Selasa, 19 Januari 2010

Cerita tentang curhat


Ini cerita tentang curhat teman-teman padaku. Sebenarnya, aku punya beberapa teman ~pria dan wanita~ yang suka curhat padaku tentang beberapa hal dalam hidup mereka. Kebanyakan sih curhat masalah pekerjaan, pertemanan, ada juga yang soal kekasih atau rumah tangganya. Pokoknya tentang apa saja yang membuat hati sumpek dan dada sesak.

Sejauh ini sih, aku hanya butuh menyediakan telinga untuk mendengarkan. Aku sebenarnya tak terlalu banyak memberikan masukan kepada mereka. Setelah sekian lama, aku tahu bahwa seringkali yang mereka butuhkan bukanlah nasehat, namun hanya telinga yang mau menampung segala keluh kesah mereka. Seringkali mereka sudah merasa sangat lega, setelah berhasil mengeluarkan uneg-uneg mereka.


Namun di antara semua teman yang suka curhat padaku, ada 3 orang yang istimewa. Satu orang adalah teman wanita yang berdomisili di Jakarta. Sehingga, untuk curhat padaku dia rela menelponku berlama-lama atau mengirimkan banyak SMS. Semuanya hanya untuk curhat, dari yang tak penting sampai yang bikin sesak napas.

Aku sih maklum saja, karena dia memang hidup sendiri di Jakarta, dan mungkin hanya butuh telinga untuk mendengarkan seluruh kisah hidupnya. Bukannya tak semua orang dapat begitu saja diajak curhat ? Kebetulan aku mengenalnya sudah lama, dan dia sangat percaya padaku, sehingga hal apapun dia curhatkan padaku. Aku sih senang-senang saja membantunya meringankan beban pikirannya.

Sementara 2 orang lainnya berjenis kelamin pria. Yang satu, setia menceritakan jatuh bangun perjalanan cintanya sampai akhirnya menikah, lengkap dengan aneka macam problematikanya. Sementara yang satu lagi seringkali curhat tentang kisah cintanya yang rumit. Maklum saja, meskipun sudah menjalani kehidupan rumah tangga, dia masih memiliki banyak cinta kepada beberapa wanita. *geleng-geleng kepala*

Temanku yang terakhir ini kalau sedang curhat sangat terbuka. Curhatnya padaku nyaris tanpa tedeng aling-aling, nyaris tak ada yang disembunyikan. Terkadang kalau ceritanya (menurutku) agak keterlaluan, aku pun tak sungkan-sungkan untuk mencela dan mengkritiknya. Bagusnya, dia bisa menerima celaan dan kritikan dariku dengan senyuman. Bahkan dia bilang agar aku jangan sampai bosan mendengar curhatnya, karena kalau aku sudah bosen mendengarnya, dia tak tahu lagi harus kemana menceritakan segala 'kegilaan'nya itu. Dia yakin, kalau semua itu tak diutarakan pada seseorang, dia bisa gila.... ^_^

Nah, dari temanku inilah yang telah memberikan banyak "inspirasi" untuk kutuliskan dalam blog ini. Walaupun tentu saja, aku perlu sedikit merubah cerita dan identitasnya agar 'tokoh yang aku ceritakan' itu tidak dikenal oleh teman-temanku yang kebetulan juga membaca tulisanku disini. Tak enak kan, kalau apa yang dipercayakan kepadaku akhirnya diketahui umum juga..?

Alasan mengapa aku suka menuliskan pengalaman hidup temanku yang telah di-curhat-kan padaku karena aku sering mengambil banyak pelajaran pengalaman hidup mereka itu. Siapa tahu, teman-teman yang lain pun dapat mengambil pelajaran dari pengalaman hidup teman-temanku itu. Karena menurutku, untuk pelajaran hidup dapat diperoleh tanpa kita harus mengalaminya sendiri. Bahkan, seringkali pengalaman hidup orang lain yang memberikan banyak pelajaran hidup bagi kita.

Apakah benar begitu....?

Gambar diambil dari sini

Cerita tentang curhat


Ini cerita tentang curhat teman-teman padaku. Sebenarnya, aku punya beberapa teman ~pria dan wanita~ yang suka curhat padaku tentang beberapa hal dalam hidup mereka. Kebanyakan sih curhat masalah pekerjaan, pertemanan, ada juga yang soal kekasih atau rumah tangganya. Pokoknya tentang apa saja yang membuat hati sumpek dan dada sesak.

Sejauh ini sih, aku hanya butuh menyediakan telinga untuk mendengarkan. Aku sebenarnya tak terlalu banyak memberikan masukan kepada mereka. Setelah sekian lama, aku tahu bahwa seringkali yang mereka butuhkan bukanlah nasehat, namun hanya telinga yang mau menampung segala keluh kesah mereka. Seringkali mereka sudah merasa sangat lega, setelah berhasil mengeluarkan uneg-uneg mereka.


Namun di antara semua teman yang suka curhat padaku, ada 3 orang yang istimewa. Satu orang adalah teman wanita yang berdomisili di Jakarta. Sehingga, untuk curhat padaku dia rela menelponku berlama-lama atau mengirimkan banyak SMS. Semuanya hanya untuk curhat, dari yang tak penting sampai yang bikin sesak napas.

Aku sih maklum saja, karena dia memang hidup sendiri di Jakarta, dan mungkin hanya butuh telinga untuk mendengarkan seluruh kisah hidupnya. Bukannya tak semua orang dapat begitu saja diajak curhat ? Kebetulan aku mengenalnya sudah lama, dan dia sangat percaya padaku, sehingga hal apapun dia curhatkan padaku. Aku sih senang-senang saja membantunya meringankan beban pikirannya.

Sementara 2 orang lainnya berjenis kelamin pria. Yang satu, setia menceritakan jatuh bangun perjalanan cintanya sampai akhirnya menikah, lengkap dengan aneka macam problematikanya. Sementara yang satu lagi seringkali curhat tentang kisah cintanya yang rumit. Maklum saja, meskipun sudah menjalani kehidupan rumah tangga, dia masih memiliki banyak cinta kepada beberapa wanita. *geleng-geleng kepala*

Temanku yang terakhir ini kalau sedang curhat sangat terbuka. Curhatnya padaku nyaris tanpa tedeng aling-aling, nyaris tak ada yang disembunyikan. Terkadang kalau ceritanya (menurutku) agak keterlaluan, aku pun tak sungkan-sungkan untuk mencela dan mengkritiknya. Bagusnya, dia bisa menerima celaan dan kritikan dariku dengan senyuman. Bahkan dia bilang agar aku jangan sampai bosan mendengar curhatnya, karena kalau aku sudah bosen mendengarnya, dia tak tahu lagi harus kemana menceritakan segala 'kegilaan'nya itu. Dia yakin, kalau semua itu tak diutarakan pada seseorang, dia bisa gila.... ^_^

Nah, dari temanku inilah yang telah memberikan banyak "inspirasi" untuk kutuliskan dalam blog ini. Walaupun tentu saja, aku perlu sedikit merubah cerita dan identitasnya agar 'tokoh yang aku ceritakan' itu tidak dikenal oleh teman-temanku yang kebetulan juga membaca tulisanku disini. Tak enak kan, kalau apa yang dipercayakan kepadaku akhirnya diketahui umum juga..?

Alasan mengapa aku suka menuliskan pengalaman hidup temanku yang telah di-curhat-kan padaku karena aku sering mengambil banyak pelajaran pengalaman hidup mereka itu. Siapa tahu, teman-teman yang lain pun dapat mengambil pelajaran dari pengalaman hidup teman-temanku itu. Karena menurutku, untuk pelajaran hidup dapat diperoleh tanpa kita harus mengalaminya sendiri. Bahkan, seringkali pengalaman hidup orang lain yang memberikan banyak pelajaran hidup bagi kita.

Apakah benar begitu....?

Gambar diambil dari sini

Senin, 18 Januari 2010

Menyambut RI 1

Sebagaimana dijadwalkan, RI 1 pada hari Senin dan Selasa (18 dan 19 Januari 2010) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madiun dan Ngawi, Jawa Timur. Serangkaian acara akan diikuti oleh beliau. Selain itu RI 1 dijadwalkan membuka Munas Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) yang diikuti gubernur, bupati serta walikota se-Indonesia. Acara itu digelar di Pendopo Bupati Madiun di Jalan Alun-alun Utara Kota Madiun.

Karena itulah, Beberapa hari ini Kota Madiun (dan sekitarnya) berbenah. Alun-alun dibenahi dan untuk sementara dibersihkan dari para Pedagang Kaki Lima. Aneka macam spanduk dipajang di sudut-sudut kota. Jalan-jalan yang rusak pun tak lupa diperbaiki. Dan yang pasti pengamanan pun diperketat dengan menyiapkan personel sekitar 6.000 personel gabungan TNI dan Polri yang tersebar di Madiun, Ngawi, dan Magetan. Pengamanan dilakukan baik secara terbuka maupun tertutup.


Sabtu kemarin Shasa bercerita kalau gurunya memberi tahu bahwa anak-anak kelas 4 dan kelas 5 yang dipilih untuk "menyambut" RI 1 pada hari Selasa 19 Januari 2010. Tapi Shasa tidak tahu maksud dari "menyambut" itu, terus dimana "menyambut"nya dia juga tidak paham. Sehingga kami mengira-ngira kalau RI 1 akan mampir juga ke sekolah Shasa.

Sementara itu, hari Minggu sore bos-ku mengirimkan SMS bahwa seluruh pegawai diharapkan mengenakan baju Batik Pemkot yang terbaru pada hari Senin, tgl. 18 Januari 2010. Untung saja, perintah yang menyebar lewat SMS itu berhasil juga, karena akhirnya seluruh pegawai Pemkot Madiun mengenakan baju batik khas Pemkot Madiun, meskipun tak jelas mengapa baju itu harus dipakai pada hari Senin. Karena biasanya batik khas Pemkot Madiun hanya dikenakan setiap hari Jum'at.

Jawaban atas pertanyaan itu baru aku dapatkan pagi tadi. Ternyata, pegawai Pemkot Madiun dengan mengenakan baju batiknya, dikerahkan untuk "menyambut" kedatangan RI 1. Menyambut di sini dalam arti, berdiri di sepanjang jalan yang akan dilalui RI 1 dan kemudian "menyambut"nya ketika beliau lewat... dengan cara melambai-lambaikan bendera kecil.

Astaga... apa kira-kira RI 1 menghendaki "sambutan" model begini ? Terakhir kali aku melakukan "sambutan" untuk RI 1 seperti ini dulu waktu aku masih duduk di bangku SD. Waktu itu yang "disambut" adalah RI 1 era Orde Baru. Tapi kini..., setelah sekian puluh tahun berlalu, setelah aku menjadi seorang abdi negara... aku melakukannya lagi..! Benar-benar tak terbayangkan sebelumnya.

Aku jadi berpikir, bahwa mungkin yang dimaksudkan oleh guru Shasa bahwa anak-anak kelas 4 dan kelas 5 dipilih untuk "menyambut" RI 1 dengan cara berdiri di pinggir jalan seperti yang aku lakukan tadi. Padahal bayangan Shasa sebelumnya adalah berdiri berhadapan dengan RI 1 dan memberikan kalungan bunga dan sejenisnya.

Alhasil, pagi tadi sekitar pukul 09.00 aku dan rombongan teman-teman sekantor berangkat bersama menuju lokasi penyambutan yang telah disediakan. Kantorku kebagian tempat yang panas, sudah begitu menghadap Timur lagi. Wah, bener-bener ini perjuangan "menyambut" RI 1 nih. Sudah begitu, nunggunya lumayan lama juga dan yang akan "disambut" tak juga lewat.

Setelah sekian lama kepanasan, akhirnya terdengar sirine kendaraan dari kejauhan. Aha... itu dia yang "disambut" datang juga. Segera saja aku dan teman-teman berjajar di sepanjang jalan sambil melambai-lambaikan bendera kecil (hiksss... childish banget ya...?). Di antara banyaknya mobil yang melaju kencang, aku melihat mobil dengan plat nomor Indonesia 1 melaju. Yang tak terduga ... kaca jendela mobil belakang terbuka, dan tampaklah wajah sang RI 1 sedang tersenyum dan melambaikan tangannya.

Sontak aku dan beberapa wanita yang berjejer disebelahku terpekik kegirangan..! Tak diduga beliau bersedia membuka jendela mobilnya.... Padahal pengalamanku waktu SD dulu, waktu sang RI 1 lewat aku tak tahu di mobil yang mana beliau berada. Maklum saja, semua kaca jendela tertutup rapat dan mobil melaju dengan sangat kencangnya, meninggalkan aku dan teman-teman SDku yang bersemangat melambai-lambaikan bendera.

Aku yang kepanasan sedang menunggu RI 1 lewat
(inilah batik khas Pemkot Madiun yang berwarna biru, bagus tidak ?)

Sementara RI 1 yang baru lewat di depanku tadi malah mempertontonkan senyuman dan lambaian tangan. Lumayan juga untuk mengobati rasa lelah dan panas yang telah aku rasakan untuk "menyambut" beliau. Seneng sih, karena beliau telah menghargai upaya kami "menyambut" meskli harus berjemur di siang hari. Atau jangan-jangan beliau tadi tersenyum karena senang melihat kami mengenakan baju batik Khas Pemkot Madiun yang menarik dengan warna biru ya..?

Gairah yang terjadi karena senyuman dan lambaian tangan dari RI 1 tadi mau tak mau membuatku tertawa geli. Padahal hanya sekilas saja senyum dan lambaian tangan tadi terlihat, tapi begitu senengnya kami. Aku jadi ingat dengan keponakanku yang di Pacitan yang telah berkesempatan dirangkul oleh Ibu Negara. Meski telah sedemikian dekat dengan RI 1 dan dirangkul Ibu Negara, keponakanku tidak merasa istimewa. Bahkan dia heran karena banyak orang yang mengucapkan selamat padanya. Tapi tadi siang, ibu-ibu sedemikian hebohnya meski hanya melihat sekilas (dan benar-benar hanya sekilas !) senyum dan lambaian tangan dari RI 1 hehehe.

Saat itu, RI 1 sedang meresmikan rumah pintar di Pacitan dan keponakanku (yang saat itu masih TK kelas B) dtunjuk untuk membacakan surat (dalam bahasa Inggris) dari anak-anak Pacitan untuk sang RI 1. Melihat keberanian dan kepolosan keponakanku, maka RI 1 dan ibu negara malah mengajak keponakanku berdialog dan selanjutnya ibu negara merangkul keponakanku dan bersama membaca surat itu, dengan disaksikan oleh RI 1 yang tersenyum.

Foto keponakanku yang sedang membawa surat dengan dirangkul oleh Ibu Negara

Itulah ceritaku hari ini tentang "menyambut" sang RI 1 di Madiun. Entah kapan lagi Kota Madiun akan didatangi oleh orang nomor 1 di negeri ini.

Menyambut RI 1

Sebagaimana dijadwalkan, RI 1 pada hari Senin dan Selasa (18 dan 19 Januari 2010) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madiun dan Ngawi, Jawa Timur. Serangkaian acara akan diikuti oleh beliau. Selain itu RI 1 dijadwalkan membuka Munas Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) yang diikuti gubernur, bupati serta walikota se-Indonesia. Acara itu digelar di Pendopo Bupati Madiun di Jalan Alun-alun Utara Kota Madiun.

Karena itulah, Beberapa hari ini Kota Madiun (dan sekitarnya) berbenah. Alun-alun dibenahi dan untuk sementara dibersihkan dari para Pedagang Kaki Lima. Aneka macam spanduk dipajang di sudut-sudut kota. Jalan-jalan yang rusak pun tak lupa diperbaiki. Dan yang pasti pengamanan pun diperketat dengan menyiapkan personel sekitar 6.000 personel gabungan TNI dan Polri yang tersebar di Madiun, Ngawi, dan Magetan. Pengamanan dilakukan baik secara terbuka maupun tertutup.


Sabtu kemarin Shasa bercerita kalau gurunya memberi tahu bahwa anak-anak kelas 4 dan kelas 5 yang dipilih untuk "menyambut" RI 1 pada hari Selasa 19 Januari 2010. Tapi Shasa tidak tahu maksud dari "menyambut" itu, terus dimana "menyambut"nya dia juga tidak paham. Sehingga kami mengira-ngira kalau RI 1 akan mampir juga ke sekolah Shasa.

Sementara itu, hari Minggu sore bos-ku mengirimkan SMS bahwa seluruh pegawai diharapkan mengenakan baju Batik Pemkot yang terbaru pada hari Senin, tgl. 18 Januari 2010. Untung saja, perintah yang menyebar lewat SMS itu berhasil juga, karena akhirnya seluruh pegawai Pemkot Madiun mengenakan baju batik khas Pemkot Madiun, meskipun tak jelas mengapa baju itu harus dipakai pada hari Senin. Karena biasanya batik khas Pemkot Madiun hanya dikenakan setiap hari Jum'at.

Jawaban atas pertanyaan itu baru aku dapatkan pagi tadi. Ternyata, pegawai Pemkot Madiun dengan mengenakan baju batiknya, dikerahkan untuk "menyambut" kedatangan RI 1. Menyambut di sini dalam arti, berdiri di sepanjang jalan yang akan dilalui RI 1 dan kemudian "menyambut"nya ketika beliau lewat... dengan cara melambai-lambaikan bendera kecil.

Astaga... apa kira-kira RI 1 menghendaki "sambutan" model begini ? Terakhir kali aku melakukan "sambutan" untuk RI 1 seperti ini dulu waktu aku masih duduk di bangku SD. Waktu itu yang "disambut" adalah RI 1 era Orde Baru. Tapi kini..., setelah sekian puluh tahun berlalu, setelah aku menjadi seorang abdi negara... aku melakukannya lagi..! Benar-benar tak terbayangkan sebelumnya.

Aku jadi berpikir, bahwa mungkin yang dimaksudkan oleh guru Shasa bahwa anak-anak kelas 4 dan kelas 5 dipilih untuk "menyambut" RI 1 dengan cara berdiri di pinggir jalan seperti yang aku lakukan tadi. Padahal bayangan Shasa sebelumnya adalah berdiri berhadapan dengan RI 1 dan memberikan kalungan bunga dan sejenisnya.

Alhasil, pagi tadi sekitar pukul 09.00 aku dan rombongan teman-teman sekantor berangkat bersama menuju lokasi penyambutan yang telah disediakan. Kantorku kebagian tempat yang panas, sudah begitu menghadap Timur lagi. Wah, bener-bener ini perjuangan "menyambut" RI 1 nih. Sudah begitu, nunggunya lumayan lama juga dan yang akan "disambut" tak juga lewat.

Setelah sekian lama kepanasan, akhirnya terdengar sirine kendaraan dari kejauhan. Aha... itu dia yang "disambut" datang juga. Segera saja aku dan teman-teman berjajar di sepanjang jalan sambil melambai-lambaikan bendera kecil (hiksss... childish banget ya...?). Di antara banyaknya mobil yang melaju kencang, aku melihat mobil dengan plat nomor Indonesia 1 melaju. Yang tak terduga ... kaca jendela mobil belakang terbuka, dan tampaklah wajah sang RI 1 sedang tersenyum dan melambaikan tangannya.

Sontak aku dan beberapa wanita yang berjejer disebelahku terpekik kegirangan..! Tak diduga beliau bersedia membuka jendela mobilnya.... Padahal pengalamanku waktu SD dulu, waktu sang RI 1 lewat aku tak tahu di mobil yang mana beliau berada. Maklum saja, semua kaca jendela tertutup rapat dan mobil melaju dengan sangat kencangnya, meninggalkan aku dan teman-teman SDku yang bersemangat melambai-lambaikan bendera.

Aku yang kepanasan sedang menunggu RI 1 lewat
(inilah batik khas Pemkot Madiun yang berwarna biru, bagus tidak ?)

Sementara RI 1 yang baru lewat di depanku tadi malah mempertontonkan senyuman dan lambaian tangan. Lumayan juga untuk mengobati rasa lelah dan panas yang telah aku rasakan untuk "menyambut" beliau. Seneng sih, karena beliau telah menghargai upaya kami "menyambut" meskli harus berjemur di siang hari. Atau jangan-jangan beliau tadi tersenyum karena senang melihat kami mengenakan baju batik Khas Pemkot Madiun yang menarik dengan warna biru ya..?

Gairah yang terjadi karena senyuman dan lambaian tangan dari RI 1 tadi mau tak mau membuatku tertawa geli. Padahal hanya sekilas saja senyum dan lambaian tangan tadi terlihat, tapi begitu senengnya kami. Aku jadi ingat dengan keponakanku yang di Pacitan yang telah berkesempatan dirangkul oleh Ibu Negara. Meski telah sedemikian dekat dengan RI 1 dan dirangkul Ibu Negara, keponakanku tidak merasa istimewa. Bahkan dia heran karena banyak orang yang mengucapkan selamat padanya. Tapi tadi siang, ibu-ibu sedemikian hebohnya meski hanya melihat sekilas (dan benar-benar hanya sekilas !) senyum dan lambaian tangan dari RI 1 hehehe.

Saat itu, RI 1 sedang meresmikan rumah pintar di Pacitan dan keponakanku (yang saat itu masih TK kelas B) dtunjuk untuk membacakan surat (dalam bahasa Inggris) dari anak-anak Pacitan untuk sang RI 1. Melihat keberanian dan kepolosan keponakanku, maka RI 1 dan ibu negara malah mengajak keponakanku berdialog dan selanjutnya ibu negara merangkul keponakanku dan bersama membaca surat itu, dengan disaksikan oleh RI 1 yang tersenyum.

Foto keponakanku yang sedang membawa surat dengan dirangkul oleh Ibu Negara

Itulah ceritaku hari ini tentang "menyambut" sang RI 1 di Madiun. Entah kapan lagi Kota Madiun akan didatangi oleh orang nomor 1 di negeri ini.

Minggu, 17 Januari 2010

Shasa beraksi lagi

Judulnya keren ya..? Hehehe, entah mengapa aku kok tiba-tiba ingin memakai kata-kata itu. Tapi jangan membayangkan 'aksi' yang heboh dulu. Yang ingin aku ceritakan adalah 'aksi' Shasa dalam 'berbisnis' kecil-kecilan... (^_^) Pengen tahu kan...?

Ceritanya berawal waktu Shasa kelas 2 SD, dua tahun yang lalu. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba saja Shasa ingin 'jualan'. Waktu itu, Shasa mencoba untuk mendapatkan uang dari hasil menjual pembatas buku. Meskipun hanya dijual pada teman-teman sekelasnya, aku tetap saja kewalahan. Maklum saja, pembatas buku yang dijual Shasa itu adalah hasil karyaku. Shasa hanya membantuku memasangkan pita kecil pada pembatas buku, sebagai sentuhan akhirnya.

Ini sisa-sisa pembatas buku yang tidak laku terjual (mungkin karena terlalu sederhana), sementara pembatas buku yang lain yang lebih bagus sudah habis terjual


Meskipun sederhana, tapi pekerjaan membuat pembatas buku ~dengan gambar dan warna kertas sesuai pesanan teman-teman Shasa~ ternyata menyita waktuku. Pembatas buku hasil karyaku itu dijual Shasa perlembarnya Rp. 500. Setelah aku kewalahan melayani pesanan teman-teman Shasa, aku minta Shasa menghentikan aksinya. Dan, hasil penjualannya murni menjadi milik Shasa, aku tak dibaginya sepeserpun...! *gemes mode on*

Selanjutnya waktu kelas 3 SD, Shasa punya ide yang lain. Dia ingin menjual gelang, kalung dan cincin dari hasil kerajinan tangannya sendiri. Akhirnya, aku dan suami belanja aneka manik-manik untuk keperluan itu. Berbeda dengan pembatas buku, untuk barang dagangannya kali ini Shasa bisa membuat sendiri dan aku hanya 'ditugasi' untuk mengikat talinya. Untuk dagangannya kali ini Shasa menjualnya dengan harga Rp. 1.500 s/d Rp. 2.500. Dan seperti sebelumnya, hasil penjualan itu diambil Shasa semua untuk ditabungnya.


Ini sisa hasil karya Shasa yang juga tak laku terjual, ternyata banyak yang tidak suka warna manik-manik itu

Sepertinya, setiap tahun Shasa punya ide untuk mendapatkan uang selain dari orang tua dan eyangnya. Karena tahun ini, saat kelas 4 SD, Shasa punya ide baru... yaitu menjual karet penghapus. Anehnya, ide itu selalu muncul setelah Shasa selesai menjalani UTS atau UAS. Mungkin kegiatan itu dilakukan Shasa sebagai sarana refreshing ya ?

Kali ini Shasa tidak perlu membuat sendiri barang dagangannya, karena dia sudah punya banyak sekali karet penghapus. Sejak kecil Shasa memang sudah koleksi karet penghapus, dan mungkin karena bosan, kemudian dia menjualnya kepada teman-teman sekelasnya. Kebetulan, beberapa hari yang lalu aku mengomentari koleksi karet penghapusnya itu mau diapakan setelah berkumpul sekian lama. Jawab Shasa saat itu adalah, " ya nanti kalau sudah bosan, ya dijual to..." Mendengar jawabannya itu aku menjawab, "ya nggak bisa to mbak, wong sudah dibeli kok dijual lagi." Mungkin saja kata-kataku itu menginspirasinya.

Aku dan suami sampai heran kenapa tiba-tiba dia punya ide untuk menjual barang koleksinya. Tapi kami membiarkan saja, apalagi karet penghapus itu memang milik Shasa sendiri. Awalnya Shasa mengambil keuntungan Rp. 500 untuk setiap karet penghapus yang dijualnya. Tapi aku melarangnya. Soalnya harga karet itu waktu aku beli berkisar Rp. 1.000 s/d Rp. 2.500, kalau ditambah 'laba' Rp. 500 jadinya kok kemahalan menurutku. Jadinya, Shasa aku minta tetap menjualnya sesuai dengan harga belinya dulu.



Ini timbunan koleksi karet penghapus Shasa

Campuran (bintang, kerang, hati, bundar, dll)

Tokoh-2 animasi

Biskuit dan sandwich

Permen dan ice cream

Yang dikemas dalam wadah yang cantik

Fashion (baju, sepatu, sandal dan topi)

Telephone

Binatang

Karet penghapus yg bisa dibongkar pasang

Campuran : alat-2 pertukangan, sikat gigi, alat-2 makan, alat tulis, dll

Buah, sayur dan bunga

Paket makanan

Aku saat ini hanya ingin Shasa tidak 'money oriented' dengan mengejar laba sebanyak-banyaknya. Aku mengijinkannya 'beraksi' supaya Shasa punya pengalaman sendiri bahwa untuk mendapatkan uang, perlu usaha dan kerja keras. Bahwa perlu keuletan dalam menjalankan usaha. Aku memang mendukung niat Shasa, sekaligus berupaya menumbuhkan jiwa entrepeneur padanya. Siapa tahu, kelak Shasa bisa menjadi pengusaha yang sukses kan..? Amin.

Itulah koleksi karet penghapus Shasa. Siapa yang ingin beli....?