Rabu, 21 April 2010

Kartini tanpa konde

Perayaan Hari Kartini tahun ini di kantorku berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini seluruh karyawati dianjurkan untuk mengenakan Busana Nasional dan karyawan mengenakan baju batik. Enak yang jadi bapak-bapak..., cuma dianjurkan pakai baju batik, seharusnya bapak-bapak pakai beskap, atau minimal pakai Pakaian Khas Jawa Timur (PKJ). *iri mode on*

Baru tahun ini ada anjuran yang seperti ini dan terus terang sempat membuat 'heboh' segenap karyawati. Ada yang mengeluh tak punya kebaya, ada juga yang mengeluh tak bisa berdandan. Yang lain mengeluhkan betapa repotnya kerja dengan mengenakan Busana Nasional. Belum lagi bagi kantor-kantor yang tidak memiliki Air Conditioner, sudah kebayang betapa menyiksa dan gerah-nya bekerja seharian dengan mengenakan Busana Nasional. Namun mayoritas mengeluh karena tak tahan jika harus mengenakan konde.

Coba dibayangkan, jika kami harus bekerja seharian di kantor dengan mengenakan konde di kepala. Pasti kepala terasa berat dan pusing, sementara pekerjaan kantor tetap harus dijalankan. Aku malah membayangkan betapa repotnya guru-guru dan pegawai rumah sakit/puskesmas bekerja pada hari ini dengan mengenakan Busana Nasional. Karena untuk mereka semua juga dianjurkan mengenakan Busana Nasional.

Dan... hari ini ternyata karyawati yang hadir ke kantor tak banyak yang mengenakan konde. Alasannya tentu saja agar tak ribet saat upacara dan bekerja. Sebenarnya seru juga melihat penampilan karyawati yang berbeda dan terlihat cantik-cantik hari ini. Ada yang memilih tampil (dengan make upa) ala kadarnya, namun banyak juga yang memilih dandan habis-habisan. Meskipun sedikit, ada juga yang berdandan kebaya lengkap dengan konde dan selendangnya. Aku sudah membayangkan betapa repotnya dia nanti saat bekerja hehehe.



wanita2 di kantorku (full team...)

Kalau ini tim kerjaku...
Acara hari ini dimulai dengan upacara yang semua petugas upacaranya adalah wanita. Sayangnya upacara dilaksanakan agak siang, jadi sudah terasa panas. Benar-benar perjuangan deh pokoknya. Setelah upacara selesai..., kami masih sempat foto-foto sebentar... (hehehe, tetap aja narsis didahulukan). Takutnya kalau makin siang, make up keburu luntur hehehe...

Meskipun hari ini adalah Hari Kartini tanpa konde, tapi tetap aja tak nyaman bekerja. Belum apa-apa sudah terasa gerah. Yang jelas bagiku hari ini terasa lama banget.... dan tak nyaman sama sekali dalam bekerja. Bagiku... hari ini cukup melelahkan sekaligus tak terlupakan (dengan segala kehebohannya). ^_^

Kartini tanpa konde

Perayaan Hari Kartini tahun ini di kantorku berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini seluruh karyawati dianjurkan untuk mengenakan Busana Nasional dan karyawan mengenakan baju batik. Enak yang jadi bapak-bapak..., cuma dianjurkan pakai baju batik, seharusnya bapak-bapak pakai beskap, atau minimal pakai Pakaian Khas Jawa Timur (PKJ). *iri mode on*

Baru tahun ini ada anjuran yang seperti ini dan terus terang sempat membuat 'heboh' segenap karyawati. Ada yang mengeluh tak punya kebaya, ada juga yang mengeluh tak bisa berdandan. Yang lain mengeluhkan betapa repotnya kerja dengan mengenakan Busana Nasional. Belum lagi bagi kantor-kantor yang tidak memiliki Air Conditioner, sudah kebayang betapa menyiksa dan gerah-nya bekerja seharian dengan mengenakan Busana Nasional. Namun mayoritas mengeluh karena tak tahan jika harus mengenakan konde.

Coba dibayangkan, jika kami harus bekerja seharian di kantor dengan mengenakan konde di kepala. Pasti kepala terasa berat dan pusing, sementara pekerjaan kantor tetap harus dijalankan. Aku malah membayangkan betapa repotnya guru-guru dan pegawai rumah sakit/puskesmas bekerja pada hari ini dengan mengenakan Busana Nasional. Karena untuk mereka semua juga dianjurkan mengenakan Busana Nasional.

Dan... hari ini ternyata karyawati yang hadir ke kantor tak banyak yang mengenakan konde. Alasannya tentu saja agar tak ribet saat upacara dan bekerja. Sebenarnya seru juga melihat penampilan karyawati yang berbeda dan terlihat cantik-cantik hari ini. Ada yang memilih tampil (dengan make upa) ala kadarnya, namun banyak juga yang memilih dandan habis-habisan. Meskipun sedikit, ada juga yang berdandan kebaya lengkap dengan konde dan selendangnya. Aku sudah membayangkan betapa repotnya dia nanti saat bekerja hehehe.



wanita2 di kantorku (full team...)

Kalau ini tim kerjaku...
Acara hari ini dimulai dengan upacara yang semua petugas upacaranya adalah wanita. Sayangnya upacara dilaksanakan agak siang, jadi sudah terasa panas. Benar-benar perjuangan deh pokoknya. Setelah upacara selesai..., kami masih sempat foto-foto sebentar... (hehehe, tetap aja narsis didahulukan). Takutnya kalau makin siang, make up keburu luntur hehehe...

Meskipun hari ini adalah Hari Kartini tanpa konde, tapi tetap aja tak nyaman bekerja. Belum apa-apa sudah terasa gerah. Yang jelas bagiku hari ini terasa lama banget.... dan tak nyaman sama sekali dalam bekerja. Bagiku... hari ini cukup melelahkan sekaligus tak terlupakan (dengan segala kehebohannya). ^_^

Selasa, 20 April 2010

Terulang lagi

Kejadian yang hampir sama... terulang lagi, sobat. Kejadian yang terkait dengan perhatian dari guru / sekolah yang kurang terhadap murid-muridnya, seperti yang dulu aku sampaikan di Cerita Yang Tersisa. Dan.., kali ini aku ingin curhat lagi tentang kejadian yang terulang lagi ini. Semoga sobat semua tak bosan membaca curcol-ku ya...?

Sabtu lalu, 17 April 2010, Shasa mengikuti Babak Semifinal Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2010. Keikutsertaan Shasa dalam OSK 2010 ini atas usulan dari gurunya. Semula Shasa tidak berminat mengikuti OSK, karena sudah 3 tahun berturut-turut Shasa ikut OSK. Namun akhirnya Shasa ikut juga setelah gurunya meminta kesediaan Shasa untuk ikut OSK itu.

Pada keikutsertaan Shasa 3 kali sebelumnya di ajang OSK, Shasa ikut atas inisiatif sendiri dan membayar sendiri biaya pendaftarannya. Namun tahun 2010 ini Shasa ikut setelah didaftarkan plus dibiayai pendafatarannya oleh sekolah. Kupikir, karena kali ini Shasa ikut atas nama sekolah, maka pihak sekolah akan aktif dalam 'mempersiapkan' murid-muridnya dalam OSK itu. Sayangnya.., apa yang aku bayangkan tak terbukti. Shasa tetap saja belajar sendiri dan tanpa bimbingan sama sekali dari pihak sekolah.

Pada saat babak penyisihan OSK 2010 yang lalu, tak satupun gurunya yang hadir menemani anak didiknya. Padahal sekolah-sekolah yang lain, banyak guru yang ikut mengantarkan anak didiknya. Kemudian, kejadian yang sama terulang lagi pada babak Semifinal OSK 2010. Lagi-lagi tak satupun guru Shasa yang hadir menemani anak didiknya.

Pagi itu, kami tak mampir ke sekolah dulu dan langsung menuju ke tempat OSK diselenggarakan. Namun aku sempat mengirim pesan kepada salah satu guru Shasa, bahwa Shasa tidak mampir ke sekolah namun langsung ke tempat OSK. Beliau mengiyakan dan berjanji akan memberitahukan kepada Wali Kelas Shasa.

Senin pulang kantor kemarin, Shasa membawa berita yang mengejutkan aku. Kata Shasa, Sabtu kemarin di buku absensi kelas, Shasa ditulis tidak hadir karena Alpa/Tanpa Keterangan. Lho..., kok bisa..? Bukankah aku sudah pamitkan Shasa lewat salah satu gurunya ? Bukankah keikutsertaan Shasa juga atas perintah sekolah ? Apakah gurunya lupa bahwa Sabtu kemarin Shasa mengikuti OSK atas nama sekolah ? Apakah sebegitu tidak peduli guru-gurunya terhadap murid-muridnya ? Padahal sekolah Shasa adalah sekolah favorit di kota kami..... Jadi predikat favorit tidak berkorelasi dengan perhatian guru/sekolah kepada murid-muridnya.

Aku lantas berandai-andai... Seandainya saja salah satu siswa dari sekolah Shasa bisa lolos ke Babak Final yang akan diselenggarakan di Jakarta bulan Juni 2010 nanti..., apakah gurunya akan mengaku telah membina dan mempersiapkan muridnya dalam ajang OSK ini ? Apakah gurunya yang akan dengan bangga berfoto dengan muridnya itu untuk dimuat di koran lokal dan mengatakan bahwa itu sebagai prestasi sekolah ? Apakah akan seperti itu...?

Duh...., kok aku jadi berpikiran negatif begini ya...?


Terulang lagi

Kejadian yang hampir sama... terulang lagi, sobat. Kejadian yang terkait dengan perhatian dari guru / sekolah yang kurang terhadap murid-muridnya, seperti yang dulu aku sampaikan di Cerita Yang Tersisa. Dan.., kali ini aku ingin curhat lagi tentang kejadian yang terulang lagi ini. Semoga sobat semua tak bosan membaca curcol-ku ya...?

Sabtu lalu, 17 April 2010, Shasa mengikuti Babak Semifinal Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2010. Keikutsertaan Shasa dalam OSK 2010 ini atas usulan dari gurunya. Semula Shasa tidak berminat mengikuti OSK, karena sudah 3 tahun berturut-turut Shasa ikut OSK. Namun akhirnya Shasa ikut juga setelah gurunya meminta kesediaan Shasa untuk ikut OSK itu.

Pada keikutsertaan Shasa 3 kali sebelumnya di ajang OSK, Shasa ikut atas inisiatif sendiri dan membayar sendiri biaya pendaftarannya. Namun tahun 2010 ini Shasa ikut setelah didaftarkan plus dibiayai pendafatarannya oleh sekolah. Kupikir, karena kali ini Shasa ikut atas nama sekolah, maka pihak sekolah akan aktif dalam 'mempersiapkan' murid-muridnya dalam OSK itu. Sayangnya.., apa yang aku bayangkan tak terbukti. Shasa tetap saja belajar sendiri dan tanpa bimbingan sama sekali dari pihak sekolah.

Pada saat babak penyisihan OSK 2010 yang lalu, tak satupun gurunya yang hadir menemani anak didiknya. Padahal sekolah-sekolah yang lain, banyak guru yang ikut mengantarkan anak didiknya. Kemudian, kejadian yang sama terulang lagi pada babak Semifinal OSK 2010. Lagi-lagi tak satupun guru Shasa yang hadir menemani anak didiknya.

Pagi itu, kami tak mampir ke sekolah dulu dan langsung menuju ke tempat OSK diselenggarakan. Namun aku sempat mengirim pesan kepada salah satu guru Shasa, bahwa Shasa tidak mampir ke sekolah namun langsung ke tempat OSK. Beliau mengiyakan dan berjanji akan memberitahukan kepada Wali Kelas Shasa.

Senin pulang kantor kemarin, Shasa membawa berita yang mengejutkan aku. Kata Shasa, Sabtu kemarin di buku absensi kelas, Shasa ditulis tidak hadir karena Alpa/Tanpa Keterangan. Lho..., kok bisa..? Bukankah aku sudah pamitkan Shasa lewat salah satu gurunya ? Bukankah keikutsertaan Shasa juga atas perintah sekolah ? Apakah gurunya lupa bahwa Sabtu kemarin Shasa mengikuti OSK atas nama sekolah ? Apakah sebegitu tidak peduli guru-gurunya terhadap murid-muridnya ? Padahal sekolah Shasa adalah sekolah favorit di kota kami..... Jadi predikat favorit tidak berkorelasi dengan perhatian guru/sekolah kepada murid-muridnya.

Aku lantas berandai-andai... Seandainya saja salah satu siswa dari sekolah Shasa bisa lolos ke Babak Final yang akan diselenggarakan di Jakarta bulan Juni 2010 nanti..., apakah gurunya akan mengaku telah membina dan mempersiapkan muridnya dalam ajang OSK ini ? Apakah gurunya yang akan dengan bangga berfoto dengan muridnya itu untuk dimuat di koran lokal dan mengatakan bahwa itu sebagai prestasi sekolah ? Apakah akan seperti itu...?

Duh...., kok aku jadi berpikiran negatif begini ya...?


Senin, 19 April 2010

Kisah Seorang Satpol PP

Dulu..., sewaktu pertama kali diterima bekerja, tak pernah terbersit dalam benaknya dia akan menjadi seorang Satpol PP. Apalagi ternyata saat pertama dia ditempatkan sebagai CPNS, tempatnya adalah di sebuah kantor yang tak ada sangkut pautnya dengan Satpol PP.

Waktu berlalu dengan cepat dan tak banyak perubahan berarti yang terjadi padanya. Hingga suatu hari, dia dialihtugaskan ke kantor Satpol PP. Sebagai seorang abdi negara, tentu saja dia harus siap untuk ditempatkan dimana saja. Suka atau tidak, siap atau tidak... tapi perintah tetap harus dijalankan. Maka.., mulailah dia menjalani hari-hari menjadi anggota Satpol PP sejak beberapa tahun yang lalu.

Segalanya berjalan lancar dan baik-baik saja, hingga suatu hari dia menerima surat tugas untuk ikut menertibkan Pedagang Kaki Lima yang ada di sekitar alun-alun kota. Sesuatu bergolak dalam hatinya, berat baginya untuk menjalankan tugas tersebut mengingat kebanyakan Pedagang Kaki Lima yang ada di seputar alun-alun kota adalah tetangga-tetangganya sewaktu kecil dulu. Namun sekali lagi.., sebagai seorang abdi negara dia haris menjalankan tugas yang dibebankan padanya.

Seperti yang dibayangkannya, saat operasi penertiban Pedagang Kaki Lima berlangsung, terjadi kericuhan. Pedagang-pedagang itu menolak ditertibkan. Saat para pedagang itu mengenalinya, sebagai tetangga masa kecilnya dulu, terlontar kata-kata yang menyakitkan hati. Mereka menuduhnya telah lupa asal-usulnya setelah menjadi pegawai kantoran. Mereka menuduhnya tega bersikap sewenang-wenang kepada tetangga-tetangga lamanya.

gambar diculik dari sini

Kejadian seperti itu terjadi berulang kali, setiap kali dia harus berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya dalam operasi penertiban Pedagang Kaki Lima. Memang, orang tuanya dulu adalah juga Pedagang Kaki Lima sama seperti mereka. Beruntung, dia dan kedua saudara kandungnya memiliki nasib yang baik sehingga dapat diangkat sebagai PNS. Setelah dia dan kedua saudara kandungnya mulai mapan dalam hidupnya, kedua orang tuanya memutuskan untuk tidak lagi menjadi Pedagang Kaki Lima.

Peperangan dalam batinnya terus menerus terjadi setiap kali dia menjalankan operasi penertiban Pedagang Kaki Lima. Hingga akhirnya, setelah tak kuat menderita tekanan batin yang amat sangat... dia menderita tekanan darah tinggi dan... terkena stroke. Dengan kondisinya yang demikian itu.., akhirnya dia dialihtugaskan ke kantor yang tidak memerlukan kekuatan fisik dalam bekerja.

Tak lama bekerja di tempat yang baru, dia pun terpaksa diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dengan hak pensiun karena kondisi fisiknya yang tak memungkinan untuk bekerja. Dengan kondisi fisik seperti itu, memang tak memungkinkan bekerja dimanapun, bahkan di tempat yang paling ringan sekalipun. Dan keputusan pemberhentian itupun mau tak mau harus diterimanya dengan lapang dada.

Begitulah.., terkadang hidup tak memberikan keleluasaan bagi kita untuk memilih. Seringkali kita dihadapkan pada situasi sulit yang menjadi tanggung jawab kita untuk dijalani. Tak semua orang bisa menjalani tugasnya dengan riang gembira. Terkadang dalam menjalani tugasnya seseorang harus berperang dengan hati nuraninya sendiri. Setiap profesi memiliki resiko dan konsekuensi tersendiri.

Kisah ini berdasar pada sebuah kisah nyata dan.... apakah yang dapat sahabat-sahabat semua petik dari kisah ini..? Semoga memberi manfaat bagi semua....