Aku melihatnya sebagai seseorang yang berhasil dalam karir dan keluarga. Dia yang dulu kukenal sebagai anak yang pemalu telah tumbuh sebagai seorang wanita dewasa yang mempesona. Karirnya di suatu perusahaan swasta sudah sangat mapan. Gajinya sudah jauh di atas kata cukup untuk menghidupi dirinya dan keluarganya di suatu kota metropolitan di tanah air kita tercinta. Suaminya (yang dulunya berasal dari suatu kampung di suatu tempat di Indonesia) pun tak kalah suksesnya. Bahkan sang suami sudah sangat mapan dalam pekerjaannya dan menikmati gaji (dalam bentuk dolar) yang tidak bisa dikatakan sedikit.
Siapapun yang melihat mereka akan sepakat bahwa merekalah pasangan suami istri yang berhasil dalam karirnya. Meskipun telah berumah tangga sekian tahun lamanya dan belum juga dikaruniai buah hati, toh cinta di antara mereka tak kelihatan meredup. Terlihat sekali mereka memiliki cinta yang sangat besar satu sama lain. Selama memungkinkan, mereka selalu pergi kemanapun berdua.
Siapapun yang melihat mereka akan sepakat bahwa merekalah pasangan suami istri yang berhasil dalam karirnya. Meskipun telah berumah tangga sekian tahun lamanya dan belum juga dikaruniai buah hati, toh cinta di antara mereka tak kelihatan meredup. Terlihat sekali mereka memiliki cinta yang sangat besar satu sama lain. Selama memungkinkan, mereka selalu pergi kemanapun berdua.
Rumah mewah 3 lantai bergaya Eropa hanya didiami mereka berdua beserta 2 orang pembantu, seorang sopir dan seorang tukang kebun. Dua buah mobil mewah berjajar di garasi, siap mengantarkan sang majikan melakukan aktivitas harian mereka. Siapapun pasti akan iri dengan kesuksesan dan besarnya cinta yang menaungi mereka berdua.
Hingga suatu kali dia datang padaku untuk menceritakan sebuah kisah tentang perjalanan cintanya. Dia memang wanita mempesona dan saat bicara pun aku dibuatnya terpesona. Diceritakannya, bahwa dia menikah dengan suaminya atas dasar cinta yang sangat besar diantara mereka berdua. Untuk itu, sang suami rela melepaskan kepercayaan lamanya dan mengikuti kepercayaan yang dianutnya. Awal-awal perkawinan mereka lalui dengan sangat sempurna. Namun belum terlalu lama mengarungi bahtera rumah tangga sang suami terlihat sangat gelisah. Setelah dilakukan pembicaraan dari hati ke hati, akhirnya sang suami bercerita bahwa hati nuraninya menjadi seringkali gelisah semenjak meninggalkan kepercayaannya.
Dilema melingkupi mereka berdua. Sang suami ingin kembali kepada kepercayaan lamanya, namun dia bimbang karena dalam kepercayaan lamanya diajarkan bahwa suami istri haruslah dalam satu keimanan. Jika mereka tidak berada dalam satu keimanan, maka mereka tidak sah melakukan hubungan suami istri. Namun jika suaminya tetap bertahan pada kepercayaan yang sama dengan istrinya, hatinya senantiasa gelisah dan tidak tenang.
Diskusi terus menerus mereka lakukan. Dialog dengan pemuka agama juga tidak mereka tinggalkan. Dilema yang sangat membelenggu mereka, apalagi mereka berdua sangat dalam mencintai satu sama lain. Akhirnya.., keputusan diambil olehnya. Ia mengijinkan suaminya kembali kepada kepercayaan lamanya. Dan semenjak hari dimana sang suami mengikrarkan diri kembali pada kepercayaan lamanya, mereka tidur berpisah kamar. Mereka menjalani malam-malam sepi mereka dalam istana cinta mereka yang megah.
Hal itulah yang menyebabkan mereka berdua belum juga dikarunai buah hati hingga kini. Namun begitu..., mereka tetap bertahan hidup berdua sebagai 'suami istri'. Cinta mereka yang sangat besar tak mampu membuat mereka mengambil keputusan lain selain keputusan yang telah mereka jalani selama ini.
Aku sendiri tak mampu berkata-kata mendengar ceritanya yang mempesona itu. Mereka telah meng-atas nama-kan cinta di atas segalanya. Mereka telah memilih untuk tetap bertahan... atas nama cinta. Bagaimana menurut sahabat semua ?


