Senin, 07 Desember 2009

Bunga Desember

Ada yang istimewa pada setiap bulan Desember. Pada setiap akhir tahun, selalu hadir bunga yang istimewa, Bunga Desember. Kehadirannya pada bulan Desember (atau terkadang sudah muncul sejak bulan Nopember).., mungkin itulah yang menyebabkannya diberi nama : Bunga Desember.

Bentuknya unik, terlihat bundar seperti bola berwarna merah menyala. Kalau kita memandangnya dengan seksama, wujud Bunga Desember sebenarnya hanya serupa serabut-serabut lunak dengan ujung bercabang-cabang dan warna putik kuning menyala pada setiap ujungnya.




Kalau pagi itu tak kulihat bunga itu di depan rumahku, nyaris aku lupa bahwa aku 'memilikinya'. Bunga Desember adalah bunga yang memiliki daya tahan hidup luar biasa. Pada bulan-bulan lainnya, keberadaannya seringkali dilupakan orang. Pada saat itu, Bunga Desember hanyalah berupa umbi yang tersembunyi di dalam tanah. Tak peduli walaupun tak ada yang memperhatikan dan merawatnya, umbi Bunga Desember tetap saja bertahan hidup. Sampai akhirnya, tibalah saatnya dia dapat kembali memamerkan hijau daunnya dan merah merona bunganya. Indah...

Melihat kehadiran Bunga Desember yang menyembul di antara hijau dedaunan di depan rumahku beberapa waktu yang lalu, dapat mengembalikan semangatku yang sempat terkikis. Daya tahan dan daya juang Bunga Desember telah menulariku di pagi itu. Warna merahnya mengembalikan lagi keceriaan hari-hariku.

Kehadiran (kembali) Bunga Desember di depan rumahku membuatku termenung sesaat. Andai senantiasa kumiliki semangat dan daya juang sang Bunga Desember, alangkah hebatnya. Andai kumiliki keikhlasan saat dilupakan dan kesetiaan untuk senantiasa hadir pada saatnya, alangkah indahnya. Namun kusadari... aku belumlah sehebat dan seindah Bunga Desember seperti yang kembali hadir di depan rumahku.

Bunga Desember

Ada yang istimewa pada setiap bulan Desember. Pada setiap akhir tahun, selalu hadir bunga yang istimewa, Bunga Desember. Kehadirannya pada bulan Desember (atau terkadang sudah muncul sejak bulan Nopember).., mungkin itulah yang menyebabkannya diberi nama : Bunga Desember.

Bentuknya unik, terlihat bundar seperti bola berwarna merah menyala. Kalau kita memandangnya dengan seksama, wujud Bunga Desember sebenarnya hanya serupa serabut-serabut lunak dengan ujung bercabang-cabang dan warna putik kuning menyala pada setiap ujungnya.




Kalau pagi itu tak kulihat bunga itu di depan rumahku, nyaris aku lupa bahwa aku 'memilikinya'. Bunga Desember adalah bunga yang memiliki daya tahan hidup luar biasa. Pada bulan-bulan lainnya, keberadaannya seringkali dilupakan orang. Pada saat itu, Bunga Desember hanyalah berupa umbi yang tersembunyi di dalam tanah. Tak peduli walaupun tak ada yang memperhatikan dan merawatnya, umbi Bunga Desember tetap saja bertahan hidup. Sampai akhirnya, tibalah saatnya dia dapat kembali memamerkan hijau daunnya dan merah merona bunganya. Indah...

Melihat kehadiran Bunga Desember yang menyembul di antara hijau dedaunan di depan rumahku beberapa waktu yang lalu, dapat mengembalikan semangatku yang sempat terkikis. Daya tahan dan daya juang Bunga Desember telah menulariku di pagi itu. Warna merahnya mengembalikan lagi keceriaan hari-hariku.

Kehadiran (kembali) Bunga Desember di depan rumahku membuatku termenung sesaat. Andai senantiasa kumiliki semangat dan daya juang sang Bunga Desember, alangkah hebatnya. Andai kumiliki keikhlasan saat dilupakan dan kesetiaan untuk senantiasa hadir pada saatnya, alangkah indahnya. Namun kusadari... aku belumlah sehebat dan seindah Bunga Desember seperti yang kembali hadir di depan rumahku.

Sabtu, 05 Desember 2009

Jadie : Tangis Tanpa Suara


Kembali membicarakan buku karya Torey Hayden yang kali ini judulnya adalah " Jadie : Tangis Tanpa Suara ". Seperti buku-buku sebelumnya, Torey menceritakan tentang pengalaman pribadinya saat menangani anak-anak "berkebutuhan khusus". Namun kali ini kisahnya lebih menegangkan dibandingkan buku-bukunya yang lain.


Kisah bermula saat Torey tiba-tiba tertarik untuk mengisi lowongan pekerjaan yang dimuat pada sebuah koran Minggu. Sebenarnya bukan lowongan yang dapat dikatakan istimewa, mengingat pada saat itu Torey sudah mapan dengan pekerjaannya sebagai koordinator riset dan terapis di Sandry Clinic. Ternyata, lowongan tengah tahun untuk mengajar di kelas anak-anak yang memiliki gangguan perilaku benar-benar membuatnya tertarik, sehingga pekerjaan di Sandry Clinic pun ditinggalkannya.

Akhirnya, Torey menjadi pengajar kelas pendidikan khusus di kota kecil Pecking. Murid yang harus dibantunya setiap hari hanya 4 orang, yaitu : Ruben (9 tahun) penderita autisme, Jadie (8 tahun) penderita kebisuan yang disengaja (elective mutism), Philip (6 tahun) kecanduan narkoba sejak dalam kandungan dan mengalami kegagalan dalam perkembangannya, serta yang terakhir adalah Jeremiah (8 tahun) yang sengaja ditempatkan di kelas khusus itu untuk menyelamatkannya dari penjara anak-anak.


Sebagaimana pengalaman sebelumnya, masa-masa awal memulai mengajar di kelas khusus membutuhkan kesabaran ekstra. Apalagi dengan gangguan perilaku yang beragam dari murid-muridnya. Namun kali ini perhatian Torey Hayden lebih banyak tertuju kepada satu-satunya murid perempuan di kelasnya, Jadie. Penyebabnya karena pada masa-masa sebelumnya Torey sudah banyak melakukan penelitian dalam kasus "elective mutism". Selain itu juga karena fisik Jadie yang seperti terlipat dua membuat Torey menduga bahwa Jadie mengidap Skoliosis (suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan, biasanya membentuk kurva "C" atau kurva "S".).


Setelah Jadie akhirnya mau bicara, justru apa yang dibicarakannya pada Torey adalah hal-hal yang sangat menakutkan, membingungkan dan tak masuk akal. Torey hanya bisa melihat tiga kemungkinan untuk menjelaskan 'misteri' kehidupan Jadie, yaitu :
  1. Jadie adalah anak yang sangat terganggu jiwanya, dunia dalam dirinya adalah gabungan dari halusinasi dan pikiran yang bersifat skizofrenia yang menakutkan dan terpecah-pecah
  2. Ia pernah mengalami kejadian yang menimbulkan trauma dan dikompensasikan dengan menciptakan dunia fantasi luar biasa yang melindunginya dari dunia nyata.
  3. Ia anak normal yang terperangkap jaringan pembunuhan dan penyiksaan yang sangat keji, namun tak ada orang yang percaya padanya. (hal 267)
Kehidupan Jadie seolah terselimuti misteri. Begitu banyak tabir yang tak dapat dikuak. Apalagi ternyata Jadie sebenarnya bukanlah penderita Skoliosis karena mampu berdiri tegak. Ketidakjelasan dan kurangnya bukti yang mendukung cerita Jadie, membuat Torey kesulitan mencari bantuan. Banyak celah yang tak masuk akal dalam cerita-cerita Jadie.

Walaupun kisah Jadie sangat membingungkan, namun Torey tahu bahwa Jadie sangat butuh pertolongan. Hal itu diketahui Torey dari cerita-cerita Jadie yang menyeramkan dan sulit dipercaya. Selain itu sebuah rekaman video yang dibuat Jadie secara sembunyi-sembunyi menguatkan hal itu ditambah dengan pernyataan Jadie yang menginginkan Torey sebagai Tuhan.
"Tolong aku," kata Jadie, nyaris mendesah. "Tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku.." Makin dekat dan lebih dekat lagi sampai yang terlihat di layar hanya sebentuk bibir mengucapkan kata yang sama berulang-ulang. (hal. 78)
"Tapi kau pasti bisa. Aku tahu kau bisa. Kau kan Tuhan." (hal. 318)
"Tapi aku ingin kau menjadi Tuhan," katanya, dan larut kembali dalam tangis. (hal. 319)
Masalah Jadie semakin rumit setelah ada indikasi mistik dan "aliran setan" di dalamnya. Beberapa cerita Jadie seolah mengarah pada ritual mistis aliran tertentu yang sangat mengerikan. Apalagi setelah boneka yang selama ini diidentikkan sebagai pengganti Torey, ternyata rusak terlindas ban mobil Torey. Kecurigaan tentang bagaimana boneka itu bisa sampai terlindas, membuat dugaan bahwa boneka itu adalah "voodoo". Hal itu tentu saja sangat meresahkan Torey.

Dugaan bahwa ada mistik dalam kehidupan Jadie semakin menguat setelah Torey mengetahui bahwa guru June (guru yang digantikan Torey) meninggal akibat bunuh diri. Pertanyaan mengapa guru June sampai bunuh diri benar-benar mengganggu Torey. Apakah dia bunuh diri karena frustrasi menghadapi masalah Jadie ? Ataukah dia tak sanggup menghadapi keanehan sikap Jadie yang cenderung 'menakutkan' ? Ataukah dia korban voodoo juga..?

Ketika akhirnya usaha 'penyelamatan' terhadap Jadie dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang (kepolisian dan dinas sosial), masih saja belum diperoleh bukti nyata tentang adanya penyiksaan atau pelecehan seksual. Torey bahkan sempat merasa takut jika apa yang diyakininya tentang masalah yang menimpa Jadie adalah salah. Namun secarik kertas dari Jadie yang bertuliskan "Terima Kasih" serta senyum di bibir Jadie meyakinkan Torey bahwa dia telah melakukan hal yang benar. Meskipun begitu, masih banyak misteri kehidupan Jadie yang tak mampu terpecahkan oleh Torey.

Penulis : Torey L. Hayden
Kategori : Non Fiksi
Penerbit : Qanita
Th. Terbit : 2004 (cetakan III)
Tebal : 512 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 15.000,- (diskon)

Jadie : Tangis Tanpa Suara


Kembali membicarakan buku karya Torey Hayden yang kali ini judulnya adalah " Jadie : Tangis Tanpa Suara ". Seperti buku-buku sebelumnya, Torey menceritakan tentang pengalaman pribadinya saat menangani anak-anak "berkebutuhan khusus". Namun kali ini kisahnya lebih menegangkan dibandingkan buku-bukunya yang lain.


Kisah bermula saat Torey tiba-tiba tertarik untuk mengisi lowongan pekerjaan yang dimuat pada sebuah koran Minggu. Sebenarnya bukan lowongan yang dapat dikatakan istimewa, mengingat pada saat itu Torey sudah mapan dengan pekerjaannya sebagai koordinator riset dan terapis di Sandry Clinic. Ternyata, lowongan tengah tahun untuk mengajar di kelas anak-anak yang memiliki gangguan perilaku benar-benar membuatnya tertarik, sehingga pekerjaan di Sandry Clinic pun ditinggalkannya.

Akhirnya, Torey menjadi pengajar kelas pendidikan khusus di kota kecil Pecking. Murid yang harus dibantunya setiap hari hanya 4 orang, yaitu : Ruben (9 tahun) penderita autisme, Jadie (8 tahun) penderita kebisuan yang disengaja (elective mutism), Philip (6 tahun) kecanduan narkoba sejak dalam kandungan dan mengalami kegagalan dalam perkembangannya, serta yang terakhir adalah Jeremiah (8 tahun) yang sengaja ditempatkan di kelas khusus itu untuk menyelamatkannya dari penjara anak-anak.


Sebagaimana pengalaman sebelumnya, masa-masa awal memulai mengajar di kelas khusus membutuhkan kesabaran ekstra. Apalagi dengan gangguan perilaku yang beragam dari murid-muridnya. Namun kali ini perhatian Torey Hayden lebih banyak tertuju kepada satu-satunya murid perempuan di kelasnya, Jadie. Penyebabnya karena pada masa-masa sebelumnya Torey sudah banyak melakukan penelitian dalam kasus "elective mutism". Selain itu juga karena fisik Jadie yang seperti terlipat dua membuat Torey menduga bahwa Jadie mengidap Skoliosis (suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan, biasanya membentuk kurva "C" atau kurva "S".).


Setelah Jadie akhirnya mau bicara, justru apa yang dibicarakannya pada Torey adalah hal-hal yang sangat menakutkan, membingungkan dan tak masuk akal. Torey hanya bisa melihat tiga kemungkinan untuk menjelaskan 'misteri' kehidupan Jadie, yaitu :
  1. Jadie adalah anak yang sangat terganggu jiwanya, dunia dalam dirinya adalah gabungan dari halusinasi dan pikiran yang bersifat skizofrenia yang menakutkan dan terpecah-pecah
  2. Ia pernah mengalami kejadian yang menimbulkan trauma dan dikompensasikan dengan menciptakan dunia fantasi luar biasa yang melindunginya dari dunia nyata.
  3. Ia anak normal yang terperangkap jaringan pembunuhan dan penyiksaan yang sangat keji, namun tak ada orang yang percaya padanya. (hal 267)
Kehidupan Jadie seolah terselimuti misteri. Begitu banyak tabir yang tak dapat dikuak. Apalagi ternyata Jadie sebenarnya bukanlah penderita Skoliosis karena mampu berdiri tegak. Ketidakjelasan dan kurangnya bukti yang mendukung cerita Jadie, membuat Torey kesulitan mencari bantuan. Banyak celah yang tak masuk akal dalam cerita-cerita Jadie.

Walaupun kisah Jadie sangat membingungkan, namun Torey tahu bahwa Jadie sangat butuh pertolongan. Hal itu diketahui Torey dari cerita-cerita Jadie yang menyeramkan dan sulit dipercaya. Selain itu sebuah rekaman video yang dibuat Jadie secara sembunyi-sembunyi menguatkan hal itu ditambah dengan pernyataan Jadie yang menginginkan Torey sebagai Tuhan.
"Tolong aku," kata Jadie, nyaris mendesah. "Tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku, tolong aku.." Makin dekat dan lebih dekat lagi sampai yang terlihat di layar hanya sebentuk bibir mengucapkan kata yang sama berulang-ulang. (hal. 78)
"Tapi kau pasti bisa. Aku tahu kau bisa. Kau kan Tuhan." (hal. 318)
"Tapi aku ingin kau menjadi Tuhan," katanya, dan larut kembali dalam tangis. (hal. 319)
Masalah Jadie semakin rumit setelah ada indikasi mistik dan "aliran setan" di dalamnya. Beberapa cerita Jadie seolah mengarah pada ritual mistis aliran tertentu yang sangat mengerikan. Apalagi setelah boneka yang selama ini diidentikkan sebagai pengganti Torey, ternyata rusak terlindas ban mobil Torey. Kecurigaan tentang bagaimana boneka itu bisa sampai terlindas, membuat dugaan bahwa boneka itu adalah "voodoo". Hal itu tentu saja sangat meresahkan Torey.

Dugaan bahwa ada mistik dalam kehidupan Jadie semakin menguat setelah Torey mengetahui bahwa guru June (guru yang digantikan Torey) meninggal akibat bunuh diri. Pertanyaan mengapa guru June sampai bunuh diri benar-benar mengganggu Torey. Apakah dia bunuh diri karena frustrasi menghadapi masalah Jadie ? Ataukah dia tak sanggup menghadapi keanehan sikap Jadie yang cenderung 'menakutkan' ? Ataukah dia korban voodoo juga..?

Ketika akhirnya usaha 'penyelamatan' terhadap Jadie dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang (kepolisian dan dinas sosial), masih saja belum diperoleh bukti nyata tentang adanya penyiksaan atau pelecehan seksual. Torey bahkan sempat merasa takut jika apa yang diyakininya tentang masalah yang menimpa Jadie adalah salah. Namun secarik kertas dari Jadie yang bertuliskan "Terima Kasih" serta senyum di bibir Jadie meyakinkan Torey bahwa dia telah melakukan hal yang benar. Meskipun begitu, masih banyak misteri kehidupan Jadie yang tak mampu terpecahkan oleh Torey.

Penulis : Torey L. Hayden
Kategori : Non Fiksi
Penerbit : Qanita
Th. Terbit : 2004 (cetakan III)
Tebal : 512 halaman
Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 15.000,- (diskon)

Kamis, 03 Desember 2009

Matematika... oh ... Matematika

Gambar diambil dari sini

Suatu sore Shasa mengulurkan buku sekolahnya kepadaku. Dia memintaku untuk membantunya mengoreksi Pekerjaan Rumah yang telah dikerjakannya. Ternyata Shasa memintaku mengoreksi pekerjaan Matematikanya. Biasanya Shasa memang memintaku mengoreksi PR-nya, agar jika ada kekeliruan dari jawabannya masih bisa diperbaikinya.

Setelah aku membaca soalnya..., mataku jadi terbelalak tak percaya. Soal-soal yang harus aku koreksi sebanyak 15 soal dan bentuk soalnya antara lain seperti ini :

  1. Ani pergi berenang setiap 3 hari sekali. Sedangkan Ana berenang setiap 4 hari sekali. Jika hari Minggu mereka berenang bersama-sama, pada setiap hari berapa hari mereka akan bertemu ?
  2. Lampu A menyapa setiap 45 menit lalu padam. Lampu B menyala setiap 30 menit lalu padam. Jika lampu A dan lampu B menyala bersama pada pukul 09.30, pada pukul berapa lampu A dan B menyala bersama lagi ?

Astaga... Shasa baru kelas 4 SD bukan ? Tapi kok pelajaran Matematikanya sudah 'rumit' begini ya... Terus terang saja aku tak langsung bisa mengoreksi hasil pekerjaan Shasa, karena aku tak tahu bagaimana cara menghitungnya. Akhirnya, aku harus belajar dulu cara-cara penyelesaian soal-soal seperti itu dari bukunya Shasa. Heehh..., ternyata tak mudah juga. Setelah bersusah payah mempelajarinya, akhirnya aku bisa juga mengoreksi pekerjaan Shasa. Leganya....

Namun aku tetap saja mulai merasa kewalahan dengan pelajaran Matematika-nya Shasa. Aku merasa pelajaran Matematika-nya sudah semakin berat. Atau... aku saja yang berlebihan karena pada dasarnya aku memang tidak mahir dalam Matematika ? Aku jadi berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki orang-orang yang membantunya mengoreksi pekerjaan rumahnya ? Jika ternyata mereka tak mampu mengerjakannya, pada siapa mereka akan bertanya.. ? Bagi yang memiliki banyak uang mungkin tak masalah, karena mereka dapat memasukkan anak-anaknya dalam program bimbingan belajar. Sementara bagi yang tidak mampu... bagaimana solusinya ?

Aku sendiri mulai berpikir untuk mencarikan tempat les Matematika bagi Shasa. Aku kini sudah merasa kesulitan mengikuti pelajaran Matematikan anak kelas 4 SD. Padahal dulu aku berkeinginan agar selama Shasa duduk di bangku SD, aku tak akan mengijinkannya mengikuti les pelajaran sekolah. Meskipun teman-teman Shasa sudah banyak yang les, dan Shasa sendiri sudah beberapa kali minta les, tapi selama ini aku tidak mengabulkannya. Bagiku, selama aku masih bisa mengajarinya maka aku tak akan memasukkannya dalam les manapun. Tapi kini... setelah mengetahui betapa rumitnya pelajaran anak kelas 4 SD... aku mulai berubah pikiran.

Seandainya saja aku cukup pandai dalam Matematika....