Rabu, 04 Maret 2009

Blog dan Anak-anak

Ini cerita tentang Shasa dan blognya. Akhir-akhir ini Shasa memang sedang patah arang dalam ngeblog. Dia merasa tak bersemangat lagi untuk ngeblog karena pengunjung blognya hanya aku dan suamiku aja. Kalaupun ada orang lain, paling juga cuma 1 atau 2 orang, itu aja juga jarang sekali. Sementara kalau Shasa melihat blogku, dia merasa iri karena setidaknya ada 4-6 orang yang berkomentar di postinganku.

Aku sudah coba jelaskan kepada Shasa bahwa anak-anak yang ngeblog tak sebanyak orang dewasa. Selain itu, anak-anak juga ngeblog hanya untuk bersenang-senang dan belajar mengarang saja. Tak ada aktifitas lain seperti blogwalking dan sebagainya. So..., blog anak-anak jadi kurang dikenal. Kalaupun ada orang dewasa yang tahu, biasanya mereka juga males mampir karena tahu yang punya blog masih anak-anak.


Sebenarnya, menurutku siy..., kemampuan Shasa dalam hal menulis sudah mulai meningkat. Itu semua tentu saja hasil dari ngeblog. Walaupun Shasa sangat tergantung padaku dalam segi teknis ngeblog, tapi semua tulisan murni karya Shasa. Memang belum bagus, tapi itu sudah istimewa bagiku. Makanya aku sangat mendukung waktu Shasa minta kubuatkan blog juga untuk belajar mengarang.

Menurutku saat itu, kalau Shasa punya media yang menarik untuk belajar mengarang, pasti dia akan lebih semangat. Tak pernah kusangka bahwa keberadaan blogku yang ternyata (dalam kaca mata Shasa) lebih dikenal daripada blog Shasa justru menyebabkan Shasa patah arang. Malah, dia sempat minta blog-nya dihapus saja. Walah...!!

Aku sudah mencoba segala macam bujuk rayu dan berbagai macam upaya agar Shasa semangat untuk ngeblog lagi. Apalagi setelah guru di sekolahnya tahu Shasa punya blog, aku mencoba untuk membakar semangatnya lagi untuk terus update blognya. Tapi ..., tetap aja belum berhasil sampai sekarang. *curhat mode on*

Shasa sendiri sebenarnya masih ingin belajar nulis. Shasa sendiri masih tertarik dengan blog. Tapi..., dia takut kecewa karena apa yang dia tulis tak ada yang mau baca. Walaupun selama ini aku dan suami rajin memberikan komentar tentang kemajuannya dalam menulis, tetap saja tidak banyak berarti bagi Shasa. " Dia ingin orang lain yang memberikan komentar untuknya.

Ya.. ya, namanya juga anak-anak. Aku tak bisa memaksanya. Aku hanya akan terus mencoba membangkitkan semangatnya untuk belajar menulis lagi. Mendorongnya untuk melakukan hal positif tidak salah bukan ?? Semoga saja Shasa akan kembali bersemangat untuk ngeblog. Amien.... *sambil berharap banyak pihak yang mau ikut bantu doa* Tapi seandainya Shasa sudah benar-benar mau meninggalkan blognya untuk selamanya, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

Blog dan Anak-anak

Ini cerita tentang Shasa dan blognya. Akhir-akhir ini Shasa memang sedang patah arang dalam ngeblog. Dia merasa tak bersemangat lagi untuk ngeblog karena pengunjung blognya hanya aku dan suamiku aja. Kalaupun ada orang lain, paling juga cuma 1 atau 2 orang, itu aja juga jarang sekali. Sementara kalau Shasa melihat blogku, dia merasa iri karena setidaknya ada 4-6 orang yang berkomentar di postinganku.

Aku sudah coba jelaskan kepada Shasa bahwa anak-anak yang ngeblog tak sebanyak orang dewasa. Selain itu, anak-anak juga ngeblog hanya untuk bersenang-senang dan belajar mengarang saja. Tak ada aktifitas lain seperti blogwalking dan sebagainya. So..., blog anak-anak jadi kurang dikenal. Kalaupun ada orang dewasa yang tahu, biasanya mereka juga males mampir karena tahu yang punya blog masih anak-anak.


Sebenarnya, menurutku siy..., kemampuan Shasa dalam hal menulis sudah mulai meningkat. Itu semua tentu saja hasil dari ngeblog. Walaupun Shasa sangat tergantung padaku dalam segi teknis ngeblog, tapi semua tulisan murni karya Shasa. Memang belum bagus, tapi itu sudah istimewa bagiku. Makanya aku sangat mendukung waktu Shasa minta kubuatkan blog juga untuk belajar mengarang.

Menurutku saat itu, kalau Shasa punya media yang menarik untuk belajar mengarang, pasti dia akan lebih semangat. Tak pernah kusangka bahwa keberadaan blogku yang ternyata (dalam kaca mata Shasa) lebih dikenal daripada blog Shasa justru menyebabkan Shasa patah arang. Malah, dia sempat minta blog-nya dihapus saja. Walah...!!

Aku sudah mencoba segala macam bujuk rayu dan berbagai macam upaya agar Shasa semangat untuk ngeblog lagi. Apalagi setelah guru di sekolahnya tahu Shasa punya blog, aku mencoba untuk membakar semangatnya lagi untuk terus update blognya. Tapi ..., tetap aja belum berhasil sampai sekarang. *curhat mode on*

Shasa sendiri sebenarnya masih ingin belajar nulis. Shasa sendiri masih tertarik dengan blog. Tapi..., dia takut kecewa karena apa yang dia tulis tak ada yang mau baca. Walaupun selama ini aku dan suami rajin memberikan komentar tentang kemajuannya dalam menulis, tetap saja tidak banyak berarti bagi Shasa. " Dia ingin orang lain yang memberikan komentar untuknya.

Ya.. ya, namanya juga anak-anak. Aku tak bisa memaksanya. Aku hanya akan terus mencoba membangkitkan semangatnya untuk belajar menulis lagi. Mendorongnya untuk melakukan hal positif tidak salah bukan ?? Semoga saja Shasa akan kembali bersemangat untuk ngeblog. Amien.... *sambil berharap banyak pihak yang mau ikut bantu doa* Tapi seandainya Shasa sudah benar-benar mau meninggalkan blognya untuk selamanya, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa.

Selasa, 03 Maret 2009

Pameran Buku Gramedia

Akhirnya setelah sekian lama berharap, sesuatu yang lama kuimpikan terwujud juga. Di Madiun ada pameran buku !! Olala, seneng sekali. Pameran buku itu diselenggarakan mulai tanggal 28 Pebruari s/d 9 Maret 2009. Penyelenggaranya adalah Gramedia dan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun.

Tentu saja aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka itu. So, walaupun aku sibuk lembur di kantor, aku meluangkan sedikit waktu untuk datang ke Pameran Buku Gramedia itu. Kebetulan pameran itu diselenggarakan di pusat kota, yaitu di Hall Stadion Wilis Kota Madiun. So, dengan semangat membara (halah...) aku, suami dan Shasa berangkat ke TKP.



Sampai di tempat pameran, sempat ada rasa kecewa. Ternyata..., pameran bukunya gak seheboh yang aku bayangkan sebelumnya. Karena Hall Stadion Wilis memang tidak luas, maka area yang digunakan untuk pameran buku sangat terbatas.

Padahal, aku inginnya Pameran Buku bisa diselenggarakan di tempat yang luas, sehingga banyak penerbit yang berpartisipasi. Terus, ada lebih banyak buku yang dipamerkan. Bahkan menurutku, Pameran Buku yang diselenggarakan di Ponorogo tahun lalu malah terkesan lebih "besar" dan lebih lengkap.

Setelah aku pikir-pikir, rasanya di Kota Madiun belum memiliki gedung yang layak untuk bisa dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan Pameran Buku. Gedung-gedung yang ada rata-rata kecil. Sementara Wisma Haji yang menurutku lebih representatif sebagai tempat pameran buku, letaknya agak jauh dari pusat kota. Jadi, mau tak mau aku harus puas dengan Pameran Buku yang ada saat ini. Lebih baik ada daripada tidak sama sekali, bukan ?

Maka daripada berlama-lama dengan rasa kecewa, maka aku, suami dan Shasa segera saja menyerbu buku-buku yang digelar disana. Bingung juga awalnya buku mana yang harus kami pilih. Terus terang aja banyak buku yang menarik sebetulnya..., tapi gak bisa dibeli semuanya. So..., beberapa kali kami harus mengembalikan buku yang sudah kami ambil terlebih dulu karena kami menemukan buku lain yang menurut kami lebih menarik.

Setelah sekian lama terjebak di antara tumpukan buku-buku, kami akhirnya beranjak ke kasir dengan membawa segebok buku. Waw... banyak juga ternyata buku yang kami beli. Kami seperti orang kalap saja yang kegirangan karena dapat buku diskonan hehehehe.

Ternyata, seperti biasa, buku yang dibeli Shasa lebih banyak jumlahnya. Shasa berhasil mengambil 12 buah buku, sementara aku dan suami cuma kebagian 6 buku. Shasa tampak puas sekali. Tak apalah yang penting Shasa seneng. Tapi sudah terbayang di benakku, betapa akan susahnya aku minta pertolongan Shasa untuk membantuku di rumah. Karena..., pasti setelah ini muka Shasa akan tersembunyi di balik bukunya.

Setidaknya aku bersyukur karena Shasa-ku sangat gemar membaca. Tapi.., sedihnya kalau dia sudah asyik membaca, maka tak ada yang bisa mengganggunya saat dia tenggelam dalam bacaannya. Seringkali Shasa sampai lupa waktu saat sedang asyik membaca. Bahkan, terkadang untuk urusan yang paling dia suka (yaitu makan...!) bisa terkalahkan juga. Jadi..., aku harus bagaimana ?



Cerita terkait : Pameran Buku

Sabtu, 28 Februari 2009

Semangat dan Mimpi

Hidup memang harus dijalani dengan penuh semangat bila ingin bisa meraih semua mimpi. Namun yang aku rasakan, terkadang saat hambatan dan kesulitan datang, seringkali putus asa melunturkan semangat yang ada. Apalagi saat hati sedang mengharu biru..., semangat rasanya terbang entah kemana. Bahkan kadang, untuk bermimpi pun sudah tak sanggup.

Itu makanya aku sangat tercambuk dan malu hati saat membaca Tetralogi Laskar Pelangi. Tokoh-tokohnya (Ikal, Lintang dan Arai) benar-benar membuatku merasa malu mudah patah semangat. Membaca kisah mereka yang selalu penuh semangat dalam memperjuangkan cita-cita membuatku jadi ikut termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Aku iri dengan keberanian Ikal dan kawan-kawannya dalam merajut mimpi. Aku makin salut dengan upaya keras mereka dalam meraih mimpi.


Aku tak perduli dengan anggapan beberapa orang bahwa tokoh Lintang dan Arai adalah fiktif belaka. Nyata ataupun tidak, cerita yang disampaikan oleh Andrea Hirata berhasil membuatku lebih bersemangat saat menghadapi hambatan dan kesulitan yang ada. Sekaligus mengajariku untuk tidak takut merajut mimpi.

Tapi kali ini aku tidak ingin bercerita tentang Tetralogi Laskar Pelangi, karena sudah banyak sekali orang yang membicarakannya. Aku sekarang ingin menceritakan kisah seorang "Lintang" yang ada di dunia nyata. Namanya : Bayu Hartanto.


Gambar diambil dari sini

Harian Jawa Pos dan Tabloid Nyata memuat cerita tentang perjuangan seorang Bayu Hartanto untuk tetap dapat bersekolah. Walaupun keluarganya hidup dalam keterbatasan dan jarak ke sekolah yang cukup jauh, tak melunturkan semangat Bayu Hartanto dalam bersekolah.

Bayu Hartanto adalah anak sulung dari seorang penjaga tambak yang hidup di tempat terpencil, yaitu Pulau Dem, Dusun Tlocor, Desa Kedung Pandan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Sidoarjo. Pulau itu terbentuk karena delta di Sungai Brantas. Di Pulau itu hanya ada 8 rumah. Satu-satunya alat transportasi yang menghubungan Pulau Dem dengan "daratan" Sidoarjo adalah perahu.

Untuk menuju ke sekolahnya, Bayu harus menempuhnya jarak sejauh kurang lebih 4 km. Perjalanan itu ditempuh dengan naik sepeda dan menyeberang Sungai Brantas. Perjuangannya mengalahkan jarak yang jauh, panas dan hujan tak juga menyurutkan semangatnya untuk mengenyam pendidikan. Bahkan, saat menjaga kambing-kambingnya sepulang sekolah pun, Bayu menyempatkan diri untuk membaca buku. Maka tak heran kalau sejak kelas I sampai kelas VI, Bayu selalu menjadi juara kelas.

Itulah cerita kehidupan yang terjadi di hadapan kita. Di suatu tempat yang jauh dari segala macam fasilitas, ada anak-anak yang begitu haus akan pendidikan. Sementara di tempat lain yang berlimpah dengan fasilitas dan segala kemudahannya, ternyata semangat itu malah luntur.

Ternyata, fasilitas dan kemudahan yang ada tidak mampu menumbuhkan daya juang dan semangat untuk mendapatkan yang lebih baik lagi. Semangat itu justru muncul dari anak-anak yang terbiasa hidup dalam keterbatasan. Mimpi meraih hidup yang lebih baik mampu menjadi pemicunya.

Setelah perjuangan hidup Bayu Hartanto dimuat di Harian Jawa Pos, ternyata banyak dermawan yang terketuk untuk membantu. Semoga saja perjuangan Bayu Hartanto untuk meraih mimpi dapat terwujud berkat semangatnya yang luar biasa serta dukungan dari para donatur.

Semoga saja, semangat Bayu Hartanto bisa menular pada kita semua. Siap untuk lebih bersemangat meraih mimpi ? Siapa takut ?!

Semangat dan Mimpi

Hidup memang harus dijalani dengan penuh semangat bila ingin bisa meraih semua mimpi. Namun yang aku rasakan, terkadang saat hambatan dan kesulitan datang, seringkali putus asa melunturkan semangat yang ada. Apalagi saat hati sedang mengharu biru..., semangat rasanya terbang entah kemana. Bahkan kadang, untuk bermimpi pun sudah tak sanggup.

Itu makanya aku sangat tercambuk dan malu hati saat membaca Tetralogi Laskar Pelangi. Tokoh-tokohnya (Ikal, Lintang dan Arai) benar-benar membuatku merasa malu mudah patah semangat. Membaca kisah mereka yang selalu penuh semangat dalam memperjuangkan cita-cita membuatku jadi ikut termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Aku iri dengan keberanian Ikal dan kawan-kawannya dalam merajut mimpi. Aku makin salut dengan upaya keras mereka dalam meraih mimpi.


Aku tak perduli dengan anggapan beberapa orang bahwa tokoh Lintang dan Arai adalah fiktif belaka. Nyata ataupun tidak, cerita yang disampaikan oleh Andrea Hirata berhasil membuatku lebih bersemangat saat menghadapi hambatan dan kesulitan yang ada. Sekaligus mengajariku untuk tidak takut merajut mimpi.

Tapi kali ini aku tidak ingin bercerita tentang Tetralogi Laskar Pelangi, karena sudah banyak sekali orang yang membicarakannya. Aku sekarang ingin menceritakan kisah seorang "Lintang" yang ada di dunia nyata. Namanya : Bayu Hartanto.


Gambar diambil dari sini

Harian Jawa Pos dan Tabloid Nyata memuat cerita tentang perjuangan seorang Bayu Hartanto untuk tetap dapat bersekolah. Walaupun keluarganya hidup dalam keterbatasan dan jarak ke sekolah yang cukup jauh, tak melunturkan semangat Bayu Hartanto dalam bersekolah.

Bayu Hartanto adalah anak sulung dari seorang penjaga tambak yang hidup di tempat terpencil, yaitu Pulau Dem, Dusun Tlocor, Desa Kedung Pandan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Sidoarjo. Pulau itu terbentuk karena delta di Sungai Brantas. Di Pulau itu hanya ada 8 rumah. Satu-satunya alat transportasi yang menghubungan Pulau Dem dengan "daratan" Sidoarjo adalah perahu.

Untuk menuju ke sekolahnya, Bayu harus menempuhnya jarak sejauh kurang lebih 4 km. Perjalanan itu ditempuh dengan naik sepeda dan menyeberang Sungai Brantas. Perjuangannya mengalahkan jarak yang jauh, panas dan hujan tak juga menyurutkan semangatnya untuk mengenyam pendidikan. Bahkan, saat menjaga kambing-kambingnya sepulang sekolah pun, Bayu menyempatkan diri untuk membaca buku. Maka tak heran kalau sejak kelas I sampai kelas VI, Bayu selalu menjadi juara kelas.

Itulah cerita kehidupan yang terjadi di hadapan kita. Di suatu tempat yang jauh dari segala macam fasilitas, ada anak-anak yang begitu haus akan pendidikan. Sementara di tempat lain yang berlimpah dengan fasilitas dan segala kemudahannya, ternyata semangat itu malah luntur.

Ternyata, fasilitas dan kemudahan yang ada tidak mampu menumbuhkan daya juang dan semangat untuk mendapatkan yang lebih baik lagi. Semangat itu justru muncul dari anak-anak yang terbiasa hidup dalam keterbatasan. Mimpi meraih hidup yang lebih baik mampu menjadi pemicunya.

Setelah perjuangan hidup Bayu Hartanto dimuat di Harian Jawa Pos, ternyata banyak dermawan yang terketuk untuk membantu. Semoga saja perjuangan Bayu Hartanto untuk meraih mimpi dapat terwujud berkat semangatnya yang luar biasa serta dukungan dari para donatur.

Semoga saja, semangat Bayu Hartanto bisa menular pada kita semua. Siap untuk lebih bersemangat meraih mimpi ? Siapa takut ?!