Minggu pagi ketika aku sedang menyapu di depan rumah, aku melihat seseorang yang aku kenal di ujung jalan. Bu Gito namanya. Dia adalah penjual nasi pecel yang berkeliling dengan membawa sepeda. Setiap pagi dia selalu lewat di kompleks perumahanku untuk menjajakan nasi pecelnya. Sebenarnya, penjual nasi pecel keliling di kompleks perumahanku ada 2 orang, tapi aku dan keluarga lebih suka dengan pecel yang dijual Bu Gito.
Biasanya Bu Gito lewat di depan rumahku kurang lebih pukul 06.30 pagi, sayangnya pada jam-jam itu aku dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju tempat kami masing-masing beraktivitas. Sehingga hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja biasanya aku dapat bertemu dengan Bu Gito. Bahkan dulu, hampir setiap Sabtu dan Minggu pagi kami sekeluarga sering membeli pecel pada Bu Gito, tapi semenjak hampir setengah tahun ini kebiasaan itu sudah tidak ada lagi. Semenjak Bu Gito selalu berusaha menghindar dariku.
Biasanya Bu Gito lewat di depan rumahku kurang lebih pukul 06.30 pagi, sayangnya pada jam-jam itu aku dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju tempat kami masing-masing beraktivitas. Sehingga hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja biasanya aku dapat bertemu dengan Bu Gito. Bahkan dulu, hampir setiap Sabtu dan Minggu pagi kami sekeluarga sering membeli pecel pada Bu Gito, tapi semenjak hampir setengah tahun ini kebiasaan itu sudah tidak ada lagi. Semenjak Bu Gito selalu berusaha menghindar dariku.
Seperti yang aku duga, pada Minggu pagi itu Bu Gito kembali menghindar dariku. Meskipun aku yakin dia tadi melihatku sedang menyapu di depan rumah, ternyata dia memilih untuk berbelok ke gang yang ada di ujung jalan. Terhadap kenyataan ini, perasaan yang paling dominan aku rasakan adalah .... kekecewaan.
Sebenarnya semua berawal dari suatu permohonan yang disampaikan Bu Gito padaku, di suatu Sabtu pagi kurang lebih 6 bulan yang lalu. Setelah dia melayani pesanan nasi pecelku, dia menyampaikan permintaan hendak meminjam uang padaku. Uang yang ingin dipinjamnya tidak banyak sebenarnya, tapi dia mengatakan dia sedang sangat membutuhkannya. Saat itu dia berjanji untuk segera mengembalikan di awal bulan berikutnya setelah uang arisannya keluar. Akhirnya, aku mengambil uang untuk membayar nasi pecel yang kubeli sekaligus untuk memberikan pinjaman uang untuknya.
Ternyata, pada hari yang ditentukan, Bu Gito tidak muncul di rumahku untuk menepati janjinya. Dia juga tak tampak lagi lewat di depan rumahku, atau mungkin aku saja yang tidak tahu dia lewat, karena setiap Senin sampai Jumat aku sudah berangkat ke kantor pagi-pagi. Tapi ternyata, pada hari Sabtu dan Minggu pun dia tak tampak lewat di depan rumahku.
Baru kurang lebih 3 minggu kemudian aku melihat Bu Gito lewat di depan rumahku. Kebetulan aku melihatnya, maka aku memanggilnya. Bukan untuk menagih hutangnya, tapi untuk membeli nasi pecel seperti biasa. Pada saat itulah Bu Gito berkata padaku bahwa uang yang akan dibayarkan padaku terpaksa terpakai untuk keperluan lain. Selain itu Bu Gito juga menceritakan kepadaku bahwa hutangnya kepada tetanggaku yang lain (Bu Anna) juga belum bisa dilunasinya.
Itulah komunikasi terakhirku dengan Bu Gito, karena setelah hari itu aku tak pernah lagi melihatnya. Kalaupun dia berjualan di kompleks perumahanku, seperti kejadian Minggu pagi itu, dia akan berbalik arah ketika melihatku. Dia akan berusaha untuk menghindar dariku.
Terus terang aku kecewa dengan sikapnya. Aku tak hendak mempersoalkan uang yang dipinjamnya dariku, namun yang membuatku kecewa adalah sikapnya yang tidak berterus terang dan sembunyi-sembunyi dariku. Seandainya saja pada hari yang telah dijanjikannya untuk membayar hutang padaku itu dia datang dan menjelaskan kerepotannya, aku malah akan dengan senang hati membantunya. Sayang sekali, justru pada hari itu dia tak datang dan tidak memberikan penjelasan apa-apa ataupun untuk minta maaf.
Pada pertemuan terakhirku dengan Bu Gito itupun tidak ada kata maaf yang diucapkannya karena tak sanggup menepati janjinya. Dia malah lebih sibuk menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya seolah mencari pemakluman dariku atas ketidakmampuannya melunasi hutang pada saat yang telah dijanjikannya.
Sebenarnya setelah pertemuan terakhirku dengannya, aku sudah mengikhlaskan uang itu. Aku tidak berharap bahwa uang itu akan kembali. Namun, ternyata Bu Gito masih saja dengan sengaja menghindar dariku dan aku tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya.
Yang aku sayangkan, gara-gara hutang piutang, suatu hubungan yang dulunya telah terjalin baik menjadi rusak. Sudah banyak contoh kasusnya, malah ada yang persaudaraannya menjadi berantakan. Pihak yang memberikan hutang seringkali serba salah dalam menagih uangnya kepada saudara sendiri. Pihak yang berhutang seringkali merasa sakit hati kalau terus-menerus ditagih. Akhirnya..., kedua belah pihak memilih saling menjauh... dan hubungan persaudaraan jadi terputus.
Meskipun aku sudah tak menghrapkan uang itu kembali, tapi aku masih diselimuti rasa kecewa dengan sikapnya yang tidak mau jujur dan terbuka. Salahkah aku memiliki perasaan seperti itu... ? Bagaimana menurutmu, kawan ?
*) Keterangan : gambar diambil dari sini
Sebenarnya semua berawal dari suatu permohonan yang disampaikan Bu Gito padaku, di suatu Sabtu pagi kurang lebih 6 bulan yang lalu. Setelah dia melayani pesanan nasi pecelku, dia menyampaikan permintaan hendak meminjam uang padaku. Uang yang ingin dipinjamnya tidak banyak sebenarnya, tapi dia mengatakan dia sedang sangat membutuhkannya. Saat itu dia berjanji untuk segera mengembalikan di awal bulan berikutnya setelah uang arisannya keluar. Akhirnya, aku mengambil uang untuk membayar nasi pecel yang kubeli sekaligus untuk memberikan pinjaman uang untuknya.Ternyata, pada hari yang ditentukan, Bu Gito tidak muncul di rumahku untuk menepati janjinya. Dia juga tak tampak lagi lewat di depan rumahku, atau mungkin aku saja yang tidak tahu dia lewat, karena setiap Senin sampai Jumat aku sudah berangkat ke kantor pagi-pagi. Tapi ternyata, pada hari Sabtu dan Minggu pun dia tak tampak lewat di depan rumahku.
Baru kurang lebih 3 minggu kemudian aku melihat Bu Gito lewat di depan rumahku. Kebetulan aku melihatnya, maka aku memanggilnya. Bukan untuk menagih hutangnya, tapi untuk membeli nasi pecel seperti biasa. Pada saat itulah Bu Gito berkata padaku bahwa uang yang akan dibayarkan padaku terpaksa terpakai untuk keperluan lain. Selain itu Bu Gito juga menceritakan kepadaku bahwa hutangnya kepada tetanggaku yang lain (Bu Anna) juga belum bisa dilunasinya.
Itulah komunikasi terakhirku dengan Bu Gito, karena setelah hari itu aku tak pernah lagi melihatnya. Kalaupun dia berjualan di kompleks perumahanku, seperti kejadian Minggu pagi itu, dia akan berbalik arah ketika melihatku. Dia akan berusaha untuk menghindar dariku.
Terus terang aku kecewa dengan sikapnya. Aku tak hendak mempersoalkan uang yang dipinjamnya dariku, namun yang membuatku kecewa adalah sikapnya yang tidak berterus terang dan sembunyi-sembunyi dariku. Seandainya saja pada hari yang telah dijanjikannya untuk membayar hutang padaku itu dia datang dan menjelaskan kerepotannya, aku malah akan dengan senang hati membantunya. Sayang sekali, justru pada hari itu dia tak datang dan tidak memberikan penjelasan apa-apa ataupun untuk minta maaf.
Pada pertemuan terakhirku dengan Bu Gito itupun tidak ada kata maaf yang diucapkannya karena tak sanggup menepati janjinya. Dia malah lebih sibuk menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya seolah mencari pemakluman dariku atas ketidakmampuannya melunasi hutang pada saat yang telah dijanjikannya.
Sebenarnya setelah pertemuan terakhirku dengannya, aku sudah mengikhlaskan uang itu. Aku tidak berharap bahwa uang itu akan kembali. Namun, ternyata Bu Gito masih saja dengan sengaja menghindar dariku dan aku tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya.
Yang aku sayangkan, gara-gara hutang piutang, suatu hubungan yang dulunya telah terjalin baik menjadi rusak. Sudah banyak contoh kasusnya, malah ada yang persaudaraannya menjadi berantakan. Pihak yang memberikan hutang seringkali serba salah dalam menagih uangnya kepada saudara sendiri. Pihak yang berhutang seringkali merasa sakit hati kalau terus-menerus ditagih. Akhirnya..., kedua belah pihak memilih saling menjauh... dan hubungan persaudaraan jadi terputus.
Meskipun aku sudah tak menghrapkan uang itu kembali, tapi aku masih diselimuti rasa kecewa dengan sikapnya yang tidak mau jujur dan terbuka. Salahkah aku memiliki perasaan seperti itu... ? Bagaimana menurutmu, kawan ?
*) Keterangan : gambar diambil dari sini



