Senin, 12 Juli 2010

Setelah 40 tahun

Setelah 40 tahun
kebersamaan itu masih ada dan semoga selalu ada
dengan penuh cinta, pengertian dan kesabaran
tuk dampingi langkah-langkah kecil kami
menjalani hari kami dalam suka dan duka

Setelah 40 tahun
tetap kutemukan tatapan teduh dan pelukan hangat itu
kata-kata penyejuk hati serta senyum penuh pengertian
tlah mampu menyemangati hati yang merapuh
hingga kembali bersiap menyambut hari

Setelah 40 tahun
kebersamaan itu kian indah dan kokoh terjalin
tuk saling menopang dengan penuh cinta dan pengertian
tuk saling berbagi dalam dalam canda dan tawa
selamanya bersama... hingga tutup usia

Tuk ayah ibuku tercinta
40 tahun berdua telah mendayung biduk rumah tangga
hingga mampu mengantarkan kedua buah hati tercinta
dan mendampingi 3 cucu terkasih bersama-sama
dalam indahnya kebersamaan

Semoga indahnya kebersamaan itu
masih akan kami rasakan di tahun-tahun yang akan datang
karna kami ingin persembahkan kebahagiaan dan kebanggaan
sebagai imbalan atas segala jerih payah dan perjuangan
yang telah ayah ibu berikan selama 40 tahun perjalanan

Semoga kebahagiaan dan kesehatan
kan menjadi berkah atas segala yang telah tercurah
pada kami selama 40 tahun kebersamaan yang indah
Amin....


Madiun, 11 Juli 2010


Minggu, 11 Juli 2010

Arti handphone bagimu

Dalam perjalananku di suatu malam, kulewati sekelompok anak SD duduk bergerombol di pinggir jalan. Tak ada obrolan seru di antara mereka. Semuanya duduk diam... dan mata terpaku pada handphone di tangan masing-masing. Semua tenggelam dalam dunianya sendiri. Entahlah, apa mereka sibuk bermain game atau malah sibuk ber-SMS dengan entah siapa.

Kulanjutkan perjalananku malam itu. Kali ini kulewati sebuah rumah yang berhalaman luas. Kulihat seorang pemuda berdiri sendirian di pojok halaman yang gelap. Tak peduli dengan keadaan sekitar, jari jemarinya sibuk menari-nari di atas handphonenya. Sepertinya, dia membutuhkan waktu untuk menyendiri dan hanya berdua dengan handphone kesayangannya.

Lain lagi saat aku melewati sebuah perkampungan. Dua pemuda sedang ngobrol di teras sebuah rumah. Di masing-masing tangan kedua pemuda itu tergenggam sebuah handphone, dan sesekali pandangan mata kedua pemuda itu beralih pada handphone masing-masing. Bisa jadi, mereka asyik berselancar di dunia maya bersama-sama.

Ketika akhirnya aku tiba di jalan besar, pemandangan yang hampir sama kulihat lagi. Seorang wanita pengendara motor, mengemudikan motornya dengan sangat perlahan dan sesekali mendongak memandang jalan yang ada di depannya. Sementara tangan kirinya sibuk bermain pada tombol-tombol yang ada pada handphone yang digenggamnya. Hemmm..., rupanya dia sedang berkirim sms pada seseorang.

Kulewati pangkalan becak yang ada di ujung jalan, dan hanya ada 3 becak yang mangkal disana. Ketiga pengemudi becak itu ada di becaknya masing-masing. Satu orang tidur-tiduran, dan 2 orang sedang asyik dengan handphone masing-masing. Entah apa yang mereka lakukan dengan handphone itu.

Ketika akhirnya aku sampai di stasiun kereta api, tujuanku malam itu... ternyata ruang tunggu sudah dipenuhi orang. Dan..., hampir sebagian besar sibuk dengan handphone masing-masing. Sekelompok remaja asyik berfoto ria dengan latar belakang kereta api. Sepasang kakek nenek di sebelahku pun memegang handphone masing-masing. Hebatnya, keduanya masih bisa menggunakannya untuk ber-SMS, sesuatu yang tak bisa dilakukan orang tuaku, dengan alasan : layarnya kecil dan hurufnya kecil-kecil.

Jelas sudah..., handphone sudah menyebar kemana-mana. Segala usia, segala golongan... tanpa pandang bulu. Semua membutuhkan handphone untuk aneka kebutuhan masing-masing. So, apa arti handphone bagimu sobat ? Bisakah kau lewatkan 1 jam saja tanpa handphonemu ? Hemmm.., sepertinya aku tahu jawaban darimu... *wink*

Sabtu, 10 Juli 2010

Mengapa jadi begini ?

Beberapa hari terakhir aku dibuat penasaran oleh paket yang tak ada kabarnya. Sebenarnya paket tersebut sudah dikirimkan padaku sejak tanggal 18 Juni 2010 yang lalu, tapi anehnya sudah lewat 3 minggu paket yang aku tunggu-tunggu itu belum datang juga. Menunggu tanpa kepastian memang tak menyenangkan, mau bertanya kepada teman yang mengirimkan paket itu juga gak enak. Aku takutnya, paket itu salah alamat dan diterima oleh alamat yang salah.

Akhirnya, aku mencoba menghubungi teman yang mengirimkan paket itu padaku untuk menanyakan lewat mana paket itu dikirimkan. Ternyata, paket itu dikirimkan dengan menggunakan jasa perusahaan pelayanan pengiriman barang (Sebut saja PT. *****) yang sudah biasa aku pakai. Selama ini aku tak pernah kecewa atas pelayanan PT. *****  tersebut, karena paket yang aku terima dan aku kirimkan lewat perusahaan itu selalu sampai dalam keadaan baik.

Berdasarkan informasi yang kudapatkan dari teman yang mengirimkan paket itu, ternyata alamat yang tertulis dalam paket itu sudah benar. Bahkan nomor teleponku yang juga dicantumkan dalam paket itu juga benar. Tapi anehnya, paket itu tak sampai kepadaku dan tak kembali pada temanku (jika ternyata memang salah alamat). Jadi, kemana paket itu berada ?

Setelah melakukan konfirmasi kesana kemari, aku peroleh informasi bahwa paket itu dikembalikan dengan catatan : Alamat Tidak Dikenal. Padahal, biasanya jika alamat tidak ditemukan, maka pihak PT. ***** itu akan menelpon si penerima. Jika tidak berhasil baru dikembalikan. Tapi aku belum pernah ditelpon, tapi kok barang sudah dikembalikan kepada pengirim.

Setelah kami tanyakan kembali, ternyata kantor cabang PT. ***** yang ada di kotaku menjelaskan bahwa sebenarnya memang ada paket untukku. Tapi, pada alamat yang tertulis dalam paket itu beralamat di Situbondo, sementara resi (consignment note) yang ditempel pada paket itu tertulis alamatku. Karena kesalahan itu, maka pihak kantor cabang PT. ***** mengembalikan paket itu kepada pengirim dengan catatan Alamat Tidak Dikenal.

Lucunya, temanku diminta mengambil sendiri paket tersebut di kantor PT. ***** itu. Dan, saat temanku mengambil paket itu, ternyata bukti pengiriman dari yang ditempel di paket sudah dirobek. Sedangkan kondisinya sudah agak lecek kertasnya. Sudah begitu, pihak kantor PT. ***** tidak memberikan penjelasan sama sekali pada temanku mengapa paket itu kembali, padahal alamat lengkap dan nomot telepon sudah benar.

Mengapa jadi begini..? Padahal selama ini kami percaya sekali dengan layanan jasa PT. ***** itu. Kalau sudah begini kan jadi memudar kepercayaan kami. Untungnya, dalam 2 hari ini aku mendapat penghiburan dengan datangnya 2 buah paket dari Mbak Eka dan Riesta Emy. Keduanya datang tepat waktu, bahkan Riesta yang berdomisili di Riau mengirimkan paket itu padaku pada tanggal 6 Juli dan pada tanggal 9 Juli sudah sampai di tanganku.

 paket dari Mbak Eka, lengkap dengan surat mini di kertas pink

paket dari Riesta 2 buku dengan surat mini di kertas biru

Yang mengejutkan, sebelumnya yang aku tahu Riesta akan mengirimkan 1 buku untukku. Namun ternyata saat paket aku buka... isinya 2 buah buku. Surprise... Untuk Mbak Eka dan Riesta, terima kasih sekali untuk paketnya ya.. Aku suka sekali....



Jumat, 09 Juli 2010

Bohong

Pagi ini, saat kulihat infotainment... ada seorang publik figur yang memberikan pengakuan (secara implisit) tentang kesalahannya dan dia meminta maaf atas kesalahannya itu. Setelah sekian lama berbohong dan menutupi kebohongannya itu, rupanya dia (mungkin) merasa lelah dan telah kehabisan daya untuk terus menerus berbohong dan menutupi kebohongannya itu. Akhirnya... dia pun menyerah dan mengakuinya.

Kejadian serupa seringkali kuhadapi dan kutemui dalam dunia nyata. Kita... (aku termasuk di dalamnya), mungkin pernah melakukan suatu kebohongan, sekecil apapun. Setelah berbohong, kita pasti tak ingin kebohongan itu ketahuan bukan ? So, kita akan selalu berupaya untuk menutupi kebohongan itu. Jadilah, satu kebohongan akan menyeret kita untuk melakukan kebohongan demi kebohongan lainnya. Melelahkan...

Dan 'sayangnya'... cepat atau lambat kebohongan itu suatu saat akan terbongkar juga. Seperti kata pepatah : Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Ada juga pepatah : Sepandai-pandai menyimpan bangkai akhirnya tercium juga baunya. Nah, Kalau sudah begitu, rasanya sia-sia saja kita berbohong dan berusaha menutup-nutupinya selama itu. Kita hanya dapat capek, dosa dan malu...., selain itu... tak ada..!

Kalau sudah begitu, rasanya tak ada gunanya kita berbohong. Buat apa capek-capek berbohong jika akhirnya akan ketahuan juga. Bukankah Allah tak pernah tidur...?

*gambar diculik dari sini*

Kamis, 08 Juli 2010

Yang kutunggu tiba juga...

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya datang juga paket buku yang aku nantikan. Yang pertama adalah paket buku hadiah atas kemenanganku dalam mengikuti quiz yang diselenggarakan mbak Asma Nadia (dan penerbit Asma Nadia) di twitter, tanggal 25 Juni 2010 yang lalu. Setelah diumumkan bahwa aku adalah salah satu yang beruntung mendapatkan hadiah dari Penerbit Asma Nadia, aku segera mengirimkan data yang diperlukan.

Kurang lebih seminggu kemudian (1 Juli 2010), aku mencoba memberanikan diri bertanya kepada Penerbit Asma Nadia apakah paketku sudah dikirimkan. Baru pada saat itu aku tahu kalau kode pos yang aku berikan ternyata salah.. (kebanyakan 1 angka)..! Astaga... Panik juga aku. Alhamdulillah, ternyata paket buku hadiah untukku itu belum sempat dikirimkan oleh Penerbit Asma Nadia. Lega banget rasanya... karena aku masih sempat mengoreksi alamatku yang kemarin kurang benar. Dan, pihak penerbit Asma Nadia berjanji untuk mengirimkan paket itu hari itu juga.

Dan, hari Selasa kemarin (6 Juli 2010) akhirnya paket itu aku terima saat aku pulang kantor. Senengnya.... Ternyata buku yang aku terima dari Penerbit Asma Nadia tidak hanya 1, melainkan 3 buah buku. Ketiganya adalah buku-buku karya Asma Nadia (baik yang sendiri maupun ramai-ramai dengan penulis lain) lengkap dengan tanda tangan mbak Asma Nadia. Sungguh, baru sekali ini aku punya buku yang ditandatangani oleh pengarangnya..! Keren..! Selain itu juga masih ada postcard, stiker dll yang dikirimkan bersama buku tersebut.



Terima kasih banyak untuk Penerbit Asma Nadia dan juga Mbak Asma Nadia. Semoga tidak kapok mengadakan quiz lagi dan bagi-bagi buku lagi... hehehe.