Jumat, 16 Oktober 2009

I love you full......


Aku sangat menyayanginya, sungguh sangat sayang padanya
Bahkan dengan hanya melihat senyumnya
Hatiku terasa hangat dan berbunga-bunga
Atau saat ku tatap fotonya
Masih terasa debar-debar di dada


Aku sungguh mencintainya, amat sangat
Aku ingin hanya ada aku dalam hidupnya
Tak ingin aku berbagi dengan yang lain
Tak sanggup jika perhatiannya teralih dariku
Meskipun hanya sesaat saja

Rasa cinta yang terkadang membelenggu
Karena seringkali disertai rasa cemburu
Meskipun aku tahu bahwa
Tak selayaknya cinta berubah menjadi sangkar
Yang harus memenjarakan kemerdekaan

Rasa cinta yang terkadang terasa aneh
Karena kutahu dia tidaklah istimewa
Dia juga bukan orang yang begitu hebatnya
Dia hanya.... manusia biasa
Dengan segala kelemahannya
Dan juga kelebihannya
Namun mengapa aku sedemikian jatuh cinta..?

Rasa cinta yang terlahir dari besarnya kasih
Rasa cinta yang muncul dari rasa peduli
Rasa cinta yang tumbuh dalam kebersamaan
Rasa cinta yang mekar melalui pengorbanan
Rasa cinta yang kokoh dalam kesetiaan
Rasa cinta yang bahkan hadir setelah perselisihan
Rasa cinta yang menguat karena terbelenggu rindu
Rasa cinta yang masih ada saat terseret kecewa
Rasa cinta yang mengakar dalam derasnya perbedaan


Terima kasih untuk suamiku, yang rasa cintanya masih aku rasakan sampai sekarang. Yang membuatku hingga kini sulit untuk berpaling, dan membelengguku dengan rasa memiliki yang kuat. Meskipun kebersamaan kita sudah kita lalui sekian lama, dalam suka duka, dalam canda dan duka, dalam damai dan perdebatan... namun kita tetap dapat bersama, hingga detik ini dan semoga sampai akhir nanti. Amin.....


Untuk suamiku yang selalu membuatku berdebar-debar (meski hanya dengan memandangnya), dalam hari yang spesial ini aku ucapkan Selamat Ulang Tahun...!! Tetaplah menjadi cahaya dalam hidupku, penguat dalam risauku, penyemangat dalam langkahku, penenang dalam gejolakku dan pemenang dari cintaku..!!


Semoga dapat menjadi iman dan panutan, khususnya bagiku dan Shasa. Semoga dengan berjalannya waktu, kedewasaanmu bisa semakin membawa kami dalam ketenangan dan keteduhan. Semoga rasa cinta bisa membuatmu lebih bersemangat dalam berkarya dan meraih impianmu.


Suamiku, pada hari ini aku terpaksa berdinas di luar kota, sehingga aku sengaja menyiapkan ini pada hari Rabu malam, sehari sebelum aku berangkat ke Surabaya. Aku ingin, meskipun pada hari ini aku tak ada di sisimu, aku tetap bisa memberikan suatu kenangan untukmu. Maafkan aku, jika hari ini aku tak bisa menemanimu dan akhir-akhir ini aku sering pergi dinas ke luar kota. Bagaimanapun juga, terima kasih tak terhingga atas dukunganmu selama ini. I love you full.........

I love you full......


Aku sangat menyayanginya, sungguh sangat sayang padanya
Bahkan dengan hanya melihat senyumnya
Hatiku terasa hangat dan berbunga-bunga
Atau saat ku tatap fotonya
Masih terasa debar-debar di dada


Aku sungguh mencintainya, amat sangat
Aku ingin hanya ada aku dalam hidupnya
Tak ingin aku berbagi dengan yang lain
Tak sanggup jika perhatiannya teralih dariku
Meskipun hanya sesaat saja

Rasa cinta yang terkadang membelenggu
Karena seringkali disertai rasa cemburu
Meskipun aku tahu bahwa
Tak selayaknya cinta berubah menjadi sangkar
Yang harus memenjarakan kemerdekaan

Rasa cinta yang terkadang terasa aneh
Karena kutahu dia tidaklah istimewa
Dia juga bukan orang yang begitu hebatnya
Dia hanya.... manusia biasa
Dengan segala kelemahannya
Dan juga kelebihannya
Namun mengapa aku sedemikian jatuh cinta..?

Rasa cinta yang terlahir dari besarnya kasih
Rasa cinta yang muncul dari rasa peduli
Rasa cinta yang tumbuh dalam kebersamaan
Rasa cinta yang mekar melalui pengorbanan
Rasa cinta yang kokoh dalam kesetiaan
Rasa cinta yang bahkan hadir setelah perselisihan
Rasa cinta yang menguat karena terbelenggu rindu
Rasa cinta yang masih ada saat terseret kecewa
Rasa cinta yang mengakar dalam derasnya perbedaan


Terima kasih untuk suamiku, yang rasa cintanya masih aku rasakan sampai sekarang. Yang membuatku hingga kini sulit untuk berpaling, dan membelengguku dengan rasa memiliki yang kuat. Meskipun kebersamaan kita sudah kita lalui sekian lama, dalam suka duka, dalam canda dan duka, dalam damai dan perdebatan... namun kita tetap dapat bersama, hingga detik ini dan semoga sampai akhir nanti. Amin.....


Untuk suamiku yang selalu membuatku berdebar-debar (meski hanya dengan memandangnya), dalam hari yang spesial ini aku ucapkan Selamat Ulang Tahun...!! Tetaplah menjadi cahaya dalam hidupku, penguat dalam risauku, penyemangat dalam langkahku, penenang dalam gejolakku dan pemenang dari cintaku..!!


Semoga dapat menjadi iman dan panutan, khususnya bagiku dan Shasa. Semoga dengan berjalannya waktu, kedewasaanmu bisa semakin membawa kami dalam ketenangan dan keteduhan. Semoga rasa cinta bisa membuatmu lebih bersemangat dalam berkarya dan meraih impianmu.


Suamiku, pada hari ini aku terpaksa berdinas di luar kota, sehingga aku sengaja menyiapkan ini pada hari Rabu malam, sehari sebelum aku berangkat ke Surabaya. Aku ingin, meskipun pada hari ini aku tak ada di sisimu, aku tetap bisa memberikan suatu kenangan untukmu. Maafkan aku, jika hari ini aku tak bisa menemanimu dan akhir-akhir ini aku sering pergi dinas ke luar kota. Bagaimanapun juga, terima kasih tak terhingga atas dukunganmu selama ini. I love you full.........

Kamis, 15 Oktober 2009

Mengelola rasa marah

Postingan ini aku siapkan untuk mengisi 'kekosongan' selama aku menjalankan dinas ke luar kota pada tanggal 15 dan 16 Oktober 2009. Sengaja aku mempersiapkan postingan ini agar teman-teman yang sudah mampir kesini tidak 'kecela' karena aku belum update. Namun, karena keterbatasan waktu, maka aku tak sempat menulis sendiri, namun aku hanya copy paste sebuah artikel yang sangat bagus, menurutku. Semoga bagus juga menurut teman-teman yang lain dan semoga bermanfaat bagi sahabat-sahabat yang lain.

Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar. Seseorang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar, karena dia hanya tidak bisa marah. Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar. Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu-sulit, Anda sangat tepat karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas. Kesabaran bukanlah sebuah sifat, tetapi sebuah akibat.

Perhatikanlah bahwa kita lebih sering menderita karena kemarahan kita, daripada karena hal-hal yang membuat kita merasa marah. Perhatikanlah juga bahwa kemarahan kita sering melambung lebih tinggi daripada nilai dari sesuatu yang menyebabkan kemarahan kita itu, sehingga kita sering bereaksi berlebihan dalam kemarahan.

Hanya karena Anda menyadari dengan baik –tentang kerugian yang bisa disebabkan oleh reaksi Anda dalam kemarahan, Anda bisa menjadi berhati-hati dalam bereaksi terhadap apa pun yang membuat Anda merasa marah. Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat Anda marah itu lah yang menjadikan Anda tampil sabar.

Kemarahan adalah sebuah bentuk nafsu. Nafsu adalah kekuatan yang tidak pernah netral, karena ia hanya mempunyai dua arah gerak, yaitu bila ia tidak memuliakan, pasti ia menghinakan.

Nafsu juga bersifat dinamis, karena ia menolak untuk berlaku tenang bila Anda merasa tenang. Ia akan selalu memperbarui kekuatannya untuk membuat Anda memperbaruhi kemapanan Anda.

Maka perhatikanlah ini dengan cermat, bila Anda berpikir dengan jernih dalam memilih tindakan dan cara bertindak dalam kemarahan, nafsu itu akan menjadi kekuatan Anda untuk meninggalkan kemapanan Anda yang sekarang untuk menuju sebuah kemapanan baru yang lebih tinggi.Tetapi, bila Anda berlaku sebaliknya, maka ke bawahlah arah pembaruan dari kemapanan Anda.

Itu sebabnya, kita sering menyaksikan seorang berkedudukan tinggi yang terlontarkan dari tingkat kemapanannya, dan kemudian direndahkan karena dia tidak berpikir jernih dalam kemarahan. Dan bila nafsunya telah menjadikannya seorang yang tidak bisa direndahkan lagi, dia disebut sebagai budak nafsu.

Kualitas reaksi Anda terhadap yang membuat Anda marah, adalah penentu kelas Anda. Kebijakan para pendahulu kita telah menggariskan bahwa untuk menjadi marah itu mudah, dan patut bagi semua orang. Tetapi, untuk bisa marah kepada orang yang tepat, karena sebab yang tepat, untuk tujuan yang tepat, pada tingkat kemarahan yang tepat, dan dengan cara yang tepat -itu tidak untuk orang-orang kecil.

Maka seberapa besar-kah Anda menginginkan diri Anda jadinya? Memang pernah ada orang yang mengatakan bahwa siapa pun yang membuat Anda marah telah mengalahkan Anda. Pengamatan itu tepat hanya bila Anda mengijinkan diri Anda berlaku dengan cara-cara yang merendahkan diri Anda sendiri karena kemarahan yang disebabkan oleh orang itu.

Itu sebabnya, salah satu cara untuk membesarkan diri adalah menghindari sikap dan perilaku yang mengecilkan diri. Kita sering merasa marah karena orang lain berlaku persis seperti kita.

Perhatikanlah, bahwa orang tua yang sering marah kepada anak-anaknya yang bertengkar adalah orang tua yang juga sering bertengkar dengan pasangannya.

Bila kita cukup adil kepada diri kita sendiri, dan mampu untuk sekejap menikmati kedamaian kita akan melihat dengan jelas bahwa kita sering menuntut orang lain untuk berlaku seperti yang tidak kita lakukan. Dan dengannya, bukankah kemarahan Anda juga penunjuk jalan bagi Anda untuk menemukan perilaku-perilaku baik yang sudah Anda tuntutdariorang lain,tetapi yang masih belum Anda lakukan? Lalu, mengapakah Anda berlama-lama dalam kemarahan yang sebetulnya adalah tanda yang nyata bahwa Anda belum memperbaiki diri?

Katakanlah, tidak ada orang yang cukup penting yang bisa membuat saya marah dan berlaku rendah. Bila Anda seorang pemimpin, dan Anda telah menerima tugas untuk meninggikan orang lain, maka tidak ada badai, gempa, atau air bah yang bisa membuat Anda mengurangi nilai Anda bagi kepantasan untuk mengemban tugas itu.

Ingatlah, bahwa orang-orang yang berupaya mengecilkan Anda itu adalah sebetulnya orang-orang kecil. Karena, orang-orang besar akan sangat berhati-hati dengan perasaan hormat Anda kepada diri Anda sendiri. Bila mereka marah pun kepada Anda, mereka akan berlaku dengan cara-cara yang mengundang Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sedangkan orang kecil? Orang-orang kecil membuat orang lain merasa kecil agar mereka bisa merasa besar. Anda mengetahui kebesaran yang dijanjikan untuk Anda. Maka besarkan-lah orang lain.

(Sumber: Mario Teguh, MSTS 13.07.2006) Gambar diambil dari sini

Mengelola rasa marah

Postingan ini aku siapkan untuk mengisi 'kekosongan' selama aku menjalankan dinas ke luar kota pada tanggal 15 dan 16 Oktober 2009. Sengaja aku mempersiapkan postingan ini agar teman-teman yang sudah mampir kesini tidak 'kecela' karena aku belum update. Namun, karena keterbatasan waktu, maka aku tak sempat menulis sendiri, namun aku hanya copy paste sebuah artikel yang sangat bagus, menurutku. Semoga bagus juga menurut teman-teman yang lain dan semoga bermanfaat bagi sahabat-sahabat yang lain.

Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar. Seseorang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar, karena dia hanya tidak bisa marah. Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar. Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu-sulit, Anda sangat tepat karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas. Kesabaran bukanlah sebuah sifat, tetapi sebuah akibat.

Perhatikanlah bahwa kita lebih sering menderita karena kemarahan kita, daripada karena hal-hal yang membuat kita merasa marah. Perhatikanlah juga bahwa kemarahan kita sering melambung lebih tinggi daripada nilai dari sesuatu yang menyebabkan kemarahan kita itu, sehingga kita sering bereaksi berlebihan dalam kemarahan.

Hanya karena Anda menyadari dengan baik –tentang kerugian yang bisa disebabkan oleh reaksi Anda dalam kemarahan, Anda bisa menjadi berhati-hati dalam bereaksi terhadap apa pun yang membuat Anda merasa marah. Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat Anda marah itu lah yang menjadikan Anda tampil sabar.

Kemarahan adalah sebuah bentuk nafsu. Nafsu adalah kekuatan yang tidak pernah netral, karena ia hanya mempunyai dua arah gerak, yaitu bila ia tidak memuliakan, pasti ia menghinakan.

Nafsu juga bersifat dinamis, karena ia menolak untuk berlaku tenang bila Anda merasa tenang. Ia akan selalu memperbarui kekuatannya untuk membuat Anda memperbaruhi kemapanan Anda.

Maka perhatikanlah ini dengan cermat, bila Anda berpikir dengan jernih dalam memilih tindakan dan cara bertindak dalam kemarahan, nafsu itu akan menjadi kekuatan Anda untuk meninggalkan kemapanan Anda yang sekarang untuk menuju sebuah kemapanan baru yang lebih tinggi.Tetapi, bila Anda berlaku sebaliknya, maka ke bawahlah arah pembaruan dari kemapanan Anda.

Itu sebabnya, kita sering menyaksikan seorang berkedudukan tinggi yang terlontarkan dari tingkat kemapanannya, dan kemudian direndahkan karena dia tidak berpikir jernih dalam kemarahan. Dan bila nafsunya telah menjadikannya seorang yang tidak bisa direndahkan lagi, dia disebut sebagai budak nafsu.

Kualitas reaksi Anda terhadap yang membuat Anda marah, adalah penentu kelas Anda. Kebijakan para pendahulu kita telah menggariskan bahwa untuk menjadi marah itu mudah, dan patut bagi semua orang. Tetapi, untuk bisa marah kepada orang yang tepat, karena sebab yang tepat, untuk tujuan yang tepat, pada tingkat kemarahan yang tepat, dan dengan cara yang tepat -itu tidak untuk orang-orang kecil.

Maka seberapa besar-kah Anda menginginkan diri Anda jadinya? Memang pernah ada orang yang mengatakan bahwa siapa pun yang membuat Anda marah telah mengalahkan Anda. Pengamatan itu tepat hanya bila Anda mengijinkan diri Anda berlaku dengan cara-cara yang merendahkan diri Anda sendiri karena kemarahan yang disebabkan oleh orang itu.

Itu sebabnya, salah satu cara untuk membesarkan diri adalah menghindari sikap dan perilaku yang mengecilkan diri. Kita sering merasa marah karena orang lain berlaku persis seperti kita.

Perhatikanlah, bahwa orang tua yang sering marah kepada anak-anaknya yang bertengkar adalah orang tua yang juga sering bertengkar dengan pasangannya.

Bila kita cukup adil kepada diri kita sendiri, dan mampu untuk sekejap menikmati kedamaian kita akan melihat dengan jelas bahwa kita sering menuntut orang lain untuk berlaku seperti yang tidak kita lakukan. Dan dengannya, bukankah kemarahan Anda juga penunjuk jalan bagi Anda untuk menemukan perilaku-perilaku baik yang sudah Anda tuntutdariorang lain,tetapi yang masih belum Anda lakukan? Lalu, mengapakah Anda berlama-lama dalam kemarahan yang sebetulnya adalah tanda yang nyata bahwa Anda belum memperbaiki diri?

Katakanlah, tidak ada orang yang cukup penting yang bisa membuat saya marah dan berlaku rendah. Bila Anda seorang pemimpin, dan Anda telah menerima tugas untuk meninggikan orang lain, maka tidak ada badai, gempa, atau air bah yang bisa membuat Anda mengurangi nilai Anda bagi kepantasan untuk mengemban tugas itu.

Ingatlah, bahwa orang-orang yang berupaya mengecilkan Anda itu adalah sebetulnya orang-orang kecil. Karena, orang-orang besar akan sangat berhati-hati dengan perasaan hormat Anda kepada diri Anda sendiri. Bila mereka marah pun kepada Anda, mereka akan berlaku dengan cara-cara yang mengundang Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sedangkan orang kecil? Orang-orang kecil membuat orang lain merasa kecil agar mereka bisa merasa besar. Anda mengetahui kebesaran yang dijanjikan untuk Anda. Maka besarkan-lah orang lain.

(Sumber: Mario Teguh, MSTS 13.07.2006) Gambar diambil dari sini

Rabu, 14 Oktober 2009

Ketika cinta kembali

Gambar diambil dari sini

Kisah ini kembali tentang cinta manusia. Kisah cinta yang rumit dan berbelit karena ulah manusianya sendiri. Sebuah kisah cinta yang telah sampai pada titik terakhirnya dan perlu keikhlasan untuk melepaskannya. Sebuah kisah yang telah diutarakan salah seorang temanku beberapa hari yang lalu....

Aku mengenalnya sebagai pria dewasa yang berkepribadian. Uniknya, selama ini aku seakan melihatnya dalam 2 sisi yang berbeda. Di suatu waktu, aku melihatnya begitu santun, agamis dan terjaga perilakunya. Namun di kesempatan lain, dia hadir dengan kepribadian yang ramai, gembira dan terkadang terkesan nakal dan semau gue.

Dimataku, dia sangat mencintai ketiga buah hatinya. Setiap dia berbicara tentang anak-anaknya, tampak sekali kebanggaan di wajahnya. Namun.., selama aku berteman dengannya, dia tak pernah sekalipun mengenalkan istrinya kepadaku. Bahkan, tak pernah sekalipun dia bercerita tentang istrinya. Aku pun cukup tahu diri, untuk tidak mengungkit sesuatu yang tak ingin diceritakan kepadaku.

Ternyata..., selama ini istrinya (yang "hanya" sebagai ibu rumah tangga) sudah mulai 'dilupakannya' karena kehadiran seorang wanita yang masih single dan sangat mempesona dalam hidupnya. Wanita itu dikenalnya secara tak sengaja, dalam sebuah fitness center. Temanku yang memang penyuka olah raga ini sejak berkenalan dengan wanita itu seakan terperangkap cinta dalam pandangan pertama. Sejak saat itu.., fitness center menjadi agenda wajib yang harus dikunjunginya setiap hari, karena wanita pujaannya itu bekerja di sana.

Sedemikian dalam temanku itu terjatuh dalam pesona sang wanita. Akhirnya, mereka berdua sudah seperti kekasih yang tak terpisahkan. Bahkan temanmu seringkali pergi berdua dengan sang wanita. Semenjak mengenal wanita itu, temanku benar-benar telah melupakan istrinya, apalagi memang istrinya tak secantik wanita itu. Temanku dengan jujur mengaku padaku bahwa rasa cinta dan sayangnya kepada wanita itu benar-benar di atas segalanya.

Setelah perjalanan cinta mereka terjalin selama lebih dari 4 tahun, muncul orang ketiga dalam hidup sang wanita. Seorang pria muda, masih single dan kaya, telah mampu mengalihkan perhatian sang wanita dari temanku. Mungkin juga sang wanita itu mulai menyadari bahwa kebersamaannya selama ini dengan temanku tak bergerak kemana-mana. Dalam arti, setelah sekian lama mereka berpacaran, temanku tak juga menceraikan istrinya, meskipun mungkin tak lagi mencintainya.

Mungkin karena merasa dalam status yang tidak jelas itulah, sang wanita menerima kehadiran sang orang ketiga itu dalam hidupnya. Namun, sang wanita tak berani berterus terang kepada temanku tentang kehadiran orang ketiga itu. Hingga suatu saat, secara tak sengaja temanku memergoki mereka sedang jalan berdua dengan mesranya. Kemarahan memenuhi hati temanku.

Perasaan ditipu dan dilecehkan begitu kental dalam hatinya. Sulit sekali baginya menerima kenyataan bahwa sang wanita pujaan hati telah berpaling kepada pria lain. Karena dendam yang membara dalam hatinya sempat tercetus niatnya untuk membuat sang wanita dan pria itu menderita selamanya. Meskipun aku sudah mencoba menentramkan hatinya, namun semua kata-kataku tak didengarnya. Kemarahan ternyata telah membutakan mata hatinya.

Namun Allah telah berkehendak lain. Akhirnya, temanku bisa menyadari kekeliruannya dan dapat melihat kenyataan bahwa betapa sabar istrinya selama ini atas semua perlakuannya. Betapa istri tetap menerimanya dan mencintainya, meskipun selama ini dia nyaris dilupakan semenjak kehadiran wanita itu. Hingga, suatu kali temanku bercerita... bahwa pada suatu sore, untuk pertama kalinya semenjak bebeberapa tahun, dia menggandeng tangan istrinya menuju ke masjid yang ada di dekat rumah mereka.... Subhanallah....

Aku bersyukur..., aku terharu sekali karena pada akhirnya cinta sang istri dapat mengembalikan sang suami. Ternyata melalui kesabaran dan doa-doa yang aku yakin selalu dipanjatkannya kepada Allah, telah mampu membukakan mata hati suaminya. Allah memang tak pernah tidur, dan pasti akan mengabulkan permohonan hambaNYA yang disampaikan dengan sungguh-sungguh.

Semoga perjalanan cinta mereka yang berliku dapat menguatkan kembali ikatan cinta yang nyaris putus. Semoga setelah belajar dari pengalaman ini, mereka dapat lebih saling mencintai dan menghormati satu sama lain. Doaku untuk mereka......

Samar-samar aku serasa mendengar lantunan suara Reza yang melantunkan Lagu "Cinta Kan Membawamu Kembali"

tiba saat mengerti
jerit suara hati yang letih
meski mencoba melagukan rasa yang ada
mohon tinggal sejenak
lupakanlah waktu
t'mani air mataku
teteskan lara, merajut asa
menjalin mimpi, hendak dan sepi .. sepi

chorus :
cinta kan membawamu kembali di sini
menuai rindu, membasuh perih
bawa serta dirimu, dirimu yang dulu
mencintai diriku apa adanya
saat dusta mengalir
jujurkanlah hati
kenakan batin jiwamu
kenangkan cinta seperti dulu
saat bersama, tak ada keraguan