Kamis, 20 Mei 2010

Kangen gudeg

Aku kangen gudeg. Aku pengen banget makan gudeg. Sebenarnya di kotaku ada juga penjual gudeg, tapi sayang rasanya tak seenak gudeg Yogya. Sebenarnya, saat suamiku pulang dari diklat ke Cisarua beberapa waktu yang lalu, dia sempat mampir ke Yogya. Rencananya akan membelikan aku gudeg. Sayang sekali, karena ada miskomunikasi antara suamiku dan penjual gudeg, jadinya suamiku tak kebagian gudeg. *nyesel banget*

Bicara tentang gudeng, aku selalu teringat dengan gudeg yang menjadi langgananku saat kuliah dulu. Selama aku kuliah dan kos di Yogya dulu, aku suka banget sarapan gudeg. Kebetulan di belakang rumah kostku ada penjual gudeg yang menurutku enak dan harganya terhitung murah untuk ukuran anak kost sepertiku. Jadinya, sarapan gudeg selalu saja jadi pilihan banyak mahasiswa.

Hanya sayangnya, aku dan beberapa mahasiswa lainnya suka tak sabaran beli gudeg di sana. Penyebabnya adalah penjualnya suka mementingkan dan mendahulukan kerabat dan tetangga. Sering sekali terjadi orang yang baru datang langsung minta dilayani dengan alasan untuk sarapan anaknya yang akan berangkat sekolah. Dan jika orang itu adalah kerabat atau tetangga, pasti langsung dilayani oleh Simbah penjual gudeg itu.

Hemmm.., sungguh melihat nasi gudeg itu aku jadi pengen banget
(gambar diculik dari sini)

Heran plus jengkel banget aku kalau sudah begitu. Ya kalau memang anaknya butuh sarapan gudeg sebelum berangkat sekolah, kenapa juga tak beli gudeg sejak pagi ? Memangnya sekian banyak mahasiswa yang sejak lama antri juga tak butuh kuliah di pagi hari ? Kalau para mahasiswa itu tak kuliah pagi, mereka kan bisa memilih beli gudeg agak siang, supaya tidak antri. Mentang-mentang mahasiswa ini 'orang luar' yang tidak dikenal secara pribadi oleh Simbah penjual gudeg, selalu saja dikalahkan kepentingannya. Namun aku tak pernah melihat ada mahasiswa yang berani protes atas diskriminasi itu... ^_^

Bahkan...., sampai aku lulus aku tetap saja membeli gudeg di situ, maklum saja tak ada penjual gudeg lain (yang murah meriah dan enak) di dekat tempat kostku. Apalagi jika pas sedang 'krisis keuangan' karena uang saku menipis, pasti deh banyak mahasiswa yang kesana. Bukan untuk beli gudeg, tapi untuk beli ketela pohon rebus yang diberi bumbu gudeg. Rasanya enak dan tak dapat ditemukan dimanapun juga. Yang lebih penting lagi adalah harganya jauh lebih murah... hehehe.

Duuh..., aku jadi makin kangen gudeg. Siapa mau mengirimi aku gudeg ya..? *ngarep banget*

Kangen gudeg

Aku kangen gudeg. Aku pengen banget makan gudeg. Sebenarnya di kotaku ada juga penjual gudeg, tapi sayang rasanya tak seenak gudeg Yogya. Sebenarnya, saat suamiku pulang dari diklat ke Cisarua beberapa waktu yang lalu, dia sempat mampir ke Yogya. Rencananya akan membelikan aku gudeg. Sayang sekali, karena ada miskomunikasi antara suamiku dan penjual gudeg, jadinya suamiku tak kebagian gudeg. *nyesel banget*

Bicara tentang gudeng, aku selalu teringat dengan gudeg yang menjadi langgananku saat kuliah dulu. Selama aku kuliah dan kos di Yogya dulu, aku suka banget sarapan gudeg. Kebetulan di belakang rumah kostku ada penjual gudeg yang menurutku enak dan harganya terhitung murah untuk ukuran anak kost sepertiku. Jadinya, sarapan gudeg selalu saja jadi pilihan banyak mahasiswa.

Hanya sayangnya, aku dan beberapa mahasiswa lainnya suka tak sabaran beli gudeg di sana. Penyebabnya adalah penjualnya suka mementingkan dan mendahulukan kerabat dan tetangga. Sering sekali terjadi orang yang baru datang langsung minta dilayani dengan alasan untuk sarapan anaknya yang akan berangkat sekolah. Dan jika orang itu adalah kerabat atau tetangga, pasti langsung dilayani oleh Simbah penjual gudeg itu.

Hemmm.., sungguh melihat nasi gudeg itu aku jadi pengen banget
(gambar diculik dari sini)

Heran plus jengkel banget aku kalau sudah begitu. Ya kalau memang anaknya butuh sarapan gudeg sebelum berangkat sekolah, kenapa juga tak beli gudeg sejak pagi ? Memangnya sekian banyak mahasiswa yang sejak lama antri juga tak butuh kuliah di pagi hari ? Kalau para mahasiswa itu tak kuliah pagi, mereka kan bisa memilih beli gudeg agak siang, supaya tidak antri. Mentang-mentang mahasiswa ini 'orang luar' yang tidak dikenal secara pribadi oleh Simbah penjual gudeg, selalu saja dikalahkan kepentingannya. Namun aku tak pernah melihat ada mahasiswa yang berani protes atas diskriminasi itu... ^_^

Bahkan...., sampai aku lulus aku tetap saja membeli gudeg di situ, maklum saja tak ada penjual gudeg lain (yang murah meriah dan enak) di dekat tempat kostku. Apalagi jika pas sedang 'krisis keuangan' karena uang saku menipis, pasti deh banyak mahasiswa yang kesana. Bukan untuk beli gudeg, tapi untuk beli ketela pohon rebus yang diberi bumbu gudeg. Rasanya enak dan tak dapat ditemukan dimanapun juga. Yang lebih penting lagi adalah harganya jauh lebih murah... hehehe.

Duuh..., aku jadi makin kangen gudeg. Siapa mau mengirimi aku gudeg ya..? *ngarep banget*

Rabu, 19 Mei 2010

Kekerasan vs Kelembutan

Beberapa hari yang lalu, saat aku datang ke blognya Bang Munir, aku sangat terkesan dengan postingannya yang berjudul : Cinta yang Merubah Hati Seseorang. Betapa dahsyatnya cinta, sehingga seorang mantan preman bisa bertekuk lutut pada cinta tulus dan penerimaan dari seorang wanita biasa. Bahkan, sang mantan preman itu bisa benar-benar menjadi pribadi baru yang baik dan berubah 180 derajad dari pribadinya yang lama. Subhanallah...

Yang membuat aku kagum adalah karena cerita itu bukanlah sekedar cerita fiksi karya Bang Munir, namun sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi. Menurutku kisah hidup itu sangat luar biasa, maka aku segera menyarankan pada Bang Munir untuk mendaftarkan postingannya itu dalam Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan blognya Mbak Anazkia.

Memang, tanpa adanya hidayah dari Allah maka perubahan seperti yang dikisahkan Bang Munir itu juga tak akan terjadi. Namun tetap saja peristiwa itu telah membuktikan bahwa 'teori' tentang kekerasan yang dapat dikalahkan oleh kelembutan terbukti nyata dan bukan isapan jempol belaka. Memang semua membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama, sehingga tanpa ketulusan dan kesungguhan hati perubahan yang diharapkan tak akan dapat terwudud. Seperti batu yang dapat dilubangi oleh tetesan air terus menerus selama berhari-hari.

Ada sebuah kisah yang dapat kembali menguatkan kita bahwa kekerasan dapat dikalahkan oleh kelembutan. Mungkin kisah ini bukan kisah baru namun tak ada salahnya aku menuliskannya lagi disini untuk kembali menyegarkan ingatan kita. Kisah ini berjudul "Kera di Pucuk Pohon Kelapa" dan.... inilah kisah itu :
Ada seekor kera yang sedang berada di pucuk pohon kelapa. Dia tak sadar jika sedang diintai oleh tiga angin besar, yaitu : Angin Topan, Tornado dan Angin Bahorok. Rupanya ketiga angin itu sedang bertaruh tentang siapa yang bisa menjatuhkan kera itu dari pohon kelapa dalam waktu yang paling singkat.

Angin Topan sesumbar bahwa dia hanya membutuhkan waktu 45 detik. Angin Tornado yang tak mau kalah dengan Angin Topan mengatakan bahwa dia hanya membutuhkan waktu 30 detik. Angin Bahorok tersenyum mengejek kedua temannya dan mengatakan bahwa hanya dalam waktu 15 detik dia akan dapat menjatuhkan kera itu.

Akhirnya pertarungan pun dimulai. Yang pertama kali menunjukkan kemampuannya adalah Angin Topan. Dia langsung meniup pohon kelapa dengan sangat kencang. Kera yang sedang ada di pohon kelapa terkejut bukan main. Begitu merasa ada angin besar datang, kera itu segera berpegangan erat-erat pada pohon kelapa. Beberape menit berlalu, tapi ternyata kera itu masih bertahan di pohon kelapa. Angin Topan pun menyerah.

Selanjutnya Angin Tornado unjuk kemampuan. Dia berusaha meniup pohon kelapa lebih kencang lagi. Angin yang semakin besar membuat kera itu semakin kuat berpegangan pada pohon kelapa. Kembali kera itu mampu bertahan di pohon kelapa dan Angin Tornado pun menyerah.

gambar diculik dari sini

Selanjutnya, tak ingin kalah seperti kedua angin terdahulu, maka Angin Bahorok berusaha meniup pohon kelapa sekuat tenaga. Si kera pun semakin kencang memeluk pohon kelapa dan kembali berhasil bertahan. Akhirnya, ketiga angin besar itu mau tak mau harus mengakui kehebatan sang kera.

Kejadian itu rupanya disaksikan oleh Angin Sepoi-Sepoi. Dia kemudian mengatakan pada ketiga angin besar itu bahwa dia pasti bisa menjatuhkan kera itu. Ketiga angin besar itu tertawa mendengar perkataan Angin Sepoi-sepoi, karena ketiga Angin Besar saja tak bisa melakukannya apalagi angin yang kecil.

Tanpa banyak bicara, Angin Sepoi-sepoi pun langsung meniup ubun-ubun kera itu. Kera itu pun merasakan hawa dingin dan segar menerpanya, dan tak lama kemudian  kera itu merasakan kantuk menyergapnya. Tak lama kemudian kera itu pun tertidur. Begitu pegangannya pada pohon kelapa terlepas, maka kera itu pun langsung jatuh.
Banyak hikmah yang dapat diambil dari kejadian itu. Yang pertama adalah untuk mengalahkan kekerasan hati akan lebih efektif dilakukan dengan kelembutan. Yang kedua, bahwa ternyata kita dapat lebih kuat saat dihadapkan dengan penderitaan dan kesulitan. Sementara jika kita dihadapkan pada kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan ternyata seringkali kita terlena.

Kekerasan vs Kelembutan

Beberapa hari yang lalu, saat aku datang ke blognya Bang Munir, aku sangat terkesan dengan postingannya yang berjudul : Cinta yang Merubah Hati Seseorang. Betapa dahsyatnya cinta, sehingga seorang mantan preman bisa bertekuk lutut pada cinta tulus dan penerimaan dari seorang wanita biasa. Bahkan, sang mantan preman itu bisa benar-benar menjadi pribadi baru yang baik dan berubah 180 derajad dari pribadinya yang lama. Subhanallah...

Yang membuat aku kagum adalah karena cerita itu bukanlah sekedar cerita fiksi karya Bang Munir, namun sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi. Menurutku kisah hidup itu sangat luar biasa, maka aku segera menyarankan pada Bang Munir untuk mendaftarkan postingannya itu dalam Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diselenggarakan blognya Mbak Anazkia.

Memang, tanpa adanya hidayah dari Allah maka perubahan seperti yang dikisahkan Bang Munir itu juga tak akan terjadi. Namun tetap saja peristiwa itu telah membuktikan bahwa 'teori' tentang kekerasan yang dapat dikalahkan oleh kelembutan terbukti nyata dan bukan isapan jempol belaka. Memang semua membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama, sehingga tanpa ketulusan dan kesungguhan hati perubahan yang diharapkan tak akan dapat terwudud. Seperti batu yang dapat dilubangi oleh tetesan air terus menerus selama berhari-hari.

Ada sebuah kisah yang dapat kembali menguatkan kita bahwa kekerasan dapat dikalahkan oleh kelembutan. Mungkin kisah ini bukan kisah baru namun tak ada salahnya aku menuliskannya lagi disini untuk kembali menyegarkan ingatan kita. Kisah ini berjudul "Kera di Pucuk Pohon Kelapa" dan.... inilah kisah itu :
Ada seekor kera yang sedang berada di pucuk pohon kelapa. Dia tak sadar jika sedang diintai oleh tiga angin besar, yaitu : Angin Topan, Tornado dan Angin Bahorok. Rupanya ketiga angin itu sedang bertaruh tentang siapa yang bisa menjatuhkan kera itu dari pohon kelapa dalam waktu yang paling singkat.

Angin Topan sesumbar bahwa dia hanya membutuhkan waktu 45 detik. Angin Tornado yang tak mau kalah dengan Angin Topan mengatakan bahwa dia hanya membutuhkan waktu 30 detik. Angin Bahorok tersenyum mengejek kedua temannya dan mengatakan bahwa hanya dalam waktu 15 detik dia akan dapat menjatuhkan kera itu.

Akhirnya pertarungan pun dimulai. Yang pertama kali menunjukkan kemampuannya adalah Angin Topan. Dia langsung meniup pohon kelapa dengan sangat kencang. Kera yang sedang ada di pohon kelapa terkejut bukan main. Begitu merasa ada angin besar datang, kera itu segera berpegangan erat-erat pada pohon kelapa. Beberape menit berlalu, tapi ternyata kera itu masih bertahan di pohon kelapa. Angin Topan pun menyerah.

Selanjutnya Angin Tornado unjuk kemampuan. Dia berusaha meniup pohon kelapa lebih kencang lagi. Angin yang semakin besar membuat kera itu semakin kuat berpegangan pada pohon kelapa. Kembali kera itu mampu bertahan di pohon kelapa dan Angin Tornado pun menyerah.

gambar diculik dari sini

Selanjutnya, tak ingin kalah seperti kedua angin terdahulu, maka Angin Bahorok berusaha meniup pohon kelapa sekuat tenaga. Si kera pun semakin kencang memeluk pohon kelapa dan kembali berhasil bertahan. Akhirnya, ketiga angin besar itu mau tak mau harus mengakui kehebatan sang kera.

Kejadian itu rupanya disaksikan oleh Angin Sepoi-Sepoi. Dia kemudian mengatakan pada ketiga angin besar itu bahwa dia pasti bisa menjatuhkan kera itu. Ketiga angin besar itu tertawa mendengar perkataan Angin Sepoi-sepoi, karena ketiga Angin Besar saja tak bisa melakukannya apalagi angin yang kecil.

Tanpa banyak bicara, Angin Sepoi-sepoi pun langsung meniup ubun-ubun kera itu. Kera itu pun merasakan hawa dingin dan segar menerpanya, dan tak lama kemudian  kera itu merasakan kantuk menyergapnya. Tak lama kemudian kera itu pun tertidur. Begitu pegangannya pada pohon kelapa terlepas, maka kera itu pun langsung jatuh.
Banyak hikmah yang dapat diambil dari kejadian itu. Yang pertama adalah untuk mengalahkan kekerasan hati akan lebih efektif dilakukan dengan kelembutan. Yang kedua, bahwa ternyata kita dapat lebih kuat saat dihadapkan dengan penderitaan dan kesulitan. Sementara jika kita dihadapkan pada kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan ternyata seringkali kita terlena.

Selasa, 18 Mei 2010

Pekan Swadesi

Mulai hari ini, Selasa tanggal 18 Mei 2010 sampai tanggal 24 Mei 2010 kantorku melaksanakan Pekan Swadesi. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun itu dilaksanakan dalam rangka ikut memperingati hari kebangkitan nasional. Selama Pekan Swadesi itu seluruh karyawan dianjurkan untuk memakai pakaian batik hari kerja.

Jadilah, mulai pagi ini kantorku menjadi sangat semarak karena baju yang dikenakan hari ini full colour. Aneka warna, aneka model dan aneka corak batik membuat hari ini berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kesemarakan hari ini tentu saja tak lepas dari 'kehebohan' sebagian besar karyawati dalam menghadapi Pekan Swadesi ini. Biasalah, untuk urusan baju, mana mungkin kaum wanita pasrah begitu saja. Banyak yang sudah heboh jauh-jauh hari dengan mempersiapkan baju batik untuk menyambut Pekan Swadesi.

Beberapa teman wanita sudah jauh-jauh hari hunting baju batik, karena tak mau batik yang dipakai dalam Pekan Swadesi kali ini adalah batik yang 'itu-itu saja' seperti tahun kemarin. Lucunya, pagi tadi ada 2 orang karyawati yang ternyata mengenakan baju baru yang sama persis. Tahu sendiri kan, kalau wanita tuh tidak suka kalau bajunya ternyata ada yang menyamai. Nah, seperti itulah yang terjadi pagi tadi sewaktu kedua karyawati itu bertemu dan menyadari baju yang mereka pakai sama persis...! Hahaha, ramai sekali suasana kantor karena kedua karyawati itu digodain oleh teman-teman yang lain.

Aku sendiri sebenarnya sempat pusing menghadapi Pekan Swadesi kali ini. Jauh-jauh hari aku bongkar almari untuk mencari baju-baju batik yang aku punya. Ternyata oh teryata... banyak juga baju batikku yang sudah tak muat aku pakai. Itu berarti....? Waduuuuuh..... *alarm bahaya berbunyi*  Untung saja aku sudah mendapatkan baju batik yang bisa aku pake selama Pekan Swadesi berlangsung. Leganya...

Nah, hari pertama telah terlewati dengan penuh cerita seru. Bagaimana ya cerita esok hari..? Apakah ada lagi yang pakai baju batik 'kembaran' lagi seperti hari ini ? BTW, apakah kaum cowok juga akan tiba-tiba tidak Percaya Diri jika ternyata ada cowok lain yang juga mengenakan baju yang sama persis dengannya..?