri, mas Yudie, Kang Dwi dan Shasa Imutz. Inilah award yang aku bagi-bagikan itu :

Undangan menerima award yang lebih lama lagi adalah dari Mbak Echi, Mas Awal Sholeh dan Kang Dwi. Sebenarnya aku sudah pernah menerima award ini dari sahabat yang lain, tapi aku tetap menerimanya dengan senang hati. Untuk mbak Echi, Mas Awal Sholeh dan Kang Dwi..., terimakasih banyak untuk award yang telah dibagikan padaku.

Award cantik dari mbak Echi ini akan aku bagikan juga kepada beberapa sahabat. Mereka adalah : mbak Irmasenjaque,
mbak Dwinacute, mbak Penny, mbak Elly dan mbak Sinta.

Award dari
mas Awal Sholeh ini aku bagikan lagi kepada : Itik Bali, mbak Echi, mas Ari,dan Buwel.


Nah award yang terakhir ini aku peroleh dari
Kang Dwi. Selanjutnya award ini aku bagikan lagi kepada mas Yanuar, mas Awal Sholeh, Trimatra, Anak Nelayan dan mas Agus Fauzy.

Oke..., selesai sudah aku bagi-bagi award. Semoga semua award diterima dengan senang hati ya ? Sampai jumpa lagi...

*gambar diambil dari http://www.avdistrict.org/library/authorhayden.html *

Selasa, 19 Mei 2009

Eksploitasi Kemiskinan

Dari berbagai berita yang kita dapatkan lewat berbagai media cetak maupun media elektronik, dapat kita ketahui bahwa tingkat kemiskinan di negara kita masih tergolong tinggi. Seseorang dikatakan miskin apabila secara fisik rumahnya tidak layak untuk dihuni, tidak memiliki pekerjaannya tetap, dan tingkat kesehatannya rendah. Salah satu contoh yang menggambarkan hal itu adalah banyaknya anak-anak yang menderita gizi buruk.

Akibat dari kemiskinan adalah banyak anak-anak yang putus sekolah dan kehilangan masa depannya. Banyak anak yang harus rela membantu orang tuanya untuk mencari makan. Penghasilan yang mereka dapatkan sehari-hari hanya cukup untuk makan. Itupun bukan makanan yang sehat dan mewah, namun hanya makanan seadanya, bahkan terkadang tak mampu mengenyangkan.

Kemiskinan adalah masalah strategis yang saat ini belum mampu tertangani oleh pemerintah Indonesia secara tuntas. Kemiskinan yang menyangkut kehidupan rakyat ini perlu kebijakan yang konkret dalam penanganannya. Campur tangan pemerintah dalam masalah kemiskinan ini terkait dengan amanah yang tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut :

Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Dengan demikian Pemerintah Indonesia bertanggung jawab untuk memelihara dan melindungi para fakir miskin dan anak-anak yang terlantar. Pengentasan kemiskinan bukanlah perkara yang dapat diselesaikan dengan mudah oleh pemerintah. Namun, tak menutup kemungkinan jika seluruh warga negara ikut aktif dan berperan serta dalam upaya pengentasan kemiskinan itu.

Terkait masalah kemiskinan itu, ada suatu fenomena yang kian marak di layar kaca kita. Beragam reality show tentang upaya-upaya membantu rakyat miskin ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Contohnya adalah Bedah Rumah, Jika Aku Menjadi, Duit Kaget dan sebagainya.



Ternyata bukan hanya kemiskinan yang menjadi polemik, namun reality show di televisi pun menjadi polemik. Maraknya reality show itu menimbulkan beragam persepsi dari para pemirsa televisi. Ada yang mendukung, namun tak sedikit yang tidak setuju.

Satu pihak menganggap penayangan reality show seperti itu hanyalah eksploitasi kemiskinan semata. Memanfaatkan rakyat miskin untuk kepentingan komersialisasi. Mengeruk keuntungan dari ketidakberuntungan orang lain. Mencari nama di atas penderitaan orang lain. Atau entah masih banyak lagi persepsi yang lainnya.

Sementara di pihak lain memiliki persepsi yang berbeda. Mereka melihat reality show seperti itu sangat bermanfaat bagi orang miskin. Melalui reality show itu banyak rakyat yang terbantu. Entah dengan cara dibuatkan rumah yang sehat lengkap dengan perabotannya. Atau lewat pemberian bantuan modal usaha untuk kehidupan barunya. Reality show seakan memberi tempat bagi orang-orang mampu yang ingin "berzakat" untuk membantu orang miskin.

Persepsi orang boleh saja berbeda. Namun melalui sebuah reality show semacam itu aku melihat bahwa ada gerakan dari masyarakat (dalam wujud reality show) untuk memberikan bantuan kepada orang-orang miskin, tanpa perlu menunggu pemerintah. Suatu gerakan yang mau tak mau ternyata telah meringankan beban kehidupan beberapa orang.

Sementara untuk pertanyaan : "mengapa harus dengan "model" reality show ?" Menurutku jawabnya antara lain adalah :
  • agar orang-orang yang awalnya tidak peduli dengan kemiskinan, dapat melihat sendiri bagaimana "kemiskinan" yang sebenarnya ada di Indonesia
  • agar semakin banyak orang yang tergerak untuk ikut memberikan bantuan/dana lewat reality show itu yang selanjutnya akan diteruskan kepada orang miskin yang menjadi obyek reality show itu
  • harapan agar muncul rasa kepedulian dan solidaritas terhadap orang-orang miskin yang ada di sekitar kita
Meskipun program reality show yang kini semakin marak itu dinilai tidak mendidik, namun menurutku saat ini program reality semacam itu sedikit banyak telah memberikan karya nyata terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Hanya saja, rasanya perlu dipikirkan lagi kegiatan yang benar-benar bisa membantu rakyat miskin yang tanpa disertai anggapan "eksploitasi kemiskinan".

Sementara program yang benar-benar pas belum berjalan, menurutku kita tak punya hak untuk menghambat upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak lain yang ingin membantu rakyat miskin. Masalah niatnya, kita kembalikan pada masing-masing donator/dermawan. Bukanlah tugas kita menilai tentang suatu kebaikan yang dilakukan oleh seseorang. Semuanya kita serahkan saja kepada Sang Maha Mengetahui dan Sang Maha Menghitung, Allah SWT.

Eksploitasi Kemiskinan

Dari berbagai berita yang kita dapatkan lewat berbagai media cetak maupun media elektronik, dapat kita ketahui bahwa tingkat kemiskinan di negara kita masih tergolong tinggi. Seseorang dikatakan miskin apabila secara fisik rumahnya tidak layak untuk dihuni, tidak memiliki pekerjaannya tetap, dan tingkat kesehatannya rendah. Salah satu contoh yang menggambarkan hal itu adalah banyaknya anak-anak yang menderita gizi buruk.

Akibat dari kemiskinan adalah banyak anak-anak yang putus sekolah dan kehilangan masa depannya. Banyak anak yang harus rela membantu orang tuanya untuk mencari makan. Penghasilan yang mereka dapatkan sehari-hari hanya cukup untuk makan. Itupun bukan makanan yang sehat dan mewah, namun hanya makanan seadanya, bahkan terkadang tak mampu mengenyangkan.

Kemiskinan adalah masalah strategis yang saat ini belum mampu tertangani oleh pemerintah Indonesia secara tuntas. Kemiskinan yang menyangkut kehidupan rakyat ini perlu kebijakan yang konkret dalam penanganannya. Campur tangan pemerintah dalam masalah kemiskinan ini terkait dengan amanah yang tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut :

Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Dengan demikian Pemerintah Indonesia bertanggung jawab untuk memelihara dan melindungi para fakir miskin dan anak-anak yang terlantar. Pengentasan kemiskinan bukanlah perkara yang dapat diselesaikan dengan mudah oleh pemerintah. Namun, tak menutup kemungkinan jika seluruh warga negara ikut aktif dan berperan serta dalam upaya pengentasan kemiskinan itu.

Terkait masalah kemiskinan itu, ada suatu fenomena yang kian marak di layar kaca kita. Beragam reality show tentang upaya-upaya membantu rakyat miskin ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Contohnya adalah Bedah Rumah, Jika Aku Menjadi, Duit Kaget dan sebagainya.



Ternyata bukan hanya kemiskinan yang menjadi polemik, namun reality show di televisi pun menjadi polemik. Maraknya reality show itu menimbulkan beragam persepsi dari para pemirsa televisi. Ada yang mendukung, namun tak sedikit yang tidak setuju.

Satu pihak menganggap penayangan reality show seperti itu hanyalah eksploitasi kemiskinan semata. Memanfaatkan rakyat miskin untuk kepentingan komersialisasi. Mengeruk keuntungan dari ketidakberuntungan orang lain. Mencari nama di atas penderitaan orang lain. Atau entah masih banyak lagi persepsi yang lainnya.

Sementara di pihak lain memiliki persepsi yang berbeda. Mereka melihat reality show seperti itu sangat bermanfaat bagi orang miskin. Melalui reality show itu banyak rakyat yang terbantu. Entah dengan cara dibuatkan rumah yang sehat lengkap dengan perabotannya. Atau lewat pemberian bantuan modal usaha untuk kehidupan barunya. Reality show seakan memberi tempat bagi orang-orang mampu yang ingin "berzakat" untuk membantu orang miskin.

Persepsi orang boleh saja berbeda. Namun melalui sebuah reality show semacam itu aku melihat bahwa ada gerakan dari masyarakat (dalam wujud reality show) untuk memberikan bantuan kepada orang-orang miskin, tanpa perlu menunggu pemerintah. Suatu gerakan yang mau tak mau ternyata telah meringankan beban kehidupan beberapa orang.

Sementara untuk pertanyaan : "mengapa harus dengan "model" reality show ?" Menurutku jawabnya antara lain adalah :
  • agar orang-orang yang awalnya tidak peduli dengan kemiskinan, dapat melihat sendiri bagaimana "kemiskinan" yang sebenarnya ada di Indonesia
  • agar semakin banyak orang yang tergerak untuk ikut memberikan bantuan/dana lewat reality show itu yang selanjutnya akan diteruskan kepada orang miskin yang menjadi obyek reality show itu
  • harapan agar muncul rasa kepedulian dan solidaritas terhadap orang-orang miskin yang ada di sekitar kita
Meskipun program reality show yang kini semakin marak itu dinilai tidak mendidik, namun menurutku saat ini program reality semacam itu sedikit banyak telah memberikan karya nyata terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Hanya saja, rasanya perlu dipikirkan lagi kegiatan yang benar-benar bisa membantu rakyat miskin yang tanpa disertai anggapan "eksploitasi kemiskinan".

Sementara program yang benar-benar pas belum berjalan, menurutku kita tak punya hak untuk menghambat upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak lain yang ingin membantu rakyat miskin. Masalah niatnya, kita kembalikan pada masing-masing donator/dermawan. Bukanlah tugas kita menilai tentang suatu kebaikan yang dilakukan oleh seseorang. Semuanya kita serahkan saja kepada Sang Maha Mengetahui dan Sang Maha Menghitung, Allah SWT.

Senin, 18 Mei 2009

Tragedi Siti Khoriyah (II)

Baru 2 hari yang lalu aku bercerita tentang Siti Khoriyah. Siti Khoriyah selama beberapa hari terakhir menjadi berita karena nasibnya yang tragis. Siti Khoriyah adalah balita (4,5 tahun) yang menjadi korban tindak arogansi aparat pemerintah (Satpol PP). Dalam suatu razia penertiban di Jalan Boulevard depan World Trade Centre (WTC) Surabaya pada Senin, 11 Mei 2009 yang lalu, Siti Khoriyah tersiram kuah bakso.

Namun, beberapa saat yang lalu aku mendengar berita mengejutkan. Berakhir sudah perjuangan Siti Khoriyah setelah dirawat selama 7 (tujuh) hari di RS dr Soetomo, Surabaya. Siti Khoiyaroh meninggal pada hari Senin, 18 Mei 2009 pukul 15.00 WIB. Siti Khoriyah meninggal karena karena mengalami gagal organ multiple atau gagal multi organ setelah mengalami luka bakar 67 persen. Meskipun para dokter telah berupaya sekuat tenaga menyelamatkan nyawa Siti Khoriyah, namun tak ada yang sanggup menolak takdir.

Menghadapi kenyataan ini, tentu saja kedua orangtua Siti Khoriyah, Bunali dan Sumariyah tak mampu menahan tangis. Sumariyah tak hentinya meratapi kepergian anak semata wayangnya yang meninggal dengan tragis.

Orangtua Siti Khoriyah yang tak kuasa membendung kesedihan
Foto diambil dari sini


Sungguh pilu mendengar berita ini. Menurut pihak RS dr Soetomo, Siti Khoriyah memang sulit sembuh total. Sebab, usia Khoiyaroh masih balita dan luka bakarnya sebesar 67 persen. Kalaupun sembuh, akan cacat permanen. Mungkin inilah yang terbaik bagi Siti Khoriyah, daripada dia harus hidup tapi menderita luka bakar yang parah dan menderita trauma seumur hidupnya.

Atas kejadian ini, Pemkot Surabaya mengaku bertanggung jawab sepenuhnya atas meninggalnya Siti Khoriyah. Mereka memberi bantuan uang Rp 35 juta kepada keluarga korban. Semoga kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Untuk selanjutnya, pembinaan PKL harus dilakukan secara manusiawi. Akan lebih baik lagi bila ke depannya Satpol PP memiliki standar metode penertiban.

Sayangnya.., mengapa harus ada "korban" terlebih dahulu untuk memulai suatu perbaikan ? Mengapa setelah semua menjadi terlambat, baru muncul penyesalan ? Atau haruskah kita berpikir, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ?Sebuah PR bagi kita semua.

*semoga keluarga Siti Khoriyah diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini*