Sabtu, 07 Februari 2009

Kok tambah gemuk ya ...?

Ceritanya nih sekarang aku sedang bingung mikirin Shasa. Bukan masalah sepele sih..., tapi juga bukan masalah yang berat juga. Pokok'e aku bingung juga kudu ngapain sekarang ini. Masalahnya adalah menyangkut berat badan Shasa.

Sebenarnya lihat Shasa sehat begitu aku merasa seneng plus gemes juga. Tapi di sisi lain, aku suka bingung juga kalau mau beliin baju di toko. Susah cari ukuran baju yang pas untuk Shasa.

Dulu waktu Shasa mau masuk SD, aku pikir badannya akan "mengecil" dengan sendirinya. Dalam benakku, kesibukan Shasa waktu SD akan semakin meningkat dan beban tugas SD yang banyak akan membuatnya lebih langsing. Tapi ternyata, dugaanku keliru. Makin hari berat badan Shasa makin bertambah saja.

Sebenarnya sejak kecil Shasa udah kelihatan gemuk, tapi kalau melihat Shasa sekarang dan melihat foto-foto masa kecilnya..., kayaknya waktu kecil Shasa tidak gemuk sama sekali !! Kalau melihat Shasa sekarang, aku benar-benar merasa bahwa dia sudah gemuk sekali.


Saat Shasa masih TK (masih imut-imut)


Shasa baru masuk SD (Juli 2006) pipinya makin gembil


Pertengahan April 2007, tuh lengannya padat banget yach ?!

Akhir Tahun 2008, makin tampak endut.


Awal tahun 2009, makin besar aja tuh bakpao di pipi.


Saat ini, no comment ah....

Yang kucatat setiap kali selesai menjalankan puasa Ramadhan berat badan Shasa bukannya turun, tapi malah naik !! Shasa sudah berlatih puasa sejak kelas 1 SD. Dan setelah 3 kali melewati puasa Ramadhan, berat badan Shasa naik terus. Soalnya, Shasa sepertinya "balas dendam" saat Idul Fitri datang.

Saat aku mau melatih Shasa untuk "diet" banyak pihak yang keberatan. Alasannya tentu saja karena saat ini Shasa sedang dalam masa pertumbuhan. Shasa butuh banyak energi untuk aktifitasnya sehari-hari. Tapi kalau membaca tentang masalah kegemukan pada anak-anak yang aku baca di sini, sini dan sini maka aku jadi kepikiran terus dengan kegemukan Shasa.

Saat ini memang aku masih sulit ngerem keinginan Shasa untuk makan. Tapi, aku akan mencoba sedikit demi sedikit untuk mengurangi keinginan Shasa makan. Aku gak mau Shasa makin bertambah gemuk. Satu hal lagi, aku pengen mengikutkan Shasa untuk les berenang mulai kelas 4 nanti. Sebenarnya sejak Tk Shasa udah mulai berlatih renang, tapi tidak intensif. Penyebabnya ada 2 : pertama karena Shasa takut air (jadi latihannya gak berkembang) dan kedua Shasa penderita amandel yang udah cukup parah. Kata beberapa orang, anak yang mengidap sakit amandel akan sering kambuh kalau berenang, karena amandelnya akan gampang terinfeksi saat kena air kolam. Betul gak sih..?!

Hmmm..., pokok'e aku akan berusaha untuk mencoba berbagai kiat dan trik agar Shasa tidak bertambah gemuk lagi. Terbayang sih kesulitan yang akan aku hadapi untuk mengurangi berat badan Shasa. Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Apalagi kalau inget, ini semua juga demi kebaikan Shasa juga. Iya kan...??

Kok tambah gemuk ya ...?

Ceritanya nih sekarang aku sedang bingung mikirin Shasa. Bukan masalah sepele sih..., tapi juga bukan masalah yang berat juga. Pokok'e aku bingung juga kudu ngapain sekarang ini. Masalahnya adalah menyangkut berat badan Shasa.

Sebenarnya lihat Shasa sehat begitu aku merasa seneng plus gemes juga. Tapi di sisi lain, aku suka bingung juga kalau mau beliin baju di toko. Susah cari ukuran baju yang pas untuk Shasa.

Dulu waktu Shasa mau masuk SD, aku pikir badannya akan "mengecil" dengan sendirinya. Dalam benakku, kesibukan Shasa waktu SD akan semakin meningkat dan beban tugas SD yang banyak akan membuatnya lebih langsing. Tapi ternyata, dugaanku keliru. Makin hari berat badan Shasa makin bertambah saja.

Sebenarnya sejak kecil Shasa udah kelihatan gemuk, tapi kalau melihat Shasa sekarang dan melihat foto-foto masa kecilnya..., kayaknya waktu kecil Shasa tidak gemuk sama sekali !! Kalau melihat Shasa sekarang, aku benar-benar merasa bahwa dia sudah gemuk sekali.


Saat Shasa masih TK (masih imut-imut)


Shasa baru masuk SD (Juli 2006) pipinya makin gembil


Pertengahan April 2007, tuh lengannya padat banget yach ?!

Akhir Tahun 2008, makin tampak endut.


Awal tahun 2009, makin besar aja tuh bakpao di pipi.


Saat ini, no comment ah....

Yang kucatat setiap kali selesai menjalankan puasa Ramadhan berat badan Shasa bukannya turun, tapi malah naik !! Shasa sudah berlatih puasa sejak kelas 1 SD. Dan setelah 3 kali melewati puasa Ramadhan, berat badan Shasa naik terus. Soalnya, Shasa sepertinya "balas dendam" saat Idul Fitri datang.

Saat aku mau melatih Shasa untuk "diet" banyak pihak yang keberatan. Alasannya tentu saja karena saat ini Shasa sedang dalam masa pertumbuhan. Shasa butuh banyak energi untuk aktifitasnya sehari-hari. Tapi kalau membaca tentang masalah kegemukan pada anak-anak yang aku baca di sini, sini dan sini maka aku jadi kepikiran terus dengan kegemukan Shasa.

Saat ini memang aku masih sulit ngerem keinginan Shasa untuk makan. Tapi, aku akan mencoba sedikit demi sedikit untuk mengurangi keinginan Shasa makan. Aku gak mau Shasa makin bertambah gemuk. Satu hal lagi, aku pengen mengikutkan Shasa untuk les berenang mulai kelas 4 nanti. Sebenarnya sejak Tk Shasa udah mulai berlatih renang, tapi tidak intensif. Penyebabnya ada 2 : pertama karena Shasa takut air (jadi latihannya gak berkembang) dan kedua Shasa penderita amandel yang udah cukup parah. Kata beberapa orang, anak yang mengidap sakit amandel akan sering kambuh kalau berenang, karena amandelnya akan gampang terinfeksi saat kena air kolam. Betul gak sih..?!

Hmmm..., pokok'e aku akan berusaha untuk mencoba berbagai kiat dan trik agar Shasa tidak bertambah gemuk lagi. Terbayang sih kesulitan yang akan aku hadapi untuk mengurangi berat badan Shasa. Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Apalagi kalau inget, ini semua juga demi kebaikan Shasa juga. Iya kan...??

OSK dan Peran Sekolah

Babak Penyisihan Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2009 hari ini, Sabtu tanggal 7 Pebruari 2009 kembali digelar serempak di Indonesia.Kompetisi Sains bagi anak-anak SD ini dilaksanakan dalam skala nasional, tapi berstandar Internasional. OSK diselenggarakan oleh PT Kuark Internasional yang menerbitkan Komik Sains Kuark. Penyelenggaraan OSK ini didukung penuh oleh Prof. Yohanes Surya, PhD sebagai Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia dans ekaligus President of Asian Physics Olympiad (APhO).

Kali ini, untuk ketiga kalinya Shasa ikut OSK. Shasa mengikuti OSK pertama kali saat masih duduk di kelas 1 SD, tahun 207 yang lalu. Saat itu Komik Kuark belum dikenal luas di Kota Madiun. Sehingga untuk bisa mengikuti OSK, Shasa harus pergi ke Yogyakarta karena peserta dari Madiun gak ada yang lain.

Keikutsertaan Shasa dalam ajang kompetisi sains itu pada awalnya dipandang negatif oleh beberapa orang. Siapa sih yang gak tahu "berat"nya Sains ? Padahal, ternyata Shasa asyik-asyik aja tuh belajar sains lewat Komik Kuark. Banyak yang menuduh bahwa keikutsertaan Shasa saat itu adalah ambisi dari kedua orangtuanya. Padahal..., (halah ... banyak kali "padahal"nya ) Shasa sendiri yang bersemangat untuk mengikutinya. So, walau sedikit berat di ongkos *curhat mode on* kami tetap mengikuti kemauan Shasa untuk mengikuti OSK di Yogyakarta.


Tahun 2007 yang lalu, OSK masih dilakukan dalam 4 tahapan, yaitu : Penyisihan, Seperempat final, Semifinal dan Final. Babak Penyisihan sampai dengan Semifinal dilaksanakan di daerah. Sementara babak Final dilaksanakan di Jakarta. Ternyata, Shasa bisa sampai babak semifinal yang berarti, kami harus bolak-balik Madiun-Yogyakarta sebanyak 3x mulai bulan Januari s/d April 2007. Lumayan juga....

Tahun 2008, Shasa ikut lagi OSK. Tapi kali ini Madiun sudah bisa menyelenggarakan sendiri. Peserta dari Madiun dan sekitarnya (Ponorogo, Ngawi dan Magetan) juga sudah mulai banyak. Bedanya, OSK 2008 dilaksanakan dalam 3 babak, yaitu : Penyisihan, Semifinal dan Final. Seperti tahun sebelumnya, babak Penyisihan s/d Semifinal dilaksanakan di daerah sementara babak Final dilaksanakan di Jakarta. Lagi-lagi, Shasa mentok di babak semifinal. Gak masalah sih bagi kami, apalagi kami melihat semangat Shasa untuk ikut OSK tidak semenggebu tahun sebelumnya.

Pada tahun 2009 ini, kembali Shasa minta untuk mengikuti OSK dan (lagi-lagi) kami turuti. Tapi kami melihat bahwa semangat Shasa untuk mempersiapkan diri sudah jauh menurun dari tahun sebelumnya. So, kami kali ini tidak berharap banyak dari Shasa. Kami hanya ingin memberikan pengalaman untuk berkompetisi bagi Shasa.

Tahun ini peserta yang ikut OSK di Madiun sebanyak 1116 murid, dari kelas 1 SD s/d 6 SD. Peserta bukan saja dari Madiun, tapi dari Magetan, Ponorogo, Ngawi bahkan Pacitan. Waa..., kebayang kan gimana ramainya orang sebanyak itu (plus para pengantarnya) yang kumpul di satu sekolah ?!?


Iihh.. ruwet banget kan suasananya ?

Setelah peserta melakukan registrasi tidak diijinkan langsung memasuki ruang yang disediakan.Setelah menunggu beberapa lama, anak-anak diijinkan menuju ruangan dengan dipandu oleh panitia, sementara orangtuanya tidak diijinkan untuk mendampingi.




Shasa menunggu setelah selesai regristrasi



Yang ini Shasa sedang terjebak dalam barisan yang mau masuk ke ruangan


Dari ketiga kali keikutsertaan Shasa dalam ajang OSK, ternyata bahwa pihak sekolah sama sekali tidak terlibat. Tiga kali keterlibatan Shasa dalam ajang OSK, pihak sekolah selalu tahu, tapi sama sekali tidak membantu. Sebenarnya aku berharap, pihak sekolah ikut aktif membantu persiapan materi untuk menghadapi OSK ini. Ternyata, apa yang aku keluhkan ini juga dirasakan juga oleh orangtua lain dari sekolah lain yang ada di Madiun. Jadi, ternyata bukan hanya sekolah Shasa saja yang cuek. Tapi, sebenarnya ada juga sih sekolah dari Madiun yang sekolahnya ikut aktif membantu keikutsertaan muridnya dalam ajang OSK.

Kami, yang merasa tidak mendapatkan perhatian dari pihak sekolah, terus terang merasa iri saat melihat murid-murid dari sekolah lain yang datang didampingi oleh guru-gurunya. Dari Ponorogo, Ngawi, Magetan dan Pacitan malah berangkat berombongan dengan gurunya. Mereka dipandu oleh gurunya langsung.

Ada satu hal yang menarik untuk aku catat. Sebuah sekolah dari Pacitan, membawa 4 muridnya kelas 1 untuk ikut OSK ini. Keempat murid itu tidak didampingi oleh orangtuanya tapi didampingi oleh 3 orang gurunya. Guru-guru sekolah itu malah melarang orangtua murid untuk ikut mendampingi. Tanggung jawab diambil alih 3 guru tersebut. Alasannya untuk melatih anaka-anak agar belajar mandiri. Dan semua biaya yang dikeluarkan, mulai dari pendaftaran, biaya perjalanan Pacitan - Madiun PP, makan dan bahkan refreshing (setelah dari mengikuti OSK, murid-muridnya diajak jalan-jalan ke Matahari !!) semua ditanggung pihak sekolah. Wah..., asyiknya....

Sayang, sampai keterlibatan Shasa yang ketiga kalinya dalam ajang OSK ini pihak sekolah belum juga ikut membantu. Padahal, seandainya saja pihak sekolah ikut memberikan pembinaan atau datang mendampingi saat pelaksanaan lombanya, pasti semangat Shasa akan lebih besar lagi. Padahal, kartu tanda peserta OSK diserahkan langsung oleh pihak sekolah kepada para pesertanya lho.

Aku gak tahu kenapa pihak sekolah seolah lepas tangan dan tidak melakukan pembinaan terhadap muridnya yang ikut OSK. Apa karena penyelenggara OSK ini adalah pihak swasta ? Apa karena OSK dianggap bukan sebagai "agenda resmi" dari Departemen Pendidikan ? Apa karena keikutsertaan murid-murid dalam OSK tidak didanai oleh pihak sekolah ? Entahlah.., sampai sekarang aku tidak tahu jawabannya. :t

OSK dan Peran Sekolah

Babak Penyisihan Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2009 hari ini, Sabtu tanggal 7 Pebruari 2009 kembali digelar serempak di Indonesia.Kompetisi Sains bagi anak-anak SD ini dilaksanakan dalam skala nasional, tapi berstandar Internasional. OSK diselenggarakan oleh PT Kuark Internasional yang menerbitkan Komik Sains Kuark. Penyelenggaraan OSK ini didukung penuh oleh Prof. Yohanes Surya, PhD sebagai Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia dans ekaligus President of Asian Physics Olympiad (APhO).

Kali ini, untuk ketiga kalinya Shasa ikut OSK. Shasa mengikuti OSK pertama kali saat masih duduk di kelas 1 SD, tahun 207 yang lalu. Saat itu Komik Kuark belum dikenal luas di Kota Madiun. Sehingga untuk bisa mengikuti OSK, Shasa harus pergi ke Yogyakarta karena peserta dari Madiun gak ada yang lain.

Keikutsertaan Shasa dalam ajang kompetisi sains itu pada awalnya dipandang negatif oleh beberapa orang. Siapa sih yang gak tahu "berat"nya Sains ? Padahal, ternyata Shasa asyik-asyik aja tuh belajar sains lewat Komik Kuark. Banyak yang menuduh bahwa keikutsertaan Shasa saat itu adalah ambisi dari kedua orangtuanya. Padahal..., (halah ... banyak kali "padahal"nya ) Shasa sendiri yang bersemangat untuk mengikutinya. So, walau sedikit berat di ongkos *curhat mode on* kami tetap mengikuti kemauan Shasa untuk mengikuti OSK di Yogyakarta.


Tahun 2007 yang lalu, OSK masih dilakukan dalam 4 tahapan, yaitu : Penyisihan, Seperempat final, Semifinal dan Final. Babak Penyisihan sampai dengan Semifinal dilaksanakan di daerah. Sementara babak Final dilaksanakan di Jakarta. Ternyata, Shasa bisa sampai babak semifinal yang berarti, kami harus bolak-balik Madiun-Yogyakarta sebanyak 3x mulai bulan Januari s/d April 2007. Lumayan juga....

Tahun 2008, Shasa ikut lagi OSK. Tapi kali ini Madiun sudah bisa menyelenggarakan sendiri. Peserta dari Madiun dan sekitarnya (Ponorogo, Ngawi dan Magetan) juga sudah mulai banyak. Bedanya, OSK 2008 dilaksanakan dalam 3 babak, yaitu : Penyisihan, Semifinal dan Final. Seperti tahun sebelumnya, babak Penyisihan s/d Semifinal dilaksanakan di daerah sementara babak Final dilaksanakan di Jakarta. Lagi-lagi, Shasa mentok di babak semifinal. Gak masalah sih bagi kami, apalagi kami melihat semangat Shasa untuk ikut OSK tidak semenggebu tahun sebelumnya.

Pada tahun 2009 ini, kembali Shasa minta untuk mengikuti OSK dan (lagi-lagi) kami turuti. Tapi kami melihat bahwa semangat Shasa untuk mempersiapkan diri sudah jauh menurun dari tahun sebelumnya. So, kami kali ini tidak berharap banyak dari Shasa. Kami hanya ingin memberikan pengalaman untuk berkompetisi bagi Shasa.

Tahun ini peserta yang ikut OSK di Madiun sebanyak 1116 murid, dari kelas 1 SD s/d 6 SD. Peserta bukan saja dari Madiun, tapi dari Magetan, Ponorogo, Ngawi bahkan Pacitan. Waa..., kebayang kan gimana ramainya orang sebanyak itu (plus para pengantarnya) yang kumpul di satu sekolah ?!?


Iihh.. ruwet banget kan suasananya ?

Setelah peserta melakukan registrasi tidak diijinkan langsung memasuki ruang yang disediakan.Setelah menunggu beberapa lama, anak-anak diijinkan menuju ruangan dengan dipandu oleh panitia, sementara orangtuanya tidak diijinkan untuk mendampingi.




Shasa menunggu setelah selesai regristrasi



Yang ini Shasa sedang terjebak dalam barisan yang mau masuk ke ruangan


Dari ketiga kali keikutsertaan Shasa dalam ajang OSK, ternyata bahwa pihak sekolah sama sekali tidak terlibat. Tiga kali keterlibatan Shasa dalam ajang OSK, pihak sekolah selalu tahu, tapi sama sekali tidak membantu. Sebenarnya aku berharap, pihak sekolah ikut aktif membantu persiapan materi untuk menghadapi OSK ini. Ternyata, apa yang aku keluhkan ini juga dirasakan juga oleh orangtua lain dari sekolah lain yang ada di Madiun. Jadi, ternyata bukan hanya sekolah Shasa saja yang cuek. Tapi, sebenarnya ada juga sih sekolah dari Madiun yang sekolahnya ikut aktif membantu keikutsertaan muridnya dalam ajang OSK.

Kami, yang merasa tidak mendapatkan perhatian dari pihak sekolah, terus terang merasa iri saat melihat murid-murid dari sekolah lain yang datang didampingi oleh guru-gurunya. Dari Ponorogo, Ngawi, Magetan dan Pacitan malah berangkat berombongan dengan gurunya. Mereka dipandu oleh gurunya langsung.

Ada satu hal yang menarik untuk aku catat. Sebuah sekolah dari Pacitan, membawa 4 muridnya kelas 1 untuk ikut OSK ini. Keempat murid itu tidak didampingi oleh orangtuanya tapi didampingi oleh 3 orang gurunya. Guru-guru sekolah itu malah melarang orangtua murid untuk ikut mendampingi. Tanggung jawab diambil alih 3 guru tersebut. Alasannya untuk melatih anaka-anak agar belajar mandiri. Dan semua biaya yang dikeluarkan, mulai dari pendaftaran, biaya perjalanan Pacitan - Madiun PP, makan dan bahkan refreshing (setelah dari mengikuti OSK, murid-muridnya diajak jalan-jalan ke Matahari !!) semua ditanggung pihak sekolah. Wah..., asyiknya....

Sayang, sampai keterlibatan Shasa yang ketiga kalinya dalam ajang OSK ini pihak sekolah belum juga ikut membantu. Padahal, seandainya saja pihak sekolah ikut memberikan pembinaan atau datang mendampingi saat pelaksanaan lombanya, pasti semangat Shasa akan lebih besar lagi. Padahal, kartu tanda peserta OSK diserahkan langsung oleh pihak sekolah kepada para pesertanya lho.

Aku gak tahu kenapa pihak sekolah seolah lepas tangan dan tidak melakukan pembinaan terhadap muridnya yang ikut OSK. Apa karena penyelenggara OSK ini adalah pihak swasta ? Apa karena OSK dianggap bukan sebagai "agenda resmi" dari Departemen Pendidikan ? Apa karena keikutsertaan murid-murid dalam OSK tidak didanai oleh pihak sekolah ? Entahlah.., sampai sekarang aku tidak tahu jawabannya. :t

Rabu, 04 Februari 2009

Cagar Budaya

Segala hal yang berbau kuno atau masa lalu seringkali kurang diminati, apalagi oleh anak-anak. Mereka lebih suka hal-hal yang berbau modern dan serba canggih. Ya gak bisa disalahin juga anak-anaknya, wong kita sebagai orang tua aja kadang kala "malas" untuk berurusan dengan hal-hal yang kuno kok. Udah gak jamannya, gitu kata banyak orang. ;)

Tapi, tidak semua hal kuno harus dihapus begitu saja. Banyak hal kuno yang layak untuk dipelihara dan dijaga "keasliannya". Hal-hal kuno yang berupa peninggalan budaya adalah sumber ilmu pengetahuan dan saksi keberadaan bangsa Indonesia. Mengingat arti penting hal-hal kuno nan bersejarah itu, maka Pemerintah merasa perlu untuk menetapkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Yang dimaksud dengan cagar budaya adalah kegiatan untuk menjaga atau melakukan konservasi terhadap benda-benda alam atau buatan manusia yang dianggap memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Di Indonesia, benda cagar budaya harus berumur sekurang-kurangnya 50 tahun. Cagar budaya seringkali dijadikan lambang dan simbol harga diri sebuah bangsa karena sejarah suatu bangsa tercatat dalam peninggalan-peninggalannya.

Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali peninggalan yang menyimpan begitu banyak ilmu pengetahuan dan sejarah bangsa ini. Namun, sayang sekali sudah banyak cagar budaya berupa bangunan bersejarah yang sudah "hilang". Banyak gedung-gedung yang merupakan saksi sejarah tergusur dan dibongkar atas nama kemajuan jaman. Namun, di antara cagar budaya yang masih tetap terjaga keberadaannya adalah Keraton, salah satunya Keraton Yogyakarta.


Dengan tujuan untuk memperkenalkan budaya bangsa kepada Shasa dan juga untuk lebih mengenalkan Shasa akan tanah kelahiran ayahnya, maka kami pernah mengajak Shasa untuk mengujungi Keraton Yogyakarta. Keinginan tersebut dapat kami wujudkan pada bulan April 2007 yang lalu. Sewaktu Shasa mengetahui akan diajak ke Keraton Yogyakarta, dia sangat antusias. Dia sangat tidak sabar untuk segera masuk ke dalam keraton.



Begitu masuk, Shasa sangat gembira. Dia segera minta untuk difoto di bawah logo Keraton Yogyakarta dan dibeberapa tempat lainnya. Tapi, begitu masuk lebih dalam lagi dan melihat koleksi benda-benda bersejarah yang ada (sayang sekali tidak sempat diabadikan) Shasa sudah terlihat bosan. Dia mulai tidak tertarik dan minta agar segera pulang saja. Walah.... :t

Shasa hanya tertarik untuk foto-foto saja dan tidak tertarik sama sekali untuk melihat koleksi yang ada. Mungkin dalam bayangannya keraton yang dia kunjungi identik dengan kerajaan-kerajaan yang dia tonton dalam film-film kartun. Kerajaan yang glamor dan serba wah. Sementara Keraton Yogyakarta sangat kental dengan nuansa jaman dulu (baca : kuno).

Sewaktu mau pulang, kami melewati pendopo yang digunakan untuk menggelar Wayang Kulit. Ternyata tidak setiap hari ada pagelaran wayang kulit seperti itu. Shasa beruntung bisa menyaksikan cuplikan adegan dalam wayang kulit itu. Yang tidak kubayangkan sebelumnya dalah, ternyata Shasa betah duduk untuk nonton pagelaran Wayang Kulit tersebut !! Aku dan suami yang gak tertarik (malu sebenarnya untuk mengakui hal ini), berupaya merayu Shasa agar mau diajak pulang. Tapi ternyata Shasa asyik dengan tontonannya itu. Baru setelah sekian lama akhirnya sukses juga mengajak Shasa pulang.



Jadi, bisa dibilang niat untuk memperkenalkan Keraton Yogyakarta yang sarat dengan benda-benda peninggalan sejarah yang sangat berharga, dapat dibilang gagal total. Tapi ternyata Shasa punya pengalaman sendiri yang baginya jauh lebih menarik daripada melihat koleksi benda-benda kuno, yaitu : nonton wayang kulit. Yah... setidaknya usaha kami gak sepenuhnya sia-sia. Meski usaha untuk memperkenalkan sejarah bangsa gagal, tapi hasil yang didapat (dan tak terduga) adalah memperkenalkan seni budaya bangsa. *bernafas lega* :z