Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juli 2010

Siapa yang harus merasa sungkan..?

Makin hari kita makin 'familiar' dengan istilah perselingkuhan. Hal ini membuatku bertanya-tanya, mengapa perselingkuhan itu kian hari kian 'marak' saja..? Apakah kita sebagai bagian dari masyarakat terlalu permisif atas hal itu ? Apakah tidak ada sanksi sosial yang mampu membuat pelakunya jera untuk melakukan hal yang sama ? Apakah yang harus kita lakukan dalam menghadapi orang-orang yang ketahuan berselingkuh ?

Beberapa bulan terakhir, aku juga makin 'dekat' dengan perselingkuhan itu. Kasus perselingkuhan makin sering saja mampir di mejaku untuk diselesaikan. Sebagian besar, kasus perselingkuhan itu terjadi di tempat kerja dengan sesama rekan kerja. Mungkin karena intensitas pertemuan yang tinggi dan kesempatan untuk bersama sangat besar menjadi 'peluang' munculnya perselingkuhan itu. Setelah dipelajari lebih lanjut, ternyata mayoritas penyebab terjadinya perselingkuhan itu adalah akibat 'curhat' masalah rumah tangga. Kisah rumah tangga yang mengharukan seringkali berhasil memancing rasa iba dan simpati dan... ujung-ujungnya berubah menjadi rasa cinta.

Aku pernah mendengar sebuah kisah perselingkuhan yang terjadi di suatu instansi, antara seorang wanita yang sudah menikah dengan seorang jejaka. Kebetulan, mereka berada dalam satu divisi yang sama. Hubungan mereka yang bermula dari sekedar pertemanan berkembang ke arah hubungan percintaan. Semula, mereka berusaha untuk menyembunyikan hal itu dari rekan-rekan kerja yang lain. Namun, sebagaimana umumnya menyembunyikan bangkai, maka 'bau busuk' itu pun tercium juga.

Semenjak hubungan itu diketahui oleh rekan kerja yang lainnya, perubahan terjadi. Sayangnya perubahan itu bukan mengarah ke pemutusan hubungan, namun sebaliknya, mereka tak malu-malu lagi mempertontonkan kemesraan itu di hadapan rekan-rekan kerjanya. Mereka tak lagi sungkan untuk saling menatap dengan mesra ataupun bergandengan tangan. Bahkan, saat berboncengan sepeda motor, sang wanita tak lagi sungkan melingkarkan lengannya di pinggang sang jejaka.

Ketika mereka berdua sedang ada dalam satu ruangan, dan mereka berdua mulai menunjukkan kemesraan, lucunya (atau lebih tepat anehnya)... satu per satu rekan kerjanya akan keluar dari ruangan itu. Semua rekan kerja memilih keluar dari ruangan itu karena merasa sungkan melihat dua orang itu mengumbar kemesraan di depan mereka. Anehnya lagi, tak ada yang berani menegur kedua orang itu saat mereka tak sungkan mengumbar kemesraan di depan orang lain.

Jadi, siapa yang seharusnya merasa sungkan ? Apakah kedua sejoli yang sedang jatuh cinta tapi salah jalan itu ? Apakah rekan-rekan kerjanya yang memilih menyingkir setiap kali kedua sejoli itu mulai bermesraan ? Apakah sikap menyingkir dari rekan kerja kedua sejoli itu merupakan wujud permisif atas perselingkuhan yang terjadi di lingkungan mereka ? Apakah rekan-rekan kerja kedua sejoli itu memilih untuk tidak usil karena tidak mau campur dan tidak peduli dengan urusan orang lain ?

Jika sobat berada pada posisi rekan kerja kedua sejoli itu, sikap apa yang akan sobat ambil ?


* postingan ini dibuat atas 'todongan' mas Trimatra untuk memeriahkan hajatan postingan bersama yang mengambil tema Moralitas dan Budaya.
** gambar diculik dari sini.

Senin, 21 Juni 2010

Kisah Seorang Reader

Ini adalah kisah dari sahabatku ~sebut saja namanya Evy~ sewaktu di SMA dulu. Kini ia menetap di Semarang, mengikuti suaminya yang bekerja disana. Beberapa saat yang lalu ~saat pelaksanaan Ujian Akhir Semester~ Evy berkesempatan menjadi reader (pembaca untuk anak2 tunanetra yang bersekolah di sekolah umum) bagi Satrio, anak kelas VIII (2 SMP). Karena pelaksanaan UAS berlangsung selama 3 hari, maka selama itu pulalah Evy mendampingi dan menjadi reader bagi Satrio.

Pada hari pertama UAS, materi ujian yang pertama harus dikerjakan adalah IPA. Begitu Evy menerima soalnya dan siap untuk membacakannya bagi Satrio, seketika itu juga ia merasa lemas. Dia bingung karena ternyata soal-soal ujian IPA itu banyak gambar-gambarnya. Dia merasa kesulitan untuk mendeskripsikan gambar itu ke dalam bentuk kalimat yang dapat dimengerti oleh Satrio.

Gambar-gambar yang harus diterjemahkan Evy ke dalam kalimat itu antara lain seperti : tempat jatuhnya bayangan dari cahaya yang mengenai lensa. Ada juga soal tentang penampang daun yang dikotil dan monokotil dan masih banyak lagi. Untuk menjelaskan tentang penampang daun ini Evy berusaha menjelaskannya seperti ini :

Evy (berkata dengan hati-hati) : "Tahu daun kan ? Nah, daun itu nanti kalau dibelah akan kelihatan lapisannya, jika kita melihatnya dengan menggunakan mikroskop."

Satrio (bertanya dengan polos) : "Daun seperti apa ?"

Evy yang tak mengira Satrio bertanya seperti itu langsung tercekat hatinya. Bagaimana seorang anak yang tuna netra membayangkan daun yang dibelah ? Bagaimana mereka bisa membayangkan penampangnya jika mereka tak akan pernah melihat wujudnya lewat mikroskop ? Jika membayangkannya saja mereka tak mampu, bagaimana mereka bisa menjawabnya.

Kondisi serupa muncul lagi saat ujian Bahasa Jawa. Dalam ujian Bahasa Jawa, selalu saja ada soal untuk menulis dalam Huruf Jawa. Untuk Satrio. Hal itu mustahil dilakukan karena sampai sekarang belum ada alat peraga atau penterjemahan Huruf Jawa dalam huruf Braille. Kondisi tersebut membuat rasa kemanusiaan Evy terusik dan rasanya ingin membantu memberikan jawabab untuk Satrio agar nilai ujiannya bisa bagus.

Evy memang baru bertemu dan berkenalan dengan Satrio saat dia bertugas menjadi readernya ketika ujian diadakan. Evy sendiri tak tahu bagaimana selama ini Satrio mengikuti pelajaran di sekolahnya. Apakah ada reader bagi Satrio juga saat pelajaran di kelas ? Bagaimana readernya itu membacakan, menerangkan dan 'menggambarkan' pelajaran tiap harinya.

Aku jadi berpikir, apakah anak-anak berkebutuhan khusus (tuna netra) yang sekolah di sekolah umum tidak mendapatkan 'pendampingan' ? Ataukah anak-anak berkebutuhan khusus itu semuanya harus masuk ke Sekolah Luar Biasa ? Apakah tindakan orang tua Satrio dengan mendaftarkan anaknya masuk ke sekolah umum dapat dinilai kurang tepat ? Apakah kesediaan sekolah umum untuk menerima anak-anak seperti Satrio tidak disertai dengan kesediaan melakukan penangannya yang benar ?

Terus terang saja, pengetahuanku tentang bagaimana anak-anak tuna netra mendapatkan pendidikan memang tak aku ketahui secara pasti. Apakah harus di Sekolah Luar Biasa ataukah boleh di sekolah umum ? Selain itu, aku juga tak tahu bagaimana proses transfer ilmu di sekolah umum terhadap anak-anak tuna netra berlangsung.

Thanks to Evy... yang pengalamannya telah menyadarkan aku bahwa apa yang seringkali lupa kusyukuri ternyata sangat berarti bagi orang lain. Semoga saja anak-anak seperti Satrio dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya tetap dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya. Amin...

Selasa, 08 Juni 2010

Akibat egosentris

Ini adalah sebuah kisah tentang dia, seseorang yang egosentris. Bukan maksudku untuk menilai baik buruknya atau membicarakan kelemahannya semata. Jika aku mengisahkan tentang dia yang egosentris ini, semata karena aku ingin berbagi suatu kisah yang semoga dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Dari berbagai sumber aku dapatkan bahwa egosentris itu adalah suatu sifat yang menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran atau perbuatan. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kemudian si egosentris ini akan berperilaku yang mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Piaget dan Murphy (dalam Rusli, 1999) mengemukakan bahwa egosentris adalah ketidakmauan untuk menaruh perhatian, menggambil bagian dan ikut merasakan kebutuhan serta perasaan dan pandangan orang lain.

Nah.., tepat seperti itulah dia dalam berperilaku selama ini. Di matanya, hampir tak ada orang yang benar. Hampir tak ada orang yang lepas dari kritikan pedasnya. Nyaris semua pernah menerima penilaian negatif darinya. Hasil kerja orang lain tak ada yang berkenan di hatinya. Singkatnya, baginya pemikirannya adalah yang paling bagus dan jika orang-orang yang tak sependapat dengannya maka orang lain itu salah.

Egosentris itu membuat dirinya menjadi pribadi yang sangat kaku. Tentu saja sikap dan pandangan serta perkataannya selama ini cukup membuat orang lain merasa tak nyaman berdekatan dengannya. Lama kelamaan, satu persatu teman-temannya menjauh darinya setelah lelah mendengar dirinya yang sibuk menilai kekurangan dan kelemahan orang lain. Lucunya, begitu teman-temannya menjauh, maka mereka pun lantas menjadi sasaran penilaian dia selanjutnya.

Akibat egosentris itulah, dia kini nyaris tak berteman. Orang-orang yang mendekat padanya hanyalah orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu dengannya. Bahkan, di usianya yang sudah melewati kepala empat itu, dia pun semakin sulit mendapatkan pendamping hidup. Hingga kini, saat tubuhnya mulai diserang berbagai penyakit, tak ada pendamping hidup yang merawatnya, sementara kedua orang tuanya pun sudah meninggal dunia. Dalam kesendirian dan kesepian dia menjalani hidupnya, tak ada tempat berbagi suka duka. Sungguh pedih...

Sobat, dia adalah sosok nyata adanya. Aku hanya berharap, semoga kesendirian dan kesepian itu dapat mengajarkan banyak hal padanya, bahwa tak selamanya manusia mampu hidup sendiri. Bahwa tak selamanya pemikirannya adalah yang paling benar. Semoga saja, kehidupan ini dapat mengajarkan padanya untuk dapat lebih menghargai orang lain dan bertoleransi terhadap sesama. Semoga....

Minggu, 06 Juni 2010

Kisah Seorang Mantan Guru Les Tari

Pagi itu, saat aku sedang menyiapkan sarapan pagi di dapur, bel rumahku berbunyi. Suamiku pun segera beranjak ke depan untuk membukakan pintu sementara Shasa sedang menyelesaikan acara mandi paginya. Tak lama kemudian suamiku ke dapur dan mengatakan bahwa tamu itu sedang mencariku.

Terus terang, aku paling sebel kalau ada tamu yang datang pagi-pagi buta, di saat aku sedang sibuk. Pagi hari adalah waktu tersibukku, karena sebelum semua berangkat kerja aku sudah harus menyelesaikan beberapa pekerjaan terutama menyiapkan sarapan. Sebenarnya pagi itu aku tak masuk kantor, karena masih cuti gara-gara aku menderita konjungtivitis kemarin itu, tapi karena kondisi mataku yang masih merah dan bengkak itu maka aku meminta suamiku mengatakan bahwa aku tak bisa menemui tamu itu.

Akhirnya suamiku kembali menemui tamu itu dan mengatakan bahwa aku sedang sakit mata dan tak bisa menemui. Tapi rupanya tamu itu tetap ngotot ingin bertemu denganku. Akhirnya, dengan perasaan dongkol aku mematikan komporku dan bergegas ke kamar untuk ganti baju. Aku penasaran juga siapa sih yang ngotot ingin bertemu denganku pagi-pagi buta begitu dan tetap memaksa bertemu denganku meskipun aku sedang sakit mata..?

Saat aku sampai ke depan, ternyata tamu itu adalah mantan guru  les tariku saat aku masih SMP dulu. Beliau aku minta masuk ke rumah tapi menolak, sehingga kami ngobrol di teras rumah. Pertama kali beliau menanyakan apakah aku masih ingat tarian Surung Dayung, karena menurut beliau tarian itu akan dilestarikan lagi. Aku tak ingat bahwa aku pernah diajari tarian tersebut, tapi beliau ngotot mengatakan bahwa aku pernah diajarinya. Bahkan beliau berkata sudah menemui Tanti, adik kelasku yang juga teman menariku dulu, dan ternyata Tanti juga sudah lupa.

Setelah berbasa-basi sejenak tentang tarian, beliau pun menanyakan apakah aku punya uang untuk dipinjamnya. Kemudian dia menyebutkan sejumlah nominal uang yang bagiku cukup besar. Dengan tak enak hati, aku katakan bahwa aku tak punya uang sebesar itu. Meskipun saat itu tanggal muda, tapi aku dan suami sama-sama belum terima gaji karena kami masih sakit mata sehingga kami belum ada yang masuk kantor. Beliau mengatakan bahwa uang itu akan dipakainya untuk menebus obat suaminya yang terkena strooke. Namun karena aku memang sedang tak mempunyai uang sebanyak itu, aku pun terpaksa tak bisa memberinya pinjaman.

Akhirnya setelah sekali lagi memintaku untuk mengingat Tari Surung Dayung itu, beliau pun berlalu dari rumahku dengan mengayuh sepedanya. Tak lama setelah beliau berlalu, aku segera menelepon Tanti untuk menanyakan apakah benar beliau sudah ke rumah Tanti. Selain itu aku juga penasaran, apakah beliau juga sudah pernah meminjam uang kepada Tanti. Ternyata Tanti terkejut bukan main waktu tahu beliau datang ke rumahku juga. Rupanya selama ini beliau sudah sering meminjam sejumlah uang kepada Tanti, tapi karena Tanti tak punya uang sebesar yang disebutkan oleh beliau, maka Tanti hanya memberi beliau uang sekedarnya, walaupun hal itu ditentang keras oleh Ibunya Tanti.

Tak puas dengan cerita Tanti, aku segera menelepon Ibuku dan menceritakan pengalaman pagi itu lengkap dengan cerita dari Tanti. Kebetulan Ibuku mengenal guru les menariku itu, apalagi usia Ibuku hampir sama dengan usia beliau itu. Dari Ibu aku tahu bahwa ternyata suami dari mantan guru  les menariku itu menikah lagi. Memang, beliau itu tergolong terlambat menikah dan akhirnya menemukan jodohnya seorang pria yang usianya jauh lebih muda. Sepanjang pernikahan itu, beliau tidak dikaruniai anak. Mungkin itu sebabnya suaminya menikah lagi dan dari pernikahan keduanya ini suaminya mendapatkan seorang anak lelaki.

Rupanya, selama ini beliau yang menanggung semua biaya hidup suami beserta istri kedua dan anaknya. Bahkan, anak lelaki yang sering diajaknya bersepeda melewati rumah kami itu ternyata anak dari istri keduanya. Mungkin saja, uang pensiun yang diterimanya sudah tak mampu mencukupi kebutuhan suami beserta anak dan istri keduanya, sehingga beliau terpaksa mondar-mandir kesana kemari untuk mencari pinjaman uang. Walaupun hal itu terpaksa beliau lakukan dengan menceritakan kebohongan dan membuang harga dirinya. Sementara teman-teman seumurnya telah menikmati masa pensiun dalam ketenangan, beliau justru masih harus berpikir untuk bisa bertahan.

Ternyata, hidup tak selamanya indah. Beliau yang dulu keras dan galak, ternyata harus menjalani hari tuanya dengan meminta belas kasihan dari berbagai pihak. Kehidupan beliau yang dulu mudah ternyata kini sudah tak sama lagi. Kisah hidup beliau ini menjadi pelajaran bagiku untuk mengingat bahwa roda itu selalu berputar. Seseorang ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah, tak sepantasnya kita tinggi hati saat sedang di atas. Harapku semoga saja beliau bisa mendapatkan kebahagiaan di hari tuanya. Amien...

Kamis, 06 Mei 2010

Serba salah

Aku punya teman seorang dokter, yang kebetulan masih muda. Seseorang bisa menyandang gelar dokter, pastinya dia pinter bukan ? Sayangnya, selain pinter dia itu ramah dan cantik. Lho..., kok pakai kata "sayangnya" ? Biasanya orang akan berkata, sudah pinter, ramah dan cantik lagi, tapi mengapa aku memakai kata "sayangnya" ? Karena... pintar, cantik dan ramah itulah sumber permasalahannya. Tambah bingung ?

Temanku itu memang sering mengeluh tentang kecantikan, kepandaian dan keramahannya karena ketiga hal itulah yang kini menjadi pemicu kecemburuan rekan kerjanya (yang kebetulan dokter juga). Kecemburuan itu sudah akut sepertinya, sehingga sang rekan kerja berusaha dengan berbagai macam cara untuk menjatuhkan dan mengalahkan temanku itu. Bahkan sang rekan kerja tak segan-segan menghasut rekan kerja yang lainnya untuk menyudutkan temanku ini.


Sebenarnya sang rekan kerja itu juga pintar dan cantik, tapi rupanya dia tak ingin ada yang menyainginya. Dia cemburu dengan temanku ini. Kecemburuan dan rasa iri hatinya memuncak ketika temanku mulai mendapatkan pomosi jabatan. Akibatnya, suasana kerja menjadi sangat tidak kondusif dan tidak nyaman. Apalagi setelah sekian banyak orang ikut-ikut meneropong dan mengkritik segala tingkah laku temanku itu.

Terus menerus bekerja di bawah tekanan membuat temanku tak nyaman dalam bekerja. Dia mulai merasa sangat terganggu dengan aneka 'aksi' sang rekan kerja yang ingin menjatuhkannya. Segala hal yang dilakukannya dianggap tidak benar. Temanku menjadi serba salah dalam bersikap. Di satu sisi dia ingin tak peduli dengan apapun yang dilakukan dan dikatakan sang rekan kerja untuk menjatuhkannya. Namun di sisi lain, dia merasa lelah dan tertekan sehingga ingin menyerah. Sudah berulang kali temanku mengeluh dan meyatakan keinginannya mundur dari jabatannya dan juga dari pekerjaannya.

Begitulah hidup, seringkali terasa 'serba salah' apalagi jika kita harus peduli dengan pendapat dan kata orang lain. Setiap manusia berbeda cara pandang dan sikapnya dalam menghadapi sesuatu, dan hal itu akan memunculkan pendapat yang berbeda pula dalam menyikapi suatu peristiwa. Jika semua kata dan pendapat orang lain dituruti, kita akan kelelahan sendiri... karena pendapat dan kata dari orang lain selalu berbeda-beda.. tak ada habisnya. Sementara jika kita tak mengikuti apa pendapat dan kata dari orang lain, kita dianggap sebagai manusia 'aneh' sekaligus makhluk anti sosial.

Aku jadi teringat dengan sebuah kisah klasik yang menceritakan tentang seorang bapak dan anaknya yang membawa keledai ke kota. Aku yakin banyak yang ingat dengan kisah populer ini. Namun bagi yang lupa, aku catatkan kembali kisah itu untuk mengingatkan kita semua.

Ada seorang bapak yang sedang berjalan bersama anak lelakinya sambil menuntun seekor keledai. Ketika mereka melewati sekelompok orang terdengar oleh mereka ada yang berkata “Sungguh bodoh bapak itu mempunyai keledai tapi tidak di tunggangi.”

Mendengar komentar itu, sang bapak lantas menyuruh anaknya untuk menaiki keledai tersebut, sedangkan sang bapak berjalan di sampingnya. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang berkata, "Wah ! Anak celaka ! Kau enak-enak duduk dia atas keledai sementara bapakmu berjalan kaki."

Kembali mereka terganggu dengan komentar itu. Akhirnya si bapak dan si anak bertukar tempat. Si anak berjalan kaki sementara si bapak menunggangi keledai. Belum lama berjalan, mereka bertemu dengan orang lain yang berkata, "Bapak macam mana kamu ini ? Enak-enak duduk di atas keledai sementara anakmu kau suruh berjalan kaki."

Si bapak kemudian menaikkan anaknya ke atas punggung keledai. Jadilah mereka menunggangi keledai itu berdua. Beres ? Ternyata tidak. Komentar tajam pun datang lagi dari orang lain yang melihatnya, "Dasar manusia tidak tahu diri ! Keledai sekecil itu kalian naiki berdua ?"

Dengan bingung si bapak dan si anak kemudian turun dari keledai dan memutuskan untuk memikul keledai itu sampai ke kota. Kali ini pun ada orang yang mengetawai mereka dan berkata, “ha…ha…ha... Keledai masih hidup dan sehat kok di pikul ? Seperti kurang kerjaan.”

 Foto oleh Aida yang diculik dari sini

Mendengarkan pendapat orang lain memang bagus, tapi tak semuanya harus ditelan dan diterima begitu saja. Bagiku lebih nyaman menjadi diri sendiri dan selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan norma-norma masyarakat, kita rasanya perlu meneguhkan hati untuk menjalani hidup dengan cara kita sendiri. Bagaimanapun juga kita yang akan menerima segala efek dari perbuatan kita sendiri. Orang lain hanya bisa menilai namun kita sendirilah yang dapat merasakan mana yang pas di hati dan mana yang tidak.

Serba salah

Aku punya teman seorang dokter, yang kebetulan masih muda. Seseorang bisa menyandang gelar dokter, pastinya dia pinter bukan ? Sayangnya, selain pinter dia itu ramah dan cantik. Lho..., kok pakai kata "sayangnya" ? Biasanya orang akan berkata, sudah pinter, ramah dan cantik lagi, tapi mengapa aku memakai kata "sayangnya" ? Karena... pintar, cantik dan ramah itulah sumber permasalahannya. Tambah bingung ?

Temanku itu memang sering mengeluh tentang kecantikan, kepandaian dan keramahannya karena ketiga hal itulah yang kini menjadi pemicu kecemburuan rekan kerjanya (yang kebetulan dokter juga). Kecemburuan itu sudah akut sepertinya, sehingga sang rekan kerja berusaha dengan berbagai macam cara untuk menjatuhkan dan mengalahkan temanku itu. Bahkan sang rekan kerja tak segan-segan menghasut rekan kerja yang lainnya untuk menyudutkan temanku ini.


Sebenarnya sang rekan kerja itu juga pintar dan cantik, tapi rupanya dia tak ingin ada yang menyainginya. Dia cemburu dengan temanku ini. Kecemburuan dan rasa iri hatinya memuncak ketika temanku mulai mendapatkan pomosi jabatan. Akibatnya, suasana kerja menjadi sangat tidak kondusif dan tidak nyaman. Apalagi setelah sekian banyak orang ikut-ikut meneropong dan mengkritik segala tingkah laku temanku itu.

Terus menerus bekerja di bawah tekanan membuat temanku tak nyaman dalam bekerja. Dia mulai merasa sangat terganggu dengan aneka 'aksi' sang rekan kerja yang ingin menjatuhkannya. Segala hal yang dilakukannya dianggap tidak benar. Temanku menjadi serba salah dalam bersikap. Di satu sisi dia ingin tak peduli dengan apapun yang dilakukan dan dikatakan sang rekan kerja untuk menjatuhkannya. Namun di sisi lain, dia merasa lelah dan tertekan sehingga ingin menyerah. Sudah berulang kali temanku mengeluh dan meyatakan keinginannya mundur dari jabatannya dan juga dari pekerjaannya.

Begitulah hidup, seringkali terasa 'serba salah' apalagi jika kita harus peduli dengan pendapat dan kata orang lain. Setiap manusia berbeda cara pandang dan sikapnya dalam menghadapi sesuatu, dan hal itu akan memunculkan pendapat yang berbeda pula dalam menyikapi suatu peristiwa. Jika semua kata dan pendapat orang lain dituruti, kita akan kelelahan sendiri... karena pendapat dan kata dari orang lain selalu berbeda-beda.. tak ada habisnya. Sementara jika kita tak mengikuti apa pendapat dan kata dari orang lain, kita dianggap sebagai manusia 'aneh' sekaligus makhluk anti sosial.

Aku jadi teringat dengan sebuah kisah klasik yang menceritakan tentang seorang bapak dan anaknya yang membawa keledai ke kota. Aku yakin banyak yang ingat dengan kisah populer ini. Namun bagi yang lupa, aku catatkan kembali kisah itu untuk mengingatkan kita semua.

Ada seorang bapak yang sedang berjalan bersama anak lelakinya sambil menuntun seekor keledai. Ketika mereka melewati sekelompok orang terdengar oleh mereka ada yang berkata “Sungguh bodoh bapak itu mempunyai keledai tapi tidak di tunggangi.”

Mendengar komentar itu, sang bapak lantas menyuruh anaknya untuk menaiki keledai tersebut, sedangkan sang bapak berjalan di sampingnya. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang berkata, "Wah ! Anak celaka ! Kau enak-enak duduk dia atas keledai sementara bapakmu berjalan kaki."

Kembali mereka terganggu dengan komentar itu. Akhirnya si bapak dan si anak bertukar tempat. Si anak berjalan kaki sementara si bapak menunggangi keledai. Belum lama berjalan, mereka bertemu dengan orang lain yang berkata, "Bapak macam mana kamu ini ? Enak-enak duduk di atas keledai sementara anakmu kau suruh berjalan kaki."

Si bapak kemudian menaikkan anaknya ke atas punggung keledai. Jadilah mereka menunggangi keledai itu berdua. Beres ? Ternyata tidak. Komentar tajam pun datang lagi dari orang lain yang melihatnya, "Dasar manusia tidak tahu diri ! Keledai sekecil itu kalian naiki berdua ?"

Dengan bingung si bapak dan si anak kemudian turun dari keledai dan memutuskan untuk memikul keledai itu sampai ke kota. Kali ini pun ada orang yang mengetawai mereka dan berkata, “ha…ha…ha... Keledai masih hidup dan sehat kok di pikul ? Seperti kurang kerjaan.”

 Foto oleh Aida yang diculik dari sini

Mendengarkan pendapat orang lain memang bagus, tapi tak semuanya harus ditelan dan diterima begitu saja. Bagiku lebih nyaman menjadi diri sendiri dan selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan norma-norma masyarakat, kita rasanya perlu meneguhkan hati untuk menjalani hidup dengan cara kita sendiri. Bagaimanapun juga kita yang akan menerima segala efek dari perbuatan kita sendiri. Orang lain hanya bisa menilai namun kita sendirilah yang dapat merasakan mana yang pas di hati dan mana yang tidak.

Rabu, 05 Mei 2010

Selembar Kertas Putih

Sobat, kali ini aku ingin berbagi tentang sebuah kisah yang menurutku sangat indah. Sengaja aku salin disini, agar aku dapat selalu membacanya dan mengingat pelajaran berharga yang ada di dalamnya. Semoga saja juga memberi manfaat kepada siapa saja yang belum pernah membaca kisah ini.

Bagi teman yang sudah pernah membaca kisah ini, mungkin akan menemukan sedikit perbedaan karena aku telah melakukan peng-editan dalam narasinya. Namun pesan yang ingin disampaikan lewat kisah ini tidak berubah sama sekali.


Ada seorang anak yang suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Dia dengan cekatan akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia akan menyalahkan teman dan orangtuanya.
Pada suatu hari anak itu berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.Terpikir olehnya bahwa madunya pasti sangat manis dan lezat, maka tergoda hatinya untuk mengambil madunya, si anak bertekad mengusir lebah yang ada di dalam sarang itu.
Ia pun mengambil sebatang galah dan kemudian menyodok sarang lebah itu dengan keras. Tentu saja, hal itu menyebabkan ribuan lebah merasa terusik dan mereka pun segera menyerang anak itu. Melihat lebah yang begitu banyak, anak itu lari terbirit-birit. Namun tentu saja lebaih-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Mereka terus saja menyengat anak itu.
Untuk menghindari sengatan lebah selanjutnya, anak itu nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pun pergi meninggalkan anak yang sedang kesakitan itu.
Sesampainya di rumah, diceritakanlah apa yang dialaminya tadi kepada ayahnya, tentu saja disertai kata-kata yang menyalahkan ayahnya.
"Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti Ayah sudah berusaha menyelamatkan aku. Semua ini salah Ayah !"
Ayahnya memandang sang anak dengan sedih. Setelah diam sejenak, dia mengambil selembar kertas putih.
"Anakku, apa yang kau lihat dari kertas ini ?" tanya sang Ayah seraya menunjukkan kertas itu di depan anaknya.
"Itu hanya kertas putih. Tidak ada gambarnya sama sekali," jawab anak itu.
Kemudian, sang Ayah menorehkan sebuah titik berwarna hitam di kertas putih itu.
"Sekarang..., apa yang kau lihat pada kertas putih ini ?" tanya Ayahnya lagi.
"Ada titik hitam di kertas itu," jawab anak itu segera.
"Anakku, mengapa kamu hanay melihat satu titik hitam pada kertas putih ini ? Padahal sebagian ebsar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah, padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."
Selesai berkata sang Ayah pun pergi meninggalkan anaknya yang sedang termenung.


sumber : Hadiah Terindah (Dessy Danarti)

Bagaimana Sobat, apakah kita juga melakukan yang sama seperti anak itu ? Apakah kita juga lebih mudah melihat setitik kecil hitam di atas selembar kertas putih yang besar ?

Cara termudah untuk mengurangi kesedihan dan kekecewaan adalah dengan mencari pembenaran terhadap diri sendiri dan menimpakan kesalahanannya pada orang lain. Namun..., apakah cara termudah ini yang akan kita ambil ? Jika kita melakukannya, maka kita telah kehilangan kesempatan istimewa untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.

*gambar diculik paksa dari sini*
 

Selembar Kertas Putih

Sobat, kali ini aku ingin berbagi tentang sebuah kisah yang menurutku sangat indah. Sengaja aku salin disini, agar aku dapat selalu membacanya dan mengingat pelajaran berharga yang ada di dalamnya. Semoga saja juga memberi manfaat kepada siapa saja yang belum pernah membaca kisah ini.

Bagi teman yang sudah pernah membaca kisah ini, mungkin akan menemukan sedikit perbedaan karena aku telah melakukan peng-editan dalam narasinya. Namun pesan yang ingin disampaikan lewat kisah ini tidak berubah sama sekali.


Ada seorang anak yang suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Dia dengan cekatan akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia akan menyalahkan teman dan orangtuanya.
Pada suatu hari anak itu berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.Terpikir olehnya bahwa madunya pasti sangat manis dan lezat, maka tergoda hatinya untuk mengambil madunya, si anak bertekad mengusir lebah yang ada di dalam sarang itu.
Ia pun mengambil sebatang galah dan kemudian menyodok sarang lebah itu dengan keras. Tentu saja, hal itu menyebabkan ribuan lebah merasa terusik dan mereka pun segera menyerang anak itu. Melihat lebah yang begitu banyak, anak itu lari terbirit-birit. Namun tentu saja lebaih-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Mereka terus saja menyengat anak itu.
Untuk menghindari sengatan lebah selanjutnya, anak itu nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pun pergi meninggalkan anak yang sedang kesakitan itu.
Sesampainya di rumah, diceritakanlah apa yang dialaminya tadi kepada ayahnya, tentu saja disertai kata-kata yang menyalahkan ayahnya.
"Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti Ayah sudah berusaha menyelamatkan aku. Semua ini salah Ayah !"
Ayahnya memandang sang anak dengan sedih. Setelah diam sejenak, dia mengambil selembar kertas putih.
"Anakku, apa yang kau lihat dari kertas ini ?" tanya sang Ayah seraya menunjukkan kertas itu di depan anaknya.
"Itu hanya kertas putih. Tidak ada gambarnya sama sekali," jawab anak itu.
Kemudian, sang Ayah menorehkan sebuah titik berwarna hitam di kertas putih itu.
"Sekarang..., apa yang kau lihat pada kertas putih ini ?" tanya Ayahnya lagi.
"Ada titik hitam di kertas itu," jawab anak itu segera.
"Anakku, mengapa kamu hanay melihat satu titik hitam pada kertas putih ini ? Padahal sebagian ebsar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah, padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."
Selesai berkata sang Ayah pun pergi meninggalkan anaknya yang sedang termenung.


sumber : Hadiah Terindah (Dessy Danarti)

Bagaimana Sobat, apakah kita juga melakukan yang sama seperti anak itu ? Apakah kita juga lebih mudah melihat setitik kecil hitam di atas selembar kertas putih yang besar ?

Cara termudah untuk mengurangi kesedihan dan kekecewaan adalah dengan mencari pembenaran terhadap diri sendiri dan menimpakan kesalahanannya pada orang lain. Namun..., apakah cara termudah ini yang akan kita ambil ? Jika kita melakukannya, maka kita telah kehilangan kesempatan istimewa untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.

*gambar diculik paksa dari sini*
 

Rabu, 28 April 2010

Luapan emosi peserta ujian nasional

Dalam postinganku kemarin yang berjudul : "Kelulusan sudah adilkah?", aku mendapatkan komentar menarik dari Sibaho Way. Dalam kotak komentar ditinggalkan komentar seperti ini :


cuma ada yang mengganjal di hati saya bu. jaman saya sekolah pun ada kok yang gak lulus pas ebtanas. tapi menyikapinya tidak sedramatis sekarang, pake nangis histeris bahkan pingsan. gejala apa ini? moga2 bukan karena budaya pop yang tidak menghargai proses dan selalu result oriented.

Ya..., mengapa Ujian nasional meninggalkan dampak sedemikian dramatis bagi peserta ujian nasional ? Aku ingat memang pada waktu aku sekolah dulu juga ada siswa yang tidak lulus, namun mungkin jumlahnya tak sebanyak sekarang. Dan yang tak lulus tentu saja sedih (siapa yang tidak coba ?), namun tak sampai histeris bahkan sampai nekad mau bunuh diri segala.

Di lain pihak, histeria peserta ujian nasional yang berhasil lulus dalam meluapkan kegembiraan juga membuatku membelalakkan mata karena tak percaya. Kalau 'sekedar' konvoi dan aksi corat-coret sudah biasa kita dengar, bahkan sejak jaman aku sekolah dulu hal itu sudah ada, namun aku tak tertarik untuk melakukannya. Yang luar biasa adalah berita tentang siswi-siswi SMA di Madura ada yang melepas jilbabnya dan menggunakan jilbab itu sebagai 'bendera' saat konvoi. Mereka (siswi-siswi itu) berkonvoi dengan membonceng teman laki-laki mereka. Itu semua belum cukup.. karena ada juga aksi siswi-siswi yang memotong pendek roknya. Di daerah lain, siswa-siswi yang lulus ujian melakukan pesta miras bersama dan mabuk-mabukan. Bahkan kabarnya setelah mabuk siswa-siswi itu melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan. Astagfirullah....



konvoi pelajar SMA di Madiun yg dimuat dalam Radar Madiun 28 April 2010
Semua peristiwa itu membuatku mengelus dada. Apalagi setelah aku membaca alasan-alasan yang disampaikan siswa-siswi SMA itu mengapa mereka begitu suka cita karena lulus ujian nasional. Jawabannya adalah : "karena kalau kuliah tak perlu lagi pakai seragam", "karena kalau kuliah bisa merokok dengan bebas", "karena kalau kuliah tidak seketat waktu SMA" dll.... Mengapa mereka tak menjawab "karena jalan menuju masa depan sudah makin terbuka," atau "karena kerja kerasku selama 3 tahun menuntut ilmu di sekolah tidak sia-sia", atau "karena jerih payahku telah membuahkan hasil yang sepadan" dll...

Jadi, benarkah apa yang dikhawatirkan oleh Sibaho Way bahwa mereka tidak menikmati proses melainkan hanya berorientasi pada hasil semata ? Memang..., tak semua remaja kita seperti itu dan masih banyak yang memiliki motivasi dan semangat untuk maju dan berkembang. Masih banyak juga remaja kita yang memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depannya.

Namun, jika kita hanya mengelus-elus remaja yang 'tidak bermasalah' seperti itu... maka kita akan lupa untuk menangani remaja-remaja lainnya yang 'bermasalah'. Memang tidak ada yang suka jika harus mengurusi remaja-remaja 'bermasalah' seperti itu, tapi jika mereka dibiarkan bukankah kita akan sulit untuk mengajak mereka kembali pada jalan menuju masa depan yang lebih baik ? Jika semua pihak lepas tangan dan menganggap wajar 'penyimpangan-penyimpangan' kecil itu... berarti kita harus siap-siap jika suatu saat penyimpangan itu kian tak terkendali.

Betapa banyaknya pekerjaan rumah kita untuk membimbing generasi muda kita. Meskipun berat dan melelahkan, hanya itulah yang dapat kita lakukan karena di pundak merekalah masa depan negara ini kita titipkan. So, kalau tidak dimulai dari sekarang... kapan lagi ?

*Sebuah catatan dari renungan pagi hari ini*

Luapan emosi peserta ujian nasional

Dalam postinganku kemarin yang berjudul : "Kelulusan sudah adilkah?", aku mendapatkan komentar menarik dari Sibaho Way. Dalam kotak komentar ditinggalkan komentar seperti ini :


cuma ada yang mengganjal di hati saya bu. jaman saya sekolah pun ada kok yang gak lulus pas ebtanas. tapi menyikapinya tidak sedramatis sekarang, pake nangis histeris bahkan pingsan. gejala apa ini? moga2 bukan karena budaya pop yang tidak menghargai proses dan selalu result oriented.

Ya..., mengapa Ujian nasional meninggalkan dampak sedemikian dramatis bagi peserta ujian nasional ? Aku ingat memang pada waktu aku sekolah dulu juga ada siswa yang tidak lulus, namun mungkin jumlahnya tak sebanyak sekarang. Dan yang tak lulus tentu saja sedih (siapa yang tidak coba ?), namun tak sampai histeris bahkan sampai nekad mau bunuh diri segala.

Di lain pihak, histeria peserta ujian nasional yang berhasil lulus dalam meluapkan kegembiraan juga membuatku membelalakkan mata karena tak percaya. Kalau 'sekedar' konvoi dan aksi corat-coret sudah biasa kita dengar, bahkan sejak jaman aku sekolah dulu hal itu sudah ada, namun aku tak tertarik untuk melakukannya. Yang luar biasa adalah berita tentang siswi-siswi SMA di Madura ada yang melepas jilbabnya dan menggunakan jilbab itu sebagai 'bendera' saat konvoi. Mereka (siswi-siswi itu) berkonvoi dengan membonceng teman laki-laki mereka. Itu semua belum cukup.. karena ada juga aksi siswi-siswi yang memotong pendek roknya. Di daerah lain, siswa-siswi yang lulus ujian melakukan pesta miras bersama dan mabuk-mabukan. Bahkan kabarnya setelah mabuk siswa-siswi itu melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan. Astagfirullah....



konvoi pelajar SMA di Madiun yg dimuat dalam Radar Madiun 28 April 2010
Semua peristiwa itu membuatku mengelus dada. Apalagi setelah aku membaca alasan-alasan yang disampaikan siswa-siswi SMA itu mengapa mereka begitu suka cita karena lulus ujian nasional. Jawabannya adalah : "karena kalau kuliah tak perlu lagi pakai seragam", "karena kalau kuliah bisa merokok dengan bebas", "karena kalau kuliah tidak seketat waktu SMA" dll.... Mengapa mereka tak menjawab "karena jalan menuju masa depan sudah makin terbuka," atau "karena kerja kerasku selama 3 tahun menuntut ilmu di sekolah tidak sia-sia", atau "karena jerih payahku telah membuahkan hasil yang sepadan" dll...

Jadi, benarkah apa yang dikhawatirkan oleh Sibaho Way bahwa mereka tidak menikmati proses melainkan hanya berorientasi pada hasil semata ? Memang..., tak semua remaja kita seperti itu dan masih banyak yang memiliki motivasi dan semangat untuk maju dan berkembang. Masih banyak juga remaja kita yang memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan masa depannya.

Namun, jika kita hanya mengelus-elus remaja yang 'tidak bermasalah' seperti itu... maka kita akan lupa untuk menangani remaja-remaja lainnya yang 'bermasalah'. Memang tidak ada yang suka jika harus mengurusi remaja-remaja 'bermasalah' seperti itu, tapi jika mereka dibiarkan bukankah kita akan sulit untuk mengajak mereka kembali pada jalan menuju masa depan yang lebih baik ? Jika semua pihak lepas tangan dan menganggap wajar 'penyimpangan-penyimpangan' kecil itu... berarti kita harus siap-siap jika suatu saat penyimpangan itu kian tak terkendali.

Betapa banyaknya pekerjaan rumah kita untuk membimbing generasi muda kita. Meskipun berat dan melelahkan, hanya itulah yang dapat kita lakukan karena di pundak merekalah masa depan negara ini kita titipkan. So, kalau tidak dimulai dari sekarang... kapan lagi ?

*Sebuah catatan dari renungan pagi hari ini*

Senin, 26 April 2010

Kok tidak pamit..?

Jauh sebelum kasus Gayus dan Markus Pajak jadi pembicaraan, sosok Tono ~sebut saja begitu~ sudah jadi bahan pembicaraan oleh lingkungannya. Maklum saja, dalam waktu relatif singkat kehidupan Tono dan keluarganya berubah drastis, meskipun tak sedrastis kehidupan Gayus.

Tono dan keluarganya masuk ke dalam lingkungan itu dalam kondisi yang serba terbatas. Maklum saja, sebagai pegawai baru di suatu instansi pemerintah dengan hanya bermodalkan ijazah SMA maka penghasilannya pun tak seberapa. Apalagi istrinya yang lulusan SD hanya mampu membantu menopang kebutuhan keluarga dengan menjual jajanan pasar, tapi seringkali terpaksa terhenti kalau sakitnya sedang kambuh.


Dalam waktu relatif singkat, Tono berhasil meraih gelar sarjana bersamaan dengan kesibukannya merenovasi rumah RSS yang ditempatinya. Bahkan tak lama kemudian, sepeda motor baru dan kendaraan roda empat berhasil mereka miliki. Diikuti dengan aneka macam barang elektronik dan barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

Semenjak itu, Tono, istrinya dan kedua anaknya seolah menjaga jarak dengan lingkungannya. Mungkin karena mereka mendengar bisik-bisik tetangga yang mengatakan bahwa mereka adalah "Orang Kaya Baru". Banyak yang mempertanyakan asal-usul harta yang dikumpulkan Tono dan keluarganya, mengingat status Tono sebagai staf biasa dan asal usul Tono dan istrinya yang bukan dari keluarga yang mampu. Entah apa penyebabnya, yang jelas Tono dan keluarganya tak lagi nyaman tinggal di lingkungan itu.

Selanjutnya terdengar kabar bahwa Tono dan istrinya telah membeli sebidang tanah di tempat lain bahkan kemudian membangun rumah berlantai dua di tanah itu. Semenjak itu, Tono dan keluarganya lebih sering menginap di rumah barunya meskipun masih sesekali kembali ke rumah lamanya. Namun tak lama setelah kasus Gayus mencuat, ternyata keluarga Tono memutuskan untuk keluar dari lingkungan lama dan menetap di rumah barunya.

Sayangnya.., ketika pada akhirnya Tono dan keluarganya benar-benar pindah dari lingkungan itu mereka sama sekali tidak berpamitan kepada semua tetangganya. Mengetahui rumah mereka sudah kosong, tetangganya hanya bisa heran dan berkata : "Kok tidak pamit...?"

Kok tidak pamit..?

Jauh sebelum kasus Gayus dan Markus Pajak jadi pembicaraan, sosok Tono ~sebut saja begitu~ sudah jadi bahan pembicaraan oleh lingkungannya. Maklum saja, dalam waktu relatif singkat kehidupan Tono dan keluarganya berubah drastis, meskipun tak sedrastis kehidupan Gayus.

Tono dan keluarganya masuk ke dalam lingkungan itu dalam kondisi yang serba terbatas. Maklum saja, sebagai pegawai baru di suatu instansi pemerintah dengan hanya bermodalkan ijazah SMA maka penghasilannya pun tak seberapa. Apalagi istrinya yang lulusan SD hanya mampu membantu menopang kebutuhan keluarga dengan menjual jajanan pasar, tapi seringkali terpaksa terhenti kalau sakitnya sedang kambuh.


Dalam waktu relatif singkat, Tono berhasil meraih gelar sarjana bersamaan dengan kesibukannya merenovasi rumah RSS yang ditempatinya. Bahkan tak lama kemudian, sepeda motor baru dan kendaraan roda empat berhasil mereka miliki. Diikuti dengan aneka macam barang elektronik dan barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

Semenjak itu, Tono, istrinya dan kedua anaknya seolah menjaga jarak dengan lingkungannya. Mungkin karena mereka mendengar bisik-bisik tetangga yang mengatakan bahwa mereka adalah "Orang Kaya Baru". Banyak yang mempertanyakan asal-usul harta yang dikumpulkan Tono dan keluarganya, mengingat status Tono sebagai staf biasa dan asal usul Tono dan istrinya yang bukan dari keluarga yang mampu. Entah apa penyebabnya, yang jelas Tono dan keluarganya tak lagi nyaman tinggal di lingkungan itu.

Selanjutnya terdengar kabar bahwa Tono dan istrinya telah membeli sebidang tanah di tempat lain bahkan kemudian membangun rumah berlantai dua di tanah itu. Semenjak itu, Tono dan keluarganya lebih sering menginap di rumah barunya meskipun masih sesekali kembali ke rumah lamanya. Namun tak lama setelah kasus Gayus mencuat, ternyata keluarga Tono memutuskan untuk keluar dari lingkungan lama dan menetap di rumah barunya.

Sayangnya.., ketika pada akhirnya Tono dan keluarganya benar-benar pindah dari lingkungan itu mereka sama sekali tidak berpamitan kepada semua tetangganya. Mengetahui rumah mereka sudah kosong, tetangganya hanya bisa heran dan berkata : "Kok tidak pamit...?"

Senin, 19 April 2010

Kisah Seorang Satpol PP

Dulu..., sewaktu pertama kali diterima bekerja, tak pernah terbersit dalam benaknya dia akan menjadi seorang Satpol PP. Apalagi ternyata saat pertama dia ditempatkan sebagai CPNS, tempatnya adalah di sebuah kantor yang tak ada sangkut pautnya dengan Satpol PP.

Waktu berlalu dengan cepat dan tak banyak perubahan berarti yang terjadi padanya. Hingga suatu hari, dia dialihtugaskan ke kantor Satpol PP. Sebagai seorang abdi negara, tentu saja dia harus siap untuk ditempatkan dimana saja. Suka atau tidak, siap atau tidak... tapi perintah tetap harus dijalankan. Maka.., mulailah dia menjalani hari-hari menjadi anggota Satpol PP sejak beberapa tahun yang lalu.

Segalanya berjalan lancar dan baik-baik saja, hingga suatu hari dia menerima surat tugas untuk ikut menertibkan Pedagang Kaki Lima yang ada di sekitar alun-alun kota. Sesuatu bergolak dalam hatinya, berat baginya untuk menjalankan tugas tersebut mengingat kebanyakan Pedagang Kaki Lima yang ada di seputar alun-alun kota adalah tetangga-tetangganya sewaktu kecil dulu. Namun sekali lagi.., sebagai seorang abdi negara dia haris menjalankan tugas yang dibebankan padanya.

Seperti yang dibayangkannya, saat operasi penertiban Pedagang Kaki Lima berlangsung, terjadi kericuhan. Pedagang-pedagang itu menolak ditertibkan. Saat para pedagang itu mengenalinya, sebagai tetangga masa kecilnya dulu, terlontar kata-kata yang menyakitkan hati. Mereka menuduhnya telah lupa asal-usulnya setelah menjadi pegawai kantoran. Mereka menuduhnya tega bersikap sewenang-wenang kepada tetangga-tetangga lamanya.

gambar diculik dari sini

Kejadian seperti itu terjadi berulang kali, setiap kali dia harus berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya dalam operasi penertiban Pedagang Kaki Lima. Memang, orang tuanya dulu adalah juga Pedagang Kaki Lima sama seperti mereka. Beruntung, dia dan kedua saudara kandungnya memiliki nasib yang baik sehingga dapat diangkat sebagai PNS. Setelah dia dan kedua saudara kandungnya mulai mapan dalam hidupnya, kedua orang tuanya memutuskan untuk tidak lagi menjadi Pedagang Kaki Lima.

Peperangan dalam batinnya terus menerus terjadi setiap kali dia menjalankan operasi penertiban Pedagang Kaki Lima. Hingga akhirnya, setelah tak kuat menderita tekanan batin yang amat sangat... dia menderita tekanan darah tinggi dan... terkena stroke. Dengan kondisinya yang demikian itu.., akhirnya dia dialihtugaskan ke kantor yang tidak memerlukan kekuatan fisik dalam bekerja.

Tak lama bekerja di tempat yang baru, dia pun terpaksa diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dengan hak pensiun karena kondisi fisiknya yang tak memungkinan untuk bekerja. Dengan kondisi fisik seperti itu, memang tak memungkinkan bekerja dimanapun, bahkan di tempat yang paling ringan sekalipun. Dan keputusan pemberhentian itupun mau tak mau harus diterimanya dengan lapang dada.

Begitulah.., terkadang hidup tak memberikan keleluasaan bagi kita untuk memilih. Seringkali kita dihadapkan pada situasi sulit yang menjadi tanggung jawab kita untuk dijalani. Tak semua orang bisa menjalani tugasnya dengan riang gembira. Terkadang dalam menjalani tugasnya seseorang harus berperang dengan hati nuraninya sendiri. Setiap profesi memiliki resiko dan konsekuensi tersendiri.

Kisah ini berdasar pada sebuah kisah nyata dan.... apakah yang dapat sahabat-sahabat semua petik dari kisah ini..? Semoga memberi manfaat bagi semua....

Kisah Seorang Satpol PP

Dulu..., sewaktu pertama kali diterima bekerja, tak pernah terbersit dalam benaknya dia akan menjadi seorang Satpol PP. Apalagi ternyata saat pertama dia ditempatkan sebagai CPNS, tempatnya adalah di sebuah kantor yang tak ada sangkut pautnya dengan Satpol PP.

Waktu berlalu dengan cepat dan tak banyak perubahan berarti yang terjadi padanya. Hingga suatu hari, dia dialihtugaskan ke kantor Satpol PP. Sebagai seorang abdi negara, tentu saja dia harus siap untuk ditempatkan dimana saja. Suka atau tidak, siap atau tidak... tapi perintah tetap harus dijalankan. Maka.., mulailah dia menjalani hari-hari menjadi anggota Satpol PP sejak beberapa tahun yang lalu.

Segalanya berjalan lancar dan baik-baik saja, hingga suatu hari dia menerima surat tugas untuk ikut menertibkan Pedagang Kaki Lima yang ada di sekitar alun-alun kota. Sesuatu bergolak dalam hatinya, berat baginya untuk menjalankan tugas tersebut mengingat kebanyakan Pedagang Kaki Lima yang ada di seputar alun-alun kota adalah tetangga-tetangganya sewaktu kecil dulu. Namun sekali lagi.., sebagai seorang abdi negara dia haris menjalankan tugas yang dibebankan padanya.

Seperti yang dibayangkannya, saat operasi penertiban Pedagang Kaki Lima berlangsung, terjadi kericuhan. Pedagang-pedagang itu menolak ditertibkan. Saat para pedagang itu mengenalinya, sebagai tetangga masa kecilnya dulu, terlontar kata-kata yang menyakitkan hati. Mereka menuduhnya telah lupa asal-usulnya setelah menjadi pegawai kantoran. Mereka menuduhnya tega bersikap sewenang-wenang kepada tetangga-tetangga lamanya.

gambar diculik dari sini

Kejadian seperti itu terjadi berulang kali, setiap kali dia harus berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya dalam operasi penertiban Pedagang Kaki Lima. Memang, orang tuanya dulu adalah juga Pedagang Kaki Lima sama seperti mereka. Beruntung, dia dan kedua saudara kandungnya memiliki nasib yang baik sehingga dapat diangkat sebagai PNS. Setelah dia dan kedua saudara kandungnya mulai mapan dalam hidupnya, kedua orang tuanya memutuskan untuk tidak lagi menjadi Pedagang Kaki Lima.

Peperangan dalam batinnya terus menerus terjadi setiap kali dia menjalankan operasi penertiban Pedagang Kaki Lima. Hingga akhirnya, setelah tak kuat menderita tekanan batin yang amat sangat... dia menderita tekanan darah tinggi dan... terkena stroke. Dengan kondisinya yang demikian itu.., akhirnya dia dialihtugaskan ke kantor yang tidak memerlukan kekuatan fisik dalam bekerja.

Tak lama bekerja di tempat yang baru, dia pun terpaksa diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dengan hak pensiun karena kondisi fisiknya yang tak memungkinan untuk bekerja. Dengan kondisi fisik seperti itu, memang tak memungkinkan bekerja dimanapun, bahkan di tempat yang paling ringan sekalipun. Dan keputusan pemberhentian itupun mau tak mau harus diterimanya dengan lapang dada.

Begitulah.., terkadang hidup tak memberikan keleluasaan bagi kita untuk memilih. Seringkali kita dihadapkan pada situasi sulit yang menjadi tanggung jawab kita untuk dijalani. Tak semua orang bisa menjalani tugasnya dengan riang gembira. Terkadang dalam menjalani tugasnya seseorang harus berperang dengan hati nuraninya sendiri. Setiap profesi memiliki resiko dan konsekuensi tersendiri.

Kisah ini berdasar pada sebuah kisah nyata dan.... apakah yang dapat sahabat-sahabat semua petik dari kisah ini..? Semoga memberi manfaat bagi semua....

Jumat, 16 April 2010

Surat untuk Papa

Papa...,
Aku tahu kau tak pernah mengeluh mendapatkan anak sepertiku
dan tetap memperlakukanku dengan kasih sayang yang tulus
tak berbeda dengan besarnya kasih sayang untuk anak-anakmu yang lain

Papa...,
Aku tahu berat bebanmu merawat anak invalid sepertiku
tapi kau tak pernah mengeluh pada siapa pun juga
bahkan kau selalu mampu memancarkan senyum di wajahmu

Papa...,
Maafkan jika selama ini aku telah sering membuatmu cemas akan keadaanku
Sungguh aku tak bermaksud begitu karna sebenarnya yang kuinginkan hanyalah membahagiakanmu
dan membuatmu bangga akan diriku

Papa...,
Aku tak akan pernah lupa betapa paniknya dirimu
ketika aku meneleponmu dan mengatakan bahwa kakiku tersiram air panas
sewaktu aku berusaha untuk membuat minum sendiri saat Bik Inah tak masuk kerja hari itu

Dan aku tak akan pernah lupa betapa dalam duka di matamu
saat kau menemukanku yang tergolek tak berdaya
setelah aku menyayat-nyayat kakiku sendiri dengan sebilah pisau

Papa...,
Sebenarnya semua itu kulakukan karena aku ingin bisa mandiri
Aku ingin bisa berjalan dan melakukan banyak hal seperti wanita lain
Aku ingin berguna dan tak terus menerus menjadi beban bagi orang lain
Tapi aku tak mampu menerima kenyataan yang ada
bahwa diriku memang tak sama dan kakiku memang tak berdaya

Papa...,
Meskipun kakiku melepuh karena tersiram air panas
dan terluka parah akibat sayatan pisau yang aku lakukan dengan sengaja
tapi aku sama sekali tak merasakan sakit di kakiku
Apakah Papa sudah lupa ...?
Bahwa telah lama kakiku telah mati rasa.

Papa...,
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku
Aku janji tak akan membuat resah hatimu lagi
Aku janji tak akan membuatmu berduka lagi
Aku janji...

Papa...,
Aku tak akan melakukan tindakan-tindakan bodoh lagi
dan aku akan berusaha untuk lebih bisa sabar dan ikhlas
menjalani takdirku...
dalam kesendirianku dan keterbatasanku.

Akan kujalani sisa hariku untuk menyenangkanmu
hingga leukemia ini membuatku menyerah
dan merenggut hidupku dari kebersamaan kita....

Papa...,
Biarkan aku menikmati setiap detik kebersamaan kita
dan mereguk manisnya kasih sayang dan perhatianmu
sampai di detik terakhir hidupku....

Surat untuk Papa

Papa...,
Aku tahu kau tak pernah mengeluh mendapatkan anak sepertiku
dan tetap memperlakukanku dengan kasih sayang yang tulus
tak berbeda dengan besarnya kasih sayang untuk anak-anakmu yang lain

Papa...,
Aku tahu berat bebanmu merawat anak invalid sepertiku
tapi kau tak pernah mengeluh pada siapa pun juga
bahkan kau selalu mampu memancarkan senyum di wajahmu

Papa...,
Maafkan jika selama ini aku telah sering membuatmu cemas akan keadaanku
Sungguh aku tak bermaksud begitu karna sebenarnya yang kuinginkan hanyalah membahagiakanmu
dan membuatmu bangga akan diriku

Papa...,
Aku tak akan pernah lupa betapa paniknya dirimu
ketika aku meneleponmu dan mengatakan bahwa kakiku tersiram air panas
sewaktu aku berusaha untuk membuat minum sendiri saat Bik Inah tak masuk kerja hari itu

Dan aku tak akan pernah lupa betapa dalam duka di matamu
saat kau menemukanku yang tergolek tak berdaya
setelah aku menyayat-nyayat kakiku sendiri dengan sebilah pisau

Papa...,
Sebenarnya semua itu kulakukan karena aku ingin bisa mandiri
Aku ingin bisa berjalan dan melakukan banyak hal seperti wanita lain
Aku ingin berguna dan tak terus menerus menjadi beban bagi orang lain
Tapi aku tak mampu menerima kenyataan yang ada
bahwa diriku memang tak sama dan kakiku memang tak berdaya

Papa...,
Meskipun kakiku melepuh karena tersiram air panas
dan terluka parah akibat sayatan pisau yang aku lakukan dengan sengaja
tapi aku sama sekali tak merasakan sakit di kakiku
Apakah Papa sudah lupa ...?
Bahwa telah lama kakiku telah mati rasa.

Papa...,
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku
Aku janji tak akan membuat resah hatimu lagi
Aku janji tak akan membuatmu berduka lagi
Aku janji...

Papa...,
Aku tak akan melakukan tindakan-tindakan bodoh lagi
dan aku akan berusaha untuk lebih bisa sabar dan ikhlas
menjalani takdirku...
dalam kesendirianku dan keterbatasanku.

Akan kujalani sisa hariku untuk menyenangkanmu
hingga leukemia ini membuatku menyerah
dan merenggut hidupku dari kebersamaan kita....

Papa...,
Biarkan aku menikmati setiap detik kebersamaan kita
dan mereguk manisnya kasih sayang dan perhatianmu
sampai di detik terakhir hidupku....

Kamis, 15 April 2010

Kau katakan padaku

Kau katakan padaku, bahwa kau sangat mencintainya. Bahwa dirinya begitu berarti buatmu sampai kapanpun. Ya.., dapat kulihat itu. Betapa berbinar-binar matamu setiap memandangnya. Betapa bahagia dirimu jika bersamanya. Betapa seringnya kau membicarakan dirinya... dan selalu tentang dirinya.

Kau katakan padaku, bahwa kau mau melakukan apa saja untuknya. Bahwa kau hanya ingin melihatnya bahagia. Ya.., dapat kulihat itu. Betapa besar usahamu untuk melakukan apapun yang dia mau. Betapa tak jemu-jemu dirimu meluangkan waktu untuk mengurus berbagai kebutuhannya.

Gambar diculik dari sini

Kau katakan padaku, bahwa kau mau menjadi tameng bagi dirinya. Betapa kau tak rela orang menilai dan mengatakan hal-hal yang buruk tentangnya.Ya.., dapat kulihat itu. Betapa sibuk dirimu meluruskan segala macam perkataannya. Betapa repotnya dirimu menyusun berbagai alasan untuk segala sikap dan perbuatannya.

Kini..., dengarkan apa kataku. Hentikan semua itu. Cukup sudah segala yang terjadi antara kau dan dirinya. Tak perlu lagi kau memberikan hati dan cintamu untuknya. Usah lagi kau luangkan begitu banyak waktu untuknya. Hentikan semua perlakuanmu padanya karena kau sama sekali tak punya alasan untuk semua itu.

Dengarkan apa kataku. Cukup sudah segala yang kau rasa. Cukup sudah kau mempermalukan dirimu. Cinta memang indah tapi cinta yang kau miliki adalah cinta yang salah. Cintamu jatuh bukan pada orang yang tepat. Cukup sudah kesalahan yang kau perbuat sebelum semuanya menjadi sangat terlambat.

Aku memang bukan siapa-siapa bagimu, namun aku tak ingin kau tersesat semakin jauh. Semoga saja kau mau mendengarkan apa kataku... kali ini saja. Semoga saja..., cinta terlarang itu tak akan hadir lagi dalam hidupmu. Itu harapanku.


Tulisan ini aku dedikasikan untuk seorang teman baikku.