Aku kangen gudeg. Aku pengen banget makan gudeg. Sebenarnya di kotaku ada juga penjual gudeg, tapi sayang rasanya tak seenak gudeg Yogya. Sebenarnya, saat suamiku pulang dari diklat ke Cisarua beberapa waktu yang lalu, dia sempat mampir ke Yogya. Rencananya akan membelikan aku gudeg. Sayang sekali, karena ada miskomunikasi antara suamiku dan penjual gudeg, jadinya suamiku tak kebagian gudeg. *nyesel banget*
Bicara tentang gudeng, aku selalu teringat dengan gudeg yang menjadi langgananku saat kuliah dulu. Selama aku kuliah dan kos di Yogya dulu, aku suka banget sarapan gudeg. Kebetulan di belakang rumah kostku ada penjual gudeg yang menurutku enak dan harganya terhitung murah untuk ukuran anak kost sepertiku. Jadinya, sarapan gudeg selalu saja jadi pilihan banyak mahasiswa.
Hanya sayangnya, aku dan beberapa mahasiswa lainnya suka tak sabaran beli gudeg di sana. Penyebabnya adalah penjualnya suka mementingkan dan mendahulukan kerabat dan tetangga. Sering sekali terjadi orang yang baru datang langsung minta dilayani dengan alasan untuk sarapan anaknya yang akan berangkat sekolah. Dan jika orang itu adalah kerabat atau tetangga, pasti langsung dilayani oleh Simbah penjual gudeg itu.
Heran plus jengkel banget aku kalau sudah begitu. Ya kalau memang anaknya butuh sarapan gudeg sebelum berangkat sekolah, kenapa juga tak beli gudeg sejak pagi ? Memangnya sekian banyak mahasiswa yang sejak lama antri juga tak butuh kuliah di pagi hari ? Kalau para mahasiswa itu tak kuliah pagi, mereka kan bisa memilih beli gudeg agak siang, supaya tidak antri. Mentang-mentang mahasiswa ini 'orang luar' yang tidak dikenal secara pribadi oleh Simbah penjual gudeg, selalu saja dikalahkan kepentingannya. Namun aku tak pernah melihat ada mahasiswa yang berani protes atas diskriminasi itu... ^_^
Bahkan...., sampai aku lulus aku tetap saja membeli gudeg di situ, maklum saja tak ada penjual gudeg lain (yang murah meriah dan enak) di dekat tempat kostku. Apalagi jika pas sedang 'krisis keuangan' karena uang saku menipis, pasti deh banyak mahasiswa yang kesana. Bukan untuk beli gudeg, tapi untuk beli ketela pohon rebus yang diberi bumbu gudeg. Rasanya enak dan tak dapat ditemukan dimanapun juga. Yang lebih penting lagi adalah harganya jauh lebih murah... hehehe.
Duuh..., aku jadi makin kangen gudeg. Siapa mau mengirimi aku gudeg ya..? *ngarep banget*



