Selasa, 18 Agustus 2009

Atas nama cinta


Aku melihatnya sebagai seseorang yang berhasil dalam karir dan keluarga. Dia yang dulu kukenal sebagai anak yang pemalu telah tumbuh sebagai seorang wanita dewasa yang mempesona. Karirnya di suatu perusahaan swasta sudah sangat mapan. Gajinya sudah jauh di atas kata cukup untuk menghidupi dirinya dan keluarganya di suatu kota metropolitan di tanah air kita tercinta. Suaminya (yang dulunya berasal dari suatu kampung di suatu tempat di Indonesia) pun tak kalah suksesnya. Bahkan sang suami sudah sangat mapan dalam pekerjaannya dan menikmati gaji (dalam bentuk dolar) yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Siapapun yang melihat mereka akan sepakat bahwa merekalah pasangan suami istri yang berhasil dalam karirnya. Meskipun telah berumah tangga sekian tahun lamanya dan belum juga dikaruniai buah hati, toh cinta di antara mereka tak kelihatan meredup. Terlihat sekali mereka memiliki cinta yang sangat besar satu sama lain. Selama memungkinkan, mereka selalu pergi kemanapun berdua.

Rumah mewah 3 lantai bergaya Eropa hanya didiami mereka berdua beserta 2 orang pembantu, seorang sopir dan seorang tukang kebun. Dua buah mobil mewah berjajar di garasi, siap mengantarkan sang majikan melakukan aktivitas harian mereka. Siapapun pasti akan iri dengan kesuksesan dan besarnya cinta yang menaungi mereka berdua.

Hingga suatu kali dia datang padaku untuk menceritakan sebuah kisah tentang perjalanan cintanya. Dia memang wanita mempesona dan saat bicara pun aku dibuatnya terpesona. Diceritakannya, bahwa dia menikah dengan suaminya atas dasar cinta yang sangat besar diantara mereka berdua. Untuk itu, sang suami rela melepaskan kepercayaan lamanya dan mengikuti kepercayaan yang dianutnya. Awal-awal perkawinan mereka lalui dengan sangat sempurna. Namun belum terlalu lama mengarungi bahtera rumah tangga sang suami terlihat sangat gelisah. Setelah dilakukan pembicaraan dari hati ke hati, akhirnya sang suami bercerita bahwa hati nuraninya menjadi seringkali gelisah semenjak meninggalkan kepercayaannya.

Dilema melingkupi mereka berdua. Sang suami ingin kembali kepada kepercayaan lamanya, namun dia bimbang karena dalam kepercayaan lamanya diajarkan bahwa suami istri haruslah dalam satu keimanan. Jika mereka tidak berada dalam satu keimanan, maka mereka tidak sah melakukan hubungan suami istri. Namun jika suaminya tetap bertahan pada kepercayaan yang sama dengan istrinya, hatinya senantiasa gelisah dan tidak tenang.

Diskusi terus menerus mereka lakukan. Dialog dengan pemuka agama juga tidak mereka tinggalkan. Dilema yang sangat membelenggu mereka, apalagi mereka berdua sangat dalam mencintai satu sama lain. Akhirnya.., keputusan diambil olehnya. Ia mengijinkan suaminya kembali kepada kepercayaan lamanya. Dan semenjak hari dimana sang suami mengikrarkan diri kembali pada kepercayaan lamanya, mereka tidur berpisah kamar. Mereka menjalani malam-malam sepi mereka dalam istana cinta mereka yang megah.

Hal itulah yang menyebabkan mereka berdua belum juga dikarunai buah hati hingga kini. Namun begitu..., mereka tetap bertahan hidup berdua sebagai 'suami istri'. Cinta mereka yang sangat besar tak mampu membuat mereka mengambil keputusan lain selain keputusan yang telah mereka jalani selama ini.

Aku sendiri tak mampu berkata-kata mendengar ceritanya yang mempesona itu. Mereka telah meng-atas nama-kan cinta di atas segalanya. Mereka telah memilih untuk tetap bertahan... atas nama cinta. Bagaimana menurut sahabat semua ?

Atas nama cinta


Aku melihatnya sebagai seseorang yang berhasil dalam karir dan keluarga. Dia yang dulu kukenal sebagai anak yang pemalu telah tumbuh sebagai seorang wanita dewasa yang mempesona. Karirnya di suatu perusahaan swasta sudah sangat mapan. Gajinya sudah jauh di atas kata cukup untuk menghidupi dirinya dan keluarganya di suatu kota metropolitan di tanah air kita tercinta. Suaminya (yang dulunya berasal dari suatu kampung di suatu tempat di Indonesia) pun tak kalah suksesnya. Bahkan sang suami sudah sangat mapan dalam pekerjaannya dan menikmati gaji (dalam bentuk dolar) yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Siapapun yang melihat mereka akan sepakat bahwa merekalah pasangan suami istri yang berhasil dalam karirnya. Meskipun telah berumah tangga sekian tahun lamanya dan belum juga dikaruniai buah hati, toh cinta di antara mereka tak kelihatan meredup. Terlihat sekali mereka memiliki cinta yang sangat besar satu sama lain. Selama memungkinkan, mereka selalu pergi kemanapun berdua.

Rumah mewah 3 lantai bergaya Eropa hanya didiami mereka berdua beserta 2 orang pembantu, seorang sopir dan seorang tukang kebun. Dua buah mobil mewah berjajar di garasi, siap mengantarkan sang majikan melakukan aktivitas harian mereka. Siapapun pasti akan iri dengan kesuksesan dan besarnya cinta yang menaungi mereka berdua.

Hingga suatu kali dia datang padaku untuk menceritakan sebuah kisah tentang perjalanan cintanya. Dia memang wanita mempesona dan saat bicara pun aku dibuatnya terpesona. Diceritakannya, bahwa dia menikah dengan suaminya atas dasar cinta yang sangat besar diantara mereka berdua. Untuk itu, sang suami rela melepaskan kepercayaan lamanya dan mengikuti kepercayaan yang dianutnya. Awal-awal perkawinan mereka lalui dengan sangat sempurna. Namun belum terlalu lama mengarungi bahtera rumah tangga sang suami terlihat sangat gelisah. Setelah dilakukan pembicaraan dari hati ke hati, akhirnya sang suami bercerita bahwa hati nuraninya menjadi seringkali gelisah semenjak meninggalkan kepercayaannya.

Dilema melingkupi mereka berdua. Sang suami ingin kembali kepada kepercayaan lamanya, namun dia bimbang karena dalam kepercayaan lamanya diajarkan bahwa suami istri haruslah dalam satu keimanan. Jika mereka tidak berada dalam satu keimanan, maka mereka tidak sah melakukan hubungan suami istri. Namun jika suaminya tetap bertahan pada kepercayaan yang sama dengan istrinya, hatinya senantiasa gelisah dan tidak tenang.

Diskusi terus menerus mereka lakukan. Dialog dengan pemuka agama juga tidak mereka tinggalkan. Dilema yang sangat membelenggu mereka, apalagi mereka berdua sangat dalam mencintai satu sama lain. Akhirnya.., keputusan diambil olehnya. Ia mengijinkan suaminya kembali kepada kepercayaan lamanya. Dan semenjak hari dimana sang suami mengikrarkan diri kembali pada kepercayaan lamanya, mereka tidur berpisah kamar. Mereka menjalani malam-malam sepi mereka dalam istana cinta mereka yang megah.

Hal itulah yang menyebabkan mereka berdua belum juga dikarunai buah hati hingga kini. Namun begitu..., mereka tetap bertahan hidup berdua sebagai 'suami istri'. Cinta mereka yang sangat besar tak mampu membuat mereka mengambil keputusan lain selain keputusan yang telah mereka jalani selama ini.

Aku sendiri tak mampu berkata-kata mendengar ceritanya yang mempesona itu. Mereka telah meng-atas nama-kan cinta di atas segalanya. Mereka telah memilih untuk tetap bertahan... atas nama cinta. Bagaimana menurut sahabat semua ?

Senin, 17 Agustus 2009

Hanya sesaat

Hari ini adalah perayaan kemerdekaan ke-64 Republik Indonesia. Gegap gempita dan kemeriahan perayaannya bergaung dimana-mana. Rakyat larut dalam suasana suka cita. Tapi tunggu dulu..., ternyata belum semuanya bergembira. Terselip di antara mereka, ada beberapa orang yang menatap hampa pada kemeriahan suasana, merasa bukan bagian dari orang-orang yang merayakan 'kemerdekaan'.

Diantara orang-orang itu, ada pula sedikit orang yang harusnya bersuka cita karena mereka punya arti penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Ya.., merekalah kaum veteran kita. Mereka adalah orang-orang yang telah menyumbangkan tenaganya secara aktif atas dasar sukarela dalam ikatan kesatuan bersenjata baik resmi maupun kelaskaran dalam memperjuangkan, membela dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lantas mengapa mereka, kaum veteran itu, tak turut larut dalam gegap gempita perayaan kemerdekaan ? Mungkin jawabnya adalah karena tak semua veteran mampu menikmati kemerdekaan yang mereka perjuangkan. Sebagian dari mereka sampai saat ini masih sibuk berjuang mempertahankan kehidupan mereka.

Gambar diambil dari sini


Beberapa hari ini, berbagai media, baik cetak maupun elektronik, silih berganti menampilkan profil-profil veteran Indonesia. Sungguh miris saat mengetahui bahwa mayoritas Veteran Indonesia ternyata kini hidup dalam keterbatasan. Dalam berbagai media itu digambarkan betapa keras dan sulitnya hidup mereka kini. Pengetahuanku tentang mereka memang tidak banyak. Namun dari beberap media kudapat informasi bahwa tak semua veteran menerima uang pensiun dari negara, kalaupun ada yang menerima uang pensiun, itupun jumlahnya juga tidak terlalu besar. Selain itu dana tunjangan kehormatan bagi veteran Indonesia jumlahnya juga tidak terlalu besar. Sehingga wajar bila kehidupan para veteran itu jauh dari kata layak.

Sebagaimana yang diberitakan, para veteran kebanyakan hidup dalam rumah-rumah petak. Di antara mereka banyak yang melakukan kerja apa saja untuk menyambung hidupnya. Seperti misalnya sebagai pembantu pendorong gerobag, tukang parkir, pemulung dan lain-lain. Rasanya sulit untuk percaya.., namun itulah gambaran yang saat ini aku tangkap tentang kehidupan mereka.

Mengenang nasib kaum veteran Indonesia memang menyedihkan. Jasa-jasa mereka terhadap bangsa dan negara tak perlu diragukan lagi. Namun, keberadaan mereka hanya kita ingat saat-saat tertentu saja. Biasanya, mereka diingat dan dibicarakan pada Perayaan Kemerdekaan Indonesia. Hanya sesaat..., setelah itu terlupakan. Seperti saat ini aku sedang membicarakan tentang tertinggalnya para veteran dari kemeriahan dan gegap gempita kemerdekaan.., namun sesaat kemudian aku pun melupakannya.... Akankah kita mampu mengenang keberadaan mereka setiap saat dan bukan hanya sesaat saja ?

Semoga kita tak akan pernah lupa pepatah bijak berikut ini : "Bangsa yang besar adalah bangsa yang yang menghormati jasa para pahlawannya". Semoga gegap gempita kemerdekaan ini mampu dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia selamanya.., dan bukan hanya sesaat saja. Amin....

Hanya sesaat

Hari ini adalah perayaan kemerdekaan ke-64 Republik Indonesia. Gegap gempita dan kemeriahan perayaannya bergaung dimana-mana. Rakyat larut dalam suasana suka cita. Tapi tunggu dulu..., ternyata belum semuanya bergembira. Terselip di antara mereka, ada beberapa orang yang menatap hampa pada kemeriahan suasana, merasa bukan bagian dari orang-orang yang merayakan 'kemerdekaan'.

Diantara orang-orang itu, ada pula sedikit orang yang harusnya bersuka cita karena mereka punya arti penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Ya.., merekalah kaum veteran kita. Mereka adalah orang-orang yang telah menyumbangkan tenaganya secara aktif atas dasar sukarela dalam ikatan kesatuan bersenjata baik resmi maupun kelaskaran dalam memperjuangkan, membela dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lantas mengapa mereka, kaum veteran itu, tak turut larut dalam gegap gempita perayaan kemerdekaan ? Mungkin jawabnya adalah karena tak semua veteran mampu menikmati kemerdekaan yang mereka perjuangkan. Sebagian dari mereka sampai saat ini masih sibuk berjuang mempertahankan kehidupan mereka.

Gambar diambil dari sini


Beberapa hari ini, berbagai media, baik cetak maupun elektronik, silih berganti menampilkan profil-profil veteran Indonesia. Sungguh miris saat mengetahui bahwa mayoritas Veteran Indonesia ternyata kini hidup dalam keterbatasan. Dalam berbagai media itu digambarkan betapa keras dan sulitnya hidup mereka kini. Pengetahuanku tentang mereka memang tidak banyak. Namun dari beberap media kudapat informasi bahwa tak semua veteran menerima uang pensiun dari negara, kalaupun ada yang menerima uang pensiun, itupun jumlahnya juga tidak terlalu besar. Selain itu dana tunjangan kehormatan bagi veteran Indonesia jumlahnya juga tidak terlalu besar. Sehingga wajar bila kehidupan para veteran itu jauh dari kata layak.

Sebagaimana yang diberitakan, para veteran kebanyakan hidup dalam rumah-rumah petak. Di antara mereka banyak yang melakukan kerja apa saja untuk menyambung hidupnya. Seperti misalnya sebagai pembantu pendorong gerobag, tukang parkir, pemulung dan lain-lain. Rasanya sulit untuk percaya.., namun itulah gambaran yang saat ini aku tangkap tentang kehidupan mereka.

Mengenang nasib kaum veteran Indonesia memang menyedihkan. Jasa-jasa mereka terhadap bangsa dan negara tak perlu diragukan lagi. Namun, keberadaan mereka hanya kita ingat saat-saat tertentu saja. Biasanya, mereka diingat dan dibicarakan pada Perayaan Kemerdekaan Indonesia. Hanya sesaat..., setelah itu terlupakan. Seperti saat ini aku sedang membicarakan tentang tertinggalnya para veteran dari kemeriahan dan gegap gempita kemerdekaan.., namun sesaat kemudian aku pun melupakannya.... Akankah kita mampu mengenang keberadaan mereka setiap saat dan bukan hanya sesaat saja ?

Semoga kita tak akan pernah lupa pepatah bijak berikut ini : "Bangsa yang besar adalah bangsa yang yang menghormati jasa para pahlawannya". Semoga gegap gempita kemerdekaan ini mampu dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia selamanya.., dan bukan hanya sesaat saja. Amin....

Sabtu, 15 Agustus 2009

Cerita dari jalan raya


Kemarin pagi saat perjalanan menuju ke kantor hatiku terasa sangat tidak nyaman. Penyebabnya adalah kecelakaan lalu lintas yang aku saksikan. Sebagai akibatnya hatiku berdebar-debar dalam waktu yang lumayan lama. Selain itu ingatan akan kejadian pagi itu tak mudah aku hapuskan dari ingatanku.

Kemarin pagi, pada suatu jalan yang sempit dan macet karena banyaknya kendaraan yang lalu lalang, kecelakaan itu tak mampu terelakkan. Entah apa sebabnya dan siapa yang salah pada awalnya aku tak tahu. Yang terlihat padaku saat itu adalah sebuah mobil kijang yang mendorong sebuah sepeda yang dikendarai seorang anak sekolah. Sepeda itu sampai menabrak pohon. Melihat hal itu si pengendara mobil berusaha untuk menginjak rem dengan tiba-tiba.

Yang terjadi kemudian adalah sepeda motor yang persis di belakangnya menabrak bagian belakang mobil kijang itu. Untung saja pengendara sepeda motor cukup sigap sehingga tak sampai terjatuh dari motornya. Yang penting adalah tak ada yang terluka dari kejadian tersebut. Mungkin karena kondisi jalan yang macet itulah, maka mobil itu pun tak melaju kencang, sehingga saat terdorong olehnya sepeda itu tak sampai membuat pengendaranya terluka.

Ini bukan kali pertama aku melihat kejadian seperti itu. Bahkan pernah aku melihat kejadian yang lebih 'parah' dimana korban kecelakaan lalu lintas sampai jatuh dan berdarah-darah. Beberapa teman juga banyak yang telah mengalami kecelakaan lalu lintas. Ada temanku yang sampai harus kehilangan keempat gigi depannya dalam kecelakaan, ada yang lengan kanannya sampai patah dan dipasangi pen. Ada juga yang suami/istrinya teman-temanku sampai harus di rawat di rumah sakit akibat kecelakaan lalu lintas.

Banyaknya kendaraan di jalan raya disertai dengan minimnya etika berlalu lintas seringkali menjadi penyebab terjadinya kecelakaan itu. Seringkali kulihat remaja-remaja mengendarai motor dengan sangat kencangnya. Mungkin mereka sedang ingin 'pamer' bahwa mereka mampu mengendarai motor dengan kencang, bahwa mereka tidak takut di jalan raya. Sebagai akibatnya, orang-orang yang sebenarnya sudah berhati-hati dalam berkendaraan menjadi korban aksi remaja-remaja yang suka ngebut itu.

Terus terang, karena kondisi jalan raya yang sudah semakin crowded itu membuat nyaliku semakin kecil. Aku kehilangan kepercayaan diri untuk mengendarai motor sendiri. Apalagi ditambah dengan kondisiku yang sekarang jadi gampang berdebar-debar setiap kali mendengar suara klakson dan knalpot yang keras. Kondisi seperti itu membuatku stress sehingga aku jadi sulit berkonsentrasi di jalan raya. Melihatku seperti itu, suamiku tak lagi mengijinkan aku mengendarai motor sendiri. Sehingga, kini suamiku yang bertindak selaku sopir dan mengantarkanku dan Shasa kemana-mana.

Suamiku pun setiap pagi, saat berangkat kantor sekaligus mengantarkan Shasa ke sekolah, selalu memilih naik mobil. Alasannya adalah jalan raya di waktu pagi hari adalah yang paling crowded, sehingga lebih aman jika kami pergi bersama dalam mobil. Dengan menggunakan mobil, maka kami tak mungkin untuk berzig-zag di jalan raya saat kondisi sedang macet. Suamiku sendiri tak suka mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Karena sekarang kemana-mana aku diantarkan oleh suamiku, maka kendaraan dinas roda dua yang selama ini diserahkan kepadaku tak terpakai lagi. Suamiku pun tak berani memakainya sembarangan, karena itu adalah kendaraan dinasku. Akhirnya, aku dan suamiku mengambil keputusan untuk menyerahkan kembali kendaraan dinas roda dua tersebut ke kantorku. Pertimbanganku, jika kendaraan dinas itu aku kembalikan, maka akan lebih bermanfaat untuk kelancaran tugas di kantor, sementara jika tetap berada di rumahku, maka motor itu tiap harinya hanya kami panasi saja tanpa pernah dipakai. Syukurlah, akhirnya pimpinan kantorku menerimanya dan motor itu kini dipakai oleh temanku yang lain.

Kini aku telah merasa lebih lega, karena tak lagi punya 'tanggungan' kendaraan dinas di rumah. Selain itu, aku merasa lebih aman dan nyaman berada di jalan raya bersama suamiku, daripada aku sendiri. Walaupun begitu, masih ada harapan di hatiku agar suatu saat nanti kendaraan jalan raya di kotaku dapat menjadi lebih tertib dan aman, sehingga aku berani kembali berkendaraan sendiri. Apakah harapanku ini akan terwujud ya ? Hanya Allah yang mengetahui jawabannya........

Gambar diambil dari sini.