Pada hari Sabtu tanggal 10 Juli 2010 yang lalu, sekolah Shasa mengikuti pawai dalam rangka memperingati Rojabiyah 1431 H. Pesertanya antara lain adalah dari siswa-siswa sekolah TK dan SD serta beberapa TPA yang ada di Kota Madiun. Dan keikutsertaan sekolah Shasa kali ini kembali dengan mengirimkan tim drumband-nya.
Tepat pukul 06.30 kami berangkat mengantarkan Shasa ke alun-alun kota. Ternyata alun-alun sudah ramai oleh beberapa peserta pawai. Kami sempat bingung mencari kelompok drumband sekolah Shasa. Setelah mengitari alun-alun sampai 2 kali, akhirnya kami dapat menemukan guru Shasa. Rupanya, teman-teman Shasa baru 2 orang yang datang. Pantas saja, kami kesulitan menemukannya.
Ternyata peserta pawai kali ini tidak banyak. Mungkin karena bertepatan dengan liburan sekolah, sehingga banyak sekolah yang tak dapat mengikuti karena siswa-siswanya masih berlibur di luar kota. Atau mungkin juga karena kurangnya publikasi sehingga tak banyak peserta yang mendaftar. Total peserta pawai tak sampai 50 kelompok (baik dari sekolah maupun dari TPA).
Sayangnya, anggota drumband Shasa kali ini tidak hadir tepat waktu. Padahal undangan yang diberikan pihak sekolah kepada seluruh anggota drumband sudah menyebutkan bahwa peserta diharap sudah berkumpul di alun-alun pada pukul 07.00. Namun, sampai waktu yang ditentukan, yang terkumpul baru sekitar 1/3 peserta drumband.
Baru kurang lebih pukul 07.30 kelompok drumband sekolah Shasa siap untuk berpawai. Itu saja ada kurang lebih 4-5 anak yang tidak hadir, karena mungkin masih berlibur di kota lain. Akhirnya, setelah menunggu cukup lama seluruh anggota tim drumband siap dan tim drumband sekolah Shasa dapat beraksi kembali.
Sayangnya, pawai Rojabiyah kali ini dapat dikatakan kurang sukses. Mungkin karena publikasi kepada masyarakat sangat kurang, maka sepanjang jalan yang dilewati peserta pawai, tak banyak penontonnya. Bahkan bisa dikatakan, hampir tak ada penonton yang sengaja datang untuk menonton. Seolah-olah peserta pawai itu menghibur orang-orang yang kebetulan lalu lalang di jalan yang dilewati pawai. Sepinya penonton membuat peserta pawai jadi kurang bersemangat dalam mengikuti pawai kali ini.
Selain itu, jalan-jalan yang dilewati tidak ditutup dari kendaraan umum. Sehingga, peserta pawai terganggu dengan kendaraan yang lalu lalang di jalan-jalan yang mereka lewati. Bahkan, saat hampir mencapai finish, kemacetan terjadi. Maklum saja, garis finishnya adalah di sebuah jalan protokol di kota kami dan tidak ditutup dari kendaraan umum. Berita yang aku dengar, bahwa pihak penyelenggara belum mengadakan koordinasi sebelumnya dengan pihak-pihak terkait tentang penutupan jalan-jalan itu.
Yah, setidaknya dalam pawai kali ini Shasa belajar tentang arti kebersamaan dan kekompakan dalam suatu kelompok. Karena kurang tertibnya anggota kelompok drumband sekolah Shasa mengganggu anggota lain yang telah tertib datang sesuai dengan ketentuan. Tanpa anggota yang lengkap, maka kelompok drumband itu tak akan bisa jalan. Sebagus apapun Shasa dalam memainkan alat musiknya, tapi tanpa dukungan dari anggota kelompok yang lain maka penampilan Shasa tak akan bisa dibilang bagus.
Tepat pukul 06.30 kami berangkat mengantarkan Shasa ke alun-alun kota. Ternyata alun-alun sudah ramai oleh beberapa peserta pawai. Kami sempat bingung mencari kelompok drumband sekolah Shasa. Setelah mengitari alun-alun sampai 2 kali, akhirnya kami dapat menemukan guru Shasa. Rupanya, teman-teman Shasa baru 2 orang yang datang. Pantas saja, kami kesulitan menemukannya.
Ternyata peserta pawai kali ini tidak banyak. Mungkin karena bertepatan dengan liburan sekolah, sehingga banyak sekolah yang tak dapat mengikuti karena siswa-siswanya masih berlibur di luar kota. Atau mungkin juga karena kurangnya publikasi sehingga tak banyak peserta yang mendaftar. Total peserta pawai tak sampai 50 kelompok (baik dari sekolah maupun dari TPA).
Sayangnya, anggota drumband Shasa kali ini tidak hadir tepat waktu. Padahal undangan yang diberikan pihak sekolah kepada seluruh anggota drumband sudah menyebutkan bahwa peserta diharap sudah berkumpul di alun-alun pada pukul 07.00. Namun, sampai waktu yang ditentukan, yang terkumpul baru sekitar 1/3 peserta drumband.
Baru kurang lebih pukul 07.30 kelompok drumband sekolah Shasa siap untuk berpawai. Itu saja ada kurang lebih 4-5 anak yang tidak hadir, karena mungkin masih berlibur di kota lain. Akhirnya, setelah menunggu cukup lama seluruh anggota tim drumband siap dan tim drumband sekolah Shasa dapat beraksi kembali.
Sayangnya, pawai Rojabiyah kali ini dapat dikatakan kurang sukses. Mungkin karena publikasi kepada masyarakat sangat kurang, maka sepanjang jalan yang dilewati peserta pawai, tak banyak penontonnya. Bahkan bisa dikatakan, hampir tak ada penonton yang sengaja datang untuk menonton. Seolah-olah peserta pawai itu menghibur orang-orang yang kebetulan lalu lalang di jalan yang dilewati pawai. Sepinya penonton membuat peserta pawai jadi kurang bersemangat dalam mengikuti pawai kali ini.
Selain itu, jalan-jalan yang dilewati tidak ditutup dari kendaraan umum. Sehingga, peserta pawai terganggu dengan kendaraan yang lalu lalang di jalan-jalan yang mereka lewati. Bahkan, saat hampir mencapai finish, kemacetan terjadi. Maklum saja, garis finishnya adalah di sebuah jalan protokol di kota kami dan tidak ditutup dari kendaraan umum. Berita yang aku dengar, bahwa pihak penyelenggara belum mengadakan koordinasi sebelumnya dengan pihak-pihak terkait tentang penutupan jalan-jalan itu.
Yah, setidaknya dalam pawai kali ini Shasa belajar tentang arti kebersamaan dan kekompakan dalam suatu kelompok. Karena kurang tertibnya anggota kelompok drumband sekolah Shasa mengganggu anggota lain yang telah tertib datang sesuai dengan ketentuan. Tanpa anggota yang lengkap, maka kelompok drumband itu tak akan bisa jalan. Sebagus apapun Shasa dalam memainkan alat musiknya, tapi tanpa dukungan dari anggota kelompok yang lain maka penampilan Shasa tak akan bisa dibilang bagus.






