Selasa, 15 Juni 2010

Eyang Buyut

Alhamdulillah, sampai saat ini Shasa masih bisa mengenal dan mempunyai buyut, walau hanya seorang. Buyut putri ini adalah eyang putri dari suamiku dan ibu dari bapak mertuaku. Saat ini usianya sudah 90 tahun, walau sudah lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, tapi buyut putri sama sekali tidak pikun. Buyut masih punya semangat hidup yang besar, masih mau makan dengan lahap. Hanya saja penglihatan dan pendengarannya sudah jauh berkurang.

Buyut putrinya Shasa ini tinggal di Jombang, tepatnya di Ploso dan selama ini ayah mertuaku rajin mengunjungi buyut putri di Jombang tiap bulannya. Dalam usianya sekarang ini, buyut putri yang dulunya adalah sulung dari 5 bersaudara, kini tinggal mempunyai seorang adik lelaki yang berusia kurang lebih 85 tahun karena Jumat malam kemarin, satu-satunya adik perempuan dari buyut putri meninggal di usia 88 tahun.

Itu sebabnya, Sabtu kemarin kami sekeluarga beserta mertuaku berangkat ke Jombang. Rumah buyut yang meninggal ini berada di Desa Tanjung Wadung, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Berbeda dari rumah buyut putri yang berada di jalan besar (arah menuju Babat Lamongan), semua adik buyut putri (termasuk yang meninggal Jumat kemarin) tinggalnya di desa, tepatnya di Desa Tanjung Wadung, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Dan sebagaimana rumah di desa pada umumnya, rumah adik-adik buyut putri ini berjajar bersebelahan dan hanya buyut putri saja yang tinggal terpisah di 'kota'.

Begitu berbelok dari jalan besar memasuki jalan masuk menuju desa Tanjung Wadung, langsung terasa perubahan suasana dari suasana 'kota' ke suasana 'desa'. Jalan menuju ke Desa Tanjung Wadung tak semuanya mulus, bahkan lebih banyak jalan-jalan yang sudah rusak dan berlubang-lubang. Sehingga bagi yang tak terbiasa melewati jalan itu, jika tak hati-hati bisa jatuh terperosok lubang yang besar dan dalam. Di kanan-kiri jalan masih berdiri rumah-rumah kayu, bahkan pohon bambu banyak berjajar sepanjang jalan.


Sesampainya di rumah buyut, ternyata jenazah sudah dikebumikan. Dari pihak keluarga kami dapat berita bahwa beberapa hari sebelum meninggal, buyut sempat masuk rumah sakit. Dan dari hasil rongent diketahui hal yang mengejutkan, bahwa ternyata selama 88 tahun itu buyut hanya hidup dengan 1 ginjal saja, karena 1 ginjal ternyata tidak berkembang. Alhamdulillah..., dengan hanya 1 ginjal, buyut bisa hidup sehat selama 88 tahun lamanya.

Semula, tak ada yang berani menyampaikan kabar duka itu pada buyut putri, karena takut buyut putri sedih. Namun, akhirnya diputuskan bahwa buyut putri harus tahu berita itu, karena kalau tidak diberitahu pasti buyut putri akan terus menerus menanyakan kabar adik perempuan satu-satunya itu. Alhamdulillah, meskipun sempat sedih atas kematian adiknya, buyut putri bisa menerimanya dengan ikhlas.

Semoga saja Buyut Putri masih diberi kesehatan dan menjalani hari tuanya dengan bahagia diantara anak, cucu dan buyutnya. Amin.....

Senin, 14 Juni 2010

Kegiatan Terbaru Ibu

Semenjak memasuki masa purna tugas (pensiun) pada awal 2001 yang lalu, Ibuku tetap menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Maklum saja, dulu Ibuku sangat aktif, selain bekerja di kantor Ibu juga aktif berorganisasi. Oleh sebab itu, aku tak heran jika pada usia pensiunnya Ibu tetap berusaha mencari banyak kesibukan.

Selain kegiatan arisan PKK RT, Dasa Wisma dan berbagai arisan pensiunan, Ibu juga aktif dalam kegiatan Posyandu Lansia dan Pengajian di kampung kami. Yang tak boleh dilewatkan, disela-sela aktivitasnya sehari-hari, Ibu akan berusaha untuk menjadwalkan waktu 3 hari dalam tiap bulan untuk mengunjungi adikku dan keluarganya yang menetap di Pacitan.

Semua kegiatan itu membuat Ibu tetap semangat dan aktif. Namun rupanya, akhir-akhir ini Ibu memiliki keinginan baru. Ibu ingin menyelenggarakan kursus mengaji gratis di rumah untuk para remaja wanita dan ibu-ibu yang ada di lingkungan kami. Kebetulan di rumah Ibu ada ruangan khusus yang dipergunakan Ibu untuk sholat dan ruangan itu cukup besar, sehingga di ruangan itulah Ibu menyelenggarakan kursus mengaji gratisnya. Sengaja, Ibu tak mengadakan kursus mengaji gratis itu untuk anak-anak karena Ibu tak siap dengan segala kehebohan yang akan timbul jika ada banyak anak berkumpul di rumah Ibu. Maklum saja, selama ini Ibu tak punya asisten rumah tangga dan semua kegiatan rumah tangga sebagian besar dikerjakan sendiri dengan sedikit-sedikit dibantu Bapakku.

Untuk kegiatan kursus mengaji gratis itu, Ibu sudah mengutus salah seorang tetangga untuk mencari 'murid'. Selain itu, Ibu juga sudah memanggil guru mengaji untuk memberikan kursus itu. Semua biaya kursus menjadi tanggungan Ibu, termasuk penyediaan bukunya. Alhamduilillah, pada Bulan Juni 2010 ini kegiatan itu pun dapat dimulai dan berjalan dengan lancar. Ibu tentu saja senang sekali... dan Ibu berharap akan semakin banyak orang yang ikut kegiatan yang diprakarsai Ibu itu.

Alhamdulillah, di usianya yang sekarang, Ibu (66 tahun) dan juga Bapak (70 tahun) masih sehat dan mampu menjalankan berbagai aktivitas. Entah apa lagi kegiatan yang akan diselenggarakan Ibu selanjutnya. Apapun itu, aku senang melihat Ibu dan Bapak dapat menjalani hari tuanya dengan sehat dan gembira, apalagi mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Mohon doa dari sahabat Narablog semua ya.., agar orang tuaku mendapatkan nikmat sehat di sisa usianya. Amin...


Minggu, 13 Juni 2010

Menyikapi rasa kehilangan

Kehilangan putri tercinta, dalam usia yang relatif masih sangat muda, tentu saja membuat hati kedua orang tuanya luluh lantak. Seperti itulah yang aku saksikan pada hari Sabtu pagi kemarin, melalui penayangan di salah satu stasiun televisi itu. Duka yang teramat dalam tampak pada raut muka keluarga Dewi Yull dan Ray Sahetapy atas berpulang Gizcka Putri Agustina Sahetapy, pada  Jumat (11/3/2010) sekitar pukul 03.30 akibat penyakit radang otak.  

Sungguh suatu cobaan yang berat bagi siapa saja yang mengalami hal serupa. Namun, aku menyaksikan betapa Dewi Yull kemudian dapat dengan tegar memberikan keterangan pada pers tentang musibah yang dialaminya tersebut. Kulihat Dewi Yull berusaha untuk tetap tenang dan sesekali berusaha memberikan senyumnya pada insan pers. 

Ya Allah, sungguh aku kagum akan ketegarannya. Dia telah berusaha untuk mengikhlaskan kepergian buah hati tercintanya menghadap pada Sang Khalik. Tanpa menyalahkan siapa-siapa dan memandang musibah itu semata-mata atas kehendakNYA. Bahkan dengan senyum disampaikannya bahwa kini putrinya itu telah tenang dan terbebas dari rasa sakit yang telah dideritanya selama 3 bulan terakhir.

Aku sungguh kagum akan ketenangan Dewi Yull dalam menghadapi kehilangan yang besar dalam hidupnya. Apalagi sudah menjadi pemandangan yang 'biasa' jika orang-orang yang ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh orang-orang tercintanya akan menangis histeris atau bahkan pingsan. Bukan sekali ini aku melihat ketenangan, ketegaran dan keikhlasan Dewi Yull dalam menerima cobaan dari Sang Khalik. Pemandangan yang sama aku saksikan beberapa tahun lalu saat Dewi Yull harus mengikhlaskan bahtera rumah tangganya yang kandas. 

Aku salut sekali padanya atas kepandaiannya mengontrol emosi, atas kesabaran dan keikhlasannya menerima suratan takdir yang digariskan untuknya. Mungkin benar kata Dewi Yull, bahwa Gizca adalah 'guru' dalam hidupnya. Kehadiran Gizka telah mengajarkan banyak hal padanya, seperti kesabaran, keikhlasan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Allah kepadanya. Suatu keahlian yang diperolehnya setelah mengalami 'proses belajar' bertahun-tahun lamanya.

Aku sendiri tak yakin akan mampu bersikap setegar Dewi Yull ketika harus merelakan 'kehilangan' orang-orang yang aku cintai. 

Sabtu, 12 Juni 2010

Berita yang mengejutkan

Maraknya pemberitaan tentang kasus video yang mirip artis itu mau tak mau membuatku khawatir juga. Bagaimana tidak khawatir jika headline (yang ditulis dengan huruf yang sangat besar!) pada hampir semua media cetak adalah berita panas itu. Tayangan di televisi (entah itu berita, infotainment ataupun berita kriminal) semuanya membahas masalah itu. Setiap ganti channel televisi, selalu saja ketemu dengan berita itu.

Namun, maraknya berita panas itu berbanding terbalik dengan sikap diamnya Shasa. Aku yakin pasti dia tahu ada berita itu, karena dia punya mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Yang aku herankan, mengapa Shasa diam saja dan tidak bertanya sama sekali ? Terus terang saja aku khawatir jika sikap diam Shasa adalah karena dia 'tahu' seperti apa berita panas itu. Nah, kalau benar seperti itu kan gawat...

Akhirnya kemarin malam saat Shasa hendak tidur, seperti biasa aku menemaninya di kamarnya. Pada kesempatan itu, aku membulatkan tekad untuk mencari tahu seberapa jauh 'pemahaman' Shasa tentang berita panas tersebut. Akhirnya terjadilah dialog antara seorang Ibu yang khawatir dan seorang anak kelas 4 SD yang cukup besar rasa ingin tahunya, yang kurang lebihnya seperti ini :

Aku bertanya dengan hati-hati,  "Shasa tahu berita tentang Luna Maya dan Ariel yang ramai diberitakan itu ?"

Shasa menjawab pelan sambil menutupi mukanya dengan bantal (mungkin dia malu), "Tahu"

Aku kaget juga meskipun sudah menduganya dan meneruskan pertanyaanku untuk menuntaskan rasa ingin tahuku "Shasa tahunya berita itu seperti apa ?"

Shasa terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata sambil nyengir malu, "Ariel tidur di kasur bareng-bareng dengan banyak artis. Ariel tidak pakai baju. Terus masih ada yang lainnya juga yang belum diberitakan."

Aku makin shock mendengarnya. OMG.., ternyata anak seumuran Shasa pun sudah tahu berita panas tersebut. Hingga aku memutuskan untuk segera meluruskannya.

"Shasa tahu kenapa itu jadi berita sekarang ini ?" tanyaku akhirnya setelah sempat terdiam beberapa saat.

"Kan mereka artis Ma," jawabnya polos.

"Bukan seperti itu. Tapi yang lebih tepatnya apa yang mereka lakukan itu tak baik. Ariel dan Luna kan belum menikah, mereka belum suami istri. Mereka belum boleh berdekatan seperti itu. Orang yang sudah menikah, boleh tinggal satu rumah, baru boleh berdekatan seperti itu. Kalau dalam Islam yang seperti itu belum Muhrimnya."

"Kalau sudah muhrim boleh, Ma?" tanya Shasa.

"Ya boleh," kataku.

Setelah diam sejenak untuk mencari penjelasan yang bisa dimengerti Shasa aku menambahkan, "Seperti kalau kita wudhu, Sha. Jika Mama habis wudhu terus tak sengaja bersenggolan dengan laki-laki lain, wudhu Mama batal. Tapi jika Mama bersenggolan dengan Ayah kan gak apa-apa, karena sudah muhrimnya." jelasku sambil berdoa dalam hati agar apa yang aku sampaikan tidak salah.

"Makanya, kalau Shasa ingin tahu sesuatu lebih baik langsung tanya ke Mama aja ya? Jangan tanya teman-teman Shasa, atau orang lain. Karena mereka belum tentu mengerti, atau mungkin mereka memberikan penjelasan yang salah. Terus, kalau di sekolah ada teman-teman Shasa yang bicara tentang masalah itu, gak usah ikutan bicara ya..? Lebih baik diam saja dan menyingkir" Pesanku pada Shasa.

"Gak ah Ma, aku gak tertarik bicara itu. Mereka bukan idolaku," kata Shasa.

"Oh iya ya.. Idola Shasa kan Vidi Alviano," kataku menggodanya.

Shasa pun tersenyum... Lucu sekali.

Nah.., Shasa bilang dia tak tertarik membicarakannya karena kebetulan saja Ariel dan Luna bukan artis yang diidolakannya. Apakah itu juga sebabnya sehingga banyak remaja atau anak sekolah yang ikutan sibuk membicarakan berita hangat tersebut, bahkan berlomba-lomba mendapatkan rekamannya ? Apa karena mereka mengidolakan artis-artis itu sehingga mereka pun ikutan tertarik ?

Di saat kekagetanku belum juga reda setelah pembicaraan dengan Shasa usai, lagi-lagi aku dapat berita mengagetkan. Mertuaku menelpon dan memberi kabar bahwa adik dari Eyangnya Suamiku (buyutnya Shasa), meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un... Maka, Sabtu ini kami harus segera berangkat ke Jombang. So, aku pun disibukkan dengan persiapan keberangkatan kami. Rencananya, kami baru akan kembali ke Madiun Minggu sore.

Untuk sobat sekalian, maaf jika aku baru bisa kembali berkunjung ke rumah maya kalian pada hari Senin ya. Sementara itu, aku sudah menyiapkan postingan terjadwal untuk hari Minggu sampai Selasa... Jadi, tetap kunjungi aku ya... ?

Jumat, 11 Juni 2010

Belajar kejujuran

Mulai Senin, tanggal 7 sampai dengan 11 Juni 2010 Shasa menjalani Ujian Akhir Semester untuk kenaikan kelas. Dua hari yang lalu, Shasa bercerita padaku tentang seorang temannya yang berbuat curang saat UAS. Kata Shasa, temannya itu sudah mempunyai soal UAS persis seperti yang akan diujikan pada hari itu. Aku tentu saja heran, kok bisa temannya itu mempunyai soal UAS ? Padahal untuk soal-soal untuk UAS itu sama untuk sekolah-sekolah SD dalam satu cabang Dinas Pendidikan. Kata Shasa sih, temannya itu mendapatkan soal itu dari guru lesnya.

Yang menjadi pertanyaan bagiku adalah darimana guru les itu bisa mendapatkan bocoran soal UAS ? Lantas apa motivasi guru les itu memberikan 'bocoran' soal UAS pada murid-murid lesnya. Apakah dia ingin murid-murid lesnya mendapatkan nilai yang memuaskan dalam UAS itu ? Apakah dia ingin mendapatkan 'nama baik' karena berhasil membantu murid-murid lesnya mendapatkan nilai yang baik ?

Apapun alasan guru les itu, aku sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukannya. Bagaimanapun juga, dia telah mengajarkan kecurangan pada murid-muridnya. Dia telah membuat muridnya tak percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Dia bukannya menolong muridnya tapi justru makin menghancurkan muridnya sendiri dengan mengajarkan kecurangan itu. Aku yakin, orang tua dari murid lesnya pasti tak tahu dengan kecurangan itu, karena jika para orang tua tahu tentang tindakan guru les itu, pastilah mereka tak akan mengirimkan anak-anaknya untuk les disana.

Aku hanya bisa berpesan pada Shasa bahwa aku tak suka dengan tindakan yang curang seperti itu. Berbuat curang seperti itu sama saja membohongi diri sendiri dan juga orang lain. Aku tegaskan bahwa berapapun hasil yang diperolehnya saat ulangan akan aku terima karena aku sudah melihat usaha kerasnya dalam belajar. Aku akan sedih sekali jika ternyata Shasa mendapatkan nilai yang baik tapi dengan cara yang curang seperti itu.

Aku berusaha membuat Shasa mengerti bahwa kejujuran itu jauh lebih menyenangkan. Kukatakan juga padanya bahwa jika Shasa selalu jujur, aku akan bisa menolongnya jika dia berada dalam kesulitan. Seperti jika saat dia mendapatkan nilai ulangan yang buruk, maka aku akan tahu bahwa dia belum menguasai pelajaran itu sehingga aku bisa membantunya entah itu dengan cara mengajarinya atau mendaftarkannya ke tempat les. Mendengar semua penjelasanku itu, Alhamdulillah Shasa mengerti.

Dan kemarin Shasa menceritakan perkembangan kasus temannya itu. Rupanya, kemarin ada seorang teman Shasa yang melaporkan kecurangan itu kepada guru wali kelas. Selanjutnya, teman Shasa yang berbuat curang itu dipanggil ke ruang guru dan dia 'diadili' di sana. Keluar dari ruang guru teman Shasa itu hanya bisa menangis, apalagi saat guru wali kelasnya memintanya menyerahkan bocoran soal UAS yang dibawanya hari itu. Teman Shasa itu takut menyerahkannya karena dia sudah diwanti-wanti guru lesnya agar soal itu dikembalikan lagi setelah UAS selesai. Namun karena takut pada guru wali kelasnya, akhirnya bocoran soal itu diserahkan juga.

Semoga kejadian yang menimpa temannya itu dapat menjadi pelajaran bagi Shasa bahwa berbuat curang hanya akan merugikan diri sendiri. Dan semoga saja penjelasanku yang panjang lebar kemarin dapat diingat terus oleh Shasa sehingga dia akan dapat tetap berbuat jujur apapun yang terjadi. Amin.

Terus terang saja, kejadian di atas membuatku berpikir. Aku yakin semua anak ingin dilahirkan pandai. Memang mudah bagi anak-anak yang pandai untuk tetap berlaku jujur dalam ujian. Sementara bagi anak-anak yang kurang pandai, ujian menjadi sangat menakutkan, apalagi jika dibayang-bayangi kekhawatiran tidak naik kelas, ancaman dan tuntutan dari orang tua. Terkadang, bagi anak-anak yang kurang pandai, serajin apapun dia belajar hasil yang diperolehnya tak juga maksimal dan hal itu tentu saja menakutkan.

Dalam kondisi seperti itu keinginan mendapatkan nilai baik menimbulkan godaan untuk berbuat apa saja asal bisa mendapatkan nilai baik. Godaan itu tentu saja sangat berat, namun jika ternyata mereka berani memilih untuk tetap berlaku jujur (dan mendapatkan nilai yang buruk karena mereka tak mampu mengerjakan soal ujian) maka mereka adalah anak-anak yang hebat. Semoga saja keberanian untuk tetap bersikap jujur itu akan terus dibawanya hingga dia dewasa kelak.

Yang patut diperhatikan sekarang adalah meyakini bahwa semua anak itu pandai dan kepandaian itu tidak hanya berkutat pada akademis semata. Inilah waktunya bagi orang tua (dan juga sekolah) untuk mengembangkan kepandaian di bidang lain seperti kepandaian di bidang musik, olah raga, seni dan sebagainya. Sudah banyak bukti bahwa tak hanya anak yang berprestasi di bidang akademis saja yang akan meraih keberhasilan dalam hidup. Justru orang-orang yang kreatif dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kepandaiannya akan menjadi orang-orang yang berhasil dalam hidupnya.