Rabu, 09 Juni 2010

Penghargaan untuk kotaku tercinta

Bertepatan dengan perayaan Hari Jadi ke-92 kotaku tercinta, ada kado yang sangat istimewa. Kado itu berupa Piala Adipura, Piala Wahana Tata Nugraha dan Sertifikat Calon Adiwiyata Tingkat Nasional. Penghargaan berupa Piala Adipura dan Sertifikat Calon Adiwiyata itu diserahkan langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Selasa kemarin, tanggal 8 Juni 2010. Sementara Piala Wahana Tata Nugraha kabarnya baru akan diserahkan pada pertengahan bulan ini.

Alhamdulillah, pada tahun 2010 ini Madiun kembali berhasil mendapatkan Piala Adipura untuk keenam kalinya dalam kategori Kota Sedang. Piala Adipura adalah bentuk penghargaan yang diberikan untuk kota-kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementrian Negara Lingkungan Hidup.

Penilaian Adipura untuk kota-kota di Indonesia dibagi dalam 4 kategori yang berdasarkan jumlah penduduk, yaitu:
  • Kota Metropolitan (lebih dari 1 juta jiwa)
  • Kota Besar (500.001 - 1.000.000 jiwa)
  • Kota Sedang (100.001 - 500.000 jiwa)
  • Kota Kecil (sampai dengan 100.000 jiwa)
Sementara Adiwiyata adalah salah satu program dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional. Program ini berupaya mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif. Dalam mewujudkan Program Adiwiyata telah ditetapkan 4 (empat) indikator yaitu :
  1. Pengembangan Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan
  2. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan
  3. Pengembangan Kegiatan Berbasis Partisipatif
  4. Pengembangan dan atau Pengelolaan Sarana Pendukung Sekolah Yang Ramah Lingkungan
Adapun bentuk penghargaan sebagai berikut:
  • Sertifikat untuk Calon Sekolah Adiwiyata diberikan bagi sekolah yang dapat memenuhi 4 indikator Adiwiyata di tahun pertama.
  • Trophy perak untuk Sekolah Adiwiyata diberikan bagi sekolah yang telah mengembangkan 4 indikator Adiwiyata di tahun kedua dan tahun ketiga.
  • Trophy emas untuk Sekolah Adiwiyata Mandiri dari Presiden RI diberikan bagi sekolah yang selama 3 tahun berturut-turut telah menunjukkan perkembangan kinerja 4 indikator Adiwiyata secara konsisten.
Pada tahun 2010 ini adalah kali pertama Kota Madiun menerima penghargaan itu, yang masih berupa Sertifikat Calon Adiwiyata Tingkat Nasional yang diterima oleh SMPN 7 Madiun. Semoga saja penerimaan Sertifikat Calon Adiwiyata ini dapat mendorong Kota Madiun, khususnya sekolah-sekolah, untuk mampu meraih penghargaan Adiwiyata maupun Adiwiyata Mandiri di tahun-tahun yang akan datang.

Hari ini, Rabu 9 Juni 2010 dilaksanakan upacara penyerahan Piala Adipura dan Sertifikat Calon Adiwiyata dari Walikota Madiun kepada Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta Kepala SMPN 7 Madiun. Selanjutnya Piala Adipura dan Sertifikat Calon Adiwiyata itu dikirab keliling Kota Madiun.

Keberhasilan Kota Madiun tahun ini juga diikuti oleh kota-kota lainnya di Jawa Timur. Bahkan Provinsi Jawa Timur mengukuhkan diri sebagai provinsi dengan penghargaan lingkungan hidup terbanyak tahun 2010, dengan rincian : 31 piala Adipura, dua piagam Adipura, empat Kalpataru. Sementara itu, dari total 129 penghargaan Adiwiyata yang diperebutkan secara nasional, sebanyak 42 sekolah di Jatim mendapatkan 42 penghargaan dengan perincian : 14 sekolah calon Adiwiyata, 19 sekolah Adiwiyata, dan 9 sekolah Adiwiyata mandiri.

Semoga kotaku semakin bersih di tahun-tahun yang akan datang. Amin.

*dari berbagai sumber*


Selasa, 08 Juni 2010

Akibat egosentris

Ini adalah sebuah kisah tentang dia, seseorang yang egosentris. Bukan maksudku untuk menilai baik buruknya atau membicarakan kelemahannya semata. Jika aku mengisahkan tentang dia yang egosentris ini, semata karena aku ingin berbagi suatu kisah yang semoga dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Dari berbagai sumber aku dapatkan bahwa egosentris itu adalah suatu sifat yang menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran atau perbuatan. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kemudian si egosentris ini akan berperilaku yang mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Piaget dan Murphy (dalam Rusli, 1999) mengemukakan bahwa egosentris adalah ketidakmauan untuk menaruh perhatian, menggambil bagian dan ikut merasakan kebutuhan serta perasaan dan pandangan orang lain.

Nah.., tepat seperti itulah dia dalam berperilaku selama ini. Di matanya, hampir tak ada orang yang benar. Hampir tak ada orang yang lepas dari kritikan pedasnya. Nyaris semua pernah menerima penilaian negatif darinya. Hasil kerja orang lain tak ada yang berkenan di hatinya. Singkatnya, baginya pemikirannya adalah yang paling bagus dan jika orang-orang yang tak sependapat dengannya maka orang lain itu salah.

Egosentris itu membuat dirinya menjadi pribadi yang sangat kaku. Tentu saja sikap dan pandangan serta perkataannya selama ini cukup membuat orang lain merasa tak nyaman berdekatan dengannya. Lama kelamaan, satu persatu teman-temannya menjauh darinya setelah lelah mendengar dirinya yang sibuk menilai kekurangan dan kelemahan orang lain. Lucunya, begitu teman-temannya menjauh, maka mereka pun lantas menjadi sasaran penilaian dia selanjutnya.

Akibat egosentris itulah, dia kini nyaris tak berteman. Orang-orang yang mendekat padanya hanyalah orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu dengannya. Bahkan, di usianya yang sudah melewati kepala empat itu, dia pun semakin sulit mendapatkan pendamping hidup. Hingga kini, saat tubuhnya mulai diserang berbagai penyakit, tak ada pendamping hidup yang merawatnya, sementara kedua orang tuanya pun sudah meninggal dunia. Dalam kesendirian dan kesepian dia menjalani hidupnya, tak ada tempat berbagi suka duka. Sungguh pedih...

Sobat, dia adalah sosok nyata adanya. Aku hanya berharap, semoga kesendirian dan kesepian itu dapat mengajarkan banyak hal padanya, bahwa tak selamanya manusia mampu hidup sendiri. Bahwa tak selamanya pemikirannya adalah yang paling benar. Semoga saja, kehidupan ini dapat mengajarkan padanya untuk dapat lebih menghargai orang lain dan bertoleransi terhadap sesama. Semoga....

Senin, 07 Juni 2010

Berdialog dengan Tuhan (2)

Kembali aku menerima email dari seorang teman yang kupikir sangat berguna jika aku bagikan disini. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Mungkin seperti inilah dialog yang telah kita lakukan dengan Tuhan :


Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku.
Tuhan berkata, "Bukankah seharusnya kau yang menyerahkannya kepada-Ku dan bukan Aku yang harus mengambilnya darimu ?"

Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya jiwanya telah sempurna, sementara tubuhnya hanyalah sementara."

Ya Tuhan berilah aku kesabaran.
Tuhan berkata, "Tidakkah kau pahami bahwa kesabaran itu hasil dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak serta merta kau dapatkan. Jadi kau harus meraihnya sendiri ."

Ya Tuhan berilah aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, "Sebenarnya Aku telah memberimu berkah yang berlimpah. Jika kau mensyukurinya, maka kebahagiaan itu akan kau dapatkan."

Ya Tuhan jauhkanlah aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, "Tahukah kau, penderitaan akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan akan membawamu untuk lebih mendekati Aku...?"

Ya Tuhan berilah aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, "Tidakkah kau sadari bahwa sebenarnya Aku telah memberimu kehidupan supaya kau bisa menikmati segala hal...?"

Ya Tuhan bantulah aku untuk mencintai orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Tuhan berkata, "Syukurlah...., akhirnya kau mengerti juga!"

** Begitulah manusia.., selalu saja menuntut segala kemudahan dan kenikmatan dari-Nya. Padahal apa yang telah diberikan Tuhan untuk kita sejatinya adalah yang terbaik untuk kita, karena memang hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik bagi kita. **

Minggu, 06 Juni 2010

Kisah Seorang Mantan Guru Les Tari

Pagi itu, saat aku sedang menyiapkan sarapan pagi di dapur, bel rumahku berbunyi. Suamiku pun segera beranjak ke depan untuk membukakan pintu sementara Shasa sedang menyelesaikan acara mandi paginya. Tak lama kemudian suamiku ke dapur dan mengatakan bahwa tamu itu sedang mencariku.

Terus terang, aku paling sebel kalau ada tamu yang datang pagi-pagi buta, di saat aku sedang sibuk. Pagi hari adalah waktu tersibukku, karena sebelum semua berangkat kerja aku sudah harus menyelesaikan beberapa pekerjaan terutama menyiapkan sarapan. Sebenarnya pagi itu aku tak masuk kantor, karena masih cuti gara-gara aku menderita konjungtivitis kemarin itu, tapi karena kondisi mataku yang masih merah dan bengkak itu maka aku meminta suamiku mengatakan bahwa aku tak bisa menemui tamu itu.

Akhirnya suamiku kembali menemui tamu itu dan mengatakan bahwa aku sedang sakit mata dan tak bisa menemui. Tapi rupanya tamu itu tetap ngotot ingin bertemu denganku. Akhirnya, dengan perasaan dongkol aku mematikan komporku dan bergegas ke kamar untuk ganti baju. Aku penasaran juga siapa sih yang ngotot ingin bertemu denganku pagi-pagi buta begitu dan tetap memaksa bertemu denganku meskipun aku sedang sakit mata..?

Saat aku sampai ke depan, ternyata tamu itu adalah mantan guru  les tariku saat aku masih SMP dulu. Beliau aku minta masuk ke rumah tapi menolak, sehingga kami ngobrol di teras rumah. Pertama kali beliau menanyakan apakah aku masih ingat tarian Surung Dayung, karena menurut beliau tarian itu akan dilestarikan lagi. Aku tak ingat bahwa aku pernah diajari tarian tersebut, tapi beliau ngotot mengatakan bahwa aku pernah diajarinya. Bahkan beliau berkata sudah menemui Tanti, adik kelasku yang juga teman menariku dulu, dan ternyata Tanti juga sudah lupa.

Setelah berbasa-basi sejenak tentang tarian, beliau pun menanyakan apakah aku punya uang untuk dipinjamnya. Kemudian dia menyebutkan sejumlah nominal uang yang bagiku cukup besar. Dengan tak enak hati, aku katakan bahwa aku tak punya uang sebesar itu. Meskipun saat itu tanggal muda, tapi aku dan suami sama-sama belum terima gaji karena kami masih sakit mata sehingga kami belum ada yang masuk kantor. Beliau mengatakan bahwa uang itu akan dipakainya untuk menebus obat suaminya yang terkena strooke. Namun karena aku memang sedang tak mempunyai uang sebanyak itu, aku pun terpaksa tak bisa memberinya pinjaman.

Akhirnya setelah sekali lagi memintaku untuk mengingat Tari Surung Dayung itu, beliau pun berlalu dari rumahku dengan mengayuh sepedanya. Tak lama setelah beliau berlalu, aku segera menelepon Tanti untuk menanyakan apakah benar beliau sudah ke rumah Tanti. Selain itu aku juga penasaran, apakah beliau juga sudah pernah meminjam uang kepada Tanti. Ternyata Tanti terkejut bukan main waktu tahu beliau datang ke rumahku juga. Rupanya selama ini beliau sudah sering meminjam sejumlah uang kepada Tanti, tapi karena Tanti tak punya uang sebesar yang disebutkan oleh beliau, maka Tanti hanya memberi beliau uang sekedarnya, walaupun hal itu ditentang keras oleh Ibunya Tanti.

Tak puas dengan cerita Tanti, aku segera menelepon Ibuku dan menceritakan pengalaman pagi itu lengkap dengan cerita dari Tanti. Kebetulan Ibuku mengenal guru les menariku itu, apalagi usia Ibuku hampir sama dengan usia beliau itu. Dari Ibu aku tahu bahwa ternyata suami dari mantan guru  les menariku itu menikah lagi. Memang, beliau itu tergolong terlambat menikah dan akhirnya menemukan jodohnya seorang pria yang usianya jauh lebih muda. Sepanjang pernikahan itu, beliau tidak dikaruniai anak. Mungkin itu sebabnya suaminya menikah lagi dan dari pernikahan keduanya ini suaminya mendapatkan seorang anak lelaki.

Rupanya, selama ini beliau yang menanggung semua biaya hidup suami beserta istri kedua dan anaknya. Bahkan, anak lelaki yang sering diajaknya bersepeda melewati rumah kami itu ternyata anak dari istri keduanya. Mungkin saja, uang pensiun yang diterimanya sudah tak mampu mencukupi kebutuhan suami beserta anak dan istri keduanya, sehingga beliau terpaksa mondar-mandir kesana kemari untuk mencari pinjaman uang. Walaupun hal itu terpaksa beliau lakukan dengan menceritakan kebohongan dan membuang harga dirinya. Sementara teman-teman seumurnya telah menikmati masa pensiun dalam ketenangan, beliau justru masih harus berpikir untuk bisa bertahan.

Ternyata, hidup tak selamanya indah. Beliau yang dulu keras dan galak, ternyata harus menjalani hari tuanya dengan meminta belas kasihan dari berbagai pihak. Kehidupan beliau yang dulu mudah ternyata kini sudah tak sama lagi. Kisah hidup beliau ini menjadi pelajaran bagiku untuk mengingat bahwa roda itu selalu berputar. Seseorang ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah, tak sepantasnya kita tinggi hati saat sedang di atas. Harapku semoga saja beliau bisa mendapatkan kebahagiaan di hari tuanya. Amien...

Sabtu, 05 Juni 2010

Aku dan tim kerjaku

Selama bekerja, aku telah mengalami berulang kali perombakan tim kerja. Bagi PNS sepertiku, rotasi pegawai memang adalah hal yang biasa terjadi. Suka atau tidak, mau atau tidak... hal itu pasti terjadi. Dan selama aku ditunjuk sebagai ketua dalam tim kerjaku, mau tak mau aku harus mempersiapkan diri jika hal itu terjadi.

Aku pernah bekerja dalam sebuah tim yang beranggotakan seorang saja, jadi plus diriku yang mengetuai tim itu, maka kami berdua harus bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang ada. Memang sih, sewaktu aku bekerja dalam 'tim kecil' itu, tanggung jawab yang harus kami selesaikan memang tidak terlalu berat. Seiring dengan bertambahnya beban pekerjaan, maka anggota tim memang bertambah banyak pula.

Suatu saat aku dimutasikan untuk memimpin tim yang beranggotakan 5 orang. Berenam, kami mendapat tugas yang jauh lebih berat. Untungnya..., kami berenam bisa kompak menyelesaikan tugas-tugas itu. Aku merasa tim ini sudah sangat solid, dan tak berharap tim itu akan dirombak lagi. Namun sebagaimana biasa, perubahan itu adalah hal yang biasa... yang tak bisa aku hindari.

Hampir bersamaan dengan perombakan tim kerjaku, aku mendapatkan tugas baru yang lebih banyak. Kini aku anggota timku pun membengkak menjadi 11 orang, meskipun aku harus kehilangan 4 orang anggota tim yang luar biasa. Keempat anggota tim lamaku itu kini telah beralih tugas menjadi ajudan Walikota (2 orang) dan Sekretaris Pribadi Walikota (2 orang). Dengan tim yang baru dan pekerjaan baru..., aku harus kembali belajar lagi.

Dalam tim terbaruku ini, aku belajar untuk memimpin anggota tim yang usia dan pengalamannya jauh di atasku. Terus terang, awalnya aku sempat sangsi apakah aku mampu menjalin kerjasama yang solid dan menyenangkan sebagaimana tim kerjaku terdahulu. Namun Alhamdulillah..., seiring berjalannya waktu kekompakan itu terbina juga sehingga pekerjaan yang dibebankan pada kami pun dapat terselesaikan dengan baik.

Bekerja dengan banyak orang dan  menyelami banyak karakter membuatku belajar banyak hal. Yang membuatku bangga dan bahagia adalah jika ternyata aku dan anggota tim kerjaku sudah merasa menjadi satu bagian yang utuh sehingga mampu bahu membahu dalam bekerja dan kompak di luar jam kerja. Kebahagiaan itu sudah luar biasa dan tak terbeli oleh apapun juga.