Selasa, 03 November 2009

Bangku di taman itu


Kubayangkan, alangkah menyenangkan jika di kotaku ada sebuah taman yang nyaman. Taman yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Tentu tak ketinggalan dengan bunga-bunga dan bangku taman. Ya.., bangku taman yang terbuat dari kayu. Sudah lama aku memimpikan hal itu ada di taman kotaku.

Kubayangkan, jika ada bangku di taman itu... pasti aku akan sering meluangkan waktuku di sana saat senja datang menyapa. Sambil menikmati indahnya alam dan sejuknya hembusan angin senja. Pasti menyenangkan sekali melakukan hal itu, suatu saat kelak.




Masih dalam bayanganku.., aku duduk di bangku taman itu, saat usiaku pun mulai senja. Duduk diam, tanpa kata. Hanya diam. Yang terasa hanya kedamaian dan ketenangan. Terlepas dari hiruk pikuk dunia, terbebas dari bisingnya berbagai ulah manusia. Santai dan nyaman.

Saat kelak aku duduk di bangku taman itu, pasti aku akan enggan beranjak pergi. Rasa enggan yang muncul dari rasa tidak rela melepaskan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan di sana. Meskipun akhirnya aku harus mengalah oleh datangnya malam, aku pasti akan kembali lagi esok hari... untuk duduk di bangku taman itu lagi.

Mungkin ini adalah impian sederhana yang juga dimiliki oleh banyak orang yang kini telah memasuki masa senja. Keinginan sederhana, namun ternyata sulit untuk terpenuhi. Ternyata duduk di bangku taman, meskipun hanya terbuat dari kayu, lebih mahal harganya daripada duduk di kursi empuk pada sebuah plaza.... Entah mengapa...


* Gambar diambil dari sini.

Bangku di taman itu


Kubayangkan, alangkah menyenangkan jika di kotaku ada sebuah taman yang nyaman. Taman yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Tentu tak ketinggalan dengan bunga-bunga dan bangku taman. Ya.., bangku taman yang terbuat dari kayu. Sudah lama aku memimpikan hal itu ada di taman kotaku.

Kubayangkan, jika ada bangku di taman itu... pasti aku akan sering meluangkan waktuku di sana saat senja datang menyapa. Sambil menikmati indahnya alam dan sejuknya hembusan angin senja. Pasti menyenangkan sekali melakukan hal itu, suatu saat kelak.




Masih dalam bayanganku.., aku duduk di bangku taman itu, saat usiaku pun mulai senja. Duduk diam, tanpa kata. Hanya diam. Yang terasa hanya kedamaian dan ketenangan. Terlepas dari hiruk pikuk dunia, terbebas dari bisingnya berbagai ulah manusia. Santai dan nyaman.

Saat kelak aku duduk di bangku taman itu, pasti aku akan enggan beranjak pergi. Rasa enggan yang muncul dari rasa tidak rela melepaskan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan di sana. Meskipun akhirnya aku harus mengalah oleh datangnya malam, aku pasti akan kembali lagi esok hari... untuk duduk di bangku taman itu lagi.

Mungkin ini adalah impian sederhana yang juga dimiliki oleh banyak orang yang kini telah memasuki masa senja. Keinginan sederhana, namun ternyata sulit untuk terpenuhi. Ternyata duduk di bangku taman, meskipun hanya terbuat dari kayu, lebih mahal harganya daripada duduk di kursi empuk pada sebuah plaza.... Entah mengapa...


* Gambar diambil dari sini.

Minggu, 01 November 2009

Merubah sudut pandang

Sudut pandang membuat perbedaan yang sangat besar terhadap sebuah peristiwa. Hal itulah yang aku alami beberapa hari terakhir ini. Mulanya, aku merasa jengkel luar biasa karena melihat seseorang yang bersikap dan berbicara semaunya. Padahal, mengingat posisinya, maka apa yang dilakukannya dan diucapkannya itu akan mempengaruhi banyak orang yang bekerja bersamanya.

Sudah beberapa kali dia seolah melepas tanggung jawabnya dan menyerahkan begitu saja kepada orang lain. Berulang kali pula dia tak mengambil keputusan di saat-saat yang sangat penting. Lebih parah lagi, apa yang dikatakannya sama sekali tak mencerminkan apa yang telah diperbuatnya. Yang terjadi kemudian adalah pekerjaannya jadi sangat terganggu dan nyaris tak ada yang beres.




Bukan hanya aku yang jengkel dan terganggu karenanya. Ternyata hampir semua temanku juga merasakan hal yang sama. Telah banyak orang yang akhirnya menjadi 'korban' akibat sikap dan ucapannya. Rasanya kehadirannya justru membuat pekerjaan menjadi semakin terasa berat. Malah terkadang, ketidak-hadirannya justru membuat banyak orang bernafas lega.

Namun..., 2 hari yang lalu sudut pandangku berubah drastis terhadapnya. Secara tak sengaja, aku menemukan fakta 'baru' tentang dirinya. Ternyata, selama beberapa bulan ini dia sedang terlilit masalah keluarga yang sangat berat dan rumit. Hal itu membuatnya sangat stress. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan masalah itu dari orang lain dan mencoba untuk menghadapinya sendiri.

Masalah pribadinya itu tentu saja membuatnya sangat tertekan. Belum lagi ditambah dengan beban pekerjaan yang saat ini sedang sangat besar. Tekanan dari kedua sisi ini membuatnya menjadi sangat labil dan sering lepas kontrol. Tentu saja hal itu akhirnya berimbas kepada orang lain juga, yaitu teman-teman kerjanya. Hanya bedanya, dulu saat aku belum mengetahui bahwa dia memiliki masalah pribadi yang sangat serius, aku sangat jengkel terhadapnya. Namun setelah aku secara tak sengaja mengetahui masalah pribadinya, aku jadi merasa kasihan kepadanya. Kini aku bisa memaklumi sikap dan ucapannya akhir-akhir ini.

Aku tahu, dia sebenarnya saat ini butuh waktu untuk menyendiri dan menenangkan diri. Namun pekerjaannya saat ini tak memungkinkannya mengambil cuti. Memang sih, banyak orang yang berkata bahwa seseorang seharusnya mampu bersikap profesional, memisahkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Kupikir hal itu pastilah sangat sulit. Aku sendiri jika berada dalam posisinya mungkin saja malah lebih terpuruk lagi daripada dia.

Kini aku memandangnya sebagai manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku menghormati keputusannya untuk tetap bungkam dan tak mau berbagi tentang masalah pribadinya. Yang jelas, kini perasaan jengkelku kepadanya jadi jauh berkurang. Kupikir, setelah masalah pribadinya teratasi, dia akan bersikap jauh lebih baik. Setidaknya, aku bisa memberinya sedikit ruang untuk menenangkan diri.

Kejadian ini membuatku berpikir, bahwa jika kita mau merubah sudut pandang kita, maka bisa saja hal-hal yang tampaknya buruk bisa berubah menjadi lebih baik. Hanya saja, seringkali kita sudah terjebak dengan apa yang pertama kita lihat atau kita dengar. Opini atau pendapat yang muncul dari apa yang pertama kita dengar atau kita lihat itu, seringkali langsung kita percayai kebenarannya. Padahal belum tentu kebenarannya. Iya kan..?

Sebuah ilustrasi menarik aku tampilkan disini. Sebuah contoh bahwa ternyata pandangan manusia bisa juga menipu.

Ini gambar seorang pria yang sedang main musik atau fambar seorang wanita ?
Gambar diambil dari sini


Hitung berapa jumlah bola-bola hitamnya..!
Apa yang mungkin terlihat betul di mata kita, bisa jadi salah di mata orang lain. Jadi, selayaknya kita tak perlu buru-buru untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu, apalagi jika kita tak paham duduk permasalahan yang sebenarnya. Untuk hal ini, aku yakin sekali... teman-teman pasti setuju. *Semoga kali ini aku tak salah menilai*

Merubah sudut pandang

Sudut pandang membuat perbedaan yang sangat besar terhadap sebuah peristiwa. Hal itulah yang aku alami beberapa hari terakhir ini. Mulanya, aku merasa jengkel luar biasa karena melihat seseorang yang bersikap dan berbicara semaunya. Padahal, mengingat posisinya, maka apa yang dilakukannya dan diucapkannya itu akan mempengaruhi banyak orang yang bekerja bersamanya.

Sudah beberapa kali dia seolah melepas tanggung jawabnya dan menyerahkan begitu saja kepada orang lain. Berulang kali pula dia tak mengambil keputusan di saat-saat yang sangat penting. Lebih parah lagi, apa yang dikatakannya sama sekali tak mencerminkan apa yang telah diperbuatnya. Yang terjadi kemudian adalah pekerjaannya jadi sangat terganggu dan nyaris tak ada yang beres.




Bukan hanya aku yang jengkel dan terganggu karenanya. Ternyata hampir semua temanku juga merasakan hal yang sama. Telah banyak orang yang akhirnya menjadi 'korban' akibat sikap dan ucapannya. Rasanya kehadirannya justru membuat pekerjaan menjadi semakin terasa berat. Malah terkadang, ketidak-hadirannya justru membuat banyak orang bernafas lega.

Namun..., 2 hari yang lalu sudut pandangku berubah drastis terhadapnya. Secara tak sengaja, aku menemukan fakta 'baru' tentang dirinya. Ternyata, selama beberapa bulan ini dia sedang terlilit masalah keluarga yang sangat berat dan rumit. Hal itu membuatnya sangat stress. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan masalah itu dari orang lain dan mencoba untuk menghadapinya sendiri.

Masalah pribadinya itu tentu saja membuatnya sangat tertekan. Belum lagi ditambah dengan beban pekerjaan yang saat ini sedang sangat besar. Tekanan dari kedua sisi ini membuatnya menjadi sangat labil dan sering lepas kontrol. Tentu saja hal itu akhirnya berimbas kepada orang lain juga, yaitu teman-teman kerjanya. Hanya bedanya, dulu saat aku belum mengetahui bahwa dia memiliki masalah pribadi yang sangat serius, aku sangat jengkel terhadapnya. Namun setelah aku secara tak sengaja mengetahui masalah pribadinya, aku jadi merasa kasihan kepadanya. Kini aku bisa memaklumi sikap dan ucapannya akhir-akhir ini.

Aku tahu, dia sebenarnya saat ini butuh waktu untuk menyendiri dan menenangkan diri. Namun pekerjaannya saat ini tak memungkinkannya mengambil cuti. Memang sih, banyak orang yang berkata bahwa seseorang seharusnya mampu bersikap profesional, memisahkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Kupikir hal itu pastilah sangat sulit. Aku sendiri jika berada dalam posisinya mungkin saja malah lebih terpuruk lagi daripada dia.

Kini aku memandangnya sebagai manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku menghormati keputusannya untuk tetap bungkam dan tak mau berbagi tentang masalah pribadinya. Yang jelas, kini perasaan jengkelku kepadanya jadi jauh berkurang. Kupikir, setelah masalah pribadinya teratasi, dia akan bersikap jauh lebih baik. Setidaknya, aku bisa memberinya sedikit ruang untuk menenangkan diri.

Kejadian ini membuatku berpikir, bahwa jika kita mau merubah sudut pandang kita, maka bisa saja hal-hal yang tampaknya buruk bisa berubah menjadi lebih baik. Hanya saja, seringkali kita sudah terjebak dengan apa yang pertama kita lihat atau kita dengar. Opini atau pendapat yang muncul dari apa yang pertama kita dengar atau kita lihat itu, seringkali langsung kita percayai kebenarannya. Padahal belum tentu kebenarannya. Iya kan..?

Sebuah ilustrasi menarik aku tampilkan disini. Sebuah contoh bahwa ternyata pandangan manusia bisa juga menipu.

Ini gambar seorang pria yang sedang main musik atau fambar seorang wanita ?
Gambar diambil dari sini


Hitung berapa jumlah bola-bola hitamnya..!
Apa yang mungkin terlihat betul di mata kita, bisa jadi salah di mata orang lain. Jadi, selayaknya kita tak perlu buru-buru untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu, apalagi jika kita tak paham duduk permasalahan yang sebenarnya. Untuk hal ini, aku yakin sekali... teman-teman pasti setuju. *Semoga kali ini aku tak salah menilai*

Jumat, 30 Oktober 2009

Menjalani hidup

Ini kisah dari seorang kawan. Awalnya dia kukenal sebagai orang yang ceria dan terbuka, namun selama sebulan ini tiba-tiba sikapnya berubah. Dia menjadi pendiam, bahkan cenderung pemurung dan tertutup. Aku dan teman-teman yang lain heran dengan perubahannya itu. Dia seperti orang yang tak memiliki semangat sama sekali dalam menjalani hidup.

Hingga suatu kali, entah apa awalnya aku lupa, dia bicara banyak kepadaku. Diceritakan kepadaku bahwa suatu ketika dia telah membuat pilihan hidup yang salah. Akibat dari kesalahan itu, dia merasa hidupnya tak lagi bahagia. Baginya, kesalahan yang pernah diambilnya telah menutup jalan menuju kebahagiaan.




Aku tertegun mendengar ceritanya. Sungguh aku tak habis pikir mengapa dia telah melewatkan banyak waktu dan kesempatan untuk meraih bahagia hanya karena sebuah kesalahan yang telah diperbuatnya. Meskipun kesalahan itu telah terjadi, toh kehidupannya tetap harus berjalan dan dia berhak untuk merasakan kebahagiaan.

Hidup itu pilihan, kawan. Terserah pada kita apakah kita ingin bahagia atau tidak. Terserah kita apakah kita ingin memanfaatkan hidup dengan sebaik-baiknya atau tidak. Masih banyak peluang untuk memberikan yang terbaik untuk diri kita dan juga orang lain. Kita sebagai manusia memang tak akan luput dari kesalahan, namun jika kita berbuat kesalahan itu bukan berarti akhir dari segalanya.

Aku kembali teringat dengan sebuah email dari seorang kawan lama. Email ini sudah lama sekali aku terima, sengaja aku cari untuk aku bagi kepada kawanku yang berduka itu. Alhamdulillah..., kini dia kembali bisa tersenyum. Dia telah mencoba berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima akibat dari kesalahan yang telah dipilihnya. Dia kembali bersemangat untuk meraih kembali kebahagiaannya.

Ohya, ini adalah email yang aku dapatkan dari seorang kawan lama dan telah aku bagikan kepada kawan yang bermasalah itu. Meskipun ini email sederhana, semoga saja tetap dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Semoga...
Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.

“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya, Budi.

“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.

“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”

“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.

“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.

“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.

“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.

“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”

Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut.

“Jaka, perasaan kamu pernah cerita sama saya, kalau kamu salah memilih jurusan?” tanya Budi kepada Jaka.

“Memang saya salah memilih jurusan, memangnya kenapa?” jawab Jaka.

“Yang saya heran, kenapa kamu tetap semangat kuliah, sedangkan teman saya malah malas dan tidak serius kuliahnya.”

“Yah nggak tahu yah, saya juga dulu sempat seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi.” jelas Jaka.

“Apa sich resepnya?”

“Pertama saya merelakan diri masuk jurusan ini. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah. Jadi saya terima saja.”

“Terus?” kata Budi bersemangat

“Yang kedua, saya mencari cara menggabungkan ilmu yang saya miliki dijurusan ini, dengan hobi saya. Ternyata saya menjadi enjoy saja. Memang, saya terlanjur memilih jurusan ini, kata orang, nasi sudah jadi bubur. Tetapi kalau saya, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial yang enak dan lebih mahal harganya ketimbang nasi.”

“Oh gitu….”

“Yah, kalau kita menyesali tidak ada manfaatnya. Kalau kita berusaha mengubah bubur jadi nasi, itu tidak mungkin. Satu-satunya cara ialah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat, saya tambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu. Rasanya enak dan lebih mahal” jelas Jaka sambil tersenyum lebar.