Tahun 2007 yang lalu, OSK masih dilakukan dalam 4 tahapan, yaitu : Penyisihan, Seperempat final, Semifinal dan Final. Babak Penyisihan sampai dengan Semifinal dilaksanakan di daerah. Sementara babak Final dilaksanakan di Jakarta. Ternyata, Shasa bisa sampai babak semifinal yang berarti, kami harus bolak-balik Madiun-Yogyakarta sebanyak 3x mulai bulan Januari s/d April 2007. Lumayan juga....
Tahun 2008, Shasa ikut lagi OSK. Tapi kali ini Madiun sudah bisa menyelenggarakan sendiri. Peserta dari Madiun dan sekitarnya (Ponorogo, Ngawi dan Magetan) juga sudah mulai banyak. Bedanya, OSK 2008 dilaksanakan dalam 3 babak, yaitu : Penyisihan, Semifinal dan Final. Seperti tahun sebelumnya, babak Penyisihan s/d Semifinal dilaksanakan di daerah sementara babak Final dilaksanakan di Jakarta. Lagi-lagi, Shasa mentok di babak semifinal. Gak masalah sih bagi kami, apalagi kami melihat semangat Shasa untuk ikut OSK tidak semenggebu tahun sebelumnya.
Pada tahun 2009 ini, kembali Shasa minta untuk mengikuti OSK dan (lagi-lagi) kami turuti. Tapi kami melihat bahwa semangat Shasa untuk mempersiapkan diri sudah jauh menurun dari tahun sebelumnya. So, kami kali ini tidak berharap banyak dari Shasa. Kami hanya ingin memberikan pengalaman untuk berkompetisi bagi Shasa.
Tahun ini peserta yang ikut OSK di Madiun sebanyak 1116 murid, dari kelas 1 SD s/d 6 SD. Peserta bukan saja dari Madiun, tapi dari Magetan, Ponorogo, Ngawi bahkan Pacitan. Waa..., kebayang kan gimana ramainya orang sebanyak itu (plus para pengantarnya) yang kumpul di satu sekolah ?!?


Iihh.. ruwet banget kan suasananya ?Setelah peserta melakukan registrasi tidak diijinkan langsung memasuki ruang yang disediakan.Setelah menunggu beberapa lama, anak-anak diijinkan menuju ruangan dengan dipandu oleh panitia, sementara orangtuanya tidak diijinkan untuk mendampingi.


Shasa menunggu setelah selesai regristrasi
Yang ini Shasa sedang terjebak dalam barisan yang mau masuk ke ruangan
Dari ketiga kali keikutsertaan Shasa dalam ajang OSK, ternyata bahwa pihak sekolah sama sekali tidak terlibat. Tiga kali keterlibatan Shasa dalam ajang OSK, pihak sekolah selalu tahu, tapi sama sekali tidak membantu. Sebenarnya aku berharap, pihak sekolah ikut aktif membantu persiapan materi untuk menghadapi OSK ini. Ternyata, apa yang aku keluhkan ini juga dirasakan juga oleh orangtua lain dari sekolah lain yang ada di Madiun. Jadi, ternyata bukan hanya sekolah Shasa saja yang cuek. Tapi, sebenarnya ada juga sih sekolah dari Madiun yang sekolahnya ikut aktif membantu keikutsertaan muridnya dalam ajang OSK.
Kami, yang merasa tidak mendapatkan perhatian dari pihak sekolah, terus terang merasa iri saat melihat murid-murid dari sekolah lain yang datang didampingi oleh guru-gurunya. Dari Ponorogo, Ngawi, Magetan dan Pacitan malah berangkat berombongan dengan gurunya. Mereka dipandu oleh gurunya langsung.
Ada satu hal yang menarik untuk aku catat. Sebuah sekolah dari Pacitan, membawa 4 muridnya kelas 1 untuk ikut OSK ini. Keempat murid itu tidak didampingi oleh orangtuanya tapi didampingi oleh 3 orang gurunya. Guru-guru sekolah itu malah melarang orangtua murid untuk ikut mendampingi. Tanggung jawab diambil alih 3 guru tersebut. Alasannya untuk melatih anaka-anak agar belajar mandiri. Dan semua biaya yang dikeluarkan, mulai dari pendaftaran, biaya perjalanan Pacitan - Madiun PP, makan dan bahkan refreshing (setelah dari mengikuti OSK, murid-muridnya diajak jalan-jalan ke Matahari !!) semua ditanggung pihak sekolah. Wah..., asyiknya....
Sayang, sampai keterlibatan Shasa yang ketiga kalinya dalam ajang OSK ini pihak sekolah belum juga ikut membantu. Padahal, seandainya saja pihak sekolah ikut memberikan pembinaan atau datang mendampingi saat pelaksanaan lombanya, pasti semangat Shasa akan lebih besar lagi. Padahal, kartu tanda peserta OSK diserahkan langsung oleh pihak sekolah kepada para pesertanya lho.
Aku gak tahu kenapa pihak sekolah seolah lepas tangan dan tidak melakukan pembinaan terhadap muridnya yang ikut OSK. Apa karena penyelenggara OSK ini adalah pihak swasta ? Apa karena OSK dianggap bukan sebagai "agenda resmi" dari Departemen Pendidikan ? Apa karena keikutsertaan murid-murid dalam OSK tidak didanai oleh pihak sekolah ? Entahlah.., sampai sekarang aku tidak tahu jawabannya. :t