Minggu, 20 Juni 2010

Trio Kusuma

Aku yakin banget kalau nama Trio Macan sudah tak asing lagi bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Tapi..., adakah yang kenal dengan nama Trio Kusuma ? Nah, kalau nama yang kedua ini aku yakin sekali tak ada diantara sobat narablog yang mengenalnya. Kalau begitu, ijinkan aku untuk mengenalkan Trio Kusuma ini ya...?

Konon katanya (eh, katanya siapa ya...?) Kusuma itu berarti bunga, jadi Trio Kusuma ini adalah Trio (tiga) Bunga. Nah, siapakah Trio Kusuma itu ? (Aduh..., dari tadi tanya melulu ya..?). Trio Kusuma ini 'beranggotakan' 3 orang gadis-gadis kecil yang lucu dan imut-imut yaitu : Rara, Shasa dan Salfa. Mereka bertiga ini merupakan cucu dari mertuaku.

Saat ini mertuaku memiliki 3 orang cucu, dari ketiga buah hatinya. Kebetulan..., ketiga cucunya ini semuanya berjenis kelamin perempuan. Yang satu akan naik ke kelas 5 SD, yang satu lagi akan naik ke kelas 2 SD dan satunya lagi baru akan masuk SD pada tahun ini. Nah.., kebayang kan bagaimana seru dan hebohnya kalau ketiga gadis kecil ini berkumpul..? :D

Mengapa dinamakan Trio Kusuma (eh, tanya lagi.. hehehe) ? Jawabannya sederhana saja kok, yaitu : karena ketiganya memiliki nama "kusuma" di dalam nama lengkap mereka. Ada yang memakai nama Kusumaningrum, Kusumaningtyas dan Kusumawardhani. Pokoknya, semua nama mereka mengandung kata "kusuma". Itu sebabnya... mereka pantas mendapat julukan : Trio Kusuma.

Rara, Shasa, Buyut Putri dan Salfa

Ketiganya memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda. Shasa lebih berminat pada buku dan berbakat dalam menulis. Sementara Rara lebih berminat dalam seni tari. Yang terakhir, Salfa lebih berminat dan berbakat dalam menggambar dan menyanyi. Herannya, yang paling hobby memanjat, melompat dan sebagainya justru si Rara yang paling pinter dalam menari. Tapi satu kesamaan mereka adalah.. cerewet banget..! Hehehe...

Sabtu, 19 Juni 2010

Pasar malam

Beberapa hari yang lalu, aku dan suami membayar hutang pada Shasa. Dulu kami menjanjikan bahwa setelah Shasa selesai menjalani Ujian Akhir Semester, kami akan mengajaknya ke Pasar Malam yang kebetulan sedang digelar di kotaku dalam rangka memeriahkan Hari Jadi kotaku. Nah, agar Shasa lebih menikmati acara jalan-jalan ke Pasar Malam itu, kami mengajak Lutfi (sahabat Shasa sejak TK dulu).

Jadilah malam itu kami menjemput Lutfi dulu. Lucunya, ternyata Shasa dan Lutfi memakai kaos yang sama, padahal mereka tak janjian untuk memakai kaos itu lho... Kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi, dan saat mereka jalan berdua (dengan mengenakan baju yang sama), sering dikira anak kembar. Padahal mereka berdua beda banget, Lutfi berkulit putih dan langsing, sementara Shasa berkulit sawo matang dan gendut. Hehehe...

Dari rumah Lutfi kami langsung menuju ke lokasi Pasar Malam. Ternyata, kami datang pas malam terakhir karena esoknya Pasar Malam itu sudah ditutup. Untung saja, jika aku undur sehari saja kepergian kami kesana, maka Shasa pasti akan terus menerus menagih hutangku itu. *lega banget*

Pengunjung Pasar Malam itu ternyata tak terlalu banyak. Mungkin karena permainan yang tersedia juga tak banyak. Sayangnya, aku tak tahu nama-nama permainan itu. Shasa mencoba beberapa permainan bersama Lutfi dengan penuh semangat. Hampir semua permainan yang ada dicobanya, tapi ada satu permainan yang tak jadi dicoba Shasa karena ayahnya tak mengijinkan, yaitu permainan yang masuk ke dalam bola besar yang ada di atas air. *apa ya namanya ? Melihatnya senang dan bahagia seperti itu, aku dan suami pun jadi merasa senang sekali.

Shasa dan Lutfi dengan kaos kembarannya

 Asyik menikmati naik komedi putar

Giliran naik yang ini gak mau turun.. hehehe

Permainan terakhir mereka

 Menunggu makanan tiba... *lapaaarrr*

Alhamdulillah..., malam itu Shasa dan Lutfi dapat bergembira ria setelah selama seminggu penuh menjalani UAS.

Jumat, 18 Juni 2010

Kenapa harus telpon di jalan ?

Pagi tadi, seperti biasa setelah mengikuti kegiatan olah raga Jumat pagi dan kembali ke ruanganku, aku segera memerika handphone. Ternyata benar, ada 1 panggilan tak terjawab di handphone-ku dan setelah aku cek ternyata panggilan itu dari rumah orang tuaku.

Segera saja aku menelpon balik ke rumah orang tuaku untuk mencari tahu ada berita apa yang ingin disampaikan kepadaku. Orang tuaku jarang sekali menelpon pagi-pagi di saat jam kantor, karena orang tuaku tak ingin mengganggu kesibukanku. Makanya itu aku penasaran dan ingin tahu apa yang menyebabkan orang tuaku menelponku pagi-pagi di saat jam kantor sudah dimulai.

Rupanya Bapak yang menelponku tadi. Bapak ingin memintaku untuk mencarikan tukang pijit. Ceritanya, Jumat pagi tadi bapak ingin periksa ke dokter yang tak jauh dari rumah. Seperti biasa, bapak ke dokter dengan naik becak langganan keluarga kami. Saat selesai periksa dan hendak pulang, Bapak dan becak yang dikendarainya tiba-tiba ditabrak pemuda yang mengendarai sepeda motor.

Tabrakan itu menyebabkan becak yang dikendarai Bapak terguling. Pemuda yang menabrak juga terjatuh dari sepeda motor bahkan spion motornya sampai pecah. Namun segera setelah bisa bangkit kembali, pemuda itu kabur dengan motornya meninggalkan Bapak dan tukang becak yang jatuh terguling dari becak.

Alhamdulillah.., Bapak dan tukang becaknya tak mengalami luka serius dan hanya lecet-lecet di beberapa bagian tubuhnya. Tapi karena Bapak merasa seluruh tubuh terasa pegal semua, makanya Bapak ingin dipijit. Masalahnya, cari tukang pijit sekarang makin sulit saja, apalagi untuk orang tua.

Bapak juga bercerita bahwa pemuda yang mengendarai sepeda motor itu memang ngebut. Mungkin saja dia terburu-buru untuk sampai ke sekolah, apalagi saat itu memang jalanan sedang ramai karena berbarengan dengan jam masuk kantor dan masuk sekolah. Masalahnya, pemuda itu tak hanya ngebut di jalanan tapi juga sedang asyik nelpon.! Itu sebabnya perhatiannya terpecah sehingga terjadilah tabrakan itu.

Aku dari dulu paling jengkel jika melihat orang yang sedang mengendarai kendaraan (sepeda/motor/mobil) di jalanan sibuk dengan handphone-nya. Bagiku berkendaraan sambil menelepon saja sudah menyebalkan, apalagi jika ada yang sambil SMS-an di jalan. Duh, seperti orang yang tak punya banyak waktu saja sampai-sampai sambil mengendarai kendaraan pun sibuk dengan handphonenya. Atau jangan-jangan mereka termasuk orang yang sudah tak bisa dipisahkan dari handphone walau hanya semenit saja..?!

Kenapa sih harus telpon di jalan sambil mengendarai kendaraan ? Kenapa tak berhenti dulu atau menunggu sampai di tempat tujuan dulu kalau ingin nelpon ? Apakah mereka tak tahu bahayanya (bagi diri sendiri dan juga orang lain) menggunakan handphone selama di jalan raya ?

Kamis, 17 Juni 2010

Sudahlah

Sudahlah, tak perlu lagi kau katakan padaku
tentang semua kisah yang telah kau lalui
tak guna kau meminta saran dariku
jika tak satupun yang kau turuti

Sudahlah, tak perlu lagi kau mengadu padaku
Jika itu semua maumu
Jika semua itu sudah jadi pilihanmu
Tak guna aku memarahi dan menasehatimu

Aku sudah katakan semua
Aku sudah lakukan segala yang aku bisa
Namun jika kau tak mau mengikutinya
Semuanya jadi sia-sia belaka

Kini lelah telah menderaku
Lakukan semua yang kau mau
Aku tak mau lagi meladenimu
Meski aku sangat prihatin akan hidupmu

Wujud keprihatinan atas seorang sahabat
yang kian jauh terseret kealpaan

Rabu, 16 Juni 2010

Si Tukang Usil

Suamiku bukan orang yang banyak bicara, beda banget dengan aku yang super duper cerewet *tersipu malu*. Aku kalau cerita bisa tak ada habisnya, sementara suamiku lebih banyak diam dan mendengarkan. Yah, mungkin Allah memang menjodohkan kami karena sifat kami yang bertolak belakang itu agar kami saling melengkapi. Coba saja seandainya aku dan suamiku sama-sama cerewet, pasti kami akan berebut bicara dan tak ada yang mendengarkan hehehe...

Selain pendiam, suamiku cenderung lebih santai sementara aku cenderung serius dan ngotot. Aku kurang suka melakukan hal-hal yang menurutku tak perlu, sementara suamiku enjoy aja melakukan hal-hal sepele yang menyenangkan hatinya, salah satunya adalah bersikap usil bin jahil. Yang menjadi korban keusilannya bukan hanya aku (dan Shasa) saja, tapi di kalangan teman-temannya suamiku terkenal sebagai "si usil" hehehe.

Aku ingat sekali suatu peristiwa yang tak akan pernah aku lupakan gara-gara keusilannya. Ceritanya, beberapa tahun yang lalu saat aku masih kuliah, kami mengadakan study tour ke Bandung. Acara itu tentu saja aku sambut dengan suka cita, karena kebetulan suamiku (saat itu dia masih berstatus pacar) kuliah di Bandung. Kesempatan untuk bertemu itu membuatku semangat mengikuti study tour, apalagi dia sudah berjanji untuk menyempatkan diri mengunjungiku di penginapan.

Selama kami berhubungan, tak banyak yang tahu bahwa aku sudah mempunyai pacar. Maklum saja, karena kami menjalani Hubungan Jarak Jauh, jadi teman-teman kuliahku di Yogya tahunya aku masih sendiri. Kalaupun ada yang tahu aku punya pacar, tapi tak ada yang tahu bagaimana dan siapa pacarku itu. Namun bagi beberapa orang sahabat dekatku, sosok pacarku sudah sangat mereka kenal karena beberapa kali dia sudah mengunjungiku di Yogya.

Nah, malam itu (sayang aku lupa tanggalnya) adalah waktu yang kami rencanakan untuk bertemu. Setelah menunggu dengan gelisah, akhirnya dia datang juga ke penginapan ditemani seorang teman lelakinya. Aku terus terang grogi sekali, dan untuk mengurangi rasa grogi aku mengajak salah seorang sahabatku untuk menemani aku menemuinya.

Pertemuan yang tak lama itu mengesankan dan mampu menghapus kerinduanku *ehm*. Saat dia hendak pulang, aku wanti-wanti dia agar sebisa mungkin tak mengundang perhatian teman-teman kuliahku yang lain. Kebetulan, saat dia hendak pulang, pas teman-teman kuliahku mulai berkumpul semua karena mau makan malam. Mauku sih, tak banyak yang memperhatikan kehadirannya karena aku masih malu jika menjadi perhatian teman-teman yang lain karena dikunjungi pacar.

Sayangnya, saat itu keusilannya sedang muncul. Tiba-tiba saja dia berjalan terpincang-pincang dengan menyeret sebelah kakinya. Otomatis, gerakannya itu menarik perhatian semua teman-temanku. Semua mata memandangnya ingin tahu. OMG, aku bisa bayangkan mukaku merah sekali saat itu. Setelah sampai di luar dan dia naik ke motornya, aku menghujaninya dengan cubitan gemas. Sementara temannya hanya bisa tertawa ngakak melihat semua kejadian malam itu.

Benar saja, begitu aku masuk ke dalam penginapan, semua temanku sibuk bertanya tentang lelaki yang baru saja mengunjungiku itu. Saat aku jelaskan kalau dia pacarku, ada beberapa teman yang bertanya mengapa kaki pacarku terpincang-pincang. Aku dongkol dalam hati membayangkan selama di perjalanan pulang dia dan temannya sibuk tertawa karena telah berhasil mengusili aku. *sigh*

Sampai kini, aku masih saja senyum-senyum sendiri setiap mengingat kejadian itu. Selama kami menikah, entah sudah berapa kali aku (dan juga Shasa) menjadi korban keusilannya. Namun, beberapa kali aku berhasil membalas keusilannya. Walaupun aku jarang berbuat usil, tapi selama ini aku hampir selalu berhasil membalas keusilannya.

Banyak orang yang mengatakan bahwa suaraku mirip dengan suara ibuku. Suatu ketika, aku sengaja menelponnya dan mengusilinya dengan menggunakan telepon Ibuku. Aku berpura-pura menjadi Ibuku. Aku memanggilnya dengan nama panggilan dari Ibuku untuknya dan suamiku pun menjawab semuanya dengan menggunakan Bahasa Jawa Halus. Karena tak terbiasa berbuat usil, belum lama aku 'bersandiwara' aku sudah tak kuat menahan tawa. Aku tak kuat menahan geli saat membayangkan suamiku yang berbicara denganku dengan sikap bak 'seorang menantu yang baik'.

Lain waktu, jika suamiku pulang malam dari warung kopi yang ada di komplek perumahan kami aku suka sekali mengusilinya. Biasanya, saat mengetahui dia pulang, aku sengaja bersembunyi di balik korden. Sehingga ketika dia membelakangi korden untuk menutup pintu, dia tak menyadari kehadiranku. Nah, ketika dia berbalik dan melangkah masuk ke ruang tengah aku dengan tiba-tiba akan menjulurkan kepalaku dari balik korden. Kemunculan kepala yang tiba-tiba dari balik korden di malam yang sepi mau tak mau membuatnya kaget setengah mati. Melihatnya kaget setengah mati dan pucat pasi mau tak mau membuatku tertawa kegirangan. *joget-joget*

Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku sekarang sudah keracunan usil dari suamiku. Sebenarnya aku sebel sekali jika penyakit usilnya kambuh, tapi jika dia tak usil... kok aku kangen ya..? Huh, repotnya.... hehehe