Selasa, 23 Juni 2009

Berselimut kecewa

Minggu pagi ketika aku sedang menyapu di depan rumah, aku melihat seseorang yang aku kenal di ujung jalan. Bu Gito namanya. Dia adalah penjual nasi pecel yang berkeliling dengan membawa sepeda. Setiap pagi dia selalu lewat di kompleks perumahanku untuk menjajakan nasi pecelnya. Sebenarnya, penjual nasi pecel keliling di kompleks perumahanku ada 2 orang, tapi aku dan keluarga lebih suka dengan pecel yang dijual Bu Gito.

Biasanya Bu Gito lewat di depan rumahku kurang lebih pukul 06.30 pagi, sayangnya pada jam-jam itu aku dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju tempat kami masing-masing beraktivitas. Sehingga hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja biasanya aku dapat bertemu dengan Bu Gito. Bahkan dulu, hampir setiap Sabtu dan Minggu pagi kami sekeluarga sering membeli pecel pada Bu Gito, tapi semenjak hampir setengah tahun ini kebiasaan itu sudah tidak ada lagi. Semenjak Bu Gito selalu berusaha menghindar dariku.

Seperti yang aku duga, pada Minggu pagi itu Bu Gito kembali menghindar dariku. Meskipun aku yakin dia tadi melihatku sedang menyapu di depan rumah, ternyata dia memilih untuk berbelok ke gang yang ada di ujung jalan. Terhadap kenyataan ini, perasaan yang paling dominan aku rasakan adalah .... kekecewaan.

Sebenarnya semua berawal dari suatu permohonan yang disampaikan Bu Gito padaku, di suatu Sabtu pagi kurang lebih 6 bulan yang lalu. Setelah dia melayani pesanan nasi pecelku, dia menyampaikan permintaan hendak meminjam uang padaku. Uang yang ingin dipinjamnya tidak banyak sebenarnya, tapi dia mengatakan dia sedang sangat membutuhkannya. Saat itu dia berjanji untuk segera mengembalikan di awal bulan berikutnya setelah uang arisannya keluar. Akhirnya, aku mengambil uang untuk membayar nasi pecel yang kubeli sekaligus untuk memberikan pinjaman uang untuknya.

Ternyata, pada hari yang ditentukan, Bu Gito tidak muncul di rumahku untuk menepati janjinya. Dia juga tak tampak lagi lewat di depan rumahku, atau mungkin aku saja yang tidak tahu dia lewat, karena setiap Senin sampai Jumat aku sudah berangkat ke kantor pagi-pagi. Tapi ternyata, pada hari Sabtu dan Minggu pun dia tak tampak lewat di depan rumahku.

Baru kurang lebih 3 minggu kemudian aku melihat Bu Gito lewat di depan rumahku. Kebetulan aku melihatnya, maka aku memanggilnya. Bukan untuk menagih hutangnya, tapi untuk membeli nasi pecel seperti biasa. Pada saat itulah Bu Gito berkata padaku bahwa uang yang akan dibayarkan padaku terpaksa terpakai untuk keperluan lain. Selain itu Bu Gito juga menceritakan kepadaku bahwa hutangnya kepada tetanggaku yang lain (Bu Anna) juga belum bisa dilunasinya.

Itulah komunikasi terakhirku dengan Bu Gito, karena setelah hari itu aku tak pernah lagi melihatnya. Kalaupun dia berjualan di kompleks perumahanku, seperti kejadian Minggu pagi itu, dia akan berbalik arah ketika melihatku. Dia akan berusaha untuk menghindar dariku.

Terus terang aku kecewa dengan sikapnya. Aku tak hendak mempersoalkan uang yang dipinjamnya dariku, namun yang membuatku kecewa adalah sikapnya yang tidak berterus terang dan sembunyi-sembunyi dariku. Seandainya saja pada hari yang telah dijanjikannya untuk membayar hutang padaku itu dia datang dan menjelaskan kerepotannya, aku malah akan dengan senang hati membantunya. Sayang sekali, justru pada hari itu dia tak datang dan tidak memberikan penjelasan apa-apa ataupun untuk minta maaf.

Pada pertemuan terakhirku dengan Bu Gito itupun tidak ada kata maaf yang diucapkannya karena tak sanggup menepati janjinya. Dia malah lebih sibuk menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya seolah mencari pemakluman dariku atas ketidakmampuannya melunasi hutang pada saat yang telah dijanjikannya.

Sebenarnya setelah pertemuan terakhirku dengannya, aku sudah mengikhlaskan uang itu. Aku tidak berharap bahwa uang itu akan kembali. Namun, ternyata Bu Gito masih saja dengan sengaja menghindar dariku dan aku tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya.

Yang aku sayangkan, gara-gara hutang piutang, suatu hubungan yang dulunya telah terjalin baik menjadi rusak. Sudah banyak contoh kasusnya, malah ada yang persaudaraannya menjadi berantakan. Pihak yang memberikan hutang seringkali serba salah dalam menagih uangnya kepada saudara sendiri. Pihak yang berhutang seringkali merasa sakit hati kalau terus-menerus ditagih. Akhirnya..., kedua belah pihak memilih saling menjauh... dan hubungan persaudaraan jadi terputus.

Meskipun aku sudah tak menghrapkan uang itu kembali, tapi aku masih diselimuti rasa kecewa dengan sikapnya yang tidak mau jujur dan terbuka. Salahkah aku memiliki perasaan seperti itu... ? Bagaimana menurutmu, kawan ?

*) Keterangan : gambar diambil dari sini

Berselimut kecewa

Minggu pagi ketika aku sedang menyapu di depan rumah, aku melihat seseorang yang aku kenal di ujung jalan. Bu Gito namanya. Dia adalah penjual nasi pecel yang berkeliling dengan membawa sepeda. Setiap pagi dia selalu lewat di kompleks perumahanku untuk menjajakan nasi pecelnya. Sebenarnya, penjual nasi pecel keliling di kompleks perumahanku ada 2 orang, tapi aku dan keluarga lebih suka dengan pecel yang dijual Bu Gito.

Biasanya Bu Gito lewat di depan rumahku kurang lebih pukul 06.30 pagi, sayangnya pada jam-jam itu aku dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju tempat kami masing-masing beraktivitas. Sehingga hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja biasanya aku dapat bertemu dengan Bu Gito. Bahkan dulu, hampir setiap Sabtu dan Minggu pagi kami sekeluarga sering membeli pecel pada Bu Gito, tapi semenjak hampir setengah tahun ini kebiasaan itu sudah tidak ada lagi. Semenjak Bu Gito selalu berusaha menghindar dariku.

Seperti yang aku duga, pada Minggu pagi itu Bu Gito kembali menghindar dariku. Meskipun aku yakin dia tadi melihatku sedang menyapu di depan rumah, ternyata dia memilih untuk berbelok ke gang yang ada di ujung jalan. Terhadap kenyataan ini, perasaan yang paling dominan aku rasakan adalah .... kekecewaan.

Sebenarnya semua berawal dari suatu permohonan yang disampaikan Bu Gito padaku, di suatu Sabtu pagi kurang lebih 6 bulan yang lalu. Setelah dia melayani pesanan nasi pecelku, dia menyampaikan permintaan hendak meminjam uang padaku. Uang yang ingin dipinjamnya tidak banyak sebenarnya, tapi dia mengatakan dia sedang sangat membutuhkannya. Saat itu dia berjanji untuk segera mengembalikan di awal bulan berikutnya setelah uang arisannya keluar. Akhirnya, aku mengambil uang untuk membayar nasi pecel yang kubeli sekaligus untuk memberikan pinjaman uang untuknya.

Ternyata, pada hari yang ditentukan, Bu Gito tidak muncul di rumahku untuk menepati janjinya. Dia juga tak tampak lagi lewat di depan rumahku, atau mungkin aku saja yang tidak tahu dia lewat, karena setiap Senin sampai Jumat aku sudah berangkat ke kantor pagi-pagi. Tapi ternyata, pada hari Sabtu dan Minggu pun dia tak tampak lewat di depan rumahku.

Baru kurang lebih 3 minggu kemudian aku melihat Bu Gito lewat di depan rumahku. Kebetulan aku melihatnya, maka aku memanggilnya. Bukan untuk menagih hutangnya, tapi untuk membeli nasi pecel seperti biasa. Pada saat itulah Bu Gito berkata padaku bahwa uang yang akan dibayarkan padaku terpaksa terpakai untuk keperluan lain. Selain itu Bu Gito juga menceritakan kepadaku bahwa hutangnya kepada tetanggaku yang lain (Bu Anna) juga belum bisa dilunasinya.

Itulah komunikasi terakhirku dengan Bu Gito, karena setelah hari itu aku tak pernah lagi melihatnya. Kalaupun dia berjualan di kompleks perumahanku, seperti kejadian Minggu pagi itu, dia akan berbalik arah ketika melihatku. Dia akan berusaha untuk menghindar dariku.

Terus terang aku kecewa dengan sikapnya. Aku tak hendak mempersoalkan uang yang dipinjamnya dariku, namun yang membuatku kecewa adalah sikapnya yang tidak berterus terang dan sembunyi-sembunyi dariku. Seandainya saja pada hari yang telah dijanjikannya untuk membayar hutang padaku itu dia datang dan menjelaskan kerepotannya, aku malah akan dengan senang hati membantunya. Sayang sekali, justru pada hari itu dia tak datang dan tidak memberikan penjelasan apa-apa ataupun untuk minta maaf.

Pada pertemuan terakhirku dengan Bu Gito itupun tidak ada kata maaf yang diucapkannya karena tak sanggup menepati janjinya. Dia malah lebih sibuk menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya seolah mencari pemakluman dariku atas ketidakmampuannya melunasi hutang pada saat yang telah dijanjikannya.

Sebenarnya setelah pertemuan terakhirku dengannya, aku sudah mengikhlaskan uang itu. Aku tidak berharap bahwa uang itu akan kembali. Namun, ternyata Bu Gito masih saja dengan sengaja menghindar dariku dan aku tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya.

Yang aku sayangkan, gara-gara hutang piutang, suatu hubungan yang dulunya telah terjalin baik menjadi rusak. Sudah banyak contoh kasusnya, malah ada yang persaudaraannya menjadi berantakan. Pihak yang memberikan hutang seringkali serba salah dalam menagih uangnya kepada saudara sendiri. Pihak yang berhutang seringkali merasa sakit hati kalau terus-menerus ditagih. Akhirnya..., kedua belah pihak memilih saling menjauh... dan hubungan persaudaraan jadi terputus.

Meskipun aku sudah tak menghrapkan uang itu kembali, tapi aku masih diselimuti rasa kecewa dengan sikapnya yang tidak mau jujur dan terbuka. Salahkah aku memiliki perasaan seperti itu... ? Bagaimana menurutmu, kawan ?

*) Keterangan : gambar diambil dari sini

Minggu, 21 Juni 2009

No One's Perfect : Cinta dan penerimaan

Buku No One's Perfect aku dapatkan saat di Madiun ada Pameran buku awal Juni 2009 yang lalu di tempat buku-buku yang diobral. Aku beruntung menemukan buku yang hebat ini. Melalui buku ini aku mendapatkan semangat dan inspirasi untuk lebih mensyukuri hidupku.

Buku No One's Perfect menceritakan kehidupan Hirotada Ototake. Oto-chan, begitulah dia biasa disapa, lahir pada tanggal 6 April 1976. Mulanya sang ayah berusaha menyembunyikan kenyataan dari istrinya bahwa anak mereka terlahir dalam kondisi Tetra-Melia, yaitu sebuah kelainan bawaan yang membuatnya hampir tak memiliki tangan dan kaki. Setelah 3 minggu sejak Oto-chan dilahirkan, akhirnya sang ibu diberi kesempatan untuk melihat bayinya untuk pertama kalinya.

Pada saat itu suasana di rumah sakit sangat tegang menunggu apa yang terjadi jika sang ibu melihat kondisi bayinya. Namun yang terjadi kemudian ternyata di luar dugaan, karena begitu melihat kondisi bayinya sang ibu berkata dengan sangat tulus : "Anakku, kamu sangat tampan".

Cinta dan penerimaan yang tulus dari kedua orang tuanya membuat Oto-chan tumbuh dan berkembang seperti layaknya orang normal. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anaknya. Beberapa kali mereka memutuskan untuk pindah rumah, agar jarak dari rumah dengan sekolah Oto-chan tidak terlalu jauh. Selain itu, mereka juga tidak memasukkan anak mereka ke sekolah khusus bagi penyandang cacat. Mereka menganggap anaknya tidak memerlukan pendidikan khusus yang berbeda dari anak-anak normal lainnya.

Tentu saja keinginan orang tua Oto-chan itu tidak mudah, karena pada saat itu sekolah umum yang ada di Jepang tidak menyediakan fasilitas untuk penyandang cacat. Bahkan agar anaknya bisa bersekolah di sekolah umum, mereka memutuskan menemui Dewan Pendidikan Sekolah. Setelah Dewan Pendidikan Sekolah melihat sendiri kemampuan Oto-chan dalam menulis, makan dengan menggunakan sendok/garpu, menggunting kertas bahkan berjalan, akhirnya dia diijinkan masuk ke sekolah umum.

Sejak masuk sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak, kehadiran Oto-chan di sekolah selalu menarik perhatian teman-temannya. Anak-anak itu dengan lugu dan polos akan bertanya kepadanya mengapa dia tak memiliki tangan dan kaki. Hal tersebut tidak membuat dirinya dan ibunya menjadi bersedih hati. Bahkan, ibunya dengan tenang akan berkata, "Itu adalah masalah yang harus dipecahkannya sendiri." Sehingga, Oto-chan akan dengan senang hati menceritakan kepada teman-temannya mengapa dia terlahir tanpa tangan dan kaki.

Untuk pendidikan di sekolah, orang tua Oto-chan menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pihak sekolah dan tidak ikut campur sama sekali. Sensei Takagi adalah guru SD yang membuat banyak kebijakan yang awalnya dianggap keterlaluan dan kejam bagi Oto-chan. Seperti tidak diperkenankan menggunakan kursi roda tanpa seijinnya, melarang murid lain memberikan bantuan apapun pada Oto-chan, dan masih banyak lagi.

"Sekarang kita dapat saja memanjakannya sekehendak kita, tapi suatu saat dia harus menghadapi semuanya sendirian. Tujuan saya adalah untuk mempersiapkan apa yang dia perlukan sekarang sebagai bekal dia di masa datang." (Alasan Sensei Takagi atas sikapnya yang keras pada Oto-chan, halaman 22)
Oto-chan memang berkembang dan berperilaku seperti anak normal lainnya. Dia sama sekali tak pernah berpikir bahwa dirinya cacat, selain itu teman-temannya juga seringkali "lupa" bahwa dia cacat. Semua menganggapnya sama normalnya dengan anak-anak lainnya. Mereka berkelahi (secara fisik), bermain, beraktivitas dan bahkan mengikuti lomba olah raga bersama.

Seringkali kehadiran Oto-chan mampu memberikan motivasi bagi teman-temannya untuk selalu berbuat baik. Bahkan salah satu gurunya pernah berkata bahwa karena keberadaannya, maka kelas menjadi sangat peduli kepada sesama, dimana setiap orang saling membantu tatkala ada teman yang menderita kesusahan.

Perjuangan Oto-chan memang hebat. Dia tidak pernah merasa memiliki keterbatasan dan sangat bersemangat menjalani hidupnya. Semua itu berkat penerimaan yang tulus dan cinta yang tanpa syarat yang diterimanya dari lingkungannya. Orang tua yang hebat, guru, teman-teman dan lingkungan sekolah yang mendukung semuanya membuat Oto-chan benar-benar "normal" seperti orang normal lainnya.

Semenjak kuliah di Universitas Waseda, Jepang, Oto-chan terlibat dalam kampanye tentang lingkungan "Bebas Rintangan".
Sampai sekarang pun Oto-chan tetap melanjutkan apa yang menjadi prinsipnya yaitu menegakkan sebuah lingkungan "bebas rintangan" bagi orang lain, baik dalam lingkungan pemerintahan, media dan di hadapan orang-orang yang dia temui.

Kegiatan tersebut berawal pada suatu hari yang dianggap sebagai titik balik dalam kehidupan Oto-chan. Suatu malam, di usianya yang ke-20 tahun, dia baru memikirkan mengapa dia terlahir cacat. Dalam benaknya kemudian muncul kesadaran bahwa mungkin dia dilahirkan dengan kondisi seperti itu untuk menyelesaikan suatu tugas yang akan terjadi di kemudian hari. Dan, berkat pemikiran itulah, dia kemudian lebih memfokuskan diri untuk mengasah potensi yang ada dalam dirinya agar lebih berguna bagi orang lain.

Poin yang perlu dicatat dari buku ini adalah :
  • Cinta dan penerimaan yang tulus dan tanpa syarat memberikan dampak yang sangat luar biasa pada pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.
  • Mampu menerima diri sendiri adalah modal utama untuk hidup bahagia dan berkembang optimal.
  • Setiap orang terlahir dengan memiliki kelebihan dan perannya sendiri, karena tak ada ciptaan-Nya yang sia-sia.
Penulis : Hirotada Ototake
Kategori : Non Fiksi ~ Kisah Nyata
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Th. Terbit : 2007 (cetakan III)
Tebal : 230 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 10.000 (obral)

No One's Perfect : Cinta dan penerimaan

Buku No One's Perfect aku dapatkan saat di Madiun ada Pameran buku awal Juni 2009 yang lalu di tempat buku-buku yang diobral. Aku beruntung menemukan buku yang hebat ini. Melalui buku ini aku mendapatkan semangat dan inspirasi untuk lebih mensyukuri hidupku.

Buku No One's Perfect menceritakan kehidupan Hirotada Ototake. Oto-chan, begitulah dia biasa disapa, lahir pada tanggal 6 April 1976. Mulanya sang ayah berusaha menyembunyikan kenyataan dari istrinya bahwa anak mereka terlahir dalam kondisi Tetra-Melia, yaitu sebuah kelainan bawaan yang membuatnya hampir tak memiliki tangan dan kaki. Setelah 3 minggu sejak Oto-chan dilahirkan, akhirnya sang ibu diberi kesempatan untuk melihat bayinya untuk pertama kalinya.

Pada saat itu suasana di rumah sakit sangat tegang menunggu apa yang terjadi jika sang ibu melihat kondisi bayinya. Namun yang terjadi kemudian ternyata di luar dugaan, karena begitu melihat kondisi bayinya sang ibu berkata dengan sangat tulus : "Anakku, kamu sangat tampan".

Cinta dan penerimaan yang tulus dari kedua orang tuanya membuat Oto-chan tumbuh dan berkembang seperti layaknya orang normal. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anaknya. Beberapa kali mereka memutuskan untuk pindah rumah, agar jarak dari rumah dengan sekolah Oto-chan tidak terlalu jauh. Selain itu, mereka juga tidak memasukkan anak mereka ke sekolah khusus bagi penyandang cacat. Mereka menganggap anaknya tidak memerlukan pendidikan khusus yang berbeda dari anak-anak normal lainnya.

Tentu saja keinginan orang tua Oto-chan itu tidak mudah, karena pada saat itu sekolah umum yang ada di Jepang tidak menyediakan fasilitas untuk penyandang cacat. Bahkan agar anaknya bisa bersekolah di sekolah umum, mereka memutuskan menemui Dewan Pendidikan Sekolah. Setelah Dewan Pendidikan Sekolah melihat sendiri kemampuan Oto-chan dalam menulis, makan dengan menggunakan sendok/garpu, menggunting kertas bahkan berjalan, akhirnya dia diijinkan masuk ke sekolah umum.

Sejak masuk sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak, kehadiran Oto-chan di sekolah selalu menarik perhatian teman-temannya. Anak-anak itu dengan lugu dan polos akan bertanya kepadanya mengapa dia tak memiliki tangan dan kaki. Hal tersebut tidak membuat dirinya dan ibunya menjadi bersedih hati. Bahkan, ibunya dengan tenang akan berkata, "Itu adalah masalah yang harus dipecahkannya sendiri." Sehingga, Oto-chan akan dengan senang hati menceritakan kepada teman-temannya mengapa dia terlahir tanpa tangan dan kaki.

Untuk pendidikan di sekolah, orang tua Oto-chan menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pihak sekolah dan tidak ikut campur sama sekali. Sensei Takagi adalah guru SD yang membuat banyak kebijakan yang awalnya dianggap keterlaluan dan kejam bagi Oto-chan. Seperti tidak diperkenankan menggunakan kursi roda tanpa seijinnya, melarang murid lain memberikan bantuan apapun pada Oto-chan, dan masih banyak lagi.

"Sekarang kita dapat saja memanjakannya sekehendak kita, tapi suatu saat dia harus menghadapi semuanya sendirian. Tujuan saya adalah untuk mempersiapkan apa yang dia perlukan sekarang sebagai bekal dia di masa datang." (Alasan Sensei Takagi atas sikapnya yang keras pada Oto-chan, halaman 22)
Oto-chan memang berkembang dan berperilaku seperti anak normal lainnya. Dia sama sekali tak pernah berpikir bahwa dirinya cacat, selain itu teman-temannya juga seringkali "lupa" bahwa dia cacat. Semua menganggapnya sama normalnya dengan anak-anak lainnya. Mereka berkelahi (secara fisik), bermain, beraktivitas dan bahkan mengikuti lomba olah raga bersama.

Seringkali kehadiran Oto-chan mampu memberikan motivasi bagi teman-temannya untuk selalu berbuat baik. Bahkan salah satu gurunya pernah berkata bahwa karena keberadaannya, maka kelas menjadi sangat peduli kepada sesama, dimana setiap orang saling membantu tatkala ada teman yang menderita kesusahan.

Perjuangan Oto-chan memang hebat. Dia tidak pernah merasa memiliki keterbatasan dan sangat bersemangat menjalani hidupnya. Semua itu berkat penerimaan yang tulus dan cinta yang tanpa syarat yang diterimanya dari lingkungannya. Orang tua yang hebat, guru, teman-teman dan lingkungan sekolah yang mendukung semuanya membuat Oto-chan benar-benar "normal" seperti orang normal lainnya.

Semenjak kuliah di Universitas Waseda, Jepang, Oto-chan terlibat dalam kampanye tentang lingkungan "Bebas Rintangan".
Sampai sekarang pun Oto-chan tetap melanjutkan apa yang menjadi prinsipnya yaitu menegakkan sebuah lingkungan "bebas rintangan" bagi orang lain, baik dalam lingkungan pemerintahan, media dan di hadapan orang-orang yang dia temui.

Kegiatan tersebut berawal pada suatu hari yang dianggap sebagai titik balik dalam kehidupan Oto-chan. Suatu malam, di usianya yang ke-20 tahun, dia baru memikirkan mengapa dia terlahir cacat. Dalam benaknya kemudian muncul kesadaran bahwa mungkin dia dilahirkan dengan kondisi seperti itu untuk menyelesaikan suatu tugas yang akan terjadi di kemudian hari. Dan, berkat pemikiran itulah, dia kemudian lebih memfokuskan diri untuk mengasah potensi yang ada dalam dirinya agar lebih berguna bagi orang lain.

Poin yang perlu dicatat dari buku ini adalah :
  • Cinta dan penerimaan yang tulus dan tanpa syarat memberikan dampak yang sangat luar biasa pada pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.
  • Mampu menerima diri sendiri adalah modal utama untuk hidup bahagia dan berkembang optimal.
  • Setiap orang terlahir dengan memiliki kelebihan dan perannya sendiri, karena tak ada ciptaan-Nya yang sia-sia.
Penulis : Hirotada Ototake
Kategori : Non Fiksi ~ Kisah Nyata
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Th. Terbit : 2007 (cetakan III)
Tebal : 230 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 10.000 (obral)

Sabtu, 20 Juni 2009

Ketika blank ide

Hal yang menyebalkan bagi seorang blogger adalah ketika blank ide. Di saat semangat untuk menulis blog sedang menggebu, tapi ternyata tak tahu harus menulis apa karena blank ide. Untuk seorang blogger, ide adalah modal utama.

Itu sebabnya, di beberapa blog banyak menuliskan tentang tips agar seorang blogger tak sampai blank ide. Sebenarnya ide menulis yang paling mudah didapat dari kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa aku lebih sering memilih untuk menuliskan kejadian-kejadian yang aku alami dan aku pikirkan sehari-hari.

Memang untuk mengisi blog yang dimiliki, seseorang menggunakan berbagai cara yang berbeda. Ada yang lebih suka mengisi blog dengan hasil karya sendiri, tapi ada juga yang mengisi blog dengan meng-copy paste-kan hasil karya orang lain. Untuk masalah copy paste, menurutku sih sah-sah saja asalkan diketahui dan mendapatkan ijin dari penulis aslinya.

Memang sih, ada beberapa penulis yang rela begitu saja kalau tulisannya dicopy paste tanpa harus meminta ijin terlebih dulu kepadanya. Tapi bila seseorang meng-copy paste tulisan orang lain secara utuh, maka sebagai warga blogger yang baik, memang seharusnya meminta ijin terlebih dahulu. Dan, akan lebih baik lagi kalau di awal atau di akhir tulisan disebutkan dari siapa tulisan tersebut diperoleh.

Pada saat aku blank ide, itulah kesempatanku untuk memposting award-award dari para sahabat. Dulu waktu pertama-tama menerima award, aku langsung memajangnya dalam postingan, karena kalau aku tunda-tunda takut malah jadi lupa. Tapi lama kelamaan, aku cenderung mengumpulkannya terlebih dahulu, kemudian aku posting sekaligus.

Seperti kali ini, aku akan memposting beberapa award dari para sahabat. Terima kasih semuanya atas perhatian dan dukungan yang telah diberikan kepadaku sehingga membuatku semaking bersemangat untuk menulis di blog ini.

Award yang pertama aku terima dari : mas Agoez3. Sebagai upaya untuk mengeratkan tali silaturahim mas Agoez3 membagi beberapa award. Untukku diberikan sebuah award dengan peraturan yaitu "Untuk menerima award ini, blog sobat harus memiliki design dan isi yang bagus, memposting ilmu-ilmu baru yang bermanfaat, penuh gaya." Terima kasih awardnya mas, aku sangat tersanjung menerimanya. Award ini akan aku teruskan kepada : Marcellino Agatha, Mbak Fanda (Sungai Hidup), mbak Penny, mbak Fanny, Jonk, Sang Petualang dan Itik Bali.

Award kedua dari Sang Petualang. Lewat shoutmix, Sang Petualang menuliskan
  • Sang Petualang halo...met malam...ada award buat mbak reni...mohon diterima ya (jika berkenan)...thanks ya...Salam Lestari... (2009-06-20 3:46 AM)
Terimakasih sekali untuk Sang Petualang atas awardnya yang sangat spesial ini. Ohya, award ini aku terima dari tangan pertama, maksudnya.. award ini adalah hasil karya Sang Petualang. Award ini akan aku teruskan kepada : Mbak Kuyus, Mbak Elly, Attayaya, Mbak Narti dan Wisata Riau.

Selanjutnya adalah 2 buah award yang aku dapatkan dari Mbak Narti. Terima kasih Mbak Narti untuk award-awardnya. Kedua award yang aku borong dari Qatar ini adalah sebagai berikut :

Award pertama dari Mbak Narti yang bergambar hati ini aku bagikan lagi kepada sahabat-sahabat sebagai berikut :
Jeng Sri, Mbak Anazkia, Henny Y. Caprestya, Mbak Ajeng, Natazya, Mbak Irma, Mbak Dwina, Bintang (My World). Semoga semua suka menerima award yang cantik ini ya...

Award kedua dari Mbak Narti yang berwarna hitam ini akan aku bagikan lagi kepada : Mas Yudie, Bang Budiawan, Bang Eri Communicator, Bang Seti@wan, Awal Sholeh, Tukang Komen, Buwel dan Agoez3. Sengaja dipilih para blogger pria yang menerimanya karena award ini terkesan maskulin.

Ada satu lagi award khusus, yang aku dapatkan dari Bang Seti@wan. Award ini sebenarnya diberikan kepada siapa saja yang telah memberikan komentar atas postingannya tentang "funny jokes monkeys sms". Award yang lucu ini tidak akan aku bagikan kepada sahabat-sahabat yang lain, karena bagi sahabat-sahabat yang menginginkan award lucu ini bisa langsung mengambil di blognya Bang Seti@awan.

Nah.., selesai sudah acara bagi-bagi awardnya. Semoga lain kali aku masih berkesempatan bagi-bagi lagi untuk sahabat-sahabat yang lain. Bye for now...