Sabtu, 22 Mei 2010

Tragedi High Heels

Malam ini, kami sekeluarga dan juga kedua orang tuaku berencana untuk menghadiri resepsi pernikahan. Yang punya hajat adalah kenalan dari orang tuaku dan juga suamiku, makanya kami berencana berangkat bersama-sama. Jam 7 malam, meluncurlah kami ke lokasi resepsi pernikahan itu.

Kebetulan, resepsi pernikahan itu tidak diselenggarakan di gedung, namun cukup di rumah saja. Dengan memasang terop sepanjang separo jalan dan memanfaatkan rumah tetangga sebelah, pesta pernikahan itu dapat berlangsung dengan cukup meriah.

Saat kami datang, undangan yang hadir sudah cukup banyak. Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan diajak berfoto bersama mempelai, kami pun dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Memasuki rumah yang dipakai untuk tempat makanan, hawa panas terasa. Maklum saja, banyak orang berjubel disana.

Meskipun panas dan berjubel, tapi ibuku sangat enjoy karena bertemu dengan teman-teman kerjanya dulu. Serasa reuni saja suasananya bagi ibuku, sehingga ibu pun asyik ngobrol dengan teman-temannya itu. Tapi semua itu dilakukan ibu tentu saja sambil menikmati hidangan yang ada.. :D

Saat aku dan Shasa menikmati hidangan itu, tiba-tiba tragedi terjadi. Hak sendalku yang sebelah kiri tiba-tiba saja lepas. OMG... what must I do..? Aku sempat melirik ke kanan ke kiri apakah ada yang memperhatikan tragedi itu. Sepertinya aman... karena semua tampaknya sedang menikmati hidangan yang ada. Segera aku beringsut menuju ruangan yang dipergunakan sebagai dapur di belakang ruang makan itu (untung saja tempatnya tak jauh).

Kehadiranku di dapur tentu saja mengundang perhatian orang-orang yang sedang sibuk menyiapkan hidangan. Segera saja aku minta ijin untuk melepas hak sandalku yang satu lagi. Mereka tersenyum maklum. Tapi ternyata... melepas hak sandal yang masih 'sehat' sulit juga.. karena masih melekat erat di sandal yang kupakai. Akhirnya, setelah mengerahkan segenap tenaga, hak sandalku yang kanan terlepas juga.

Lega sekali rasanya karena kedua kakiku sudah sama 'tinggi'nya. Tapi... dimana aku harus menyimpan kedua hak sandalku yang lepas itu  ? Tas yang aku bawa adalah tas kecil, jadi tak akan muat untuk dimasuki hal sandal itu. Untung saja, baju Shasa ada 2 buah saku, di kanan dan di kiri. Segera saja hak sandal itu aku masukkan di saku baju Shasa. Beres sudah.


Aku pun segera keluar dari dapur.. dan menunggu orang tuaku menyelesaikan acara makannya. Tapi ya ampun... ternyata Ibu sangat menikmati bertemu dengan teman-temannya sehingga tak jua beranjak dari ruangan itu. Sementara aku tak berani duduk, karena kalau aku duduk maka sandalku yang tanpa hak itu akan langsung terlihat. Padahal berdiri dengan sandal tanpa hak ternyata capek juga... karena posisi sandal yang di depan lebih tinggi dari sandal bagian belakang... *sigh*

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ibu mau juga keluar dari ruangan itu. Lega banget... Setelah kami keluar dari tempat resepsi itu dan aku bercerita apa yang terjadi... meledaklah tawa suamiku dan kedua orang tuaku..... :(


Tragedi High Hells

Malam ini, kami sekeluarga dan juga kedua orang tuaku berencana untuk menghadiri resepsi pernikahan. Yang punya hajat adalah kenalan dari orang tuaku dan juga suamiku, makanya kami berencana berangkat bersama-sama. Jam 7 malam, meluncurlah kami ke lokasi resepsi pernikahan itu.

Kebetulan, resepsi pernikahan itu tidak diselenggarakan di gedung, namun cukup di rumah saja. Dengan memasang terop sepanjang separo jalan dan memanfaatkan rumah tetangga sebelah, pesta pernikahan itu dapat berlangsung dengan cukup meriah.

Saat kami datang, undangan yang hadir sudah cukup banyak. Setelah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan diajak berfoto bersama mempelai, kami pun dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Memasuki rumah yang dipakai untuk tempat makanan, hawa panas terasa. Maklum saja, banyak orang berjubel disana.

Meskipun panas dan berjubel, tapi ibuku sangat enjoy karena bertemu dengan teman-teman kerjanya dulu. Serasa reuni saja suasananya bagi ibuku, sehingga ibu pun asyik ngobrol dengan teman-temannya itu. Tapi semua itu dilakukan ibu tentu saja sambil menikmati hidangan yang ada.. :D

Saat aku dan Shasa menikmati hidangan itu, tiba-tiba tragedi terjadi. Hak sendalku yang sebelah kiri tiba-tiba saja lepas. OMG... what must I do..? Aku sempat melirik ke kanan ke kiri apakah ada yang memperhatikan tragedi itu. Sepertinya aman... karena semua tampaknya sedang menikmati hidangan yang ada. Segera aku beringsut menuju ruangan yang dipergunakan sebagai dapur di belakang ruang makan itu (untung saja tempatnya tak jauh).

Kehadiranku di dapur tentu saja mengundang perhatian orang-orang yang sedang sibuk menyiapkan hidangan. Segera saja aku minta ijin untuk melepas hak sandalku yang satu lagi. Mereka tersenyum maklum. Tapi ternyata... melepas hak sandal yang masih 'sehat' sulit juga.. karena masih melekat erat di sandal yang kupakai. Akhirnya, setelah mengerahkan segenap tenaga, hak sandalku yang kanan terlepas juga.

Lega sekali rasanya karena kedua kakiku sudah sama 'tinggi'nya. Tapi... dimana aku harus menyimpan kedua hak sandalku yang lepas itu  ? Tas yang aku bawa adalah tas kecil, jadi tak akan muat untuk dimasuki hal sandal itu. Untung saja, baju Shasa ada 2 buah saku, di kanan dan di kiri. Segera saja hak sandal itu aku masukkan di saku baju Shasa. Beres sudah.


Aku pun segera keluar dari dapur.. dan menunggu orang tuaku menyelesaikan acara makannya. Tapi ya ampun... ternyata Ibu sangat menikmati bertemu dengan teman-temannya sehingga tak jua beranjak dari ruangan itu. Sementara aku tak berani duduk, karena kalau aku duduk maka sandalku yang tanpa hak itu akan langsung terlihat. Padahal berdiri dengan sandal tanpa hak ternyata capek juga... karena posisi sandal yang di depan lebih tinggi dari sandal bagian belakang... *sigh*

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ibu mau juga keluar dari ruangan itu. Lega banget... Setelah kami keluar dari tempat resepsi itu dan aku bercerita apa yang terjadi... meledaklah tawa suamiku dan kedua orang tuaku..... :(


Jumat, 21 Mei 2010

Kok tak mau antri ya..?

Antri dong..! Rasanya kalimat itu ingin aku ucapkan di berbagai kesempatan. selama ini aku memang telah punya banyak pengalaman yang menjengkelkan yang menyangkut antri ini. Mengapa ya masyarakat kita masih sulit untuk mengantri dengan benar ? Mengapa semua inginnya 'dilayani' terlebih dahulu padahal datangnya belakangan ?

Coba saja, setiap peristiwa pembagian zakat, pembagian sembako, pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) bahkan pembagian sumbangan bagi korban bencana alam... selalu saja disertai berita 'kerusuhan' akibat orang-orang yang tidak mau mengantri dengan tertib. Semua takut tidak 'kebagian' sehingga berebut meminta duluan.... Kalau sudah begitu suasana menjadi rusuh kan..?


Aku sendiri punya banyak pengalaman tentang antri itu. Salah salah satunya adalah waktu aku sedang antri dokter. Saat itu aku sedang antar Shasa yang sakit batuk ke dokter. Kebetulan pasien yang datang banyak banget. Setelah sekian lama menunggu, giliran berikutnya adalah aku.

Sesaat sebelum masuk ruang periksa, ada seorang ibu yang sudah tua datang diantar anaknya. Begitu masuk ruang tunggu, sang anak bertanya giliran berikut yang masuk ruang dokter siapa, dan ada seorang bapak yang menunjuk kepadaku. Sang anak langsung menghampiriku dan meminta ijin padaku untuk masuk terlebih dahulu karena ibunya sakit parah dan kasihan kalau menunggu terlalu lama.

Mendengar permintaan itu terus terang aku bingung. Aku tak keberatan jika Ibu itu masuk lebih dulu daripada aku, toh Shasa hanya sakit batuk. Tapi, jika aku mengijinkannya, bagaimana dengan orang-orang lain yang sudah antri lama setelah aku ? Apakah mereka juga mau mengorbankan lebih banyak waktu lagi untuk menunggu dokter ?

Setelah sekian lama berpikir akhirnya aku tanyakan apakah kira-kira Si Ibu akan diperiksa lama di dalam, karena yang antri masih banyak. Sang anak memastikan bahwa dia dan ibunya tak akan lama di ruang periksa dokter. Mendengar jawaban itu akupun mengangguk mengijinkan dia masuk lebih dulu daripada aku. Dalam hati aku berdoa semoga orang lain yang antri di belakangku tak menyesali keputusanku.

gambar diculik dari sini

Lain lagi dengan pengalaman waktu Shasa masih duduk di TK Kelas A. Entah apa sebabnya, Shasa terkena infeksi saluran kencing. Penyakit itu membuat Shasa rewel dan berulang kali ngompol. Saat itu, aku dan suami baru pulang dari dokter untuk memeriksakan Shasa. Aku berinisiatif untuk mampir sebentar membeli jajanan buat Shasa, karena Shasa tiba-tiba kehilangan selera makan.

Setelah memilih jajanan dengan terburu-buru (karena Shasa sudah wanti-wanti agar tak kelamaan membeli jajanan), aku segera antri untuk membayar. Untung saja tak terlalu banyak yang belanja jajan saat itu. Saat tiba giliranku, tiba-tiba ibu yang datang setelahku mengambil posisi di sampingku. Dia tiba-tiba menyodorkan jajannya untuk dihitung.

Melihat hal itu tentu saja aku tak terima, dan langsung aku bilang pada penjualnya bahwa yang antri aku dulu. Tapi ibu yang sebelahku tadi menjawab, "Aku dulu saja mbak, kan belanjaanku juga tak terlalu banyak" sambil kembali menyorongkan jajannya ke depan kasir. Dan.., kasirpun mengambil jajanan itu dan mulai menghitungnya.

Melihat hal itu, aku terus terang saja marah sekali. Aku teringat Shasa yang sakit dan terpaksa menunggu di mobil lebih lama gara-gara seorang Ibu yang tak mau kalah tadi. Akhirnya aku putuskan, meninggalkan jajananku di depan kasir dan berkata, "Maaf mbak.. tak jadi beli" dan aku langsung keluar dari toko itu.

Benar saja, begitu masuk mobil Shasa berkata, "kok lama sih Ma? Pengen cepet pulang nih". Akhirnya memang kami langsung pulang. Sesampai di rumah suamiku pergi lagi untuk membeli jajanan di tempat lain. Dan... setelah kejadian itu aku tak pernah lagi belanja di toko itu (yang kini malah akhirnya bangkrut dan tutup).

Kok tak mau antri ya..?

Antri dong..! Rasanya kalimat itu ingin aku ucapkan di berbagai kesempatan. selama ini aku memang telah punya banyak pengalaman yang menjengkelkan yang menyangkut antri ini. Mengapa ya masyarakat kita masih sulit untuk mengantri dengan benar ? Mengapa semua inginnya 'dilayani' terlebih dahulu padahal datangnya belakangan ?

Coba saja, setiap peristiwa pembagian zakat, pembagian sembako, pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) bahkan pembagian sumbangan bagi korban bencana alam... selalu saja disertai berita 'kerusuhan' akibat orang-orang yang tidak mau mengantri dengan tertib. Semua takut tidak 'kebagian' sehingga berebut meminta duluan.... Kalau sudah begitu suasana menjadi rusuh kan..?


Aku sendiri punya banyak pengalaman tentang antri itu. Salah salah satunya adalah waktu aku sedang antri dokter. Saat itu aku sedang antar Shasa yang sakit batuk ke dokter. Kebetulan pasien yang datang banyak banget. Setelah sekian lama menunggu, giliran berikutnya adalah aku.

Sesaat sebelum masuk ruang periksa, ada seorang ibu yang sudah tua datang diantar anaknya. Begitu masuk ruang tunggu, sang anak bertanya giliran berikut yang masuk ruang dokter siapa, dan ada seorang bapak yang menunjuk kepadaku. Sang anak langsung menghampiriku dan meminta ijin padaku untuk masuk terlebih dahulu karena ibunya sakit parah dan kasihan kalau menunggu terlalu lama.

Mendengar permintaan itu terus terang aku bingung. Aku tak keberatan jika Ibu itu masuk lebih dulu daripada aku, toh Shasa hanya sakit batuk. Tapi, jika aku mengijinkannya, bagaimana dengan orang-orang lain yang sudah antri lama setelah aku ? Apakah mereka juga mau mengorbankan lebih banyak waktu lagi untuk menunggu dokter ?

Setelah sekian lama berpikir akhirnya aku tanyakan apakah kira-kira Si Ibu akan diperiksa lama di dalam, karena yang antri masih banyak. Sang anak memastikan bahwa dia dan ibunya tak akan lama di ruang periksa dokter. Mendengar jawaban itu akupun mengangguk mengijinkan dia masuk lebih dulu daripada aku. Dalam hati aku berdoa semoga orang lain yang antri di belakangku tak menyesali keputusanku.

gambar diculik dari sini

Lain lagi dengan pengalaman waktu Shasa masih duduk di TK Kelas A. Entah apa sebabnya, Shasa terkena infeksi saluran kencing. Penyakit itu membuat Shasa rewel dan berulang kali ngompol. Saat itu, aku dan suami baru pulang dari dokter untuk memeriksakan Shasa. Aku berinisiatif untuk mampir sebentar membeli jajanan buat Shasa, karena Shasa tiba-tiba kehilangan selera makan.

Setelah memilih jajanan dengan terburu-buru (karena Shasa sudah wanti-wanti agar tak kelamaan membeli jajanan), aku segera antri untuk membayar. Untung saja tak terlalu banyak yang belanja jajan saat itu. Saat tiba giliranku, tiba-tiba ibu yang datang setelahku mengambil posisi di sampingku. Dia tiba-tiba menyodorkan jajannya untuk dihitung.

Melihat hal itu tentu saja aku tak terima, dan langsung aku bilang pada penjualnya bahwa yang antri aku dulu. Tapi ibu yang sebelahku tadi menjawab, "Aku dulu saja mbak, kan belanjaanku juga tak terlalu banyak" sambil kembali menyorongkan jajannya ke depan kasir. Dan.., kasirpun mengambil jajanan itu dan mulai menghitungnya.

Melihat hal itu, aku terus terang saja marah sekali. Aku teringat Shasa yang sakit dan terpaksa menunggu di mobil lebih lama gara-gara seorang Ibu yang tak mau kalah tadi. Akhirnya aku putuskan, meninggalkan jajananku di depan kasir dan berkata, "Maaf mbak.. tak jadi beli" dan aku langsung keluar dari toko itu.

Benar saja, begitu masuk mobil Shasa berkata, "kok lama sih Ma? Pengen cepet pulang nih". Akhirnya memang kami langsung pulang. Sesampai di rumah suamiku pergi lagi untuk membeli jajanan di tempat lain. Dan... setelah kejadian itu aku tak pernah lagi belanja di toko itu (yang kini malah akhirnya bangkrut dan tutup).

Kamis, 20 Mei 2010

Kangen gudeg

Aku kangen gudeg. Aku pengen banget makan gudeg. Sebenarnya di kotaku ada juga penjual gudeg, tapi sayang rasanya tak seenak gudeg Yogya. Sebenarnya, saat suamiku pulang dari diklat ke Cisarua beberapa waktu yang lalu, dia sempat mampir ke Yogya. Rencananya akan membelikan aku gudeg. Sayang sekali, karena ada miskomunikasi antara suamiku dan penjual gudeg, jadinya suamiku tak kebagian gudeg. *nyesel banget*

Bicara tentang gudeng, aku selalu teringat dengan gudeg yang menjadi langgananku saat kuliah dulu. Selama aku kuliah dan kos di Yogya dulu, aku suka banget sarapan gudeg. Kebetulan di belakang rumah kostku ada penjual gudeg yang menurutku enak dan harganya terhitung murah untuk ukuran anak kost sepertiku. Jadinya, sarapan gudeg selalu saja jadi pilihan banyak mahasiswa.

Hanya sayangnya, aku dan beberapa mahasiswa lainnya suka tak sabaran beli gudeg di sana. Penyebabnya adalah penjualnya suka mementingkan dan mendahulukan kerabat dan tetangga. Sering sekali terjadi orang yang baru datang langsung minta dilayani dengan alasan untuk sarapan anaknya yang akan berangkat sekolah. Dan jika orang itu adalah kerabat atau tetangga, pasti langsung dilayani oleh Simbah penjual gudeg itu.

Hemmm.., sungguh melihat nasi gudeg itu aku jadi pengen banget
(gambar diculik dari sini)

Heran plus jengkel banget aku kalau sudah begitu. Ya kalau memang anaknya butuh sarapan gudeg sebelum berangkat sekolah, kenapa juga tak beli gudeg sejak pagi ? Memangnya sekian banyak mahasiswa yang sejak lama antri juga tak butuh kuliah di pagi hari ? Kalau para mahasiswa itu tak kuliah pagi, mereka kan bisa memilih beli gudeg agak siang, supaya tidak antri. Mentang-mentang mahasiswa ini 'orang luar' yang tidak dikenal secara pribadi oleh Simbah penjual gudeg, selalu saja dikalahkan kepentingannya. Namun aku tak pernah melihat ada mahasiswa yang berani protes atas diskriminasi itu... ^_^

Bahkan...., sampai aku lulus aku tetap saja membeli gudeg di situ, maklum saja tak ada penjual gudeg lain (yang murah meriah dan enak) di dekat tempat kostku. Apalagi jika pas sedang 'krisis keuangan' karena uang saku menipis, pasti deh banyak mahasiswa yang kesana. Bukan untuk beli gudeg, tapi untuk beli ketela pohon rebus yang diberi bumbu gudeg. Rasanya enak dan tak dapat ditemukan dimanapun juga. Yang lebih penting lagi adalah harganya jauh lebih murah... hehehe.

Duuh..., aku jadi makin kangen gudeg. Siapa mau mengirimi aku gudeg ya..? *ngarep banget*