Kerumunan wartawan itu masih saja mengejar sang public figure, untuk mendapatkan penjelasan. Meskipun sang public figure berusaha untuk mengelak, tapi para wartawan pantang menyerah. Dan, kalau sang public figure tidak sabar, maka akan terjadi 'kekerasan' yang dilakukan oleh sang public figure. Tentu saja hal ini akan menjadi berita besar.
Aku bayangkan betapa beratnya kehidupan seorang public figure yang selalu disorot oleh banyak orang. Segala sepak terjangnya menjadi pembicaraan. Segala gerak geriknya diamati dan dinilai. Apapun perkataannya didengarkan banyak orang. Mereka nyaris tak punya ruang untuk diri sendiri bersembunyi. Sungguh melelahkan.
Demi menjaga image baik, mereka seringkali harus melupakan kekesalan di hati saat tampil di depan umum. Menyimpan rapat-rapat persoalan kehidupan mereka dan menggantinya dengan senyuman terindah. Bahkan bila perlu mereka tak sungkan berbohong untuk menutupi hal-hal buruk yang sedang mereka alami. Terkadang, demi tetap mendapatkan predikat "baik" maka mereka rela mengesampingkan perasaannya sendiri dan mengikuti apa kata orang lain.
Seringkali kita dibuat terkejut jika tiba-tiba pasangan yang selama ini kita anggap romantis dan harmonis kehidupan rumah tangganya ternyata berantakan di tengah jalan. Padahal, selama ini kita hanya disuguhi dengan wajah mereka yang cerah ceria seakan tiada duka. Ditambah lagi dengan sikap mereka yang tak lepas dari kemesraan. Kemudian tiba-tiba kita akan dihadapkan pada fakta bahwa ternyata kehidupan rumah tangga mereka telah sekian lama terbelit kemelut. Betapa besar usaha yang telah mereka lakukan untuk menyembunyikan keadaan rumah tangga yang diambang kehancuran dari sorotan publik. Tetapi setelah perpisahan itu terjadi, mereka masih dikejar-kejar pertanyaan seputar alasan perpisahan itu oleh para pemburu berita. Haruskah segala hal yang menyangkut rumah tangga itu menjadi konsumsi publik ?
Saat public figure mengalami duka yang mendalam, mereka pun masih harus bertenggang rasa saat begitu banyaknya orang yang ingin tahu tentang dukanya itu. Mereka terus menerus diminta untuk menyampaikan kepada masyarakat tentang perasaan mereka, tentang segala hal yang menyangkut rasa duka itu. Rasanya segala hal tentang mereka, harus diberitakan kepada publik.
Semua itu sering kulihat dalam infotainment di televisi. Bagaimana kisah-kisah seputar kehidupan sang public figure disampaikan secara gamblang. Ada yang suka memojokkan, ada yang suka mengupas kehidupan public figure itu secara detil. Ada juga yang menyampaikan berita secara berlebihan, bahkan ada yang sampai bisa membentuk opini publik. Pertanyaanku, untuk apa semua itu ?
Kalau untuk pembelajaran bagi masyarakat, rasanya juga kurang tepat. Untuk menyampaikan secara detil sosok sang public figure kepada para penggemarnya, rasanya harus juga diperhatikan bagaimana perasaan sang public figure yang kehidupan pribadinya dibeber begitu rupa. Apakah memang kita adalah masyarakat yang sangat ingin tahu kehidupan pribadi orang lain ? Bagaimana kalau kehidupan kita yang dibeberkan sedemikian rupa ?
Bagaimana jika hal seperti itu kita alami ? Bagaimana rasanya jika hidup kita ternyata bukan milik kita ? Bagaimana rasanya jika semua orang ingin tahu segala sesuatu tentang diri kita ? Apa yang kita pikirkan, jika ternyata kita terpaksa menggadaikan perasaan kita demi menjaga image baik dimata orang lain ?
Hal ini membuatku menjadi makin sadar batapa berat sebenarnya tekanan yang dihadapi oleh seorang publlic figure. Tekanan dari media massa yang terus menerus memberitakan kehidupan mereka. Tekanan dari dalam, yang lebih didasarkan akan ketakutan kehilangan popularitas, karena kehilangan popularitas berarti juga kehilangan banyak uang. Kehidupan tak lagi mudah bagi mereka.
Hal seperti itulah yang seringkali digunakan sebagai 'permakluman' jika suatu saat mereka tersandung kasus narkoba. Memang dengan mengkonsumsi psikotropika, mereka dapat membebaskan diri sesaat dari beratnya tekanan yang mereka hadapi. Anehnya, terkadang ada juga public figure yang sengaja bertingkah aneh-aneh hanya demi meraih popularitas mereka. Kehidupan mereka menjadi demikian rumitnya.
Aku bukan hendak menunjuk media massa sebagai pemicu utama makin beratnya tekanan yang dihadapi oleh public figure. Namun, media massa memang berperan sangat besar dalam hal ini. Media massa bisa mengangkat seseorang, namun bisa juga menghancurkan. Media massa mempunyai kemampuan yang sangat besar dalam membentuk opini publik, dan hal inilah yang sangat disadari oleh para public figure.
Kalau sudah begini..., aku sangat mensyukuri keberadaanku sebagai warga negara biasa. Untung aku bukan public figure yang harus dengan susah payah menjaga image. Aku juga tak perlu pusing, karena tak ada media massa yang selalu ingin tahu segala hal tentang diriku. Jadi..., siapa bilang menjadi orang biasa tidak menyenangkan ? Bagiku, kehidupanku sebagai orang biasa sangat menyenangkan. Meskipun tak berlimpahan materi, aku bisa melakukan banyak hal tanpa harus sibuk menjaga image.
Itu menurutku, mungkin saja menurut orang lain tidak begitu. Bagaimanapun sudut pandang setiap orang memang berbeda, dan itu sah-sah saja.
Aku bayangkan betapa beratnya kehidupan seorang public figure yang selalu disorot oleh banyak orang. Segala sepak terjangnya menjadi pembicaraan. Segala gerak geriknya diamati dan dinilai. Apapun perkataannya didengarkan banyak orang. Mereka nyaris tak punya ruang untuk diri sendiri bersembunyi. Sungguh melelahkan.
Demi menjaga image baik, mereka seringkali harus melupakan kekesalan di hati saat tampil di depan umum. Menyimpan rapat-rapat persoalan kehidupan mereka dan menggantinya dengan senyuman terindah. Bahkan bila perlu mereka tak sungkan berbohong untuk menutupi hal-hal buruk yang sedang mereka alami. Terkadang, demi tetap mendapatkan predikat "baik" maka mereka rela mengesampingkan perasaannya sendiri dan mengikuti apa kata orang lain.
Seringkali kita dibuat terkejut jika tiba-tiba pasangan yang selama ini kita anggap romantis dan harmonis kehidupan rumah tangganya ternyata berantakan di tengah jalan. Padahal, selama ini kita hanya disuguhi dengan wajah mereka yang cerah ceria seakan tiada duka. Ditambah lagi dengan sikap mereka yang tak lepas dari kemesraan. Kemudian tiba-tiba kita akan dihadapkan pada fakta bahwa ternyata kehidupan rumah tangga mereka telah sekian lama terbelit kemelut. Betapa besar usaha yang telah mereka lakukan untuk menyembunyikan keadaan rumah tangga yang diambang kehancuran dari sorotan publik. Tetapi setelah perpisahan itu terjadi, mereka masih dikejar-kejar pertanyaan seputar alasan perpisahan itu oleh para pemburu berita. Haruskah segala hal yang menyangkut rumah tangga itu menjadi konsumsi publik ?
Saat public figure mengalami duka yang mendalam, mereka pun masih harus bertenggang rasa saat begitu banyaknya orang yang ingin tahu tentang dukanya itu. Mereka terus menerus diminta untuk menyampaikan kepada masyarakat tentang perasaan mereka, tentang segala hal yang menyangkut rasa duka itu. Rasanya segala hal tentang mereka, harus diberitakan kepada publik.
Semua itu sering kulihat dalam infotainment di televisi. Bagaimana kisah-kisah seputar kehidupan sang public figure disampaikan secara gamblang. Ada yang suka memojokkan, ada yang suka mengupas kehidupan public figure itu secara detil. Ada juga yang menyampaikan berita secara berlebihan, bahkan ada yang sampai bisa membentuk opini publik. Pertanyaanku, untuk apa semua itu ?
Kalau untuk pembelajaran bagi masyarakat, rasanya juga kurang tepat. Untuk menyampaikan secara detil sosok sang public figure kepada para penggemarnya, rasanya harus juga diperhatikan bagaimana perasaan sang public figure yang kehidupan pribadinya dibeber begitu rupa. Apakah memang kita adalah masyarakat yang sangat ingin tahu kehidupan pribadi orang lain ? Bagaimana kalau kehidupan kita yang dibeberkan sedemikian rupa ?
Bagaimana jika hal seperti itu kita alami ? Bagaimana rasanya jika hidup kita ternyata bukan milik kita ? Bagaimana rasanya jika semua orang ingin tahu segala sesuatu tentang diri kita ? Apa yang kita pikirkan, jika ternyata kita terpaksa menggadaikan perasaan kita demi menjaga image baik dimata orang lain ?
Hal ini membuatku menjadi makin sadar batapa berat sebenarnya tekanan yang dihadapi oleh seorang publlic figure. Tekanan dari media massa yang terus menerus memberitakan kehidupan mereka. Tekanan dari dalam, yang lebih didasarkan akan ketakutan kehilangan popularitas, karena kehilangan popularitas berarti juga kehilangan banyak uang. Kehidupan tak lagi mudah bagi mereka.
Hal seperti itulah yang seringkali digunakan sebagai 'permakluman' jika suatu saat mereka tersandung kasus narkoba. Memang dengan mengkonsumsi psikotropika, mereka dapat membebaskan diri sesaat dari beratnya tekanan yang mereka hadapi. Anehnya, terkadang ada juga public figure yang sengaja bertingkah aneh-aneh hanya demi meraih popularitas mereka. Kehidupan mereka menjadi demikian rumitnya.
Aku bukan hendak menunjuk media massa sebagai pemicu utama makin beratnya tekanan yang dihadapi oleh public figure. Namun, media massa memang berperan sangat besar dalam hal ini. Media massa bisa mengangkat seseorang, namun bisa juga menghancurkan. Media massa mempunyai kemampuan yang sangat besar dalam membentuk opini publik, dan hal inilah yang sangat disadari oleh para public figure.
Kalau sudah begini..., aku sangat mensyukuri keberadaanku sebagai warga negara biasa. Untung aku bukan public figure yang harus dengan susah payah menjaga image. Aku juga tak perlu pusing, karena tak ada media massa yang selalu ingin tahu segala hal tentang diriku. Jadi..., siapa bilang menjadi orang biasa tidak menyenangkan ? Bagiku, kehidupanku sebagai orang biasa sangat menyenangkan. Meskipun tak berlimpahan materi, aku bisa melakukan banyak hal tanpa harus sibuk menjaga image.
Itu menurutku, mungkin saja menurut orang lain tidak begitu. Bagaimanapun sudut pandang setiap orang memang berbeda, dan itu sah-sah saja.

