Sabtu, 07 November 2009

Kangen

Gambar diambil dari sini

Kang.., aku kangen
Sudah lama rasanya tak kau peluk diriku
kau usap rambutku
dan kau elus pipiku
seperti dulu...




Kang.., aku kangen
Ingin kutatap kilau di matamu
serta manisnya senyummu
yang semoga hanya kau berikan
untukku...

Kang.., pulanglah
aku ingin segera dalam pelukmu
dan tumpahkan segala galau hatiku
Kang, aku butuh rasa aman di dekatmu
karna mulai ada yang mencoba merayu
serta mengusik hatiku
agar aku berpaling darimu

Kang.., aku kangen dalam dekapmu
selalu....


*untuk seorang sahabat yang telah kembali memeluk cintanya*

Kangen

Gambar diambil dari sini

Kang.., aku kangen
Sudah lama rasanya tak kau peluk diriku
kau usap rambutku
dan kau elus pipiku
seperti dulu...




Kang.., aku kangen
Ingin kutatap kilau di matamu
serta manisnya senyummu
yang semoga hanya kau berikan
untukku...

Kang.., pulanglah
aku ingin segera dalam pelukmu
dan tumpahkan segala galau hatiku
Kang, aku butuh rasa aman di dekatmu
karna mulai ada yang mencoba merayu
serta mengusik hatiku
agar aku berpaling darimu

Kang.., aku kangen dalam dekapmu
selalu....


*untuk seorang sahabat yang telah kembali memeluk cintanya*

Kamis, 05 November 2009

Yang tak aku mengerti


Aku duduk terpekur. Sungguh banyak hal yang tak ku mengerti. Begitu banyak yang tak ku pahami. Aku mengeluh karena semakin hari semakin banyak hal yang tak mampu diterima oleh otak-ku yang memang tak mengenyam pendidikan tinggi ini. Aku merasa terasing, karena seolah-olah diri-ku bukanlah bagian dari dunia yang ada sekarang. Semua itu menyangkut kata yang sangat jauh dari jangkauanku : politik.


Politik... politik... Aku sungguh tak paham saat dunia di sekitar-ku kembali bicara soal isu-isu politik yang makin panas. Istilahnya aneh-aneh. Ada politik uang, elit politik, politik balas budi bahkan konspirasi politik. Apa itu konspirasi..? Sayang aku tak punya kamus seperti yang dipunyai orang-orang pintar itu. Lebih sayang lagi, aku tak punya teman yang bisa aku tanya tentang semua itu. Mereka sibuk sendiri dengan dunianya, dan tak ada yang mau repot memikirkan politik.








Ku usap-usap tumpukan koran di depanku. Dari lembaran-lembaran koran inilah sering kutemukan hal-hal yang membuatku mengerutkan dahi karena aku tak mengerti. Dulu aku tak habis pikir kenapa seorang pria gagah yang katanya punya kedudukan dan jabatan yang terhormat, bisa menjadi tersangka pembunuhan hanya gara-gara seorang wanita. Duh, tak sampai akalku memikirkan kejadian itu.


Kemudian muncul lagi berita-berita lain yang ternyata makin diminati banyak orang. Ada berita tentang perseteruan antara Buaya vs Cicak. Orang-orang pintar itu memang pintar sekali memilih kata-kata kiasan. Mengapa mereka menamakan buaya dan cicak ? Mengapa tidak anjing dan kucing yang jelas-jelas selama ini bermusuhan ?


Lalu banyak orang yang mencari koran yang katanya memuat berita tentang rekaman KPK. Rekaman percakapan sih kata mereka, tapi mengapa orang-orang jadi ingin tahu hal-hal yang bukan urusannya ? Padahal dulu emakku pernah mengajariku agar aku tak ikut mencuri dengar percakapan orang lain. Tapi kok malah sekarang orang suka mendengarkan percakapan orang lain ya ? Aduh..., makin tak mengerti aku.


Makin lama makin banyak pertanyaan yang menumpuk di dalam otak-ku ini. Ya menumpuk..!! Astaga.., ngomong-ngomong tentang menumpuk.... ternyata masih banyak koran yang menumpuk di depanku. Itu berarti belum banyak koran yang bisa kujual hari ini. Ampuni aku ya Allah..., pagi ini aku terlalu banyak melamun sampai-sampai lupa menjajakan koranku.


Segera aku beranjak dari bawah pohon mangga yang tak jauh dari perempatan jalan. Aku buru-buru menawarkan koranku pada pengendara kendaraan bermotor yang sedang berhenti di traffic light itu. Aku ingat, tadi sebelum aku berangkat menjajakan koran ini, Bayu anak bungsuku memintaku membawakannya sepotong tempe goreng saat aku pulang nanti. Sepotong tempe goreng yang akan menjadi lauk istimewanya siang nanti menggantikan menu nasi garam yang selama ini menjadi satu-satunya menu yang mampu aku sajikan.


Ingatan akan tempe goreng itu membuatku semakin bersemangat menjajakan koranku. Aku bertekad kali ini aku harus bisa mewujudkan keinginannya yang sebenarnya sangat sederhana tapi selama ini sulit aku penuhi. Lupakan dulu politik yang aku tak tahu... Semoga saja orang-orang pintar disana, mau melupakan sejenak segala macam benturan politik yang terjadi. Semoga orang-orang yang tak paham seperti diriku ini tak akan lagi menjadi korban dari benturan-benturan itu. Semoga.....


*sebuah catatan tentang orang yang merasa asing di dunianya*
Gambar diambil dari sini

Yang tak aku mengerti


Aku duduk terpekur. Sungguh banyak hal yang tak ku mengerti. Begitu banyak yang tak ku pahami. Aku mengeluh karena semakin hari semakin banyak hal yang tak mampu diterima oleh otak-ku yang memang tak mengenyam pendidikan tinggi ini. Aku merasa terasing, karena seolah-olah diri-ku bukanlah bagian dari dunia yang ada sekarang. Semua itu menyangkut kata yang sangat jauh dari jangkauanku : politik.


Politik... politik... Aku sungguh tak paham saat dunia di sekitar-ku kembali bicara soal isu-isu politik yang makin panas. Istilahnya aneh-aneh. Ada politik uang, elit politik, politik balas budi bahkan konspirasi politik. Apa itu konspirasi..? Sayang aku tak punya kamus seperti yang dipunyai orang-orang pintar itu. Lebih sayang lagi, aku tak punya teman yang bisa aku tanya tentang semua itu. Mereka sibuk sendiri dengan dunianya, dan tak ada yang mau repot memikirkan politik.








Ku usap-usap tumpukan koran di depanku. Dari lembaran-lembaran koran inilah sering kutemukan hal-hal yang membuatku mengerutkan dahi karena aku tak mengerti. Dulu aku tak habis pikir kenapa seorang pria gagah yang katanya punya kedudukan dan jabatan yang terhormat, bisa menjadi tersangka pembunuhan hanya gara-gara seorang wanita. Duh, tak sampai akalku memikirkan kejadian itu.


Kemudian muncul lagi berita-berita lain yang ternyata makin diminati banyak orang. Ada berita tentang perseteruan antara Buaya vs Cicak. Orang-orang pintar itu memang pintar sekali memilih kata-kata kiasan. Mengapa mereka menamakan buaya dan cicak ? Mengapa tidak anjing dan kucing yang jelas-jelas selama ini bermusuhan ?


Lalu banyak orang yang mencari koran yang katanya memuat berita tentang rekaman KPK. Rekaman percakapan sih kata mereka, tapi mengapa orang-orang jadi ingin tahu hal-hal yang bukan urusannya ? Padahal dulu emakku pernah mengajariku agar aku tak ikut mencuri dengar percakapan orang lain. Tapi kok malah sekarang orang suka mendengarkan percakapan orang lain ya ? Aduh..., makin tak mengerti aku.


Makin lama makin banyak pertanyaan yang menumpuk di dalam otak-ku ini. Ya menumpuk..!! Astaga.., ngomong-ngomong tentang menumpuk.... ternyata masih banyak koran yang menumpuk di depanku. Itu berarti belum banyak koran yang bisa kujual hari ini. Ampuni aku ya Allah..., pagi ini aku terlalu banyak melamun sampai-sampai lupa menjajakan koranku.


Segera aku beranjak dari bawah pohon mangga yang tak jauh dari perempatan jalan. Aku buru-buru menawarkan koranku pada pengendara kendaraan bermotor yang sedang berhenti di traffic light itu. Aku ingat, tadi sebelum aku berangkat menjajakan koran ini, Bayu anak bungsuku memintaku membawakannya sepotong tempe goreng saat aku pulang nanti. Sepotong tempe goreng yang akan menjadi lauk istimewanya siang nanti menggantikan menu nasi garam yang selama ini menjadi satu-satunya menu yang mampu aku sajikan.


Ingatan akan tempe goreng itu membuatku semakin bersemangat menjajakan koranku. Aku bertekad kali ini aku harus bisa mewujudkan keinginannya yang sebenarnya sangat sederhana tapi selama ini sulit aku penuhi. Lupakan dulu politik yang aku tak tahu... Semoga saja orang-orang pintar disana, mau melupakan sejenak segala macam benturan politik yang terjadi. Semoga orang-orang yang tak paham seperti diriku ini tak akan lagi menjadi korban dari benturan-benturan itu. Semoga.....


*sebuah catatan tentang orang yang merasa asing di dunianya*
Gambar diambil dari sini

Selasa, 03 November 2009

Bangku di taman itu


Kubayangkan, alangkah menyenangkan jika di kotaku ada sebuah taman yang nyaman. Taman yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Tentu tak ketinggalan dengan bunga-bunga dan bangku taman. Ya.., bangku taman yang terbuat dari kayu. Sudah lama aku memimpikan hal itu ada di taman kotaku.

Kubayangkan, jika ada bangku di taman itu... pasti aku akan sering meluangkan waktuku di sana saat senja datang menyapa. Sambil menikmati indahnya alam dan sejuknya hembusan angin senja. Pasti menyenangkan sekali melakukan hal itu, suatu saat kelak.




Masih dalam bayanganku.., aku duduk di bangku taman itu, saat usiaku pun mulai senja. Duduk diam, tanpa kata. Hanya diam. Yang terasa hanya kedamaian dan ketenangan. Terlepas dari hiruk pikuk dunia, terbebas dari bisingnya berbagai ulah manusia. Santai dan nyaman.

Saat kelak aku duduk di bangku taman itu, pasti aku akan enggan beranjak pergi. Rasa enggan yang muncul dari rasa tidak rela melepaskan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan di sana. Meskipun akhirnya aku harus mengalah oleh datangnya malam, aku pasti akan kembali lagi esok hari... untuk duduk di bangku taman itu lagi.

Mungkin ini adalah impian sederhana yang juga dimiliki oleh banyak orang yang kini telah memasuki masa senja. Keinginan sederhana, namun ternyata sulit untuk terpenuhi. Ternyata duduk di bangku taman, meskipun hanya terbuat dari kayu, lebih mahal harganya daripada duduk di kursi empuk pada sebuah plaza.... Entah mengapa...


* Gambar diambil dari sini.