Rabu, 14 Oktober 2009

Ketika cinta kembali

Gambar diambil dari sini

Kisah ini kembali tentang cinta manusia. Kisah cinta yang rumit dan berbelit karena ulah manusianya sendiri. Sebuah kisah cinta yang telah sampai pada titik terakhirnya dan perlu keikhlasan untuk melepaskannya. Sebuah kisah yang telah diutarakan salah seorang temanku beberapa hari yang lalu....

Aku mengenalnya sebagai pria dewasa yang berkepribadian. Uniknya, selama ini aku seakan melihatnya dalam 2 sisi yang berbeda. Di suatu waktu, aku melihatnya begitu santun, agamis dan terjaga perilakunya. Namun di kesempatan lain, dia hadir dengan kepribadian yang ramai, gembira dan terkadang terkesan nakal dan semau gue.

Dimataku, dia sangat mencintai ketiga buah hatinya. Setiap dia berbicara tentang anak-anaknya, tampak sekali kebanggaan di wajahnya. Namun.., selama aku berteman dengannya, dia tak pernah sekalipun mengenalkan istrinya kepadaku. Bahkan, tak pernah sekalipun dia bercerita tentang istrinya. Aku pun cukup tahu diri, untuk tidak mengungkit sesuatu yang tak ingin diceritakan kepadaku.

Ternyata..., selama ini istrinya (yang "hanya" sebagai ibu rumah tangga) sudah mulai 'dilupakannya' karena kehadiran seorang wanita yang masih single dan sangat mempesona dalam hidupnya. Wanita itu dikenalnya secara tak sengaja, dalam sebuah fitness center. Temanku yang memang penyuka olah raga ini sejak berkenalan dengan wanita itu seakan terperangkap cinta dalam pandangan pertama. Sejak saat itu.., fitness center menjadi agenda wajib yang harus dikunjunginya setiap hari, karena wanita pujaannya itu bekerja di sana.

Sedemikian dalam temanku itu terjatuh dalam pesona sang wanita. Akhirnya, mereka berdua sudah seperti kekasih yang tak terpisahkan. Bahkan temanmu seringkali pergi berdua dengan sang wanita. Semenjak mengenal wanita itu, temanku benar-benar telah melupakan istrinya, apalagi memang istrinya tak secantik wanita itu. Temanku dengan jujur mengaku padaku bahwa rasa cinta dan sayangnya kepada wanita itu benar-benar di atas segalanya.

Setelah perjalanan cinta mereka terjalin selama lebih dari 4 tahun, muncul orang ketiga dalam hidup sang wanita. Seorang pria muda, masih single dan kaya, telah mampu mengalihkan perhatian sang wanita dari temanku. Mungkin juga sang wanita itu mulai menyadari bahwa kebersamaannya selama ini dengan temanku tak bergerak kemana-mana. Dalam arti, setelah sekian lama mereka berpacaran, temanku tak juga menceraikan istrinya, meskipun mungkin tak lagi mencintainya.

Mungkin karena merasa dalam status yang tidak jelas itulah, sang wanita menerima kehadiran sang orang ketiga itu dalam hidupnya. Namun, sang wanita tak berani berterus terang kepada temanku tentang kehadiran orang ketiga itu. Hingga suatu saat, secara tak sengaja temanku memergoki mereka sedang jalan berdua dengan mesranya. Kemarahan memenuhi hati temanku.

Perasaan ditipu dan dilecehkan begitu kental dalam hatinya. Sulit sekali baginya menerima kenyataan bahwa sang wanita pujaan hati telah berpaling kepada pria lain. Karena dendam yang membara dalam hatinya sempat tercetus niatnya untuk membuat sang wanita dan pria itu menderita selamanya. Meskipun aku sudah mencoba menentramkan hatinya, namun semua kata-kataku tak didengarnya. Kemarahan ternyata telah membutakan mata hatinya.

Namun Allah telah berkehendak lain. Akhirnya, temanku bisa menyadari kekeliruannya dan dapat melihat kenyataan bahwa betapa sabar istrinya selama ini atas semua perlakuannya. Betapa istri tetap menerimanya dan mencintainya, meskipun selama ini dia nyaris dilupakan semenjak kehadiran wanita itu. Hingga, suatu kali temanku bercerita... bahwa pada suatu sore, untuk pertama kalinya semenjak bebeberapa tahun, dia menggandeng tangan istrinya menuju ke masjid yang ada di dekat rumah mereka.... Subhanallah....

Aku bersyukur..., aku terharu sekali karena pada akhirnya cinta sang istri dapat mengembalikan sang suami. Ternyata melalui kesabaran dan doa-doa yang aku yakin selalu dipanjatkannya kepada Allah, telah mampu membukakan mata hati suaminya. Allah memang tak pernah tidur, dan pasti akan mengabulkan permohonan hambaNYA yang disampaikan dengan sungguh-sungguh.

Semoga perjalanan cinta mereka yang berliku dapat menguatkan kembali ikatan cinta yang nyaris putus. Semoga setelah belajar dari pengalaman ini, mereka dapat lebih saling mencintai dan menghormati satu sama lain. Doaku untuk mereka......

Samar-samar aku serasa mendengar lantunan suara Reza yang melantunkan Lagu "Cinta Kan Membawamu Kembali"

tiba saat mengerti
jerit suara hati yang letih
meski mencoba melagukan rasa yang ada
mohon tinggal sejenak
lupakanlah waktu
t'mani air mataku
teteskan lara, merajut asa
menjalin mimpi, hendak dan sepi .. sepi

chorus :
cinta kan membawamu kembali di sini
menuai rindu, membasuh perih
bawa serta dirimu, dirimu yang dulu
mencintai diriku apa adanya
saat dusta mengalir
jujurkanlah hati
kenakan batin jiwamu
kenangkan cinta seperti dulu
saat bersama, tak ada keraguan

Ketika cinta kembali

Gambar diambil dari sini

Kisah ini kembali tentang cinta manusia. Kisah cinta yang rumit dan berbelit karena ulah manusianya sendiri. Sebuah kisah cinta yang telah sampai pada titik terakhirnya dan perlu keikhlasan untuk melepaskannya. Sebuah kisah yang telah diutarakan salah seorang temanku beberapa hari yang lalu....

Aku mengenalnya sebagai pria dewasa yang berkepribadian. Uniknya, selama ini aku seakan melihatnya dalam 2 sisi yang berbeda. Di suatu waktu, aku melihatnya begitu santun, agamis dan terjaga perilakunya. Namun di kesempatan lain, dia hadir dengan kepribadian yang ramai, gembira dan terkadang terkesan nakal dan semau gue.

Dimataku, dia sangat mencintai ketiga buah hatinya. Setiap dia berbicara tentang anak-anaknya, tampak sekali kebanggaan di wajahnya. Namun.., selama aku berteman dengannya, dia tak pernah sekalipun mengenalkan istrinya kepadaku. Bahkan, tak pernah sekalipun dia bercerita tentang istrinya. Aku pun cukup tahu diri, untuk tidak mengungkit sesuatu yang tak ingin diceritakan kepadaku.

Ternyata..., selama ini istrinya (yang "hanya" sebagai ibu rumah tangga) sudah mulai 'dilupakannya' karena kehadiran seorang wanita yang masih single dan sangat mempesona dalam hidupnya. Wanita itu dikenalnya secara tak sengaja, dalam sebuah fitness center. Temanku yang memang penyuka olah raga ini sejak berkenalan dengan wanita itu seakan terperangkap cinta dalam pandangan pertama. Sejak saat itu.., fitness center menjadi agenda wajib yang harus dikunjunginya setiap hari, karena wanita pujaannya itu bekerja di sana.

Sedemikian dalam temanku itu terjatuh dalam pesona sang wanita. Akhirnya, mereka berdua sudah seperti kekasih yang tak terpisahkan. Bahkan temanmu seringkali pergi berdua dengan sang wanita. Semenjak mengenal wanita itu, temanku benar-benar telah melupakan istrinya, apalagi memang istrinya tak secantik wanita itu. Temanku dengan jujur mengaku padaku bahwa rasa cinta dan sayangnya kepada wanita itu benar-benar di atas segalanya.

Setelah perjalanan cinta mereka terjalin selama lebih dari 4 tahun, muncul orang ketiga dalam hidup sang wanita. Seorang pria muda, masih single dan kaya, telah mampu mengalihkan perhatian sang wanita dari temanku. Mungkin juga sang wanita itu mulai menyadari bahwa kebersamaannya selama ini dengan temanku tak bergerak kemana-mana. Dalam arti, setelah sekian lama mereka berpacaran, temanku tak juga menceraikan istrinya, meskipun mungkin tak lagi mencintainya.

Mungkin karena merasa dalam status yang tidak jelas itulah, sang wanita menerima kehadiran sang orang ketiga itu dalam hidupnya. Namun, sang wanita tak berani berterus terang kepada temanku tentang kehadiran orang ketiga itu. Hingga suatu saat, secara tak sengaja temanku memergoki mereka sedang jalan berdua dengan mesranya. Kemarahan memenuhi hati temanku.

Perasaan ditipu dan dilecehkan begitu kental dalam hatinya. Sulit sekali baginya menerima kenyataan bahwa sang wanita pujaan hati telah berpaling kepada pria lain. Karena dendam yang membara dalam hatinya sempat tercetus niatnya untuk membuat sang wanita dan pria itu menderita selamanya. Meskipun aku sudah mencoba menentramkan hatinya, namun semua kata-kataku tak didengarnya. Kemarahan ternyata telah membutakan mata hatinya.

Namun Allah telah berkehendak lain. Akhirnya, temanku bisa menyadari kekeliruannya dan dapat melihat kenyataan bahwa betapa sabar istrinya selama ini atas semua perlakuannya. Betapa istri tetap menerimanya dan mencintainya, meskipun selama ini dia nyaris dilupakan semenjak kehadiran wanita itu. Hingga, suatu kali temanku bercerita... bahwa pada suatu sore, untuk pertama kalinya semenjak bebeberapa tahun, dia menggandeng tangan istrinya menuju ke masjid yang ada di dekat rumah mereka.... Subhanallah....

Aku bersyukur..., aku terharu sekali karena pada akhirnya cinta sang istri dapat mengembalikan sang suami. Ternyata melalui kesabaran dan doa-doa yang aku yakin selalu dipanjatkannya kepada Allah, telah mampu membukakan mata hati suaminya. Allah memang tak pernah tidur, dan pasti akan mengabulkan permohonan hambaNYA yang disampaikan dengan sungguh-sungguh.

Semoga perjalanan cinta mereka yang berliku dapat menguatkan kembali ikatan cinta yang nyaris putus. Semoga setelah belajar dari pengalaman ini, mereka dapat lebih saling mencintai dan menghormati satu sama lain. Doaku untuk mereka......

Samar-samar aku serasa mendengar lantunan suara Reza yang melantunkan Lagu "Cinta Kan Membawamu Kembali"

tiba saat mengerti
jerit suara hati yang letih
meski mencoba melagukan rasa yang ada
mohon tinggal sejenak
lupakanlah waktu
t'mani air mataku
teteskan lara, merajut asa
menjalin mimpi, hendak dan sepi .. sepi

chorus :
cinta kan membawamu kembali di sini
menuai rindu, membasuh perih
bawa serta dirimu, dirimu yang dulu
mencintai diriku apa adanya
saat dusta mengalir
jujurkanlah hati
kenakan batin jiwamu
kenangkan cinta seperti dulu
saat bersama, tak ada keraguan

Selasa, 13 Oktober 2009

Pengalaman pertama

Entah apakah aku pernah bercerita kalau aku belum pernah naik pesawat terbang. Entah apakah aku pernah mengakui kalau aku tak berani naik pesawat terbang. Bukan masalah ketinggian yang aku takutkan, namun... banyaknya berita tentang kecelakaan pesawat terbanglah yang menjadi penyebab ketakutanku. Makanya, waktu Ramadhan yang lalu Kepala Kantorku menugaskan aku untuk berangkat ke Jakarta dengan naik pesawat terbang aku menolaknya. Aku lebih memilih berangkat ke Jakarta dengan menggunakan kereta api.

Namun..., akhirnya aku tak bisa menolak lagi ketika Kepala Kantorku mengajakku berangkat ke Jakarta dengan naik pesawat terbang, Senin 5 Oktober 2009 yang lalu. Setelah rapat dinas selesai, Kepala Kantorku dan aku harus segera berangkat ke Jakarta. Dan, untuk bisa segera sampai di Jakarta, tak ada pilihan lain kecuali naik pesawat terbang...!!




Dengan perasaan was-was, akhirnya aku mengikuti Kepala Kantorku memasuki Bandara Juanda. Kepala Kantorku memilih penerbangan yang paling dekat, supaya kami bisa segera sampai di Jakarta. Saat memasuki badan pesawat..., aku tak henti-hentinya berdoa... apalagi saat pesawat sudah mengudara. Meskipun aku tak berani duduk di dekat jendela, tapi awan-awan yang tampak dari balik jendela menunjukkan bahwa kami sudah berada tinggi sekali di atas permukaan tanah. Ihhh... ngeri....!!

Alhamdulillah, kami selamat sampai di Jakarta. Leganya.... Sayang sekali, saat kami sudah sampai di Jakarta, ternyata orang yang ingin kami temui mengatakan via telepon bahwa kami baru bisa ketemu dengannya esok hari. Akhirnya, kami memutuskan untuk mencari penginapan dulu.

Ternyata mencari penginapan di Jakarta tak mudah juga ya..? Kami berhasil mendapatkan penginapan di pusat kota Jakarta, dengan harga yang tidak terlalu mahal. Tapi.... yang tersisa tinggal kamar di lantai 4, dan di penginapan itu tak ada lift dan hanya ada tangga..!! Mau tak mau.., akhirnya kami mengambil juga kamar itu, meskipun sudah terbayang lelahnya naik turun tangga.

Keesokan harinya setelah urusan kami selesai.., kami berangkat menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Dengan kaki terpincang-pincang karena kesleo, aku menyusuri jalan yang rasanya panjang sekali.... Sayangnya, penerbangan pesawat yang aku tumpangi dari Jakarta ke Solo mengalami delay selama 1 jam....!! Ampun...., padahal makin lama kakiku makin sulit saja digerakkan. Waktu 1 jam terasa lama sekali....

Setelah akhirnya kami dipersilahkan memasuki pesawat, rasanya aku nyaris tak mampu berjalan. Selain karena kaki yang makin terasa sakit, namun juga karena hati deg-degan setelah aku melihat awan yang gelap, apalagi sebelumnya sempat turun gerimis. Aku jadi lebih nervous daripada saat berangkat. Sudah begitu, sesampainya di dalam pesawat Kepala Kantorku menyuruhku untuk duduk di dekat jendela.

Akhirnya dengan terpaksa aku duduk di dekat jendela. Saat pesawat sudah terbang, aku ngeri memandang rumah-rumah yang tampak kecil sekali dari atas. Ternyata..., tinggi sekali pesawatku mengudara. Untuk menghilangkan rasa was-wasku, aku lagi-lagi tak henti berdoa agar perjalanaku ke Solo dapat selamat sampai tujuan.

Kemudian saat ada pramugara dan pramugari yang menawarkan souvernir kepadaku, aku memutuskan untuk membelikan souvernir untuk Shasa. Selain untuk mengalihkan perhatianku dari ketinggian yang mengerikan, juga agar Shasa mempunyai benda kenangan dari kepergianku yang pertama ke Jakarta... Hehehe..., norak banget ya..? Setelah memilih beberapa barang, akhirnya aku memutuskan membelikan Shasa sebuah jam tangan yang berbentuk gelang.

Shasa dan oleh-olehnya


Tiket pesawatku

Sebenarnya sih, sewaktu di Jakarta aku sudah menyempatkan diri untuk membelikan oleh-oleh Shasa 2 buah buku KKPK kesukaannya. Namun, sewaktu di dalam pesawat dan melihat souvernir itu, aku tak dapat menghilangkan hasratku untuk kembali membelikan Shasa oleh-oleh. Biarlah dia senang, apalagi dalam minggu tersebut aku sering bepergian. Walaupun oleh-oleh itu tak dapat menggantikan keberadaanku, tapi setidaknya dapat menunjukkan perhatianku dan kasihku kepadanya. Semoga....

Itulah sepenggal cerita tentang pengalaman pertamaku naik pesawat. Pengalaman yang norak, menggelikan sekaligus menyedihkan karena tidak dapat kunikmati sepenuhnya, akibat dari kakiku yang sakit.....

Pengalaman pertama

Entah apakah aku pernah bercerita kalau aku belum pernah naik pesawat terbang. Entah apakah aku pernah mengakui kalau aku tak berani naik pesawat terbang. Bukan masalah ketinggian yang aku takutkan, namun... banyaknya berita tentang kecelakaan pesawat terbanglah yang menjadi penyebab ketakutanku. Makanya, waktu Ramadhan yang lalu Kepala Kantorku menugaskan aku untuk berangkat ke Jakarta dengan naik pesawat terbang aku menolaknya. Aku lebih memilih berangkat ke Jakarta dengan menggunakan kereta api.

Namun..., akhirnya aku tak bisa menolak lagi ketika Kepala Kantorku mengajakku berangkat ke Jakarta dengan naik pesawat terbang, Senin 5 Oktober 2009 yang lalu. Setelah rapat dinas selesai, Kepala Kantorku dan aku harus segera berangkat ke Jakarta. Dan, untuk bisa segera sampai di Jakarta, tak ada pilihan lain kecuali naik pesawat terbang...!!




Dengan perasaan was-was, akhirnya aku mengikuti Kepala Kantorku memasuki Bandara Juanda. Kepala Kantorku memilih penerbangan yang paling dekat, supaya kami bisa segera sampai di Jakarta. Saat memasuki badan pesawat..., aku tak henti-hentinya berdoa... apalagi saat pesawat sudah mengudara. Meskipun aku tak berani duduk di dekat jendela, tapi awan-awan yang tampak dari balik jendela menunjukkan bahwa kami sudah berada tinggi sekali di atas permukaan tanah. Ihhh... ngeri....!!

Alhamdulillah, kami selamat sampai di Jakarta. Leganya.... Sayang sekali, saat kami sudah sampai di Jakarta, ternyata orang yang ingin kami temui mengatakan via telepon bahwa kami baru bisa ketemu dengannya esok hari. Akhirnya, kami memutuskan untuk mencari penginapan dulu.

Ternyata mencari penginapan di Jakarta tak mudah juga ya..? Kami berhasil mendapatkan penginapan di pusat kota Jakarta, dengan harga yang tidak terlalu mahal. Tapi.... yang tersisa tinggal kamar di lantai 4, dan di penginapan itu tak ada lift dan hanya ada tangga..!! Mau tak mau.., akhirnya kami mengambil juga kamar itu, meskipun sudah terbayang lelahnya naik turun tangga.

Keesokan harinya setelah urusan kami selesai.., kami berangkat menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Dengan kaki terpincang-pincang karena kesleo, aku menyusuri jalan yang rasanya panjang sekali.... Sayangnya, penerbangan pesawat yang aku tumpangi dari Jakarta ke Solo mengalami delay selama 1 jam....!! Ampun...., padahal makin lama kakiku makin sulit saja digerakkan. Waktu 1 jam terasa lama sekali....

Setelah akhirnya kami dipersilahkan memasuki pesawat, rasanya aku nyaris tak mampu berjalan. Selain karena kaki yang makin terasa sakit, namun juga karena hati deg-degan setelah aku melihat awan yang gelap, apalagi sebelumnya sempat turun gerimis. Aku jadi lebih nervous daripada saat berangkat. Sudah begitu, sesampainya di dalam pesawat Kepala Kantorku menyuruhku untuk duduk di dekat jendela.

Akhirnya dengan terpaksa aku duduk di dekat jendela. Saat pesawat sudah terbang, aku ngeri memandang rumah-rumah yang tampak kecil sekali dari atas. Ternyata..., tinggi sekali pesawatku mengudara. Untuk menghilangkan rasa was-wasku, aku lagi-lagi tak henti berdoa agar perjalanaku ke Solo dapat selamat sampai tujuan.

Kemudian saat ada pramugara dan pramugari yang menawarkan souvernir kepadaku, aku memutuskan untuk membelikan souvernir untuk Shasa. Selain untuk mengalihkan perhatianku dari ketinggian yang mengerikan, juga agar Shasa mempunyai benda kenangan dari kepergianku yang pertama ke Jakarta... Hehehe..., norak banget ya..? Setelah memilih beberapa barang, akhirnya aku memutuskan membelikan Shasa sebuah jam tangan yang berbentuk gelang.

Shasa dan oleh-olehnya


Tiket pesawatku

Sebenarnya sih, sewaktu di Jakarta aku sudah menyempatkan diri untuk membelikan oleh-oleh Shasa 2 buah buku KKPK kesukaannya. Namun, sewaktu di dalam pesawat dan melihat souvernir itu, aku tak dapat menghilangkan hasratku untuk kembali membelikan Shasa oleh-oleh. Biarlah dia senang, apalagi dalam minggu tersebut aku sering bepergian. Walaupun oleh-oleh itu tak dapat menggantikan keberadaanku, tapi setidaknya dapat menunjukkan perhatianku dan kasihku kepadanya. Semoga....

Itulah sepenggal cerita tentang pengalaman pertamaku naik pesawat. Pengalaman yang norak, menggelikan sekaligus menyedihkan karena tidak dapat kunikmati sepenuhnya, akibat dari kakiku yang sakit.....

Senin, 12 Oktober 2009

Jadwalku minggu lalu

Minggu lalu jadwalku yang terkait dengan pekerjaan memang padat sekali. Bisa dikatakan bahwa kesibukanku semakin meningkat sejak awal Oktober sampai dengan akhir Desember nanti. Banyak jadwal kegiatan yang harus dilaksanakan, bahkan beberapa diantaranya nyaris bersamaan jadwalnya.


Dimulai dengan Senin tanggal 5 Oktober 2009 yang lalu, aku harus mengikuti rapat dinas di Surabaya. Rencananya.., setelah rapat di Surabaya selesai, aku akan langsung ke Jakarta untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang tak dapat ditunda pelaksanaannya. Sehingga, saat rapat di Surabaya itu pun aku sudah membawa perlengkapan yang kuperlukan untuk perjalanan ke Jakarta dan menginap di sana.

Rencananya, kalau acara di Jakarta berlangsung lancar, aku bisa langsung pulang pada hari Selasa 6 Oktober 2009. Alhamdulillah, pekerjaan di Jakarta dapat diselesaikan dengan cepat dan lancar, hanya saja justru setelah hasilnya ada di tangan, aku mengalami musibah saat keluar dari gedung yang menyebabkan kakiku cedera.

Seandainya kakiku tidak cedera, hari Rabu aku sudah masuk kerja kembali untuk mempersiapkan bahan rapatku di Pasuruan pada Kamis, tanggal 8 Oktober 2009. Namun karena kakiku belum dapat kugunakan untuk berjalan, maka hari Rabu itu aku harus beristirahat di rumah dan memanjakan kakiku. Sementara urusan rapat ke Pasuruan aku wakilkan kepada temanku yang lain.

Alhamdulillah... pada hari Kamis aku sudah dapat masuk kerja kembali. Setelah 3 hari tidak ke kantor, ternyata cukup banyak pekerjaan yang menumpuk di mejaku. Dan yang paling mendesak untuk aku kerjakan adalah menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan oleh Kepala Kantorku yang diundang untuk mengikuti Dialog Interaktif dengan radio milik Pemerintah Kota Madiun, yang akan dilaksanakan pada Senin ini (12 Oktober 2009)

Karena pada hari Jumat, 9 Oktober 2009 aku harus berangkat ke Surabaya, maka mau tak mau bahan-bahan untuk Dialog Interaktif itu harus siap hari itu juga. Mengingat Kepala Kantorku masih baru, dan baru memimpin di kantorku kurang lebih 3 bulan lamanya, maka cukup banyak yang harus aku siapkan supaya Kepala Kantorku dapat menguasai dan memahami seluruh materi berikut permasalahannya. Alhamdulillah, akhirnya dapat selesai juga.

Jumat tanggal 9 Oktober 2009, pukul 05.00 WIB, aku dan beberapa teman berangkat ke Surabaya. Dalam perjalanan dinas kali ini, aku satu-satunya wanita diantara 7 pria. Meskipun kami berangkat bersama-sama, tapi kami masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Keberangkatan kami membawa missi dari Kepala kantorku, untuk membicarakan suatu kepentingan guna menemukan kesepakatan dengan suatu lembaga. Jika titik temu sudah didapat, maka rencananya kantorku akan menjalin kerjasama dengan lembaga tersebut.

Perjalananan pagiku pada hari Jumat yang lalu ditemani dengan pemandangan indah dari matahari yang baru bangun dari tidurnya.

Alhamdulillah, perjalanan kami lancar dan kami dapat sampai tempat tujuan dengan selamat. Pembicaraan yang kami lakukan dengan lembaga tersebut pada awalnya sulit sekal, bahkan sempat terjadi kesalahpahaman diantara kami. Untungnya, lama kelamaan pembicaraan dapat lebih lunak dan akhirnya dapat diperoleh kesepakatan. Lega sekali rasanya.....

Apa yang telah aku (dan teman-temanku) laksanakan pada hari Jumat itu merupakan langkah awal dari "kerja keras" kami selanjutnya. Dapat dikatakan, mulai Minggu ini jadwal pekerjaanku bertambah dengan akan dijalinnya kerjasama dengan lembaga tersebut. Jam kerja yang padat sudah di depan mata, tak akan ada lagi waktu untuk bersantai-santai. Semoga saja aku tetap sehat, sehingga dapat melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya. Amin.

**Bagaimanapun juga aku masih berharap, agar aku masih punya waktu untuk blogging dan blog walking. Semoga....**